{JinBoon}Snow Flower – Chapter 4


Jinboon-poster-yua-3 (2)

 

Main Cast : Lee Jinki – Kim Gweboon

Support Cast : Choi Minho – Lee Taemin – Kim Jonghyun . etc

Rating : PG 17

Length : 4050 words

Author : Eternalonkey

ps : enjoy this guys.. i know you wanna kill me cuz long time no updates HAHAH well.. still sorry and let me know your comment ^^ 

Last Chapter  :
 2  3

Chapter 4 – Just Look at me

 

Aku tidak menyukainya

Aku tidak menyukainya….

Aku sangat sangat sangat tidak menyukainya……….?!!!!!!!!!!!!!

 

Mungkin ini adalah mantra ajaib yang akan Gweboon selalu katakan –dalam hati- selama perjalanannya menuju sekolah, pulang sekolah sampai ke rumah laki – laki itu.

Ya ia adalah Lee Jinki.

Oh Tuhan bisakah waktu kembali diulang? Mungkin ia tidak akan masuk sekolah terkutuk ini.

Persetan dengan his prince, Choi Mino.

What?

Apa ia baru saja mengatakan hal itu? Benarkah? Apa sekarang tidak bertemu dengan Jinki adalah hal yang paling ia inginkan dan mengorbankan cintanya pada pangeran kuda putih?

No no no. Kim Gweboon, segarkan otakmu, jangan ikut membusuk seperti otak laki – laki sialan itu.

Gweboon memilih untuk bertahan disana, mungkin 3 tahun tidak terasa terlalu lama.

Jika itu bukan dengan laki – laki yang dikirim dari neraka itu tentunya. Cih!

Setelah kejadian terakhir, Gweboon semakin yakin ia tidak menyukai Jinki sama sekali. Ia seenaknya menciumnya kapanpun ia mau, di lorong jalan, di ruang baca – ketika ia mengajarkannya matematika- bahkan di toilet wanita sekolahan.

Bagian paling buruknya, tubuhnya selalu terlambat bereaksi belakangan ini. Mungkin saja, ia hanya lelah dengan Jinki atau kasihan?Cerita sedih tentang Jinki membuat sedikit demi sedikit kekerasan hatinya menghilang, seperti tertiup angin.

Gweboon tetap akan marah, ia akan tetap menendang Jinki meski tidak dibagian selangkangannya lagi. Jinki bersumpah Gweboon benar – benar gadis yang sulit ditaklukan.

Belakangan ini Gweboon sedikit berbeda. Sebenarnya Jinki menyadarinya semenjak ia menjenguknya saat sakit dan setelah… Gweboon sendiri yang menciumnya.

Lalu entah mengapa semenjak itu Gweboon tidak terlalu banyak memberi perlawanan seperti dulu.Tapi tunggu dulu, bukan berarti Gweboon sama sekali tidak melawan saat ia menciumnya tiba – tiba.

Hanya saja… Gweboon terlihat berbeda.

Seperti saat ini, ia dan Gweboon sedang berada di kamarnya. Ia bersikeras tidak ingin belajar di ruang baca lagi. Ajaibnya Gweboon tidak meluncurkan protes sama sekali. Jinki duduk di sofa, rambutnya masih sedikit basah karena ia baru saja mandi. Sweaternya warna putih gradasi hitam dan celana training adidas hitam masih membuatnya terlihat menawan.

“Apa kau sudah mengerti pola kalimat ini?”

Gweboon bertanya tanpa menoleh sedikitpun, salah satu hal yang dibenci Jinki.

Apa susahnya bertanya dan melihatku? Pikirnya.

“Hmm..”

Kini Jinki ingin memancing emosi Gweboon, rasanya aneh jika melihat gadis liar ini menjadi pendiam.

Atau ia sedang ada masalah?

“Baiklah kita belajar pola selanjutnya dan –

Bruk

Gweboon terhenti, buku yang ia pegang terjatuh ke lantai berkarpet menimbulkan suara ‘bam’ disana. Yang ia rasakan saat ini bagian tubuhnya sedang dalam posisi tertidur dan Jinki berada tepat diatasnya.

Gweboon menghela napas panjang, bola matanya menyiratkan rasa bosan. Ia bosan dengan tingkah Jinki yang seperti ini. Ia bosan untuk selalu marah dan berteriak.

Atau mungkin ia sudah terbiasa.

Ia tahu apa yang akan Jinki lakukan selanjutnya, maka ia memejamkan matanya. Menerima apapun yang akan Jinki lakukan padanya.

1 menit berlalu, ia belum merasakan apapun. Ia hanya mendengar suara jam berdentum. Rasanya sunyi sekali. Ia juga yakin Jinki masih berada diatasnya. Menatapnya. Gweboon tidak akan mengakui ini, tapi ia tidak kuat menatap manik mata itu lebih lama. Ia seperti tersedot kedalam sana, ia tak berdaya.

