2Min-Damaged [Dim-lit Alleys | Pavements]


Damaged – Original Story by Ichigosama (Nikki)
Translation all right reserved by Twominyeah

<< Part 10

WARNING!!!
VIOLENCE, CHILD ABUSE, LANGUANGE, DEATH.

===========================================================================

Fading Wounds and Dim-lit Alleys | Pavements

 

            “Taemin goon, tolong buka bajumu. Kita hanya butuh mengambil beberapa foto sebelum kau pergi.”, seorang pria—ia seorang detektif atau investigator atau apalah. Taemin tidak perduli. Ia hanya ingin segera keluar dari sana sesegera mungkin, “Hanya makan waktu sebentar saja, jangan khawatir.”, pria itu memastikannya ketika ia melihat ada wajah tidak nyaman di muka nya.

Dengan tarikan nafas, Taemin membuka baju untuk memperlihatkan kulit pucatnya, badan yang kurus dan ruangan yang dingin sontak menyelimuti tubuhnya. Ia hanya tahu untuk segera keluar dari sana adalah menuruti apa yang diinginkan petugas itu padanya. Dan meskipun apa yang mereka suruh agak kurang nyaman untuknya, ia hanya ingin segera pulang dan kembali ke pelukan Minho.

Setelah beberapa lama mereka sibuk mengumpulkan foto ‘bukti’, dimana ada beberapa memar yang memudar dan beberapa luka di punggungnya, dada dan lengan, Taemin merasa lega karena diperbolehkan pulang. Ia langsung pergi ke kamar Minho, menemukannya sedang mengetik sesuatu di komputer.

Taemin tersenyum simpul. Jelas, Minho tidak mengatakan kepadanya apa yang ia dengar dari ibunya dan polisi atas percakapan kemarin. Dia tidak ingin anak itu lebih khawatir dari sekarang. Dia tahu Taemin akan sulit menerimanya nanti ketika mereka mengatakan padanya, tapi ia tidak bisa membiarkan dirinya untuk mengatakan padanya sekarang. Dia hanya tidak tahan namja cantik bak malaikat itu menangis lagi.

            “Minho, aku pulang.”, tegur Taemin, naik ke atas kasur menghampiri namja cingunya, “Umma mu mengantarku pulang sebelum dia pergi rapat. Dia menyuruhku mengingatkanmu untuk mengerjakan tugas sekolah.”

Namja berambut hitam itu kini mendongak dari layar, dan bertemu dengan Taemin yang tersenyum. Apa yang mereka berikan pada anak ini? Kemarin dan pagi ini, ia menangis untuk beberapa jam. Tapi sekarang, Taemin tersenyum untuk pertama kalinya seperti tidak pernah sama sekali. Meskipun Minho tidak protes sama sekali.

            “Arraso, aku lakukan nanti. Jadi, bagaimana tadi?”, tanyanya menutup laptop dan menaruhnya, “Maafkan aku aku tidak bisa menemanimu, Umma memaksaku untuk pergi kesekolah.”, ia cemberut, merutuk Umma nya dalam hati karena membuatnya masuk sekolah.

            “Gwencana,”, balas Taemin, “Tidak begitu buruk … mereka hanya mengambil beberapa foto dan lainnya. Mereka bilang akan mengajukan pertanyaan selang dua hari dari sekarang atau entah kapan ketika semuanya beres. Aku tidak tahu apa yang mereka maksud dengan ‘ketika semuanya beres’ tapi aku hanya ingin ini cepat berakhir … aku tidak tahan lagi, “ jelasnya, wajahnya merengut. Ia merangkak untuk jatuh ke pelukan Minho dan menghirup bau tubuhnya yang ia rindukan sepanjang hari.

Minho melingkarkan tangannya melewati pundak Taemin, “Jadi … apa mereka mengatakan sesuatu tentang Appa mu?”,tanyanya, pura-pura bahwa ia tidak tahu apapun dari percakapan yang ia dengar dari polisi dan Umma nya.

