[2min/1Shoot/Sequel] I’m Here Because of You


https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTHqVJC163TuCcVFQAQeL6hyVBGnpK2ouV7O6-LD3kBl8Qjn8WW

Tittle : I’m here because of you
Pairing : Taemin x Minho (2min)Genre : Romance, Fluff, yaoi, AOC
Rate : PG 18+
Author : @twominyeah/Vittwomincentris
Summary:

Taemin membuka matanya ketika matahari menyinari matanya, ia picingkan sedikit karena begitu menyilaukan, namun perlahan ia mulai terbiasa dengan sinarnya yang menyinari kamar. Ia melihat sebuah tangan menjadi bantalan kepalanya, ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Perlahan ia menoleh dan melihat Minho –disana, dengan rambut yang berantakan, namun tetap begitu tampan menatap nya dengan senyum terkembang.

            “Selamat Pagi, Minnie.”, senyumnya dan mengecup kening Taemin.

~ Read the Prequel Story : here  ~

Please don’t copy this story without a permission, this Yaoi/BoyxBoy story, if you dont like it, please leave!

            “Taemin? Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini?”, Taemin menoleh dan berhenti dari kegiatannya mencuci piring dan gelas, mendapati Bibi nya berdiri diambang pintu dengan wajah lelah. Ia bisa lihat bahwa mata sembab Bibi nya menandakan bahwa ia menangis semalaman.

            “Ah, aku sedang mencuci semua piring dan gelas sisa acara semalam Bi…”, Taemin tersenyum. “Bibi kembali lah tidur, ini masih terlalu pagi…”

            “Kau sendiri? kenapa tidak tidur? Malah mencuci semua piring-piring ini?”, Bibi nya mengambil sebuah gelas dan menuangkan air putih lalu duduk dibelakang Taemin.

            “Aku tidak bisa tidur Bi…”

            “Kau harus istirahat, kau sudah banyak membantu dari kemarin.”

            “Iya, nanti aku akan istirahat. Bibi sebaiknya kembalilah tidur…”

            “Kau bahkan tidak makan dari kemarin dan duduk saja di ruangan sembahyang..”,

Taemin hanya tersenyum, selera makannya agak sedikit menghilang dan didalam pikirannya hanyalah tentang Nenek nya yang baru saja pergi meninggalkan ia untuk selamanya. Ia memilih untuk berdiam di ruangan sembahyang dan mengenang semua hal yang ia lakukan dengan Neneknya, sehingga ia tidak bisa tidur.

‘Taemin ah, baby, ada berita yang harus aku sampaikan…’

‘Baby, Nenek … Bibi, dia menghubungiku… Nenek… bahwa Nenek… meninggal…’

Saat itu ia tidak tahu harus menangis atau meraung, ia hanya ingat ketika berita itu keluar dari mulut Minho saat namja itu masuk kedalam rumah, ia hanya bisa berjalan menuju ke arah Minho dan memeluknya erat. Ketika Minho memeluknya dan membawanya duduk  di sofa, membawa ia duduk dipangkuan Minho dan ketika namja itu berbisik ditelinga ‘Maaf Taemin ah, maafkan aku…’. namja itu meminta maaf padanya untuk kesalahan yang tidak ia lakukan.

Minho hanya memeluknya dan mencium keningnya untuk membuat ia tenang. Ia hanya ingat menangis dan menangis ketika Minho membawa ia pergi bersama mobilnya menuju dimana Neneknya berada. Tidak hentinya namja itu memegang tangannya sesekali dan mengelus kepalanya.

            “Bi …”, Taemin berhenti dari kegiatannya mencuci piring.

            “Hm?”

            “Nenek .. ia sudah tenang didunia sana kan? Ia tidak lagi kesakitan kan?”, suara lirih Taemin membuat raut wajah Bibi nya kembali sendu. Perlahan Bibi nya bangkit dan memeluknya dari belakang.

            “Neh … gwencana, Nenek sudah tenang disana, ia pasti sudah bertemu dengan Appa dan Umma mu…”, bisik Bibinya.

Taemin menangis lagi, air matanya masih tersisa banyak sampai sesak rasanya.

‘Nenek, aku akan tinggal bersama Minho.. dia namja yang pernah aku perkenalkan dengamu Nek. D-dia memintaku untuk tinggal bersamanya …’

‘Minho namja tinggi yang sangat suka makan bbimbab itu?’

‘Iya…’

‘Dia kekasihmu?’

Taemin masih ingat Neneknya tersenyum bahagia ketika Taemin mengatakan bahwa ia menjalin hubungan dengan Minho. Ia orang pertama yang Taemin percaya untuk membuka semua kebenaran bahwa ia mencintai seorang namja, orang pertama pula yang merestui hubungan mereka, orang pertama yang membelai kepalanya dan berkata ‘Berbahagialah Taeminnie…’.

*

            Taemin berjalan menyusuri trotoar, ia masih ingat sering menemani Neneknya untuk berjalan-jalan di sekitar wilayah rumahnya hanya untuk pergi ke sebuah toko roti atau toko sayuran.

            “Taemin! Oh my god!”,

Taemin menoleh dan seketika dikejutkan oleh seseorang memeluknya, namja tinggi berkulit hitam tertawa ketika memeluknya erat.

