[2min/OneShoot] Can I get Your Number?


Image result

Pairing : Taemin x Minho (2min)
Genre : Fluff, Romance, AOC, yaoi
Author : @twominyeah/vittwomincentris
Rate : PG 15+

Summary:
“Permisi…”, sapa Minho, yeoja itu menoleh dan menatap Minho dengan mata bulatnya, bibirnya sedikit cemberut, sudah jelas ia berpikir Minho orang yang aneh.

            “Boleh aku minta nomer ponselmu?”, tanyanya, yeoja itu menatapnya terkejut, mata bulatnya terbelalak namun berubah menjadi tatapan bingung, alisnya mengerut dan bibirnya maju karena cemberut.

“Kau buta yah?”, hanya itu yang yeoja itu ucapkan sebelum ia berdiri dan melempar tisu yang ia pegang ke wajah Minho, kemudian pergi.

Minho, terpaku ditempatnya dan menatap yeoja itu pergi begitu saja meninggalkannya. Berjalan meninggalkannya dan dengar ia bergumam ‘dasar idiot’.

Please don’t copy this story without a permission, this Yaoi/BoyxBoy story, if you dont like it, please leave!

=== Can I get Your Number? ===

                He was a man of his words. Itu mungkin yang bisa menjadi salah satu sebutan bagi Choi Minho, dia tidak akan pernah ingkar janji, tidak pernah berbohong –mungkin akan, jika demi kebaikan, dia akan selalu menepati janji, selalu melakukan apapun yang ia katakan, dan lain-lain. Termasuk kali ini, ia untuk pertama kali menyesali perbuatannya, karena ia sudah setuju dengan taruhan yang ia lakukan dengan Jonghyun!. Sumpah, ia benar-benar tidak tahu ia akan terjebak dalam situasi seperti ini.

            “Ayo sana, kau sudah janji akan lakukan apapun yang aku katakan, kan?”, Jonghyun mendorong tubuh Minho, namun namja itu tidak bergeming dari tempatnya, mata Minho masih saja menatap lurus ke halte bus.

            “Tidak mungkin aku bertanya nomer telepon kepada orang asing, aku akan dikatakan orang gila.”, ucap Minho.

Yes, mereka baru saja melakukan taruhan, siapapun yang kalah dalam taruhan ‘siapa yang menang dalam pertandingan Bola semalam’ dia akan lakukan apapun si pemenang katakan padanya. Kali ini, Minho dengan sangat menyesal ia kalah dari Jonghyun, kalah pertandingan Winning Eleven yang sudah ia kuasai sepanjang hidupnya.

            “Tapi kau sudah janji, Choi.”, Jonghyun mendorong tubuh Minho lagi, namja tinggi itu hanya melirik kesal pada temannya yang lebih pendek darinya.

            “Terlebih aku tidak mau minta nomer telepon kesembarang orang, terutama wanita.”, Minho melirik sekali lagi ke seorang yeoja dikejauhan sedang berdiri dihalte bus, yeoja itu berambut auburn dan dikuncir berantakan, beberapa helai rambut turun disisi pipinya dan tertiup angin.

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, ia adalah namja yang akan memegang segala ucapannya. Tidak mungkin ia akan kalah dari hal begini saja. Meski ia tahu ia dikenal pendiam dan lebih terkenal misterius, banyak yeoja disekitarnya tertarik padanya karena sifatnya, namun ia tidak menggubrisnya sama sekali. Well, karena ia tidak tertarik sama sekali.

Bagi Minho setiap hari disapa dan diteriaki namanya ketika ia lewat saja sudah cukup pengang kupingnya, belum lagi mereka tidak hentinya cekikikan geli hanya melihat ia berdiri, makan, baca buku, bahkan ketika bicara. Pusing rasanya!. Semua ini tidak akan seperti ini jika ia bukan salah satu personil band terkenal di kampusnya, dia, Jonghyun, dan Jinki -temannya satu lagi, merupakan anggota band indie dikampusnya. Awalnya Minho hanya tertarik dengan belajar dan olahraga, musik adalah hobi sampingannya.

Minho hanya di ajak sekali untuk mencoba jamming bersama, kemudian mereka bertiga cocok. Akhirnya dari panggung kecil saat SMA, mereka bisa manggung dibeberapa club atau cafe, dan juga acara kampus yang membuat nama band mereka dan mereka bertiga terkenal.

Jika ia tidak bisa menjadi pemain bola seperti Appanya yang pelatih bola. Maka ia akan belajar dan kuliah kemudian lulus menjadi guru Sejarah atau Literatur. Ya, Minho sangat suka Sejarah. Kuno, tapi menarik jika ia mengetahui semua perkembangan manusia, bangsa, bahkan budaya.

Baik, kembali lagi ke fokus taruhannya. Ia masih tidak mau bergerak dari tempatnya dan Jonghyun sudah mulai kesal karena Minho masih keras kepala. Ia juga keras kepala tidak mau mengganti hukumannya yang lain.

            “Ayo sana! Keburu dia pergi!”, Jonghyun mendorong Minho lagi.

            “Arraso arraso, tidak usah dorong aku!”,

Minho menarik nafasnya lagi, kali ini yeoja itu sedang duduk di kursi halte sambil mengangguk-angguk kecil menikmati musik dari headset yang terpasang hanya ditelinga kanannya.

Oke, dia hanya kesana, basa-basi sedikit untuk minta nomer telepon, kemudian pergi. Baik, begitu!. Tunggu, tapi, nanti kedepannya bagaimana kalau yeoja itu berharap padanya? Secara ini ia yang akan memulai pendekatan dan tanya nomer telepon.

Minho tidak mau dianggap bajingan atau pemberi harapan palsu, karena ia tidak begitu. Tapi bagaimana lagi, ia bersumpah, setelah ini ia akan beri pelajaran pada Jamong itu.

