2Min-Damaged [Happy Endings, Funerals, and New Lives]


Damaged – Original Story by Ichigosama (Nikki)
Translation all right reserved by Twominyeah

<<Part 12 – 2Min-Damaged [Gruesome, Sleepless Night, & Broken Arms]

WARNING!!!
YAOI (BoyxBoy), CHEESY, SMUTT (for next chapter), RATE 17+.

Silent Promises and Happy Endings | Funerals and Bittersweet Goodbyes | New Lives and New Routines

 

Dua minggu waktu yang dibutuhkan oleh Taemin untuk pulih kembali. Pada minggu kedua ia tinggal di rumah sakit, ia bisa jalan sendiri dengan baik, bercak ungu di wajahnya perlahan menghilang bersamaan dengan lebam merah di matanya, dan suaranya sudah kembali normal lagi. Fakta bahwa Minho selalu bersamanya setiap hari setelah pulang sekolah adalah alasan utama nya untuk sembuh lebih cepat. Dan Taemin tidak butuh apapun selain kekasihnya yang sempurna.

            “Kau yakin kau bisa jalan sendiri?”, Minho bertanya untuk kesekian kalinya.

Namja pirang itu tersenyum dan perlahan mendorong tangan yang mencoba membantunya, “Aku baik-baik saja, Minho. Dokter bilang tidak apa-apa aku bisa jalan sendiri sekarang.”

Kekasihnya itu memaksa, “Kau yakin?”,

            “Aku sangat yakin, begitu yakin.”, Taemin memberikan senyum lebar meyakinkannya. Itu berhasil; Minho melepaskan tangannya dan mereka berjalan beriringan menuju mobil dimana Nyonya Choi menunggu mereka. Minho, layaknya gentleman, membuka pintu untuk Taemin, berhasil membuat namja pirang itu tersipu.

            “Aku bukan yeoja, Minho.”, ucapnya bercanda, namun masuk kedalam mobil, tidak banyak bicara. Minho duduk di kursi belakang bersamanya dan menutup pintu, kemudian berkata, “Yeah, tapi tetap saja, aku ingin memperlakukanmu layaknya seorang putri.”

Sebelum Taemin bisa membela dirinya sendiri dari situasi memalukan, Nyonya Choi melihat mereka dari kaca spion depan dan berkata, “Apa kau yakin kau harus berjalan, Taemin ah?”

Minho tertawa kencang, dimana Taemin cemberut, “Aku sudah lama tidak berjalan selama dua minggu, Nyonya Choi. Aku yakin aku bisa.”

Wanita itu tertawa kemudian menyalakan mesin mobil, “Okay, okay.”

            “Apa kita pulang kerumah sekarang?”, Minho bertanya setelah ia pulih dengan tawanya.

            “Yeah, kenapa?”, tanya Umma nya.

            “Bisakah kita beli banana milk untuk Kai dulu?”

Taemin menyenggolnya.

            “Oh, dan untuk Taemin juga?”, Minho tersenyum, melihat ke arah kekasihnya, yang memberikan ia kecupan manis sebagai balasan.

            “Minnie Hyung!!”

Kai langsung membuang mainan robot nya setelah ia melihat Hyungnya berjalan masuk dari pintu dan lari ke uluran tangan Taemin. Taemin menangkapnya dan memutar nya, mendapatkan kekehan kecil dari balita itu.

            “Aku lama sekali tidak melihatmu, Kai baby! Apa kau merindukanku?”, tanya remaja itu, mencolek hidung adiknya dengan jarinya.

Balita itu mengangguk semangat sebelum memeluk leher Hyungnya dengan tangan kecilnya. “Bogochipoceoyo, Hyung!”

Itu membuat senyuman tambah lebar diwajah Taemin. Ia memeluk erat adiknya, menggoyangkan tubuh mereka kekanan kerkiri ditangannya, “Hyung juga saaaangat merindukannya, neooomuu bogoshiposeo…”

Emosi selanjutnya membuat air mata di wajah Taemin. Ia tidak bisa menjelaskan bagaimana, tapi tiba-tiba merasakan adiknya di pelukannya membuat ia begitu bahagia, menyedihkan secara bersamaan. Ia tahu bahwa hanya anak ini lah satu-satunya keluarganya yang tersisa. Dan untuk Kai kehilangan Umma dan Appa nya di usia nya yang muda; membuat hati Taemin hancur.

Namun, menguatkannya, untuk saat ini ia tahu bahwa ia harus melindungi Kaibaby dengan segala yang ia punya. Kai berhak semua cinta yang seharusnya diberikan untuknya; ia berhak memiliki rumah dimana keluarga akan memberikan apapun yang ia butuhkan dan mencintainya seperti tidak ada hari esok. Taemin berencana melakukan itu semua; ia akan memberikan semuanya pada Kai, dirinya, yang tidak pernah ia dapatkan ketika ia kecil.

Kai memundurkan tubuhnya ketika ia menyadari Hyungnya gemetar. Ia melihat dengan bingung saat air mata turun di wajah Taemin, bingung kenapa orang bisa terlihat senang kemudian menangis secara bersamaan. Bibirnya cemberut melihatnya.

Dengan tangan kecilnya, ia meletakannya di wajah Taemin dan berkonsentrasi menghapus air yang membasahi wajahnya, dan Taemin tersenyum karena tingkah manisnya. Air matanya seketika kering dan ia tersenyum lagi pada balita kesayangannya, menunjukan bahwa ia baik-baik saja.

Kai mendongak menatapnya dengan mata besarnya, bertanya, “Hyung sedih?”

            “Ani.”, Taemin menggeleng, “Tidak lagi.”

            “Hyung sedih karena Appa?”

Taemin mengerutkan alis bingung; ia pastinya belum mengatakan tentang Appa nya pada Kai. Hal ini, Minho mengambil kesempatan untuk membuat keberadaannya diketahui dari ambang pintu dimana sedari tadi ia berdiri, hanya melihat adegan manis didepannya. Ia berjalan kesamping Taemin, yang menatapnya penuh harap.

            “Umma memberitahunya dengan cara anak kecil bisa memahaminya.”, Minho menambahkan.

Taemin perlahan mengangguk dan meletakkan Kai kembali di lantai, dimana ia kembali menghampiri mainannya, “Dan? Bagaimana reaksinya?”, ia kembali melihat Minho.

