2Min-Damaged [Warm Hugs & 2nd Kisses]


Damaged – Original Story by Ichigosama (Nikki)
Translation all right reserved by Twominyeah

<< Part 7

WARNING!!!
VIOLENCE, CHILD ABUSE, LANGUANGE, DEATH.

Warm Hugs and New Baby Brothers | Banana Milk and Second Kisses

Taemin memandang anak kecil didepannya dengan tatapan kosong, wajahnya begitu tenang dari segala emosi.

Setelah ia mengetahui bahwa balita yang wanita itu antarkan ke apartemennya sebenarnya adalah adik tirinya, semua emosi rasanya seperti menghantamnya dengan perasaan yang campur aduk. Appa nya juga rasanya hampir kehabisan kesabaran, tapi ia melampiaskannya kepada Taemin, yang dimana menamparnya beberapa kali untuk ‘menjadi anak sialan yang mudah tertipu dan menerima bajingan itu’ di apartemen mereka. Taemin tidak keberatan atas rasa sakit itu. Karena dia terlalu terkejut bahwa anak kecil ini, seseorang yang tidak pernah ia lihat atau dengar sebelumnya, berbagi darah yang sama sepertinya.

Ia punya seorang adik. Selama 3 tahun, ia memiliki seorang adik dan ia baru saja mengetahuinya sekarang. Itu pantas kenapa ia begitu terkejut.

Appa nya berteriak kepada mereka berdua dan tidak ingin melakukan apapun untuk anak ini, jadi ia sebagai yang tertua menanggung semua masalah ini sendiri.

Taemin tidak tahu lagi kemana ia harus pergi. Bibi nya tinggal begitu jauh dan lagipula ia tidak mempunyai uang untuk membeli tiket bis, jadi ia pergi ke satu-satunya orang yang dapat ia andalkan saat ini.

Minho begitu bingung ketika kekasihnya mengetuk pintu dengan seorang balita di gendongannya, tapi Taemin berjanji untuk menjelaskan semua pada nya setelah mereka masuk. Minho sangat baik membelikan popok, susu dan juga pakaian ganti untuk anak kecil ini. Nyonya Choi membantu juga dengan cara mencari semua baju masa kecil Minho.

Setelah Kai makan, mandi dan berganti pakaian, Taemin mengantarnya untuk tidur. Balita itu lelah karena tidak cukup istirahat di apartemen Appa nya, jadi untuk melakukan nya tidak begitu sulit. Taemin meletakkannya di kasur Minho dan balita itu langsung tertidur.

            “Jadi.”, Minho membuka suara, “Kau bisa mulai katakan padaku kenapa kau membawa balita itu kesini?”,

Taemin diam saja, hanya memandang anak yang wajahnya begitu mirip dengannya.

Minho sudah menduga bahwa namja yang baru saja dua hari menjadi kekasihnya ini akan membuat banyak kejutan namun bukan ini yang diharapkannya, dan sejujurnya ia kecewa. Namun, ia sangat lah egois jika berpikiran begitu; karena Taemin terlihat begitu lelah dan anak kecil yang dibawahnya juga terlihat sama. Tapi ia harapkan adalah kencan pertama mereka, bukan menjaga anak kecil.

Ditambah lagi, semua perasaan senang dari apa yang terjadi dengan Minho hari kemarin sudah lenyap dari ingatan Taemin. Bahkan itu seperti tidak pernah terjadi. Seperti sebuah hal membahagiakan direbut secara paksa dari tangannya bahkan sebelum ia bisa menikmatinya, dan berubah menjadi sebuah masalah. Taemin merasa jahat memanggil Kai sebagai masalah, tapi begitulah kenyataannya. Kenapa wanita itu meninggalkan Kai dengannya dan bagaimana ia bisa menghidupi seorang balita sedangkan dia sendiri tidak bisa menghidupi dirinya sendiri? dan ia sangat tahu bahwa Appa nya tidak mau tahu apa yang terjadi kepada mereka, jadi Appa nya menjaga Kai adalah sebuah sangsi besar.

Wanita itu … ia adalah salah satu wanita yang tidur dengan Appa nya, Taemin menduga. Dan Kai lah buah dari semua itu. Apakah Appa nya sudah menyembunyikan ini darinya? Selama tiga tahun? Taemin lebih menghargai sebuah pengakuan, seperti; “Hey, nak, aku membuat seseorang hamil, dan kau memiliki adik!”, itu akan lebih menolong dari pada menemukan kenyataan yang sebenarnya selama hampir tiga tahun.

Taemin rasanya ingin menangis. Dia merasa sangat bingung, rapuh dan merasa lelah. Ia sudah merasa di khianati lebih dari sekali dan ia harus terbiasa dengan itu tapi itu tidak membuat ia tidak lari kepelukan Minho dan menangis sejadinya hari itu. Sebuah pelukan erat dari namja tinggi itu saja cukup membuat ia merasa baikan. Minho memeluknya sementara air mata terus menerus jatuh di pipi Taemin entah berapa lama.

            “Mianhe.” Taemin merintih, melepas pelukannya sejenak dari Minho setelah menangis beberapa lama.

