2min-Damaged [Warning!RATE 17+]


Damaged – Original Story by Ichigosama (Nikki)
Translation all right reserved by Twominyeah

<< Part 13 – Damaged [Happy Endings, Funerals. & New Lives]

WARNING!!!
YAOI (BoyxBoy), SMUTT, & RATE 17+.
Konten yang disajikan dalam chapter ini bersifat dewasa, tidak untuk dibawah umur, dan yaoi (BoyxBoy)
Jika tidak suka dimohon untuk tidak membaca, bashing (menghina), dan silahkan tinggalkan website ini!

Strawberry Shampoo and Romantic Dinners | Lust and Love

 

Pada hari Jumat berikutnya, hari dimana namja cingu nya berjanji akan datang, Taemin pulang dari sekolah, untuk pertama kalinya; dengan senyum lebar di wajahnya. Ia menyapa Ahjuma nya dengan ciuman di pipi, Ahjushi nya dengan bungkukan badan yang sopan, dan memeluk adik kecilnya dengan bahagia. Seluruh keluarganya melihat aneh padanya beberapa saat, namun tidak memperdulikannya karena itu hanya sebuah ‘Minho sickness’, mereka menyimpulkan begitu.

Taemin meninggalkan tugas sekolahnya di meja begitu saja dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Ia harus terlihat sempurna untuk Minho. Hari ini dia harus sempurna. Tentu saja tidak akan ada kesalahan pada kencan mereka, ia berjanji pada dirinya, ia akan sangat berhati-hati untuk tidak melakukan kesalahan. Minho harus tahu betapa Taemin merindukannya, dan itu artinya memberikan dia waktu yang sempurna baginya.

Setelah mandi menggunakan produk aroma berbau strawberry (yang dimana ia tahu itu membuat Minho tergila-gila), ia memakai baju yang cocok untuk berkencan, memutuskan untuk menggunakan kaos terbaiknya, jaket, dan menggunakan celana skinny jeans yang nyaman. Ia sudah siap dengan rekor 45 menit dan masih tersedia 5 menit lagi. Ia habiskan 5 menit itu untuk memberikan sentuhan pada rambutnya, ia sisir ke atas yang dimana namja disekolahnya sedang tergila-gila pada model itu—namun gagal, sayang sekali. Dengan cemberut, Taemin merapihkan kembali ke model aslinya dengan poni yang hampir menutupi matanya dan rambut pirang naturalnya berantakan di pucuk kepalanya. Ia berpikir bahwa ia butuh potong rambut dan mengecat rambut kembali; warna hitam sudah semakin terlihat. Mungkin saja Minho akan suka dengan warna coklat di rambutnya?

Taemin tidak sempat memikirkan tentang mengecat rambutnya dengan warna apa lagi karena ketika ia mendengar suara klakson mobil diluar, dia langsung melesat turun menuruni anak tangga dengan semangat. Ia hampir tidak mendengar Ahjushi nya berkata, “Awas nanti kau jatuh.”, sebelum ia membuka pintu rumah dan berlari menuju halaman parkir.

Taemin hanya sempat melihat sedikit wajah tersenyum Minho sebelum ia melompat kedalam pelukannya, secara otomatis ia melingkarkan kaki kepinggul namja cinggunya itu. namja tinggi itu menangkapnya dan berseru ‘Oomf’, namun tetap bisa menyeimbangi berat mereka, menahan pinggang Taemin jadi ia tidak akan jatuh.

            “Biar kutebak, kau merindukanku kan?”, ledeknya.

Taemin tidak mau, tidak bisa, memberikan jawaban jelas padanya. Malahan, ia mencium bibir namja cinggu nya itu, dengan ciuman panas. Putus asa dan penuh gairah, hanya untuk menunjukkan bagaimana ia merindukan Minho. Dia sangat merindukannya. Ia begitu merindukannya, sangat merindukannya.

Bahkan tidak butuh waktu lama bagi Minho untuk membalas ciuman itu; ia eratkan pegangannya pada pinggang Taemin, membuat namja pirang itu lebih dekat ke tubuhnya seraya Taemin masih memeluk pinggang Minho dengan kakinya dan mengacak rambut Minho, rambut berwarna hitam itu.

Satu minggu adalah waktu yang begitu lama.

Namun sesuatu tidak dirasakan benar; Taemin melepaskan ciumannya, terkejut ketika ia menyadari bahwa rambut panjang Minho, tidak lagi panjang.

            “Kau memotong rambutmu?!”