            “Ia sedih awalnya, “, jelas Minho, “Ia menangis untuk beberapa lama, tapi, aku rasa ia baik-baik saja sekarang.”, ia melihat ke arah balita itu, dan asumsinya benar ketika Kai mengeluarkan suara dari mulutnya ketika berpura-pura membuat mainannya ‘terbang’, tidak perduli tentang dunia ini, “Meskipun itu membutuhkan waktu. Umma berkata padaku bahwa Kai akan mencari Appa nya sesekali, tapi dia akan melupakannya seiring waktu, kita hanya butuh disisinya ketika ia sedih atau apapun itu.”

Taemin mengangguk mengerti, membuat catatan ia harus berterima kasih pada Nyonya Choi nanti karena kebaikan hatinya.

            “Mino Hyung!”

Keduanya memutuskan pembicaraan dan melihat anak itu. Dimana Kai menatap ke arah Minho.

            “Aish, dia tidak pernah memanggil namaku dengan benar.”, Minho pura-pura membuang nafas sedih sebelum membungkukkan badan untuk setara dengan Kai. “Ada apa, buddy?”

            “Mino Hyung harus mencium Minnie Hyung.”, katanya, seperti itu adalah sebuah solusi untuk menyembuhkan penyakit kanker, “Buat sembuh. Mino Hyung harus mencium Minnie Hyung.”

Taemin tersipu ketika Minho kembali berdiri dengan cengiran di wajahnya, “Jadi begitu?”, ia menoleh ke arah Taemin dan meraih tangannya, “Kau dengar itu Minnie ah? Aku harus mencium mu sekarang, jadi boo-boo* akan hilang.” (*boo boo = sakit)

Namja pirang itu baru saja akan mendengus ketika mendengar cara Minho bicara seperti anak kecil, tapi sebelum ia bisa mengatakan satu kata, bibir Minho sudah ada di bibirnya dan menelan apapun yang coba ia katakan. Taemin panik dan mendorong Minho menjauh, begitu memaksa melebihi dari yang ia inginkan, “J-Jangan didepan Kai, Minho…”

            “Dia sudah melihat kita berciuman beribu kali sebelumnya.”, namja tinggi itu membantah.

            “Yeah, tapi tidak baik melihat kita seperti itu.”

Minho berhenti sebentar, memikirkannya. Kemudian dia memutuskan, “Baiklah. Ayo kita pergi kekamar kita dimana Kai tidak bisa melihat kita.”

Kamar ‘kita’?

            “Tapi—“

            “Hyoyeon shi!”, Minho memanggil pelayannya. Tidak lama, seorang wanita dengan terburu-buru datang ke ruang tamu, “Bisakah kau menjaga Kai sebentar?”, tanyanya.

Wanita itu tersenyum dan mengangguk, sontak mengambil tempat disamping anak itu yang sibuk bermain dengan robot nya.

Hal selanjutnya yang Taemin tahu, ia diseret naik ke lantai atas, menuju kamar Minho. Ia hendak merengek pada kebiasaan antik Minho sampai namja tinggi itu tiba-tiba harus menggendong nya, menggunakan kekuatannya untuk mengatasi namja yang lebih kecil darinya itu.

            “Minho, apa yang kau—“

Minho tidak memberikan kesempatan untuk merespon. Saat ia kemudian meletakan Taemin di atas kasur (dengan lembut, tentu saja), ia menyerang bibir Taemin dengan bibirnya, sesuatu yang hangat menyelimuti dada nya ketika kontak fisik yang selama ini ia inginkan akhirnya terjadi. Terakhir kali mereka berciuman sudah lama  sekali.

Namja kecil itu sontak merasa meleleh karena sentuhan Minho, seperti bibirnya mempunyai mantra sederhana yang langsung menempatkan dia di posisi terhipnotis. Secara otomatis, ia merangkulkan lengannya dileher Minho dan membawanya mendekat, membiarkan namja yang lebih besar itu mengangkangi pinggulnya. Bibir mereka menyatu bersama dalam gairah, ciuman yang panas, membiarkan Taemin menyadari bahwa dia merindukan Minho seperti ini. Selama tinggal dirumah sakit, ia tidak memiliki kesempatan untuk bermesraan dengan Minho. Dia baru menyadari betapa ia menginginkan semacam ini dengan dia. Meskipun itu terlalu memalukan untuk mengakuinya.

Ketika mereka menyudahinya setelah beberapa menit, keduanya terengah dan wajah mereka memerah. Bibir mereka memerah dan basah karena air liur masing-masing.

            “Aku merindukan untuk bisa menyentuhmu seperti ini Taemin ah.”, Minho menyengir, membawa tangannya membelai helaian rambut Taemin dari wajahnya, “Kau tidak tahu itu.”

            “Aku juga merindukanmu.”, Taemin mengakui dengan senyum terkulum, “Lebih dari yang kau akui sebenarnya. Aku memikirkanmu sepanjang waktu dirumah sakit ketika kau tidak ada.”, sebuah guratan merah muncul di wajahnya, “Yang bisa kulakukan adalah menunggu mu datang kembali. Dan ketika kau pulang kerumah, aku tidak pernah merasa begitu kesepian sepanjang hidupku.”

Minho merasa hatinya begitu bangga mendengar pengakuan yang tak terduga, “Aku bisa mengatakan yang sama, Taemin ah. Ketika aku masih disekolah, hal yang bisa aku fokuskan adalah kau dan apa yang bisa kau lakukan tanpa aku. Aku sangat khawatir padamu, bahkan meski aku tahu kau aman.”, ia membungkuk dan memberikan bibir Taemin satu kecupan, “Ayo kita habiskan waktu bersama, ok?”

Namja pirang itu menggigit bibirnya untuk menahan tersenyum terlalu lebar.

            “Baiklah.”

Minho memberikan senyum simpul. Kemudian, ia menunduk dan menaruh hidungnya di leher Taemin, membuat namja dibawahnya sedikit merinding.

            “Saranghaeyo.”, bisiknya. Satu kata simple itu langsung menuju tepat ke jantung Taemin.

Ia tidak begitu terbiasa untuk menyampaikannya, namun, ini begitu mudah untuk mengatakannya pada Minho.

            “Nado saranghaeyo.”

Hampir selama satu jam bermesraan dan berpelukan, hanya menikmati keberadaan satu sama lain selama sisa sore itu, dua namja itu akhirnya berbicara tentang apa yang selama ini mereka takutkan. Keduanya tentu saja tidak ingin membicarakan atau bahkan memikirkannya, namun itu tidak bisa dihindarkan. Mereka harus membicarakannya.

Dan saat ini sepertinya waktu yang tepat.