            “Hai Kai…”

            “Oh my god! Ini benar-benar kau?!”, namja bernama Kai itu memeluknya kegirangan.

            “Ya, ini aku… kau apa kabar?”

            “Baik!”, ucapnya ceria, “Tunggu, kenapa kau disini? Bukannya kau sekarang tinggal di Seoul? Kau bukannya bersama namja tinggi sombong itu –tunggu, siapa namanya? Oh iya, Minho!”

Taemin berdecak, “Yah, Minho bukan orang yang sombong.” Rengeknya.

‘Siapa dia? Namja berkulit hitam itu terus menatapku sinis.’

‘Dia suka padamu?’

‘Aku tidak suka dia dekat-dekat denganmu…’

‘Kau kan milikku, kenapa namja itu menempel terus padamu?’

            “Saat bertemu dulu dengannya dia sama sekali tidak mau menyambut uluran tanganku.”, rengek Kai, “Selain itu matanya yang besar menatapku terus, aku jadi ngeri.”

Taemin untuk pertama kali nya akhirnya tersenyum juga, tertawa mendengar ocehan Kai. Kai adalah sahabatnya sejak SD, mereka sering bermain bersama dan ketika mereka lulus SMA, mereka harus berpisah karena Taemin memutuskan untuk pindah ke Seoul.

Taemin ingat ia pernah membawa Minho kekampung halamannya dan bertemu Kai, tentu saja teman lama yang tidak ketemu akan berpelukan. Namun ia tidak tahu bahwa keduanya akan cemburu satu sama lain, Kai cemburu karena sahabatnya sudah memiliki kekasih dan ia tidak, Minho cemburu karena Kai begitu dekat dengannya dan dengan mudah memeluk atau merangkulnya.

            “Kenapa kau disini?”

            “Aku?”, Taemin terdiam sebentar. “Nenek meninggal Kai … itulah kenapa aku sekarang disini.”

            “Apa?!”, pekiknya, matanya bisa sama besarnya dengan Minho. Ah, kenapa ia mengingat Minho terus? “K-kapan? M-maaf aku tidak tahu, aku baru saja kembali dari luar kota, Taemin, aku—“

            “Anio … gwencana.”, Taemin tersenyum, “Nenek sudah meninggal kemarin lusa…”, jawab nya lagi. Kali ini mereka terdiam dan berjalan menyusuri trotoar kemudian memasuki sebuah toko roti disana.

            “Aku turut berduka cita, maaf aku tidak segera tahu mengenai kabar ini, Tae.”, Kai merangkul pundak Taemin dan meremasnya. Taemin menarik nafas dan merangkul pinggang Kai kemudian tersenyum, betapa ia beruntung masih dikelilingi orang-orang yang begitu perduli padanya.

Nek, aku bahagia, jadi kau tidak perlu khawatir, ada Paman dan Bibi, ada Taesun Hyung, ada Kai, dan juga Minho bersamaku.

            “Minho tidak ikut?”, Kai menyeruput jus sambil mengetik sesuatu di ponselnya.

            “Dia harus kembali ke Seoul kemarin setelah pemakaman selesai.”

            “Hah? Kenapa ia harus kembali dan kau tidak?”

            “Karena dia harus meeting hari ini.”

            “Tapi kondisinyakan kau sedang berkabung saat ini, apa pekerjaan lebih penting darimu?”, tanya Kai tidak percaya, benar dugaannya, seharusnya dari awal ia tidak setuju Taemin pacaran dengan namja sombong dan dingin seperti Minho. Lihat apa yang dilakukan namja itu pada sahabatnya?! bisa-bisanya dia pergi dalam keadaan berkabung seperti ini hanya untuk kerjaannya.

            “Aku tahu kau pasti sedang berpikir bahwa Minho orang yang tidak berperasaankan?”, tanya Taemin, Kai hanya berdecak. “Justru aku yang tidak berperasaan jika menahannya disini dan tidak pergi, dia mungkin akan kehilangan pekerjaannya karena kontrak yang begitu penting akan ia menangkan hari ini.”,

‘Aku bisa minta Key untuk menggantikanku dirapat besok, aku harus menemanimu disini’

‘Aku tidak bisa pulang jika kau harus sendirian disini…’

‘Bukan masalah bagiku jika kali ini aku gagal, kesempatan lain pasti akan ada lagi. Ya kan? Biarkan aku disini menemanimu, neh?’

‘Taemin ah, please…’

            Taemin ingat bahwa Minho tidak mau meninggalkannya sampai ia mengancam bahwa ia tidak akan pulang kerumah dan juga tidak akan memberikan ‘jatah’ pada Minho sebulan penuh. Namja itu sontak kaku dan mencium Taemin kemudian masuk kedalam mobil dan pergi.

‘Arraso, tunggu sampai kau kembali aku akan lakukan sesukaku padamu.’

‘Kau kejam sekali mengancamku begitu…’

Taemin terkekeh mengingat ancaman Minho dan mengingat wajah namja kesayangannya itu, Minho yang biasanya bersikap dingin, dengan wajah yang hampir tanpa ekspresi itu bisa menunjukkan wajah cemberut yang menggemaskan.

            “Lagi, lagi, kau pasti lagi memikirkan kekasihmu yang aneh itu kan?”