Akhirnya ia sampai di sana, menelan ludahnya sejenak menghilangkan gugupnya. Jika diperhatikan lebih dekat, yeoja didepannya manis juga. Kulitnya begitu bersih dan putih, hidungnya bangir, bibirnya juga plum dan kissable. Tunggu, fokus Minho… fokuss…

Perlahan ia duduk di sebelahnya, melirik sedikit untuk melihat reaksi yeoja itu dan melihat apakah ia bisa mulai basa basi. Ia memikirkan apa yang akan ia mulai katakan. Tanpa ia sadari ia berdeham cukup kencang, dari sisi matanya ia melihat sosok disampingnya menoleh sesaat namun kemudian membuang mukanya. Makin salah tingkah ketika reaksi yang diberikan seperti itu, pasti yeoja itu sudah menganggapnya orang aneh.

Tanpa disadari ia menggoyangkan kedua kakinya karena cemas, dan lagi, yeoja itu meliriknya dan menggeser duduknya. Ah, pabo Minho ah…

Minho melihat ke sebrang jalan dimana Jonghyun berdiri disisi mobil mereka, ia mengibaskan tangannya pertanda ia harus mempercepat tindakannya.

Dengan membuang semua gengsinya, Minho menarik nafas dan menoleh ke sisi kanannya.

            “Permisi…”, sapanya, yeoja itu menoleh dan menatap Minho dengan mata bulatnya, bibirnya sedikit cemberut, sudah jelas ia berpikir Minho orang yang aneh.

            “Boleh aku minta nomer ponselmu?”, tanyanya, yeoja itu menatapnya terkejut, mata bulatnya terbelalak namun berubah menjadi tatapan bingung, alisnya mengerut dan bibirnya maju karena cemberut.

            “Nomer ku?”, tanyanya heran, Minho bisa mendengar suara yeoja itu sedikit manly namun tetap terdengar bagus. Entah kenapa melihatnya lebih jelas membuat Minho lebih suka. Manis, pikirnya.

            “Iya, jika kau tidak keberatan—“

            “Kau buta yah?”, hanya itu yang yeoja itu ucapkan sebelum ia berdiri dan melempar tisu yang ia pegang ke wajah Minho, kemudian pergi.

Minho, terpaku ditempatnya dan menatap yeoja itu pergi begitu saja meninggalkannya. Berjalan meninggalkannya dan dengar ia bergumam ‘dasar idiot’.

Hancur sudah, harga diri Minho… hancur. Dipermalukan didepan umum karena dilempar tisu, di abaikan oleh seorang yeoja, dan dikatain idiot.

Choi Minho –namja tampan dan salah satu pentolan band dikampus baru saja dicampakan hanya karena taruhan bodoh dari Jonghyun.

*

*

Jonghyun tertawa kencang sambil memegang perutnya, ia tidak percaya bisa melihat adegan paling menghibur siang itu. sampai Jinki yang saat itu baru saja datang bingung melihat Minho yang duduk terdiam dan Jonghyun yang berusaha menahan tawa.

            “Ada apa ini?”. Jinki duduk di depan mereka.

            “Minho … dia baru saja dicampakan seorang yeoja.”, Jonghyun menjelaskan, Minho hanya melirik kesal dan sibuk dengan ponselnya.

            “Jinjja? Bagaimana bisa? Kau sudah tidak kharismatik lagi?”, ledek Jinki. Kali ini Minho hanya mendengus.

            “Ani …. dia mencoba basa basi dengan seorang yeoja untuk minta nomer teleponnya, namun dicampakan begitu saja, bahkan dilempar tisu.”, Jonghyun tidak sanggup lagi, the greatest Choi Minho harus menelan kecewa karena ia ditolak mentah-mentah. Ia akui Minho paling tampan di bandnya dan semua yeoja menginginkannya, jadi hal seperti itu sangat langka.

            “Waw, aku tidak tahu kalau kau tertarik dengan hal spontan begitu?”, tanya Jinki.

            “Semua karena dia.”, Minho menunjuk Jonghyun dengan dagunya, “Dia memintaku untuk bertanya pada orang asing di halte, lalu kelanjutan ceritanya persis seperti tadi dia bilang…”

            “Taruhan? Hahaha … konyol sekali. Lalu, kalau kau berhasil bagaimana? Mau kau campakan begitu saja?.”, tanya Jinki. “Tunggu, tapi kau kan—“ Jinki terdiam ketika melihat Minho menatapnya, sontak Jinki mengatupkan bibirnya.

            “Dia kenapa Hyung?”, tanya Jonghyun.

            “Ani.”, Jinki hanya tertawa, “Ah, ngomong-ngomong, aku kesini ingin memberitahu kalian bahwa kita diundang untuk manggung sabtu ini di club Nine. Kalian bisa?”

            “Sabtu ini?”, tanya Jonghyun, “Call!. Kau Minho, bagaimana?”

            “Sepertinya bisa, aku tidak ada jadwal sepak bola akhir minggu ini.”

            “Oke, kalau begitu kita kumpul di basecamp jam 7.”, ucap Jinki.

*

*

            Entah mengapa Minho jadi penasaran dengan yeoja yang ia temui di halte bus itu, pernah kedua kalinya ia melihat yeoja itu duduk disana ketika Minho pulang dari latihan sepak bola. Hari itu sudah pukul 8 malam dan ia masih duduk disana sepertinya menunggu bus datang.

            Sejujurnya Minho sedikit khawatir, kenapa ia masih dilingkungan kampus padahal sudah agak malam, disana sepi dan tidak ada orang, hanya ia sendiri duduk disana meski cafe didepan halte dan sekitar kampus ramai. Minho ingin turun dari motornya dan menyapanya, namun mengingat kejadian waktu itu, ia ingat bahwa ia bukan siapa-siapa dan ia adalah orang asing.

