[2min/1Shoot] When You’re Not Here


Image result

Tittle     : When You’re Not Here

Pairing  : 2min(TaeminxMinho)

Genre   : Fluff, Little Angst, Romance, AOC, yaoi.

Author   : @twominyeah / Vittwomincentris

Summary           :

Tatapannya menerawang jauh, ia tidak bisa merasakan pelukan hangat ditubuhnya dikala pagi, tidak bisa merasakan hembusan nafas menerka lehernya, tidak bisa merasakan tubuh kecil dan ramping dikedua tangannya.

Sepi … sunyi..

Ia masih ingat betul ketika Taemin membuka mata dikala pagi, mengusap dengan kedua tangannya yang mungil, merenggangkan tubuhnya sambil menguap, kemudian menatap padanya dengan senyumnya dan mengatakan ‘Selamat pagi, Ming…’

Minho membuka mata ketika sinar matahari memasuki ruangan dan menyinari matanya dari balik fentilasi kamar. Ia picingkang sejenak matanya untuk membiasakan sinar itu menerpa wajahnya, kemudian menguap pertanda bahwa ia masih mengantuk.

Namun ketika ia menghirup dan menarik nafas, sontak rasa resah menyelimuti hatinya. Kenapa sepi sekali? Kenapa rasanya kamar yang ia berada begitu sesak?. Tangannya meraih ke sisi kanannya, hanya bantal kosong yang menemaninya dan begitu dingin rasanya ketika ia menyeka kasur dibagian kanannya.

Tatapannya menerawang jauh, ia tidak bisa merasakan pelukan hangat ditubuhnya dikala pagi, tidak bisa merasakan hembusan nafas menerka lehernya, tidak bisa merasakan tubuh kecil dan ramping dikedua tangannya.

Sepi … sunyi..

Ia masih ingat betul ketika Taemin membuka mata dikala pagi, mengusap dengan kedua tangannya yang mungil, merenggangkan tubuhnya sambil menguap, kemudian menatap padanya dengan senyumnya dan mengatakan ‘Selamat pagi, Ming…’

Flaming –begitu sebutan Taemin untuknya, begitu kekanakan dan menggelikan, ia sempat marah ketika Taemin mulai memanggil namanya dari Minho menjadi Ming. Apa itu? lucu sekali, tapi ketika ia tidak bisa dengar kata-kata itu sekarang, ia begitu sedih.

Ia melirik jam didinding, sudah pukul 7 pagi, ia harus segera bangun dan bersiap untuk berangkat kerja, jadwalnya hari ini sangat padat, ia harus meeting dengan clien besar jam 9 pagi. Dengan terpaksa bangkit dari kasurnya, ia hanya membereskan selimut dan bantal sekenannya.

‘Hey, kau tidak mau bereskan tempat tidur? Kenapa semua harus aku yang lakukan?’

Ia kembali menoleh ke arah kasurnya, ia bisa bayangkan Taemin selalu saja marah jika ia tidak mau merapihkan kasurnya dan harus Taemin yang lakukan. Dengan menarik nafas ia rapihkan sprei dan juga selimut, tidak lupa menata bantal pada tempatnya. Setidaknya ia sudah berusaha, spreinya setidaknya masuk kebagian sisi kasur meski sedikit miring, selimut terlipas rapih meski lipatannya tidak rapih, bantal tersusun sempurna –meski tali guling tidak diikatnya.

Setidaknya Taemin akan senang jika ia bisa melihat kemajuan Minho dipagi hari ini.

Ia masuk kekamar mandi dan melepaskan pakaiannya sebelum ia membuka pintu kaca menuju ke bawah shower.

‘Minho! Berapa kali aku bilang, letakan pakaianmu itu kedalam keranjang! Kenapa kau susah sekali diberitahu?!’

‘Terus kenapa kau gunakan odol boros begini, lihat, sampai berjatuhan di wastafel… haish!’