Taemin menggeleng, “Mereka tidak mengatakan sesuatu hal yang penting .. mereka hanya bilang Appa ku baik-baik saja. Aku pikir mereka mengatakan sesuatu … mereka bilang dia belum dipenjarakan.”, ia membuang nafas lega, “Apa kau pikir aku gila karena mengkhawatirkannya? Aku akui; dia begitu brengsek tapi… apa kau pikir ini normal jika aku tetap perduli padanya?”, ia mengangkat kepalanya menatap mata Minho, menunggu jawaban.

            “Ya, aku berpikir begitu.”, jawab Minho jujur, “Kau anaknya dan dia Appa mu. Itu sebuah ikatan yang tidak bisa diputus, dan dalam kasusmu, kau begitu mencintainya untuk kemudian membencinya,” ia tersenyum, “Itu lah yang kita sebut cinta tanpa syarat, Taeminnie.”

Taemin tersenyum kecil, hampir tidak terlihat. Ia letakan kepalanya di dada Minho, “Aku harap ia tetap mencintaiku. Aku harap ia akan memaafkanku setelah ini… karena aku sudah memaafkannya.”

Sebuah air mata keluar dari mata Taemin dan Minho memeluknya lebih erat, “Tentu saja, Taemin ah.”

Ia harus memaafkannya.

Minho mengerang ketika ia rasakan basah di bajunya. Ia tangkup wajah Taemin ditangannya dan membawanya mendekat. Taemin mendongak dengan mata basah, “Tidak menangis lagi, okay?”, Minho memarahinya pelan, “Please, Tae.”

Taemin mengangguk dan mengigit bibirnya menahan isakan. Ia juga benci menangis, tapi ketika semua menghantamnya seperti ini, menjadi lemah adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan. Ia benci menangis didepan Minho tapi tidak ada cara lagi. Selain itu, hanya Minho yang bisa membuat nya berhenti.

Ketika Taemin sukses untuk menghentikan tangisannya, ia bawa tangannya menghapus sisa air mata diwajahnya dan ia duduk di pangkuan Minho. Ia tersenyum pada nya, “Ayo kita pergi ke taman, neh? Kita bisa ajak Kai.”, ajaknya, ingin keluar dari rumah sebentar. Meskipun kediaman Choi begitu luas dan banyak ruangan untuk hiburan, Taemin tidak bisa menolak udara segar diluar.

Minho mengingat ketika ia mendengar ucapan sang polisi; “–kita tidak bisa terus menahannya didalam penajara untuk saat ini. Jadi, tolong tetap jaga pengawasan pada Taemin dan Kai didalam rumah setiap saat. Kita tidak bisa mengambil resiko.”

Namja berambut hitam itu menggeleng kepala, “Mianhe, Tae, aku agak lelah. Aku mengerjakan tugas tesis kita hari ini.”, ia beralasan. Meskipun ia tidak sepenuhnya bohong, ia benar agak lelah dan ia memang mengerjakan tugas mereka.

Taemin terkejut, “Omo! Mianhe! Aku benar-benar lupa tentang itu. baiklah kalau begitu, kita bisa keluar lain kali.”, ia membuang nafas, merasa tidak enak untuk membuat Minho mengerjakan semua tugas yang seharusnya mereka kerjakan bersama, “Aku berjanji aku akan menolongmu lain kali. Tsk, aku membayangkan kapan aku bisa kembali kesekolah, aku ketinggalan banyak tugas.”, ia cemberut ketika ia ingat ia memiliki banyak tugas yang harus ia kerjakan.

Minho mengangkat tangannya dan mengacak rambut Taemin, “Aku tidak tahu, Tae. Tapi jangan khawatir, aku akan bawa tugas mu kerumah jadi kau bisa kerjakan disini, arraso?”, Taemin mengangguk, cibirannya hilang dan tersenyum lebar. Ia turun dari pangkuan Minho dan duduk disampingnya, membuat namja itu sedikit kesal karena kehilangan kontak fisik dengannya. Namja pirang itu mendekat ke sisi tubuhnya sebagai tanda maaf.

            “Kenapa kau begitu manja secara tiba-tiba? Minggu lalu, kau bahkan lari jika aku menciummu dan berteriak ‘pemerkosaan!’ sekeras yang kau bisa.”, ejek Minho, sebenarnya senang dengan perubahan emosi sang namja pirang itu dan menunggu untuk terus membuatnya begitu.