            “Ck, dia tidak aneh!”

            “Aneh, dia hanya diam saja ketika bertemu, kenapa kau bisa suka orang seperti itu?”

Kenapa? ya, sebuah pertanyaan yang selalu muncul ketika orang tahu ia menyukai Minho. Namja itu begitu dingin dan tidak memiliki banyak ekspresi, namun Taemin merasa nyaman bersamanya, ia selalu mendengar semua cerita Taemin dan jika diperlukan ia akan memberikan saran yang begitu baik untuknya. Minho tidak sepenuhnya pendiam dan tidak berekspresi, jika diperhatikan banyak sisi darinya yang membuat Taemin tertarik. Termasuk cara Minho menunjukkan cinta nya pada Taemin.

            “Banyak alasannya dan aku tidak akan memberitahu, karena kau bisa suka padanya.”

            “Mwo? Aku? Yang benar aja!”

Taemin hanya terkekeh melihat wajah Kai berubah jadi jijik.

            “Silahkan pesanannya…”, seorang pelayan meletakkan sepiring scramble egg dan roti bacon didepan Kai. Taemin menatap piring itu dan seketika bangkit dari kursinya.

            “Mau kemana kau?”,

            “Sebentar, aku akan kembali…”

Taemin keluar dari toko roti dan berjalan ke sudut gang yang terdapat boot telepon disana. Ia masukan kartu telepon dan menekan tombol yang sudah ia hapal diluar kepala.

Sekali dering

Dua kali…

Tiga kali…

Nomor yang anda tuju tidak menjawab, silahkan hubungi beberapa saat lagi.

            Taemin menarik nafasnya dan mencoba nomer lainnya, kali ini mencoba nomer kantornya dan ketika dijawab sang receptionist mengatakan bahwa orang yang ingin ia hubungi sedang rapat. Taemin dengan wajah kecewa keluar dari boot telepon dan melihat kearah jalan dengan tatapan menerawang. Salahnya ia tidak membawa ponselnya, jadi ia tidak bisa menghubungi Minho. Minho pun tidak tahu nomer rumah Neneknya, kenapa ia tiba-tiba kangen dengan Minho?

‘Jangan lupa hubungi aku jika kau tiba-tiba ingin pulang…’

*

            “Halo, Hyung?”, Taemin menaruh ponsel nya diantara pundak dan telinganya sambil tangannya sibuk membereskan pakaian kedalam tas.

            “Neh Hyung, kau sudah menghubungi Minho?”, tanyanya,

            ‘Neh, sudah, dia bilang taruh saja semua barang mu yang ada di kontrakanku dirumahnya.’

            “Gamsahabnida Hyung, Hyung, haruskah kau pergi secepat ini?”

            ‘Ya… aku juga tidak enak dengan Bibi, tapi aku harus sudah mendaftar di kuliahku besok lusa, kalau tidak aku akan rugi masuk kelas pertama… maafkan aku, Tae.’

            “Neh, gwencana…”, Taemin menarik nafas, ia begitu sedih karena orang yang dekat dengannya selain Neneknya juga akan pergi jauh darinya, Taesun, dia akan sekolah keluar negeri, meski ia setidaknya menunda keberangkatan, namun alasan nya bisa diterima. Taemin juga tidak mau egois…

            “Taemin? Kau mau pulang?”, Bibi nya dari ambang pintu kamar menatapnya.

Ia hentikan sebentar kegiatannya dan tersenyum sambil mengangguk. Perlahan Bibi nya menghampirinya dan duduk di kasur nya.

            “Rumah ini akan benar-benar sepi. Meski dulu hanya aku, paman mu dan juga Nenek yang tinggal disini semenjak kalian memutuskan untuk hidup sendiri di Seoul.”

Taemin melihat sekeliling kamar dan tersenyum, Bibi nya benar, ia sudah menghabiskan waktunya selama 18 tahun tinggal dirumah itu, tempat ia dibesarkan ketika Umma dan Appanya meninggal. Nenek nya lah yang selalu merawatnya dan mendukung semua keperluannya, ia begitu berterima kasih juga kepada Paman dan Bibi nya yang berlaku sebagai orang tua pengganti baginya dan Taesun.

            “Jangan khawatir, aku janji akan pulang sesekali kesini…”

            “Kau janji?”

            “Neh, aku janji…”

            “Kau akan bawa namja tampan itu lagi jika kau kesini?”

            “Minho?”, tanyanya malu.

            “Iyaaa… dia pacarmu kan?”

Taemin hanya tertawa.

‘Perkenalkan aku Minho, Bibi, Paman, Nenek … aku datang kesini karena ingin bertemu kalian sekaligus meminta restu kalian untuk menjalin hubungan dengan Taemin.’

‘Mungkin untuk saat ini aku tidak bisa menjajikan apapun padanya, namun aku berusaha sebaik mungkin untuk memperlakukan ia dengan baik’

‘Taemin.. dia sangat berarti bagiku, jadi, kumohon restui hubungan kami…’

‘Aku mencintainya, Nek … Taemin, dia segalanya bagiku…’

            “Dia namja yang baik, aku ingat saat itu Nenekmu dengan air mata berlinang namun tersenyum berkata padaku ‘Aku selalu mendoakan Taemin bisa bahagia, anak itu sudah begitu kesepian ketika Umma dan Appanya meninggal, namun ketika aku melihat caranya menatap Minho, aku tahu Taemin bahagia’, begitu kata Nenek.”