Mata Minho terpaku kesudut kamar mandi, ia bisa melihat Taemin biasanya menaruh baju kotornya disana dan sambil terus mengomelinya karena ia selalu menggunakan odol berlebihan, tidak menaruh peralatan mandi seperti sampo dan sabun pada tempatnya lagi dan bahkan ia selalu marah ketika Minho lupa untuk mengeringkan dirinya dengan benar sehingga membuat lantai basah ketika ia keluar dari kamar mandi.

Namun kali itu ia letakan pakaian kotor pada tempatnya, menggunakan odol sangat sedikit, letakan peralatan mandi pada tempatnya, dan memastikan bahwa ia sudah mengeringkan badannya dari ujung kepala sampai ujung jari kakinya.

Taemin harus lihat bahwa ia tidak perlu di omeli seperti anak kecil hanya soal mandi.

Minho kebingungan ketika ia mencari dimana blazer kesayangannya, seingatnya kemarin lusa ia sudah mengambilnya dari tempat laundry, tapi kenapa tidak ada? Selain itu, ia tidak bisa menemukan dimana dasi nya, ia harus menggunakan dasi sesuai dengan corak bajunya.

Ia geram sekali rasanya, masih ada waktu 1.5 jam lagi sebelum ia terlambat kekantor. Alhasil ia hanya menggunakan vest coklat dipadu dengan kemeja berwarna biru tua dan menggunakan dasi hitamnya, kemudian memadukan blazer berwarna putih. Ia tidak tahu lagi dan tidak punya banyak waktu untuk perduli pada penampilannya.

‘Aku sudah ambil laundry-an kemarin, kau bisa pakai langsung digantungan pertama didalam lemari. Awas yah jangan acak-acak lagi baju yang sudah aku rapihkan!’

Minho menutup lemari dan mengambil tas kerja serta laptopnya sebelum melesat menutup pintu kamar.

Bagi seorang Minho yang atletis tentu ia sangat memperhatikan nutrisi serta pola makan hidup sehat setiap harinya, termasuk sarapan pagi. Baginya meski sesibuk apapun ia, ia harus tetap sarapan. Karena dari sarapanlah kita bisa meningkatkan energi kita dan juga konsentrasi.

Ia melirik jam tangannya, ia hanya sempat meraih satu helai roti diatas meja dan menenggak air putih secukupnya.

‘Aku buatkan scramble egg dan juga bacon untuk mu, kau mau susu juga?’

Minho menarik nafas, ia menggelengkan kepalanya, tidak ada waktu lagi Taemin… aku akan sarapan nanti saja.

Untuk sekali itu ia tidak mengingat apa yang biasanya ia lakukan bersama Taemin.

“Pagi Minho…”,

Minho menoleh dan melihat seorang kakek duduk bersama anjingnya disamping halaman rumahnya.

“Pagi…”, sapanya datar.

“Kau sudah mau berangkat? Semoga harimu menyenangkan.”, katanya.

Minho hanya mengangguk dan membungkuk sedikit menandakan bahwa ia pamit.

“Ah, Minho!”, Minho menoleh lagi padanya. “Katakan pada Taemin bahwa Chiko sekarang sudah bisa diperintahkan untuk duduk, ya kan Chiko?”, kata kakek itu mengatakan pada anjingnya yang masih berdiri dan menatap ke arah Minho sambil menjulurkan lidahnya dan menggonggong ketika ditanya.

‘Kita pelihara anjing yah? Bolehkan?’

‘Aku janji akan mengurusnya, aku akan beri makan tepat waktu, mengajarkan dia duduk, berguling, dan bicara –anio, dia bukan burung beo. Boleh kan?’

Sekalinya Minho mengiyakan pada Taemin saat itu dan membelikan anjing terrier yorkshire berwarna putih untuknya, selang 3 minggu anjing itu jatuh sakit dan alhasil harus dilarikan kerumah sakit. Setelah itu ia terpaksa harus memberikan anjing itu pada Amber untuk membantu Taemin memeliharanya, karena Taemin tidak bisa mengurus anjing. Karena dokter mengatakan bahwa anjing itu tidak makan dengan baik, ketika dikonfirmasi, Taemin mengakui bahwa ia pernah memberikan ramyun buatannya untuknya.

