[2min/IND/oneshoot] You Again


Tittle : You Again (Original Story by: Aqcelnicorus)
Pairing : 2min – Taemin & Minho SHINee
Summary:Dimana Taemin melarikan diri tepat 1 bulan sebelum pernikahannya.

Disclaimer:
Hello, semuanya~ yuhu~ jumpa lagi sama Admin datang dan pergi pulang tak diantar -Valak kali ah! Oke, seperti yang kalian liat di atas ini adalah Original FF dari Author Asianfanfics, my friend -Aqcelnicorus! Sebenarnya FF ini adalah request-an gue di AFF sama dia, yup Vittwomincentris adalah gue~ . Ide cerita sebenarnya gue hanya menyampaikan aja maunya gimana, dan janji sama dia bakal buat translate nya untuk bisa dinikmati sama 2min shipper Indonesia. Tapi, janji udah 1 tahun lalu baru dipenuhi sekarang/slap/.

So, enjoy! No need to comment! Haha… Tapi, kalau dikomen dan disebarkan ke yang lain tentang cerita ini boleh laaah~love you Suunders!

English Version (Original FF) : Click here

            “Ap—“

            Taemin mendengus dan meniup poninya. Ia melipat kedua tangannya sambil melirik ke arah seseorang yang baru saja mencuri minumannya.

            “Ya!” teriaknya

            “Aku?”

            “Ya, Kau!”, Taemin merebut minuman dari tangan pria didepannya dan meyeruputnya sebelum namja didepannya bisa merasakannya, “Ini seharusnya milikku.”

Sosok asing itu melepas kacamatanya dan memandang balik ke arah Taemin.

            “Aku rasa kau punya masalah dengan matamu.”, dengan ragu ia melepas kacamata Taemin dari wajahnya, kemudian menarik lengan Taemin lebih dekat ke wajahnya. “Baca”.

Taemin menatap gelas plastik di tangannya dan membacanya, Caramello Frp.

            “Ibu bukan punyaku.”, katanya mengedipkan matanya.

Namja didepannya kemudian berjalan ke arah Counter dan mengambil minuman yang seharusnya diambil oleh Taemin.

            “Kau boleh ambil FRAPE Caramello ku. Aku tidak masalah dengan ICED Caramello.”,

Taemin tercengang dan ia terlalu malu bahkan hanya untuk mengucapkan maaf, ia hanya bergumam pelan. Ini semua karena salah kedua orang tuanya. Jika saja ia tidak semarah ini, kejadian memalukan seperti ini pasti tidak akan terjadi. Ia mengerang dan berjalan keluar Coffee shop dengan kesal.

*

*

Taemin berdiri dengan hidung sepertinya sudah mendengus kesal dan berasap. Ia Tetap­-merasa kesal selama perjalanan dari Seoul menuju Jeju Island. Ia bawa semua barang-barangnya dan berdiri disisi bagian Delivery Taxi. Kemudian ia mengeluarkan dompetnya, ia punya banyak uang, ia sudah merencanakan ini semua sejak dua hari yang lalu untuk menarik uang Cash sebanyak mungkin karena ia tahu bahwa Appa nya akan mem-block semua Credit Card nya dan juga akunnya. Well, ia kan sedang melarikan diri jadi normal rasanya jika Appanya akan marah dan melakukan semua itu. And Yeah, sekarang Taemin beridri disana, menunggu gilirannya mendapatkan Taxi lalu ia bisa tidur dan menikmati menit terakhir kebebasannya.

“Ini Milikku.”

Taemin menahan pintu Taxi dan melirik ke seseorang yang mengambil giliran Taxinya. Taemin membelalakan matanya tidak percaya; itu adalah namja yang minumannya ia rebut. Taemin menyeringai puas, sekarang gilirannya yang menang … pikirnya. Dia sudah mengantri dan ini adalah Taxi-nya.

            “Ini Milikku”, namja itu masuk kedalam taxi kemudian duduk.

            “Ya!”, Taemin ikut masuk kedalam Taxi dan duduk disebelahnya, “Ini Milikku!”,

            “Keluar.”, ancam namja itu pada Taemin.

            “Tolong ke alamat ini, Ahjusshi.”, Taemin memberikan secarik kertas pada supir Taxi dan supir itu membacanya.

            “Tida, tolong pergi ke alamat ini.”, namja disebelahnya memberikan sebuah kartu nama kepada sang supir. “Aku yang memanggil anda pertama kali kan? Cek Call History nya.”,

Supir Taxi itu hanya tersenyum dan menyalakan mesinnya, “Kalian pergi ke Hotel yang sama.”,

            “Apa?!!”, mereka teriak bersamaan.

            “Heol, aku tidak percaya.”, geram Taemin.

            “Aku juga tidak percaya. Kau tadi merebut minumanku lalu taxi, dan sekarang Hotel?”,

            “Sepertinya kalian terjebak dalam sebuah takdir.”komen sang supir Taxi itu.

            “Ahjusshi!!”, mereka berteriak pada Supir yang tidak tahu menahu itu, yang hanya bisa tertawa karena mereka.

Taemin menutup wajahnya dan mulai bergumam pelan sepanjang perjalanan. Ia sudah cukup frustasi, untuk sekedar informasi –ia baru saja kehilangan ponselnya di Airport dan sepertinya sekarang semua hal buruk datang silih berganti padanya. Bad luck always works like chain, right?

            “Kita sudah sampai.”, Supir Taxi itu menghentikan mobil dan tersenyum ke arah keduanya.

            “Dia yang bayar.”, Namja itu menunjuk ke arah Taemin dan membuka pintu.

            “Tidak! Yah, kau yang bayar! Kau bilang kau yang panggil Taxinya.”, ia menarik tas namja itu dan membuat namja itu terhempas kembali kedalam taxi.

            “Setengah-setengah.”, supir taxi itu memberikan solusi untuk mereka berdua.

Keduanya menarik nafas dan setuju, kemudian keduanya berjalan menuju lobby dan berdiri didepan meja receptionist.

            “Ada yang bisa saya bantu?”

            “Saya sudah booking kamar.”, kata mereka bersamaan.

            “Ah~kalian pengantin baru?”

            “Tidak!”, mereka memandang satu sama lain dan mendengus.

            “Oh, Maaf, saya pikir—“

            “Lee Taemin.”

            “Choi Minho. Cek nama ku.”

Mereka melotot satu sama lan dan membuat receptionist yang berada ditengah-tengah mereka merasa gugup. Receptionist itu dengan cepat menyiapkan sebuah kunci kamar dan memberikan ke masing-masing tamu didepannya sebelum mereka bertengkar satu sama lain dan menghancurkan kenyamanan lobby.

            “Semoga menikmati menginap disini.”

            “Jika saja aku tidak bertemu dengannya lagi.”, Taemin mengerang dan meninggalkan meja receptionist, namja disebelahnya hanya mendengus. “Jangan coba-coba kau mengikutiku!”,

            “Like I would.”, namja itu tetap berada dibelakang Taemin, menghindari Taemin sepanjang jalan. Mereka tidak mau jika mereka harus naik lift yang sama.

*

*

Taemin berbaring di atas kasurnya, tangannya merasa gatal karena ponselnya menghilang. Dia yakin bahwa ia sudah meletakkannya di tasnya namun entah kenapa tidak ada disana. Ia seharusnya mendengarkan teman-temannya bahwa ia harus menggunakan gantungan ponsel atau apapun itu untuk melindungi ponselnya namun semua sudah terlambat, ponselnya kalo ini sudah hilang.

            “Tapi ini pertanda bagus.”, ia beriri dan berguling di atas kasurnya, “Tidak akan ada yang bisa menghubungiku dan aku sendiriaannn~! Tanpa GPS~!”,

Ia berlari keliling kamarnya dan itu membuat ia merasa lupa sedikit dengan beban yang ada didalam hatinya. Setidaknya ia merasa lega setelah berlari dari rumahnya.

*

*

Taemin berjalan menuju kolam renang yang lumayan sepi, setidaknya tidak terlalu banyak orang yang berenang dimalam hari. Ia menyengir lebar dan melompat kedalam air. Ia berteriak dengan riang dan tertawa layaknya orang gila. Ia berenang kesana kemari, bermain di perosotan yang sebenarnya hanya untuk anak kecil dan mencoba membuka matanya didalam air

Tiba-tiba ia merasa lapar dan ia duduk dipinggiran kolam renang, ia sebelumnya sudah membawa sandwhices. Ia tidak seharusnya menghabiskan banyak uang untuk layanan kamar atau untuk makan, jadi ia hanya membeli nya di supermarket. Ia makan sandwhices itu dengan lahapnya dan berbaring di pinggiran kolam sambil mengelus perutnya yang terasa penuh. Ia menyengir lebar.

            “Inilah hidup. Aku harus menikmati ini sebelum aku—“, ia terkejut dan mengerang.
Gosh!!”,

Seseorang telah lompat kedalam kolam dan mencipratkan nya dengan air. Ia berdiri dan memutar bola matanya, yeah, seseorang baru saja memicu amarahya lagi, ditambah seseorang itu sudah menambah spot kemarahannya. Ia menunggu orang itu berenang didalam air namun tidak juga keluar. Sampai akhirnya ia ikut menyelam juga, ia tarik kaki orang itu dan membuat orang itu terkejut. Spontan orang itu kehilangan nafasnya dan berenang ketepian.

            “Siapa yang—“

Taemin tertawa dan yeah, tawanya reda detik kemudian. Pria itu lagi.

            “Kau ini gila atau apa?”, namja didepannya mengenalinya dan menunjuk ke arahnya, “Kau!”,

Taemin mendengus dan berenang kebagian sisi, “Bad Luck.”,

Namja itu mengikuti ke bagian tepi dan mengehentikannya. “Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kau hampir saja membunuhku!”.

            “Kau mencipratkan air kemukaku. Kau lakukan itu dengan sengaja ya kan?”

            “Aku?”, namja itu mendengus. “Memang kau siapa? Kenapa aku harus perduli untuk menggangumu?”,

Taemin keluar dari dalam kolam dan mengambil semua barangnya tetapi namja itu menahan tangannya.

            “Apa masalahmu?”, teriak Taemin.

            “Aku yang seharusnya bertanya padamu. Kau begitu mencurigakan. Kenapa kau terus muncul dihadapanku? Apa Appaku yang mengirimmu?”,

Taemin menatap sinis namja didepannya dengan perasaan aneh.

            “Apa aku terlihat seperti orang yang kenal dengan Appamu?”,

            “Kau tidak sedang memata-matai ku kan?”,

Taemin menatapnya tidak percaya. “Kau tidak terlihat seperti orang penting, kenapa aku harus melakukan itu?”

Taemin menarik tangannya dari genggaman namja itu dan berjalan pergi. Namun tiba-tiba ia merasa rasa sakit yang luar biasa dibagian perutnya. Ia jatuh kelantai yang keras.

            “Ya!”, namja itu memanggil Taemin dan ia tidak menjawabnya.

            “Kau baik-baik saja?”, ia merengkuh Taemin dan Taemin mengerang kesakitam. Ia mendapatkan kram dibagian perutnya.

            “Kau ini…”, namja itu menarik nafas dan membantunya rebahan diatas kursi kayu. “Bodoh.”,

            Taemin sangat bodoh, ia melompat kedalam kolam dengan perut kenyang. Namja itu lari mengambil tas Taemin dan mengeluarkan handuk dan semua baju Taemin kemudian menutupi tubuhnya. Ia lari untuk mengambil handulnya dan semua perlengkapan pribadinya. Ia mengeluarkan sebuah hotpack dan meletakannya diperut Taemin. Kemudian ia mengendus bibir Taemin dan membuat namja kecil itu merasa malu.

            “Kau baru saja makan kan?”

Taemin menatap namja itu dan cemberut karena gugupnya.

            “Kau bisa berterima kasih padaku nanti.”, namja itu berdecak melihat Taemin yang tidak berdaya. Kemudian ia mengelus perut Taemin perlahan dan membuat Taemin meringis kesakitan.

Tapi Taemin tiba-tiba merasa aneh, jari-jari yang berada di perutnya sangatlah lembut dan tidak terasa buruk. Tidak seburuk yang ia pikirkan, ia berpikir bahwa namja itu akan kasar padaya.

            “K-Kau bisa berhenti. Aku baik-baik saja sekarang.”, Taemin berusaha duduk namun namja itu menahannya, ia menahan pinggul Taemin, yang membuatnya jadi terkejut.

            “Otot perut mu masih terasa kaku, Idiot. Kecuali jika kau ingin begadang semalaman menahan sakit, kau bisa pergi.”,

Taemin menatapnya, “Kau ini siapa?”

“Lulusan Sekolah Medis.”,

Taemin tanpa disadari membulatkan bibirnya. “Terima kasih.”

            “Tch. Kau hampir saja membunuhku tapi kau membuatku menolongmu.”

            “Aku tidak minta kau menolongku.”

            “Jadi seharusnya aku meninggalkanmu?”

            “Kau-yeah..”

            “Aku ini manusia. Aku juga punya hati.”

Taemin mengerutkan alisnya. Ia memandang namja itu perlahan. Namja itu boleh saja menjadi nasib buruknya tapi juga sekaligus sebagai penyelamatnya. Namja itu tidak begitu buruk, ia terlihat mengagumkan dengan tubuh yang tinggi dan juga badan yang bagus dan mata besarnya dan sepertinya ia terlihat pintar. Jika saja ia single, pikirnya. Yeah, jika saja Taemin single.

            “Kenapa kau melihatku seperti itu?”

            “Tidak apa-apa.”, Taemin menoleh ke arah lain dan menghentikan namja itu untuk terus menolong perutnya yang kram.

            “Aku belum selesai.”,

Taemin melepaskan tangannya dan membiarkan namja itu menolong perutnya yang kram lebih lama lagi. Taemin perlahan merasa bahwa darah mengalir ke bagian wajahnya, ia merasa panas, beruntung perutnya yang sakit menolong nya dari wajahnya yang memerah.

            “Pakai bajumu.”, namja itu mengenakan bathrobe nya dan menunggu Taemin.

            “Apa?”, tanya Taemin padanya. Ia memakai baju dengan menaruh curiga pada namja itu.

            “Aku antar kau kekamarmu.”

            “Aku bisa pergi sendiri.”, Taemin mulai berjalan perlahan.

            “Jangan menolak kebaikanku.”

            “Aku tidak butuh.”

Namja itu menarik nafas dan meraih tangan Taemin kemudian melingkarkannya dipundaknya. Ia raih pinggul Taemin dan menopangnya.

            “Aku akan pastikan kau akan membayar semua kebaikanku sebelum aku pergi dari tempat ini.”,

            Taemin mendengus dan berjalan masuk kedalam gedung bersamaan dengan namja yang ia pikir adalah nasib buruknya. Seperti takdir, mereka menetap di lantai yang sama. Dan seperti takdir, mereka tinggal di koridor yang sama. Makan takdirmu, Taemin merutuknya.

            “Pastikan kau akan mandi air hangat. Kau sebaiknya tidur setelah itu. Pasang AC dengan suhu hangat, kau tidak mau mati di umur muda.

“Kram tidak akan membuatmu mati.”

“Percaya padaku, sebaiknya kau mendengarkan apa yang kukatakan.”,

Taemin masuk kedalam kamarnya setelah mengucapkan terima kasih. Ia menutup pintunya dan bersandar dibaliknya. Hatinya berdegup cepat.

*

*

Itu adalah hari kedua dan ia habiskan didalam kamar, ia terlalu malas untuk keluar karena perutnya sakit sekali. Ia habiskan waktunya untuk menonton TV dan memikirkan hal lain untuk kabur. Sudah waktunya Appanya akan mencarinya, dia akan segera ditemukan dan akan diseret pulang.

Telepon hotelnya tiba-tiba berdering dan membuatnya takut. “Apa? Appa sudah tahu aku dimana?”,

Taemin keluar dari balik selimutnya dan berjalan menghampiri telepon. Dengan ragu ia mengangkatnya dan mendengar sebuah suara menyapanya dari arah lain.

            “Siapa ini?”

            “Lee Taemin?”

            “Siapa ini?”

            “Ya! Kau tidak mengenali suaraku?”

            “Kai?”

            “Siapa lagi menurutmu?”

            “God! Aku pikir kau Appa! Siapa yang mengatakan padamu aku disini?”

            “Aku yang reservasi, duh!”

            “Ah … aku lupa.”

            “Ada apa dengan ponselmu? Aku menghubungimu tapi seseorang mengangkatnya.”