            “Gwencana.”, kata Minho. Sekarang ia menjadi sangat penasaran siapa anak kecil ini dan apa yang sebenarnya terjadi pada kekasihnya. “Kau masih belum menjawab pertanyaanku, Taemin ah. Siapa dia?”, tanyanya penasaran, melihat kepada balita yang sedang tertidur.

            “Dia … dia-adalah adikku.”, kata Taemin, meskipun ia akui begitu sulit mengatakannya. Apa yang bisa diharapkan darinya? Ia bahkan tidak mengenal balita itu dalam waktu sehari, tapi bagaimana bisa ia menyalahkan keberadaan Kai?

            “Oh.”, hanya itu reaksi Minho. Ia masih bingung.

            “Lalu, kenapa kau menangis?”, tanya Minho, tangannya menghapus sisa air mata di wajah namja pirang itu.

            “Aku tidak tahu bahwa sebenarnya mempunyai seorang adik.”, Taemin menjawab tanpa ada emosi di nada suaranya, “Well, sebenarnya, dia adalah adik tiriku.”

Minho tidak tahu harus bereaksi seperti apa, jadi ia hanya bergumam. Beberapa menit berlalu dalam kesunyian hanya keduanya menatap wajah Kai yang tertidur.

Minho tidak tahu harus bersikap gimana, atau apa hal yang tepat ia katakan pada situasi seperti ini. Jadi ia hanya mengatakan, “Aku akan selalu ada untukmu, kau tahu itu.”,

Disamping situasi seperti itu, sebuah senyum tersungging di wajah Taemin, “Terima kasih Minho shi.”, katanya lembut dan menyandarkan kepalanya di bahu namja itu. sejak kapan ia berubah menjadi sangat manja? Taemin menduga ia hanya butuh sebuah sandaran, dan seperti punya indra keenam, Minho merangkul Taemin, membawanya kepelukannya dan menariknya lebih dekat sampai ia hampir duduk di paha Minho.

Disisi lain, Taemin akan histeris karena kedekatan mereka. Tapi ia hanya butuh sebuah kehangatan; sesuatu yang mengingatkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Minho mengingatnya sebagai sebuah keharusan lain kali.

            “Taemin.”, mulainya, “apa kau tidak keberatan menceritakan padaku tentang keluargamu? Aku tidak bermaksud ikut campur atau apapun, tapi ini semua membuatku bingung.”, semua itu benar, Minho tidak tahu apapun tentang keluarga Taemin. Ia bahkan tidak tahu jika kekasihnya mempunyai orang tua. Dan saat itu, Minho menyadari ia hanya tahu beberapa hal tentang Taemin. Tentu saja, disamping dari sikap nya dan hal lain, tetapi latar belakang dan hal lainnya juga penting.

Taemin menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab. Ia bahkan tidak ragu mengatakan pada Minho karena ia mempercayainya sebagai seseorang yang bisa menjaga rahasia. Sejauh ini, ia bisa menjaga rahasia dari luka dan memar yang ia punya ya kan?.

            “Ummaku meninggalkanku ketika aku kecil.”, mulai nya, “saat ini hanya aku dan Appa. Aku pikir ia punya hubungan dengan Umma Kai sebelumnya, aku tidak yakin. Mungkin hanya sebuah one night stand atau perselingkuhan … yang aku tahu dari hubungan mereka adalah mereka membawa seorang adik tiri untukku.”, tentu saja ia melewatkan bagian tentang mabuk-mabukan dan juga pemukulan.

Minho mengangguk mengerti, “Tapi … kenapa ia baru saja muncul sekarang?”

Minho merasa Taemin menggelengkan kepalanya dipundaknya. “Aku tidak tahu. Umma nya hanya mengantarnya kemarin, mengatakan bahwa Appa setuju menjaganya untuk beberapa jam. Kemudian ia menjelaskan semuanya padaku, saat itu lah aku mengetahui bahwa aku punya adik tiri.”, jelasnya, “oleh karena itu aku membawanya kesini. Appa sedang kerja dan aku tidak kenal siapapun yang bisa menjaganya.”, ‘aku juga tidak ingin ia terluka saat dirumah.’

            “Jadi, Appa mu tidak menerima nya sebagai anaknya?”, tanya Minho.

            “Aku rasa begitu.”

Minho tidak tahu apa yang dapat ia perbuat. Ketika pertama ia bertemu Appa Taemin, ia berpikir bahwa ia orang yang cukup disegani; pria dengan fisik yang gagah dan juga wajah yang bersih dari jenggot atau kumis. Meskipun wajahnya terlihat agak kasar, Minho berpikir bahwa Taemin memiliki seorang Appa yang baik. Ia tidak yakin apa yang ia pikirkan tentang Appa nya sekarang, namun Minho tidak mau menuduhnya. Siapa tahu? Mungkin pria itu hanya terkejut. Tapi akhirnya, itu sebuah pertanyaan yang jauh dari moral waras Minho untuk meninggalkan seorang balita tanpa memastikan apakah ia punya baju ganti dan lain-lain.

            “Taemin ah, kau tahu kalian berdua bisa tinggal disini selama yang kalian mau.”, Minho menawarkan dengan sangat baik hati.