“Akan aku sampaikan pada Taemin …”, hanya itu ucapan Minho sebelum ia masuk kedalam mobil dan menatap kosong kejalan raya sebelum menyalakan mobil. Ia akan mengatakannya, pasti, ketika ia berharap bahwa malam ini ia akan bertemu dengan Taemin … dalam mimpinya.’

*

*

Tok tok…

“Ya?”

“Choi?”, Minho mendongak dan melihat teman baiknya, Kibum, berdiri diambang pintu ruangannya dengan segelas coffee americano. “Kau sibuk? Boleh aku masuk?”

Namun sebelum Minho mengiyakan Kibum sudah masuk dan menutup pintu nya, bagaimana ia bisa bilang tidak pada temannya?

“Ini, aku yang traktir.”, ucapnya duduk dikursi depan Minho dan menyerahkan Ice Americano kehadapannya. “Heol, kau terlihat kacau sekali. Meeting mu tidak berjalan lancar?”, tanya Kibum yang merupakan bawahannya sekaligus orang kepercayaannya.

“Kau bisa cek sendiri dimeja mu kontrak yang sudah mereka tanda tangani.”, ucap Minho datar dan masih serius dengan laptopnya.

Kibum berdecak dan menyeruput kopinya, ia melihat sekeliling meja Minho dan melihat sebuah bingkai foto disana. Terdapat foto namja putih dipeluk dari belakang oleh Minho, namja itu wajahnya penuh dengan cream cake namun tertawa begitu lebar. Cantik…

“Sepertinya kau tidak tidur dengan baik belakangan ini, ada kerutan diwajahmu, dan mata pandamu… heol, membuat mata mu itu 3x lebih besar.”, ejek Kibum.

“Aku lembur belakangan ini…”

“Ah, benar, sampai Office boy mengatakan kau masih belum pulang meski sudah pukul 11 malam. Apa sih yang kau kerjakan?”

“Ya kerjaan…”

“Come on Minho … kau bahkan biasanya pulang jam 5 sore setiap harinya agar bisa makan malam dirumahmu.” Ledek Kibum.

Minho hanya diam saja dan kembali menyibukan dirinya, “Kau tidak ada kerjaan memangnya, malah duduk disini bersamaku?”

Kibum menaikan sebelah matanya dan berdecak, “Jutek sekali kau ini.”, tukasnya, “Ini sudah jam makan siang, pabo! Kau bahkan masih duduk disini dan jam makan siang sudah berlalu sejak 1 jam lalu!”,

Minho mendongak dan melihat jam tangannya, pantas, perutnya dari tadi berbunyi riang. “Ah, begitukah, aku lupa.”

Kibum menggeleng. “Kau ini… apa yang sebenarnya kau pikirkan sampai makan saja kau lupa? Kajja.”

Minho menarik nafas, jika ia tidak ingat bahwa ia tidak sarapan dan juga perutnya tidak terus berbunyi, ia memilih untuk menghabiskan waktunya bekerja lagi.

“Neh. Kajja.”

‘Kau belum makan siang?! Yah! Choi Minho! Kau bilang pola makan itu penting, tapi kau malah sibuk kerja dan lupa makan? Kau pikir dokumen-dokumen itu bisa membuat perutmu kenyang?’

“Kau masih belum bisa terbiasa sendiri seperti ini?”, ucap Kibum disela makan mereka. Kibum menatap sedih Minho yang begitu serius menyantap makannya, sebenarnya sudah berapa hari namja didepannya ini tidak makan?

Minho hanya diam saja, Kibum tahu apa yang ada dipikiran namja itu, mereka sudah saling kenal selama 7 tahun dan bekerja sama. Tentu Kibum tahu watak dan juga sifat Minho jika namja itu tidak mau membicarakan hal yang tidak mau ia bahas.

“Kau harus bisa mandiri, setidaknya kau harus bisa melakukan semuanya sendiri. Termasuk terbiasa sendiri. bagaimana nanti kalau kau—“

“Kau bisa diam tidak? Selera makanku jadi hilang seketika.”, celetuk Minho. Kibum menganga dan ingin sekali memaki temannya, namun ia mengerti bahwa mood Minho sedang tidak enak dan dipastikan bahwa ia bisa meledak kapan saja jika Kibum terus memojokkannya.

