2Min-Damaged [Gruesome, Sleepless Night, & Broken Arms]


Damaged – Original Story by Ichigosama (Nikki)
Translation all right reserved by Twominyeah

<< Part 11 – 2Min-Damaged [Dim-lit Alleys | Pavements]

WARNING!!!
VIOLENCE, CHILD ABUSE, LANGUANGE, DEATH.

===========================================================================

Gruesome Aftermaths and First ‘ I love You’s’ | Sleepless Nights & Old Bedrooms | Silent Tears and Broken Arms

            “Minho.”, suara Umma nya terdengar dari sebrang sana, “Datanglah kerumah sakit, cepat.”

Sontak jantungnya berdebar kencang di dadanya.

                “A-apa yang terjadi?”, ia terbata.

                “Taemin …”

                Namja itu tidak sempat untuk mematikan ponselnya atau meminta ijin untuk segera pergi ke area parkir mobil. Ia hampir saja menghancurkan pintu mobil dari engsel nya seraya ia masuk kedalam kendaraan.

            Menyetir layaknya orang gila menembus kemacetan, ia berpikir macam-macam tentang apa yang terjadi dengan namja cingunya. Taemin tidak mungkin dilukai, ya kan? Ia berada di rumah selama seminggu—kecuali…

            Tidak, tidak mungkin. Minho menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan pikiran negatif yang ada disana.

            Ia injak pedal gas. Dia mendapatkan klakson protes dari pengemudi lain, tapi Minho tidak perduli. Ia ingin melihat namja cingunya sesegera mungkin. Ia harus memastikan bahwa ia baik-baik saja.

            “Goddammit!”, Minho memaki ketika lampu berubah menjadi merah sebelum ia bisa menerobosnya. Ia benturkan kepalanya ke stir mobil, berusaha keras untuk mencoba sabar.

             Apapun yang terjadi, sesuatu memberitahunya—mungkin dari suara Umma nya, atau dari dirinya sendiri, semacam indra keenam—mengatakan padanya kali ini, Taemin mengalami lebih dari sekedar patah tulang. Ia benturkan lagi kepalanya di stir mobil untuk menghilangkan pikiran pesimisnya, namun perasaan dingin yang merasuk ke hatinya membuat ia ragu.

            Kumohon bertahanlah, Taemin.

                Kumohon

Minho tidak perduli dengan suster yang meminta untuk berhenti berlari saat ia mempercepat larinya di lorong rumah sakit. Sol sepatu sekolahnya berdentum keras di lantai rumah sakit. Minho tahu bahwa ia telah melanggar lalu lintas dan peraturan sekolah sejak ia kabur begitu saja, tapi ia sungguh tidak perduli sama sekali dengan hal itu. ia tidak perduli apapun kecuali Taemin. Ia ingin melihatnya, ia ingin melihatnya hidup dan baik-baik saja.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Ia sungguh benci perasaan seperti ini; seperti hatinya sedang diremas oleh perasaan tegang bersamaan seperti waktu melambat di sekitarnya.

Ia berlari dan berlari, berbelok ke setiap koridor dan melihat ke seluruh pintu.

Kamar 312, informasi yang didapatkan dari seorang suster.

Waktu seperti berlalu begitu lambat baginya ketika ia memeriksa seluruh ruangan di lorong rumah sakit. Rasanya lama sekali, sampai akhirnya ketika ia sudah melewati ribuan lorong, sebuah pintu dengan nomer 312 terlihat. Minho berlari ke arahnya, kehabisan nafas dan penuh keringat. Ia hampir merusak gagang pintu ketika ia membukanya.

Dan disana, berbaringlah sosok pucat layaknya sprei rumah sakit, adalah seseorang yang begitu ia cintai selama hidupnya, terlihat mati semenjak banyak alat rumah sakit yang terpasang ditubuhnya. Satu hal yang Minho pastikan bahwa Taemin hidup adalah bunyi suara monitor detak jantungnya.

Ia melihat Umma nya berdiri dari samping kasur Taemin. Ia tidak menyadari keberadaan Umma nya sampai ia bergerak.

            “Minho.”, panggilnya lembut. Anak nya menoleh padanya, dan saat itu ia sadar bahwa air mata sudah jatuh ke pipinya, sangat deras. Ia berlari ke Umma nya dan memeluknya.

            “Apa yang terjadi, Umma?”, ia akhirnya memberanikan diri untuk melihat sosok yang ada di atas kasur rumah sakit. Dada nya terasa sesak melihat apa yang ia lihat; bekas jari-jari tangan berwarna hitam di sekitar leher Taemin, luka di mata kanannya, sobekan di bibirnya, dan gips ditangannya berubah menjadi diseluruh lengannya. Mata namja pirang itu terlihat cekung dan gelap—hampir mati.

Taemin terlihat seperti mayat hidup.

Nyonya Choi menarik nafas, menenangkan dirinya sebelum ia berbicara lagi, “Appa Taemin meninggal. Polisi yang berpatroli menembaknya setelah orang dijalan melihatnya sedang mencekik Taemin di gang.”, ia berhenti sejenak untuk membiarkan anaknya menerima informasi tersebut.

            “Jika mereka terlambat .. atau jika tidak ada orang pun yang melihat..”, ia menggelengkan kepalanya lemas, “Aku rasa Taeminnie tidak akan ada disini sekarang.”

Air mata Minho sukses membanjir deras. Malaikatnya tersakiti; sangat tersakiti dan ia tidak ada disana untuk melindunginya dari rasa sakit itu. Bagaimana ini bisa terjadi pada Taemin? Bagaimana Appa nya sendiri bisa menyakitinya seperti ini?

Ia melihat ke arah Taemin lagi, kemudian membuang muka nya ketika ia melihat banyak luka memar yang ada di wajah namja itu.