            Taemin menarik nafas, “Aku tidak tahu Minho. Appa akan khawatir.”, katanya, meskipun ia sangat khawatir pada sang bayi ini; bagaimana jika mereka kembali dan ketika Appa nya mabuk dan menyakiti Kai? Taemin tidak akan tahu apa yang harus dilakukan nanti.

Ia berencana meninggalkan Kai di kediaman Choi, namun langsung menyingkirkan pemikiran itu.  Ia tidak ingin membebani keluarga Miinho dengan semua masalahnya. Dan meski jika Appa nya mencoba melakukan sesuatu, Taemin sudah bersumpah bahwa ia akan melindungi anak itu, meski sebuah pisau sekalipun.

Jadi, setelah Kai tertidur selama dua jam dan makan lagi, Taemin menggendongnya dan mengucapkan sampai jumpa pada keluarga Choi.

            “Jaga dirimu, Taemin ah.”, kata Minho, mencium pipi namja itu, “kau yakin kau tidak mau aku antar?”,

Taemin tersipu malu karena ciuman itu, “Tidak, kau sudah lakukan banyak hal. Terima kasih atas semuanya, Minho. Aku pastikan akan jaga diri kami berdua.”, ia berkata sebelum meninggalkan kediaman Choi. Kai berbicara padanya seraya mereka kembali ke tengah kota menuju apartemen mereka. Taemin masih belum bisa mengerti apa yang dikatakan balita itu. sekali lagi, anak itu sudah berumur tiga tahun.

            “Appa dimana?”, tanyanya. Masih tidak bisa dipercaya bahwa mereka memiliki Appa yang sama.

            “Uh … Appa masih belum pulang ke rumah.”, jawabnya.

            “Umma dimana?”,

Taemin tidak tahu jika Umma balita ini akan kembali lagi atau tidak sama sekali. Tas besar yang dibawanya mendadak jadi masuk akal sekarang, ia telah pergi dan ia tidak membawa anaknya bersamanya. Tentu saja, Taemin tidak akan katakan itu pada balita berumur 3 tahun tersebut, “Dia pergi untuk sementara.”, jawabnya lembut.

Balita itu cemberut sebentar, kemudian mengeluarkan pertanyaan lain, “Apa kamu Taeminnie?”, Kai bertanya lagi dengan mata besarnya, menatapnya penasaran.

            “Ya.”

            “Taeminnie … Hyung Kai?”, Kai bertanya semangat, kini matanya berbinar.

Taemin tersenyum melihat kelucuannya, “Aku rasa begitu.”

Anak itu girang dan melingkarkan kedua tangannya dileher Taemin. Dan hanya seperti itu; sebuah bebas yang ada di pundak Taemin terangkat semua.

            “Taeminnie Hyung!”, Kai berucap semangat.

            “Yep, Aku Hyung mu…”, Taemin terkekeh.

Ia menemukan itu luar biasa bagaimana sebuah percakapan sederhana bisa membuat dunia nya seperti dibalik 180 derajat. Tiba-tiba, hidup tidak selamanya kejam seperti 10 menit yang lalu. Tiba-tiba, pikiran untuk menjaga adik tirinya menjadi tidak menyusahkan seperti sebelumnya. Taemin tidak berpikir bahwa Kai adalah sebuah masalah lagi. Bahkan, ia merasa bahwa balita itu sebuah keajaiban baginya; sesuatu selain Minho untuk membuatnya terus bertahan. Sesuatu yang membuktikan bahwa ia berhak ada didunia ini.

Dan ia langsung tahu bahwa Kai ada bersamanya karena ada sebuah alasan dibalik itu semua; ia harus melindungi adiknya sebisa apapun. Meskipun jika ia harus membesarkannya sendiri, Taemin bahkan tidak memikirkan beban yang berat yang akan menimpanya. Secara tiba-tiba, naluri untuk melindunginya ada pada nya dan ia tiba-tiba merasa tidak ada yang boleh menyentuh anak itu.

Lagipula, mereka masih satu darah kan?

            “Taeminnie hyung!”

Dan saat anak itu memanggil nya seperti itu, hasrat dalam diri Taemin untuk terus melindunginya menjadi semakin besar.

Ini adalah adiknya … dan mereka tidak punya siapa-siapa selain mereka berdua.

‘Kau tidak seharusnya dilahirkan. Aku tahu bahwa kau adalah kesalahan terbesar dari sejak awal!’

*

*

Taemin tidak tahu artinya menjaga anak kecil berumur tiga tahun. Ia tidak tahu caranya mengganti popok, tidak tahu cara memandikannya, apa yang ia makan, kapan saatnya makan, bagaimana cara agar ia bisa tertidur, bagaimana melakukan semuanya. Yang ia tahu adalah ketika Kai menangis, artinya anak itu antara lapar, lelah, atau pipis dicelana dan Taemin harus menemukan cara untuk membuatnya berhenti menangis sebelum Appa nya marah. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana ia bisa melewatinya dalam seminggu ini.

Dengan semua yang terjadi, ditambah tekanan disekolah dan mencari uang untuk dirinya sendiri dan Kai, Taemin berusaha keras untuk tidak membuat dirinya jatuh sakit. Namun menjadi anak berumur enam belas tahun yang tidak punya kesiapan apapun, kadang membuat ia ingin menyerah. Ketika malam tiba dan semuanya terasa begitu berat baginya, ia akan menangis sampai beberapa jam dikamar mandi ketika Kai tidur. Namun selalu setelah itu, ia mengingatkan dirinya sendiri untuk kuat demi Kai.