            Namun, Minho sama sekali tidak pernah melihat yeoja itu dikampus. Well, jelas, kampusnya besar, ada sekitar 20 jurusan disana dan 10 fakultas. Tidak mungkin ia bisa bertemu dengan yeoja itu dikampus sebesar itu dan mahasiswi yang banyak.

            Hari itu, ia tidak percaya bahwa untuk ketiga kalinya ia bertemu secara tidak sengaja dengannya, yeoja yang diam-diam menarik perhatiannya, entah mengapa tatapan mata itu tidak bisa hilang begitu saja dari benaknya. Penasaran? Mungkin itu ungkapan yang cocok.

Hari itu dengan tidak sengaja ia melewati teater hall, jaraknya memang berdekatan dengan lapangan bola dan bassball, jika ingin ke loby depan ia harus memutar jalan, dan hall teater adalah pilihan paling tepat untuk memotong jalan.

Tidak sengaja ia mendengar alunan musik klasik dari dentingan piano dari dalam hall. Jam sudah menujukan pukul 7 malam, ia penasaran siapa yang memainkan piano dengan alunan merdu seperti itu?. Tanpa pikir panjang dan tidak ada rasa takut, ia berbelok menuju kesumber suara.

Sungguh diluar dugaan, ketika ia mengintip dari jendela yang ada dipintu, disana ia bisa melihat dengan jelas seorang yang tidak asing meski ia hanya lihat satu kali.

Yeoja yang sama duduk didepan piano memainkan jari mungilnya di tuts piano. Wajahnya yang penuh konsentrasi membuat Minho terpaku, ditambah sinar lampu yang menyorot ke arah wajahnya, saat itu Minho tidak bisa melepaskan tatapannya begitu saja.

Sampai lagu habis Minho masih saja berdiri disana dan menatap yeoja itu menarik nafas dan tersenyum puas menatap piano didepannya. Bagaimana seseorang bisa begitu cantik hanya dengan memainkan sebuah piano?. Senyum terkembang di pipinya ketika yeoja itu menarik kunciran rambutnya dan membiarkan helaian rambut jatuh kepundaknya, sebelum ia meraih rambut itu lagi dan menguncirnya asal-asalan.

            “Hei.”

Minho terkejut ketika seseorang menegurnya dari belakang, jantungnya hampir saja copot. Ia melihat seorang namja berdiri disana dengan tatapan selidik padanya.

            “Kau.. siapa? Sedang apa berdiri disini?”, tanyanya, Minho melihat ke arah ruangan lagi, namun yeoja itu sudah tidak ditempatnya. Minho jadi serba salah karena tidak ada alasan.

            “Ah, aku hanya sekedar lewat saja…”, Minho kemudian pergi begitu saja dan tidak berkata apapun. Namun ketika ia ingin keluar ia mendengar sebuah suara dibelakangnya, suara yang hanya sekali ia dengar namun ia tahu itu adalah dia.

Oh, mungkin yeoja itu sudah memiliki pacar, mungkin barusan itu pacarnya.

Untuk kali itu Minho merasa patah hati sebelum memulai.

*

*

            “Taemin.”, ucap Jonghyun.

            “Hah?”, Minho menatap Jonghyun aneh ketika namja itu tiba-tiba mengucap nama lain didepannya tiba-tiba. “Apa?”

Jonghyun berdecak dan duduk di kursi depan Minho. “Yeoja –yang waktu itu di halte bus, namanya Taemin.”, ucap Jonghyun. Minho mengerutkan alis. “Arraso arraso … namanya seperti seorang namja kan? Aku juga sempat heran, tapi aku yakin namanya Taemin.”, angguk Jonghyun.

            “Kau tahu dari mana? Dan kenapa kau beritahu aku soal siapa namanya?”,

            “Ck, kau tidak perlu bilang aku juga tahu kau ingin tahu namanya, aku bisa lihat kau belakangan ini seperti mati penasaran dengannya.”

Minho mendadak diam, sial, apa terlihat sekali?

            “Lagipula, dengan tidak sengaja aku berpapasan dengan dia di hall teater siang ini, dan seorang namja berteriak kencang sekali memanggil Taemin ditelinga ku. Saat menoleh aku lihat namja itu memanggil yeoja yang sama yang kita lihat dihalte bus.”, ucap Jonghyun. “Aku yakin 100% itu yeoja yang sama, namanya Taemin.”, angguknya mantab.

            Minho mengerutkan alis, “Tunggu, apa namja yang kau temui itu berambut coklat dengan mata seperti kucing? Agak sinis?”, tanya Minho.

            “Ah, ya ya benar … kau tahu?”

            “Ani, aku sempat bertemu juga dengannya di tempat yang sama.”

            “Jeongmal? Dengan Taemin juga?”

            “Iya, kemarin. Aku rasa dia pacarnya.”

            “Oh, mungkin saja… soalnya saat yeoja itu menoleh, namja itu langsung merangkulnya dan terlihat mesra.”

            “Hmm…”, hanya itu yang keluar dari mulut Minho. Jonghyun yang melihat sahabatnya diam langsung menyadari bahwa ia telah membuat sahabatnya itu kecewa.

            “Mianhe … tapi, mungkin saja bukan pacarnya, ya kan?”

            “Apa maksudmu, kalau iya juga apa urusannya denganku?”, tanya Minho terkekeh, namun, Jonghyun sebagai sahabat nya selama ini tahu persis bahwa ada nada suara kecewa yang keluar dari mulut Minho. Namun untuk menghindari salah paham, Jonghyun tidak berkata apapun lagi.

*

*

            Malam itu pertunjukan mereka berjalan mulus, sambutan pengunjung yang datang begitu meriah. Ia bisa merasakan panasnya ruangan dan juga antuasias para pengunjung club.