“Kim Gweboon.. kenapa kau diam saja..?” suara Jinki membuatnya harus membuka matanya.

Shot

Jinki masih berada diatasnya, menopang tubuhnya agar tidak menindih Gweboon.

“Apa? Kau ingin aku berteriak dan menendangmu? Seperti biasa? Apa kau tidak bosan bermain – main denganku tuan muda?”

Bermain – main katanya?

Boleh saja Gweboon menendangnya, berkata kasar padanya, tapi berani sekali ia merendahkan –perasaan-  Jinki, menganggapnya hanya bermain – main? Apa ia anak TK?

“Apa maksudmu bermain – main? Aku serius.. apa yang tidak aku punya hah? Aku bahkan memiliki  banyak hal dibanding Choi Minhomu itu..”

Giginya gemeretuk saat menyebut nama Minho, rasanya ingin meninju laki – laki berwajah sok baik itu. Minho memang temannya, tapi itu dulu.

“ Kau memang memiliki apapun..tapi aku tidak tertarik dengan itu semua..”

Suara Gweboon begitu pelan, begitu menusuk. Mata Gweboon kini lurus sejajar dengannya, tak kalah tajam menatapnya. Gweboon lelah, ia lelah dengan sifat Jinki. Ia lelah dengan keegoisan Jinki, melakukan apapun yang ia inginkan tak peduli bagaimana perasaan Gweboon.

Ia tak pernah peduli dengan perasaan tak menentu Gweboon saat ia mendekapnya, saat ia mencuri ciumannya, saat ia menolong Gweboon saat kebakaran itu. Setidaknya bisakah ia memperlakukan Gweboon dengan normal? Layaknya harapan gadis lainnya jika ada laki – laki yang menyukainya, dan ia akan mendapatkan ucapan yang romantis, yang lembut dan tulus.

Pernah terpikir oleh Gweboon untuk berhenti mengajar Jinki, untuk berhenti sekolah di sekolah elit ini. Hanya saja ia teringat umma dan appa di Daegu yang sangat senang saat mendengar kabar ia berhasil masuk sekolah nomor 1 ini di Korea. Ia tidak sampai hati mengecewakan mereka. Maka ia memilih bertahan.

“Dengar Kim Gweboon..aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, termasuk dirimu..”

Jinki menghapus jarak keduanya, bibirnya melumat bibir Gweboon. Ia menghisapnya, terlalu kuat membuat Gweboon meringis namun Gweboon tidak mendorong Jinki, ia juga tidak pernah membalas ciuman Jinki.

Hanya sekali saat itu, saat Gweboon menciumnya duluan. Sampai saat ini Jinki belum mengerti karena saat ia ingin menanyakannya pada Hyori, apa yang terjadi sebelumnya pada Gweboon hingga terlihat aneh saat itu kakaknya telah pergi ke London selama dua minggu.

Jinki yakin ada sesuatu yang terjadi, atau ada yang Hyori katakan pada Gweboon sehingga membuatnya berbeda malam itu.

“Jinki.. lepaskan aku..” suara Gweboon seperti tertelan tenggorokkannya, terlalu lemah.

Jinki melepaskan Gweboon dan berdiri. Ia berjalan, membuka pintu putih itu.

“Kau pulang saja.. sampai jumpa besok… “

Suara Jinki tidak keras, ia tidak membentak dan tidak memanggilnya dengan ‘baboon’.

Ia tidak menatap Gweboon sama sekali saat itu. Pertama kalinya Jinki tidak melihat Gweboon dan pertama kalinya Gweboon lah yang melihatnya lebih lama.

===_____===

 

Gweboon pikir setelah kejadian kemarin sore, hidupnya akan sedikit tenang. Mungkin saja Jinki akan berhenti mengganggunya, akan berhenti menarik perhatian siswa lain dengan selalu berada disekitarnya.

Jinki bukan orang yang jahat, Gweboon tahu karena ia dapat melihat Jinki masih memiliki teman yang baik didekatnya, walau sedikit aneh.

Atau mungkin sangat aneh?

Lee Taemin, laki – laki berparas tampan juga cantik – oke ini pendapat Gweboon – akan selalu menempel pada Jinki saat jam istirahat dan pada akhirnya akan makan siang bersamanya di kantin.

Kim Jonghyun, ia juga akan berada disekitar Taemin, yang berarti Gweboon harus makan siang dengan ketiga laki –laki ini.

Taemin akan selalu menggodanya.

“Gweboon.. bagaimana kalau malam ini kita makan malam?”

Kali ini bola mata Taemin berwarna abu – abu, tsk apa ia punya toko softlens? Pikir Gweboon saat itu yang justru diam – diam mengagumi keindahan bola mata Taemin.

“Taemin berhentilah mengganggunya..”

“what? Im not- Hey! Jinki!”