Hanya dia yang anak itu punya dan itu membuat ia kuat.

Saat akhir minggu tiba, popok dan makanan yang Minho belikan untuknya mulai habis dan Taemin harus mempergunakan sisa gajinya untuk membeli lagi. Ia merasa seperti orang bodoh, berdiri ditengah-tengah bagian perlengkapan bayi di supermarket dengan menggendong anak balita berumur tiga tahun ditangannya.

Taemin menatap berbagai merk popok didepannya. Ia tidak ingat merk apa yang Minho belikan untuknya tempo lalu, jadi ia tidak tahu apa yang bagus untuk adiknya. Beruntung, seorang pegawai toko menghampiri namja itu.

            “Hi.”, sapanya pada Taemin, “Ada yang bisa aku bantu anak muda?”

Taemin dalam hati berterima kasih kepada Tuhan karena wanita itu datang atau ia akan tetap berdiri disana selama 30 menit, “Uh ya … aku tidak tahu apa yang harus kubeli untuk adikku. Merk apa yang paling bagus?”, tanyanya, melihat wanita yang baru saja menyalamatkan hidupnya.

            “Hm, aku akan rekomendasikan ini.”, katanya, menunjuk kepada sebuah merk, “Dia umur tiga tahun kan?”

Taemin mengangguk.

            “Jadi, ini cocok untuk nya. Ini agak mahal tapi sama saja dengan merk lainnya.”

Taemin berterima kasih pada nya dan meninggalkannya untuk pergi ke sisi lain. Ia ambil beberapa bungkus popok, tidak perdulikan harganya. Ia hanya akan pikirkan cara untuk membayar uang sekolahnya di semester depan. Saat ini yang terpenting adalah adiknya dan Taemin tidak akan pernah membiarkan ia tidak terurus. Popok mahal atau tidak, ia sudah memutuskan untuk memberikan hidup yang layak baginya, meskipun dirinya sendiri sudah terlanjur sia-sia.

            “Taeminni hyung! Banana Milk!”, anak itu memekik digendongannya. Taemin menengok ke sisi lain dimana Kai menunjuk sesuatu, dan ia melihat bagian freezer ada terpampang etalase banana milk disana.

Kenapa tidak? Ia punya cukup uang. Dan ia tidak bisa menolak wajah menggemaskannya juga, “Baiklah, aku akan belikan satu untukmu.”, Kata Taemin dan berjalan ke barisan banana milk. Sebuah senyuman terkembang di wajahnya ketika mendengar Kai berteriak girang.

            “Hyung! Aang…”, Kai mengarahkan sedotan banana milk nya pada wajah Taemin.

Namja pirang itu tersenyum dan menggelengkan kepala, “Nah, semua untukmu saja, Kai baby.”

Ya, selama seminggu, ia sudah memberikan sebutan untuk adiknya. Ia sadar itu luar biasa karena ia sudah biasa dengan keberadaan adiknya dalam waktu dekat, namun menjaga seorang balita dalam waktu seminggu cukup membuat tenaganya terkuras.

Taemin sudah memikirkan strategi untuk kewajiban barunya itu; ia akan tinggalkan Kai di toko buku saat ia ada disekolah dan mereka akan pulang bersama setelah bekerja. Manajernya merupakan pria tua yang baik dan tidak masalah menjaga seorang cucu, jadi Taemin tidak punya kesulitas menitipkannya disana. Ia merasa tidak enak karena telah menambah bebas pada orang lain tapi ia tidak punya pilihan, tentu saja ia tidak bisa membawa Kai kesekolah dan Bos nya menerima tawarannya dengan senang hati.

Yang jadi masalah adalah bagaimana menjaga sikap Kai untuk tetap tenang ketika ada dirumah. Appa nya –Appa mereka tetap tidak mau anak kecil itu disekitarnya. Ketika Taemin sekali bertanya apa yang harus dilakukan untuk Kai, pria itu hanya menjawab, “Aku tidak perduli, hanya jangan sampai aku pulang kerumah melihat ada bayi mati, itu akan menambah masalah lain selain ada kau.”

Pria itu melanjutkan kehidupan normalnya seperti tidak ada yang terjadi meski anak yang telah disembunyikannya (atau bahkan tidak dirawat) tetap ada dirumahnya. Satu-satunya yang coba ia lakukan adalah menghubungi Umma Kai, tapi itu tidak menghasilkan apapun. Yang mereka tahu, wanita itu mungkin ada di Jepang atau dimanapun. Jadi, pria itu bersikap seolah-olah Kai tidak ada. Meskipun ia akan marah ketika anak itu menangis.

Dengan itu, semua kewajiban menjaga Kai dilimpahkan kepundak Taemin. Itu sangat berat, mengingat ada sekolah dan juga kerja, tapi Taemin tidak ada pemikiran untuk memberikannya kepada orang lain. Ia tidak akan menyerah begitu saja akan Kai seperti apa yang telah Umma Kai lakukan padanya.