Bagaimana seseorang yang begitu indah bisa hancur seperti ini?

Namja berambut hitam itu membenamkan wajahnya ke pundak Umma nya seraya air mata terus mengalir. Dia merasa lega bahwa Taemin masih bernafas disana, tetapi karena ia memandang luka namja cingunya, ia merasa hatinya mengerut menjadi bola kecil yang menyakitkan. Dia bahkan tidak bisa membayangkan apa yang Taemin rasakan bisa menjadi seperti ini.

            “Semua ini salahku.”, gumamnya, air mata terus mengalir diwajahnya dan membasahi baju Umma nya, “Semua salahku sehingga ia terluka, Umma, jika saja aku mengatakan pada nya untuk tetap dirumah—“

Nyonya Choi mendiamkannya, “Ini bukan salahmu, baby. Jika ada yang harus disalahkan, akulah yang salah. Aku seharusnya lebih bertanggung jawab. Aku seharusnya biarkan dia tahu mengenai Appa nya dan lain-lain … jika saja aku melakukannya, hal ini tidak akan terjadi. Aku sungguh minta maaf, baby.”, dia menangis, “Maafkan Umma…”

            “Jangan bilang begitu, Umma.”

Wanita itu menggeleng dan melepaskan pelukan anaknya kemudian menyentuh pundaknya dan melihat kematanya, “Maafkan Umma mu, Minho. Aku tidak bermaksud hal seperti ini terjadi, kau tahu aku mencintai Taemin dan Kai sama seperti aku mencintaimu. Aku hanya—aku hanya tidak ingin membuatnya lebih takut dari sebelumnya, aku tidak pernah berpikir bahwa hal seperti ini akan terjadi.”, ia biarkan air matanya jatuh, saat ia mencengkram seragam depan Minho. Perasaannya sungguh tidak enak. Minho tidak bisa menyalahkan Umma nya.

Ia hanya menyalahkan takdir dan Appa Taemin. Ini tidak akan terjadi jika saja ia tidak ada.

Kemudian, ini juga tidak akan terjadi jika mereka menjaga Taemin lebih baik. Ini tidak akan terjadi jika aku lebih berhati-hati.

                “Ini bukan salah siapapun melainkan si bangsat itu, Umma.”, ia berkata dengan desisan, “Bagus dia sudah mati. Kalau tidak aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.”, ia menggelengkan kepalanya kesal, “Aku lega dia meninggal, Umma, Taemin dan Kai tidak membutuhkannya.”

            “Ssh … jangan berkata begitu, Minho. Taemin akan sangat sedih.”, Nyonya Choi membuang nafas, “Kau tahu dia; anak itu begitu mencintainya. Ia tetap mencintai Appa nya meskipun ia sudah mencoba membunuhnya.”

Minho mengangguk, setuju akan itu.

Setelah beberapa lama terdiam, Minho akhirnya bicara, “Apa dia .. apa dia akan baik-baik saja?”, tanya khawatir, sebelum akhirnya mempunyai cukup keberanian untuk menghampiri namja yang tidak sadarkan diri itu. ia menuju ke sisi kasur Taemin dan meraih tangannya. Terasa begitu dingin, rapuh, dan … mati.

Nyonya Choi menghapus air matanya dengan sapu tangan sebelum menjawab, “Dokter bilang dia sudah stabil sekarang, tapi mereka tidak yakin akan dampak panjangnya—kita hanya menunggunya untuk sadar sebelum mereka melakukan tes lainnya.”, ia menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan, “Mereka sempat kehilangannya selama 2 menit sebelum paramedik datang… dokter bilang bahwa … ia bisa saja terkena amnesia atau kehilangan suaranya.”

Hati dan jantung Minho langsung saja berhenti, “A-amnesia?”

Umma nya menggelengkan kepala, “Kita tidak boleh berpikir begitu, Min—“

            “No!”, Minho beragumen, melepaskan tangan dingin Taemin, “Dia tidak boleh—dia tidak boleh menjadi lupa, ya kan?! Kenapa mereka berkata begitu? Dia hanya tercekik, tidak terbentur dikepala! Bagaimana bisa—“

            “Minho, kumohon.”, wanita itu meletakan tangannya di bahu Minho dan kemudian menenangkan namja itu, “Mereka belum yakin, dan masih ada kemungkinan kecil bahwa dia bisa mengalami amnesia.”

Minho protes, “Tapi—“, tapi Nyonya Choi memotongnya, “Dia kuat, Minho.”, ia berkata dengan nada yakin, mencoba untuk membuat keduanya merasa tenang. Tapi didalam hatinya, dia merasakan ketakutan yang sama seperti Minho, “Taeminnie akan melewati ini semua. Kau akan lihat.”, kemudian, ia tersenyum. Minho mempercayainya.

Namja tinggi itu mengangguk. Ia menggenggam tangan Taemin lagi dan memberikan elusan di tangan mati rasa itu. Balaslah elusan tanganku juga, Taemin ah. Kumohon, aku hanya ingin melihatmu tersenyum lagi. Kumohon bangunlah jadi aku bisa mengatakan betapa aku mencintaimu.

Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Jadi kumohon bangunlah sehingga aku bisa mengatakannya padamu…

Tapi, Taemin tidak bangun … tidak selama lima jam Minho menunggunya dengan putus asa untuk akhirnya ia membuka matanya. Selama lima jam itu, Umma nya pulang untuk istirahat dan menjaga Kai. Jadi Minho ditinggal sendiri di rumah sakit, tetap dengan seragamnya, menunggu kekasihnya itu untuk sadar kembali.

Ketika akhirnya mata cekung Taemin membuka perlahan, Minho hampir saja jatuh dari kursi dan langsung menuju sisi kasurnya, “Taemin! Kau sudah sadar!”

Akhirnya.