            “Seseroang mengambilnya? Aku menghilangkannya!”,

            “Tch. Tipikal dirimu. Ah, dia ada di Jeju juga jadi aku katakan untuk memberikannya padamu. Aku sudah memberikan alamatmu. Dia sangat baik.”

            “Benarkah??”.

            “Yeah, anyway… I got bad news.”

            “Mwo?”

            “Tunanganmu.”

Taemin cemberut, “Aku tidak mau mendengarnya.”

            “Kabar buruk untuk keluarga mu tapi kabar baik untukmu.”

Taemin tetap diam.

            “Ia melarikan diri juga. Jadi sebenarnya, kalian sama-sama melarikan diri. Lucu kan?”

            “Dia melakukan itu?”

            “Bukannya kau pikir kalian punya hobi yang sama?”

            “Shut up.”

Namun tiba-tiba bel kamarnya berbunyi.

            “Mwo?”, Kai bertanya. “Apa aku baru saja mendengar suara bel? Kau melarikan diri dan sekarang kau sudah menemukan seseorang untuk menemanimu?”

            “Aku tidak tahu siapa. Apa kau pikir itu Appaku?”

            “Dia tidak bertindak.”, Kai menjawabnya. “Appa mu belum melakukan apapun sampai saat ini. Kau tahu ‘peraturan lima hari’. Ia tidak akan menyentuhmu selama 5 hari jika kau melarikan diri.”

            “Jadi siapa?”

            “Jangan tanya aku.”

            “Bye!”

            “Ya!”

Taemin menutup telponnta dan berjalan perlahan ke arah pintu, ia mengintip dari balik lobang pintu dan mengerang.

            “Apa yang ia inginkan?”. Erangnya.

Taemin membuka pintu dan menatap namja didepannya.

            “Apa?”

            “Kau benar-benar berhutang banyak padaku.”

Namja tempo hari itu mengeluarkan ponsel yang ia kenal.

            “Ponselku!”

Taemin berusaha meraihnya namun namja itu menjauhinya.

            “Aku menemukan ponsel ini diruang tunggu, aku lupa memberikannya pada polisi di Airport dan bagaimana bisa ini ponselmu?”

            “Berikan padaku.”

            “Kau…”, namja itu memajukan tubuhnya ke arah Taemin, menatap matanya, dalam sekali. “Kau yakin kau bukan orang suruhan Appaku?”,

            “Ada masalah apa dengan orang-orang Appamu?”

Namja itu memiringkan kepalanya dan mengedipkan matanya tepat di depan wajah Taemin. “Kau tidak bohong kan?”

            “Heol!”,

            “Tapi mungkin kau benar juga, jika kau adalah orang suruhan Appa, kau pasti sudah menahanku.”

            “Appamu seorang gangster atau apa?”, Taemin berusaha meraih ponselnya namun namja itu menyembunyikan dibalik tubuhnya.

            “Apa yang kau inginkan? Berikan saja ponselku.”

            “Bagaimana dengan perutmu?”

            “Baik. Ponselku.”

            “Namja ‘dark kiddo’ ini terus terusan menghubungimu.”

            “Dia temanku.”

            “Ia berteriak soal kau melarikan diri dan tidak menjawab telepon.”

            “Bukan urusanmu.”, Taemin akhirnya mendapatkan ponselnya kembali. “Kau tidak macam-macam dengan ponselku kan?”

            “Ani. Jadi, ada masalah apa kau melarikan diri?”

            “Gamsahabnida. Annyeong!”, Taemin hendak menutup pintu kamarnya namun namja itu menghentikannya.

            “Tidakkah kau berpikir kau berhutang banyak padaku?”

Taemin mengerang dan membuka pintunya. “Apa yang kau inginkan?”

            “Boleh aku masuk?”

Taemin memutar bola matanya. “Aku tidak akan membelikan mu apapun jika kamu meminta sesuatu dari layanan kamar. Aku melarikan diri dan jangan minta aku untuk membelikan—“

            “Tidak akan.”, namja itu mendengus. “Geez… kau benar-benar banyak ngomong.”,

Taemin memperhatikan namja itu berjalan menuju kursi kecil disamping kasurnya.

            “Disini lumayan kecil.”

            “Aku melarikan diri jadi aku tidak mampu menyewa yang lebih baik dan Gosh, sudah berapa kali aku bilang?”

            “Lalu boleh aku tanya sesuatu?”

            “Apa?”

            “Kenapa kau melarikan diri?”

            “Kenapa aku harus mengatakannya padamu?”

            “Kau berhutang sesuatu padaku. Aku merasa ceritamu menarik, jadi aku mau dengar. Lagipula, kau tidak mengenalku begitu juga aku, ceritamu akan menghilang ketika aku pergi.”

Taemin berpikir keras.

            “Jadi kau bilang aku harus mengatakan semuanya padamu?”

            “Yes.”

            “Ini masalah pribadi!”

            “Tidak mungkin kita akan bertemu di Seoul. Seoul itu besar. Kau juga tidak akan mengingatku. Aku tidak akan bilang pada siapapun mengingat lingkungan kita berbeda.”

            “Well, kau benar juga.”

Taemin duduk di kasur dan memeluk bantalnya.

            “Perutmu masih sakit?”

Taemin menggeleng, “Aku hanya lapar.”

Namja itu tertawa padanya. “Bagaimana jika kau membelikanku makan siang?”

Taemin melirik sinis padanya, “Aku tidak punya banyak uang, aku tidak tahu sampai kapan aku harus melarikan diri.”

            “Jadi kita harus kelaparan?”

            “Makan 1 kali sehari. Yes!”

            “Jadi, ada apa dengan ‘melarikan diri’?”

Taemin mencibir membuat bibirnya sedikit maju dan memutar matanya sembari ia memikirkan harus mulai dari mana.

            “Ngomong-ngomong siapa namamu?”, Taemin bertanya.

            “Wae?”

            “Aku harus tahu namamu.”

            “Bukannya lebih baik kau tidak tahu?”

Taemin mulai berpikir. Ia benar juga, ia benar-benar orang asing dan jika ia pergi, ia tidak akan berhubungan lagi dengannya dan ia hanya akan berpikir bahwa namja itu hanya tongsampah tempat ia membuang semua masalahnya. Terdengar lebih baik. Ia mengangguk dan memulai ceritanya.

            “Okay. Jangan sebutkan namamu.”

Namja itu tertawa, “Jadi apa masalahmu?”

            “Kau tahu bagaimana orang tua bisa begitu kejam?”

            “Apa?”

            “Pernahkah kau mendengar tentang seorang Appa menjual anaknya sendiri hanya untuk bisnis?”

Namja itu mendengus, “Yeah, aku pernah mendengarnya.”

            “Itu bisa dalam berbagai cara kau tahu?”

            “Aku tahu, seperti memaksa anak mereka untuk bekerja di perusahaan atau bertunangan atau—“

            “Itu.”

            “Apa?”

            “Aku di jodohkan.”

            “Kau??”. Namja itu memandanginya, “Kau? Jinjja?”

            “Kenapa kau melihatku begitu?”

            “Kau anak orang kaya?”

            “Heol! Pertanyaan macam apa itu?”

Namja itu tertawa. “Jadi kau tidak sedang single sekarang?”

            “Apa? Kenapa memangnya jika aku sendiri?”

            “Anio.”

            “Kau dijodohkan?’

Taemin melirik kesal kearah namja itu.

            “Ya. Jangan tatap aku aneh seperti itu.”, Taemin melanjutkan. “Aku bahkan tidak tahu siapa dia. Sudah lama sekali ketika aku pergi kesebuah Villa dan bertemu dengan Hyung ini. Appa kami membuat kesepakatan atau apapun; aku tidak tahu bahwa mereka merencanakan perjodohan. Aku masih 10 tahun waktu itu.”

            “Wow, lalu?”

            “Sejak saat itu ia tunanganku. Tapi aku tidak pernah bertemu dengannya sejak malam itu.”

            “Kenapa?”

            “Mereka bilang ia sekolah diluar negeri. Point nya adalah, mereka mengatakan bahwa aku akan menikahinya segera. Bukankah ini gila? Aku tidak pernah bertemu dengannya! Bahkan foto juga tidak ada!”,

            “Sangat gila?”

            “Tepat sekali. “Taemin menarik nafas, “Dari yang kudengar dia itu aneh, orang bilang ia kaku dan tidak beretika, orang bilang dia jelek dan pendek dan gendut.”

            “Kau menikahi namja lebih tua?”

            “Terdengar seperti itu kan? Tapi tidak, selama aku ingat kami hanya berbeda 2 tahun.”

            “Tapi deskripsinya…”

            “Itulah yang membuatku stress.”

            “Jadi? Apa yang membuatmu melarikan diri?”

            “Pernikahan kami hanya tinggal sebentar lagi. Itu begitu mendadak dan mereka tidak bertanya pendapatku tentang hal itu.”

            “Sebentar lagi?”

            “1 bulan lagi.”

            “Kau sekarang disini.”

            “Aku tahu. Mungkin aku terlihat gila dimatamu, tapi mereka lebih gila lagi disana!”,

            “Orang tua memegang peranan tertinggi, aku tahu rasanya.”

            “Tidak, aku tidak tahu.”, Taemin menatapnya, “Kau tidak dijodohkan.”

            “Katakan sesukamu tapi aku tahu persis rasanya.”,

            “Well, silahkan bicara seperti itu tapi bisakah kau bayangkan tinggal bersama dengan orang yang tidak pernah kau kenal?”

Namja itu mengangguk. “Itu akan sangat canggung.”

            “Bukan hanya canggung, tapi menakutkan.”, Taemin menarik nafas.

            “Menakutkan?”

            “Yeah.”

            “Kau takut?”

            “Pikirkan ini, bagaimana jika benar? Apa yang orang lain bicarakan. Tidak mungkin ada asap jika tidak ada api! Kalau namja itu kasar? Bagaimana kalau ia mengatasi semua masalah harus dengan kekerasan? Bagaimana kalau ia seorang bajingan? Aku tidak mau ambil resiko untuk hidup bersama orang yang tidak aku kenal. Katakan sekarang aku tidak harus takut.”

            “Kau benar. Kau juga membayangkan apa kau bisa hidup bahagia bersamanya.”

            “Itu yang paling membuatku takut. Maksudku, aku tidak masalah Appa mengontrol hidupku dan meskipun aku tidak memintanya, tapi masalah seperti ini berbeda.”

            “lalu kau pikir cara terbaik adalah melarikan diri?”

            “Yeah .. untuk sekarang. Aku tahu aku tidak punya banyak waktu sedniri dan bersenang-senang dengan masa mudaku.”, Taemin menatap jauh keluar jendela dibelakang namja itu; tatapannya kosong, sibuk dengan pikirannya sendiri.

            “Ayo kita keluar.”, namja itu tiba-tiba meraih kepala Taemin dan membuatnya berdiri.

            “Kenapa aku harus pergi denganmu?”

            “Karena aku akan membuat hariku disini berkesan sebelum orang suruhan Appa ku membawa ku. Kau tidak akan mendapatkan kebebasan seperti ini nanti, jadi sebaiknya kau ikut denganku.”

Taemin tersenyum dan tertawa sedikit.

            “Ada apa sebenarnya dengan orang-orang Appamu? Kau tetap membicarakan hal itu.”

            “Aku juga ada masalah sendiri.”

            “Situasi seperti apa? Aku tidak akan pergi sebelum kau mengatakannya padaku.”

            “Kalau begitu aku pergi sendiri.”

            ‘Tunggu!”, Taemin menarik kaosnya, “Aku ganti baju dulu. Sebaiknya kau katakan padaku. Aku tidak suka caramu mencurigaiku.”,

Namja itu mendengus dan membiarkan Taemin mengambil jaketnya.

            “Sebenarnya aku juga melarikan diri.”

            “Apa?!”, Taemin begitu terkejut,

            “Jangan mengejekku. Situasi mu sama denganku.”

Taemin tertawa dan melihat ke arah namja itu. “Apanya yang lucu?”

            “Kau tidak begitu buruk untuk menemaniku karena kita berada pada masalah yang sama.”, Taemin berjalan begitu saja dan membuka pintu. “Meskipun kau menyebalkan.”

            “Kau leeeeebiih menyebalkan.”

*

*

            “Ada yang melalukan pertunjukan dijalan.”

            “Kau mau lihat? Aku pikir kita akan pergi makan.”

            “Aku tidak akan diam disana dan menonton selama berjam-jam juga kan?”, Taemin melirik kesal.

            “Aku tidak suka tempat ramai.”

            “Tidak apa.”

Taemin berjalan menuju keramaian dan namja itu tidak bisa berkata apa-apa, ia tidak punya pilihan melainkan mengikutinya. Taemin berdiri diantara keramaian dan tersenyum senang sambil mendengarkan lagu, itu adalah lagu favoritnya jadi ia tidak begitu perduli dengan keramaian yang mendorong-dorong tubuhnya.

            “Tidak bisakah kau lebih berhati-hati sedikit?”. Namja itu berdiri tepat di belakang Taemin dan menggerutu. Taemin menginjak kakinya.

            “Jangan salahkan aku, mereka yang dorong, aku bertahan sedikit dan menginjak mu.”

            “Bukan itu maksudku.”Namja itu melirik kesal ke arah Taemin

            “Lalu apa?”

            “Kau bisa saja terluka jika kau memaksa menerobos keramaian. Cam! Inilah kenapa aku tidak suka keramaian.”

            Namja itu menahan pundak Taemin dengan erat dan tiba-tiba Taemin merasa hatinya seperti ingin copot dan jatuh kelantai. Jantungnya berdegup cepat, rasanya sakit dan yeah, kemudian jatuh kelantai. Namja itu menahannya sangat erat.

            “Ini lagi kesukaanmu?”, ia bertanya dan Taemin dengan gugupnya mengangguk karena Demi Tuhan… namja itu berbiacara dan nafasnya tepat di rambut Taemin.

            “Kau punya selera musik yang bagus.”

Taemin menundukkan kepalanya dan telinganya tidak begitu mendengarkan musik, ia hanya dengar suara nafas dibelakang telinganya dan suara degup jantungnya. Ia merasakan hangat karena dada bidang namja itu berada tepat dibelakangnya.

            “Wae?”

            “Aku sangat lapar. Bukannya kau lapar juga?”

Taemin menarik nafas. “Baiklah, ayo kita pergi.”

            “Kau tidak menontonnya sampai selesai?”

            “Katanya kau lapar!”, Taemin berteriak karena kesal. Ia mulai keluar memisahkan dari keramaian. Namja itu mengikutinya dari belakang dan tertawa pelan.

            “Aku benci keramaian.”

Taemin meliriknya kesal, “Aku benci padamu dan juga omelanmu.”

Namja itu menatapnya dalam dan.. “Terima kasih.”

Taemin memutar bola matanya dan berjalan menuju sebuah restauran. “Kita makan yang murah.  “

            “Call.”

Mereka duduk dan order Kimbap dan juga sup untuk mereka. “Ini enak rasanya…”

            “Sup nya lebih enak.”

Namja itu tiba-tiba berhenti dan menatap Taemin.

            “Makan, jangan hanya melihatku!”

            “Taemin?”

Taemin meliriknya, “Siapa?”

            “Namamu, Taemin.”

            “Bagaimana kau—“

            “Namja keling yang meneloponmu itu terus memanggil namamu.”

            “Lalu kenapa?”

            “Nama yang bagus.”

Tiba-tiba Taemin tersedak dan batuk sementara namja itu tertawa dengan anehnya. Taemin terus meminum air dan namja itu terus membantu menuangkan air kedalam gelasnya.

            “Apa aku baru saja membuatmu malu?”

            “Kau jangan tiba-tiba bicara seperti itu!”,

            “Apa? Harusnya aku memperingatimu dulu? Kalau aku akan memuji namamu?”.

Taemin menggelengkan kepalanya, “Jangan pernah memujiku.”

            “Baik. Seperti aku akan melakukannya saja.”, Namja itu tertawa.

            “Haruskah kita beli Beer?”

            “Berapa umurmu?”

Taemin melirik kesal. “25”

            “Kita tidak boleh mabuk. Aku tidak mau mengantarmu kembali ke Hotel.”

            “Terserah.”, Taemin mengangkat tangannya dan meminta sekaleng Beer. “Aku ingin bersenang-senang dan minum-minum sebelum aku harus kembali kekenyataan.”

*

*

“God! Kau menyebalkaaan…!”

“Bicara pada dirimu sendiri.”