Gweboon sudah dicuri oleh Jinki , ya Taemin menyebutnya sebagai mencuri. Tsk sepertinya ia lupa siapa yang menemukan Gweboon pertama kali.

“Yah lepaskan aku!”

Jinki melepas pergelangan tangan Gweboon saat mereka sampai di lorong yang kosong, tubuh Gweboon tersentak ke dinding karena Jinki tiba – tiba melepas tangannya.

“Dengar.. aku tidak akan kalah dari Choi Minho, jadi kau lihat saja nanti Gweboon..”

Sorot mata Jinki yang berbeda dari biasanya, ada rasa marah, sakit dan kecewa disana. Meski ia langsung menutupinya dengan tawa sinisnya dan mengusap rambut coklatnya kebelakang, dengan penuh percaya diri, menjilat bibir bawahnya dan berkata “Aku akan mengalahkannya disemua cabang atletik minggu ini..”

Gweboon menganga tidak mengerti dengan maksud perkataan Jinki.

Cabang atletik? Hah?

.

.

.

 

Gweboon mengehentakkan kepalanya berkali – kali diatas meja kelas. Ia benar – benar tidak mengerti kenapa ia yang menjadi perwakilan kelas untuk bertanding renang? Hey ia bukan ahli renang! Apa tidak ada cabang olahraga taekwondo disini? Gweboon sudah memegang sabuk hitam!

Duk duk duk

Kepalanya masih mengetuk meja, rasanya ia ingin memotong leher siapa saja yang telah memasukkan namanya untuk kompetisi antar kelas di regular section ini.

Bel berbunyi tanda kelas masuk, Gweboon berusaha sekuat tenaga mengumpulkan nyawanya yang sedikit melayang tadi.

Kupingnya mendengar suara beberapa siswi yang berteriak tak karuan seperti melihat artis, oke ia yakin saat ini tiga laki – laki itu berjalan mendekatinya. Ia bersiap untuk mendongakkan kepalanya dan mengucapkan kata ketus kalau bisa mengusir sosok itu selamanya dari hidupnya.

“Mwoya?!” ia tanpa ragu berteriak saat merasakan ada sentuhan di pundaknya.

Freeze..

Rasanya ada suara es gemeretuk, membuat garis retak diatas permukaan es seperti film ice age yang sering ia tonton berulang – ulang.

“Gweboon…apa aku mengganggumu?”

Why im so stupid! Damn damn damn shit OMGGGGG

Laki – laki yang memiliki mata seindah bulan purnama ini sedikit terkejut dengan rekasi Gweboon, mengingat ia tidak pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya. Ia sampai berpikir apa ia membuat salah sebelumnya dan membuat Gweboon sangat kesal padanya? Tapi….apa?

“Ah Minho.. mian..aku kira bukan kau.. ada apa?”

Please please please Tuhan lupakan ingatan Minho mengenai diriku yang menjadi kasar seperti ini! Oh damn that Lee Jinki! Semua ini salahnya!

Bahkan disaat seperti ini, semua kesalahan berada pada Jinki. The one and only reason.

“Aku dengar kau menjadi perwakilan cabang renang kelas 1? Apa itu benar? Kau yakin?”

Oh..jadi ia mengkhawatirkanku?kekekeke~

“Tentu saja.. tidak masalah, lagipula aku kan memang jago cabang olahraga apapun..bukankah kau tahu betul hal itu?”

Kecuali cabang bela diri. Ok keep that as secret Gweboon.

“Hm… benar juga.. baiklah jadi tidak ada masalah.. kau harus rajin berlatih Gweboon…”

“Yes sir!”

Mereka tersenyum bersama, tidak menyadari api yang membara di sorot mata beberapa siswi di kelas.

===***===

Gweboon bersyukur karena jadwal pertandingan cabang atletik ini, cabangnya lah yang terakhir. Setidaknya ia masih punya waktu. Sekarang saatnya ia latihan, karena disekolahnya ada kolam renang yang sangat besar, dan ia juga yakin siswi sekolah ini tidak mungkin menggunakannya sebagai tempat latihan, maka ia dengan penuh keyakinan berjalan terburu- buru menuju kolam renang indoor.

Ia terburu – buru karena waktu latihannya hanya 30 menit dan ia harus langsung ke rumah Jinki.

Rasanya moodnya sedikit turun begitu mengingat nama laki – laki ini.

Kemudian moodnya benar – benar hilang, seolah ada angin lewat didepannya saat ia sampai didepan kolam.

Hing~~

Kolamnya memang masih ada, tapi airnya tidak ada. Ia bersumpah saat istirahat tadi dan ia mengecek keadaan kolam masih penuh dengan air. Apa ia bermimpi? Apa ini?

Lalu handphonenya bergetar.

From : Jinki

Cepat kerumahku, kau bisa berlatih renang disini

Gweboon berpikir lalu sadar ulah siapa ini.

Mungkin Gweboon harus mengganti kontak namanya dengan “Voldemort”

.