Minho tersenyum, bibirnya merah dan basah, “Aku ingin mengejutkanmu. Kau menyukainya?”,

Memang hasilnya lebih pendek. Tapi itu masih selembut dan berwarna hitam seperti yang Taemin suka. Ia membungkukkan kepalanya dan memberikan ciuman pada bibir Minho, berbisik, “Aku menyukainya.”

            “Aku lega.”, cengir Minho. Dengan ciuman kilas, ia menurunkan Taemin ke posisi dirinya namun tidak melepaskan pinggulnya. Namja lebih pendek itu kemudian melingkarkan tangannya di leher Minho, tdak ingin melepaskannya juga.

Satu minggu benar-benar sangat lama.

            “Aku sangat merindukanmu.”, Minho bergumam di rambut blonde nya, “Aku tidak bisa menghitung berapa kali aku melihat ke arah meja mu di sekolah, setengah berharap kau ada disana.”, tangannya mengerat di pinggul kecilnya, jika itu mungkin, “Umma ku juga merindukanmu. Kita semua merindukanmu.”

Taemin hanya mengangguk, karena jika ia bicara, ia seperti ingin mulai terisak. Dan ia tidak ingin itu. Hari ini akan jadi hari yang sempurna. Tidak ada tangis, tidak ada kesedihan; hanya dia, Minho, dan sisa hari ini hanya untuk mereka.

Namun kemudian, “Aku rasa itu sebagai tanda kita harus pergi.”, sebuah suara berasal dari belakang pasangan itu. Minho dan Taemin melepas pelukan mereka saat melihat Bibi Taemin dan Pamannya dan Kai berjalan keluar dari rumah, “Kita akan pergi ke Kota untuk beberapa jam, mungkin akan makan malam diluar jadi kalian bisa punya sedikit privacy.”, Sekyun tersenyum pada mereka.

            “Mino Hyung!”, Kai berteriak ketika melihat Minho. Ia melompat dari gendongan Pamannya dan memeluk kaki Minho. Namja itu memberikan decakan kecil dan membungkuk selevel dengan anak itu, “Apa kabarmu?”, tanyanya, dengan gemas mengacak rambut Kai yang sama lembutnya dengan Hyungnya, tersenyum begitu lebar.

            “Kau pergi kemana?”, tanya Kai, “Minnie Hyung merindukan Mino Hyung!”

Sebuah tawa renyah keluar dari bibir Minho, matanya menyipit karena senyum lebar yang ia gunakan, “Aku tahu, aku juga merindukan Minnie Hyung mu. Aku merindukan Kai juga.”, katanya pada anak kecil itu.

            “Jangan pernah meninggalkan Minnie Hyung lagi!”, perintah Kai, menangkap leher Minho dengan pelukan erat sebisa anak kecil lakukan, “ia jadi sedih dan merindukan Mino Hyung dan sedih sekali.”, ucapnya tidak jelas. Minho mendengar Taemin tertawa dibelakang saat adik kecilnya itu mencekik leher Minho dengan tangan kecilnya.

Akhirnya, Sekyun datang untuk menyelamatkannya; ia tarik Kai dari leher Minho sebelum ia bisa membuat nya kehabisan nafas dan menggendongnya menuju mobil, “Kita akan pergi untuk beberapa jam. Jika kau mau, makan malam ada di microwave. Kirim pesan padaku jika kau ingin pergi keluar, neh?”, Bibi mengingatkan.

            “Okay, bye!”, Taemin dan Minho melambaikan tangannya pada kedua orang tua itu dan Kai, yang masih cemberut duduk dikursi belakang saat mobil keluar dari lahan parkir, tidak puas bahwa dia tidak bisa bermain dengan Mino Hyung sang namja tinggi. Ketika mobil berjalan ke jalanan dan tidak terlihat, Minho langsung menarik kekasihnya itu kedalam ciuman yang panas.

Namja pendek itu terkekeh disela ciuman Minho. Ia perlahan melepas ciuman mereka untuk sesaat sebelum menunjukan bahwa mereka masih ada dihalaman, dipublic, dimana langsung menjadi bahan pertimbangan namja tinggi itu dan mengambil keputusan untuk membawa Taemin masuk ke rumah—dengan menggendongnya.

Saat ia melihat sebuah sofa, dengan lembut Minho meletakan Taemin disana dan langsung naik ke atas tubuh namja itu, menangkapnya dibawah tubuh besarnya. Disisi lain, Taemin tidak akan begitu terbiasa dengan posisi yang kurang nyaman ini, tapi saat ini, dia tidak perduli—dia merindukan ini. Dia merindukan Minho. Jadi dengan keberaniannya, dia bahkan melingkatkan lengannya dileher namja itu dan menariknya untuk mengunci bibir mereka.