“Kenapa aku terus bertemu denganmu? Kau merusak hariku disini.”

Namja itu menjatuhkan Taemin dan berjalan cepat.

“Yaaaa!”, Taemin cemberut dan berteriak padanya, “Bawa aku kembali kekamarku-#8%;$(@;*&@(“

Namja itu menarik nafas dan menghentikan langkahnya hanya untuk melihat kebelakang pada Taemin yang mabuk duduk di pinggir jalan dengan semua pasang mata melihatnya.

            “Ugh! Memalukan…!”, ia menghentakan kakinya dan mengangkat Taemin dari tanah lalu kembali berjalan. “Sudah kukatakan sebelumnya kan kalau kau tidak boleh mabuk?!”,

Taemin mengeratkan lengannya dileher namja itu dan terus mengantuk.

“Pembawa masalah.”

*

*

“Kau menyentuh apa??”

“Aku berusaha mencari kunci kamarmu.”

“Jangan sentuh aku!”

Ia menyentuh kantong Taemin dan Taemin memukul kepalanya. Namja itu meliriknya kesal dan tetap berusaha mencari kuncinya. Okay Taemin memang sangat menyebalkan jika mabuk. Dan berbahaya.

“Kau menyukaiku ya kan?”

Bicaranya berbahaya.

“The Hell..:

“Kau terus menyentuhku, kau menyukaiku ya kan?”

“Kau mabuk.”

Namja itu akhirnya menemuka kunci kamarnya dan membawa mereka masuk. Taemin tiba-tiba membuka bajunya dan melemparkan. Namja itu merasa gugup dan melihat ke arah lain.

            “Hahaha … kau suka namja ya kan?”, taemin bertanya padanya, “Kau suka padaku??”,

Well, Taemin sangat berbahaya dari cara ia bicara dan juga kebiasaan buruknya yang mabuk.

            “Aku keluar.”

            “Jakkaman!”

Taemin berlari kepintu dan menghalang jalannya, namja itu melihat ke arah lan ketika ia melihat dada Taemin yang tidak berpakaian didepannya.

            “Kau … ayo kita kencan.”

            “Kau aneh.”

            “Aku serius. Ayo kita kencan selama kita disini.”

            “Kau bilang kau serius sementara kau sedang mabuk? Aku bercanda ya?”

Taemin menggeleng kepalanya.

            “Sebenarnya aku tidak pernah berkencan dengan seseorang sebelumnya. Aku ingin berkencan dengan seseorang sebelum aku menikah dengan orang yang tidak aku kenal.”, Taemin cemberut.

            “Aku harap kau lupa apa yang kau katakan besok pagi.”, namja itu mendorong Taemin menyingkir dari pintu dan tidak menghiraukan permintaan bodohnya.

            “Sejak kau itu menyebalkan dan aku juga membuatmu kesal, aku tidak akan menyukaimu dan kau juga tidak akan suka padaku.”

Taein menarik tangannya dan menggenggamnya erat.

            “Tolong aku..”

            “Kau gila…”

Namja itu keluar dan Taemin mengejarnya sampai kekamar. Ia membanting pintu tepat didepan wajah Taemin dan Taemin merengek karenanya.

            “Buka pintunyaaa…”, Taemin merengek didepan pintu, setengah sadar. “Hingg….”, ia menyakar pintu dan terus mengetuk pintu.

Well, Taemin mabuk sama saja kehilangan akal sehatnya. Ia terus menunggu sampai ia tertidur disana. Yeah, telanjang dada. Sampai satu jam kemudian perlahan pintu terbuka. Namja itu memutar bola matanya dan menyenggol punggung Taemin.

            “Kau bisa masuk angin jika tidur disini.”

Taemin mengusap matanya dan menatap namja itu. “ayo kita kencan. Aku rasa aku harus pergi dalam waktu 2 sampai 3 hari lagi. Appaku akan menjemputku nanti.”

            “Lalu kau akan pergi dari depan pintu ku?”

            “Yap.”

            “Baiklah.”

Taemin berdiri tegap dan tersenyum lebar. “Kalau begitu biarkan aku tidur disini…”,

            “Tidak.”

            “Tunggu!” Taemin menahan pintu ketika hampir saja tertutup.

            “Apa lagi?”

            “Aku benar-benar serius, jadi aku harap kau perlakukan aku juga dengan serius. Hanya dua hari, kumohon….”,

            “Selamat malam.”

Taemin menyengir lebar dan berjalan kembali kekamarnya seperti orang bodoh. Meskipun ia sedang mabuk ia tahu bahwa ia tidak bisa menyembunyikan perasaan penasaran mengajak orang lain untuk berkencan dengannya. Dan namja itu terlihat sangat tampan dimatanya jadi meskipun calon pengantinnya yang jelek itu nanti akan jadi pasangannya, ia akan memikirkan namja itu. Tunggu, seharusnya ia melupakan namja itu. Taemin menggelengkan kepalanya. Yeah, ia seharusnya benar-benar melupakannya dan hanya memikirkan perasaan yang akan ia rasakan dimenit-menit terakhir kebebasannya.

*

*

Taemin mendengar bel pintu berdering dan kepalanya terasa sangat berat, mata dan juga telinganya seperti pengang. Ia mengerang dan gelinding dari atas kasur, ia melempar bantalnta kesamping namun percuma bantal itu tidak sampai ke pntu, tentu saja. Ia meringis karena kesal dan bangun dari sana.

            “Siapa?”

Bel terus berbunyi.

            “Gosh!”

Ia berjalan kepintu dan mengintip dari lubang, membuka pintu dan melihat…

            “Apa yang kau inginkan?”

            “Ya! Pakailah sesuatu!”

Taemin menundukkan kepalanya dan melihat ketubuhnya. Ia berteriak.

            “Kenapa aku hanya menggunakan celana dalam??”

            “Kau mabuk, dan kau membuka semuanya.”, namja itu menyentil jidat Taemin dan mencoba masuk.

            “Kau pikir kau mau kemana?”, Taemin menghentikannya.

            “Masuk?”,

            “Masuk kemana? Ini bukan kamarmu.”

            “Ini kamar pacarku jadi aku bisa masuk sesuka yang aku mau.”

            “Pacar??”, Taemin bergumam dan semua memori tiba-tiba keluar begitu saja dari kepalanya. “Oh God!”

            “Yeah, Oh God.”

Namja itu mendorong Taemin dan menutup matanya sambil ia berjalan masuk.

            “Kau setuju dengan permintaanku?”

            “Agar kau bisa pergi dari depan pintu kamarnya, yes.”

Taemin tersenyum seperti pecundang dan ia menoleh dari balik punggungnya.

            “Jadi sekarang kita sepasang kekasih?”

            “Singkirkan senyum licik mu itu dan pergilah mandi! Kau bau!”

Taemin mengenduskan hidungnya. “Tch.”

*

*

            “Aku tidak bermimpi.”

            “Tch, Jadi .. apa yang ingin kau lakukan?”, tanyanya pada Taemin.

            “Kau pernah berkencan sebelumnya?”

            “Yes.”

            “Apa yang biasanya kau lakukan?”

            “Ngobrol, jalan-jalan. Hmm.. texting dan telepon. Mungkin bergandengan tangan saat kencan.”

            “Apa yang kau bicarakan?”

            “Apa saja?”

            “Seperti apa?”

            “Aku tidak tahu, berjalan begitu saja.”

            “Aku tidak suka bicara padamu.”

            “Aku juga.”

Taemin meliriknya kesal dan mengeringkan rambut basahnya dengan handuk.

            “Kau tidak menyenangkan. Aku jamin.”, Taemin bergumam.

            “Apa yang kau harapkan dari kencan?”

            “Aku pikir itu akan lebih lembut dan romantis?”

Namja itu tertawa, “Lembut? Wow, kau polos sekali.”

            “Aku? Tidak!”, Taemin menatap ke arahnya “Sejauh mana kau melakukan sikin ship?”

            “Kenapa aku harus menjawabnya?”

            “Heol. Kau pasti sudah pernah tidur dengan seseorang.”

            “Idiot. Aku tidak sejauh itu.”

            “Ciuman?”

            “Aku pernah.”

Taemin membelalakan matanya, ia menopang wajahnya dan menatap ke namja itu.

            “Apa itu romantis?”

            “Kau mau aku menciummu?”

            “Tidak.”, Taemin menjawab cepat, dalam 0,1 detik dan namja itu tertawa.

            “Jadi apa yang kau inginkan?”

            “Untuk sekarang, ayo kita ngbrol dan jalan-jalan.”

            “Okay.”

            “Lets go.”

*

*

Taemin dan namja itu berjalan mengitari hotel mereka. Resepsionis yang melayani reservasi kamar mereka dihari pertama melihat keduanya dengan aneh. Ia melihat keduanya bertengkar tapi sekarang keduanya tertawa bersama, itu membuatnya takut.

            “Jadi apa yang biasanya kau lakukan ketika kau berjalan-jalan?”

            “Ngobrol.”

            “Ngobrol apa?”

            “Bagaimana perasaanmu/”

Taemin menatapnya aneh.

            “Itu pembicaraan biasa. Sejak aku tidak begitu mengenalmu. Kau seharusnya menjawabnya sekarang.”

            “Ah~”, Taemin tersenyum. “Kepala lu sakit setelah hangover.”

Namja itu tertawa. “Siapa yang suruh kau mabuk segitu banyak?”

Taemin menatapnya aneh, ini benar-benar aneh bagaimana namja itu memberikannya aura yang hangat untuknya.

            “Apa kau selalu pandai seperti ini saat kencan?”

            “Aku selalu bersikap seperti ini.”

            “Tidak untukku.”

            “Ini karena kau sangat menyebalkan sejak pertama kali kita bertemu.”

            “Aku sedang kesal, oleh karena itu aku menyebalkan.”

            “Tetap saja, itu keterlaluan jika kau tiba-tiba melampiaskan semua amarahmu pada orang.”

            “Well, aku minta maaf soal itu.”

            “tapi aku merasa kau tidak begitu buruk untuk ukuran pembawa masalah.”

            “Aku pembawa masalah?”

Namja itu menyeringai dan mengangguk.

            “Kau pembawa nasib buruk.”

            “Wae?”

            “Aku tidak tahu. Kau menghancurkan hariku.”

            “Tapi aku banyak menolongmu.”

            “Kau tidak perlu mengungkitnya.”, Taemin memutar bola matanya kesal.

            “Kenapa kau tidak berkencan dengan seseorang sebelumnya?”

Taemin menghentikan langkahnya. “Tidak ada orang yang berusaha mendekatiku.”

            “Lalu kenapa kau tidak berusaha untuk mendekati seseorang?”

            “Aku tidak tahu caranya.”

            “Aigoo, Taemin ah~…”, namja itu mengusap kepala Taemin.

            “Ya! Kenapa kau lalukan ini?, Taemin menghentikan tangannya.

            “Karena kau sangat lucu. Kenapa tidak ada orang yang jatuh cinta padamu padahal kau ini lucu sekali?”

Hidung Taemin mengepul rasanya seperti ada api. Namja itu tertawa melihat ekspresi Taemin. “Wae?”

            “Aku rasa jantungnya akan copot. Inikah yang kau rasakan saat kau kencan?”

Namja itu tersenyum dan mengelengkan kepalanya. “Jangan jatuh cinta padaku. Kita hanya pasangan sementara. Kau akan segera menikah kelak.”

            “Ak-aku tidak akan..”

            “Janji padaku.”

            “Tentu.”

Ia meraih kelingking namja itu dan menautkan dengan jempolnya.

            “Tapi …”

            “Apa?”

            “Ini aneh, maksudku, aku tidak tahu namamu jadi aku tidak tahu harus memanggilmu apa. Ini tidak adil kau tahu namaku.”

            “Kau ingin panggil aku apa? Honey? Yeobo? My love?”

            “Ewwwwh…”

            “Lalu apa?”

            “Aku 25 tahun. Aku pikir kau lebih tua dariku, ya kan?”

            “Yes.”

            “Hyung?”

            “Call.”

            “Sekarang lepaskan tanganku.”

Namja itu berdecak, “Kau tidak mau mencoba bergandengan tangan?”

Taemin menatap tangan mereka dan matanya berkaca-kaca. Ia berpikir jika ia harus meraih tangan itu atau bersikap mau tidak mau. Tapi ia tidak punya waktu. Tapi sebenarnya ia masih merasa canggung.

            “Nanti saja.”

            “Okay. Tapi aku rasa nanti aku tidak perlu minta ijinmu.”

            “Apa itu maksudnya?”

            “Tidak apa-apa.”

Mereka berjalan keluar hotel dan pergi ke pasar dimana disana menjual banyak snack tradisional. Mata Taemin berkilauan dan ia air liurnya seperti ingin menetes. Ia harus menyimpan uangnya untuk beberapa hari tapi …

            “Wae?”

            “Kita bisa keluarkan beberapa uang.”

Taemin tersenyum melihat semua makanan didepannya.

            “Aku juga punya uang.”

            “Kalau begitu kita akan makan yang banyak sampai kita tidak bisa jalan.”

            “ayo kita lakukan.”

Mereka berjalan dari satu stand ke stand yang lain. Mereka membeli banyak makanan, karena mereka bukan tipe pemilih makanan oleh karena itu mereka makan semuanya.

            “Aku rasa aku tidak bisa makan lagi…”

            “Aku juga..”

            “Haruskah kita cari tempat untuk duduk?”.Taemin tertawa padanya.

            “Haruskah?”

            “Yap, Ice cream sepertinya enak.”

            “God, Taemin ah… kupikir kau partner yang asik untuk di ajak makan.”

            “Makanku banyak kan?”

            “Aku juga.”, Ia rangkul pundak Taemin dan menariknya mendekat. “Ayo kita beli Es krim.”, hati Taemin merasa nyaman dan ia membalas senyum namja itu.

            “Meskipun ini agak canggung, aku pikir kencan hanya untuk memburu makanan sangat menyenangkan … Hyung.”

Namja itu mengacak rambutnya dan mengeratkan rangkulannya.

            “Kau ingin rasa apa?”

            “Apa saja.”

*

*

            “Tunggu!”, Taemin menuju ke arah pintu, mengigit topinya sambil ia mengikat sepatunya.

            “Kau tidak perlu buru-buru.”, Hyung itu mengambil topi Taemin dan memakainya.

Taemin berdiri dan berhadapan dengan namja itu. Ia tersenyum. “Apa ini akan jadi makan malam romantis?”

            “Tidak.”

Taemin melirik kesal. Namja itu melepaskan topinya dan mengenakannya dimuka Taemin. Taemin dapat mencium bau samponya.

            “Kajja.”

Mereka berjalan ke tepian pantai dan itu sangat gelap.

            “Whoaaaaaa!”,

            “Apanya yang ‘Whoa’? tidak ada yang bisa dilihat di laut ini.”

            “Tapi ada sesuatu yang bisa dicium. Bau laut.”, Taemin berlari mendekati tepi pantai.

            “Jangan buat sepatu mu basah.”

Taemin mengernyitkan hidungnya dan melepas sepatunya. Namja itu berjalan ke kursi malan dan meletakan tasnya dan juga sepatu Taemin. Ia duduk disana dan menatap Taemin. Kemudian ia tersenyum dan mungkin membuatnya terkekeh sedikit melihat makhluk bodoh yang berteriak karena ombak menyapu kakinya.

Kemudian ia berjalan mendekat ke sosok yang sedang bahagia, namja berisik itu, dan Taemin tertawa padanya. Taemin menarik tangannya.

            “Yaaa! Dingginn…! aku pikir ini tidak dingin. Bagaimana kau—“

            “Aku aktor yang hebat kan?”. Taemin tertawa dan mendorongnya lebih dalam kelaut sehingga namja itu basah sampai dengkulnya.

            “Kau!”. Namja itu mengerang dan lari mengejarnya.

Ia menarik leher Taemin dan pura-pura memberikan cekikan padanya. Taemin tertawa lepas sampai ia rasanya mau mati tertawa, sampai ia hampir saja terjatuh dan sontak memeluk namja yang lebih tua itu erat-erat dan terus tertawa. Namja itu berhenti setelah melihat ekspresi Taemin. Taemin menggenggam lengan nya dan melepaskannya dari lehernya.

            “Aku kedinginan.”

            “Siapa yang menyuruhmu main air?”

            “Okay sekarang aku gemetaran.”, Taemin terkekeh.

Namja itu menatapnya, dengan canggung Taemin menghentikan kekehannya dan berdeham. Pacar sementaranya tersenyum padanya.