Taemin tersenyum dan menggeleng, “Aku tidak begitu tahu, Minho. Mungkin kau begitu berarti bagiku. Apapun yang kau lakukan, aku merasa tidak pernah cukup akan dirimu.”, ia mengaku malu-malu.

            “Benarkah?”, Minho terkekeh, “Kau harus bersyukur kalau begitu, karena aku tidak akan membiarkanmu kehilangan kekasih super hot mu.”, ejek nya, menunjukkan tubuhnya.

Taemin berpura-pura ingin muntah, “Kau benar-benar tukang pamer, Minho.”

            “Oh, kau tidak bisa menyangkalnya, Tae. Pastinya kau akan tergiur padaku!”, Minho mengatakannya hanya bercanda, namun kekasihnya itu menanggapinya serius dan tersipu.

Minho terkejut, “Jadi kau benar tergiur padaku? Awwww, Tae! Itu sebuah hal yang sangat jujur tapi manis secara bersamaan. Kau begituuuuu menyukai.”,

Taemin dengan iseng meninju lengan Minho, terkekeh geli, “Aku tidak berpikir begitu. Sadarlah, Minho!”, bohongnya, “dan aku memang menyukaimu. Tapi tidak ketika kau seperti ini.”, ia mencibir.

Namja pirang itu menjerit ketika Minho mencolek pinggangnya, “Nuh-uh, Kau terlalu menyukaiku kalau ingin marah padaku, Taemin ah, aku dan aku tahu itu.”

            “Hmph, kau saja yang bilang.”, Taemin mendengus.

Minho mengerang seperti macan. Tanpa peringatan, ia banting Taemin sehingga ia berada dibawahnya kemudian menarik selimut menutupi mereka. Taemin teriak terkejut, tapi kemudian terkekeh geli ketika Minho mulai menggelitik lehernya dengan ciuman, “M-Minho, berhenti! I-i-ini gelii… hahahha…”

            “Aku akan berhenti jika kau tarik ucapanmu!”, tantang Minho.

            “Minho! Lengangku!”

            “Uh-uh, tidak terkecoh dengan itu”

            “Tolong, h-hentikaan…”, rengek nya, kemudian tertawa lagi ketika Minho mulai menggelitik pinggangnya.

            “Tarik kembali ucapanmu.”

Ketika Taemin tidak berkata apapun, namja itu mulai menyerang leher Taemin, ia jilat lehernya dan ia gigit kecil dan menyebabkan namja pirang itu tertawa dan mendesah pada saat yang sama.

Dalam hitungan detik, ciuman iseng itu berganti menjadi hisapan dan jilatan. Ciuman lembut berubah menjadi lebih agresif. Dan tidak lama, permainan mereka yang awalnya ‘hanya bercanda’ berubah menjadi sesi bercumbu.

Ketika akhirnya mereka melepaskan ciuman mereka, bibir mereka merah, diselimuti sedikit ludah, dan rambut mereka berantakan. Minho menunduk menatap namja cingunya itu dengan tatapan yang tidak bisa dideskripsikan. Taemin menatapnya balik, mencoba mencari tahu apa yang Minho coba sampaikan melalui matanya. Ia melihat begitu banyak ekspresi Minho, tapi tidak pernah melihat yang ini sebelumnya. Membuat jantung Taemin berdetak.

Dan sekilas, Taemin berpikir ia tahu bahwa apa yang akan dikatakan Minho adalah; saranghaeyo.

Aish! Jangan memikirkan hal itu disaat seperti ini, pabo! Taemin memarahi dirinya sendiri. ia langsung membuang pikiran itu jauh-jauh, bahkan ketika perasaan hangat akan suatu hal yang tidak ia ketahui menyelimuti hatinya. Karena meski jika Minho mengatakannya, ia tidak akan bisa membalasnya dan membuat sebuah komitmen. Ia masih belum siap. Setidaknya … bukan saat ini.

Namja didepannya akhirnya memberikan sebuah ekspresi diwajahnya yang bisa Taemin baca; ia tersenyum, seluruh gigi putih nya terlihat. Taemin, meskipun ia tersipu karena malu dari apa yang mereka lakukan sebelumnya, menemukan dirinya melakukan hal yang sama melihat ekspresi penuh cinta dari namja cingu nya itu.