Taemin tidak sadar ia meneteskan air mata, betapa bahagia nya saat itu ketika Neneknya merestui hubungan mereka. Neneknya begitu menyayanginya.

            “Kau begitu mencintai Minho? Apa kau benar-benar yakin dengannya?”, tanya Bibinya. “Kau tahu, kita tidak akan pernah ada yang tahu kedepannya akan seperti apa—“

            “Bibi… aku juga sudah memikirkannya, aku sudah memilih Minho untuk bersamaku, jika akhirnya aku tidak bersamanya, maka aku akan menanggungnya sendiri. Aku akan baik-baik saja.”,

Bibinya menatapnya kemudian menggenggam kedua tangannya, “Baiklah, Bibi selalu ada untukmu, kau tahu itu kan? Kau sudah besar sekarang, Bibi jadi tidak perlu khawatir lagi kan?”

            “Ng! Tentu saja.”

            “Kau sudah siap Taemin? Kalau tidak kau akan ketinggalan kereta.”, tanya Pamannya tiba-tiba muncul dari balik pintu.

            “Ah, neh, Paman… sebentar lagi aku keluar.”

Taemin membereskan tasnya dan mengambil jaketnya, Bibinya sudah meminta untuk tinggal 2 hari lagi, namun ia tidak bisa terus berada disana, ia harus bisa melepaskan kesedihannya dan mengikhlaskan semuanya. Selain itu, dipikirannya selalu saja Minho dan Minho, ia butuh Minho untuk melalui hari-harinya.

*

            Taemin keluar dari stasiun kereta dan melihat kesekeliling, ia memanggil taxi dan langsung menunjukkan arah untuk menuju rumahnya. Ditengah perjalanan ia berhenti disupermarket, ia ingin masak sesuatu untuk Minho, memberikan kejutan untuknya bahwa ia sudah pulang. Ia akan masak makanan enak untuk Minho, meski ia sadar masakannya tidak begitu lezat. Namun Minho selalu memakan masakannya tanpa protes.

‘Gimana, pasti tidak enak yah?’

‘Enak kok, aku suka masakanmu, tambah nasi lagi’

‘Kau yakin? Tidak keasinan?’

‘Tidak, mana nasinya?’

            Namun ia ingat ketika Minho makan masakannya meski terasa terlalu asin, terlalu manis, atau agak hambar, Minho selalu bilang enak dan menghabiskan semuanya.

‘Kenapa tidak kau makan?’

‘Kau bohong… masakanku asin, kenapa bisa kau habiskan semua ini?’

‘Memang agak asin, tapi masih bisa dimakan. Kalau tidak mau biar aku yang habiskan.’

‘Minho…’

‘Makanan yang sudah dibuat harus dihabiskan, jadi tidak ada yang terbuang. Kau sudah membuatnya kan. Jadi aku akan makan usahamu…’

‘Tapi kenapa—‘

‘Karena aku menyukai apapun asal itu dari Taemin.’

            Masih mau tanya lagi kenapa Taemin mencintainya? Rasanya tidak usah banyak tanya, karena cinta itu dirasakan bukan dilihat. Taemin hanya tahu bahwa ia mencintai Minho, namja yang selama 6 tahun bersamanya itu. Ia hanya tahu hatinya berkata seperti itu, ia hanya jatuh cinta pada satu orang –yaitu Minho, ia tidak bisa bayangkan jika ia hidup tanpa Minho, gila? Katakan saja begitu.

            Selain itu, Minho selalu ada untuknya, ia bisa rasakan cinta Minho untuknya bagai oksigen yang ia hirup setiap saat, mungkin ia tidak bisa bahagia dan kuat ketika Neneknya meninggal, ketika ia pikir bahwa ia tidak punya lagi tempat bersandar dan itu adalah Minho.

‘Kenapa kau mencintaiku, Ming?’

‘Karena hatiku bilang begitu.’

‘Hatimu? Apa katanya?’

‘Katanya –Taemin begitu lezat, kau harus memakannya, jika tidak kau akan kepikiran selamanya dan menginginkannya sampai kau bisa makan itu- begitu.’

‘Kau ini, selera humor mu jelek, tidak lucu, selain itu tidak romantis.’

‘See? Aku suka karena kau jujur apa adanya. Aku tidak butuh jadi sempurna untuk kau cintai, karena kau sudah menerimaku apa adanya kan? Meski aku tidak lucu’

‘Kau ini, haish.’

            “Ah, Taemin ah!”,

Taemin menoleh dan mendapati Kakek Park berdiri sambil memegang keranjang belanjaan yang penuh makanan anjing.

            “Annyeonghaseyo, abeoji.”, Taemin membungkuk dan tersenyum.

            “Kau sudah kembali?”

            “Ya, baru saja. Aku mampir kesini karena tidak ada bahan makanan dirumah.”

            “Ah, begitu.”, angguknya, “Ah, aku turut berduka cita atas meninggalnya Nenek mu..”,

            “Neh, gamsahabnida aboeji.”