.

.

Jinki tak hentinya terkekeh dikamarnya sambil menscroll down handphonenya. Ia tertawa melihat ekspresi Gweboon tadi saat membaca smsnya. Tentu saja Jinki melihatnya, ia sudah mengkoneksikan cctv gedung olahraga, khususnya kolam renang karena ia tahu Gweboon akan kesana.

Ia bahkan tidak bisa berhenti tertawa untuk 1 menit pertama.

“Kau sangat lucu Gweboon..”

Ia bergumam dan mengusap layar i-phonenya yang memiliki beberapa foto Gweboon.

20 menit kemudian Gweboon datang, Jinki masih ingin tertawa keras saat ia melihat wajah kusut Gweboon, tapi ia menahannya.

“Apa kau benar – benar masih ingin belajar denganku? Bukankah katanya kau ini jenius?”

Jenius?

Siapa yang mengatakannya?

Alis Jinki berkerut, dan ia sadar memang benar ada yang aneh. Setahunya tidak ada yang tahu tentang fakta bahwa ia memiliki kecerdasan diatas rata – rata.

Ia meminta keluarganya tidak mengeksposnya di sekolah dan siapapun dilarang membicarakannya.

Gweboon tersentak saat pergelangan tangannya ditarik, membuat buku yang baru saja ia keluarkan jatuh ke lantai.

“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?”

DEG

DEG

Wajah Jinki sangat serius, dan suaranya terdengar lebih berat. Apa ada yang salah jika ia mengetahui hal itu? Kenapa ia terlihat tidak menyukainya?

“Hyori unnie…”

“Tsk.. “

Jinki berdecak dan melepas kasar pergelangan tangan Gweboon, membuatnya sedikit meringis.

“Kenapa kau begitu marah? Itu benar kan?”

Jinki berbalik menghadap Gweboon lagi, menatapnya beberapa detik sebelum gelak tawanya pecah. Lihat saja bahkan ada air mata disudut matanya. Gweboon semakin bingung, sebenarnya apa yang terjadi pada Jinki? Apa ia gila?

Sebentar marah lalu sekarang tertawa…?

“ppft.. aku tidak menyangka kau mempercayai semua perkataan noonaku? Tsk.. Kim gweboon kau ini gadis pintar yang mudah dibohongi. Lupakan semua yang dikatakan olehnya. Semuanya hanya bohong.. aku sudah menperingatkanmu okay?”

Jinki berlalu dan mencubit pipi Gweboon, gadis ini terdiam membeku ditempat. Otaknya mungkin sekarang kusut seperti buntalan benang.

Bohong?

“Tunggu.. lalu kebakaran itu? Dan Amerika…dan –“

“Dan aku diangkat anak lalu dibawa ke Amerika lalu aku menjadi anak yang pendiam dan seterusnya dan seterusnya.. adalah…bohong.. ayolah Kim Gweboon aku pikir kau benar – benar pintar ternyata tidak juga.. ah aku kecewa..”

Jinki mendramatisir dengan menepuk dada kanannya dengan telapak tangan kiri. Gweboon menatap horror tidak percaya jika selama ini ia dibohongi dan ia bahkan sempat mencium Jinki dan……

HOLY SHIT

Gweboon menarik napas panjang dan menghembuskannya dari mulut. Ia bersumpah tidak akan mempercayai orang lain dengan mudah. Namun ia masih tidak habis pikir bagaimana bisa Hyori berbohong kepadanya? Rasa – rasanya tidak mungkin kan?

Well.. kecuali jika ia adalah Lee Family.

Gweboon seratus persen yakin jika perasaan Jinki padanya juga hanya bohong, ia yakin sekali.

“Kenapa Hyori harus membohongiku?” Gweboon bertanya lagi, rasanya masih aneh.

“Karena seperti itulah dia.. kau tidak mengenal kakakku dengan baik babonnie~..”

“Berhenti memanggilku baboon! Kau memang idiot! Tentu saja aku tidak percaya jika kau jenius, aku tidak mungkin percaya laki – laki kurang ajar sepertimu mengalami hal yang menyedihkan, lalu terpuruk! Aku sangat menyesal mempercayainya! Aku sangat menyesal mengasihani laki – laki sepertimu! Kau dengar itu! Kau laki – laki paling idiot dan- hmpph”

Gweboon terus berkata dengan cepat tak menyadari air matanya sedikit lagi menetes, ia tidak mengerti kenapa ia ingin menangis, apa yang harus ia tangisi? Yang ia rasakan seperti ada batu yang menghimpit tubuhnya, semakin ia mendorong batu itu, semakin dadanya terasa sesak.

Gweboon sangat membenci kebohongan. Ia benci dibohongi, ia benci dipermainkan, dan Jinki selalu mempermainkannya.

Gweboon tidak membalas sedikitpun ciuman Jinki, ia mendorong sekuat tenaga tubuh Jinki dari tubuhnya meskipun nihil.