Untuk sejenak. Hanya sebentar, Taemin merasa utuh kembali.

Setidaknya untuk saat ini, aku bisa melihatmu tersenyum. Hanya saat ini, aku akan membuatmu melupkan semuanya. Perlahan, tapi pasti, Taemin ah. I will fix you. Aku akan memperbaiki hati mu yang rapuh. Aku akan membuat mu utuh kembali. Aku, Choi Minho, berjanji selama aku melihat air mata di matamu, aku tidak akan pernah berhenti untuk membuat semua menjadi lebih baik.

Taemin tidak pernah dilarang oleh Nyonya Choi dan Minho bahwa ia tidak boleh keluar sementara ini. Kedua Choi itu tidak ingin namja itu menanyakan banyak hal, dan tidak pernah sekalipun terlintas dipikiran mereka bahwa Taemin akan pergi keluar dalam kondisi seperti ini.

Mereka salah.

Hari berikutnya, ketika Minho pergi sekolah dan orang tuanya pergi bekerja, Taemin memakai sepatunya dan pergi keluar. Susu Kai habis, dan dia tidak ingin merepotkan pelayan yang sedang bekerja untuk membelikan untuknya. Dia juga berencana pergi ke toko buku dan membiarkan Bos nya tahu bahwa ia tidak bisa pergi bekerja untuk sementara waktu. Jadi ia rasa tidak ada masalah jika ia pergi keluar sendiri. Apa hal yang buruk yang bisa terjadi, ya kan?

Namja pirang itu naik ke bis yang membawanya ke pusat kota. Ia membayar sesuai tujuan dan duduk di belakang dimana tidak banyak orang. Saat bis bergerak, seketika, sebuah perasaan misterius menyelimutinya dan ia merasa takut. Kulitnya terasa dingin dan ia merasa merinding sampai ke tengkuknya, membuat namja pirang itu bergidik.

Taemin mengerutkan alisnya dengan perasaan misterius yang ia rasakan. Itu seperti instingnya mencoba memperingatinya tentang sesuatu. Ada apa sekarang? Kenapa aku merasa akan ada hal buruk yang akan terjadi?

Taemin langsung membuang pikiran negatifnya, berpikir itu mungkin saja karena perasaan gugupnya yang sudah lama tidak keluar cukup lama.

Ketika akhirnya bis berhenti, Taemin tersadar dari lamunannya. Ia tenangkan dirinya dan keluar di udara siang yang agak dingin. Orang-orang berlalu lalang ramai dan dia senang dikelilingi oleh orang-orang setelah tidak lama keluar berhari-hari. Taemin menghirup udara segar sejenak, sebelum ia pergi ke area supermarket berada, merapatkan jaketnya ketubuhnya sepanjang jalan.

Ia tidak punya banyak waktu sampai Kai bangun dari tidur siangnya. Jadi, ia pikir bahwa jalan terbaik adalah untuk melewati jalan pintas, namja pirang itu berbelok kesbuah gang disamping toko mie. Ia hapal rute itu dan bisa dibilang itu rute teraman dan tercepat untuk menuju supermarket. Ia sudah melewati rute ini sering sekali sebelumnya…

Tapi sekarang, ia tidak bisa pungkiri rasa merinding di tengkuknya ketika ia memasuki gang yang agak gelap.

Apa ini–?

Taemin menghentikan langkahnya ketika ia mendengar langkah kaki dibelakangnya; suara langkah kaki yang tidak hampir tidak terdengar di jalanan gang. Ia memutar badannya, jantungnya berdegup begitu cepat. Dia menghela nafas lega dari bibirnya yang bergetar ketika ia lihat tidak ada apapun.

Mungkin saja hanya imajinasiku. Aish! Tenangkan dirimu, Taemin! Tidak ada orang disini!

DIA tidak disini!

Taemin memutar badan lagi dan berjalan lebih cepat kali ini, seketika menyesal karena sudah memilih jalan pintas. Jantungnya serasa ingin lepas dari sokternya ketika ia semakin mempercepat langkahnya.

Kemudian, ia mendengar nya lagi.

Seseorang dibelakangnya.