            “Cepatlah kau pulang, sepertinya Minho sakit, wajahnya pucat dan sepertinya kurang tidur.”

Taemin terbelalak, Ahh… jadi pacarnya itu sudah kembali lagi kekebiasaannya jika Taemin tidak ada eh? Segitu buruknya kah jika ia pergi sebentar saja?

            “Ah, baiklah, maaf sudah membuatmu khawatir, Aboeji. Aku akan buatkan ia kimchi jiggae, nanti akan aku kirimkan kerumahmu juga, neh?”

            “Jeongmalyo? Gomayo, Taemin ah…”

‘Kau tidak makan dengan baik selama aku pergi? Kenapa malah sakit begini?’

‘Makan, hanya sedikit saja karena tidak selera.’

‘Kenapa? semua masakannya kan aku yang masak, kau hanya cukup menghangatkannya saja.’

‘Tidak ada kau, jadi rasanya tidak enak.’

‘Hah? Ya Tuhan, Minho… aku hanya pergi 2 hari karena ada camp, kau berlebihan!’

‘Biarkan saja.’

            Taemin hanya bisa tersenyum sendiri membayangkan kekasihnya itu tidak ada apa-apanya jika ia tidak bersamanya. Ia sendiri tidak tahu mengapa? Ia penasaran, apa yang terjadi saat sebelum Taemin bersamanya. Apakah Minho benar orang yang manja dan begitu kekanakan? Atau hanya ke dirinya saja dia bersikap begitu? Entahlah…

            Namun sepertinya semua itu terbukti karena Key-sahabat dekat Minho mengatakan bahwa Minho seperti anak ayam kehilangan induknya jika ia tidak ada. Hal itu cukup membuat Key penasaran, seperti apa Taemin saat itu yang membuat si cold-hearted Minho bisa berubah menjadi ‘menjijikan’ -katanya.

            Taemin membuka pintu rumahnya dan seperti ia sudah lama tidak pulang rasanya, rumah Minho sudah begitu melekat dihatinya. Mereka sudah hidup bersama selama 6 tahun dan rasanya kenangan dirumah itu menumpuk disana. Semua rasa senang, sedih, amarah, jenuh, semua pernah ada disana. Rumahmu adalah istanamu, namun bagi Taemin, Minho lah rumahnya, disitu ada Minho, disitulah ia akan kembali.

            Ia tanggalkan jaketnya dan mengenakan sendal khusus didalam rumah. Ia terkejut ketika masuk kedalam rumah semua terlihat rapih, tidak ada piring kotor di wastafel karena minho malas mencuci sehabis makan, tidak ada serpihan atau tumpahan susu dilantai atau meja makan karena minho begitu ceroboh, tidak ada pakaian kotor didepan pintu kamar mandi, tidak ada odol yang jatuh dilantai, tidak ada peralatan mandi berserakan.

            Ketika ia membuka kamar, hidungnya bisa mencium bau tubuh Minho disana. Orang bisa mengatakan bahwa ia gila karena ia begitu menyukai bau tubuh kekasihnya. Ia suka berlama-lama dipelukan Minho hanya untuk menghirup harum tubuhnya dan merasakan hangat tubuhnya.

            “Kali ini ia bisa membereskan sprei dengan baik.”, decak Taemin, namun tangannya tetap merapihkan setiap sisi spresi dan melipat selimut lebih rapih.

            Ia sudah putuskan, ia akan berusaha keras memasak masakan enak untuknya sebagai hadiah bahwa Minho kali ini tidak membuat isi rumah kacau.

*

*

            Beberapa kali Taemin melihat jam dinding di dapur, sudah menunjukan pukul 9, sampai saat ini Minho tidak pulang juga. Diluar hujan dan rumah begitu sepi, biasanya Minho selalu pulang kantor jam 5 sore meski sesibuk apapun dia. Biasanya paling malam ia akan pulang jam 7 dan memilih makan malam bersama Taemin atau makan diluar bersamanya.

            Ia mencoba menghubungi ponselnya namun tidak bisa dihubungi dan telepon kantornya pun tidak diangkat. Kemana dia sebenarnya?

Kau baru pulang? Sudah makan malam?’

‘Maaf, kau menunggu ku dan tertidur disofa? Kenapa tidak pakai selimut, nanti kau sakit.’

‘Gwencana, aku menunggu mu sambil nonton TV, tapi malah ketiduran disini. Aku tanya kau sudah makan?’

‘Belum…’

‘Kenapa tidak makan? Kau harus banyak makan jika kau lembur, akan aku buatkan sesuatu neh?’

‘Tidak usah, aku sudah capek dan butuh kau segera … dikasur.’

            Taemin memeluk bantal sofa dan menatap kosong ke acara musik yang ada di TV dengan volume kecil, ia hanya ingin tetap terjaga dan mendengar suara hujan. Biasanya jika Minho lembur ia akan menunggu di sofa sampai ia kembali, tidak jarang ia terbangun dipagi hari sudah ada diatas kasur dan dipelukan Minho. Atau biasanya jika Minho terlalu sibuk kerja seharian ia akan mencoba merayu Minho untuk berhenti kerja dan menemaninya.