            “Apa, freak? Matamu membuatku takut.”

            “Kau cantik…”

Jantung Taemin berhenti seketika. Inilah kenapa ia benci pujian, lebih lagi, dan bodohnya, dari namja ini.

            “…jika gelap.”

            “Heol.”, Taemin kesal, hidung nya mendengus dan ia memukul lengan namja itu karena kesal.

Namja itu hanya tertawa dan mengacak rambut Taemin, “Kau tidak tersipu malu kan?”

            “Tentu saja tidak!”

Ia berjalan menuju bawaan mereka dan Taemin mengikutinya dari belakang, namja itu terkekeh pelan karena ia sempat melihat segurat merah merona dari pipi Taemin.

            “Duduk.”

Namja itu menggeser kursi malas dan menepuk nya. “Kita akan makan apa?”

            “Aku bawa ayam.”

            “Bir?”

            “Tidak ada Bir.”

            “Mwo??”

            “Tidak ada alkohol untukmu.”, ia mengeluarkan sekaleng Bir untuk dirinya sendiri dan mata Taemin mengikuti gerakan kecil yang ditimbulkan dari tutup kaleng yang terbuka.

Taemin mendengus, “Tidak adil!”

Taemin mengambil sebuah ayam yang tidak bertulang dan memasukannya kedalam mulut. Namja itu membuka kaleng bir namun Taemin tidak bisa mengacuhkannya. Ia cemberut dan namja itu hanya tertawa padanya. Ia menggoda Taemin dan duduk mendekatinya.

            “Pergi sana.”

            “Wae?”

Ia mengambil topi Taemin dan mengenakannya terbalik, taemin hanya meliriknya sinis. Namja itu terkekeh dan meneguk kaleng bir ditangannya sebelum ia mengambil sebuah tisu basah. Ia mulai mengelap tangannya dan tiba-tiba meraih tangan taemin.

            “Setidaknya bersihkan tanganmu sebelum makan.”

Ia mengelap tangan Taemin dan Taemin mengedip cepat. Kadang-kadang namja itu menggodanya dengan menggengam tangannya dengan erat sebelum membersihkannya dengan serius.

            “Tangan satunya lagi.”

Taemin sangat malu jadi ia hanya memberikan tangannya yang lain tanpa berkomentar.

            ‘Wow, kau benar-benar hebat dalam berkencan, ya kan?”

Namja itu langsung tertawa, “Wae?”

            “Aku hanya asal bicara.”

            “Jantungmu berdegup cepat?”

Taemin mendengus dan tertawa gugup, namja itu menatapnya lekat dan membuat Taemin mengalihkan padangannya.

            “Kau jangan menghindari tatapanku. Pasangan itu harus saling menatap mata pasangannya lebih sering, tahu tidak.”

Taemin memutar bola matanya dan menatapnya balik, “Kapan kita bisa makan? Tch. Aku pikir ini akan jadi makan malam romantis seperti di TV.”

            “Drama? Itu sangat tidak natural.”

Namja itu mengambil tasnya dan mengeluarkan jaket dan menutupi kaki taemin yang basah.

            “Kau bilang kau kedinginan.”

Taemin menggelengkan keplanya, “Wow, aku jamin kau pasti punya banyak namja cingu dulunya.”

Namja itu meliriknya dan tersenyum, “Mari makan.”

Mereka mulai menghabiskan ayamnya dan menikmati makan malam yang penuh dengan angin pantai. Taemin dengan isengnya berusaha meraih Bir tapi Hyung nya itu menampik tangannya dan menggelengkan kepalanya tanda tidak boleh. Taemin mendengus dan melanjutkan memakan ayamnya.

            “Coba sedikit”

            “Tidak.”

            “Satu teguk.”

            “Jinja…”

            “Ugggh!”

Taemin menendang kakinya ke atas dan merebahkan badannya dikursi santai. ‘Aku tidak akan mabuk hanya karena satu teguk.”. ia bergumam lucu.

            “Gross… aku benci Aegyo.”

            “Tch.”

            “Apa kau sudah selesai makan ayamnya?”

            “Yes. Wae?”

            “Biarkan aku membersihkan tanganmu.”

            “Aku bisa bersihkan sendiri.”

Namja itu tersenyum dan Taemin tidak punya pilihan lain selain membiarkannya. “Semakin sering kau lakukan ini, kepala ku terus mengatakan bahwa ini hanyalah modus mu untuk menggenggam tanganku.”

            “Benar sekali.”

Tiba-tiba namja itu menyelipkan jari jemarinya diantara jari Taemin dan menggenggamnya erat. Namja itu tersenyum.

            “Kita harus bergerak cepat jika kau mau merasakan apa itu berkencan hanya dalam waktu dua hari.”

Taemin menatap tangan mereka dan membuang nafas berat.

            “Kenapa?”

            “Aku pikir aku tidak akan segugup ini.”

Namja itu kembali merebahkan diri dan duduk lebih dekat ke arah Taemin. Ia tersenyum melihat bagaimana tangan Taemin dengan canggungnya terbuka digenggamannya.

            “Apa ini termasuk sebagai kencan bagimu, Hyung?”

            “Tidak juga.”

            “Tidak juga?”

            “Yeah, kita tidak menyukai satu sama lain.”

            “Kau benar.”, Taemin membenarkan, ia duduk dan keduanya melihat ke langit.

            “Wow.. bintang.”, Taemin terperangah.

            “Kau tidak bisa melihat apapun selain bintang disini. Luar biasa kan?”

            “Yeah.”

            “Kemarin malam aku melihat ini dari kamarku ketika aku memutuskan aku harus tidur atau tidak untuk menghindari seseorang yang menyakar-nyakar pintu kamarku dan juga merengek disana.”

            “Aku?”

Namja itu terkekeh.

            “Aku pikir aku akan kepanatai dan melihat bintang-bintang ini sampai aku tidur.”

            “Dipantai?”

            “Pastinya.”

            “Kau ini gila atau apa?”

            “Tidak.”

            “Kau akan beku kedinginan besok paginya.”

            “Aku bawa selimut.”

            “Tunggu, kau tidak berpikir untuk meminta ku tidur disini hanya untuk menatap langit kan?”

            “kalau kau bisa meminta ku untuk kencan buta, kenapa kau tidak mau melakukan ini untukku?”

            “Tapi inikan…”. Taemin bergumam kecil.

            “Tidak apa-apa kalau kau tidak mau.”, namja itu menarik tangan mereka yang sedang bertautan dan secara lembut mengajarkan kepada Taemin bagaimana caranya bergandengan tangan. Ia melepaskan jemari Taemin satu persatu.

            “Tidak. Aku akan melakukannya.”, Taemin melihat ke arah tangan mereka dan merekatkan genggamannya.

            “Benarkah?”

            “Hmm. Sejak kau sudah melakukan banyak hal untukku.”

Namja itu sibuk dengan tasnya dan mengeluarkan sebuah selimut dan beanie. Ia melepaskan genggaman mereka untuk sementara dan Taemin merasakan aneh ketika udara dingin terhembus di telapak tangannya yang berkeringat. Namja itu pun mengenakan beanie yang hangat di kepala Taemin, membuat perasaan nyaman dihati Taemin dan duduk mendekat membuat tubuh mereka dekat satu sama lain kemudian melingkarkan tubuh mereka sendiri dengan selimut tadi.

            “Hangat?”

            “Yeah.”

            “Aku bisa memelukmu jika kau masih merasa kedinginan.”

            “Tch. Tidak terima kasih.”

Taemin membiarkan namja itu meraih tangannya lagi untuk digenggam.

            “Bintang disini berbeda dengan di Seoul.”

            “Mereka bersinar lebih terang disini.”

            “itu karena di Seoul sudah banyak gedung pencakar langit dan lampu, mereka menutupi sinarnya.”

            “Yeah.”

            “Tapi omong-omong … pernikahanmu…”

            “Aku tidak mau membicarakan hal itu.”

            “Kenapa?”

            “Aku ingin melupakannya sementara waktu.”

            “Menurutmu apa yang akan terjadi?”

            “Kau mau aku pergi sekarang? Baiklah.”

            “Anio.”, namja itu mengeratkan genggamannya dan tertawa. “Aku hanya ingin mendengar pendapatmu.”

            “Kenapa? Kau tertarik dengan pernikahanku?”

            “Kau bisa bilang begitu. Aku tertarik dengan kisahmu. Anggap saja begitu.”

            “kenapa? Kenapa kau tertarik dengan hal ini?”

            “Aku tidak tahu. Aku membayangkan bahwa apa yang harus aku lakukan jika aku berada di posisimu.”

            “kau mungkin mempunyai pilihan yang lebih baik tapi aku tidak.”

            “Yeah, jadi apa yang kau lakukan mulai saat ini?”

            “Menerimanya. Apa lagi?”

            “Hanya menerima begitu saja?”

            “Kau ingin aku melakukan sesuatu?”

            “Anio…”

            “Well, sejak aku tidak tahu pria seperti apa dia, aku akan menunggu dan lihat.”

            “Lalu?”

            “Kita akan melakukan pertemuan pertama nanti. Aku dengan dia ada di Seoul dan kita akan bertemu cepat atau lambat.”

            “dan ketika kalian bertemu?”

            “Pernikahan akan segera dilaksanakan.”

            “Itu membuat ku akan merasa tertekan. Aku bisa merasakannya.”

            “Kau tidak tahu apapun,”

            “Haha. Kau bahkan tidak tahu tentangku”, namja itu bergumam pelan.

            “Mwo??”

            “Ani.”

            “Mwo?”, Taemin meliriknya kesal.

            “Jadi apa yang kau lakukan? Kau akan tetap menikahinya.”

            “Aku sudah berpikir panjang. Pertama, aku harus menemuinya. Jika kesan pertama nanti baik maka aku akan mencoba menerimanya. Jika tidak, aku akan bersikap dingin.”

Namja itu terkekeh. “apa itu akan semudah seperti yang kau katakan?”

            “Mungkin tidak tapi aku tidak ada pilihan.”

            “Aku benci mendengar kau dijodohkan”

Taemin menatapnya curiga, “Kenapa? Jangan bilang kau sudah jatuh cinta padaku.”

            “Aigoo…”, namja itu memukul kepala Taemin.

            “Ya!”

            “Kau ini benar-benar.”

            “Lalu kenapa?”

            “Hmmm…katakan saja aku tahu seorang teman yang juga dijodohkan, sepertimu. Benar-benar sangat persis, jadi aku tahu apa rasanya. Ia melakukan hal yang sama. Ia kabur sementara waktu sebelum itu terjadi. Ia tidak punya pilihan untuk tetap melanjutnya pernikahan.”

            “Temanmu?”

            “Yeah, oleh karena itu aku berusaha menghindarimu. Karena temanku ini hampir saja berpikir bodoh seperti ingin bunuh dirinya sendiri hanya untuk menolak perjodohan.”

            “Aku pernah berpikir seperti itu juga. Aku ingin mati juga, kau tahu … aku benci hidup dibawah kekangan kedua orang tuaku. Aku tidak punya kehidupanku sendiri. Aku merasa ini menyedihkan.”

            “Aku tahu. Kehidupanku juga dikontrol oleh orang tuaku.”

Taemin terkekeh. Mereka terdiam sesaat dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sampai akhirnya Taemin bergeser ke arah namja itu dan menatapnya.

            “Aku lega bisa membicarakan hal ini dengan seseorang yang mengerti.”

            “Yeah… kau tidak buruk sebagai teman ngobrol.”

Namja itu menarik kepala Taemin untuk menyenderkan dibahunya. Taemin dengan canggung meletakan kepalanya disana.

            “Terima kasih sudah menyetujui ide gila menatap bintang ini, Taemin…”

Taemin tersenyum canggung dan mengangguk. Jantungnya berdegup dengan cepat. Malam semakin larut dan angin bertiup semakin kencang. Taemin merasa mengantuk tapi ia tidak tahu apakah ia bisa tidur disituasi seperti itu. Ia sesekali mencuri pandang ke Hyung nya, yang masih melihat ke langit tanpa bicara apapun.

            “Disini sepi sekali.”, Taemin berkomentar.

            “Kau ingin bicara sesuatu?”

            “Aku tidak tahu apa yang harus dibicarakan.”

Mereka tersenyum secara diam-diam.

            “Leher ku pegal.”, Taemin berdiri tegak dan namja itu menghadap ke arah Taemin.

            “Itu karena kau terlalu kaku.”

Tiba-tiba namja itu melepaskan genggaman tangannya dan melingkarkan lengannya di pinggang Taemin.

            “Lebih dekat kesini.”

Taemin terkejut dan menahan pundak namja itu erat-erat. Jarak mereka sangat dekat sekarang. Taemin hampir saja tidak bisa bernafas ketika namja itu merengkuhnya kedalam dadanya.

            “Ini namanya berpelukan.”

Perlahan ia meletakan kepala Taemin ke pundaknya dan dengan lembut merengkuh Taemin. Ia lingkarkan kedua tangannya memeluk Taemin.

            “Pelukan tidak akan membuat leher mu sakit.”, katanya terkekeh.

Taemin mencoba untuk tidak bernafas terlalu kencang dilehernya.

            “Ini aneh.”, Taemin memejamkan matanya.

            “Aneh?”

            “Hmmm.”, Taemin menghirup sebagian wanginya dan membenamkan wajahnya lebih dalam ke baju namja itu. “Sangat aneh.”

Namja itu merasa bahwa Taemin mengeratkan pelukannya. Taemin memeluknya juga, sangat erat. Ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya lagi. Dan ia bisa merasakan jantung taemin yang berdegup cepat di dadanya.

            “Jantungmu berdebar.”

            “Aku bahkan tidak bisa bernafas dengan baik. Jadi diamlah.”

            “Ini pertama kalinya kau berpelukan?”

            “Tidak juga.”

            “Kecuali dengan temanmu.”

            “Tidak pertama kali.”

            “Siapa?”

            “Dengan perempuan. Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya.”

Namja itu terkekeh. “Yeoja itu memelukmu.”

            “Yes.”

Perlahan Taemin relaks dan mencengkram baju namja itu.

            “Kau mau minum seteguk?” , Temin menatapnya dalam.

            “Boleh?”

            “Ini akan membuat mu hangat. Malam semakin dingin.”, ia letakan kaleng ber di pipi Taemin dan Taemin mengambilnya.

            “Aku benar boleh minum ini?”

            “Wae? Aku pikir kau tadi tergila-gila dengan ini.”

Taemin tersenyum dan meneguknya. “Satu teguk.”

Namja itu tertawa. “Minumlah sebanyak yang kau mau. Aku masih punya beberapa di tas.”

Taemin tertawa. “Jeongmalyo?”

            “Minumlah yang banyak, jadi nanti jika aku menciummu kau tidak akan mengingatnya.”

Taemin terpaku dan sontak menarik tubuhnya menjauh.

            “Kau bercanda ya!”

Namja itu terkekeh. “Waeee?”

            “Kau hanya bercana.”, Taemin berusaha untuk melepaskan diri dari cengkramanna.

            “Tidak. Jika kau mau aku menciummu aku akan lakukan. Aku setuju dengan ide bodoh ini dan kenapa harus setengah jalan?”

Jantung Taemin serasa berhenti. “Maka kau akan jadi ciuman pertamaku.”

            “Kau bisa bilang begitu. Atau kau bisa melupakannya dan berpikir kau tidak pernah sama sekali. Aku bukan siapa-siapa, kau ingat?”

Taemin berpikir keras, jantungnya berdegup cepat dan pikirannya kosong. Ini sudah jauh dar imaginasinya dalam mengencani seorang yang tidak ia kenal. Jika namja itu menciumnya, Taemin tidak akan pernah melupakannya seumur hidup. Ia akan jadi yang pertama dan tidak mungkin ia bisa melupakannya.

            “Katakan padaku, bagaimana cara melupakannya jika itu kita lakukan?”. Taemin bertanya.

            “Oleh karena itu aku menawarkanmu minum. Sehingga kau berpikir kau sedang bermimpi.”

Taemin memberikan kesempatan ketika namja itu menariknya lagi kedalam pelukannya, Taemin dengan ragu membalas pelukannya. Ia khawatir.

            “Tapi kau tidak boleh mabuk malam ini. Kau belum sepenuhnya pulih dari pusing mu kemarin. Tidak baik untuk ususmu.”

Taemin menganga, “Ah- Aku lupa kau kan perawat.”

            “Tch.”, namja itu terkekeh dan memukul kepala Taemin pelan. Tapi kemudian tangannya berhenti diatas kepala Taemin, ia membelai rambutnya perlahan.