Kenapa juga Umma nya meninggalkannya? Taemin membayangkan bagaimana bisa seseorang meninggalkan seorang anak kecil seperti Kai. Tidak kah ia tahu betapa bahayanya meninggalkannya bersama Appa nya? Tidakkah ia mencintai Kai?

Kemudian itu terbesit dipikiran Taemin; Kai dan dia … sama-sama ditinggalkan begitu saja oleh Umma mereka. Kai sama kiranya umurnya dengan Taemin ketika ia ditinggalkan Umma nya. Taemin pikir itu begitu menyedihkan, mungkin ia berhak  ditinggalkan, tapi Kai? Tidak, ia tidak berhak. Ia hanyalah anak kecil yang polos. Tapi kenapa begitu mudah wanita itu meninggalkannya?

Seketika, amarah ada didalam dirinya kepada wanita itu. Tapi ia tahu semua itu terlambat. Ia tahu bahwa Umma Kai tidak akan kembali. Meskipun kembali, meskipun Taemin ragu, ia tidak akan biarkan nya mengambil Kai. Dia tidak pantas untuk Kai.

Taemin sibuk dengan pikirannya sementara Kai bermain dengan bola yang diberikan oleh Minho beberapa hari lalu.

Oh, Ya. Taemin seketika ingat bahwa ia masih memiliki namja cingu. Dengan semua yang terjadi dan semua kesialan yang terjadi dirumah, ia benar-benar lupa tentang Minho. Ia merasa tidak enak akan hal itu, tapi kemudian, dia tidak tahu menjadi seorang pacar 0sama artinya ia tidak tahu juga menjadi seorang kakak sekaligus orang tua.

Meskipun Minho tidak bisa menyalahkannya, bahkan jika ia haus akan perhatian yang seharusnya ia dapatkan. Ia paham apa yang sedang Taemin hadapi; terkejut karena baru saja menemukan adiknya dan dampak dari beban yang harus ia terima. Ia tidak ingin menambah beban Taemin jadi dia lebih memilih diam dan melalukan apapun untuk bisa membuatnya gembira; ia peluk namja itu ketika menemukannya menangis disekolah, membisikan kata-kata manis sampai ia berhenti, dan menghapus air matanya seperti pacar yang baik.

Tapi, Minho tetap tidak mendapatkan bayangkan sedikitpun tentang kasusnya dengan Kai. Taemin tidak pernah mengatakan apapun lagi sejak pertama kali ia membawa anak itu ke kediaman Choi dan Minho tidak mau banyak bertanya juga. Meskipun  bukan berarti dia tidak penasaran.

            “Taeminnie Hyung! Dimana Umma?”, anak itu tiba-tiba bertanya, menyadarkan Taemin dari pikirannya. Matanya jatuh menatap balik ke arahnya dan ia sadar bahwa Kai berhenti bermain.

Taemin membawanya bermain di taman terdekat setelah belanja karena apartemen nya terasa begitu menyesakkan belakangan ini. Ditambah, ia ingin anak kecil ini mendapatkan udara segar dan bermain sejak ia tidak memiliki banyak waktu selama beberapa hari ini. Taemin berpikir ia juga bisa menikmati udara segar.

Namja pirang itu menarik nafas dan mengusap rambut Kai, “Dia masih belum kembali, baby.”, Kai sudah menanyakan pertanyaan yang sama selama beberapa hari, dan Taemin tidak memiliki respon lain selain yang baru saja ia katakan.

Ia tidak tahu jika anak itu mengerti, tapi Kai melanjutkan bermain tanpa mengatakan sepatah katapun.

Taemin sedikit bersyukur karena Kai bukan diumur dimana ia bisa menyadari akan suatu hal yang terjadi. Ia tidak ingin anak itu berpikir bahwa Umma nya meninggalkannya karena dirinya. Taemin tidak mau Kai sepertinya. Ia ingin dia bahagia, periang, dan bebas dari pikiran dan Taemin bertekad untuk tidak membiarkan apapun mencegahnya mendapatkan hal itu. dia bertekad untuk tidak membiarkan Kai menjadi sepertinya.

‘Aku tidak akan pernah membiarkan apapun terjadi padamu’

Saat namja itu melihat Kai bermain, ia lupa segalanya. Ia lupa tentang Appa nya. Ia lupa tentang memar baru yang ada ditangannya ketika Appa nya melayangkan pukulan padanya malam sebelumnya. Ia lupa tentang kesulitannya mencari uang. Ia lupa segalanya.

Dan sayangnya, termasuk Minho.

Minho bukanlah seorang yang egois sedari awal, tapi kurangnya perhatian membuat ia kecewa. Ia tahu Taemin sibuk dengan adik kecilnya dan ia tidak bisa lakukan apapun tentang itu, jadi namja itu memutuskan yang terbaik adalah bergabung bersama keduanya.

Jadi, Minho ajak Taemin dan adiknya pergi ke mall pada hari sabtu. Pertama, jadi mereka bisa tinggalkan Kai di day care dan membiarkannya bersenang-senang. Kedua, jadi ia bisa membuat pacarnya itu sedikit melupakan stress nya yang selama ini ia simpan.