Taemin tidak menjawabnya. Ia melihat kesekeliling, matanya terlihat ada titik-titik kecil merah sebagai efek dari cekikan itu. Ketika tatapannya akhirnya jatuh ke Minho, pikiran kaburnya segera mencerna keberadaan kekasihnya. Ia mengulurkan tangan, yang agak gemetar, dan Minho meraihnya. Ia mencium punggung tangan Taemin dengan sayang dan menatapnya hampir tidak percaya. Selama menunggu selama itu, ia tidak pernah berpikir bahwa Taemin akan sadarkan diri sampai besok.

Atau mungkin ia tidak akan sadarkan diri sama sekali.

            “Taemin, aku senang bisa melihatmu.”, Minho menunduk dan mencium bibir namja pirang itu dengan lembut, kemudian ke pipinya, kening dan hidungnya, “Ya Tuhan, aku begitu mengkhawatirkanmu, baby.”

‘Aku juga senang bisa melihatmu, Minho’, ia ingin berkata begitu, tapi Taemin tidak bisa bersuara; seperti tertahan di tenggorokan, dan begitu sakit ketika ia mencoba berbicara. Jadi, ia hanya mengangguk.

Perlahan, kepingan ingatan terlintas dikepalanya. Ia berusaha berbicara lagi; untuk bertanya pada Minho dimana Appa nya, namun yang terdengar hanyalah suara serak yang serupa seperti kertas di gosokan bersamaan. Ia menyerah, hanya menatap Minho.

Minho.

Taemin tidak pernah berpikir bahwa ia bisa melihatnya lagi. Ia begitu bahagia saat ini; ia ingin menciumnya, memeluknya, dan mengatakan bahwa begitu berartinya Minho baginya. Tapi, tubuhnya seperti tertimpa oleh seekor beruang. Ia tidak bisa bergerak, apalagi berbicara.

            “Taemin, kau ingat aku?”, Minho bertanya panik ketika ia ingat apa yang Umma nya katakan, “Kau tahu siapa aku?”

Taemin mengangguk lagi, aksinya itu membuat rasa sakit di lehernya.

Namja cingunya membuang nafas lega, “Aku tahu kau tidak akan melupakanku, Taemin ah.”, ia tersenyum. Tapi kemudian hilang perlahan, “Apa kau … kau ingat apa yang terjadi?”

Taemin mengangguk. Tentu saja, tentu ia mengingatnya. Bagaimana ia bisa lupa waktu dimana ia mati?

Minho bingung antara ia ingin mengatakan pada Taemin bahwa Appa nya sudah meninggal atau ia menyimpannya untuk esok. Ia takut apa reaksi Taemin nantinya. Apa dia akan menangis? Apa ia akan marah? Atau bahkan, akankah ia merasa lega? Minho menatap wajah Taemin, mengamati bercak hitam dan biru di wajah pucat Taemin. Akhirnya ia memutuskan; ia tidak akan mengatakan padanya. Setidaknya tidak saat ini.

Namja tinggi itu memaksakan senyum di wajahnya dan memberikan tangan Taemin elusan sekali lagi, “Aku akan pergi panggil dokter, Tae. Tunggu disini. Tutup matamu dan ketika kau membukanya, aku akan kembali, okay?”

Taemin melakukan apa yang disuruh dan membiarkan menutup matanya. Meskipun ia sudah tidak sadarkan diri lebih dari 7 jam, ia tetap merasa lelah. Jadi, tidak butuh waktu lama baginya untuk kembali tertidur.

Namun sebelum ia tidur, ia mendengar sesuatu yang membuat monitor jantungnya berbunyi keras.

Minho berbisik, “Aku mencintaimu.”

Taemin ingin mengatakannya juga. Namun tenggorokannya terkunci dan kantuk membuatnya tertidur sebelum ia bisa membalasnya.

Aku juga mencintaimu, Minho.

Minho bersandar di balik pintu rumah sakit Taemin berada.

Ia merasa senang bahwa Taemin tetap hidup. Babak belur dan hampir tidak dikenali, tapi ia masih hidup dan bernafas. Dia tidak bisa meminta sesuatu lebih dari itu, tapi…

Appa nya meninggal

            “Bagaimana caranya aku mengatakan padanya?”, Minho berbisik pada dirinya, mengusap tangannya ke wajahnya.

Jika pemukulan itu tidak membuatnya terbunuh, maka ini pasti bisa.

Ia tidak bisa mengatakan padanya. Minho tahu bahwa Taemin berhak tahu, dia tidak ingin melakukannya sendiri. Ekspresi menyedihkan, air mata, isak tangis nya yang memilukan tidak ingin ia saksikan lagi.

Aku bahkan tidak bisa membayangkan rasa sakit mu, Taemin ah.

Setelah beberapa menit menenangkan dirinya di luar kamar Taemin, ia berjalan mencari seorang dokter. Ketika akhirnya ia bertemu, ia bertanya apakah ia bersedia melihat kondisi Taemin.

Dokter melakukan beberapa pemeriksaan terhadap organ vital Taemin, dimana Minho tidak paham sama sekali, jadi ia hanya melihat pria berjas putih itu menyentuh dan memeriksa Taemin. Setelah beberapa menit, dokter menulis catatan di papan Taemin dan keluar lagi, mengatakan pada Minho bahwa pasien itu akan baik-baik saja dan hanya butuh banyak istirahat. Minho mengangguk, berterima kasih pada dokter sebelum ia meninggalkan ruangan.

Ketika mereka sendirian lagi, Minho kembali ke posisi semula disamping kasur Taemin. Ia raih tangannya, dimana menjadi lebih hangat dari pada terakhir kali ia menyentuhnya, dan mencium punggung tangannya.