“Dengar Kim Gweboon, semua yang dikatakan Hyori noona tidak semuanya benar, kecuali satu hal.. itu juga jika ia mengucapkannya..”

Ia melepas tautan bibirnya setelah Gweboon menyerah untuk melawan. Memegang erat kedua pundak Gweboon.

“Apa lagi? Kau ingin aku mempercayaimu kali ini..? hm?”

“Ya.. kau akan mempercayaiku.. dan harus percaya padaku.. kau lihat saja..”

Jinki melepas Gweboon, ia beranjak. Sepertinya ada yang harus ia lakukan dengan Hyori.

Gweboon masih diam ditempatnya berdiri, ia tidak tahu harus menjawab apa, semua terasa konyol.

“Kau bisa berenang di kolam renangku, dan tidak usah menolak karena aku akan terus menguras air kolam renang di sekolah. Kau dengar itu? Aku juga tidak mood belajar… sampai jumpa besok di Sekolah..”

Jinki mengangkat satu tangannya keatas, setelah mengambil sweater hitam ia pergi dan yang Gweboon dengar hanyalah suara dentuman jam dikamar Jinki.

===***===

Kerumunan didepan mading merupakan pemandangan yang tidak biasa di sekolah ini. Kecuali saat pengumuman hasil ujian akhir semester dan terpampanglah urutan nilai terendah sampai tertinggi. Hal ini membuat Gweboon penasaran dan ikut melihat mading didepannya. Setelah berusaha sekuat tenaga menyusup di keramaian ia akhirnya berhasil berdiri paling depan dan melihat apa yang tertempel disana.

Betapa terkejutnya ia, karena disana tertulis nama laki –laki yang ia benci, tidak lain dan tidak bukan… Lee Jinki.

Mading itu menempel nama siswa yang memenangkan cabang olahraga yang dilombakan. Mulai dari berkuda, panah, tembak jitu, golf, semua bertuliskan nama Jinki. Lalu ia melihat nama Minho di cabang sepak bola, renang, lompat tinggi dan lari jarak pendek.

Golf? Really ? Tembak jitu?

Gweboon tidak habis pikir, bahkan ada cabang olahraga golf..  G O L F demi Tuhan? Oke Gweboon kau lupa ini sekolah apa sepertinya.

Sejauh ini Jinki sudah mengumpulkan 4 medali. Setiap siswa diberikan pilihan untuk mengikuti cabang olahraga apa saja yang diinginkan dan berusaha mengumpulkan medali emas sebanyak mungkin. Jika ada dua orang yang memiliki jumlah medali yang sama maka ia akan diadu dalam satu jenis cabang olahraga yang sama.

Gweboon membulatkan matanya tidak percaya saat ia melihat kalimat semakin bawah.

Lee Jinki Vs Choi Minho.

Mereka akan bertanding basket. Basket? Really?

Minho juga sudah memperoleh 4 medali emas dari cabang olahraga yang ia ikuti. Jadi mereka seri. Jinki sengaja untuk tidak mengambil cabang olahraga yang Minho ambil, ia ingin bertemu Minho nanti.

Basket kali ini hanya 3 lawan 3, Jinki memiliki Taemin dan Jonghyun sedangkan Minho memiliki Kyuhyun dan Changmin.

Mungkin sekali pandang saja mereka tahu siapa yang akan menang, Minho jelas pernah menjadi kapten basket, lalu Changmin yang merupakan penembak 3 point! Kyuhyun bagus dalam trik dan membuat strategi, dan Minho seorang shooter yang sangat baik dari jarak dekat. Mereka benar – benar tim yang sempurna.

Apa mungkin Jinki bisa mengalahkan mereka? Gweboon tidak yakin.

.

.

.

Jinki senang sekali, pada akhirnya ia akan berhasil membuktikan kalau ia lebih baik dari Minho.

Apanya yang pangeran? Cih!

Jinki berjalan menyusuri lorong, tangannya masuk kedalam sakunya. Ia baru saja selesai latihan basket dengan Taemin dan Jonghyun. Sangat sulit memaksa mereka untuk menjadi timnya, ia harus mengancam mereka karena justru barang yang ia tawarkan ditolak mentah – mentah oleh mereka berdua. Wajar saja Taemin dan Jonghyun juga salah satu chaebol (pewaris tunggal).

Well, setidaknya pistol dipelipis kanan mereka tidak sia –sia. Jinki tertawa mengingat ekspresi Jonghyun sangat berbeda dengan Taemin yang santai saja, ia tahu sejak awal Jinki tidak mungkin menembaknya. Jinki juga tahu Taemin tidak bersungguh – sungguh menolak ajakannya (paksaan) untuk menjadi timnya melawan Minho. Jinki tahu Taemin membenci Minho sejak kecil, well…itu kisah lain.

“Mereka merepotkan sekali.. ugh..”