Minho sudah menyadari akan lingkaran hitam dibawah mata Temin dan ditambah tubuh kurusnya yang membungkuk karena lelah, ia ingin Tuhan membantu nya jika ia tidak melakukan apa-apa untuk itu, ia ingin menjadi kekasih yang super perduli.

            “Minho, kau tidak perlu lakukan ini, kau tahu kan.”, Taemin protes malu-malu ketika namja tinggi itu menyeretnya masuk kedalam restauran Amerika untuk makan. Ia akan menyukainya jika mereka tetap ada di rumah Minho, tapi namja itu memutuskan bahwa pergi ke mall akan lebih menyenangkan dimana ia bisa memanjakan pacarnya untuk pertama kali.

            “Aku tahu. Tapi aku ingin.”, jawabnya menyengir, “Lagipula aku lapar. Dan jangan bilang kau tidak, aku dengar perutmu berteriak beberapa menit lalu.”, Minho berkata sambil menarik Taemin untuk duduk disalah satu meja.

Taemin tersipu malu tapi tetap diam di kursinya. Minho memanggil pelayan untuk meminta menu, “Jadi, kau mau makan apa, Tae?”, tanyanya ketika pelayan sudah memberikan menu.

Taemin melihat ke daftar menu. Antara ia tidak tahu tentang makanan apa itu atau semua terlihat begitu mahal. Ia menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Kau yang pilih.”,

Minho mengangguk. Ia menghadap ke pelayan, “Kita pesan dua cheeseburger, dua kentang goreng besar, dua chocolate milkshakes dan … banana split dengan dua sendok. Terima kasih.”

Taemin menatapnya. Apa Minho baru saja memesan sesuatu yang senilai dengan seluruh gajinya?

            “Minho.”, Taemin protes ketika pelayan sudah pergi, “Tidakkah kau berpikir itu berlebihan, pesanannya banyak sekali? Untukku, maksudku.”

            Namja itu mendengus, “Dan itulah kenapa  kau sangat kurus, Taemin ah. Kau harus makan banyak.”, katanya seraya meremas lengan Taemin, “Well, aku tidak masalah dengan itu.”, ia cepat-cepat menambahkan ketika menangkap ada sedikit wajah cemberut Taemin, “Aku hanya ingin kau sehat.”

Tapi itu sudah terlambat, Taemin sudah terlanjut terluka. Ia cepat-cepat menepis pikiran itu, “Kau tidak perlu banyak mengeluarkan uang untuk ku, Minho. Pada Kai, aku bisa menerimanya tapi aku… aku tidak mau merepotkanmu.”

Minho tersenyum dan mencubit pipi Taemin, “Apa yang kau katakan? Aku ini namja cingu mu, tentu saja, aku ingin menghabiskan uang ku untukmu.”

            “Tapi … aku tidak bisa melakukan hal yang sama untukmu … ini hanya tidak adil untukmu memperlakukan aku seperti ini ketika aku tidak bisa membalasnya.”, Taemin mengerutkan keningnya.

            “Aigoo, Taemin, kau manis sekali.”, puji Minho. “Kau tidak perlu melakukan hal yang sama. Ini hanya caraku menunjukan padamu bahwa aku menyukaimu. Dan kita punya cara berbeda untuk menunjukkanya, Taemin ah, aku punya caraku dan kau punya caramu.”, jelasnya.

Saat ini, Taemin berpikir keras. Bagaimana caranya bahwa ia menyukai Minho?

            “Lalu … apa yang aku lakukan untuk menunjukkan bahwa aku suka padamu?”, tanya Taemin. Ia benar-benar tidak tahu tentang ini. Sama seperti ketika ia ingin memilih merk popok; ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Minho berdecak melihat wajah konsentrasi namja didepannya, “Aku tidak memintanya, Taemin ah. Hanya datang denganku kesini sudah menunjukkan bahwa kau menyukaiku.”, jawabnya tersenyum.

Taemin hanya mengangguk. Ini membuatnya bingung lebih dari yang ia bayangkan.

‘Tapi, meski Minho mengatakan begitu, aku harus melakukan sesuatu kan?’, pikir Taemin.

Kemudian, matanya jatuh ke bibir namja itu. Dengan mengumpulkan keberanian, ia memajukan badannya ke atas meja dan mendaratkan ciuman di bibir Minho.

Itu sangat singkat. Minho tidak bereaksi sampai Taemin akhirnya melepaskan ciumannya.

            “K-kenapa kau lakukan itu?”, Minho terkejut, matanya melebar dan membawa tangannya ke bibirnya yang baru saja ada bibir Taemin disana.

Taemin sangat tersipu malu, “Aku tidak tahu.”, jawabnya.

            “Ini, silahkan dinikmati pesanan anda!”, Taemin berterima kasih karena pelayan datang pada saat yang tepat, untuk ia tidak mau terjebak terlalu lama oleh Minho. Mereka berciuman sebelumnya kan? Lalu kenapa ini begitu mengejutkan bagi Minho? Taemin jadi bingung. Sangat bingung. Ia tiba-tiba berpikir bahwa ia tidak melakukan dengan benar apa yang seharusnya seorang ‘pacar’ lakukan.

Taemin terus merasa malu atas apa yang ia lakukan ketika mereka makan selagi Minho tersadar bahwa kekasihnya baru saja berinisiatif mencium nya.