            Minho turun dari panggung, menggendong tas stick drumnya dan berhigh five dengan Jonghyun dan Jinki. Sebelum mereka menuju ke bar untuk meneguk minuman, alunan musik terus mengalun, bergantian dengan DJ yang baru saja memulai acara malam.

            “Aku mau kebelakang sebentar.”, ucap Minho seusai meneguk cocktailnya, meninggalkan Jinki dan Jonghyun yang asik menikmati minuman dan juga musik. Minho butuh udara segar, nafasnya masih tersengal karena menabuh drum.

Ia berjalan ke bagian belakang club dan menyapa beberapa pengunjung, serta beberapa yeoja yang menyapanya untuk mengajak ia bergabung dan minum bersama. Namun minho menolaknya dengan lembut dan tersenyum. Ia sedang tidak mau diganggu, namun ia tidak mau juga jadi orang brengsek yang tidak menolak secara baik-baik.

            “Lepaskan!”,

Minho melirik ke arah kanannya, tidak jauh darinya ada seseorang dan satu orang namja yang sepertinya sedang bertengkar. Salah satu diantaranya mencoba menarik tangannya dari genggaman namja didepannya. Ah, perkelahian pasangan diclub, sudah biasa.

Ia memilih untuk tidak perduli dan mencoba cari tempat lain.

            PLAK

Minho menoleh, ia terkejut mendengar suara pukulan. Ia mempertegas pandangannya dan seorang yang tadi tangannya dipegang itu memegang pipinya. Terjadi kekerasan! Minho tidak bisa diam untuk masalah ini. Ia menoleh ke arah pintu masuk, tidak ada security yang bisa ia minta bantuan. Perkelahian dan adu mulut masih terdengar.

Saat ia lihat dengan seksama, orang yang ditampar itu adalah seorang yeoja. Tidak ada yang boleh memukul perempuan!. Untuk ini Minho tidak berpikir panjang, ia menggerakan kakinya menghampiri dua manusia yang masih saling memaki dan ketika namja yang tempramen itu mencoba memukul, dengan sigap Minho menangkap tangannya dari belakang.

            “YAH!”, pekiknya pada Minho. Minho yang memiliki keunggulan berbadan tinggi menatapnya sinis, “Siapa kau? Lepaskan aku!”, masih emosi namja itu berusaha menepis tangan Minho, namun ia pegang erat lengan namja itu sampai ia meringis.

            “Tidak mau, aku akan lepaskan sebelum kau hentikan sikap kasarmu.”,

            “Jangan ikut campur!”

            “Aku berhak ikut campur kalau kau pukul perempuan.”, jawab Minho santai.

Namja didepannya itu memutar matanya dan menatap Minho kesal, ia terkekeh dengan sombong dan mendengus. “Perempuan? Kau buta yah?”, sepertinya ia pernah dengar ucapan itu… dimana yah?

            “Kau lihat? Berhenti berpenampilan seperti ini, kau bisa terus-terusan dikira perempuan, menjijikan sekali.”. ucap namja itu memaki orang yang sedari tadi berdiri di belakang Minho.

Minho mengerutkan alis dan menoleh, ia tercengang ketika yang ia lihat adalah yeoja yang ia temui di halte bus. Tidak salah lagi, ia orang yang sama, hanya saja beberapa helai rambutnya menjuntai dipundaknya. Tunggu, namja katanya?

Minho melihat ke arah namja didepannya lagi dan kembali ke yeoja itu dibelakangnya.

            “Kalau aku berpenampilan begini, apa urusanmu? Kau suka padaku?”, tanya yeoja itu pada namja didepan Minho, namja itu memandang yeoja didepannya seperti ingin muntah. Minho bisa lihat dengan jelas.

            “Apa? Yah, kau tahu, kau yang menggodaku duluan, kalau sedari awal kau katakan dengan jujur kau ini namja, aku tidak akan capek-capek mengikuti semua kemauanmu… kau ini sakit atau apa? Bertingkahlah seperti namja jika kau namja..”

            “Hei.”, Minho melerai namja itu dan mendorong dadanya menjauh, ia tidak suka dengan seseorang yang bicara seenaknya. “Kau bisa sopan sedikit tidak? Jaga bicaramu.”,

Namja itu hanya menepis lengan Minho dan mendengus, “Jangan harap kita kenal lagi, bagus sekarang kau bisa mengincar pria ini.”, ucapnya sebelum pergi.

            “Pergi sana.”, ucap Minho.

            “Arraso, aku akan pergi. Tapi kau harus lihat dia ini namja—“

            “Pergi kubilang. Keluar dari sini sebelum aku panggil security.”, ucap Minho menunjuk pintu keluar, namja itu melirik kesal pada yeoja dibelakangnya dan pergi sebelum menggumam tidak jelas.

            “Kau tidak perlu melindungiku begitu.”, setelah diam beberapa detik Yeoja … ani, namja dibelakangnya bicara. Minho menoleh dan menatap namja itu menutupi rambutnya dengan hoodie nya.

            “Gwencana?”, Minho reflek bertanya. Namja itu menatap Minho sejenak dan tersenyum.

            “Gwencana … terima kasih karena telah membelaku.”, ucapnya tersenyum singkat.

            “Ani, aku bertanya dengan bekas tamparan diwajahmu. Kau baik-baik saja?”, Minho menatap lekat namja didepannya. Namja atau yeoja, ia sepertinya tidak perduli lagi, karena nyatanya ia bertemu dengan orang yang sama yang selama ini membuat ia kepikiran.

Namja itu terdiam sesaat dan membalas tatapan Minho, sebelum ia tersenyum dan mengelus pipinya sendiri. “Gwencana, hanya sedikit perih.”, kekehnya.