“Baiklah, tapi setidaknya dengarkan ini.”, Kibum berusaha memberikan satu nasihat, “Kau, bagaimanapun juga harus bisa menerima keadaan ini, dimana kau tidak bisa selalu bersamanya dan bergantung padanya. Kau bisa tunjukkan padanya, bahwa tanpa dia kau bisa hidup dengan baik.”

Minho diam saja dan melanjutkan makannya, lain kali ia akan dengarkan Kibum, tapi tidak sekarang.

‘Aku akan selalu ada untukmu, jadi kalau kau ada kesulitan jangan sungkan berbagi denganku. Meski aku tidak bisa melakukan banyak untukmu, setidaknya beban mu kita pikul bersama… bukankah kedengarannya lebih baik jika bersama?’

Minho sadar, meski ia seharusnya bisa hidup mandiri, bahkan sebelum bertemu dengan Taemin. Namun ketika kebiasaan ada bersamanya hilang, maka ia butuh waktu juga untuk memulai penyesuaian dan terbiasa sendiri.

Minho sesekali melirik jam tangannya, sudah menujukan pukul 5 sore, biasanya ia sudah mengemas semua kerjaan dan siap pulang agar ia bisa makan dirumah. Namun, lagi-lagi ia urungkan dan mulai mencari pekerjaan lain yang bisa ia selesaikan. Makan dirumah sendirian juga tidak enak rasanya. Jadi lebih baik nanti saja.

Ringg… Riingg…

“Yeobseyo?”

‘Minho?’

Minho terdiam sesaat mendengar suara dibalik telepon, ia berusaha menenangkan hatinya sebelum ia menjawab lagi.

“Taemin?”, jawabnya tanpa sadar.

“He? Ani anio … ini aku Taesun.”, Minho tertegun dan kemudian menghela nafas panjang, ia memegang rambutnya yang tiba-tiba gatal.

“Ah, neh, Hyung, Mianhe. Aku pikir kau Taemin, suara kalian mirip…”

Terdengar tawa disebrang sana, bahkan ketawanya saja mirip. “Tidak apa. Ah, aku tidak mengganggumu kan?”

“Anio, Hyung. Ada apa?”

“Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku akan datang ke rumahmu sekarang untuk mengantarkan beberapa barang milik Taemin. Jika kau tidak keberatan, maka aku akan masuk dan menaruhnya di ruang tamu. Aku punya kunci rumahmu dari Taemin.”

“Kenapa tiba-tiba Hyung?”

“Ah, itu karena aku akan kuliah keluar negeri kan. Karena aku akan pindah maka semua barang harus dipindahkan. Jika kau tidak kebertan aku titip sebentar sebelum kurir membawanya ke rumah Umma ku.”

“Hmmm… arraso Hyung. Silahkan saja…”

“Thank you Minho…”

“Neh Hyung …”

‘Jadi, mulai sekarang kita tinggal disini? Aku tinggal disini? Woah, aku harus membawa semua barang-barang ku kesini.’

‘kau tidak keberatan kan jika rumah mu dipenuhi barang-barangku?’

Sejauh ada mu, maka aku tidak akan pernah keberatan, meski hanya barang-barangmu yang membuat ku ingat padamu, sepertinya cukup mengobati rasa kangenku. Katakan bahwa aku gila, ya .. aku memang gila, gila karena mu Taemin.

*

*

Jam menunjukan pukul 9, Minho baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya dan kesibukannya untuk membuat ia lupa sejenak dan tidak mengingat Taemin. Ia bisa saja terus berkutat dengan kerjaannya agar ia bisa lebih mudah untutk itu, namun tetap saja, semakin ingin melupakan semakin sulit baginya.

“Oh, Minho … kau baru pulang?”

“Ah, Neh.”, Minho mendongak ketika ia ingin masuk kedalam mobilnya, seorang koleganya juga baru saja ingin masuk kedalam mobil.