            “Yeobo, Umma bilang bahwa kau akan pindah dengan Bibi mu setelah semuanya selesai.”, Minho berkata. Keduanya begitu paham dengan arti ‘setelah semuanya selesai’ yang dimana artinya adalah menyelesaikan pemakaman untuk Appa nya. Minho tahu persis tanpa harus membicarakannya keras-keras, tahu bahwa Taemin pasti masih sensitif mengenai itu.

Faktanya, Taemin sendiri sudah mulai menerimanya. Ia sudah mulai menerima fakta bahwa Appa nya telah pergi. Dan meskipun ia merasa kehilangan, ia tidak bisa untuk merasa sedikit bahagia akhirnya semua ini berakhir.

Mereka menjalani kehidupan baru sekarang, Kai dan dia.

Namun tentu saja, itu artinya ia akan jauh dengan Minho berjarak dua jam.

            “Aku tahu, ia sudah mengatakan padaku ketika aku dirumah sakit.”, Taemin membuang nafas, meletakan kepalanya di ada Minho yang kemudian namja berambut hitam itu menarik pundaknya untuk memberikan kenyamanan.

            “Dan?”

            “Apa maksudmu?”

            “Apa kau akan baik-baik saja dengan ini?”, tanya Minho. “Maksudku, kita tidak akan bisa bersama-sama sepanjang waktu sekarang. Dan tentu saja, kau akan pindah ke sekolah baru.”, ia terdiam sebelum melanjutkan, “Apa kau … akankah kau baik-baik saja?”

Taemin memaksakan tawanya, “Tentu saja aku akan baik-baik saja. Kau harus lebih percaya padaku, Minho.”, ia menggigit bibirnya sebelum melanjutkan, “Meskipun Aku akan merindukanmu. Aku akan sangat merindukanmu.”

Minho juga memaksakan tawanya. Ini begitu menyedihkan dari yang ia bayangkan, dan itu membuat kedua nya merasa begitu tidak tenang, “Kita akan tetap bertemu satu sama lain kan? Aku akan pergi kesana setiap hari jika perlu. Kau membuat ini begitu menyedihkan, Taemin ah. Ada banyak cara untuk menjaga hubungan jarak jauh.”

            “Aku tahu tapi—“, Taemin membuang nafas, “Ini tidak akan sama.”

Keduanya merasa seperti ada beban yang menghimpit dada mereka. Minho tahu Taemin benar.

            “Kita bisa hadapi ini okay? Jangan khawatir.”, Minho tersenyum menatap kekasihnya, “Aku akan tetap mencintaimu.”

Taemin mengangguk paham, “Kau terlalu gombal, tapi aku harus akui aku menyukainya.”

Minho tertawa. Kemudian tiba-tiba, ia terduduk dan mendorong Taemin menjauh dari nya, “Aku baru saja ingat sesuatu. Tunggu sebentar.”

Namja pirang itu menatap Minho ketika ia mengacak lemari bajunya, mengeluarkan suara ‘aha’ ketika akhirnya dia menemukan yang ia cari. Dengan senyum lebar, ia kembali ke arah Taemin dan menjulurkan tangannya. Itu adalah sebuah kotak.

            “Apa itu?”

Minho menyodorkannya pada Taemin, yang langsung mengambilnya sambil memandangi Minho dengan mata curiga, “Buka saja.”

Dan Taemin mengangguk. Matanya terbelalak ketika ia mengeluarkan sebuah ponsel merk baru.

Namja pirang itu mendongak padanya, “Untuk apa ini?”

Minho tersenyum dan duduk disamping Taemin, mengambil ponsel dari kotaknya dan meletakannya ditangan Taemin, “Ini untuk membuat kita tetap menjaga komunikasi. Aku akan menghubungimu setiap hari, dan kau bisa mengirim pesan padaku ketika kau ingin. Aku akan selalu membalasnya.”

Air mata sontak terambang di pelupuk matanya karena perasaan bahagia. Ia menunduk melihat ponsel itu, kemudian meraih Minho untuk memeluknya erat.

Saat itu, ia merasa bahwa mereka benar-benar akan berpisah. Untuk Minho memberikan ia ini, itu artinya bahwa mereka akan benar-benar berpisah dari satu sama lain. Sakit, namun Taemin tidak bisa pungkiri ia bahagia bahwa Minho memberikannya ini. Baginya, itu artinya bahwa ia begitu perhatian pada hubungan mereka. Dia benar-benar ingin menjaga hubungan jarak jauh mereka berjalan lancar.

            “Aku sangat berterima kasih untuk ini, terima kasih banyak, Minho.”, Taemin berkata seraya air matanya jatuh ke pipinya. Ia menghapusnya sebelum Minho menyadarinya.

            “Sama-sama, Yeobo.”, Minho mengusap punggung Taemin dan tersenyum, “Hanya janji padaku satu hal.”

            “Apapun.”

Berjanji padaku kau akan baik-baik saja.

            “Janji padaku kau tidak akan lupa mengirim pesan, okay? Jadi aku akan tahu kau baik-baik saja.”

Janji padaku kau tidak akan terluka lagi.

            “Aku akan mengirim pesan setiap hari.”, jawab Taemin mantap.

Berjanji padaku bahwa kau tidak akan jatuh hati pada namja lain.

            “Apa kau tahu bagaimana caranya?”

Berjanji padaku bahwa kau akan memikirkanku setiap hari.

                “ ….. “

Berjanji padaku bahwa kau akan terus mencintaiku, bahkan jika kita dipisahkan oleh jarak.

                “Aku pikir aku tahu.”

Taemin sudah berada di upacara pemakaman dua kali dalam hidupnya. Pertama adalah ketika kakeknya meninggal. Dia masih sangat kecil waktu itu; ia tidak mengerti sedikitpun atau dia tidak merasakan kesedihan orang-orang yang ada disekitarnya. Tapi saat ini, saat peti mati Appa nya di tutup, dia akhirnya mengerti bahwa itu seperti kehilangan orang yang kau cintai.

Begitu nyata.

Namja muda itu, menggunakan pakaian serba hitam –sebuah kemeja yang terlalu kebesaran karena itu milik Minho, berdiri kaku disamping Bibi nya (Sekyun), namja cingunya, dan Tuan dan Nyonya Choi. Seorang anak kecil yang tertidur digendongannya, dimana untungnya tidak begitu cukup mengerti apa yang sedang terjadi. Taemin tidak bisa bayangkan dia bisa menghadapi seorang anak kecil yang trauma di umurnya yang masih muda. Dia tidak ingin Kai mengalami apa yang ia alami saat kecil.