Minho menarik nafas, “Kau yakin? Aku rasa bukan hanya pipimu saja, tapi .. hatimu juga?”,

Namja itu terkejut, “Ah, karena ucapan dia tadi?”, Minho mengangguk. “Dia tidak sepenuhnya salah juga, benar katanya, mungkin karena penampilanku dia jadi salah paham. Tapi kalau kau tadi tidak ada, aku juga pasti sudah patahkan tangannya karena berani-beraninya memukulku.”, ucapnya dingin.

Minho berdecak, “Lalu kenapa kau tidak lakukan?”

Namja itu memandang Minho sejenak, “Karena aku bilang itu bukan salahnya, salahnya adalah ia memukulku karena kecewa setelah cintanya kutolak karena ia pikir aku menolak nya selama ini karena aku tidak cinta padanya, tapi kecewa karena yang ia sukai adalah namja.”

            “Tapi apa perlu memukulmu?”

            “Ia sedang mabuk, itu saja.”

Minho kemudian terdiam dan juga namja itu, tidak tahu lagi harus berkata apa. Ia bingung harus mengucapkan apa pada orang yang selama ini ia ingin temui lagi, ketika ketemu malah peristiwa begini dan selama ini ia juga sudah salah paham.

            “Kau juga selama ini salah paham kan?”,

Minho mendongak dan menatap namja itu yang memandangnya lembut, tunggu, apa namja itu ingat siapa Minho?

            “Makanya waktu itu aku bilang ‘kau buta’ karena sudah mengira aku yeoja.”

Minho yang mendengar itu langsung memalingkan wajahnya malu, “Mianhe…”

Namun, yang mengejutkan adalah namja didepannya itu tertawa. Ya, tertawa, itu membuat Minho melirik ke arahnya, namun yang membuat Minho bingung adalah jantung nya yang berdebar ketika mendengar suara tawa namja itu dan ekspresinya yang begitu manis. Deretan gigi susu dan gusi terlihat terkembang diwajahnya.

            “Gwencana, aku juga minta maaf telah melemparkan tisu padamu.”,

Minho terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Jadi, sekarang kita impas?”, tanya Minho.

            “Ya, impas.”, ucapnya.

            “Taemin. Ayo kita pulang.”, dari kejauhan ia bisa melihat namja yang sama yang pernah ia temui memanggil namja didepannya.

            “Ah, aku harus pergi, terima kasih sudah menolongku, sampai jumpa lagi…”, ucapnya, namun sebelum ia pergi Minho reflek menarik lengannya.

            “Tunggu!.”

            “Hm?”, Taemin, namja itu terkejut dan menatap Minho bingung.

            “Minho. Namaku Choi Minho”, ucap Minho gugup mengulurkan tangan. Namja didepannya itu memandang tangan Minho dan menyambutnya sambil tersenyum.

            “Taemin. Lee Taemin.” Ucapnya, “Sampai jumpa lagi, Minho.”, katanya sebelum pergi meninggalkan Minho yang masih terpaku disana, memandang punggung Taemin menjauh, tangannya yang habis berjabat dengan Taemin seketika ia taruh di kantongnya dan mengepal.

Kenapa jantungku berdebar?

*

*

            Sejak itu Minho selalu saja dengan sengaja melewati Hall teater hanya untuk bertemu dengan Taemin. Namun, ia tidak pernah lagi mendengar dentingan piano, ia yakin 100% namja itu yang memainkan melodi indah dengan jari-jarinya.

            Bahkan ia sesekali menoleh ke halte bus, berharap bahwa ia duduk disana dan mungkin, mungkin Minho bisa menyapanya, sekedar basa basi tidak masalah.

            “Jadi, kau sudah bertemu dengan Taemin lagi?”, tanya Jonghyun kali ini.

            Minho menoleh dan menarik nafas, kenapa sahabatnya ini suka sekali membuka pembicaraan secara tiba-tiba, topiknya ada-ada saja.

            “Ya, secara tidak sengaja saat kita di club.”

            “Jinjja? Lalu? Kau berhasil dapat nomer teleponnya? Daebak!”

            “Ani.”

            “He? Waeyoo? Dia menimpuk mu dengan apa lagi kali ini? Botol?”

            “Anio.”, bawel sekali Jonghyun ini…

            “Lalu kenapaaa?”

            “Haish.”, Minho berdecak, “Waktunya tidak tepat, saat aku bertemu dengannya dalam kondisi tidak memungkinkan.”

            “Kondisi seperti apa?”

Minho hanya diam saja. Kemudian ia menoleh pada Jonghyun dan sahabatnya itu menatapnya bingung. “Waeyooooo?”, rengek Jonghyun yang heran karena Minho hanya menatapnya saja.

            “Kau tidak tahu apapun tentang ku Jong…”, ucap Minho.

            “Apa sih?!”, bentak Jonghyun yang clueless.

            “Kau benar mengenai kenapa nama yeoja itu adalah Taemin.”

            “Baik, lalu?”

            “Ya makanya aku sedang bingung sekarang…”

            “Karena??”, Jonghyun semakin bingung dan gemas pada Minho yang tidak juga mengatakan dengan sejujurnya.

            “Karena Minho jatuh cinta dengan Taemin, dimana ia seorang namja.”, tiba-tiba Jinki yang sedari tadi duduk membaca buku membuka suara. “Ya kan, Minho?”, Jinki mendongak dan tersenyum. Minho memalingkan wajahnya, wajahnya memerah karena malu.