“Minho, aku turut berduka cita … aku sudah mendengar kabarnya.”, Minho mengangguk dan tersenyum tipis. “Maaf aku baru saja tahu ketika Kibum bertemu tadi denganku.”,

Minho menggeleng dan melambaikan tangan pada namja didepannya itu, “Tidak apa, terima kasih yah…”

Sebelum pamit padanya, ia kemudian masuk kedalam mobil dan duduk dibelakang kemudi, ia menatap lurus kedepan sebelum memutuskan untuk menyalakan mesin untuk segera kembali kerumah.

‘Kita tidak akan tahu sampai kapan kita hidup, kapan maut akan menjemput, oleh karena itu, berhentilah bekerja keras dan nikmati hidupmu …’

‘Yah! Minho! Matamu bisa copot dari soketnya jika kau kerja terus menerus menatap layar laptop mu itu..’

‘Minho … diluar hujan? Kau tahu apa yang kubutuhkan? Kau, sebagai selimutku, jadi berhentilah kerja dan temani aku.’

‘Minho … saranghae …’

DIIINNN….

Minho terkejut ketika sebuah mobil membunyikan klakson dari belakang mobilnya, ternyata lampu merah sudah berubah menjadi hijau sedangkan ia dari tadi melamun saja. Ia lewati jalan yang biasa ia lewati pulang dan melihat deretan restoran yang masih buka sampai jam 12 malam.

Ia biasanya mampir disebuah restoran dan membeli donkatsu di sebuah resto Jepang, Taemin selalu ingin memakannya begitu saja tanpa nasi sebagai cemilan malam. Namun kali ini Minho membiarkan restoran itu lewat begitu saja.

‘Jangan lupa kau minta gorengnya yang matang dan garing. Oh! Kau sudah makan? Beli lah double, nanti kita makan bersama…’

Minho memasuki lingkungan perumahan yang sudah mulai sepi, melewati taman tempat biasa mereka berhenti saat lari pagi, hanya sekedar duduk disana menikmati kicauan burung dan juga hembusan angin pagi.

Melewati tikungan dan terdapat lorong buntu disana, Minho ingat dulu mereka pernah masuk kesana hanya karena Minho ingin mencium Taemin tiba-tiba, saat itu Taemin begitu cantik –untuk ukuran namja dibawah sinar bulan.

Ia melewati rumah Jinki, namja yang selalu mempunyai ide cemerlang tentang eksperimennya, ia ingat Taemin selalu datang kesana setiap sabtu hanya ingin lihat penelitian apa lagi yang dilakukan namja itu. Terakhir ia membuat sebuah buku –namun buku itu ketika dibuka ternyata sebuah bantal empuk yang bisa digunakan saat kau tertidur dikelas.

‘Aku suka disini … karena banyak hal yang bisa aku lakukan denganmu dan aku ceritakan padamu tentang Jinki Hyung… hahaha…’

 

Minho mematikan mesin mobilnya, ia mengusap kedua wajahnya dengan kedua tangannya. Hari itu begitu melelahkan baginya, bukan karena pekerjaannya, tapi semua yang ia lakukan satu hari itu mengingatkan ia kepada Taemin. Membuat ia sulit untuk berkonsentrasi dan menjadikan harinya kacau hanya karena Taemin, Taemin dan Taemin.

Ia berjalan dengan lesu menuju pelataran rumahnya tanpa ia sadari bahwa lampu didalam rumahnya sudah menyala, sampai akhirnya ia sadar bahwa pintu rumahnya bisa terbuka tanpa kunci.

“Eh?”,

Ia sempat tertegun sebentar, sebelum matanya terbelalak dan dengan cepat ia membuka pintu masuk kedalam rumahnya.

Sepi …

Namun lampu ruang tamunya menyala, ia melihat barang-barang Taemin ada didekat sofa ruang tamunya. Sontak ia berpikir … ah, ternyata salah. Ia menarik nafas dan menutup pintu perlahan.

‘Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku akan datang ke rumahmu sekarang untuk mengantarkan beberapa barang milik Taemin.’