            “Kau bisa tidur duluan jika kau mau.”

            “Shiro. Tetap ingin menikmati momen ini dan menyimpannya dalam memoriku. Aku tidak tahu apa aku bisa melakukan ini dengan dia-yang-akan-jadi-suamiku nanti.”

            “Kau bisa jika kalian saling jatuh cinta.”

            “Aku harap ia tidak seburuk dengan apa yang dikatakan orang. Aku tidak begitu mengenalnya, aku masih sangat kecil ketika kita bertemu. Aku berpikir dulu ia tidak begitu buruk.”

            “Yeah, ia dulu lumayan manis.”

            “Huh?”

            “Anio.”

            “kau bergumam sesuatu.”

Ia menepuk kepala Taemin dan mengeratkan pelukannya. Terasa hangat, bagi mereka berdua.

*

*

Taemin mengusap matanya dan perlahan membukanya. Matahari membakar matanya dan ia terkeut.

            “Heol! Dimana aku?”, ia berdiri.

            “Oh, kau sudah bangun?”, sebuah kepala menyembul dari balik selimut dan terlihat mengantuk.

            “Aku tidak bisa menemuka kunci kamarmu, jadi aku membawamu kekamarku.”

            “Kau menggendongku?”

            “Hmm.”

Taemin melompat dari atas kasur dan mencari topinya. “Dimana topiku?”

            “Wae?”

            “Aku menyembunyikan kunci kamar disana.”

            “Jinjja.”, namja itu bergumam. “Aku mencarinya diseluruh bajumu.”

            “Kau apa?”

            “Aku mencarinya diseluruh tubuhmu.”

            “Kau!”, Taemin melirik kesal. “Kau menyentuhku!”

            “Tidak juga.”

            “Tch.”

Ia mengitari setiap sudut kamar mencari topinya. Dan ketika ia menemukannya ia mengeluarkan sebuah kartu yang keluar dari balik topinya.

            “Kau akan kembali kekamarmu?”, tanya namja itu dengan suara beratnya karena efek bangun tidur.

            “Yes.”

            “Kalau begitu berikan aku pelukan.”

Taemin melirik kesal padanya.

            “Oh ayolah! Kita sudah melakukannya semalam. Kau ingat?”

Taemin mendengus dan berjalan menuju kasurnya. Ia merentangkan tangannya menghampiri namja itu yang seketika itu pula namja itu terduduk dan menarik Taemin kepelukannya, membuat Taemin terkejut.

            “Apa yang kau lakukan padaku?”, Taemin melingkarkan tangannya didepan dada, ia melindungi dirinya dari pelukan namja itu.”

            “Anio.”

            “Kau tidak berpakaian.”

            “Kau lihat bantal diantara kita? Aku tidak lakukan apapun.”

Taemin kemudian mengernyitkan hidungnya. “Okay aku percaya padamu.”

Kemudian namja itu menarik Taemin kedalam pelukannya dan membenamkan wajahnya diantara pundak dan leher Taemin. “Good Morning, kekasih palsuku.”

Taemin sontak merinding, ia mendengar namja itu bergumamam dilehernya. Taemin tidak bisa berkata apapun.

            “Kau yakin kau tidak merasakan apapun padaku?”, Taemin bertanya kali ini.

            “Wae?”

            “Bagaimana kau bisa melakukan semua ini dengan sangat biasa?”

            “Karena kau … aku tidak tahu…”, ia terkikik di leher Taemin dan mengeratkan pelukannya. “Sejujurnya aku melihatmu sangat menggemaskan dibandingkan menyebalkan.”

            “Aku ini selalu menggemaskan jika kau mengenalku.”

            “HAHA. Yeah. Seperti sekarang. Squishyyy~”

            “Ya!”, Taemin protes ketika namja itu menariknya untuk rebahan diatas kasur. “Ini semakin sesak.”

Jantung Taemin seperti ingin copot ketika mereka berpelukan diatas kasur. Namja itu hampir tidak mengenakan baju dan Taemin bisa merasakan nafasnya di lehernya. Taemin tidak tahu dimana ia harus meletakan tangannya jadi ia hanya mengangkatnya. Ia merasa tangan namja itu disekitar dada dan juga pinggangnya dan itu membuatnya sesak. Ia hanya bisa melihat ujung kepala namja itu namun Taemin bisa rasakan bahwa ia tersenyum.

            “Aku ingin pipis.”Taemin bergumam.

            “Alasan yang bagus.”

            “Aku benar-benar harus pergi.”

            “Kenapa?”

            “Aku—“

Namja itu terkekeh. “Jantung mu bergedup cepat dan aku bisa mendengarnya.”

            “Jangan menggodaku. Tapi, kau sendiri tidak?”

            “Salah, aku juga. Coba untuk merasakannya.”, Taemin menarik nafas berat ketika namja itu mengeratkan pelukannya. “Aku bahkan tidak bisa bernafas.”

            “Kau yakin kau tidak jatuh cinta padaku?”

Taemin terkejut mendengar pertanyaan tiba-tiba itu. “Itu pertanyaanku, Hyung.”

            “Sedikit sulit untuk tidak tertarik dengan sifatmu yang menarik.”

            “Huh?”, Taemin bertanya dan sedikit bingung.

            “Aku bilang kau ini menarik. Aku ingin tahu kau lebih banyak.”

            “Kau tidak bisa.”, Taemin menelan ludaknya ketika namja itu mengelus punggugnya dengan lembut.

            “Aku tahu.”

            “Ya! Sudah kubilang kan sebelumnya? Kita itu saling tidak suka satu sama lain jadi tidak akan mungkin kita bisa suka—“

Tiba-tiba namja itu memiringkan kepalanya dan menicum sekilas collarbone Taemin.

            “Kau bilang apa tadi.”

Taemin terpaku. “Apa yang baru saja kau lakukan?”, ia hampir tidak bisa mengeluarkan suaranya.

Namja itu tertawa dan memeluk Taemin lebih erat. “Tidak ada.”

Dada Taemin turun naik karena bernafas dengan gugup dan kerongkongannya terasa kering. Namja itu melepaskan Taemin sejenak, mengangkat tubuhnya sedikit keatas dan menatap mata Taemin. Ia tersenyum.

            “Kencan itu tentang pujian.”

Taemin menyentuh collarbone nya dan kemudian ia menatap ke langit-langit. Ia benar-benar gugup. Ia mengedipkan matanya berkali-kali dan menarik nafas panjang. Ia terdiam sesaat.

            “Beraninya kau menciumku tanpa seijinku?”. Taemin memukul namja itu, namun sontak ditahan olehnya.

            “Itu bukan ciuman.”

Taemin merasa kulitnya panas, tepat dimana namja itu menciumnya. Kemudian namja itu mendekatkan diri ke arah Taemin dan melingkarkan tangannya di atas perut Taemin. Temin merasa geli ketika namja itu meletakan hidungnya di telinganya. Ia bisa mendengar nafasnya dengan jelas, itu sangat aneh namun geli. Taemin memejamkan matanya dan jarinya mengepal. Ia sangat gugup.

            “Sudah lama rasanya sejak terakhir kali aku memeluk seseorang seperti ini.”

            “Berapa lama?”

            “3 tahun?”

            “Namja?”

            “Yes.”

            “Oh…”

            “Aku tidak pernah merasa tertarik pada yeoja.”

            “Namja?”

            “Anehnya kau lebih menarik dari pada mantanku.”

Taemin diam-diam menemukan dirinya sendiri merapatkan tubuhnya untuk berbisik.

            “Kenapa?”

            “Aku tidak tahu. Karena pertemuan aneh kita?”

            “Kau bilang aku aneh?”

            “Yup.”

Taemin memejamkan matanya ketika namja itu melepaskan topinya. “Bukannya kau mau kembali kekamarmu?”

            “Bagaimana aku bisa bergerak jika kau terus memelukku begini?”

            “Bukannya kau bilang kau ingin pipis?’

            “kau tahu itu hanya alasan.”

            “Kau sungguh ingin kembali kekamarmu?”

Taemin memejamkan matanya.

            “Aku-aku harus.”

            “Haruskah aku melepaskanmu?”

Taemin tidak menjawabnya.

            “haruskah, Tae?”

Taemin menggeliat dipelukannya.

            “Kua harus.”, ia menjawab ragu.

            “Padahal aku tidak mau melepaskannya.”

Taemin merinding ketika suara bisikan itu ada ditelinga, jantungnya berdegup cepat, matanya terpejam dan tangannya terkepal erat. Ia merasa hidung namja itu mengusap dan juga mengendus telinganya dan ia merasa geli.

            “Hmm!”, Taemin protes.

Ia merasa kekehan di telinga.

            “ini terasa menggairahkan kan?”, ia berbisik di telinga Taemin, “Kau benar-benar mempunyai bau yang unik.”

            “Jangan.” Nafas Taemin semakin pendek dan jantungnya seperti ingin copot.

            “Stop it.”, Taemin menutupi telinga namun ia tidak memundurkan tubuhnya.

            “Haruskah?”

Taemin dengan terpaksa menganggukkan kepalanya. Namja itu kemudian melepaskannya dan berbaring disebelahnya. Ia meraih tangan Taemin dan menggenggamnya.

            “Aku merasa terhibur sekali menggodammu.”, ia mengacak rambut Taemin. “Idiot.”

Taemin menepis tangan dan menutup wajahnya sambil bergumam “Heol. Keterlaluan.”

            “Keterlaluan?”

            “Lupakan.”

            “Apa? Coba ulangi.”

Taemin menggelengkan kepalanya.

            “Ayolahh…”

            “Jantungku serasa ingin copot, berdetak cepat sekali. Aku tidak bisa bernafas. Kau mempermainkanku hanya karena aku tidak pernah kencan sebelumnya. Menggodaku? Tch, kau keterlaluan Hyung.”

            “Apa? Jadi kau coba bilang kalau kau sakit hari karena apa yang aku lakukan?”

Taemin membelakanginya dan menutup matanya. Jantungnya masih berdegup cepat dan ia merasa sakit yang luar biasa. Lebih dari menyesakkan.

            “Taemin-shi? Apa kau mulai menaruh perasaan padaku?”

            “Kau pasti sudah gila kalau berpikir begitu.”

            “Kapan terakhir jantungmu berdegup cepat?”

            “Tidak pernah. Karena aku tidak pernah kencan.”

            “Tidak pernah menyukai seseorang sebelumnya?”

            “Tidak separah ini. SENANG?”

Namja itu kemudian tertawa, Taemin mengintip sedikit dan melihat ke arah namja itu.

            “Kenapa kau tertawa, dasar aneh!”

            “Haruskah kita hentikan kencan buta ini? Mulai berbahaya.”

Taemin menatap nya, “Kenapa?”

            “Kau tidak bisa menyukaiku, Taemin-shi.”

            “Tidak. Tidak akan.”

Namja itu tersenyum pada Taemin, “Kau sudah mulai jadi aku takut. Kau tidak boleh menyukaiku. Kau akan segera menikah dan aku juga punya alasan sendiri. Kita harusnya berhenti sebelum semua ini menjadi lebih sulit.”

            “Kenapa?”

            “Apa? Jadi kau tidak mau mengakhiri ini?”

Taemin tetap dia, sebagian hatinya mengatakan tidak.

            “Aku tidak akan jatuh cinta padamu.”

            “itulah yang kau dan sebagian otakku bilang. Apa kau bisa jamin?”

Taemin sangat binung, ia tetap menatap namja itu dan mengerjapkan matanya berkali-kali. Terlalu bingung dengan apa yang terjadi.

            “Aku tidak bisa menangkap apa yang kau bicarakan, kau bilang—“

            “Bangun. Sebaiknya kita bersiap-siap. Hari ini adalah hari terakhir. Kita harus putus sore ini. Secara baik-baik.”

Taemin mengerutkan alisnya pada namja yang kini sudah berjalan kekamar mandi dengan cepat. Taemin ditinggalkan begitu saja di atas kasur.

            “Kita … putus dan akhiri semua hari ini?”, Taemin bertanya.

            “Hmm. Kau bilang hanya dua hari. Berpakaianlah. Banyak hal yang akan kita lakukan.”

            “Kenapa?”, Taemin bergumam sedih, terlalu pelan untuk didengar oleh namja yang ada didalam kamar mandi itu. Ia berjalan kearah pintu dan menutupnya, berjalan kembali kekamarna dengan perasaan campur aduk.

*

*

“Ooooooyyy!”, bel tetap berdering.

“Berisik.”, Taemin membuka pintu lebar-lebar dengan muka kesal.

            “Kenapa lama sekali?”

            “Mandi.”

            “Aku bisa lihat.”

Taemin meliriknya kesal.

            “Apa? Kau bau sabun.”

            “Tch.”

            “Berapa menit kau mandi?”

            “Tergantung. Kenapa?”

            “Tanya saja. Aku rasa kau menghabiskan banyak waktu dibanding aku.”

            “Bisa aku tanya sesuatu?”

            “Apa? Bukan pertanyaan aneh kan?”

            “Anio.”, Taemin memutar bola matanya. Ia mengambil dua Tshirt dan menunjukkan pada namja itu. “Pilih satu yang kau suka?”

Namja itu tersenyum dan menujuk tangan kanan Taemin.

            “Putih akan terlihat cocok untukmu.”

Taemin mengangguk dan melempar tshirt berwarna biru.

            “Tutup matamu.”

            “Tch … aku pernah lihat mu toples, kau tahu. Dua kali, dikolam renang dan saat kau mabuk.”

            “Aku tahu. Oleh karena itu aku lebih malu.”

Namja itu terkekeh dan mengintip.

            “Tidakkah kau berpikir kau lebih terlihat cantik jika tidak pakai apa-apa?”

Taemin berlari ke arahnya dan memukulnya. “Bicara sekali lagi seperti itu aku akan memukul mu lebih keras. Jangan goda aku!”

            “Kenapa kau jadi menyebalkan lagi pagi ini?”

Taemin mengambil kaos kakinya dan mengenakannya, ia mengenakan sepatunya kemudian menarik lengan namja itu.

            “Ayo, Hyung.”

Taemin membiarkannya menutup pintu, ia merasa tangannya digenggam sangat erat.

            “Mari kita nikmati kencan terakhir kita.”

            “Hmm.”

*

*

Mereka menghabiskan waktu mereka dengan bermain olahraga air, sebutkan satu persatu mulai dari banana boat, flying fish, parasailing, wakeboarding, waterskiing, apapun yang menantang. Sampai kulit mereka terbakar matahari dan mereka kehabisan uang. Yes, semua olah raga air itu sangat mahal.

            “Kita akan makan apa?”

            “Ramyeon?”

            “Kau tahu aku masih punya beberapa uang.”

            “Aku tahu, tapi kau tidak tahu sampai kapan Appa mu akan menjemputmu kan?”, Taemin mengangguk.

            “Oleh karena itu kita harus simpan sampai sisa harimu disini.”

            “Kasihan sekali kita.”

            “Tapi kita have fun disini”, namja itu mempukpuk kepala Taemin, “So much fun.”

            “Yeah…”, Taemin meminum air dan memberikan padanya. Yes, mereka berbagai apa saja sejak mereka tidak punya banyak uang. Taemin masih memiliki beberapa uang, masih lumayan sebenarnya. Karena namja itu yang hampir membayar semua untuk kencan mereka jadi Taemin bisa menyimpan uangnya.

            “Bagaiamana aku bisa membalasmu?”

            “Jangan pernah berpikir untuk menggantinya.”

            “Kau kehabisan uang juga.”

            “Aku punya uang sendiri.”

            “Aku merasa tidak enak.”

            “Tidak apa. Aku merasa senang juga jadi aku rasa terbayar semuanya.”

            “Gamsahabnida Hyung…”

            “Cheonaneyo…”

Taemin merasa tidak enak. Namun ia tidak punya pilihan, ia tidak memiliki uang sendiri, ia masih saja bergantung pada Appanya. Uang yang ia miliki ini sebaikanya ia simpan atau ia tidak akan bisa makan dihari berikutnya. Taemin berpikir bahwa Appanya membiarkannya melarikan diri dengan mudah, seperti ia berkata bahwa ini adalah kesempatan terakhir kalinya ia melarikan diri. Biasanya ia sudah mengirimkan orang nya untuk mengikutinya, tapi ia tidak melihat siapapun saat ini. Appanya benar, akhirnya, mengikuti aturan batas kabur 5 hari.

            “Ayo kita berganti pakaian. Perutku sudah lapar.”