            “Oh jadi ..tunggu, APA?!!”, Jonghyun terbelalak dan menatap Minho tidak percaya, “Minho, jadi kau—tunggu, kau—oh my god!”, Jonghyun tidak tahu kalau sahabatnya itu out of closet(*).
(*Sebutan bagi laki-laki yang mengakui dirinya adalah seorang Gay)

            “Tapi percuma, sepertinya ia tidak tertarik padaku.”, ucap Minho. “Lagipula namja bermata feline itu pasti pacarnya.”,

            Jonghyun menarik nafas, ah, mungkinkah semua salahnya?

            “Bukan.”, Jonghyun dan Minho menoleh ke arah Jinki lagi. Jinki mendongak dan menatap mereka datar. “Namja yang bersamanya itu namanya Key, atau Kibum. Dia pacarku. Lalu, Taemin itu sepupuku.”, katanya lagi santai.

            1 detik.. 2 detik.. 3 detik…

            “MWOOOO?!!!!”, keduanya memekik kaget berteriak tidak percaya pada Jinki.

Singkat cerita, selama ini Jinki hanya tahu bahwa Jonghyun dan Minho melakukan taruhan. Ia tahu hanya mengenai meminta nomer telepon pada yeoja atau orang asing dihalte bus, sampai suatu saat sepupunya –Taemin, bercerita mengenai dirinya (lagi-lagi) dikira perempuan dan baru saja dimintai nomer telepon oleh orang asing di halte bus kampus nya.

Selain itu, Kibum, cerita bahwa salah satu anggota band nya yang bertubuh tinggi (karena ia tidak tahu namanya) pernah bertemu dengan nya di teater hall dan sedang berdiri tepat didepan ruangan dimana Taemin sedang berlatih piano.

Kesimpulannya, namja yang dibicarakan oleh Taemin dan Kibum adalah orang yang sama yaitu Minho. Lalu orang yang dibicarakan oleh Minho dan Jonghyun selama ini yang ia pikir adalah yeoja adalah Taemin –sepupunya.

*

*

            Akhirnya Minho hanya mendengarkan apa kata Jinki, ia mengatakan untuk mencoba jujur pada Taemin. Jika memang ia tertarik, mereka bisa mulai dengan pendekatan, mungkin mengajaknya kencan?. Meski akhirnya Jinki mengancamnya dengan ..

‘Kalau kau suka, kenapa tidak mencoba mengajaknya minum kopi? Tapi jangan sampai menyakiti hatinya kalau kau tidak mau meneruskannya. Ia sepupuku, kau bisa kupercaya kan, Choi?’

Sungguh, Minho tidak mau membayangkan murkanya Jinki jika ia macam-macam dengan sepupunya. Namja itu begitu menyeramkan bagi Minho, meski tenang dan banyak tersenyum, jika ia marah ia tidak tahu harus bersikap apa.

            Oleh karena itu, ia hanya memastikan bahwa Taemin juga ‘setidaknya’ memiliki perasaan yang sama padanya.

            Dengan bantuan Jinki dan Kibum, Minho memiliki waktu untuk bisa bertemu dengan Taemin. Ia diminta hanya datang ke Hall Teater jam 5 sore dan menunggu disana, entah apa rencana mereka berdua namun Minho percaya saja dan pergi kesana.

            Ketika sampai disana ia tidak menemukaN siapapun, hanya sebuah grand piano di atas panggung yang besar dan lampu sorot yang menyala. Ia berjalan menyusuri sisi panggung sambil sesekali melihat ke arah kursi teater, tidak ada siapapun, lalu mengapa ia kesini?

            Perlahan ia hampiri grand piano dan duduk didepannya, ia bayangkan jari jemari Taemin bermain diatas tuts piano itu saat kedua kalinya ia bertemu.

Ting …Ting …

            Ia tidak tahu caranya bermain piano, hanya drum yang ia bisa.

            “Maaf, itu tempatku.”,

Minho terkejut dan melihat Taemin berdiri di ujung panggung dengan menggendong tas ransel dan juga hoodie yang tertutup dikepalanya.

            “Ah, mian, kupikir tidak ada yang punya.”, jawab Minho berdiri.

Taemin berdecak dan menghampiri Minho lagi, ia menatap Minho sejenak dan menundukkan kepalanya. Kemudian ia duduk di bangku piano dan melepas hoodienya, rambutnya yang hanya dikuncir setengah itu terurai kepundaknya. Penampakan itu membuat jantung Minho berdegup, kenapa ia begitu cantik? Pikirnya.

            “Minho?”

            “Eh ya?”, shitt, Minho melamun, memalukan pasti, semoga Taemin tidak sadar bahwa Minho menatapnya cukup lama.

Taemin terkekeh, “Kenapa kau disini?”

            “Eh?”, matilah, ia tidak tahu harus bicara apa, alesan apa? Kenapa juga ia ada disini?. Ia menatap Taemin dan namja itu kembali menatapnya dengan tatapan polos, gemas sekali Minho melihatnya, tatapannya begitu membuat Minho gila, mata itu, aah … Minho tidak bisa menghilangkan dari pikirannya.

            “Aku ingin bertemu denganmu.”, spontan Minho menjawab seperti itu dan menatap Taemin lekat, mata yang sedang menatapnya itu terbelalak, kemudian memalingkan pandangannya ke piano didepannya, seperti piano itu sangat menarik baginya.

            “Kenapa?”, ia bertanya dengan suara pelan, tapi Minho masih bisa mendengarnya. Dengan nekat ia mendekat dan berdiri disamping piano dan lebih dekat padanya.

            “Entahlah, hanya ingin bertemu denganmu saja.”, ucap Minho, “Kali ini sungguhan untuk meminta nomer ponselmu.”, ucap Minho tersenyum sendiri.

            “Jadi waktu itu tidak sungguhan?”, tanyanya polos.

            “Waktu itu karena taruhan dengan temanku.”, jawab Minho serius.

            “Taruhan? Waw, Lalu salah orang karena aku namja?”