Ia baru saja ingat bahwa Taesun kerumahnya, mungkin Hyungnya itu lupa mengunci pintunya.

Masih saja ia mengharapkan bahwa Taemin akan muncul dihadapannya dan tersenyum padanya seperti biasa ketika ia membuka pintu. Ia tanggalkan sepatunya dan juga jaketnya didekat pintu. Ia masih saja berharap bahwa Taemin akan berlari menghampirinya dan berkata

“Kau sudah pulang?!”,

Minho terbelalak dan melihat kesumber suara, disana … dia, namja cantik yang sangat ia sayangi, yang begitu ia cintai, tersenyum padanya dengan lebar seperti matahari pagi.

Namun ia hanya terdiam ditempat, menatap lekat sosok didepannya yang kini berjalan mendekat dan merangkul lengannya sambil tersenyum. “Minho, kau terlambat..”, rengeknya. Tetap masih tidak direspon oleh Minho.

Ia hanya tetap menatap Taemin, ia melihat mata namja itu berkilauan dan redup sepersekian detik. Minho adalah seorang namja yang jarang bicara, hampir bisa dibilang sangat pendiam. Selama 6 tahun mereka menjalin hubungan, ia pikir Taemin pasti tahu itu. Jadi ia juga berpikir mungkin, Minho berharap bahwa Taemin bisa merubahnya sedikit demi sedikit, membuat ia lebih aktif bicara dan juga merespon nya.

“Kenapa kau menatap ku begitu?”, tanya Taemin menarik nafas dan merangkul erat lengan Minho. Membuat namja tinggi itu sadar bahwa Taemin benar ada di sisinya. “Haish, aku hanya pergi selama 2 hari dan kau sudah seperti ini lagi?”, Taemin berdecak dan memukul pundak Minho.

“Kajja, kau harus bersihkan dirimu dan makan malam denganku.”, Taemin menarik Minho masuk kedalam kamar dan menyuruhnya masuk kekamar mandi. “Akan aku panaskan makanannya.”,

Namun sebelum Taemin bisa beranjak dari sana, dengan cepat Minho menarik lengannya dan membawanya kepelukannya. Ia benamkan wajahnya ke kepala Taemin, oh, betapa ia kangen sekali dengan wangi rambutnya, ia eratkan pelukannya, Oh, betapa ia kangen sekali kehangatannya.

“Minho?”

“Hmm.”

“Gwencana?”

Tidak ada jawaban dari Minho, hanya pelukan erat yang Taemin terima. Namja cantik itu menarik nafasnya dan merespon pelukan Minho dengan memeluk punggungnya. Taemin tidak tahu kenapa dirinya bisa memberikan efek yang begitu besar pada Minho, kekasihnya itu akan berubah menjadi pendiam sekali ketika ia tidak ada disekitarnya. Seperti 2 hari ini ia terpaksa harus pergi karena neneknya meninggal, nenek yang selalu mengasuhnya dan Taesun dari kecil. Minho tidak bisa terus bersamanya dan harus pulang karena ada kerjaan yang harus ia kerjakan.

Minho melepas pelukannya dan mengelus wajah Taemin, pandangan matanya meredup, kemudian perlahan ia majukan wajahnya sampai nafas mereka menyatu, sebelum ia membelai bibir plum Taemin dengan bibirnya, hanya kecupan biasa, namun itu cukup membuat harinya yang begitu kalut hilang seketika.

“I miss you.”, akhirnya! Minho membuka suaranya dan berbisik kepada Taemin.

Taemin berdecak dan menarik leher Minho mendekat. “Ck, apa yang kau bisa lakukan tanpaku? Kau terlihat begitu kacau ketika aku tidak ada, eoh?”, ledek Taemin, Minho hanya berdecak. Akhirnya, ekspresi dingin Minho berubah. “I miss you too.”, sebelum Taemin memiringkan kepalanya dan menarik leher Minho mendekat kemudian mencium bibir tebal Minho dengan lembut.