Tanpa melihat kebelakang, ia percaya pada instingnya dan memilih untuk berlari. Suara sepatunya berisik menggema di trotoar. Dan sekarang, suara yang tidak salah lagi; bukan cuman suara kakinya yang terdengar di gang sepi yang tidak berpenghuni. Langkah kaki yang besar mengikuti dibelakangnya, lebih cepat darinya.

Taemin mencoba melihat ke belakang.

Kakinya tiba-tiba mengikuti seperti bergerak sendiri dan berhenti tanpa seijin nya. Seluruh dunia rasanya berhenti seketika.

Mata Taemin terbelalak saat melihat Appa nya sendiri, “A-appa?”, ia bersuara, suaranya gemetar.

Pria itu, terlihat acak-acakan dan ekspresi kusutnya yang aneh sekali sehingga Taemin hampir tidak mengenalinya, berdiri dihadapan anak nya yang melarikan diri. Ia menggunakan baju yang sama dimana terakhir kali Taemin melihatnya; dimana begitu kotor dan lusuh, membuat Taemin berpikir kemana ia selama ini. Anak itu mulai gemetar ketakutan.

Bibirnya mengerucut menjadi geraman ganas, membuat anaknya merintih ketakutan. Anak itu tetap pada tempatnya berdiri, terlalu takut dan terkejut untuk melakukan apapun. Pikirannya berkata untuk melarikan diri; berteriak meminta tolong dan tidak pernah melihat kebelakang, tapi kakinya tidak mau bergerak. Tetap kaku dan tidak mau diajak kerjasama.

Lari, Lari, bodoh!

Ia terjebak.

“Aku menemukanmu, Taeminnie.”

Temin tidak pernah merasa sakit yang nyata sampai hari itu. Saat ia berbaring di trotoar yang dingin dan lembab, sementara sebuah kaki terus menendang nya dengan kasar dan berulang-ulang untuk setiap bagian tubuhnya yang bisa di gapai, satu pikiran terlintas di benaknya; jadi ini yang dinamakan sekarat?

            Ya, pastinya,  inilah sekarat. Ia tidak pernah dipukuli seperti ini sebelumnya; tidak pernah dipukuli seperti seseorang yang mencoba untuk membunuhnya. Dan tentu saja Appa nya mempunya banyak hal untuk melakukan itu padanya.

Memohon, menangis, berteriak—sepertinya tidak bekerja. Pukulan ketulang rusuk dan perutnya tampak membuat ia hampir hilang kesadaran, dan rasa sakit membuatnya buta secara perlahan akan dunia disekitarnya. Secara bertahap ia mulai tak sadarkan diri dan Taemin berharap untuk itu datang lebih cepat. Dia tidak ingin merasakan sakit ini lagi.

Pria itu tidak berbicara. Ia tidak mengeluarkan kata kasar atau menyakitkan seperti biasanya. Saat ini, ia hanya fokus memberikan rasa sakit di tubuh anak itu. Taemin tidak tahu kenapa ia tidak melarikan diri saat ia masih punya kesempatan. Apa ia terlalu lambat? Atau Appa nya yang terlalu cepat? disisi lain, Taemin yakin ia tidak akan selamat meskipun ia melarikan diri. Ia tidak akan pernah bisa melarikan diri dari monster ini.

Dia merasakan setiap ons kemarahan dan benci di setiap tendangan ketulang-tulangnya. Orang ini bukan Appa nya. Oang itu sudah lama pergi. Ini adalah orang pemarah yang tersisa dari dirinya. Taemin tidak mengenali siapa ini. Ini bukan pria yang disebutnya ‘Appa’.

Orang ini bukan orang yang ia cintai dan ia maafkan.

            “Appa, kumohon.”, ia begitu lemah, suaranya terluka dan serak, ‘Appa, maafkan aku. Aku minta maaf. Maafkan aku.’. ia mencoba berkata begitu, namun paru-parunya begitu sesak hanya untuk mengucapkan beberapa kalimat. Apa ini hukuman untuknya karena sudah mengadu? Apa ini yang Appa nya selama ini janjikan?  Jika kau berpikir untuk mengatakannya pada orang lain tentang ini, aku bersumpah aku akan membunuhmu.

Apakah ini contoh dari ketakutannya selama ini? Ini terjadi ya kan? Ini adalah apa yang ia takutkan selama hidupnya. Dan benar, ini terjadi. Dan tidak ada hal yang bisa ia lakukan.