            “Taemin ah, aku mencintaimu.”, ia berbisik di tangan Taemin, “Itulah kenapa … aku akan lakukan apapun agar bisa memperbaiki mu. Aku mencintaimu, Taemin … sangat, sangat mencintaimu.”, ia berdecak sedikit, menyadari kalimat gombalnya, namun ia melanjutkan, “Kau tidak pernah tahu.”

Saat itu pukul 2:54 pagi dan Minho masih saja terjaga seperti ia sudah menelan tiga gelas kopi saja.

Matanya tertutup, kepalanya bersandar dengan nyaman di bantal dan sebuah selimut hangat di atas tubuhnya; badan dan pikirannya sama-sama merasa lelah, namun tetap saja ia tidak bisa terlelap. Ia tetap terjaga semalaman, memutar badannya kekiri dan kekanan di atas kasur nya beberapa kali, fakta bahwa Appa Taemin meninggal terus berputar dikepalanya, menyiksanya dan memaksanya tidak bisa istirahat.

Minho bahkan tidak mau memikirkan bagiamana ia akan membeberkan berita ke Taemin. Oh, betapa ia berharap ia bisa mengatakannya dengan mudah seperti, ‘Hey, Taemin, Appa mu meninggal. Aku hanya ingin kau tahu. Lagi pula ia seorang bajingan.’, tapi sesuatu yang tragis seperti itu tidak bisa dianggap enteng, bahkan tidak ketika sebuah tragedi bisa dikategorikan sebagai sebuah ‘kelegaan’. Appa Taemin, pria yang sudah menyiksanya selama 8 tahun, akhirnya meninggal dan ia pergi—bukankah itu jadi sebuah kabar baik? Pikir Minho.

Dia sendiri, menganggap itu adalah sebuah kabar terbaik selama hidupnya—monster itu yang berani memanggil dirinya sebagai seorang Appa telah meninggal dan Taemin tidak akan tersakiti lagi. Minho tidak akan melihat tangisnya lagi, tidak akan melihat bukti menyakitkan di wajah kekasihnya atau memar karena tinju Appa nya yang membekas padanya. Ia tidak akan pernah memeluk Taemin lagi dimana ia ingin kekasihnya berhenti menangis; ia akhirnya bisa memeluknya tanpa harus ada bercak air mata di bajunya. Akhirnya, Minho bisa menikmati hubungan mereka tanpa ada masalah diantara mereka.

Hanya tinggal satu masalah. Hanya tinggal satu.

Minho secara pribadi tidak mau membeberkan berita itu pada Taemin. Ia ingin Ummanya, polisi, atau orang lain selain dirinya untuk memberitahu pacarnya dan melihat bagaimana Taemin terpuruk karena itu. Dia tidak ingin melihatnya, tidak ingin merasakan air matanya dan juga tangisannya. Ia tidak menginginkan itu.

Tapi ia tahu—ia bencti faktanya, tapi ia tahu dan ia berusaha menerimanya—bahwa Taemin bisa menerima kabar itu jika kekasihnya sendiri yang mengatakannya dibandingkan seorang polisi yang bahkan tidak bisa memeluk dan menenangkannya setelah itu.

Minho mengutuk dalam hati ketika ia sadar tidak ada pilihan lain.

Kenapa ia harus melakukan itu? selain itu, jika ia ingin egois; kenapa harus Taemin yang selalu tersakiti? Kenapa ia harus selalu berada di ujung tanduk? Kenapa ia selalu yang tersakiti dan tertimpa kemalangan? Kenapa hidup begitu tidak adil baginya?

Minho punya banyak pertanyaan, namun ia masih belum bisa menjawab semuanya.

Bagaimana ini bisa terjadi? Ia tiba-tiba bertanya pada dirinya untuk kesekian kalinya ia memutar bolak balik badannya di atas kasur. Hanya beberapa minggu lalu, mereka hanyalah anak remaja yang dengan canggungnya saling jatuh cinta, berjingkat di ujung air untuk sekiranya mengetes tentang rasa sakit dan juga keindahan bercinta. Mereka mempunyai hubungan yang biasa namun juga membingungkan secara bersamaan dan Minho tidak yakin jika mereka akan kembali lagi seperti itu. ia berharap mereka bisa, tapi saat ini—Taemin ada di rumah sakit dan Appa nya meninggal, adik kecilnya muncul tiba-tiba dan masa depan keduanya tampak tidak stabil, tidak yakin jika mereka akan dikirim ke panti asuhan atau ratusan mil jauhnya ke keluarga nya…

Kenapa semua ini bisa begini?

Tidak satupun pertanyaannya terjawab sebelum akhirnya ia merasa cukup dan memutuskan untuk menyerah mencoba untuk tidur. Dengan semua yang terjadi, tidur sepertinya tidak mungkin dilakukan.

Matanya terbuka lebar, kelopak matanya terasa berat karena kurang tidur dan ia mengangkat kepalanya, melirik jam alarm di samping tempat tidur.

5;14 pagi.

            “Shit.”, kutuknya dengan suara serak. Mengetahui bahwa ia tidak akan bisa mendapatkan cukup istirahat dalam situasi seperti ini, selimut terhempas karena ia tendang, kakinya menapakan dilantai kayu kamarnya. Ia angkat tubuh beratnya ke posisi duduk dan ia mengusap mata lelahnya perlahan.

Kepalanya terasa berputar saat ia bangkit dan ia mengerang. Berjalan melewati lorong, ia menguap dan mengambil langkah turun ke dapur untuk membuat sarapan pagi. Ia tahu Umma nya masih tertidur, jadi ia tidak ingin mengganggunya atau salah satu pelayannya. Remaja itu menyalakan beberapa lampu sebelum menyiapkan sesuatu yang bisa ia buat—sereal jagung.