Jinki sampai didalam kelas lalu melihat meja Gweboon yang berantakan. Beberapa buku jatuh ke lantai. Ada yang tidak beres.. yeah.

Ada secarik kertas diatas mejanya.

Gadismu berada ditangan kami. Jika kau menginginkannya, datanglah ke taman belakang dan kita lakukan beberapa perjanjian.

“Brengsek..”

Jinki berlari sekuat tenaga, membayangkan ada satu saja jari yang menyentuh Gweboon membuat darahnya seketika mendidih.

“Mereka ingin mati..”

Tak lama ia sampai di taman. Ada lima siswa disana, Gweboon diikat tangannya dan bibirnya terkunci rapat karena mereka menutupnya dengan sapu tangan. Ia terlihat berantakan, dua kancing baju seragamnya terbuka, blazernya entah kemana.

Jinki siap membunuh mereka satu persatu.

“Lepaskan dia….”

“Tidak semudah itu tuan muda.. kau harus memundurkan diri dari pertandingan basket..”

“Siapa yang menyuruhmu?”

“Tidak ada.. aku hanya muak melihat tingkahmu ..tuan muda tidak sepantasnya berada di regular section.. iya bukan? Atau….”

Ia mengeluarkan pisau lipatnya dan menggoresnya sedikit ke lengan Gweboon.

“Lawan aku saja dasar brengsek!..”

Jinki maju selangkah namun justru pisau itu menusuk lebih dalam membuat Gweboon memejamkan matanya dan menggeleng kuat. Ia menahan sakit luar biasa.

Jinki berhenti ditempatnya. Ia berpikir apa yang harus ia lakukan. Mudah – mudahan saja Taemin dan Jonghyun menyadari panggilan telponnya yang ia sengaja dial tadi ke handphone Jonghyun dan mendengarkan percakapannya barusan.

Lima lawan satu. Setidaknya meskipun ia bisa mengalahkan mereka semua, ia akan tetap terluka.

Satu persatu maju dan mereka mulai berkelahi. Pertama Jinki sempat ditahan dua orang siswa yang ia tahu adalah Woohyun dan Myungsoo dan yang memukul perutnya ada dua siswa yang ia kurang tahu siapa mereka.

Gweboon meronta – ronta melihat Jinki. Darah di hidung dan sudut bibirnya.

Tak lama kemudian ada yang datang dan menolongnya.

Jonghyun membawa stick golf dan Taemin dengan tongkat baseball. Lumayan untuk meretakkan tulang selangka.

“Jinki..selamatkan saja Gweboon ..” Jonghyun melanjutkan aksi heroiknya dengan meninju satu laki – laki lagi. Taemin tersenyum senang. Ia sangat suka perkelahian seperti ini, sudah lama ia tidak mematahkan tulang manusia. Tangannya gatal sekali. Ugh ..

“Jangan mendekat! Hei.. aku bilang jangan mendekat..”

Siswa yang menahan tubuh Gweboon menarik pisau kecilnya dan kini mengarah ke Jinki. Hanya sebilah pisau.. apanya yang menyeramkan.

Jinki tetap maju hingga jaraknya semakin dekat dan..

Pisau itu tertancap nyaris kedalam telapak tangan kanannya. Jinki tersenyum, ia tidak meringis kesakitan, ia langsung meraih leher siswa itu dan mencekiknya tanpa ampun hingga tubuhnya merapat ke pohon besar. Taemin menghampiri Gweboon untuk melepaskan ikatan di tangan dan mulutnya. Air matanya tak terbendung, ia menoleh ke arah Jinki dengan tatapan horror. Dengan cepat berlari dan memeluk Jinki dari belakang. Menarik tubuh Jinki sekuat tenaga,menghentikannya dari aksi membunuh.

“Jinki..sudah..lepas.. lepaskan dia…Jinki…”

Jinki tersentak saat Gweboon memeluknya, menarik tubuhnya, tangannya melingkar diperutnya erat. Ia melepas cekikannya, siswa itu terbatuk. Mungkin terlambat semenit saja siswa itu akan menghilang dari muka bumi.

“Kau… pergi…atau aku akan membunuhmu….” Jinki menatap tajam ke arah siswa yang terbatuk – batuk itu, ia sangat syok.

Entah sejak kapan Taemin dan Jonghyun juga menghilang, mungkin mereka masih ingin bersenang – senang dengan siswa tadi. Taemin hanya berteriak “See you later Jinki…” sebelum ia pergi.

…..

“Awww….sakit! Yah kenapa kau menekannya..”

Gweboon memutar perban disekeliling telapak tangan dan punggung tangan Jinki, setelah Jinki bersikeras tidak ingin ke rumah sakit, akhirnya Gweboon yang mengobati luka tangannya. Untung saja pisau itu tidak menancap terlalu dalam, meskipun darahnya juga sangat banyak membuat Gweboon semakin histeris saat pertama melihat cucuran darah itu.