Taemin mengangguk dan mengayunkan tangan mereka menuju hotel.

*

*

Taemin duduk dikasur nya dan ia menatap ke arah ponselnya. Ia sudah berapa hari tidak memegangnya. Ia lihat Kai mengirimnya sms dan missedcalls dilayar. Dan seketika itu berbunyi.

            “Ya! Bagaimana bisa kau cuek padaku?!”

            “Sorry.”, Taemin tertawa. “Ada berita apa?”

            “Sepertinya tunanganmu sudah gila juga. Ponselnya mati dan aku dengar Appanya sedang mencarinya kemana-mana.”

            “Appaku?”

            “Aku dengar ia akan menjemputmu besok malam.”

            “Apa? Dia menemukanku?”

            “Sepertinya begitu.”

            “Tapi besok adalah hari keempatku!!”

            “Besok malam, itu artinya adalah hari kelimamu dan ia akan datang menjemputmu.”

            “Heol.”, Taemin mengerang. “Lalu?”

            “Appamu sangat marah mengetahui kalian berdua sama-sama melarikan diri.”

Taemin mendengar pintunya terbuka dan namja itu masuk dengan dua mangkuk ramen ditangannya. Taemin menaikan jarinya, meminta untuk tunggu dan tidak membuka mulutnya.

            “Apa Appa nya menemukan dimana ia berada?”

            “Aku tidak tahu, tapi mereka pasti akan menemukannya segera.”

            “Jinjja??”, Taemin menepuk sisi kasur disebelahnya dan membiarkan pacar sementaranya itu duduk didepannya.

            “Gomawo.”, Taemin menggerakan mulutnya tanpa suara sambil menerima cup mie darinya.

            “Taemin ah?”

            “Hmm?”

            “Apa kau sedang bersama seseorang?”

Taemin tertawa. “Waee~?”

            “Kau tidak sembarangan ajak masuk seseorang dan melakukan hal bodoh kan?”

            “Wae?”

            “Ya! Jangan tanpa kenapa padaku?!”

Taemin tertawa dan melihat ke arah namja didepannya yang terlihat kagum melihat Taemin tertawa seperti itu. Taemin terlihat manis ketika tertawa.

            “Apa itu orang yang sama saat aku dengar terakhir kali?”

            “Aku tidak tahu …Well, bisa kau bilang begitu.”, Taemin menyeruput mie nya dan mendesis karena terlalu panas.

            “Kenapa kau?”

            “Gwencana, Kai..”, Taemin memberikan cup mie nya pada namja itu dan menatap nya seperti orang bodoh. Ia menjulurkan lidahnya dan menggeleng kepalanya. Namja itu memberikan segelas air dan mengelap mulutnya dengan omelan pelan pada Taemin.

            “Naneun Gwencana…”, Taemin mengulanginya untuk namja itu dan pada Kai.

Namja itu menyentil kepala Taemin dan mengambil mie Taemin, ia meniupkan untuk Taemin sementara Taemin masih memegang ponselnya.

            “Ya! Kau sebaiknya tidak mengacuhkan teleponku, Lee Taemin.”

            “Memangnya kenapa?”

            “Karena Appamu sedang dalam perjalanan! Kau mau menimbulkan prahara lagi seperti dulu?”

Taemin terdiam, “Ani.”

            “Kau tidak ingin diseret ditengah-tengah keramaian kan? Jadi kau harus camkan omonganku.”

            “Aku paham. Beri tahu aku berita terbaru, Ok? Sms aku.”

            “Kau hanya punya sisa esok hari, Tae.”

            “Aku tahu. Jangan buat aku kecewa sekarang, aku sedang menikmati hariku disini.”

            “Baiklah.”, ia mendengar desahan panjang dibalik sana. “Hati-hatilah.”

            “Hmm. Gomawo.”

            “Bilang padaku jika kau butuh sesuatu.”

            “Aku akan bilang.”

Taemin menarik nafas dan mengakhiri teleponya. Ia menutupi wajahnya dan merebahkan badannya dikasur kemudian bergeser sampai mendekati kaki namja itu.

            “Siapa?”

            “Dark Kiddo yang berteriak padamu.”

            “Kau mencintainya?”

Taemin mengerutkan alis. “Heol! Dia sahabatku.”

            “Sahabat?”

            “Wae? Cemburu?”

            “Kau tertawa seperti itu padanya. Aku harus cemburu.”

            “Wae?”

            “Itu yang seharusnya pacarmu lakukan.”

            “Tch.”

Taemin duduk dan mengambil cup mie nya.

            “Kau harusnya bilang kalau ini panas. Lidahku kebakar.”

            “Aku coba bilang padamu tapi kau malah menyuruhku diam.”

            “Ia tidak harus tahu kalau kau disini.”

            “Wae?”

            “Ia akan sangat marah.”

            “Dia mencintaimu?”

            “Anio.”

            “Dia terdengar seperti ia sangat mencintaimu.”

            “Nope, tidak akan pernah.”

Taemin meniup mienya dan mulai makan. “Gaaaah.. Enaknya~”

Namja itu menatap Taemin lekat dan menggelengkan kepalanya.

            “Apa?”

            “Tertawalah.”

            “Hah?”

            “Tertawa seperti tadi.”

            “Kau membuatku takut Hyung.”

            “Kau terlihat manis ketika tertawa.”

Taemin berhenti mengunyah dan mengerjap berkali-kali, kemudian batuk. Dengan spontan namja itu memberikan sebotol air dna memberikan padanya sambil mengelus punggungnya.

            “Bukannya sudah aku bilang jangan puji aku tiba-tiba?”

            “Mianhe?”

            “Sudahlah, ayo kita selesaikan makan dan istirahat, Hyung.”

            “Apa? Kau mau menghabiskan hari terakhir kita kencan hanya seperti itu?”

            “Aku melukai paha ku saat kita mencoba main wakeboarding.”

            “Kau terbentur pinggiran sangat keras.”

            “Aku capek..”

            “Baiklah, kalau begitu kita akan tidur dulu sebentar.”, Taemin hanya tersenyum dan mengangguk.

*

*

Mereka berbaring diatas kasur sehabis menonton film dan hanya meistirahatkan badan mereka yang lelah.

            “Hyung?”

            “Hmm?”

            “Bagaimana jika … aku bilang jika, okay?”

            “Apa?”

            “Bagaimana kalau kita kencan satu hari lagi?”

Namja itu melihat kerah nya, “Tidak.”

            “Kenapa?”

            “Ini sudah terlalu jauh untuk kita lakukan.”

Taemin cemberut, “Besok malam aku akan kembali ke Seoul.”

            “Segera?”

            “Pastinya. Appa ku punya aturan 5 hari. Kapanpun aku melarikan diri ia tidak akan menyentuhku sampai hari kelima. Besok adalah hari keempatku dan temanku bilang bahwa ia akan menjemputku cepat atau lamat ketika hari kelima. Tengah malam.”

Taemin menatap namja itu. “Satu hari lagi. Bagaimana?”

Namja itu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa.”

Namha itu mendekat ke arah Taemin dan memeluknya.

            “Apa-apaan ini?”

            “Permintaan maaf. Aku harap aku bisa lakukan sesuatu untukmu.”, ia mendengar namja itu menarik nafasnya.  “Karena semua hal tentang kencan kita sudah sangat membahayakan. Kita harus menghentikannya sekarang.”

Taemin memundurkan tubuhnya dan menatap ke arahnya. “Kenapa? Kenapa kau ingin sekali ini berakhir? Ini mengharukan.”

            “Lihatkan? Inilah yang aku takutkan.”

Taemin mengerutkan alisnya.

            “Ini akan lebih sulit mengatakan selamat tinggal jika kita kencan satu hari lagi. Kita sudah sama-sama menaruh perasaan satu sama lain.”

Taemin mencengkram kaos namja itu erat, “Tapi kita tidak akan menyukai satu sama lain.”

            “Apa mungkin?” namja itu menggelengkan kepalanya. “Aku sudah mulai menyukaimu. Kau tidak mengganggu dan menyebalkan seperti pertama kali kita bertemu.”

Tiba-tiba hati Taemin terasa berat. Dua hal yang ia rasakan, pertama ia senang karena namja itu sudah mulai menyukainya dan satunya lagi sedih karena mereka harus menyudahinya.

            “Jika kita ingin semua kembali seperti semula, hari ini harus jadi hari terakhir.”

Taemin mengangguk. “Okay, jadi kau menolakku. Geez, Aku kan bilang jika..”, suara Taemin bergetar.

            “Mianhe … permintaan itu sangat berlebihan untukku, dan juga untukmu.”

Taemin membenturkan kepalanya pada dada bidang namja itu dan mengeratkan pelukannya.

            “Aku akan tidur seperti ini.”

            “Hmm.”

Namja itu membelai rambut Taemin dan menepuknya lembut. Keduanya tetap diam dibalik semua perasaan yang mereka simpan. Taemin menutup matanya dan membuang nafas nya berat. Namja itu mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya pada rambut Taemin. Keduanya tertidur.

*

*

Taemin bangun dipagi hari disambut oleh sebuah pelukan hangat, ia rentangkan tangan dan kakinya hingga namja itu bergerak. Taemin menatap wajah tidurnya dan secara tidak sengaja tersenyum padanya. Bukankah akan angat bagus jika ia yang akan segera jadi pengantinnya adalah orang yang baik dan juga manis dan juga lembut seperti dirinya ini? Taemin membuyarkan pikirannya. Ia tidak seharusnya berpikir tentang itu. Ia harus segera melenyapkan dari pikirannya, melupakannya.

Taemin menghela nafas dan diam-diam merengkuh baju namja itu. Ia menyukainya, berada disamping namja itu. Ia bisa melupakan soal pernikahannya untuk sementara, ia menikmatinya.

            “Wae? Kau terlihat gelisah.”, suara berat mengejutkanya.

            “Kau sudah bangun?”

            “Hmm. Apa yang terjadi?”

            “Tidak … aku hanya sedang berpikir.”

            “Oh..”

Namja itu mengusap matanya dan meraih tangan Taemin untuk digenggam/

            “Haruskah kita minum secangkir kopi?”

Taemin tersenyum dan mengangguk.

            “Kau sebaiknya tidak ambil pesananku dan meminumnya begitu saja.”

            “Tch .. aku pikir waktu itu milikku.”

Taemin mengeratkan genggamannya dengan maksud untuk menyakitinya namun namja itu hanya tertawa.

            “Hey … tidakkah kau berpikir tangan kita sangat pas?”

Taemin melirik padanya dengan pipi memerah.

            “Jangan tersipu. Kau tidak boleh.”, ia menyolek pipi Taemin dan mencubitnya. Ia tertawa. “Kau tahu? Aku ngin mencubit pipi mu sejak semalam.”

Taemin tidak bisa berbicara. Kata-kata manis seperti ini, akankah ia dengar lagi nanti?

            “Ayo kita basuh air liurmu yang kering itu dan keluar dari kamar ini.”

            “Aku tidak berliur.” Taemin bergumam pelan.

*

*

            “Heol.”, Taemin mengerang

Namja itu mengacak rambut Taemin dan menepuk bajunya. “Aku pikir hari ini akan cerah.”

            “Sepatuku!”, Taemin memutar bola matanya dan berlari ketoilet. Namja itu mengikutinya dan masuk kesana.

Taemin ambil tisu toiler dan mengelap sepatunya. Namja itu mengelap jaketnya dan juga rambutnya. Ia ambil beberapa dan membantu baju Taemin dan juga rambutnya.

            “Gomawo.”

Setelah beberapa lama, mereka keluar dan memilih duduk di bagian ujung cafe.

            “Kau mau minum apa?”

            “Aku tidak tahu…”, Taemin berdiri dari kursinya dan namja itu melihatnya aneh.

            “Wae?”, Taemin bertanya. “Aku tidak bisa ikut kau untuk ke kasir? Aku mau pilih.”

Namja itu mendengus dan membiarkan Taemin pergi untuk melihat papan menu.

            “Hot chocolate.”, Taemin berbicara segera saat ia tiba di kasir.

            “Haha.”, namja itu tertawa. “Aku pikir kau akan pilih sesuatu. Hot Chocolate? Jinjja?”

Taemin memukul lengannya dan kembali ke tempat duduknya.

            “Satu Hot chocolate dan satu Latte. Dan juga Chocolate mousse itu.”

Namja itu kembali kemudian duduk.

            “Hujannya deras sekali, Hyung.”

            “Aku berpikir kapan ini akan berhenti?”

            “Yah, aku tidak mau lari kembali ke hotel. Kasian sepatuku.”

Namja itu tertawa dan menatap Taemin.

            “Hyung…”

            “Apa?”

            “aku baru saja mendapat pesan.”

            “Tentang?”

            “Aku akan menemui tunanganku dalam waktu tiga hari.”

Namja itu terpaku. Sedikit terkejut.

            “Kenapa tiga hari?”

            “Aku tidak tahu, mereka bilang tunanganku melarikan diri juga dan mereka sudah menemukannya. Mereka akan membawanya segea dan kita akan bertemu dalam tiga hari.”

            “Aneh…”

            “Apa yang aneh?”

            “Tidak apa.”

            “Apa?”, Taemin menatapnya balik. “Baik, jangan katakan padaku. Aku tidak mau tahu tentangmu.”

            “Ini … lupakan.”

Taemin berterima kasih pada seorang yeoja yang meletakan pesanan mereka. Ia mengambil minumannya dan berhenti sesaat.

            “Ini Hot Chocolate ku kan?”

Namja itu tertawa dan mengangguk. “Aku pesan Latte.”

Taermin terkekeh dan meniup Hot Chocolate yang ada didepannya.

            “Hyung?”

            “Apa yang harus aku lakukan ketika kami bertemu?

            “Aku tidak tahu … apa yang kau lakukan?”

            “Haruskah aku memakai kacamata dan topi? Haruskah aku menutupi semua wajahku?

            “Masker juga?”

            “Ide yang baguskan?”

Namja itu tertawa dengan ide gilanya.

            “Itu akan cukup untuk bilang kalau aku tidak setuju dengan pernikahanmu dan bertemu dengannya kan?

            “Well, pastinya”

            “dan jika ia bersikap baik maka aku akan melepaskan semuanya, jika tidak makan aku akan pakai sampai akhir. Aku akan tutup mulut sampai akhir.”

            “Bagaimana kalau Appamu memintamu untuk mencopot semuanya?”

            “Dia tidak akan begitu perduli dengan gayaku. Ia hanya perduli dengan bisnisnya. Ia tidak akan menyadarinya.”

            “Itu lumayan ide yang agak aneh, Yeah, tapi kurasa…”

            “Maka aku akan bertemu dengannya seperti itu.”

            “Jadi apa yang akan kau lakukan selanjutnya ketika kau bertemu dengannya?”

            “Pastinya makan malam. Appa pastinya akan menempatkan kita di meja yang berbeda.”

            “Lalu?”

            “Aku tidak akan makan.”

            “Kenapa?”

            “Aku menggunakan masker.”, Taemin memutar bola matanya.

            “Jika kau menyukainya?”

            “Aku akan makan.”

            “Bisa kau melihatnya dengan kacamatamu?”

            “Ah … aku rasa aku akan melepasnya.”

            “Idiot…”, tawanya.

            “Ya!”, Taemin mengepalkan tinjunya dan mengancamnya.

Kemudian kue yang dipesan datang dan Taemin terperangah, melupakan tangannya yang terkepal tadi.

            “Whoa! Chocolate mousse!”

            “Kau mau?”

            “Hmm.”

            “Kalau begitu biarkan aku duduk disebelahmu.”

Taemin meliriknya curiga. “Kenapa?”

            “Kita kan berkencan dan kita duduk berjauhan.”

Taemin melihat sekeliling dan membelalakan matanya. “Secara terbuka?”

            “Kenapa tidak?”

Ia berdiri dan duduk disebelah Taemin. Ia memberikan garpu pada Taemin dan membiarkannya menikmati kue itu. Taemin sedikit ragu setelah memutar bola matanya, ia menyerah.

            “Ini rasanya enakkk~”

Namja itu menatap Taemin dan Taemin merasa canggung. Kemudian ia menyuapi kue itu kedalam mulut namja disampingnya.

            “Jangan lihat aku seperti itu.”

            “Kau lucu ketika kau makan.”

            “Aku tidak lucu.”

            “Kau lucu”

Taemin menopang pipinya dan melirik kesal padanya. Namja itu tertawa.

            “Kau lucu.”, namja itu tertawa keras.