Perlahan, peti mati itu diturunkan kedalam tanah. Seorang pendeta menundukkan kepala sebagai tanda duka cita.

Lagu pemakaman beralun pelan menjadi pengiring. Itu adalah lagu ballad favorit Appa nya; lagu yang biasa ia dengar ketika ia dalam keadaan mabuk. Taemin ingat pria itu menyanyikan untuknya kapanpun saat ia merasa takut dan gugup, dan dia ingat bagaimana ia bisa tenang saat mendengarnya. Lagu itu pastinya memberikan banyak emosi baginya.

Namun anehnya, Taemin tidak merasakan apapun. Ia tidak merasakan hal sedikit pun. Ia ingin menangis, sungguh. Tapi air matanya tidak keluar. Ia ingin merasakan setidaknya sedikit kehilangan Appa nya, namun ia merasa apapun dihatinya melainkan perasaan lega. Ia merasa ia terbebas dari sesuatu, seperti beban berat terangkat dari pundaknya. Tidak bisa dipungkiri.

Perasaan tidak enak merayap padanya saat batu nisan ditancapkan di kuburan Appa nya, dimana ia beristirahat selamanya, akhirnya.

Rasa sakit kehilangan ada disana, Taemin yakin; tapi tidak muncul kepermukaan; dia hanya merasa hampa.

Appa, aku akan merindukanmu. Maafkan aku.

Taemin mengeratkan pelukannya pada Kai, membenamkan wajahnya di bahu anak itu dimana ia mencari perlindungan untuk mereka berdua. Dalam tidurnya, Kai mengeratkan pelukannya pada leher Taemin, seperti berkata, ‘Aku akan disini untuk mu, Hyung. Jangan khawatir.’

Minho melihat ini dan meletakkan tangannya di pundak kekasihnya itu, memberikan elusan menenangkan. Namja pirang itu mendongak memberikan tatapan terima kasih.

Tidak ada yang diucapkan seraya mereka akhirnya menutup makam itu, kotoran menyegel dari lubang permanen.

Dan sebagai mawar terakhir ditempatkan di kuburan baru yang tertutup, Taemin berbisik, berharap bahwa entah bagaimana, pesan terakhirnya akan sampai ke Appa nya, dimanapun ia berada. Aku mencintaimu Appa. Selamat tinggal.

Perpisahan tidak pernah berarti baik bagi Taemin. Setiap perpisahan dalam hidupnya selalu menyakitkan, atau menyakiti orang yang ia sayangi. Dia tidak pernah menyukai  kata perpisahan. Namun tidak bisa dihindarkan.

Jadi hari berikutnya setelah pemakaman Appa nya, barang-barang Taemin dan Kai dimasukan kedalam truk kecil, siap untuk dibawa 2 jam jauhnya dari tempat ia berada dan menuju ke daerah pinggiran kota kecil dimana Bibi dan keluarganya tinggal.

Itu merupakan jarak yang dekat, namun Taemin tidak tahu bagaimana ia bisa menghadapinya. Ia tidak tahu bagaimana caranya ia bisa bertahan tanpa Minho disampingnya setiap hari. Kau akan baik-baik saja, ia mencoba mengatakan pada dirinya, kau hampir hidup sendirian selama ini, kenapa saat ini begitu sulit?

Tapi ia tahu, didalam hatinya, itu tidak akan mudah. Karena selama ini, ia akan meninggalkan sesuatu yang begitu penting baginya. Ini tidak akan begitu sulit  jika ini bukan Minho. Rasa takut sendirian tidak akan begitu kerasa jika ia tidak memiliki Minho disampingnya selama ini. Dia sudah begitu terbiasa ada Minho disisinya; menenangkannya, melindunginya, mengatakan padanya bahwa semuanya akan baik-baik saja, memeluk dia, mencintai dia.

Ini tidak akan pernah sama lagi.

Kemudian, ia menangis untuk pertama kalinya sejak acara pemakaman.

Melihat hal ini, Minho langsung membawa kekasihnya itu kedalam pelukannya dan membisikan hal-hal manis seperti yang selalu dia lakukan. Semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak akan pergi kemanapun. Mereka tetap bisa saling berbicara. Minho tidak akan berhenti mencintainya.

Berjanji bahwa Taemin tetap di hatinya. Ia memeluk Minho lebih erat, seperti dirinya begitu bergantung pada namja tinggi itu.

Dan dia tidak bisa melepaskannya. Ia tidak bisa.

            “Taemin ah, kita harus pergi.”, ia mendengar Bibi nya memanggil dari dalam mobil.

Hanya sebentar lagi.

Tangan Taemin semakin memeluk baju belakang Minho erat, meremas nya dengan tangan kecilnya. Minho juga tidak ingin melepaskannya sama seperti dia, dia memeluk pinggangnya erat, hampir saja membuat mereka tidak bisa bernafas karena pelukan itu.

Seperti sejam rasanya. Berdiri disana, menangis, tidak ingin melepaskan. Taemin merasa seperti hidupnya berakhir. Itu berlebihan, tapi ia merasa begitu. Ia tidak bisa bertahan dengan terpisah jauh dari Minho.

            “Taeminnie.”, akhirnya Minho berkata, “Taemin ah, kau harus pergi jika kau ingin segera sampai disana lebih cepat.”

Taemin menggeleng keras kepala. Isakannya menggetarkan tubuh kecilnya, membiarkan bergetar mengalir dari tubuhnya ke tubuh Minho. Namja tinggi itu membuang nafas dan membawa tangannya mengelus rambut Taemin. “Ini tidak sejauh yang kau pikirkan, kita tetap bisa bertemu,”, ia memaksakan tertawa kecil, “Jangan menangis seakan kita tidak akan bertemu lagi.”

Namja tinggi itu terisak, “T-tapi … aku tidak akan bisa melihatmu setiap hari.”, ia terisak, “Aku tidak y-yakin bisa menghadapinya, Minho. Aku tidak ingin itu…”

Air mata mulai mengembang di mata Minho. Ia mengigigit bibirnya dan menahannya, mencoba begitu keras untuk tetap kuat didepan Taeminnie-nya. Perlahan, ia melepaskan pelukan kuat Taemin dan meraih wajah nya dengan kedua tangan, membuatnya menatap ke matanya.

            “Ingat janjimu? Kau bilang kau janji menghubungiku dan bicara denganku setiap hari kan?”

Taemin mengangguk, air matanya akhirnya mulai surut dan ia membawa tangannya yang gemetar mengusapnya dari pipinya yang basah.