Setelah mengunyah serealnya dalam diam, ia taruh mangkuk di wastafel dan berjalan perlahan menyusuri rumah. Ia berbelok di beberapa koridor, turun menuju lorong yang sangat familiar dimana kamar nya sewaktu kecil berada. Namja itu berhenti sejenak didepan pintu yang berdekorasi bintang dan stiker bola dan papan nama berwarna—kamar yang biasa ia gunakan saat masih kecil. Sekarang, menjadi milik Kai.

Ia putar gagang pintu dan mendorong pelan, meringis ketika decitan pintu membuat sebuah suara dan membuang nafas lega ketika menemukan bayi itu tidak bergeming—Kai tetap tidur dengan pulas, tangannya terangkat ke atas kepala dan dadanya naik turun seiring nafas teraturnya. Minho tersenyum melihat nya, kemudian mengerutkan alis lagi ketika ia mengingat bahwa orang yang memiliki mata yang sama, hidung yang sama dan mulut yang sama sedang berjuang dirumah sakit.

Balita itu tiba-tiba terbangun.

            “Hey.”, senyum Minho kembali mengembang ketika melihat mata Kai yang perlahan terbuka dan menguap lucu. Ia berterima kasih pada Tuhan bahwa bayi itu bangun dengan tenang—ia tidak ingin berurusan dengan bayi pemarah yang terbangun dipagi hari, meskipun itu penuh dengan aegyo.

Kai mengulurkan tangannya, meminta Minho menggendongnya. Remaja itu melakukannya dan memeluk adik Taemin itu erat di dadanya. Kai menguap lagi, meletakan kepalanya di dada Minho karena mencari kehangatan.

            “Uyu?”, tanya anak itu masih mengantuk. (*uyu = susu (dalam bahasa korea))

Minho tersenyum, “Baiklah.”, ia membenarkan posisi Kai digendongannya sebelum kembali ke daput, tahu bahwa semua keperluan Kai ada disana. Minho meletakan balita itu dikursi nya sebelum mencari botol bayi dan sekotak susu bubuk. Ia menemukannya hanya beberapa detik, dan melanjutkan mencampur air hangat seperti Umma nya ajarkan.

Kai menyambarnya dengan riang dari tangan Minho ketika botol itu diberikan padanya, membuat remaja itu terkekeh geli. Ia menunduk dan mencium kening Kai sebelum ia duduk disebelahnya, melihat balita itu menenggak habis sarapannya.

Meskipun tidak lama dari itu, lagi-lagi pikirannya sibuk dan terganggun dari kegiatan Kai minum susu.

Tenangkan dirimu, Minho. Ia mengacak rambut nya dengan tangan dan menarik nafas dalam-dalam, dengan putus asa membuang pikiran yang mengerikan dan hampir saja sukses. Dia tidak ingin berpikir lagi; dia cukup melakukan itu dan bahkan menyianyiakan waktu tidurnya. Ia tidak ingin mengingat luka Taemin, atau memarnya, atau tangisnya. Ia hanya ingin satu hal, dan itu adalah untuk melihat senyum Taemin lagi.

Bahkan jika itu adalah hal terakhir yang ia lihat dari kekasihnya.

            “Minho, kita tidak bisa bawa Kai bersama kita, kau tahu itu.”, kata Nyonya Choi sedih, “Dia tidak bisa melihat Hyungnya seperti itu. setidaknya … menunggu sampai memar nya menghilang sebelum kita membawanya.”

Anaknya beragumen, “Tapi Umma, tidakkah kau berpikir bahwa Taemin akan merasa lebih baik jika adiknya berada disana dengannya?”

            “Dan apa kau berpikir itu akan baik bagi balita ini jika melihat Taemin seperti itu?”,

            “Tapi—“

            “Selain itu.”, dia melanjutkan, memotongnya, “Kita harus memberitahukannya mengenai Appa nya hari ini. Ia berhak tahu, Minho, dan Kai tidak bisa disana ketika ia terpuruk—dimana kita tahu dia akan seperti itu.”

Minho membuang nafas menyerah namun setuju, tahu bahwa Umma nya itu benar. Dia selalu beanr dan saat ini, Minho tidak punya banyak tenaga untuk berdebat dengannya lebih jauh. Ia punya waktu yang panjang didepannya dan tidak cukup tidur perlahan membuat ia semakin lelah.

            “Baiklah, Umma.”

Ia memberikan senyum kecil dan tepukan dipunggung anaknya, “Ayo, aku jamin Taemin sudah bangun sekarang.”

Minho berdiri didepan pintu rumah sakit Taemin. Tangannya gemetar karena gugup, seperti ia hampir bisa mendengar tangisan putus asa dan teriakan yang bisa memecahkan sirine ruangan ICU. Ia bisa membayangkan air mata Taemin, membasahi wajahnya yang memar dan membuatnya tambah sakit lebih dari sekarang.

Minho tidak ingin melihatnya, namun ia tahu ia harus.

Ia membutuhkanku. Dia tidak akan begitu sedih jika aku yang mengatakannya. Dengan berpikir seperti itu ia genggam dadanya, ia menarik nafas sebelum memutar handle pintu dan membukanya, mendorong pelan pintu itu. ia masuk kedalam, kesedihan dalam hatinya tidak berkurang sedikitpun.

Ia sangat berharap bahwa setidaknya ia mengajak Umma nya bersamanya. Ia sangat ingin, namun Nyonya Choi memutuskan bahwa ada baiknya ia tidak disana. Minho berpikir itu tidak adil, namun begitu, ia ada benarnya.

Jadi, disinilah dia, berdiri di depan kasur Taemin dan ketika namja pirang itu terduduk semangat untuk bertemu dengannya—semua kata yang siap ia keluarkan seketika sirna. Satu hal yang bisa ia katakan hanyalah ‘hi’, dan itu pun tidak lebih dari sapaan saja.