            “Hentikan, kumohon.”, ia memohon lagi kali ini dengan suara kecil yang tersisa.

Seperti setiap permohonan yang keluar dari mulut yang berdarah itu, semua jadi tidak terdengar dan pria di atasnya terus melancarkan tendangan yang keras ke punggungnya, seperti ingin melihat jika bisa di patahkan dengan mudah menggunakan kakinya.

Ia tidak berhenti ketika anak itu muntah darah. Ia tidak berhenti ketika sebuah suara retakan tulang yang terdengar dari bawah kakinya. Ia tidak berhnti ketika seseorang—seorang pria tidak sengaja melintas melihat seorang anak laki-laki di pukuli hampir mati oleh Appa nya sendiri, mencoba untuk menarikna menjauh dari anak muda itu.

            “Lepaskan aku!”, ia berteriak seraya mendorong pria asing itu. Orang-orang mendekat dibelakang mereka, ia mencoba bangkit kembali namun Appa Taemin sudah meraih anak nya itu dibagian leher. Dia menarik anak setengah sadar itu dan membanting dia ke dinding bata.

Taemin memandangnya dengan mata yang bengkak. Bibirnya mengeluarkan banyak darah; bercak merah kontras dengan kulit pucatnya yang mengalir ke dagu dan lehernya. Nafas pelan berhembus dari bibirnya yang terluka. Bibir yang tidak akan pernah menyentuh Minho lagi.

Minho.

Ia tidak akan bisa melihatnya lagi, ya kan? Ia tidak akan bisa menyentuh wajahnya lagi, melihat matanya yang indah, mencium bibirnya, atau menyembunyikan wajahnya di dadanya yang bidang. Ia tidak akan pernah bisa mengucapkan selamat tinggal.

                Minho … maafkan aku.

Seorang pria baik yang masih mencoba untuk menjadi Samaritan baginya, lagi kali ini mencoba untuk menyingkirkan pria itu dari anaknya, tapi lagi-lagi dihalau olehnya dengan sikutan di perutnya. Kali ini, ia punya kesulitan untuk bangkit. Taemin mencoba memohon dengan matanya untuk meminta nya berhenti, agar ia tahu bahwa ia hanya akan membahayakan dirinya sendiri jika ingin menolong. Ia tidak ingin menarik orang lain dalam hal ini. Mereka tidak berhak tersakiti.

                Setidaknya memori terakhir tentangku adalah hal yang baik, neh?

Taemin merasa jemari Appa nya meremas dengan kencang di sekitar lehernya. Mencengkramnya sampai ia merasa sesak, paru-parunya berteriak meminta udara. Dia mengejang, dan ia baru sadar bahwa ia diangkat setidaknta satu kaki jaraknya dari tanah, dan ditahan di dinding. Taemin mencoba memohon melalui matanya, mencoba untuk memohon dia untuk berhenti dengan air matanya, tapi ia hanya bertemu dengan tatapan dingin dan marah.

            Dimana Appa nya? Siapa pria ini yang mencoba untuk membunuhnya?

Terima kasih untuk semua yang kau lakukan untukku. Terima kasih sudah menerimaku. Terima kasih sudah menunjukan pada bahwa aku bisa dan aku berhak untuk dicintai. Terima kasih sudah menunjukkan padaku seluruh dunia yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.

                Terima kasih untuk, setidaknya untuk sebentar, memberikan alasan pada ku untuk tetap hidup.

Suara-suara. Pikirannya kabur, pandangannya melakukan hal yang sama seperti oksigen terus menguras dalam tubuh lemahnya, tapi ia mendengar mereka di sisa hidupnya. Mereka berteriak. Taemin tidak bisa menangkap apa yang mereka katakan, tapi ia bisa tahu mereka ada banyak.

            Aku mencintaimu, Minho.

                Selamat tinggal.

Ia mencoba melihat sumber suara dengan matanya, namun sebelum ia bisa, seluruh dunia menjadi gelap. Tubuhnya melemas di tangan pria itu dan sementara orang-orang datang untuk melumpuhkan pembunuhnya, tubuh tidak bernyawa itu dijatuhkan di trotoar. Ada sekali retakan yang terdengar ketika kepala namja pirang itu jatuh ke lantai.