Brumm…

            Taemin terbelalak, ia mematikan televisi dan menoleh ke arah pintu. Minho! Minho sudah pulang! Akhirnya … jam 11 Malam namja itu akhirnya pulang, penantian Taemin untuk memberikan kejutan padanya bahwa ia pulang akhirnya tiba juga.

            Tidak lama ia mendengar pintu depan terbuka, ia bangkit dari sofa dan berjalan perlahan menuju pintu depan. Ia melihat Minho melepaskan jaket dan sepatunya didepan pintu. Wajahnya terlihat lesu dan juga murung, melihat itu membuat Taemin begitu iba. Tidak tahan untuk memberikan kejutan akhirnya ia membuka suaranya.

            “Kau sudang pulang?!”, pekiknya.

Taemin bisa lihat Minho menoleh dan menatapnya terkejut seperti melihat penampakan didepannya. Ia tersenyum lebar dan meraih lengan Minho, ia peluk lengan kekar itu dan tersenyum menatapnya. Ah, tampan sekali namja didepannya ini, betapa beruntungnya Taemin. Lucu memang, sudah 6 tahun berjalan ia masih saja terus merasakan debaran yang lain ketika memandang Minho.

            “Minho, kau terlambat..”, rengeknya, karena namja itu masih tidak meresponnya, aduh, Minho nya benar-benar sangat pendiam. Ia tahu itu, namjanya itu memang jarang bicara.

“Kenapa kau menatap ku begitu?”, tanya Taemin menarik nafas dan merangkul erat lengan Minho. Membuat namja tinggi itu sadar bahwa Taemin benar ada di sisinya. “Haish, aku hanya pergi selama 2 hari dan kau sudah seperti ini lagi?”, Taemin berdecak dan memukul pundak Minho.

“Kajja, kau harus bersihkan dirimu dan makan malam denganku.”, Taemin menarik Minho masuk kedalam kamar dan menyuruhnya masuk kekamar mandi. “Akan aku panaskan makanannya.”,

Namun sebelum Taemin bisa beranjak dari sana, dengan cepat Minho menarik lengannya dan membawanya kepelukannya. Minho memeluknya sangat erat, ia bisa merasakan nafas Minho disisi kepalanya, namja itu mulai menciumi kepalanya dan mendekapnya lebih erat.

 “Minho?”

“Hmm.”

“Gwencana?”

Tidak ada jawaban dari Minho, hanya pelukan erat yang Taemin terima. Namja cantik itu menarik nafasnya dan merespon pelukan Minho dengan memeluk punggungnya. Taemin tidak tahu kenapa dirinya bisa memberikan efek yang begitu besar pada Minho, kekasihnya itu akan berubah menjadi pendiam sekali ketika ia tidak ada disekitarnya.

Minho melepas pelukannya dan mengelus wajah Taemin, pandangan matanya meredup, kemudian perlahan ia majukan wajahnya sampai nafas mereka menyatu, sebelum ia membelai bibir plum Taemin dengan bibirnya, hanya kecupan biasa, namun itu cukup membuat harinya yang begitu kalut hilang seketika.

“I miss you.”, akhirnya! Minho membuka suaranya dan berbisik kepada Taemin.

Taemin berdecak dan menarik leher Minho mendekat. “Ck, apa yang kau bisa lakukan tanpaku? Kau terlihat begitu kacau ketika aku tidak ada, eoh?”, ledek Taemin, Minho hanya berdecak. Akhirnya, ekspresi dingin Minho berubah. “I miss you too.”, sebelum Taemin memiringkan kepalanya dan menarik leher Minho mendekat kemudian mencium bibir tebal Minho dengan lembut.ekspresi dingin Minho berubah. “I miss you too.”, sebelum Taemin memiringkan kepalanya dan menarik leher Minho mendekat kemudian mencium bibir tebal Minho dengan lembut.

Taemin tidak akan pernah lelah untuk mencium Minho, namja itu begitu lembut padanya, salah jika hanya Minho lah yang mungkin akan bersikap kekanakan jika Taemin tidak ada. Nyatanya, Taemin juga selalu merasa ada yang kurang jika ia tidak bisa bertemu dengan Minho.

Mungkin terdengar menggelikan bagi yang dengar bahwa mereka saling merindukan satu sama lain, tapi memang itu kenyataannya. Mereka akan terlihat sedikit berbeda jika tidak bersama. Mungkin juga akan terlihat menyebalkan jika mereka akan terlihat seperti orang yang kehilangan arah ketika mereka tidak bersama.

*

*

            Taemin membuka matanya ketika matahari menyinari matanya, ia picingkan sedikit karena begitu menyilaukan, namun perlahan ia mulai terbiasa dengan sinarnya yang menyinari kamar. Ia melihat sebuah tangan menjadi bantalan kepalanya, ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Perlahan ia menoleh dan melihat Minho –disana, dengan rambut yang berantakan, namun tetap begitu tampan menatap nya dengan senyum terkembang.

            “Selamat Pagi, Minnie.”, senyumnya dan mengecup kening Taemin. Taemin menarik nafas dan membelai wajah Minho, membelai setiap senti wajahnya, dari alisnya, matanya, hidungnya, pipinya, dan terakhir bibirnya. Minho menyadari bahwa namja didepannya sedang mengagumi nya.