Minho tersenyum, “Maka itu tidak begitu buruk kan? Aku akan mengirim pesan setiap hari. Aku akan mengirimnya setiap satu jam jika kau mau! Jadi … jangan membuat ini terdengar seperti kita berpisah selamanya.”, ia membuang nafas dan menggunakan jempolnya menghapus air mata yang keluar dari mata Taemin, “Kau akan bahagia disana dengan keluargamu, di kota ini akan mengingatkanmu akan rasa sakit, hal-hal buruk … aku tidak ingin itu terjadi. Aku ingin kau bahagia sebisa mungkin. Dan meskipun ini artinya kita harus berpisah sebentar, aku bisa menahannya. Jika artinya bahwa kau bisa bahagia lagi.”

Itu masuk akal, tapi Taemin ingin protes, ingin mengatakan bahwa ia sungguh baik-baik saja dengan tetap tinggal disana jika artinya ia bisa bersama Minho, tapi dia juga memikirkan Kai. Adik kecil nya butuh sebuah keluarga. Taemin tahu dia tidak bisa memberikan semuanya yang ia punya sendirian untuk adiknya.

Jadi akhirnya ia mengangguk.

            “Jangan sedih, ok?”, kata Minho, “Kumohon, berikan aku senyum manismu sebelum kau pergi.”

Namja pirang itu menurut; bibirnya akhirnya berubah menjadi cengiran sebelum ia memeluk Minho untuk terakhir kali, memberikan ia ciuman manis juga. Ia sangat membutuhkannya jika ia harus berpisah dengan Minho untuk sementara.

            “Kita bisa melalui ini, neh?”

Minho mengangguk, “Tentu saja kita bisa.”

Dia sangat bertekad, Taemin akhirnya tersenyum, dan dia berjanji untuk setia seperti Minho.

Akhirnya, ia menoleh ke Nyonya Choi, yang berdiri dibelakang Minho dari tadi, dia tersenyum lembut. Ia melepaskan diri dari Minho dan memberikan Umma nya pelukan hangat, “Terima kasih untuk semuanya, Ahjumma. Terima kasih banyak.”

            “Kau tidak perlu mengatakannya, Taemin goon.”, balasnya, air matanya sendiri sudah mengalir, “Kau seperti anak ku sendiri sekarang. Kau tidak perlu sungkan.”

Taemin tersenyum. Tanpa ada kata lagi yang harus ia ucapkan, ia melepaskan pelukan wanita itu dan berjalan ke mobil dimana Bibi dan adiknya menunggu. Minho membukakan pintu untuknya, membiarkan namja cingunya masuk duduk disamping Kai. Anak kecil itu mendekat kejendela dan melambai, “Annyeong, Mino Hyung!”, katanya dengan senyuman lebar. Taemin membawanya ke pangkuannya sebelum ia bisa lari dan menutup pintu.

Ia melihat ke arah Minho melalui jendela, dan namja itu memberikan senyum padanya. Sebuah senyum yang mengatakan; tidak perlu mengucapkan selamat tinggal. Taemin mengangguk dan melambaikan tangan, Kai melambaikan tangan kecilnya bersamaan dengan Sekyun menancapkan gasnya keluar dari kediaman Choi.

Bersamaan mereka meninggalkan gerbang, Taemin mengeluarkan ponselnya dan mengirim sebuah pesan.

Aku langsung merindukanmu.

Ia membuang nafas dan menyenderkan badannya kekursi.

Minggu berikutnya akan begitu berat baginya.

Hal pertama yang Taemin sadari tentang kamar barunya adalah bahwa itu setidaknya setengah lebih besar dari kamar lamanya. Koper besar yang berisi seluruh barang penting telah diletakan dilantai seraya mata besarnya menyapu seluruh ruangan baru.

Ia tidak bisa percaya bahwa ia diberikan tempat yang bagus. Begitu kontras dengan kamar lamanya, dimana begitu kecil dan terlihat jelek, sementara ruangan baru nya begitu luas dan dindingnya dicat berwarna biru. Taemin mengambil beberapa langkah masuk ke dalam kamar, dan ia tersenyum ketika ia melihat sebuah meja yang ada disisi dinding. Ia selalu ingin punya satu yang seperti itu.

Setidaknya setengah rasa sakit yang ia rasakan telah terangkat karena suasana barunya. Ini yang ia tahu, bahwa ruangan ini hanyalah satu langkah awal untuk menuju hidup yang baru. Suatu hari nanti, ia berharap beberapa minggu kedepannya, ia bisa akhirnya menyebut rumah Bibi nya ini adalah ‘rumah’ nya. Kai tentu saja berhak mendapatkannya. Mereka berdua berhak, ya kan? Seluruh hidupnya dihabiskan dengan menerima rasa sakit dan ditelantarkan orang tua, berusaha keras untuk tetap hidup dirumahnya sendiri; Taemin merasa ia butuh setidaknya merasakan kehidupan yang baik. Dan kamar baru ini, rumah baru ini, keluarga baru ini…; Taemin tidak ingin hal lain selain untuk menikmatinya selama ia bisa.

Namun seraya rasa hangat, perasaan bahagia yang ada di hatinya, ia tiba-tiba ingat bahwa berjanji untuk menghubungi Minho ketika ia sampai dirumah baru. Rasa hangat didalam hatinya langsung sirna dan berganti dengan perasaan hampa, perasaan sedih.

Taemin berjalan ke kasurnya dan duduk di sprei lembut itu, lega ketika ia tidak mendengar bunyi decitan yang ditimbulkan seperti kasur lamanya. Tetap dengan perlahan, Taemin mengeluarkan ponsel barunya dari saku celana depannya. Beruntung sekali, Nomer Minho ada di panggilan cepat, karena begitu dia menyentuh tombol ‘call’, efek air di layar sentuh yang canggih itu menyapanya.

Dering pertama … dering kedua … dering ketiga…

                “Hello?”, sebuah suara menyapa.

Dan saat itu juga, satu sapaan yang keluar dari suara familiar Minho membuat air mata mengembang dimatanya. Selain itu, ketika Minho bertanya ada apa, tidak butuh waktu lama untuknya mengeluarkan isakan dari dada Taemin. Ia memegang ponsel itu erat ditangannya, seperti ia berusaha mencengkramnya keras-keras, ia ingin merasakan setidaknya sedikit keberadaan Minho.

Tapi tidak bisa.

            “M-Minho.”, kata Taemin, mencoba sebisa mungkin untuk tidak menghiraukan kesulitan bernafas dari paru-parunya namun ia berkata, “A-aku disini.”