Tembakan. Pria itu—sudah jelas kehilangan akal, kegilaannya terbukti ketika ia baru saja mencekik anaknya sendiri dan berusaha untuk menyerang orang sekitar menggunakan pisau yang ia keluarkan entah dari mana—dia jatuh kelantai. Darah mengalir dari peluru yang terhunus dikepalanya, jatuh ke trotoar, menciptakan genangan merah disekitar tubuhnya yang tak bernyawa.

Dia tidak bisa menyakiti Taemin lagi. Dia sudah mati.

Mereka berdua.

Minho sedang sibuk mengerjakan kertas ujiannya dengan kepala yang tertunduk di meja ketika tiba-tiba ponselnya bergetar di kantongnya. Pria berambut itu terkejut, kaget karena gerakan tiba-tiba di ponselnya. Siapa yang menghubunginya diwaktu seperti ini? Tidak mungkin Taemin. Dan Umma nya tidak pernah menghubunginya di jam sekolah kecuali ada hal penting.

Ia angkat tangannya, meminta perhatian dari gurunya dan meminta ijin untuk pergi ke toilet. Ketika Seongsangnim nya setuju, ia angsung keluar dari kelas dan menjawab ponselnya yang bergetar.

            “Minho.”, suara Umma nya terdengar dari sebrang sana, “Datanglah kerumah sakit, cepat.”

Sontak jantungnya berdebar kencang di dadanya.

            “A-apa yang terjadi?”, ia terbata.

            “Taemin …”

-FIN-

Part 12 – 2Min-Damaged [Gruesome, Sleepless Night, & Broken Arms]>>

Hai, gaes! Jumpa lagi akhirnya part 11 sampai juga! Btw, ini adalah part paling miris selain part dimana tangan Taemin patah (baca lagi yang lupa) karena ini Author pas dulu baca sampai termehek-mehek. :”(
Well, thank again for like, comment, share! 😉 I really appreciate it gaes!
Oh, setelah ini END gue akan share free translation file nya disini, jadi buat kalian yang mau baca ulang bisa di download terus simpen deh, jadi nggak usah harus load website ini terus 😉

See ya!
@vittwominaddict

Please do not post this translation everywhere! Take a full credit from me and Ichigosama as original author of this Fanfic!

Advertisements

14 thoughts on “2Min-Damaged [Dim-lit Alleys | Pavements]

  1. Aku ga baca yg pas taemin disiksanyaaaa. Udah liat spoiler dan ga mau bacaaa ga kuat 😭😭😭😭 maapin ya kakak 😔

    Syukurnyaaaa bapaknya taemin mati huhuhu btw itu berdua??? Sama siapa???? Kurang fokus juga tadi pas taemin nya disiksa kai nya dimana???? Semoga taemin gapapa ya kak di next chapt. Udah kan yaaa udah disiksanya sekarang biarin 2min bahagia 😢😢😢😢

  2. Tuh kaaannn…..yg gue takutin ternyata benar.Benar2 parah tp masih selamatkan? Taemin masih selamatkan?
    Oh…tidak! Appanya benar2 sudah kerasuka iblis.Tapi siapa yg menembaknya? Appanya sudah mati,tp Taemin? Aku harap dia dapat diselamatkan.Duhh duhhhh….pingin ngeremes2 Appanya Taemin.
    Part selanjutnya jangan lama2 please…

  3. Parah sumpah gx kuat liat tetem d siksa apalagi sma appa nya udah kaya kasus d tv2 ajja, brharap taemin masih bisa bertahan ,hmmm chap depan end semoga happy ending, nelangsa 😥😥😥

  4. speechless… Ini ga tega banget baca taemin di siksa gitu ya ampun 😭 tapi itu babenya taemin udh mati kan, padahal dari awal pengennya sih matinya sadis parah gitu 😅 benci banget soalnya hahaha, dan semoga taemin ga kenapa2, ini happy ending kan ya? Ya? Ya? Ya? Nanti ada epilognya? 😊

  5. Gilaaaa !!! Gw pnas dingin esmosi bcanya 😭😭😭. Bagus dya mati skalian! Sakit jiwa mang. Gw harap terungkao next episode knpa ayah bejat ya lakuin itu sm taemin 😔.
    Ya ampun trus gmn itu kondsi taem?? Smoga dya selamat… hdup kmbli hiks… ya amvun… minho gmn itu…
    Gw bru loch bca ff ampe sgtunya dsiksa ttp mncntai….