            “Selamat Pagi, Ming.”, ucap Taemin. “Cium aku?”,

Minho hanya tersenyum dan tidak perlu diperintahkan kedua kali, ia merubah posisi nya dan berada tepat di atas Taemin, ia kunci Taemin dengan kedua lengannya, satu tangannya membelai rambut Taemin dan yang lain menahannya disisi kepala Taemin.

            “My pleasure…”, bisiknya sembari perlahan menurunkan wajahnya, nafas mereka saling bertemu, Taemin tersenyum dan menunggu Minho menciumnya, namun namja tampan itu seperti menggodanya, ia menahan sebentar bibirnya di atas bibir Taemin tanpa menciumnya, matanya menatap mata Taemin dalam-dalam. Jarak hanya membuat mereka semakin saling mencintai satu sama lain, mereka tergila-gila satu sama lain.

            “Aku tahu kau benci jika aku berkata begini, tapi … kau benar-benar cantik dipagi hari.”, puji Minho.

Taemin berdecak, meski ia tidak suka dibilang cantik –karena ia ingin tampan seperti Minho, “Shut up and kiss me?”,

Akhirnya perlahan Minho membuka mulutnya dan melumat bibir bawah Taemin yang begitu lembut baginya. Namun mereka harus saling melepaskan tautan karena Minho sadar jika tidak mungkin ia akan membuat Taemin kehabisan nafas, mencium Taemin bagaikan candu yang tidak bisa Minho hindari.

            “Kenapa kau menatapku begitu?”, tanya Minho padanya, Taemin tersenyum dan melingkarkan tangannya dileher Minho. Minho begitu jantan, dibandingkan Taemin, tubuh Minho jauh lebih kekar dan juga Taemin tahu bahwa abs Minho luar biasa, wajahnya pun begitu tampan-tidak sepertinya yang sering dikira perempuan, sifat Minho yang pendiam dan terkesan serius juga misterius merupakan sifat idaman yang disukai Taemin –namja memang harus terlihat berwibawa.

            “Aku .. urmm… aku pikir aku jatuh cinta lagi padamu.”, kekeh Taemin malu, “Heol, apa yang kau lakukan padaku, Ming?”, ledeknya. Minho berdecak dan memeluk Taemin, membenamkan wajahnya diantara pundaknya, Taemin dengan mudah memeluk tubuh Minho dan mengelus kepalanya. Meski badan Minho terasa berat berada di atasnya, namun hangat tubuh Minho membuat ia tidak mau melepaskan Minho.

            “Bagaimana ini?”, tanya Minho padanya.

            “Hm? Apanya?”

            “Kalau kau tanya begitu padaku, aku harus jawab apa dan bersikap bagaimana?”

            “Tidak perlu dijawab, cukup peluk aku saja dan habiskan waktu mu seharian denganku hari ini.”

            “Aku tidak kerja?”

            “Tidak usah, bisakan?”, Taemin menarik wajah Minho dan menatapnya. Oh, bagaimana Minho bisa menolak tatapan itu?

            Tanpa berkata apapun Minho bangkit dari kasur dan mencari ponselnya. “Kibum ah.”, katanya ketika ia menaruh ponselnya di telinga.

‘Arraso Choi… kau tidak perlu jelaskan, nikmati waktu libur mu hari ini bersama Taemin, kau tidak perlu khawatir, serahkan semua padaku..’

            Sebelum Minho bisa bicara Key sudah menjawab teleponnya dengan kalimat seperti itu. “Bagaimana kau tahu kalau aku ingin ijin tidak masuk kantor?”

‘Kau lupa aku berteman denganmu lebih dari 10 tahun? Kau tidak akan memanggilku –Kibum- jika tidak ada yang kau ingin dariku. Taemin sudah pulang? Baguslah! Sampaikan salamku padanya. Have fun, bye!’

            “Key membolehkan mu?”

            “Seperti yang kau lihat aku tidak ada kesempatan bicara.”, Minho menghela nafas dan menatap ponselnya sejenak, ada beberapa pesan diponselnya, sebagain besar dari klien.

Taemin yang melihat Minho berdiri didepannya hanya menggunakan boxernya –karena Minho jika tidur tidak mengenakan baju- merasakan hawa panas menjalar dipipinya.

            “Berhenti menatapku begitu.”, ucap Minho yang tidak melepas pandangannya dari ponselnya. Taemin berdecak dan memiringkan kepalanya, menatap Minho polos.

            “Memangnya ada apa dengan tatapanku?”

            “Seperti ingin memakanku.”

            “Bagaimana ini, kau begitu lezat dipagi hari.”, Taemin tidak percaya ia bisa berkata begitu, saat Minho melihat kearahnya dengan mata besarnya itu, tatapan mereka saling menarik perhatian masing-masing, sontak membuat wajah Taemin memerah.

            “Maksudmu ini.”, Minho menunjuk abs nya, “Atau ini?”, tanya Minho menunjuk bagian bawah perutnya.

            Taemin terbelalak dan wajahnya memerah, “Haish..”, decaknya, namun seketika ia dikejutkan dengan Minho yang sudah kembali naik ke atas kasur, ia naik ke atas tubuh Taemin dan mengunci tubuh Taemin dengan kedua tangannya.

            “Kau minta diserang yah Lee Taemin menatapku seperti itu sejak semalam?”

            “Seperti kau tidak suka saja.”