            “Kau wangi seperti strawberry.”, Minho mengatakan sambil membumbui wajah Taemin dengan ciuman. Bibirnya yang plum berjalan dari dahi Taemin, kesetiap inci pipinya, ke dagunya, dan akhirnya kembali ke bibirnya dengan ciuman lembut lainnya. Sebanyak itu sepertinya masih tidak membuat mereka puas.

Mata Taemin terlihat tersenyum bersamaan dengan bibirnya, “Aku dengan sengaja menggunakan sampo strawberry khusus untukmu, karena aku tahu kau menyukai wanginya.”

            “Benar sekali.”, Minho menghirup lebih dalam wangi manis itu, wangi segar dari rambut Taemin, “Aku merindukanmu, Tae.”, ia bergumam disela rambut pirang Taemin yang lembut.

            “Aku juga merindukanmu, Minho. Aku percaya aku sudah mengatakannya beberapa kali.”, Taemin terkekeh. Suara itu mengingatkan Minho dari satu alasan kenapa ia begitu merindukan Taemin. Tawanya seperti melodi yang dimainkan oleh para malaikat, sebuah suara yang dapat membuat perut Minho geli secara bersamaan—dan dia sama sekali tidak melebih-lebihkan.

            “Yeah, tapi semakin lama aku menghargai itu—“, membungkuk lebih dekat, ia menyentuh keningnya pada namja dibawahnya, matanya menelan habis kecantikan kekasihnya itu lebih dekat, “Aku memilih mendengar kata ‘aku mencintaimu’ saat ini.”

Tangan yang ada disekitar leher Minho menariknya mendekat, sedekat yang mereka bisa tanpa membuat wajah mereka bersentuhan, dan Taemin membiarkan dua kata spesial itu keluar dari mulutnya—dua kata yang Minho ingin sekali dengarkan sepanjang minggu ini. Tentu benar kekasihnya sudah mengatakannya setiap kali mereka bicara di telepon, tanpa ragu, itu terdengar berbeda jika mendengarnya langsung. Itu menimbulkan efek yang luar biasa di hati Minho, dan dia bisa merasakan ia terkurung dalam perasaan aneh namun juga sensasi lain yang begitu nyaman.

            “Aku juga mencitaimu.”

Ada jeda diam beberapa menit setelah itu. Keduanya hanya berbaring disana, benar-benar tenggelam dengan pesona satu sam alain, tidak ingin merusak momen yang sempurna. Mata saling bertatapan seakan tenggelam dalam dunia mereka sendiri dan saling mengagumi satu sama lain. Mata coklat Taemin menatap mata besar didepannya, dua pasang mata yang indah milik Minho dan semua terasa sempurna.

Saat itu dimana mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Fakta bahwa mereka berdua mengalami kesulitas menyesuaikan diri tanpa kehadiran masing-masing (Taemin melakukan lebih buruk dari Minho), membuktikan bahwa bagaimanapun ikatan yang tidak dapat dipecahkan ini terbentuk diantara mereka dan tiba-tiba, mereka seperti merasa kosong tanpa kehadiran satu sama lain. Semacam seperti dua potongan puzzle, klise.

Taemin tidak tahu jika itu hal yang baik atau buruk untuk memiliki perasaan terikat seperti ini pada kekasihnya. Disisi lain, Minho cukup merasa puas; dari banyaknya ‘aku merindukanmu’ yang dia dapat dari Taemin cukup membuktikan bahwa namja itu sangatlah mencurahkan isi hatinya padanya.

Minho lah yang pertama untuk memecahkan kesunyian diantara mereka, “Haruskah kita pergi keluar atau kau mau dirumah saja?”

Taemin menggelengkan kepala, “Aku ingin keluar. Aku bahkan sudah berpakaian rapih, kau tahu.”

Minho berdecak dan melihat baju yang bagus dipakai namja cingunya, meski semuanya membuat pikirannya untuk membuka seluruh baju itu darinya. Karena belum—Taemin tentu belum siap untuk itu. Dan meski jika ia akan menyangkalnya, tidak ada yang menyembunyikan kenyataan bahwa dia memiliki setidaknya pikiran nakal tentang kekasihnya bahwa mereka belum pernah memiliki kontak fisik bersama.

Namun itu hal yang normal, kan? memikirkan tentang hal seperti ini mengenai seseorang yang kau cintai?

Minho pikir begitu. Namun memikirkan Taemin seperti itu saja membuat ia sudah bertindak memalukan. Taemin terlalu polos. Tidak terjamah.