Hari itu akhirnya Minho tidak perlu merasa kesepian tanpa adanya Taemin, Taemin nya sudah kembali. Rumah begitu sangat hidup dan terasa nyaman ketika tawa Taemin memenuhi ruangan, hanya Taemin yang bisa membuat Minho begitu sangat lengkap dan juga bahagia.

Minho meminta Taemin untuk memasakan scramble egg dan bacon untuknya meski Taemin sudah masak masakan lain, namja cantik itu memaki Minho karena kesal ia meminta menu lain. Namun tetap saja ia membuka kulkas, mengeluarkan 2 butir telur dan memasak daging untuk Minho.

Minho bisa mendengar ketika Taemin memekik kesal dari kamar mandi ketika ia ingin tidur karena namja itu harus tersandung oleh baju kotor Minho.

Minho bisa mendengar omelan Taemin karena kali ini odol yang Minho gunakan tumpah dilantai.

“Kau!”, Taemin melemparkan handuk ke arah Minho yang sudah duduk diatas kasur dengan membaca sebuah buku.

“Wae?”

“Haish!”, decak Taemin menyilangkan tangan didepan dadanya. “Saat tadi aku sampai rumah, semua baik-baik saja, tidak berantakan, kenapa saat aku dirumah malah berantakan?!”

“Ng… aku tidak tahu.”

“Yah, Choi Minho…”

“Arraso arraso …” namun setelah itu Minho tidak meminta maaf atau apapun, ia menutup bukunya dan menarik tangan Taemin. “Kajja … aku tidak bisa tidur dengan nyenyak ketika kau tidak ada, jadi, mohon bantu aku satu lagi untuk bisa membuatku tidur pulas.”

Taemin berdecak namun akhirnya naik kekasur dan masuk kedalam selimut. Tanpa ragu Minho memeluk tubuhnya dari belakang dan mencium tengkuknya.

“Jangan pergi lagi …”, ucap Minho. Taemin tersenyum.

“Aku hanya pergi 1 hari kau sudah seperti ini.”

“Itu karena aku tidak bisa jauh darimu.”

“Cukup gombalnya, ini bukan dirimu…”

“Tapi janji jangan pergi lagi.”

“Minho… setiap hari juga kau kekantor dan aku harus—“

“Janji?”

Taemin berdecak dan membalikan tubuhnya, ia menatap mata besar Minho sambil mengelus wajahnya. “Aku janji…”, senyumnya, Minho untuk pertama kalinya tersenyum di hari itu. Taemin selalu menyukai senyum Minho dibanding wajah dingin yang selalu ia tunjukan pada orang-orang. Karena ia tahu Minho adalah orang yang baik dan memiliki senyum yang indah, ia akan lakukan apapun untuk membuat namja didepannya itu terus tersenyum.

*

*

Minho membuka mata ketika sinar matahari memasuki ruangan dan menyinari matanya dari balik fentilasi kamar. Ia picingkang sejenak matanya untuk membiasakan sinar itu menerpa wajahnya, kemudian menguap pertanda bahwa ia masih mengantuk.

Namun ketika ia menghirup dan menarik nafas, sontak rasa resah menyelimuti hatinya. Kenapa sepi sekali? Kenapa rasanya kamar yang ia berada begitu sesak?. Tangannya meraih ke sisi kanannya, hanya bantal kosong yang menemaninya dan begitu dingin rasanya ketika ia menyeka kasur dibagian kanannya.

Tatapannya menerawang jauh, ia tidak bisa merasakan pelukan hangat ditubuhnya dikala pagi, tidak bisa merasakan hembusan nafas menerka lehernya, tidak bisa merasakan tubuh kecil dan ramping dikedua tangannya.

Sepi … sunyi..

Namun…Ia membalikan badannya, ia menarik nafas lagi dan tersenyum, karena ia melihat sosok mungil disebelah kirinya sedang meringkuk tidur seperti bayi membelakanginya. Ia menyelipkan lengan kirinya kebelakang leher Taemin dengan pelan-pelan dan menarik lengan kirinya untuk mendekat.