Beruntung, namja pirang itu sudah bicara kembali. Suaranya terdengar serak dan jelas sedikit rusak, tapi ia akhirnya bisa mengeluarkan suara dari mulutnya yang tidak lain terdengar seperti erangan.

            “Minho.”, Taemin tersenyum, cantik nya begitu kontras dengan luka yang ada diwajahnya. Minho ingin sekali menyentuhnya, untuk memeluk Taemin, dan mengatakan padanya bahwa semua akan baik-baik saja dan dua kata itu ingin sekali ia katakan lagi. Namun, untuk situasi saat ini, ia tidak bisa melakukan semua itu. ia tidak bisa bahkan untuk membuat dirinya tersenyum.

Ketika ia tidak menerima respon sedikitpun dari namja cingunya, senyum Taemin perlahan menghilang dan berubah menjadi cemberut. Alis matanya berkerut bersamaan dengan ekspresi bingungnya, bertanya, “Ada apa, Minho?”

Semua kata terhenti di tenggorakan Minho. Ia berdiri disana, tidak bisa mengutarakan isi kepalanya, hanya membuka dan menutup mulutnya tapi tidak mengeluarkan suara.

Taemin menduga bahwa ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang sangat buruk, bahkan kekasihnya sendiri tidak bisa mengatakannya. Bagaimana ia bisa merasakannya, Taemin tidak tahu—tapi dalam hatinya, ia merasa bahwa ia tahu apa yang telah terjadi. Matanya mencari mata Minho, mencoba untuk menggali apa yang mulutnya coba katakan namun tidak bisa, “Dimana Appa? Apa dia … apa dia baik-baik saja?”,

Butuh waktu untuk Minho menyadari apa yang Taemin katakan. Ketika ia akhirnya sadar, ia menggelengkan kepalanya sedih, matanya turun menatap lantai.

Dan kemudian ia menunggu, menunggu untuk tangisan, amarah, kesedihan. Ia menunggu semua yang akan Taemin keluarkan, juga mencoba tegar untuk rasa sakit yang akan ia terima, menerima perasaan ketika ia melihat malaikatnya itu hancur berkeping-keping.

Tap itu tidak terjadi. Tangisan yang Minho bayangkan, itu tidak terdengar di seluruh ruangan rumah sakit seperti yang ia duga. Tidak ada satupun yang ia duga akan terjadi.

Sangatlah aneh, ketika Minho mendongak, ia melihat Taemin dengan ekpresi yang tidak bisa digambarkan di wajahnya. Ia terlihat tenang, yang menatap dinding dibelakang Minho. Ia terlihat … tenang, namun tetap matanya menggambarkan kepad Minho hal-hal yang tidak ia pahami.

            “Taemin?”, Minho bersuara lagi. Dia perlahan mendekat ke arah kasur, kemudian meraih tangan Taemin digenggamannya, merasakan senang di dadanya ketika ia merasakan kehangatan itu ditangannya.

            “Taemin?”, ulangnya, meremas tangan namja pirang itu untuk membuat Taemin mengalihkan pandangan padanya.

Taemin menatap kosong, pikirannya kosong. Ia hampir tidak bisa mendengar suara Minho memanggil namanya.

Minho, untuk sesaat, berharap Taemin sebaiknya menangis, dibanding terlihat seperti ini.

Terlihat begitu … kosong.

            “Dia meninggal?”, Taemin akhirnya bertanya setelah beberapa menit terdiam. Ia tidak butuh bertanya karena mata Minho mengatakan semuanya, tapi ia ingin mengetahuinya secara pasti.

Namja berambut hitam itu tidak bisa melakukan hal lain selain mengangguk.

Ia meremas tangan Taemin lebih erat, berharap itu bisa menawarkannya rasa nyaman untuk namja itu. Dan ia menunggu, sekali lagi, untuk air mata yang akan keluar dari mata Taemin; tangisan yang akan ia hapus menggunakan kemejanya.

Ia menunggu lagi, dan lagi, tidak terjadi.

Minho tidak bisa membayangkan apa yang ada didalam pikiran Taemin.

            “Minho … bisakah kau memelukku?”, Taemin bertanya getar. Ia mendongak menatap kekasihnya dengan mata nanar, air matanya siap untuk keluar dari sana namun tidak—Taemin tidak membiarkannya. Ia sudah cukup menangis.

Dan saat ini dimana dia  tidak akan pernah kembali, Taemin tidak butuh alasan untuk menangisinya.

Ia mencintainya dan akan memaafkan nya untuk semuanya, ia sudah memaafkan pria yang mencoba membunuhnya, tapi saat ini—sekarang, pria itu yang sudah menyakitinya bertahun-tahun telah pergi, Taemin tidak ingin menangisinya, tidak lagi. Ia mencintainya, tapi Taemin merasa ia tidak berhak menerima tangisnya, kali ini.

Ia tidak akan pernah menangis untuknya lagi.

Minho mengangguk dan memaksakan sebuah senyum, “Tentu saja.”, katanya, sebelum meraih tubuh rapuh Taemin kepelukannya. Ia membuang nafas di bahu Taemin, merindukan dimana tubuh mereka begitu cocok satu sama lain. Namja pirang itu merasa ia sudah berada dirumah ketika ia bisa merasakan bau khas Minho  dan menarik nafas menghirup bau yang begitu familiar.

Inilah rumahnya.

Taemin menutup matanya dan hanya menikmati keberadaan Minho.

Minho adalah keluarga ku sekarang.

Ia tidak akan pernah meninggalkanku.

Maafkan aku, Appa.

Aku tidak bisa membuat mu bangga.

Dan saat itu, Taemin menyadari bahwa ia tidak bisa melewati semua ini tanpa mengeluarkan air mata sendikitpun. Appa nya berhak menerima setidaknya sedikit air mata.