“Sudah dirumah? Kenapa … kenapa kau menangis, baby?”

Suara Minho tidak terdengar sama. Terlalu terhalang oleh speaker ponsel. Taemin tidak menyukainya sama sekali.

            “K-kau tidak disini.”, Taemin menarik hidunganya yang berair, “Aku butuh k-kau disini bersamaku, aku t-tidak bisa jauh dari mu.”

Itu begitu memalukan dan ia merasa berlebihan dan menyedihkan; mereka bahkan baru saja berpisah setidaknya dua jam lalu.

Tapi tetap saja, itu tidak merubah fakta bahawa Minho begitu jauh dari nya.

Taemin tidak tahu; mungkin ini bukan hanya karena ia pindah yang membuat ia merasa begini. Ia tetap butuh waktu dari kematian Appa nya, masih ada masalah penyesuaian diri dengan lingkungan baru yang butuh rasa percaya secara tiba-tiba, dan kemudian ada rasa ketakutan untuk menjadi sendirian, tanpa Minho yang melindunginya, menyentuhnya; membuat ia merasa aman. Mungkin ini mengapa dia merasa begitu sedih?

Apapun alasannya, Taemin membutuhkan kekasihnya untuk tetap bersamanya.

Ia mendengar hembusan nafas dari balik sana, “Taemin ah, bukannya aku katakan padamu bahwa jarak bukan masalah? Ayolah, hanya membutuhkan waktu dua jam dengan kereta dari sini kesana. Dan aku bisa langsung menyetir kesana jika kau mau.”

Hal itu dimaksudkan untuk menghibur Taemin. Namun, hal itu hanya berhasil menghiburnya; dia masih merasa sangat sendiri dan sepi. Tentu ada keluarga yang hangat dibawah sana tapi tidak sama tanpa Minho.

Kemudian ada jarak yang terbentang diantara mereka, Taemin menyadari betapa ia tidak bisa hidup tanpa si mata besar berambut hitam itu. Entah bagaimana, rasanya Minho adalah bagian yang besar dalam dirinya. Berada di kota yang bermil jauhnya, rasanya tidak enak. Ada sesuatu yang hilang.

            “Mianhe Minho.”, isaknya, mengusap matanya yang merah, “Aku tidak bisa membayangkan pergi kesekolah tanpamu, atau menjalani seharian tanpa melihat wajahmu, atau tidak mendengar suaramu … aku tahu kita punya telepon untuk tetap berhubungan, tapi … itu tidak sama! Aku –“, Taemin menyeka air mata terakhir disudut matanya, “Aku akan sangat merindukanmu.”

“Kau tahu aku juga akan merindukanmu –heck, aku begitu merindukanmu sekarang tapi … Taemin ah, tapi kita tidak bisa melakukan apapun.”, Minho menjelaskan dengan nada melankolis, “Jika aku bisa membuatmu tetap disini bersama kita, aku akan, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa membuat mu jauh dari keluargamu juga. Ini saatnya untuk memulai hidup baru ya kan? Kau tahu ini bukan berarti akhir dari hubungan kita.”, Minho membuang nafas, “Aish, kau membuat ini terdengar kita baru saja putus, Taemin ah. Bisakah kau berhenti bersikap seperti ini? Aku tidak tahan mendengar suaramu seperti itu.”

Namja pirang itu menelan air ludah yang terbendung di kerongkongannya dan mengangguk, meski dia tahu Minho tidak melihatnya, “Mianhe, Mianhe .. aku sangat khawatir bagaimana aku tanpa dirimu.”, dia mengeluarkan tawa kecil, “Bagaimana aku bisa begitu bergantung padamu, Minho? Beberapa bulan lalu dan aku masih bisa berjalan sendiri setelah pergelangan kakiku terkilir .. tapi sekarang, rasanya aku tidak bisa melewatkan seharipun tanpamu.”,

Minho berdecak dibalik sana, “Itu karena kau mencitaiku ..atau, aku terlalu memanjakanmu, ya kan?”,Taemin tersenyum, “Disisi lain, aku bersyukur jika kau bergantung padaku. Kau berhak mendapatkannya. Kau sudah bergantung pada dirimu sendiri selama ini; ini saatnya untuk membiarkan orang lain memperhatikanmu.”

            “Benarkah?”

            “Yes, tentu saja.”, Minho menyimpulkan begitu saja. Dan secara ajaib, Taemin merasa lebih baik, “Sekarang, aku yakin kau belum makan sama sekali, ya kan?”

Taemin menggigit bibirnya, “Belum…”

            “Aish, lihatlah kenapa aku harus memperhatikanmu? Turunlah dan makan bersama keluarga barumu, kemudian kita akan bicara mengenai rumah barumu nanti, okay?”

            “Okay, I love you.”, Taemin tersenyum, “…Yeobo.”

            “Love you too, Minnie. Makan yang lahap.”

                “Bye.”

            “Bye.”

Taemin begitu merasa bersyukur untuk Bibi nya. Meski ia baru saja kehilangan adiknya, dimana ia merasa tidak pernah dekat sama sekali tapi tetap saja; ikatan darah begitu dekat—dia tidak pernah gagal membuat Taemin merasa dirumah. Suaminya begitu semangat bertemu dengan dia dan Kai, karena sejak anak laki-laki mereka satu-satunya pindah untuk kuliah, mereka sangat merindukan keberadaan anak-anak dirumah mereka. Selain itu, pasangan itu begitu semangat untuk merawat Taemin dan Kai seperti anak mereka sendiri.

            “Taemin ah, bagaimana bisa kau tidak menghubungi ku sama sekali selama beberapa tahun ini?”, Sekyun bertanya suatu hari ketika sedang mencucui piring. Keponakannya berdiri di sisi tempat cuci, membersihkan panci dan penggorengan yang mereka gunakan untuk memasak. Ia mendongak kepada bibirnya penasaran, “Apa maksudmu, Ahjumma?”

Sekyun meletakan piring kotor di tempat cuci dan memulainya sebelum melihat ke arah Taemin, “Maksudku, dia menyiksamu, namun kau tidak pernah menghubungiku? Aku akan langsung membawamu pergi dari rumah itu … apa dia mengatakan padamu untuk tidak bilang padaku?”

Taemin menatap ke arah lain, mengangguk, “Ya.”, jawabnya, “Saat itu aku merasa menyesal, namun, aku tidak berani untuk menghubungi siapapun saat itu. ia mengancam akan membunuhku beberapa kali sebelumnya.”