Dengan telaten ia membersihkannya dengan air hangat dan alcohol. Jinki meringis, bohong jika itu tidak sakit. Ia juga manusia biasa yang bisa merasakan sakit karena luka tusukan.

Gweboon tidak menjawab, matanya terasa panas, seperti ada api didepan matanya. Pandangannya mulai kabur dan berbayang, ada air yang menghalangi tatapannya. Hingga akhirnya air itu menetes, menjalar menuruni pipinya.

“Jangan menangis…. Kau jelek sekali kalau menangis..”Jinki mengusap airmata yang menetes itu dengan ibu jarinya.

Gweboon masih tidak menjawab, ia masih focus dengan perban, hingga akhirnya ia selesai dengan mengikat ujung tali perban itu.

“Hei…apa kau baik – baik saja? Apa mereka melukaimu sebelum aku datang? Bagaimana dengan luka di lenganmu..”

Jinki dengan cepat memerikan lengan Gweboon yang sempat digores tadi dan langsung ditepis Gweboon. Jinki menghela napas panjang lalu menarik tubuh Gweboon kedalam pelukannya. Tidak ada siapapun di klinik ini. Hanya mereka berdua.

“Maaf… maafkan aku… lain kali kau harus selalu berada disampingku…”

Tangis Gweboon semakin memecah dan ia memukul punggung Jinki dengan kepalan tangannya, Jinki mengeratkan pelukannya dan berulang kali mengucapkan kata maaf.

“Idiot….”

Jinki tertawa mendengarnya. Baginya Gweboon yang seperti ini yang lebih ia sukai, bukan Gweboon yang menangis, terlebih alasannya menangis adalah dirinya.

“Aku harus pergi.. aku ada pertandingan basket melawan Minho beberapa menit lagi.. Taemin dan Jonghyun pasti sudah menungguku..”

Gweboon menatap Jinki tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan, entah kupingnya yang bermasalah atau otak Jinki yang bermasalah.

“APA KAU GILA? LIHAT INI! LIHAT?!! APA MATAMU RUSAK? APA OTAKMU HANYA SEPEREMPAT? BAGAIMANA BISA KAU BERTANDING BASKET DENGAN TANGAN SEPERTI INI? LEE FUCKING JINKI?!”

Gweboon melepas pelukannya dan berteriak dengan rentetan kalimat yang jelas terdengar 1 ruangan, thanks God tidak ada orang lain disana. Tangan Gweboon meraih pergelangan tangan kanan Jinki yang sakit seolah mengingatkan Jinki kalau ia sedang terluka. Apa Jinki terserang Alzheimer mendadak hingga lupa keadaannya sendiri?

“Aku masih punya tangan kiri Gweboonnie~~ aww kau mengkhawatirkanku?”

Jinki justru balik menggoda Gweboon,membuat gadis ini semakin geram. Entahlah.. rasanya ia kesal sekali. Mungkin volume otaknya setengah dari jumlah volume otak manusia- pikirnya.

“Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan? Kau ingin melawan Minho? Memangnya apa yang ada dipikiranmu?”

Jinki tersenyum, ia menarik pinggang Gweboon hingga merapat dengan tubuhnya. Mengusap pipinya, menghapus sisa air mata disana.

“Kau seharusnya menyemangatiku…” bisik Jinki hingga ia menghapus jarak antar bibir mereka.

Kali ini sangat berbeda, sangat perlahan dan lembut. Gweboon seperti berdiri diatas awan, jemari Jinki yang hangat mengelus tengkuk Gweboon, memperdalam cumbuannya. Sementara tangannya yang diperban, masih berada di pinggang Gweboon.

Gweboon awalnya ragu, namun ia mengikutinya. Ia membalas ciuman Jinki. Laki – laki ini terkejut dan membuka matanya melihat mata Gweboon yang kini justru tertutup. Kedua lengannya sudah melingkar dileher Jinki.

Akhirnya Jinki tersenyum. Ia tersenyum karena akhirnya ia mendapatkannya. Ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia bisa merasakan detak jantung Gweboon didadanya. Sangat jelas.

Bibir bawah Gweboon berada diantara bibir Jinki, menghisapnya kuat dan bergantian. Pada akhrinya lidah Jinki menerobos masuk, merasakan kehangatan Gweboon. Gweboon tersentak dan akhirnya mendorong bahu Jinki. Ia baru pertama kali berciuman hingga seperti ini. Sepertinya suhu tubuhnya mendadak naik. Jinki mengusap bibir Gweboon yang merah merekah.

“Aku akan memenangkan pertandingan ini Gweboon.. untukmu…”

Jinki mengecup kening Gweboon. Ia melepas blazernya, lalu melebarkannya. Menyuruh Gweboon memasukkan tangannya kedalam dan memakainya. Gweboon tidak mengerti namun ia menuruti perintah Jinki. Sepertinya lidahnya tidak bisa berkata – kata. Pipinya sangat merah, ditambah mata Jinki yang tidak sedetikpun melihat kearah lain. Ia menatapnya terlalu lama.