Dan Minho memeluknya dengan erat ketika ia merasa basah di bajunya. Taemin menangis dalam diam di pundak kekasihnya, merasakan kehampaan didalam dirinya berubah menjadi rasa sakit yang begitu kecil.

Ini adalah terakhir kalinya ia akan merasakan hal seperti ini.

Setelah beberapa menit menangis dalam diam dan isakan, Taemin bisa tersenyum kembali. Ia memberikan Minho senyuman cerah ketika ia melepaskan pelukannya, dan Minho tidak bisa tidak membalasnya. Tidak ada kata yang harus diucapkan, untuk mereka berdua hanya butuh melihat mata satu sama lain.

            “Semuanya akan baik-baik saja.”, ucap Taemin, nadanya tidak mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri atau orang lain untuk hal itu. kedengarannya seperti sebuah pernyataan sederhana, lebih terdengar seperti deklarasi dibanding janji.

Minho mengangguk. Ia menyempatkan diri berterima kasih kepada Tuhan bahwa pengalaman ini tidaklah buruk seperti yang ia duga. Taemin menerimanya dengan baik, meskipun Minho tidak tahu bagaiman itu bisa terjadi, dia tidak mau banyak memikirkannya. Setidaknya Taemin tidak kesakitan lagi. Itu yang penting.

            “Aku mencintaimu.”, kata Minho, bibirnya naik menyunggingkan senyum.

Tanpa ragu, dan hampir seperti sebuah jawaban otomatis untuknya, Taemin mengatakan, “Aku juga mencintaimu.”

Dan kemudian akhirnya, akhirnya, awan melayang jauh setelah badai, tidak meninggalkan apapun kecuali sinar matahari bersinar turun diatas mereka. Tepat pada saat itu, Minho merasa seolah-olah hatinya akan meledak keluar dari dadanya, dan ia mengambil jarak lebih dekat dengan Taemin, akhirnya menautkan kembali bibir mereka setelah rasanya sudah lama sekali.

Taemin tersenyum dan membalas ciumannya. Ia bahkan tidak perduli wajahnya terasa sakit. Semua yang terpenting adalah Minho dan berada disisinya selamanya.

Aku sangat mencintaimu.

Kemudian, Minho melepaskan ciuman panas mereka, menggantinya dengan ciuman mesra. Ia memundurkan wajahnya untuk melihat wajah Taemin. Terlihat hancur, tapi tetap cantik seperti biasanya Minho lihat.

Matanya turun menatap senyum yang Taemin berikan.

Dan kemudian ia melihatnya.

Ia melihat semua yang selama ini ia inginkan, dan akhirnya tercapai.

Taemin bahagia.

Ia sudah lebih baik.

-FIN-

Part 13 – 2Min-Damaged [Happy Endings, Funerals, and New Lives]>>

Halo, Gaes! So sorry yah delay untuk post part 12 ini. ;’) Maafin karena akhir-akhir ini lagi sibuk sama kerjaan, jadi maklumin yah! Hehe … Part ini masih panjanggg banget, jadi disabar2in untuk nunggu update nya yah! Haha …
Btw, thanks for always support this website yah, thanks for comment and like (also shared)!
Oh, sebentar lagi 9th Annivesarry of SHINee yah! Kasih tahu dikomen sudah berapa lama dan kenapa suka SHINee sampai sekarang. 😉

See ya!
Regards,
@vittwominaddict

 

Please do not post this translation everywhere! Take a full credit from me and Ichigosama as original author of this Fanfic!

Advertisements

15 thoughts on “2Min-Damaged [Gruesome, Sleepless Night, & Broken Arms]

  1. Huwaaaa dan yang terjadi adalah bapak nya tae meninggal
    lega bercampur sedih buat taemin
    sedih karena bapaknya meninggal biar bagaimanapun dia tetep bapaknya taemin jadi ya pasti sedih lega dan bahagia karena dia gak bakalan ngerasa ketakutan dan disiksa lagi ama bapak nya
    bersyukur taemin kagak napa napa takutnya dia manesia bahkan nggak bisa ngomong 😥
    tapi akhirnya dia bae bae aja
    Minho plis yaa jaga Taemin sekarang dia udah gak punya siapa siapa lagi jadi lu yang harus jaga ya Minho 😀

  2. Syukur lah tetem baik2 ajja makin cinta dehc tetem ama ming, perjalan. A cinta mreka masih jauh smoga gx parah2 bngtd perjalan.a cinta mreka kedepan nya, aq suka shinee brawal liat fto minho yg waktu itu dia pakai sragam sekolah smbil megang bola basket trus aq cari2 d google dn trnyata dia boyban asal korea yg nama shinee dn branggotan mreka lah aq liat mv meraka yg noona neomu yeopo trus dngerin lagu2 nya shinee pas album itu yahc lagu nya enak2 asyik2 shinee nya jga ganteng2 jd deh aq suka sma shinee dn alhamdulilah aq suka shinee smpe sekarang…, see you next chap 😊😊😊

  3. 😥😥😥😥😥 lega taemin selamat…meskipun keadaan.ny agak krg baik…beruntung dia gak amnesia n msh bs bicara…sediiih bgt waktu penggambaran keadaan.ny taemin…

    seneng n sedih…seneng krn appa.ny taemin ud meninggal jd kemgkinan gak ada yg nyiksa taemin lg…sedih krn taemin ud gak pny wali lagi jd klo gak di rumah bibi.ny yg gak tau dmn ya di panti asuhan…yg ptg jgn jauh2 dr minho ya tae…

    ngomg2 kok gak pernah di cerita.in appa.ny minho ya….apa ak yg krg perhati.in ??

  4. Pas baca kondisi taemin itu nyesek rasanya, tapi syukur dia ga papa. Dia jg udah nerima kematian appanya. Semoga next part dia lebihhhhh bahagia lagi, semoga kai sama taemin tetep di rumah minho. Oia sebenernya penasaran juga sih sama kehidupannya minho, dia kan cuma tinggal sama ummanya, appa minho mana?