            “Kau yang minta.”

Tanpa pikir panjang Minho langsung mencium bibir Taemin dengan penuh nafsu, betapa Minho ingin melakukan itu ketika pertama kali ia melihat namja itu ada didepannya semalam. Ia ingin menguasai Taemin sepenuhnya, ingin melakukan apapun yang bisa ia lakukan ke Taemin saja.

Taemin tentu tidak bisa diam saja, ia membuka mulutnya lebih lebar untuk membiarkan lidah Minho untuk bisa masuk kedalam mulutnya dan melumatnya.

            “Aku mencintaimu Minho, kau tahu itu kan?”, nafas Taemin tersengal ketika Minho berhenti menciumnya sejenak.

            “Kau juga tahu bahwa aku juga sangat mencintaimu kan?”, Minho berbisik ditelinga, Taemin mengangguk dan memeluknya lagi, sebelum Minho memberikan ciuman kembali dibibir Taemin, membuat mereka berdua mendesah karena lumatan masing-masing, dan Taemin bisa merasakan sesuatu menyenggolnya. Ia yakin 100% bahwa pagi itu akan jadi pagi yang paling luar biasa baginya.

Satu yang Taemin sadari ketika ia melihat Minho, bahwa ia akan tahu bahwa ia sangat merindukan Minho, ketika ia memikirkan bahwa hatinya akan hancur berkeping-keping ketika tidak bertemu dengannya. Dan hanya dengan kata ‘Aku mencintaimu’ itu cukup baginya untuk jatuh cinta sekali lagi pada Minho.

Satu yang Minho sadari ketika ia melihat Taemin, ia tahu bahwa sifat diamnya, ia akan berubah menjadi ceria ketika ia bertemu dengan Taemin yang hanya dengan senyumnya cukup membuat dirinya ikut tersenyum, disitu ia sadar bahwa mungkin ia telah menemukan orang yang tepat bagi hidupnya.

END

Halo! Jumpa lagi dengan saya @vittwominaddict hehehe … Kali ini sepertinya memenuhi permintaan diri sendiri untuk buat Taemin POV (point of view) nya. Ini adalah sequel dari FF one shoot sebelumnya, jadi yang belum baca bisa kesana dulu, linknya ada diatas yah^^

Terima kasih yang sudah mampir untuk coba-coba, yang udah baca ff sebelumnya & komen, makasih juga yah masih setia klik website ini (meski Admin dan Authornya sibuk).

Bagi adek-adek yang baca ini ada Rate 18+ yah, jadi mohon hati-hati hahaha. *sengaja gak di password.

OH, BESOK SWC V IN JAKARTA?! ARE YOU READY?!! SEE YA TOMORROW!!

 

 

 

 

6 thoughts on “[2min/1Shoot/Sequel] I’m Here Because of You

  1. uuhhhhh… manisnyaaaa 2min…
    cinta mreka udah trlalu bsar itu… bru dua Hri gak ktemu mreka udah rindu bgt gmna klo sminggu… hahahaha
    pkok.a manis lah.. snyum” sndri bcanya.. hahahaha

  2. OHMAIGOD SEQUEEEEEELLLLLLLL 😍😍😍😍😍😍
    THANKS KAK UDAH TERBITIN BEGINIAN DITENGAH KEGALAUAN 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
    SERIUSAN INI SENENG BANGET YATUHAAAANNN 😭😭😭😭😭😭

    Di awal cerita bikin nangis gegara tae cerita masalah neneknya😦
    di tengah bikin ngakak liat tingkah kai xD
    Eeehhhh di akhir bikin senyum” iri gitu. Uuuggghhhh
    Imut banget sih kaliaaaaannnnn~~
    Dasar pasangan alay! Baru ditinggal bentar jg kacaunya udah kek ditinggal bertahun”😦 dih

  3. omaigoooddddddd manis annneeetttttt anjirrrrr gemesss gueeee
    Kangen genre manis manja giniiiii hueeeee
    Keseeelll baperrrrrr apalagi inget SWC kemareeenn huaaaaa

    Adoh san…sering2 buat begini dah. Sumpah manis. Hahahaha
    Apalagi kalo dilanjut ampe nikah trus hamil /gua ga jauh2 dr mpreg/ wkwkwk /plak

    Ihhh 2min is manis manjaaahhhh
    Adegan kasur dipagi harinyaaaa belom kelar tuh. Mereka mau ngapain hayoooo
    Dilanjut bisa kali ach! *sundul

    • pervert banget dih parah, effect liat pantat Taemin di SWC V yang mungil dan gembil pasti deh ini. Malu aku sekarang nulis NC *slap*
      Iseng aja eon, nanti kalau sempat buat FF lain wkwkwkw.

  4. Rumahmu adalah istanamu, namun bagi Taemin, Minho lah rumahnya, disitu ada Minho, disitulah ia akan kembali.

    Cinta itu dirasakan bukan dilihat,,,,

    Banyak sekali pelajrn yang bisa diambil,,,, dan aku semakin mengerti ketika diperankan oleh 2min,,,,
    Oh damn~~~ why I so Love 2min more more more more more more more more ,,,,,
    Hihihihiii,,,, bikin yang berchapter dong eoonniieee,,,,, :”3333333

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s