            “Iya.” Jawab Minho. “Aku minta maaf, aku tidak bermaksud mempermainkan siapapun sebelumnya.”

            Taemin menatap Minho lekat, “Lalu sekarang berubah pikiran?”

            “Tentu saja. Kalau tidak aku tidak disini.”

Taemin menundukkan kepalanya dan menelan ludah, “Tidak kecewa karena aku namja?”

            “Kau tidak kecewa jika aku tahu kau namja dan aku tidak disini menanyakan nomer mu?”

Taemin mengerutkan alis, tidak percaya Minho begitu nekat. “Kau sadarkan apa yang kau katakan saat ini?”,

            “100%”, Minho tersenyum. “Jadi? Boleh kan?”, tanya lagi kali ini bersandar dipiano dan masih menatapnya. Cantik sekali –pikirnya.

Taemin hanya berdecak. “Hanya itu?”, tanya Taemin memainkan jarinya di atas piano,

            “Hm, kalau boleh mendengarkan kau bermain piano juga.”

            Taemin terkekeh lagi, nafas Minho seperti tercekat dikerongkongan, karena wajah Taemin yang tertawa baru kali ini bisa ia nikmati, mata nya berbentuk bulan sabit, pipi nya terangkat dan terlihat chubby, hdungnya yang bangir naik ke atas dan terlihat imut sekali.

            “Kau sedang mendengarkannya sekarang kan?”, ya, Taemin memang sedang memainkan piano didepannya.

            “Kalau boleh sehabis ini kita bisa minum coffee di cafe depan kampus.”, ucap Minho.

Taemin berhenti dan menatap Minho sambil mengerutkan alisnya. Minho tersenyum dan menaikkan alisnya juga pertanda bertanya pendapatnya.

            “Kau gigih juga yah?”

            “Aku tidak pantang menyerah.”

Taemin menggelengkan kepalanya dan mengambil tasnya, kemudian melewati Minho begitu saja tanpa ucapan apapun. Minho yang bingung hanya menatap punggungnya yang menuju pintu keluar teater. Ah, dia ditolak lagi?

            “Kalau malam minggu nanti saja bisa?”, tanya Taemin.

Minho terbelalak dan tersenyum lebar, “Jadi kita kencan begitu maksudmu?”, tanya Minho terkekeh.

            “Terserah kau sebut apa. Kalau begitu sampai jumpa malam minggu, aku tunggu dirumah jam 7.”, kemudian Taemin keluar dari ruangan.

Minho mengepalkan tinjunya keatas dan berseru ‘Yess’, sebelum ia setelah itu menyadari ia tidak tahu rumah Taemin.

*

*

Beberapa bulan kemudian…

 

            Minho masuk kedalam kelas dengan senyum terkembang setelah menerima pesan diponselnya dari Taemin. Ia tersenyum ketika melihat pesan Line diponselnya dengan sebuah foto wajah Taemin yang ia kirimkan pagi itu.

Taeminnie : Good Morning, lihat apa yang kulakukan. 07.45

Taeminnie : Image result 07.46

            Minho terbelalak ketika melihat foto Taemin dilayar ponselnya, namja itu berdecak dan tersenyum lebar layaknya idiot. Taemin memberikan kejutan dengan memotong rambutnya, meski ia sudah tidak berambut panjang lagi dan berwarna coklat, namun dia yang saat ini tidak membuat Minho merubah pikirannya untuk tidak terus menyukainya. Jonghyun yang melihat itu membuatnya jijik. Memang jika orang sedang jatuh cinta akan berbeda sekali.

            Minho tidak percaya bahwa hubungannya dengan Taemin berjalan begitu saja, pertemuan kelima mereka saat malam minggu itu merubah segalanya. Taemin dan Minho tidak ada rasa canggung lagi, mereka sudah kencan selama 2 bulan sekarang. Kedekatan mereka cukup jauh, awalnya hanya kencan dicafe, kemudian nonton bioskop, dan makan direstauran.

            Ciuman pertama mereka bahkan terjadi diminggu kedua mereka kencan, Minho yang berinisiatif ketika mereka pulang dari menonton pertunjukan piano Taemin. Saat itu Minho mengantarnya pulang dengan mobilnya, ia memuji penampilan Taemin yang luar biasa, entah mengapa malam itu Taemin begitu mempesona dimatanya. Tanpa pikir panjang Minho menarik nya dan mencium bibirnya sebelum namja itu keluar dari dalam mobil. Takut karena Taemin salah paham, ia meminta maaf, namun diluar dugaan namja itu menarik leher Minho dan berkata ‘Curang, kau menciumku tiba-tiba, aku tidak boleh menciummu juga?’. Dengan senang hati Minho menarik wajah Taemin dan menciumnya lagi tanpa diminta.

            Setelah itu hubungan mereka berjalan lancar, jika mengingat itu ia akan tersenyum melihat Taemin dan namja itu akan memukul lengannya karena memintanya untuk berhenti memandangnya. Seluruh kampus sudah tahu bahwa Choi Minho, salah satu pentolan band SHINee memiliki kekasih, statusnya tidak dijadikan masalah, namja atau yeoja –tetap saja membuat para fansnya patah hati.

            Minho terkadang pulang dengan bis hanya untuk bersama Taemin, mampir ke Hall Teater setelah latihan bola hanya untuk melihat Taemin bermain piano, menonton pertunjukan musik klasik hanya karena Taemin melakukan pertunjukan -meski aliran musik nya bukanlah klasik, menjemput Taemin dari kerja sambilan sebagai guru disekolah musik –biasanya ia hanya berjalan kaki atau naik bis, agar ia bisa bergandengan tangan dengan Taemin dan menikmati indahnya langit malam.

            Mereka juga sudah saling mengenal keluarga masing-masing, Umma nya sangat senang melihat Taemin –meski awalnya mengira bahwa Taemin adalah yeoja. Keluarga sempat terkejut karena yang mereka tahu Minho suka dengan namja.