            “Namun sekarang bukan masalah, Ahjumma.”, jawabnya cepat, “Ia telah pergi sekarang. Dan kau begitu baik membawa kami kedalam keluargamu.”, ia menatap Sekyun dan tersenyum, “Aku tidak pernah mengatakan padamu ini sebelumnya, tapi, aku begitu berterima kasih padamu. Bahkan meskipun Appa tidak membiarkan kita dekat satu sama lain, kau tetap mengirimkan uang sekolah padaku selama beberapa tahun ini. Dan aku pastinya akan mengatakan hal ini berulang kali sepanjang hidupku.”, Taemin berhenti sejenak dan mengambil langkah mendekat ke bibi nya, sebelum memeluk pinggangnya; seperti anak kepada Ibu nya, “Terima kasih.”

Air mata merembes dari pelupuk mata Sekyun, dan ia memejamkan matanya rapat sebelum bisa membasahi pipinya, “Sama-sama, Taeminnie. Kau sangat diterima disini.”

Taemin melepas pelukannya, senyum terus terpancar diwajahnya, “Kau mau aku melakukan hal lainnya? Aku bisa membuang sampah.”

Sekyun menggeleng kepala nya kuat, “Ani ani anio. Kau bisa pergi kekamarmu dan istirahat, kau sudah cukup membantu.”, dengan itu, ia mendorong Taemin keluar dari dapur, “Kai sudah tidur dikamarnya. Aku akan minta Ahjushi mu untuk membuang sampah.”

Di lain hari, Taemin pasti bersikukuh untuk lebih berguna didalam rumah itu, tapi sayangnya, ia begitu lelah. Hal yang paling ia inginkan adalah meringkuk di atas kasurnya dan tetidur dengan mendengarkan suara Minho.

Jadi itulah yang ia lakukan; setelah menyikat giginya dan mengganti baju tidur yang lebih nyaman, ia menyelinap dibalik selimut barunya yang berbau Lavender dan membuka ponselnya, menekan nomer yang ada di panggilan cepatnya.

            “Yeobseyo.”

Taemin tersenyum ketika mendengar suara Minho, “Nyanyi untukku, Minho.”

Ia mendengar Minho berdecak dibalik sana, tahu persis kekasihnya itu–ia tidak punya pilihan lain untuk setuju, “Sesuai permintaanmu.”

Minggu pertama di sekolah barunya begitu lambat berlalu, Taemin kerja keras untuk melakukan penyesuaian.

Hal pertama dan alasan yang paling penting, tentu saja, Minho tidak disana; ia tidak disana untuk makan siang bersama Taemin, untuk berbicara padanya, untuk melakukan tugas dengannya, satu hal yang Taemin lakukan yang berhubungan dengan Minho adalah ketika ia mengirimkan pesan untuknya ditengah-tengah jam pelajaran. Dan itu membuat ia lebih menjadi pendiam, seperti itu tidak menghiburnya.

Kedua, itu hampir waktunya akhir ajaran sekolah dan saat itu, seluruh murid memiliki ikatan yang kuat dengan teman mereka, bahwa Taemin tidak melihat ada kesempatan baginya untuk benar-benar mencari teman baru. Sejujurnya, jika Minho tidak menuntutnya untuk setidaknya mencari satu teman, dia tidak akan begitu terganggu. Tapi itu akan membuat Minho senang mengetahui bahwa kekasihnya memiliki seseorang untuk diajak bicara disekolah.

Sisi baiknya, dia berhasil berkenalan dengan seseorang. Adalah anak laki-laki bermata besar, yang sangat berisik duduk di belakang bangku nya. Namanya Mir, dan dia banyak bicara. Taemin tidak terlalu menyukainya, namun dia harus bisa mentolerir nya hanya untuk bisa membuat dia berteman dengan seseorang. Atau setidaknya satu orang.

Ia berencana untuk mengatakan pada Minho tentang semua ini saat ia pulang sekolah nanti.

                “Yeobseyo?”

                “Minho! Coba tebak?”, Taemin melapor dengan semangat saat ia menjatuhkan ranselnya disamping meja, “Aku punya teman baru! Seperti yang kau inginkan.”

            “Bagus sekali! Siapa mereka? Apa mereka baik padamu?”

                “Well, dia agak menyebalkan karena ia banyak bicara.”, Taemin menghembuskan nafas, “Tapi ia sangat baik padaku. Namanya Mir dan dia duduk dibelakang ku dikelas.”

            “Itu bagus. Selama dia tidak mendekatimu maka aku tidak keberatan.”, decak Minho, “Bagiku, hari ini begitu sepi tanpa mu seperti biasa, tapi kau tidak pernah gagal untuk membuatku semangat lagi karena suara manismu.”

                “Yah! Berhenti memanggil ku manis. Aku lebih memilih tampan, kau tahu.”, Taemin cemberut. Ia menghempaskan diri di kursi sebelah kasurnya dan mengayunkan kakinya naik turun, “Begitu menyebalkan ketika kau memanggil ku dengan sebutan manis dibanding … aku tidak tahu, sesuatu yang manly misalnya?”

            “Oh, jadi kau mau aku untuk berkata ‘suaramu begitu tampan?’ itu terdengar tidak masuk akal, Taemin ah.”, Minho berkata seakan itu begitu jelas, “Aku akan memanggil mu semua panggilan yang ku inginkan dan kau tidak bisa melakukan apapun tentang itu.”

Taemin berdecak, “Oh yeah? Kalau begitu datang kesini dan aku akan membuatmu menyesal dengan perkataanmu!”

            “Baiklah, cantik! Lihat saja … aku akan menyetir kesana Jumat ini, jadi kau bilang pada Ahjumma mu jika aku bisa menginap disana untuk akhir pekan, jadi aku bisa memanggil mu dengan sebutan apapun yang sesuai denganmu.”

Taemin hampir jatuh dari kursinya, “JINJJA?!!”

            “Tentu saja. Aku sangat merindukanmu.”

Taemin menyengir, “Aku juga merindukanmu, aku tidak sabar!”

            “Aku juga tidak sabar bertemu denganmu. Aku akan pergi kesana segera mungkin setelah pulang sekolah, jadi aku akan sampai disana sebelum makan malam dan aku bisa mengajakmu jalan-jalan. Sudah lama sekali sejak terakhir kali kita pergi kencan.”

Taemin bergumam setuju, “Okay, Minho. Aku benar-benar tidak sabar. Aku merindukanmu.”