Ia pasang senyum lebar dan menggoda diwajahnya sampai Taemin mengatakannya untuk berhenti.

            “Minho-hyung.” Minho mengulangi.

            “Mino hyung.”, Kai membalas.

            “Minho hyung.”,

            “Mino hyung!!”,

Minho tertawa, “Ia tidak bisa mengucapkannya dengan benar, Taemin ah.”

Namja berambut hitam itu melempar Kai ke atas dan menangkapnya lagi, menimbulkan jeritan gembira dari sang balita. Taemin tersenyum saat ia melihat mereka bermain.

Hari sudah berlalu sebelum mereka bisa menyadarinya. Taemin menikmati harinya, ia bahkan tidak dapat ingat kapan terakhir kali ia sesenang ini. Ia senang juga bahwa Kai menikmatinya. Anak itu memiliki noda tinta di bajunya dan sticker di wajahnya, sebuah tanda bahwa ia memiliki hari yang menyenangkan saat di day care.

Ia juga bahagia karena ada Minho bersamanya. Ia tahu bahwa ia tidak cukup melakukan sesuatu sebagai pacar Minho, tapi Minho tetap ada untuknya dan itu membuat Taemin begitu tersentuh. Ia sangat bersyukur ia memiliki Minho. Jika tidak, ia pikir ia mungkin sudah hancur saat ini.

Taemin tersadar dari lamunan kecilnya ketika Minho menyerahkan Kai yang tertidur padanya, “Bagaimana kau melakukannya?”, tanyanya, meraih anak itu dari Minho.

Minho mengangkat bahunya, “Aku tidak tahu. Aku rasa dia hanya lelah. Kajja. Aku akan antar kau pulang.”,

            “Kau akan baik-baik saja?’, tanya Minho. Sekitar lima belas menit jarak dari mall ke apartemen mereka dan Taemin hampir saja tertidur saat mereka dijalan.

            “Uh-huh”, ia mengangguk. Ia hampir saja keluar dari mobil namun ia berhenti tiba-tiba ketika ia ingat apa yang ingin ia katakan. Taemin menghadap ke Minho dan berkata, “Terima kasih, Minho.”

Namja itu tersenyum padanya, “Tidak masalah, Tae. Kau butuh refreshing.”,

            “Bukan, maksudku … bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk semuanya.”, kata Taemin, menatap namja cingu nya itu dengan penuh rasa terima kasih, “Jika bukan karenamu, aku tidak tahu apa yang aku lakukan saat ini. Jadi… terima kasih sudah mendukungku, ada ketika aku menangis dan … yah, untuk selalu ada bersamaku.”, ia tersenyum, mengatakan semuanya, “Terima kasih.”

Minho merasakan kehangatan yang berlipat di hatinya. Ia tersenyum pada Taemin dan menggunakan tangannya menarik leher Taemin sehingga kening mereka bersentuhan.

            “Sama-sama.”, jawab Minho lembut, “Apapun untukmu, Tae.”

Dan dengan itu ia mengembalikan posisi duduknya lagi. Taemin meninggalkan cemberut di bibirnya. Namja disampingnya menyadari akan itu, membuat ia menyengir, “Apa? Kau mau kucium? Well, jika kau minta maka—“

            “Anio. Aku tidak butuh apapun.”, Taemin mengelak cepat, meskipun itu terlihat sekali dari guratan merah yang ia gunakan saat ia mengharapkan sebuah ciuman saat itu. Taemin tidak tahu kenapa ia begitu, dan itu membuatnya khawatir.

Minho terkekeh, “Baiklah jika begitu.”

Taemin mengerang ‘sampai jumpa’. Dengan pipi yang terasa memanas, ia gendong Kai yang masih tertidur dan keluar dari mobil.

            “Bye, Tae! Selamat malam.”, Minho melambai sebelum menancap gas mobilnya, meninggalkan Taemin dan Kai di luar jalan apartemen mereka.

            ‘Aish, Minho pabo.’, Taemin tersenyum, ‘Aku tidak tahu apa yang aku lakukan tanpanya.’

 

“Bangun dan sadarlah, pikirkan dengan otakmu, Nak! Aku tidak akan pernah perduli padamu. Tidak akan pernah!!”

-FIN-

Part 9>>

Hai gaes … akhirnya part selanjutnya di post. Gimana part ini? ada manis manis nya gitu gak? jangan salahin gue kalau kurang bisa bikin diabetes yah. (iyalah, yang nulis kan bukan gue). Sekali lagi thanks yang udah baca, like, dan komen di FF trans ini, bener-bener merasa bersyukur karena ada yang apresiasi ini :”). Maaf yah, yang komennya belum dibalasin ^6^.

Oke deh gaes, dont forget to leave comment, like, and share! Thankiss.

Please do not post this translation everywhere! Take a full credit from me and Ichigosama as original author of this Fanfic!