Ia memutuskan untuk menghilangkan pemikiran itu sejenak. Ia berdiri, dan meraih tangan Taemin dan mengajaknya keluar rumah menuju mobilnya.

Taemin mengunci pintu dan mengirim pesan singkat kepada Bibi nya mengatakan bahwa mereka akan pergi. Ia masuk kedalam mobil Minho, langsung bertemu dengan wangi familiar dari interior mobilnya. Dia tidak menyadari bahwa mobil nya memiliki bau khusus, setelah tidak lama naik mobil itu.

            “Kita mau pergi kemana?”, Minho bertanya ketika ia akhirnya menuju jalan utama.

Taemin mengangkat bahu, “Aku belum menjelajahi isi kota ini. Tapi aku tahu satu restauran yang Mir ajak aku kemarin. Disana sangat bagus, bisa kita kesana?”

            “Tentu, tunjukan jalannya saja padaku.”

Taemin mengangguk senang, “Okay.”

            “Jadi, bicara tentang anak bernama Mir ini”, Mulai Minho, “Apa dia baik padamu?”

            “Yeah, dia baik—dia duduk didepanku dikelas dan selalu bicara padaku. Aku pikir itu terlalu sulit untuk sebenarnya mendengarkan dia ketika dia benar-benar banyak bicara tapi aku rasa itu lebih baik dari pada sendirian. Lagipula, aku lakukan ini untukmu.”, ia menyengir menatap Minho, yang memutar bola matanya menanggapinya.

            “Kau tidak harus terus berteman dengannya jika hanya karena aku, jika kau tidak menyukainya, Tae.”, Minho berkata, “Aku hanya ingin kau memiliki teman jadi kau tidak akan sendirian setiap waktu ketika aku tidak disini bersamamu.”

            “Aku tidak pernah bilang aku tidak menyukainya—belok kekiri disana—aku hanya bilang dia agak menyebalkan, itu saja—kekanan diujung sana—selain itu, kau adalah satu-satunya dan hanya temanku dan aku cukup puas dengan menjaganya seperti itu dan kau harus bersyukur karenanya.”, dengan dengusan, Taemin mengungkapkannya.

Minho tertawa mendengarnya, “Kau ini benar-benar penyendiri, Tae. Itu tidak baik.”

            “Terserah. Aku baik-baik saja tanpa teman. Aku punya kau, ya kan?”

            “Ya, benar.”, hanya itu yang Minho katakan. Taemin menunjukkan sisi keuntungan lain sebagai orang yang selalu sendiri dan Minho hanya mengangguk saja. Ia begitu bahagia saat ini. Hanya melihat Taemin seperti ini; lebih bahagia, lebih sehat, sudah cukup baginya tersenyum layaknya orang idiot untuk sepanjang jalan menuju restauran.

Dia sudah berubah

Sebuah perubahan yang baik; wajah Taemin terlihat lebih segar dan lebih terlihat hidup. Ia memiliki setidaknya sedikit daging dibalik kulitnya dan tulang nya (Minho menduga bahwa Bibi Taemin menjejalkan makanan padanya sepanjang minggu ini), dan senyum diwajahnya yang tidak pernah hilang. Dia terlihat begitu bahagia yang membuat Minho hampir saja tidak mengenalinya. Dia sangat berubah, dan dalam waktu yang cepat.

Namun saat itu, ketika Taemin tersenyum padanya dan begitu hyper dikursinya, Minho tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika ia tidak menemukan mengenai penyiksaan ini. Akankah ia bisa keluar dari rumah itu? apakah ia akan tetap hidup saat ini? Akankah ia bisa mengurus Kai sendirian? Dan lebih penting, akankah mereka bisa menjalin hubungan jika tugas matematika itu tidak membuat mereka bekerja sama bersama?

Tentu saja, semua pertanyaan itu tidak akan pernah terjawab. Dan Minho lebih menyukainya seperti ini.

            “Disana! Tepat disana!”

Minho memasuki lahan parkir dan menemukan tempat untuk mobilnya. Sebenarnya, itu adalah restauran seafood, dan sebuah tempat yang bagus. Langsung setelah ia mematikan mesin mobil, Taemin sudah ada diluar dan siap untuk menyeretnya masuk kesana, lebih tepatnya terlalu bersemangat. Minho harus menggigit bibirnya untuk menahan senyum lebar yang ingin terpancar dari wajahnya.

Taemin menggengam tangannya erat saat mereka masuk kedalam restauran yang ramai. Namja paling pendek membawa mereka ke tempat duduk dekat jendela, dan mereka duduk berhadapan.