            “Aku benci pujian.”

            Namja itu mengack rambut Taemin dan meraih tangannya.

            “Ap-apa yang kau lakukan?”

            “Menyenangkan kencan buta denganmu. Aku pikir ini tidak akan menyenangkan dan menarik.”

Taemin melihat sekitar dan ia mendapati beberapa orang menatap ke arah mereka.

            “Ini memalukan.”, Taemin menutupi wajahnya dan menunduk. Namja itu tertawa dan menaikkan tangan mereka.

            “Hyung, Ap-apa yang kau lakukan? Turunkan! Tu-run-kan!”

            “Apa? Belum pernah liat pasangan sebelumnya?”. Namja itu bertanya pada seluruh orang disana.

            “Crap! Kau gila!”, Taemin menghentakan kakinya dan tetap berusaha melepaskan genggamannya. Namja itu menahan tangan Taemin dengan kedua tangannya dan menggenggamnya erat.

            “God! Apa yang harus aku lakukan dengan wajahku sekarang?”, Taemin mengerang.

            “Tidak ada?”, namja itu mengangkat kepala Taemin dan memegangnya lembut. “Menikmatinya?”

Taemin sudah memerah dan jantungnya berdebar kencang.

            “Tch … ini..”, Taemin menutupi mukanya dan menghentakan kakinya. “mukaku merah kan?”

            “Ya.”

            “Kepalaku seperti terbakar sekarang.”, Taemin memukulnya. “Terima kasih untukmu.”

            “Tapi cantik.”

            “Diamlah, cukup dengan gombalanmu!”

            “Jinjja, aku serius.”, ia menatap lekat mata Taemin.

Seperti dunia berhenti seketika dan semuanya bergerak seperti slow motion. “Menyenangkan untuk bisa punya teman kencan sepertimu.”

Taemin berhenti bergerak, ia berhenti bernafas, dan ia terpaku.

            “Apa?”

            “Kau mendengarku dengan jelas.”, ia melirik ke bibir Taemin, “Sayangnya kau sudah ada yang punya.”

Taemin menelan ludahnya dan mengerjapkan matanya berkali-kali ketika ia rasakan jarak diantara mereka berdua semakin kecil. Taemin mencoba untuk berkata sesuatu namun ia sangat gugup. Well, Taemin tidak pernah merasakan situasi seperti ini jadi ia panik.

            “Aku—“

Bibir mereka sudah dekat, hanya beberapa senti lagi dan ia bisa melihat namja itu mulai menutup kelopak matanya. Taemin begitu terejut, ia memundurkan tubuhnya dan namja itu berhenti.

            “Mianhe.”, ia melepaskan tangan Taemin dan memundurkan tubuhnya. “Ini bahaya.”

Taemin menutup mulutnya dan akhirnya dapat bernafas kembali. Ia bisa dengan jelas bisa merasakan nafas yang panas di atas bibirnya. Taemin meraih hot chocolatenya dan meminumnya sampai habis. Mereka menyenderkan tubuh mereka dikursi dan menarik nafas dalam-dalam.

            “Kita harus benar-benar menyudahi permainan ini, Tae.”

Taemin tidak menjawabnya.

Taemin menyentuh dadanya, “Kita hampir saja, maksudku…”

            “Aku tidak sadar itu akan terjadi. Maksudku ini… aku tidak bermaksud… aku..”

Taemin mengangguk dan menutup wajahnya sekali lagi. “Apa kau akan menciumku?”

            “Hampir saja.”

Taemin menatap ke arahnya melalui jemarinya. “Aku pikir aku tidak akan lupa jika kau benar menciumku, Hyung.”

            “Tapi baru saja .. aku benar-benar ingin lalukan itu. Itulah kenapa kita harus hentikan ini semua.”

*

*

Taemin dan Minho melangkahkan kakinya dengan canggung menuju hotel. Well, mereka harus bersikap normal sejak apa yang yang terjadi di Coffee shop tapi yah, well, tetap saja canggung. Membuat mereka menyadari ada sesuatu diantara mereka. Itu tidaklah hal baik, tentang perasaan mereka.

            “Mau kekamarku?”

            “Apakah kau tidak apa-apa?”

            “Gwencana.”, Taemin menjawab dengan gugup.

            “Baiklah kalau begitu, mengingat ini akan jadi sore terakhir untuk kita.”

Taemin tersenyum pahit, “Kau tidak perlu menekankan hal itu.”

Namja itu mengacak rambutnya dan berdiri mendekat. Dengan sengaja ia membuat tangan mereka bersentuhan.

            “Kau bisa menggenggam tanganku.”, ia berbisik di telinga Taemin. Ia memperhatikannya, bertapa Taemin dengan canggungnya meraih tangannya sambil berjalan berdampingan.

Taemin mendengus dan memukul lengannya, hanya perlahan menurunkan tangannya kemudian menautkan jemarinya dengan kelingking namja itu. Namja itu berdecak dan melihat ke arah Taemin.

            “Aku akan memujimu.”

            “Aku tidak mau dengar.”, Taemin melihat ke arah lain.

Namja itu mendekat dan membisikan sesuatu di telinganya. Taemin menggeliat dan protes karena merasa geli. Ia mendorong namja itu dan mencoba untuk menendangnya. Namja itu tertawa dan meraih pundak Taemin dari belakang, ia kemudian membisikan sesuatu lagi.

            “Hyung!”

Namja itu melarikan diri. Wajah Taemin memerah dan ia mengejar namja itu. Well, namja itu tidak melarikan diri, namun ia kembali ke arah Taemin dan mereka jatuh kedalam pelukan satu sama lain, ia memeluknya. Taemin tidak bisa berkata-kata.

            “Aku akan mengingatmu sebagai kenangan yang indah.”, ia menepuk punggung Taemin.

            “Aku benci ini tapi aku harus melupakanmu.”

Namja itu meraih wajah Taemin dan tersenyum padanya. “Pilihan yang bagus.”

Mereka berjalan saling bergandengan, tidak, saling menggenggam jemarinya. Biarkan mereka menikmati malam terakhir mereka bersama ya kan? Tidak ada yang salah membiarkan dewa cinta menaburkan benih cinta didalam hati mereka kan?

*

*

Taemin berbaring di atas kasur sementara kakinya berada di pangkuan namja itu dan ia merebahkan kepalanya di atas bantal. Mereka menonton film animasi dan tenggelam dalam alur cerita. Namja itu dengan lembut memberikan pijatan pada kaki Taemin yang kelelahan dan Taemin menikmatinya.

            “Kau bilang kau luka-luka.”

            “Hmm.”

            “Gwencana?”

            “Yeah.”

            “Syukurlah.”

Taemin duduk dan menatapnya.

            “Apa?”

            “Bisakah kita foto bersama?”

            “Aku pikir kau ingin menganggap ku ini bukan siapa-siapa.”

            “Aku berubah pikiran.”

            “Kau tidak bisa melakukan.”

Taemin melipat kakinya dan duduk mendekat. Ia memohon melalui tatapannya.

            “Aku harus diingat sebagai kenangan yang indah, bukan sebagai ‘seseorang’ untukmu.”

Taemin cemberut dan perlahan meraih tangannya. Ia memainkan jemarinya dan bergumam pelan. Namja itu seketika merasa jantungnya berdebar ketika Taemin menautkan jemari mereka.

            “Apa yang terjadi disini tetaplah disini..”

            “Kau membuatnya jelas sejak awal, Tae.” Taemin dengan sedih menatap ke arahnya.

            “Satu hari lagi.”

            “Tidak, kita tidak bisa. Kau lihat sendiri aku tidak jamin aku tidak akan menciummu.”

Taemin menatap tangan mereka. Sebenarnya ia tidak keberatan namja itu menciumnya.

            “Lalu bagaimana dnegan itu?”

            “Apa?”, namja itu meraih pinggulnya dan duduk berhadapan.

            “Hmmm…”, Taemin melihatnya ragu-ragu.

            “Apa? Kau bisa minta apapun dariku.”

            “Peluk aku.”, Taemin menundukkan kepalanya.

            “Apa?”

            “Aku bilang peluk aku. Jangan lepaskan sampai aku tidur. Lalu kau baru boleh pergi.”

Namja itu menyengir dan mencolek hidungnya. “Aku pikir kau tidak akan minta itu.”

Taemin mencibirkan bibirnya untuk memberikan senyum malu-malu seraya namja itu meraihnya kepelukannya. Jantung Taemin berdegup cepat sepertinya ia jatuh cinta padanya. Well, tergila-gila dan jatuh cinta padanya. Hanya pikirannya saja yang bilang tidak. Taemin melingkarkan lengannya melewati dada bidang namja itu dan memeluknya erat.

            “Kita tidak menikmati filmnya.

            “Haruskah kita menonton sesuatu yang lebih romantis?”

            “aku tidak begitu suka film romantis, Tae.”

            “Ini adalah kencan impianku, kenapa kita tidak melalukannya? Ini akan jadi terakhir kalinya menonton film seperti itu, mungkin.”

            “Baiklah.”

Mereka mencari dibeberapa channel tapi sulit menemukan yang bagus. Taemin akhirnya menyerah dan berjalan kembali kekasur. Ia mengambil pinsenya dan koneksi dengan personal akunnya. Ia menyambungkannya dengan TV dengan internetnya.

            “Sebenarnya ada satu film yang ingin aku tonton jika aku punya pacar.”

Taemin mulai mencari judulnya dan mencarinya di internet. Streaming. Ini jaman modern, saudara-saudara. TV mereka mulai memutar sebuah film dan Taemin berjalan menuju kasur. Ia kemudian merebahkan kepalanya di lengan namja itu.

            “Ceritanya tentang apa?”

            “Tonton saja.”

Taemin membiarkan namja itu melingkarkan tangannya ditubuhnya. Mengapa ia merasa sangat pas di pelukan namja itu? Kenapa ia merasa nyaman dan juga aman ketika ia hanyalah orang asing baginya? Kenapa jantungnya berdegup cepat? Kenapa?

            “Ini komedi romantis?”

            “Yup.”

Film terus berputar dan mereka tetap dalam pelukan masing-masing. Taemin menyandarkan sepenuhnya punggungnya di dada namja itu dan namja itu membenamkan tubuhnya sepenuhnya ke tubuh Taemin. Taemin membiarkan kaki mereka mengikat satu sama lain dan membiarkan nya menaruh dagunya di atas kepala Taemin. Taemin merasa ia sangat kecil dan juga lemah namun ia menyukainya.

            “Hyung?”

            “Yes?”

            “Gomawo.”

            “Kenapa tiba-tiba?”

            “Untuk dua hari ini…”, Taemin mengeratkan genggaman tangan mereka.

Namja itu kemudian tertawa, bersembunyi dikepala Taemin, membuat seluruh badannya merinding.

            “Aku merasa aku orang yang paling bahagia, maksudku untuk saat ini.”

            “Oh, Jeongmalyo?”

Taemin menatapnya kembali dan tersenyum dengan sangat manis. “Yes. Aku berpikir kalau kau menyebalkan dan kencan ini akan membosankan, tapi tidak.”

Namja itu menatap kembali ke arah Taemin dan mencolek pipinya.

            “Lalu .. apa yang kau katakan itu benar?”, Taemin malu-malu bertanya. ‘Yang kau bisikan.”

Kekasih palsunya itu tertawa dan memeluk Taemin lebih erat. “Aku serius.”

            “Bolehkah aku mendengarnya lagi?”

            “Bukannya kau tidak suka pujian.”

            “Sebenarnya aku bisa menerimanya. Hanya hali ini.”

Ia mendekati Taemin dan perlahan membisikkannya. Taemin mencengkram pundakya untuk menahan rasa gelinya. Taemin tersenyum dan terkekeh sedikit. Namja itu berhenti membisikannya dan memeluknya erat. Ia diam saja, menghirup sepenuhnya aroma Taemin dan bernafas pelan. Taemin menutup matanya dan menyukai setiap hembusan nafas yang terdengar ditelinganya.

            “Aku rasa aku akan merindukanmu.”

            “Aku juga, Tae. Pastinya.”

            “Hyung, bisakah aku simpulkan ini bahwa kita menyukai satu sama lain?”

Ia mulai tertawa ditelinga Taemin dan Taemin menyukainya.

            “Kau bisa bilang begitu.”

            “Jika kita tambah satu hari lagi untuk kencan palsu ini, apakah kau akan benar-benar menyukaiku?’, Taemin melirik padanya, “Maksudku..”

Mata mereka bertemu dan namja itu tersenyum lembut. “Sepertinya.”

Taemin tersipu malu ketiak mendengarnya dan tidak sengaja menyentuh pipinya yang terasa panas.

            “Itu tidak mungkin.”

            “Kenapa?”, tanyanya pada Taemin.

            “kau pastinya akan jatuh cinta hanya padaku.”

Namja itu mendengus dan memutar tubuh Taemin untuk menghadapnya. “bukannya saat ini kau sudah jatuh cinta padaku?”

Taemin mengangguk dan menatap namja itu lekat.

            “Aku terkejut.”, ia membelai wajah Taemin dengan jempolnya dan tidak bisa berkata apapun.

            “Itu tidak begitu sulit mencari tahu bagaimana rasanya jatuh cinta sungguhan. Pada akhirnya.”

            “Taemin, Aku …”

            “Ya?”

            “Aku harap pernikahanmu bahagia.”

Taemin memukulnya, ‘Aku tidak mau mendengarnya.”

Taemin membenamkan wajahnya di leher namja itu. Ia menarik nafas dalam-dalam dan untuk sebentar membiarkan dirinya mendengarkan degup jantungnya. Dan bagaimana debaran jantung itu menjadi satu. Taemin mengeratkan pelukannya. Jia ia bisa memeluk namja itu lebih erat, maka ia akan melakukannya. Jika ia bisa membenamkan dirinya disampingnya, ia akan lakukan. Taemin membuang nafasnya ketika Hyung nya itu mengelus punggungnya. Ia menggeliat bagaimana kehangatan perlahan membuatnya terlena.

            “Aku sangat bahagia sekarang.”, Taemin berbisik.

            “Senang mendengarnya…”

            “Apa yang kau rasakan Hyung?”

            “Aku senang. Aku senang bersamamu selama dua hari ini.”

            “Kau tidak bohong kan?”

            “Tidak … aku serius. aku menyukai perasaan seperti ini, yang kau berikan padaku.”

Taemin menyentuh jantung namja itu dan membiarkan tangannya disana.

            “Bisakah kau katakan padaku kenapa kau mencoba untuk tidak menciumku?”

            “Karena aku rasa kita harus akhiri ini segera. Itu sudah kelewat batas. Aku seharusnya tidak lakukan itu. Sebelum aku—“

            “Sebelum apa?”

            “Sebelum kita menjadi lebih jauh.”

Taemin tersenyum pahit. “Aku rasa kau benar.”

            “Aku takut membuat ini menjadi sulit.”

Kemudian mereka terdiam.

            “Hyung?”

            “Yes?”

Taemin menarik tubuhnya dan menatap nya.

            “Bisakah aku tahu namamu?”

            “Aku harus tetap orang asing untukmu.”

            “Aku ingin setidaknya mengucapkan terima kasih padamu sungguh-sungguh.”

            “Sungguh-sungguh?”

            “Aku ingin mengucapkan ‘Gamsahabnida, namamu-ssi’”

Namja itu tertawa.

            “Kau tidak perlu lakukan itu.”, namja itu membelai rambut Taemin. “Biasa saja sudah cukup.”

Wajah mereka semakin dekat, ia merasakan perlahan namja itu meraih wajahnya. Taemin mengerjapkan matanya berkali-kali dan menahan nafasnya. Adrenalinnya semakin memacu disetiap darah dan juga jantungnya. Perlahan ia bisa merasakan sentuhan lembut di hidungnya, sekali, dua kali. Ia bisa merasakan hangatnya.

            “Jika nanti kita ada kesempatan bertemu lagi dikemudian hari, aku harap …”, namja itu terlihat ragu. “Aku harap kau akan mengingatku sebagai kenangan yang indah. Kupastikan aku akan selalu mengingatmu dan namamu dan juga wajahmu.”

Taemin mengangguk perlahan, untuk tidak membiarkan bibir mereka bersentuhan karena jarak yang sangat kecil.

            “Ini akan menjadi ucapan selamat tinggal yang sesungguhnya.”

Taemin menggenggam tangannya dan menutup matanya. Ia merasa namja itu menggeser tubuhnya. Ia merasa gugup sampai ingin mati rasanya. Dalam hitungan detik, ia merasakan bibir yang lembut … di keningnya.