            Minho juga sudah boleh menginap dirumah Taemin, menghabiskan waktu bersama, duduk menonton video maraton dan bermesraan sampai tertidur disofa.

            “Minho.”

            “Hm. Kenapa Jong?”

            “Aku tahu kau sedang bahagia…”

            “Lalu?”

            “Tapi setidaknya kau bisa menutupi kissmarkmu.”

Minho terbelalak dan menatap Jonghyun dengan matanya yang besar. Jonghyun dan seisi kelas menatapnya, ani, menatap lehernya.

            “Ya, dibagian ini, jelasss sekali, ungu.”, ucap Jonghyun sambil menunjuk bagian leher kanannya sendiri.

            Minho tidak dalam seumur hidupnya merasakan malu yang sangat amat mendalam. Sontak ia menaikan kerahnya dan membuang mukanya. Seisi kelas hanya bisa menahan tawa menatapnya.


Halo, jumpa lagi dan lagi … hahaha , banyak yang tanya apa Adminthor bener-bener comeback? Jawabanya nggak juga… Kebetulan lagi ada ide dan nggak ada kerjaan aja dikantor/Slap. Jadi dari pada ide sayang kebuang tulis aja macem Journal hahaha…

Thank you yang lagi-lagi mampir dan klik link FF nya di FB atau Twitter, makasih udah baca dan makasih yang juga sampai ninggalin komen.

Semoga FF ini bisa mengobati rindu FF 2min kalian yah.. hahaha. Sampai jumpa lagi di FF berikut (yang entah kapan lagi)

Love you,
@twominyeah / Vittwomincentris

 

22 thoughts on “[2min/OneShoot] Can I get Your Number?

  1. hahahaha…
    minho..minho…
    kreenn ffnya kreeennn…
    minho gigih bgt yah dketin taemin…
    minho sking snang.a loa dah tuh tutup bgian lher.a…
    msih kurang 2min.a in…
    tp kren kok…
    hehehhehe

  2. Astaga… aku baru tau noona keluarin ff… ya salam… ini imut sekali sich…. duch… gag ngerti mau ngomong apa… pengen tak telen aja 2min ini…. mungkin ini pengaruh MV tadi pagi…
    Kecup cintah buat noona dan 2min😚

  3. ASVSSJSKSNDNDKL SUKAAAAAAAAAAAA♡♡♡♡♡♡♡♡ manis banget ceritanya sampe senyum2 sendiri wkwkwk apalagi pernyataannya Jinki yg ternyata taemin sepupunya sendiri wahahah.

    sukaaaaa mau lagiiiii sequel atau apapun lanjutannya iniiiii

  4. Aaiihhhh~~~~
    Cuma 1 pertanyaan aku,,,
    Yaitu,,,,,, KENAPA 2MIN SELALU MANISSSS??? BIKIN DIABETES AJAA~~ 😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚
    Hhooaaa~~~ udah lama nggak update nee~~ :”33333 Khukhukhu
    Khekhekhe,,, jadi,, minho yang dibawah?? Hahahaa,,, atau taeminnya yang ‘liar’ ??? :”333333

  5. woahhh sudah lama banget rasanya gak mampir ke sini untuk bc ff. jd kangen sm ff keren para author di sini… hahhh masa dimana ff keren dgn cast couple kesayangan macam 2min dan onkey, yg dulunya bertaburan sekarang udah gak ad lgT.T jd pindah haluan bc cerita di wattpad tp teteup yaoi juga #lahkokmalahcurhat yg pasti ini keren, mengobati rasa rindu yg bleberan nyeseknya #eaaaa

    • Hahahaha, sama, admin juga suka baca FF diluar tapi di AFF sih *gantiancurhat*
      Seperti dibilang, Authornya sudah pada sibuk sm kehidupan masing-masing, hehehe… seiring tambah usia soalnya dan tanggung jawab lain hehehe

  6. Huhu imut banget ff nya aku g kuaaaaaaaat…….. G tau pokoknya ff nya bikin senyum senyum sendiri….

  7. Kirain bakalan—> Heh. Apa kau buta?! (Lalu taemin membuka celananya) //bukaaaann
    Wkwkwkwk aduuhhh si cantik kesayangan…..ntah knapa gw bayanginnya yg di yellow ribbon hihihi *cium taemin ahh
    Gw kira onew bakal ngomong ‘oh…taemin itu adek gue.’ ga kebayang gimana reaksi minho selama ini udh temenan lama ama onew baru tau onew punya anak perawan kan 😂😂

    Gw suka jong di sini…entah knapa bego oon nya kaya jong beneran wkwkwk
    Si taem hebat jg bisa bikin kissmark. Woogghh *standing applause*
    Mau jg dong taem…..huhuhu *langsung baper*

  8. Hhmmmm sudah ku duga kenapa Taemin bilang “kau buta ya?” Lmao 😂😂😂
    Pertamanya sempet bingung gegara pernyataan Taemin, sempet kaget jg gegara ngira ini trasgender. Tapi ternyataaaaaaa 😂😂😂😂😂 duuuuhhhh gakuku deehhh,, nae keroro berdugeun” ria ini 😍😍 ihiiiiyyy

    Kak sanniiiiiieewwww ini kurang panjaaaaaaannngggg tapinyaaaaaaaaaaa!!
    Jaman pacarannya panjangin dooonnnggg duuuuhhh 😭😭😭
    Gausah disini deh. ntar aja di sequelnya 😝😜 hahahahahaha
    Ditunggu kambeknya kaakk 😘

    Ah iya, request ff based on TMWTD MV dong yaa 😍😍😘😘😘😘😘😘 ㅋㅋㅋㅋㅋ

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s