  6. Demi apapun, kenapa Taemin tersiksa banget sih hidupnya. Kasian, aku berasa nyeseknya pas Taemin dapet kekerasan yang parah dari appanya. Kenapa appanya kaya psycho gitu, dia punya gangguan jiwa kali ya

    Taemin please kamu harus kuat, kasian Minho kalau ditinggal kamu 😭😭😭😭😭😭

  7. 😥 😥 gag mungkin taemin tewas kan???? Jangan donk….
    Appanya jahat bgt pantas emng kalo dya mati.

  8. YA Allah, beneran lemes bacanya. Moga kejahatan kaya gini cukup ada di ff, novel, atau cerita2 fiksi aja.
    Appanya Taemin kaya sakit, iya sakit jiwa. Anak sendiri dia rela aniaya separah itu, sakit beneran bacanya 😭
    Itu appanya udh mati? Kok belum puas klo cuma ditembak ya, kesel sumpah. Maksutnya, apa yg dialami appanya ga lebih parah dari perlakuan appanya ke Tae, jadi langsung mati gtu aja rasanya ga puas bgt 😭 Ngeri, sampe ada retakan2 tulang gtu, itu anak manusia loh bukan ranting pohon mati, meski kenyataannya Tae kurus kecil, ga beda jauh.
    Ini updateannya kapan lgi ya, kok jadi ga sabar nunggu 😭

  9. ‘Minho mulai menggelitik lehernya dengan ciuman’ itu mah bkn gelitikin tp cari kesempatan buat cium…dasar ming 😙😙😙

    no no no taeminie don’t die 😢😢😢😢😢
    itu yg tertembak appa.ny kn bkn taemin kn??
    itu appa.ny kandung.ny apa bkn siihh smpe mau ngebunuh anak.ny gtu…sakit jiwa tuh appa.ny…cm gara2 di tinggal sm eomma.ny taemin aj smpe taemin di siksa tiap hari…

    taemin fighting !!!
    inget kai sm minho,, jgn nyerah…

  10. Aaahhhhhhhh aku belum baca yg part ini kak T.T
    Ga habis fikir sama ayahnya taem.. Kok bisa ada gtu makhluk kya dia… Miris bgt 😥

  11. BENER BGT KAAAK! Ini mirizzz. aaaaak aku pingin nangis, kasihan Taeminkuu TT Appanya kesurupan kali ya bisa brutal kea begitu, duh ya Allah berikan hidayah pada Appa Lee yang terlalu jahat ini. mana kakak nulisnya tubuh tak bernyawa yang dijatuhkan ke trotoar lagi ih ambigu tahu. Taemin baik-baik aja kan kak? kalo dia metong, abis dong ceritanya? masa si Minho mau nungguin Kai gede/? /ga. Eh apa waktu manja-manjaan sama Minho itu sebuah ‘pertanda’? Jelaskan padaku kak, jelaskan! TT

    oh iya! aku rada ambigu pas baca bagian minho “..aku dan aku tahu itu.” itu maksudnya teh gimana? lol, maafkan aku yang telolet ini kak ;_;

    btw thanks kak! mau dikasih file translationnya segala uluh sini aku cium kak :*

  12. Ini bagian ternyeseknya…puncak rasa sakit itu… masih gak habis pikir kenapa bsa appa taemin setega itu ingin membunuh anaknya sendiri….
    disini pasti dilema berat jadi taemin…antara hrus melindungi diri atau appanya…

  13. Cumbu”an mulu kalyan 😦 huhu
    Kzl akutu tp juga sukak juga cinta! Huh

    Astaga Taemiiiiinnnn 😭😭😭😭😭😭
    Appa macam apasih yg tega nyiksa anaknya sampe kek gitu!!!
    Plis bertahan Tae, bertahan.. plis…
    Bertahanlah untuk Minho, untuk Kai, dan untuk semua orang yang menyayangimu..
    Please 🙏🙏

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s