            “Aku pasti akan menyesali ini nanti tapi ini lah yang terbaik yang bisa kulakukan.”, ia berbisik pada Taemin.

Taemin mmebuka matanya dan menatapnya dengan penuh kecewa.

            “Aku sebenarnya harus pergi sekarang.”, ia membelai wajah Taemin dan perlahan membelai bibir Taemin dengan jarinya. “Orang-orang Appaku menemukanku dan aku harus pergi malam ini. Aku tidak bisa mencegah mereka lebih lama. Aku tidak bisa meminta mereka untuk menungguku lebih lama.”

            “Apa??”, ia terduduk dan menautkan tangan mereka. “Sekarang?”

            “Hmm.”, namja itu tersenyum kecut. “Ini alasan lain kenapa aku tidak bisa bilang iya pada permintaanmu. Aku harus pulang.”

            “Kau tidak bilang padaku.”

            “Mianhe… hanya saja .. aku tidak mau menghabiskan menit terakhir kita dengan perasaan berat.”

Taemin ditarik olehnya untuk berdiri dari atas kasur. Taemin sangat bingung.

            “Bisakah kau mengantarku kepintu, kumohon? Mereka menunggu ku diluar.”

Taemin mendengus dan seketika sesuatu yang menyakitkan menusuk dirinya. “Ini..”

            “Minahe, aku jahat, aku tahu…”

Mereka berjalan menuju pintu dan Taemin menahannya dengan erat. Taemin menghentikan langkahnya dan memeluknya lagi. Ia mulai bergumam pelan dan namja itu berdecak.

            “Jangan khawatir, mereka tidak akan membunuhku.”

Taemin melihat kearahnya dan matanya berlinang.

            “Kau tidak akan menangis kan?”

            “Tidak …”, Taemin hanya sedih.

            “Jangan sedih. Ingat apa yang aku katakan padamu.”

Ia berbisik ke telinga Taemin. Taemin memukulnya pelan.

            “Gomawo, Taemin ah.”

Ia mencium pipi Taemin ketika ia menarik dirinya dari bisikannya.

            “kuharap kita bisa bertemu lagi.”

Taemin menahannya dan mencium pipi namja itu juga.

            “Jangan lupakan aku, Hyung.”

*

*

*

Taemin berdiri di depan kaca dan merapihkan bajunya, sempurna.

            “Yaaaah liat dirimu! Apa kau mau pura-pura jadi artis terkenal atau apa?”

            “Diam.”

            “Apa yang kau pikirkan berpakaian seperti itu?”

            “Ini adalah protes diam-diam, Kai.”

            “Aku hampir tidak bisa lihat kulitmu.”

Taemin menutupi wajahnya dengan kacamata rayban, topi, dan juga masker. Ia benar-benar malukan apa yang ia katakan waktu lalu. Hari ini adalah harinya, ia harus bertemu dengan tunangannya. Ia membuang nafas berat dan menatap tampilannya di kaca.

            “Kajja.”

 Taemin dan keluarganya berangkat menuju hotel mewah, tempat pertemuan dimana kedua keluarganya setuju. Taemin menatap ke jalanan dan terus mencengkram bajunya. Seketika ia mengingat namja itu, namja yang seharusnya ia lupakan namun tidak bisa.

            “Kau baik-baik saja?”

            “Tidak.”

Taemin menyentuh pipinya dan membayangkan namja itu, ciuman yang ia berikan untuknya. Ia terus menggumamkan pujian yang ia bisikan untuknya. Taemin entah mengapa menemuka  kekuatannya sendiri dalam kenangan bersamanya.

Mereka sampai dan keluarga Taemin duduk terlebih dahulu di depan meja makan yang sudah mereka pesan. Tamu mereka belum datang. Taemin melirik ka arah Kai dan Kai memberikannya senyumman maaf. Ia tidak membutuhkannya. Ia tahu bahwa hidupnya menyedihkan dan ia tidak butuh senyum itu untuk mengingatkannya.

Kemudian tiba-tiba Appanya berdiri dan menyapa lelaki yang seumuran dengannya. Taemin memperhatikan dengan seksama dan menjabat tangannya meski mereka tidak akan dudu di meja yang sama. Kemudian ia melirik wanita yang berdiri dibelakangnya. Dia dengan ceria menyapa Ummanya dan duduk didepannya yang hanya untuk empat orang. Dan terakhir … itu pasti dia.

Kai menyenggol lengannya dan berbisik pada Taemin.

            “Lihat tunanganmu.”

Taemin sangat takut untuk melihatnya.

            “Ia telihat seperti apa? Berikan detailnya padaku.”

Ia akan sangat geram jika ia lihat seseorang yang gendut, pendek, tidak sopan, dan sombong jadi ia bertanya pada Kai untuk melihatnya lebih dulu. Ia begitu takut meski hanya untuk membuka matanya.

            “Apa kau buat sebuah pertemuan dengannya?”, Kai bertanya padanya.

            “Mwo?”

Taemin mengangkat kepalanya dan melihat seseorang yang ditunjuk Kai.

            “Daebak! Kalian pasti benar-benar terjebak dalam suatu takdir.”, Kai berkomentar. ‘Pertama kalian sama-sama melarikan diri dan sekarang lihat bagaimana ia berpakaian! Topi, kacamata, dan masker. Wow … ini… wow.”

Taemin berdiri dan membelalakan matanya. Ia tidak bisa percata dengan apa yang ia lihat didepannya. Ia yang ia sebut sebagai tunangannya menggunakan pakaian yang sama persis dengannya. Mulut Taemin menganga sedikit saat mereka mendekat satu sama lain. Sampai mereka berhadapan.

            “Oh my god!”, keduanya bergumam. “Kau!”

Taemin melepas kacamata dan maskernya. Namja itu juga. Mereka menatap mata masing-masing dan sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat.

            “Ini pasti mimpi.”, Taemin melirik ke arah Kai. “Pukul aku.”, ia meminta Kai memukulnya.

            “Apa? Shiro! Orang tua mu disini. Tunggu-Mwo? Kau sudah mengenalnya?”

            “Oh my God!”, Taemin menjatuhkan dirinya dikasur. Ia memegang kepalanya dan menatap kembali ke arah namja yang masih terpaku berdiri didepannya.

            “Kau!”, keduanya berseru bersamaan.

Namja itu mulai tertawa dan menggelengkan kepalanya karena tidak percaya.

            “Apa yang sebenarnya terjadi disini?”, tanya Taemin.

            “Kau…”, Taemin tidak bisa berkata apapun.

            “Aku adalah tunanganmu?”, tanyanya lagi. “dia yang aneh, kaku, dan tidak tahu sopan santun? Dia yang orang bilang sangat jelek dan pendek dan gendut?”

Taemin mulai tersenyum, “Aku tidak percaya, ini membuatku merinding.”

Kai meraih pundak Taemin dan Taemin memegang tangannya.

            “Kai-ah…”

            “Kau tidak apa-apa?”

            “Ambilkan aku minum.”

            “Okay.”

Kai meninggalkan meja mereka dan Taemin terus menatap ke arah namja itu.

            “Kau lagi.”, Taemin membuka mulutnya.

            “Aku tidak pernah tahu aku akan bertemu dengan mu lagi dengan cara seperti itu.”

            “Dan kau…”, mata Taemin mulai meneliti perlahan, “Topi? Kacamata? Masker? Jinjjayo, Hyung?”

Keduanya mulai mencair dan mulai tertawa pelan.

            “Jadi inilah kenapa kau tertarik dengan ceritaku?”

            “Dari mana kau mulai mendengar gosip itu? siapa yang bilang aku gendut dan jelek?”

            “Jakkaman! Itu bukan cerita temanmu kan? Itu ceritamu!”

Taemin membelalakan matanya dan tidak bisa percaya. Namja itu juga tidak bisa mengatupkan mulutnya. Ini benar-benar luar biasa. Bagaiamana hidup mereka bisa terjalin seperti itu? seolah-olah mereka diikat oleh sebuah benang merah yang tak terlihat.

            “Aku tunanganmu.”, akhirnya namja itu angkat suara.

            “Kau tunanganku.”, Taemin mengulanginya.

            “Kau tahu, aku merinding…”

            “Aku juga.”, Taemin memijat keningnya dan tetap mencuri pandang ke arah namja didepannya.

Okay, mungkin mereka terlalu sibuk memperhatikan satu sama lain dan mereka tidak menghiraukan kedua oang tuanya.

            “Aku adalah ‘urusanmu’ kan?”

Namja itu tertawa dan mengangguk. “Aku juga punya ‘masalah’, yeah … aku juga dijodohkan. Aku tidak bisa bilang karena itu begitu aneh punya situasi yang sama denganmu.”

            “Ini gila.”

            “Sangat gila.”

Mereka saling bertatapan dan mulai ada khemistri yang mereka rasakan dari tatapan itu.

            “Aku akan menikahimu.”, namja yang lebih tua darinya itu tersenyum.

            “Kita tidak punya pilihan.”, Taemin balas tersenyum.

            “Jadi kau suka pada tunanganmu pada kesan pertama ini?”

Taemin tertawa dan menutupi sebagai mulut dan pipinya yang mmerah, “Sepertinya?”

Mereka tersenyum lebar.

            “Ah- aku melupakan sesuatu kan?”

Ia menglurkan tangannya pada Taemin dan tersenyum, “Biar aku perkenalkan namaku.” Taemin tidak bisa menyembunyikan senyuman lebarnya lagi.

            “Aku Choi Minho, 27 Tahun, dan calon dokter.”

Taemin menjabat tangannya dan menggenggamnya erat, “Aku Lee Taemin, 25 tahun. Aku sudah ada yang punya.”

Keduanya tertawa dan melupakan orang-orang disekitarnya yang menatap mereka aneh, terlebih lagi kedua orang tua nya. Siapa yang kira mereka akan langsung dekat pada pertemuan pertama?

            “Choi Minho, Huh?”

            “Yeah, aku Minho.”

            “Gomawo Minho Hyung…”, Taemin tersenyum padanya.

            “Ucapan terima kasih sesungguhnya?”

Taemin mengangguk. “Akhirnya aku bisa mengenalmu.”

            “Aku sepertinya bukan orang asing lagi.”

            “Yeah.”

Taemin membiarkan jempol namja itu mengelus balik telapak tangannya dengan jarinya itu.

            “Sama-sama, satu-satunya orang asing yang bisa membuat hatiku bergetar. Terima kasih mu sangat aku terima, satu-satunya orang yang bibirnya ingin sekali aku cium.”

Wajah Taemin sontak memerah seperti tomat, “Aku tidak suka digombali.”

            “Aku tidak boleh mengucapkannya secara lantang? Haruskah aku bisikan saja?”

Taemin menutup wajahnya. “God! Aku tidak tahan lagi!”

Namja itu melepas topi Taemin dan meletakannya dimeja sebelum ia menepuk kepala Taemin dengan lembut.

            “Jadi kurasa kita harus kencan lebih lama.”

Taemin membenamkan wajahnya dimeja dan diam-diam meraih jemari Minho. Minho terkekeh melihatnya.

            “Apa kau akan menikahiku, Hyung?”

            “Kau masih menyukaiku?”

Taemin mendongak dan melirik kesal padanya.

            “Kau masih mau menicumku?”

Minho tertawa kencang dan mencolek hidung Taemin.

            “Aku pastinya akan lakukan itu sesekali nanti. Ingat itu. aku berusaha keras untuk tidak menciummu dua kali. Aku pastikan akan menciummu sejak kau merasa … well, kau resmi menjadi milikku.”

Taemin benar-benar tersipu malu mendengar pernyataan nya.

            “Kau menyukai ku, Hyung?”

            “Bukannya jelas?”

Taemin menyengir dan menatapnya lekat.

            “Hentikan senyum nakal mu itu.”, Minho menutup wajah Taemin dengan tangannya.

            “Aku tidak percaya ini kau lagi.”

            “Yeah, aku juga.”, Minho tersenyum menatapnya. “Aku lega ini adalah kau.”

30 thoughts on “[2min/IND/oneshoot] You Again

  1. Wow..lama ga baca 2min..ampun dah feel nya bnr2 dpt..jd ikutan kebawa suasana mereka..kangen juga bc ff 2min..

  2. Oh my ! Ini kereeen… Dan ini fict terpanjang yg pernah gue baca dan anehnya ga bosen dan malah gue ketagihan.. Mereka manis dan terlihat bgitu cocok dan cute, ah bingung mau komen apa tapi berharap ini ada sekuelnya.. Great story ^^

  3. Woahh puas bacanya, keren.. Mereka dah kenal dari awal jadi gak canggung d pertemuan mereka.. 😍😍

  4. kyaaaaa maniiiis >///<
    salah satu ff 2min terbaik sepanjang sejarah.. min ide nya keren banget sumpah.. aku ampe bookmark spy bs baca nya ulang2..
    Makasih admin yg baik hati udah translate ke bahasa indonesia..
    Jd terharu T^T

  5. uwah.. benerkan ‘kalo jodoh, emang gk kemana’
    sejauh”nya kabur, tetep aja bakal ketemu lagi.
    ish.. so sweet deh ceritanya, sempet sedih mereka pisah. tapi tenyata mereka malah calon tunangan. hihihi ini mah kabur membawa berkah.
    manis manis manis.. like it!! 2min bikin ngfly ^_^

  6. setelah sekian lama, akhirnya nongol lagi ff 2min.😄
    semoga ff 2min yg belum dilanjut segera dilanjut

  7. Sukanyaaa..
    Apalgi didialognya, beuh deh 👍

    Tapi sayangnya.. kok pas nikahnya ga sekalian dilanjutin juga, nanggung 😆
    ada sequel ga? *nawar *plak *bugh

  8. awalnya bertengkar tapi malah jadi teman kencan buta ..kkk
    waa, ternyata 2min dijodohin.. bener” ya mereka ditakdirkan untuk bersama.. ehehew
    lucu deh 2minnya~ so sweet jugaaa 😍
    kereeeen!!

  9. Sukaaaaa ya ampun. Kirain Minho udah tau bakalan ditunangin sama Taemin. Ternyata enggak.
    Aduuuuh manis banget ih

  10. Ya ampun!!!
    Walaupun ceritanya udah ketebak sama aku dari awal, cerita ini tetep aja manis …
    Suka banget sama peran Minho yang gentle banget dan Taemin yang malu malu karena udah lama ga baca FF yang kaya gini.
    Typonya doang sih yang agak banyak. Semuanya keren.
    Thank you!

  11. It’s you… hahahah…
    Rasa2 k ini oneshoot terpanjang yg ak bca. Efek emank crita ny panjang atw ya.. terlalu menghayati baca ny… ak suka.. sgt menikmati moment2 mereka ber2. Say thanks to author ny… ff ny keren…🙂

  12. Akhirnya ada ff 2min lagi….
    Obat kangen… tx u author ny..
    Ditunggu trs cerita2 yg lain

    Sayang ngga kesampean scene kissing nya…

  13. Haiii author salam kenal ya… hoho ternyata oh ternyata minho dan taemin memang berjodoh ya…mereka berdua jadi terlihat konyol hihihi…semoga mereka selalu bahagia dan buat authornya semangat ya

  14. Kerjasama yang luar bisa dengan aqcel Eonni.
    Amazing plot and idea from you and the amazingly written by aqcel.
    Habis ini comment dan baca di tempatnya aqcel
    And of course good job for translating it.

  15. Eh? Aku beloman komen ternyata???
    Demi apa…….
    Padal udah baca ini 2-3 kali -_- heol~

    Jadi….. kau lagi??
    Dan…
    “Aku lega ini adalah kau”
    Seriously suka banget sama dialog itu 😊
    Dan sejujurnya waktu pertama kali baca, aku ikut nyesek.. ikut mewek.. siyalan emang 2min mah :”
    Kerasa banget brokennya. Its sooooo hurt when you start to loving someone and you should to say goodbye at the same time :”””)))))
    baper banget inimah pokoknya. Ga ngebayangin if it will be real
    Gatau gimana nyeseknya, gimana sakitnya, gimana bapernya..
    tapi syukurlah semua terbayar oleh another pertemuan yang tak terduga.
    Yang ternyata malah mempertemukan mereka dalam sebuah ikatan..
    Ikatan yang awalnya menyebalkan tapi menjadi sangat menyenangkan ketika mengetahui siapa orang yang dipertemukan :))
    This such a great story ^^
    Thanks for ur wonderful plot, and Aqcelnicorus wonderful story 😍

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s