Advertisements

18 thoughts on “2Min-Damaged [Warm Hugs & 2nd Kisses]

  1. Wah ff ini hiburan bngtd biar pun ff translet tp keren alnya skarang susah bngt nemu ff apalagi 2min, keren berasa kaya novel…

  2. Akhirnya taemin bsa senyum ceria meskipun cma sehari….
    Aduwh… mreka dah kayak kluarga bahagia , ayah ibu dan anak…
    Lanjut kak…
    Fighting!!! ^_^

  3. part ini manissss 😆 selain kai yg awalnya aku jg pikir dia itu masalah tapi setelah di baca kok ya kai lucu kalo sama taemin.. beruntungnya kai dijaga taemin ❤
    dan minho, syukur dia bisa ngerti keadan taemin gimana. lagi pula dia jg udah dapet kiss💋 dari taemin.. serius deh sukaaaa sama part ini.
    next semoga masih ada manis-manisnya 😍

  4. Kasian banget sama taemin T______T berat banget hidup dia kayaknya, kalo gaada minho mungkin gaakan yg bisa bikin dia ketawa huhu.
    complicated banget hidupnya. Semoga part selanjutnya lebih ditambah 2min moment nya kekekek minho pacar yg peduli banget disini dapet banget karakternya 🙂 next chapt kak malam minggu atau hari minggu paginya i’ll be waiting for it♡

  5. Jd… taemin yg jaga hiks.. tpi kliatannya jd beda yah.. akhrnya msh bs ngrsain bhgia lain syukur bgt… dan heol itu adeknya 🙊.. wah ayahnya jd gk suka pukul2 taem lg ya! Amiga gak lg ya. Dya jd serba cape ya.. semangat tem! Kan ad minho 😗. Huaaaaa si taemin cium minho! Sweet bgt ich 😂🙈. Pas bgt sm karakter ya anak sma 😊. Moga ayahnya gk kumat..

  6. Awalnya nyangka Kai bakal jd beban banget buat Taemin,nyatanya memang iya.Tetapi Taemin diusianya yg masih muda terbiasa mandiri dan berfikir lebih bijak dibanding anak seusianya.Lama5 memang menyenangkan ada Kai disisi Taemin,paling tidak ada sesuatu yg dapat membuat Taemin selalu tersenyum selain sosok Minho.
    Sungguh,awalnya aku nangis kejer bacanya.Bagaimana mgkin anak yg bahkan tidak sanggup menghidupi diri sendiri harus menanggung seorang anak yg bahkan tidak Taemin tidak tau keberadannya sebelumnya.Parahnya lagi mereka berdua punya nasib yg sama.Beruntung Kai masih ada Taemin,sedangkan Taemin dulu harus menerima perlakuan yg sangat tidak manusiawi.
    Bersyukur juga Minho adalah kekasih yg baik.Semoga Minho tetap berada disisi Taemin.
    Aku berfikir bahwa suatu saat nanti ketika Taemin dipukul atau dianiaya Appanya lagi Kai tau dan lapor pada Minho.Supaya Minho tau bahwa selama ini yg membuat Taemin terluka adalah appanya sndr.
    Walaupun awalnya bikin nyesek tapi akhirnya kencan ama Minho dan itu manis bnget,hihihi….
    Semoga Kai tidak rewel kalau di rumah,shg Taemin tidak harus menerima pukulan dari Appanya.

  7. Uluh ucul kaaak, suer deh Kai berasa anak mereka sendiri duh. Kalian nikah cepat-cepat aja deh ya lol. And kakak tahu, sebenarnya ekspektasiku soal ‘2n kiss’ itu bakal ‘menggairahkan’ and ‘long kiss’ but ini cuma 0,001% nya aja. Tapi tetap manis sih, maklum deh orang Taemin yang mulai. Ditunggu part selanjutnya kaaak 😉

  8. kai itu sedikit lbh beruntung drpd taemin krn dia pny taemin yg sayang n peduli sm dia…
    meskipun sedikit terlupakan tp taemin jg ud pny minho yg sayaaang bgt sm dia…
    aw 2nd kiss.ny 2min 😙😙😙

  9. PLIS MBAK PESEN COWO KAYA MINHO BUAT JADI PACAR KU YAH. KARET DUA KALO PERLU BIAR TAMBAH PEDEEESSSS MWAHAHAHAHAHA

    ANJIR BAPER MEEEENNNNN MAU JUGA KENCAAAANNNNN LOL

    taemin kenapa imut banget sih. Kebayang dia malu2 oon gini ahahahaha

  10. PLIS MBAK PESEN COWO KAYA MINHO BUAT JADI PACAR KU YAH. KARET DUA KALO PERLU BIAR TAMBAH PEDEEESSSS MWAHAHAHAHAHA

    ANJIR BAPER MEEEENNNNN MAU JUGA KENCAAAANNNNN LOL

    taemin kenapa imut banget sih. Kebayang dia malu2 oon gini ahahahaha

  11. Appa nya taemin sumpah… bersyukur slalu ada minho di sisi taemin… sumpah mereka manis sekali

  12. Aaaakkkkk demi apa sukaaaaakkkkkkkkk 😍😍😍😘😘😘😘
    Finally 2min bersatu, finally 2min kencan, finally 2min bersenang-senang!
    Aahhhh

    Ini Taemin kenapa lg sih napsu banget 😂😂
    yatuhaaaannnn nguquq nih 😂

    Ngebayangin mereka berdua jalan sambil gendong kai 😍 uunncchh
    Serasa newly wed 😘 ujujujujuju *lalu tetiba inget hello baby*

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s