            “Aku merindukanmu juga,”, balasnya. “Sudah dulu ya. Aku harus mengerjakan tugasku. Aku akan hubungi lagi nanti, neh?”

                “Sure, annyeong.”

            “Annyeong, I love you.”

                “I love you too…”

Itu menjadi sebuah rutinitas. Sebuah rutinitas berulang dan sulit. Taemin tidak ingin hal itu terjadi pada hubungan mereka, tapi jika itu adalah satu-satunya cara untuk menjaga Minho tetap dekat dengannya, dia akan menyesuaikan diri dengan itu tanpa keengganan.

Dia hanya berharap itu akan berlangsung terus dan Minho tidak akan muak dengannya atau menghubunginya, atau pesan hariannya, atau rutinitas yang mereka hadapi.

-FIN-

2min-Damaged [Warning!RATE] – Part 14>>

Annyeong Gaes! Sorry for super duper mega late update! Maklum, auhtor nim sibuk sambil kerja, jadi disempetin untuk Translate dan Update.
Btw, baca WARNING terbaru di atas yah kan? Yup, benar sekali, penderitaan sepertinya akan berakhir. Tapi masih panjang ceritanya.


Untuk chapter 14 (next chapter) masih dipertimbangkan untuk di Password, karena content nya akan ada smutt (bocoran). Jadi, mempertimbangkan yang baca masih dibawah umur aku takut~ ahahaha … haruskah di protect? or not? well, see ya at chapter 14!

Thank you for comment, share, like!
Regards,
@vittwominaddict

Please do not post this translation everywhere! Take a full credit from me and Ichigosama as original author of this Fanfic!

Advertisements

12 thoughts on “2Min-Damaged [Happy Endings, Funerals, and New Lives]

  1. Akhirnyaaaa taemin bahagiaaa, tapi sedih juga kenapa harus keluar dari keluarga minho, padahal lebih baik tinggal bareng wkwk. Warning 17+ nya bikin deg2an haha tapi ternyata cuma gitu doang XDDDD NEXT CHAP CANTTTT WAITTTTTTTT KAAAAKK!!!

  2. Ya ampun gw sempet kaget pas moment si 2min mo pisah 😭😭😭.. hikss… apa2 minho dya kan? Dya coba brdri sndri.. ah syukur bgt bibi ya bner2 syang sm taemin hiks… gw terharu.. smiga dya tdk knpa2.. ngeri jga ne klo tiba2 trauma ya dtg 😨.
    Wah perkmbangan ya lmyan cpet tae dpet tmn 😊. Gw jga bkal jd gtu… siapa yg gk tkut mati2an cba. Diancem ayah kandung sndri. Gila kan 😏. Klo bukan minho.. kyknya taemin mati perlahan 😔.
    Jd skrg crita manis2 ya dunks horeee 😂😄😄
    Ahhh sweet2 nambah dunkss.. ciyee mo maen krmh taem.
    Protect za cyin, coz who know reader2 dbwah 17 kan galau ntr 😂😂.
    Autgir nim ya semangat yaa !! Thanks 😚

  3. Bener2 kehidupan baru buat taemin. Seneng baca dia udah ga tersiksa lagi, ya walau berpisah jarak sama minho sih.
    Next di tunggu banget loh smuuuttnya (?). Dan semoga aja mir ga naksir taemin 😂

  4. Kenapa taemin gak kamu nikahin aja sih Minho 😂😂😂😂😂😂. Kalian bisa selalu bersama tanpa harus merindukan…

    Ahhhh, kenapa mereka manis bangett 😍😍😍😍😍😍

  5. Ya~hooooooooooooooooo~ ❤❤❤ suka bgt part ini ❤ walaupun tumin terpaksa harus LDRan tpi merekanya tetep bikin greget 😍
    Kematian appanya memang membawa berkah untuk taemin dan Kai.. Dan syukurnya bibinya taem baik bgt dan sayang sama taekai…

    Next part sangaaatttt di tunggu kak… Terserah deh mau di protect atau ga asalkan pwnya di kasih 😂😂😂

  6. Akhir nya penderitaan taemin brkuarang tp sedih pas hubungan nya minho sma taemin harus long distend, aq brharap biarpun mreka LDR hubungan mreka ttep baik2 ajja ,wah chap depan mau ada perubahan kka ff nya mau d protec karna ada semut2 nakal nya trus gymana msalah PW nya klo mau baca….

  7. taem akhirnya bisa bahagiaaa~ ayahnya taem jg kejam bgt.. 2min ldr.an, taem ga bisa pisah ama kamu ming.. uhh, so sweeeet merekaaa 😍yeobo~

  8. yeey \(^^)/ taeminnie ud pulih 😄😄😄😄😄
    solusi.ny kai itu lho seakan akan “anak kecil akn diem klo di kasih permen” n minho gak akan nyia-nyia.in kesemptn gtu aj…pervet 😶😶😶😶😶

    pacaran jg blm lm ud LDRan…tp beruntung.lah taeminnie tinggal.ny sm bibi.ny gak tinggal di panti/di asuh org lain…n bibi.ny itu sayang sm taekai…

    gak sabar smutt-smutt.ny 2min 😙😙😙😙😙

  9. Why is this so cute af?😭😭😭 ini begitu ucul kaak. Entah kenapa aku suka kalau Taemin itu bergantung sama Minho, tapi misal dia punya teman baru dan dia punya orang baru untuk diajak ngobrol kea Minho dulu misalnya, apa dia bakal berpindah hati? Ugh jangan sampai deh, harusnya mah Minho nikahin aja ya si Taemin wkwk.

    Well, kalau smutt nya emang berbahaya ya aku setuju aja sih buat diprotect, dan aku udah 17+ loh kak wkwk. Btw kalau mau minta pw nya gimana dongs?

  10. Syukur deh Taemin sembuh total.Dibalik Kini Taemin hidup aman bersama bibinya meskipun jauh dari Minho.Gk papa deh,setidaknya Taemin gk akan mengalami penyiksaan lagi.

  11. Yampuuunn,, finally Taemin sembuuuuuhhhh!!!!
    Sumpah bahagia banget liat mereka 😭😭
    You deserve this all Tae💕💕
    Kau sudah menderita terlalu lama, dan sekarang.. waktunya kau bahagia. Seriously :’))

    Aduuhh yg LDRan uuunncchh 😘😘
    Sabar yes cinta-cintaku~ kalian pasti bisa 😄
    Badai pasti berlalu (lagi) kan? 😀
    Dan btw LDR gabisa disebut badai kali ya -_- wkwk

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s