Ini sangat kikuk.

Kenapa dia seperti ini. Ah kenapa aku seperti ini? Oh My God.. please.

“Kau ingin aku yang mengancing blazer ini?”

Suara Jinki memecah lamunan Gweboon, lalu ia sadar apa yang dimaksud Jinki.

“Pervert..”

Buru – buru ia mengancing blazer Jinki. Laki – laki itu malah tertawa tanpa rasa bersalah.

“Aku akan memenangkan pertandingan ini.. apapun yang terjadi. Kau lihatlah Gweboon..lihat aku..”

“Tapi.. Jinki.. sudahlah.. kau tidak perlu melakukan ini. Baiklah aku mengakui kehebatanmu. Tapi tidak perlu kau sampai melakukan hal ini…”

Gweboon tidak pernah memohon, kecuali pada kedua orang tuanya dan pada Tuhan pastinya. Namun tekad Jinki sejak awal memang ingin mengalahkan Minho, dan setidaknya sekali saja.. sekali saja ia ingin Gweboon melihatnya.. hanya ke arahnya.

“Lihat aku Gweboon….. hanya aku…”

Kalimat terakhir yang Jinki ucapkan sebelum pergi dan meninggalkan Gweboon di klinik sekolah.

 

 

Lihat aku Gweboon.. hanya aku.

 Apa tidak bisa kau melihatku? Lihat aku lebih lama..

Jangan lihat dia.. lihat aku.. hanya aku..

 

To Be Continue…

 

 

 

 

 

135 thoughts on “{JinBoon}Snow Flower – Chapter 4

  1. kepo- kepo nemu ff ini uwaah penasaran sama lanjutannya >.<
    gwe kau tak bisa menolak pesona jinki.. hiyaa.. waiting for the next step xD

  2. Gweboon udah ada hati kan sama jinki, iya kan? Iya kan? Assaaaaa~
    Iye udeeeeeh liat jinki aja jangan yg lain hahaha

  3. greget sama gweboon knp dia belum nyadar juga perasaannya sma jinki, oh tuhan
    padahal jinki udh serius suka sma gweboon,
    oh iya tadi jinki bilang taemin benci minho sejak kecil, trus jinki juga bilang minho bukan lelaki baik baik? jadi sebenarnya ada apa antara jinki minho taemin? aiisshh makin penasaran
    trus yg dikatakan hyori apa bener cuma boongan? duh penasaran banget sama lanjutannya, please dilanjut ff nya yaa hehe

  4. Ah…ko d chap ini aku penasaran ama Minho ya???? apa Minho ada hubunganya dengan orang yg mengancam Jinki dengan cara menyekap Gweboon,buat mundur dari pertandingan basket???? Trus apakah dulu Jinki dan Minho saling kenal waktu msh kecil?? soalnya prasaan Jinki pernah bilang,pernah berteman,tapi dulu. Hal itu yang bikin Aku penasaran??

    Ayo donk de,cepet digarap chap selanjutnya,jangan sampai berkarat,ntar keburu lupa lagi😀

  5. “Lihat aku gweboon, hanya aku..”
    Wow..
    Romantis bgt, jinki yg pervert punya sisi romantis jg ama gweboon.
    Duh, kapan yaa chapter 5 dipost?
    Penasaran bgt ama kelanjutan kisah jinboon😥

  6. aih suka bgt sm ff iniii, detail bgt dan sukabgt sama karakter onew yg pemaksa gt aih!! dilanjutin ya thooor aku tungguin terus nih hihi^^

  7. huwaaa jinki tangannya terluka😥 menangin pertandinganya demi gweboon, jinki. kakak aku bener-bener penasaran chap selanjutnya, ditunggu kak ^_^

  8. Huuuuuuaaaa endinya so sweet bangeeeeet *tebar kembang api* 🎉🎉🎊🎊
    duuh keliatan bnget nih kayanya jinki udah cinta mati sama gweboon 💞💞💞😆 itu beneran ya kakaknya jinki bohong?ahh masa?? 😯😅😅
    tapi makin kesini kok minho makin mencurigakan sih, brarti dulu itu sbenernya jinki tae sama jjong temenan sama minho kan yp terus musuhan karena minho yg entah knapa, ooohhhh #nodnod 😂
    dari sisi sok tau gue sih ini keliatannya minho beneran jahat 😌😌 tambah curiga lg pasti td yg nyulik gweboon itu suruhannya minho juga
    😡😡 oke tungguin lanjutannya deeh huhhh i’m so fucking excited 😂😂

  9. Ini depannya mana yak ?
    Aku rada gk connect kalo baca langsung chapter 4 begini..
    Carichapter 123 dulu ah..

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s