    Dan btw aku suka shinee jg gara-gara minho 😁 awalnya pertama dengerin ost.BBF yg STAND BY ME itu aku kira Lee Minho dkk yg nyanyi eh ga taunya CHOI MINHO dkk 😂 dan sampe sekaranglah masih tetep nyantol sama shinee ❤

    Next part hwaiting!!!! 😊

  5. Syukur bgt taemin gak meninggal…
    Pas part sblumnya ada kata” meninggal dah takut kalo taem yg mati…
    Dan untung jga kata” dokter yg blg bakal amnesia atau gak bsa bcara gak terbukti…
    Wah seneng dech taem udah tenang hidupnya sekarang… :’) :’)

  6. Aku ikutan sesak bacanya.Kabar baiknya Taemin tidak amnesia dan juga masih dapat berbicara.Tapi aku punya firasat yg gk enak.Kalau Appanya Taemin sudah meninggal,dan tidak ada lagi yg menyakiti Taemin,masalah selanjutnya bikin aku was2.Gk mgkinkan berjalan mulus2 aja tanpa ada rintangan.Meskipun harapannya sih begitu.Setidaknya Taemin tidak tersakiti secara fisik,ini bikin lega bnget.Tidak bisakah Taemin dan Kai tinggal di rumahnya Minho saja? Takutnya Taemij bakal diasuh sama bibinya dan tempat tinggalnya sangat jauh.

    Aku tahu Shinee sejak thn 2012 akhir.Waktu itu diliatin beberapa mv kpop sama adik sepupu.Dan yg paling menarik perhatian aku adalah mv Lucifer.Terpesona bnget ama dance mrk yg kompak apalagi yg bnyak ditengah(Taemin).Sama mv Ring Ding Dong.Tapi di mv ini suka Onew karna imut bnget dan juga Key.Gk suka ama gayanya Taemin di mv ini.
    Dan wajah2 mrk masih blm hapal,jd tiap mv gk sama orang yg aku suka.Ketika gk sengaja liat postingan di grup kpop ttg fakta2 Shinee,aku merasa lucu aja.Akhirnya sering googling ttg Shinee hgg tercebur terlalu dalam smpai saat ini.

  7. AAAAAAHHH FINALLYYYYYYY!!!!!! Semoga setelah ini kehidupan taemin dan minho bisa bahagia dan fokus pada hubungan mereka😘😘😘😘

    Kayaknya ini mau end ya kak???? Atau bakal masih ada masalah2 lagi???? Huhuhu semoga nggaaaaaa!!!

    Btw, aku udah suka SHINee dari tahun 2011.an. waktu itu SHINee ngisi ost di drama BBF kan nah jadi aku cari2 deh penyanyinya daaaan nemu foto2 SHINee. Wkwk MV pertama yg ditonton yaitu Ring ding dong trs langsung suka sama taemin sampe sekarang 😂😂😂😂

  8. Hiks akhrnyaa taemin sadar.. minho bhgiaaa alamua bhgiaaa 😊😊

    Syukur taem mnrima kenyataan.. its th end for his crying.. and will shining…
    Sukaaaa nht sm crintnyaaa

    Prtma kali diajak tmn ntn konser music bank 2012 until now. Liat shinee depan mata dance sm live nyanyi. Just like attacked 😂😂.
    Emejinkkk 😂😂

  9. huks, aku senang akhirnya Taemin terbebas dari jeratan ayahnya :’) aku kira si Taemin bakalan metong or mentok-mentok ya seperti yang dikatakan Nyonya Choi kalo dia bakalan kehilangan suaranya, secara dia dicekik sampai mati selama 2 menit, beruntung masih bisa diselamatkan. langgeng ya kalian, aku siap menunggu undangan pernikahan kalian loh wkwkwk.

    btw kak, ku masih penasaran sama suara ghaib ituu, bakal dijelasin di part selanjutnya ga? dan Appa Lee kan udah metong ya, semoga part-part selanjutnya diisi dengan hubungan mereka aja deh :’D

    ah. soal SHINee, aku kenal mereka sejak aku kelas 2 smp, sekarang aku udah semester 4 ini, ga kerasa udah lama aku kenal mereka, mereka yang selama ini menemani masa-masa remajaku :’)

    awal suka sama mereka karena RDD yang langsung nyantol di telinga, tapi seiring berjalannya waktu aku rasa udah gapunya alasan spesifik lagi buat suka sama mereka. I like all part of them. seperti halnya dulu masih menganut kepercayaan Oppa is Mine, sekarang malah jadi All is Mine ^^

  10. Akhirnya… Kebahagian bisa di rasakan sama taem ^^ syukurlah itu si appanya metong. Biar ga ada yg nyakitin taem lagi.. Next part semoga 2mmnya makin bnyak 😂

    Dan btw aku kenal shinee sejak 2011 tapi jdi shawol sejak 2012.. Dan kenapa suka shinee ? Yah karna aku suka 😂 sesederhana itu 😂

  11. Yg bikin lega part ini taemin selamat dan soal kematian appa taemin itu pasti menjadi suatu dilema, disatu sisi taemin aman dan disisi lain tetap saja dia appanya taemin…
    disini untung slalu ada minho buat taemin

  12. Ga tega sama Taemin.. tp bersyukur karena dia cukup tegar menghadapi semuanya. Proud of you Tae :’)
    I love you~♥

    Byw ngomongin kenapa suka SHINee,, aku nggatau sih kenapa 😂 wkwk
    Soalnya yaudah suka aja gitu. Semacam otomatis lah~
    Dan kenapa suka mereka sampe sekarang?
    Karena menyukai dan mencintai seseorang tidak perlu alasan♡ *tssaaahhhh

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s