Ia menahan nafasnya karena takut membangunkan namja mungil itu, ia bawa Taemin kepelukannya dan memejamkan matanya ketika ia rasakan Taemin menarik bajunya dan memeluknya.

Ini baru lengkap … pagi harinya memang harus seperti ini.

Ia kecup ujung kepala Taemin dan mencium kening, pipi, terakhir bibir plumnya dengan pelan. “Saranghae Taemin ah…”

 END.

Annyeonghaseyoo~ Jumpa lagi dengan Author Tua SYF. LOL.
Saya hadir kembali membawa FF gak jelas yang saya tulis dari awal Januari 2016 dan baru di Post akhir tahun ini. Karena maklum … sudah lama tidak nulis dan nggak tahu masih ada yang baca atau nggak /udahgakjamanwoy!

Baiklah, semoga kalian suka! Thanks yang udah mampir cuman buat coba-coba, makasih yang udah baca, makasih yang ninggalin komen, makasih yang masih setia sama SYF, makasih yang udah beli tiket SWCVinJakarta! hahaha

Btw, aku disection Blue! meet up bisa lah … minta tanda tangan kalian yah nanti aku^^.

See ya,
Love you~

17 thoughts on “[2min/1Shoot] When You’re Not Here

  1. omg…
    aq kira taemin meninggal…
    tau”.a dia cman k rmah.a nenek.a…
    minho..minho…
    bru d tinggalin sehari ama taemin hdup.a udah brubah gtu….ckckckc
    sayanga bgt yah ama taemin…
    suka…keren thor…

  2. Sukur la akhirnya kembali seperti semula T^T
    Awalnya udah cemas2 tae ninggalin minho dlm keadaan hubungan mereka tdk baik2 saja..
    Ternyata minho cuma LEBAY DAN MANJA haha..

  3. Huhuhu youre back back back….
    Dan tulisanmu masih bagus seperti biasanya.
    Lantas aku mau komen apa…

    Btw aku di Green. Bisa dong meet up mau minta ttd sama poto author famous.. Wkwk

  4. Aku kangen SYF huhuhuuuuuuu 😭😭😭 mau nangis keras keras rasanya pas lihat postingan ini. Sumpah kangen banget ㅠ_ㅠ
    Btw, tulisan author selalu bagus kok, sumpah aku kira tadi Taeminnya yang meninggal ㅠ_ㅠ udah mau mewek aja, tapi ternyata ……… ahahah :’) makasih banyak lho kak plot twist-nya :’))

    Sekali lagi thank you so much for comeback kak ♥♥♥

  5. SANI’S BACK….
    SANI’S BACK….
    SANI’S BACK BACK BACK BACK! /salah
    wkwkwkwk

    aseeekkk ada yg kambek men.😄
    iihhh baca ini gw seneng tauk san…berasa balik jaman2 dulu pas baca ur my precious…wkwkwk gregeeett aangg *gigitin jari mungil taemin*
    bahasa nya gw sukaaaaa ow owwww

    alah sumpah si minho lebay anettt
    gw kira taem kemana … apa metong…. apa putus…taunya…najeslah si minho ini. wkwkwkwk

    • I’m (finally) back!
      Padahal nggak juga sih, ini aja ditulis dr jaman kapan tauk xD
      Thank you yah eon udah baca dan komen.
      Hahaha … at least gaya tulisan gue comeback lagi yess? :*

  6. Siyalan gue kira Taemin kemana 😂😂😂 ternyata……….
    Alay bet sih ming elaaaaaahhh 😂😂😂😂😂😂😂😂😂
    Dasar burik lo! dih!
    Najis ah najiiiiiiiiiiiiiiissss

  7. Ooaahh~~ jadi gituu???
    Khekhekhe,,,, manis bangeett,,,,

    Oh yaampuunn,,, aku kira tae nya bener mati ehhh taunyaa tae lagi ngehadirin makam neneknya dan itu pu hanya 2 hari,,, ckckckck sifat manjanya minhoo daahh,,mulaaii~~ :”V

    Akhrnya,, 2min kembali bersatu setelah 2 hari nggak ketemu~~ :”33333

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s