Namja pirang itu berlonjak-lonjak di atas kursinya. Dia sangat merindukan Minho dan mereka sudah lama tidak kencan.

            “Apa yang kau mau, Jagiya?”, tanya Minho, menggunakan panggilan kesayangan yang biasa ia gunakan untuk Taemin. Menilai bahwa kekasihnya itu terlalu senang untuk memprotesnya, makanya dia mengambil kesempatan itu.

            “Aku akan pesan apa yang kau pesan. Ini cara pesan berpasangan kan? tapi pesan pangsit udang, aku mau itu.”, kekeh Taemin.

Minho memasang wajah datar, namun memesannya, bersamaan dengan sebuah gelas besar jus dengan dua sedotan. Ketika ia bertanya tentang itu, ia berkata, “Ini cara pesan berpasangan kan?”

Mata Taemin berbinar karena itu. Dia mengulurkan tangannya diatas meja dan meraih tangan Minho, “Ini juga?”

Minho tersenyum dan mengangguk. Tapi ketika Taemin memajukan bibirnya menuju padanya, Minho hampir saja kelepasan—ia harus merapatkan bibirnya untuk menjaganya tertawa kencang dan mengganggu pelanggan lain. Selagi ia bisa, dia memajukan badannya sedikit di atas meja dan meletakan bibirnya di bibir kecil Taemin yang sedang menunggu.

            “Sekarang kau puas?”, Minho bertanya dengan hembusan nafas yang dramatis.

Namja cingunya itu mengangguk semangat dan tersenyum hingga ke matanya, “Ya.”

Dan saat itu juga, Taemin berdoa bahwa malam itu tidak cepat berakhir.

Makan malam nya sangat enak. Minho begitu gentleman dan menyuapi Taemin dengan sumpit, berusaha memanjakan kekasihnya itu setidaknya sesekali. Mereka memesan sebuah dessert dan menutup momen itu dengan mengambil foto bersama menggunakan ponsel Taemin, dimana ia langsung menggunakannya sebagai wallpaper.

Meskipun, selama makan malam, Taemin memiliki perasaan aneh dimana ia seperti sedang di perhatikan. Ia melihat kesekeliling untuk beberapa kali namun ia tidak melihat siapapun memperhatikannya. Untungnya, itu tidak diperdulikan untuk beberapa menit.

Saat waktu mereka tiba di rumah, Taemin sudah tertidur dengan perut kenyang dan karena hangatnya mobil Minho. Namja pirang itu naik ke atas untuk berganti pakaian, Minho mengikutinya dengan tas yang ia bawa untuk menginap semalaman.

            “Ahjumma belum pulang. Aku penasaran mereka kemana.”, Taemin membayangkan dengan sedikit menguap. Minho melihat ke seluruh kamarnya sejenak, tersenyum pada kamar kekasihnya sebelum duduk dikasur.

            “Ini masih sore, mereka pastinya pergi nonton atau apa.”, jawabnya, melepas bajunya, “Bisakah aku gunakan kamar mandimu?”

Taemin bergumam tidak jelas saat dia menyelinap dibalik selimut. Tidak diragukan dia akan tidur disamping Minho malam ini. Ia rindu meringkuk disisi Minho, menghirup bau tubuhnya dan yang paling penting, terbangun disisinya.

Namun sebenarnya, Minho mempunyai rencana lain dibanding langsung pergi tidur.

Ketika ia kembali dari kamar mandi, rambutnya masih basah dan tercium seperti wangi sampo strawberry punya Taemin, ia bergabung bersama Taemin dibalik selimut, merangkak diatas Taemin untuk kedua kalinya hari itu.

Taemin mengeluarkan rengekan dari balik tenggorokannya ketika langsung dibungkam dengan bibir Minho. Ciuman itu begitu panas, penuh dengan nafsu, dan Minho tidak bisa menahannya lagi; ia julurkan lidahnya masuk kedalam bibir Taemin dan meruam secepat yang ia bisa untuk masuk kedalam mulutnya yang hangat, dan basah. Taemin tidak mengeluarkan sedikit pun tindakan protes.

Mereka bercumbu untuk beberapa menit sebelum membutuhkan oksigen untuk bernafas dan mereka melepaskan ciuman satu sama  lain, terengah.

            “Minho, Kau kenapa?”, Taemin merengek, sedikit terkejut dengan perilaku memaksa dari namja cingunya. Tentu saja, ia menduga bahwa Minho akan lebih manja dan ingin menciumnya setiap lima menit sekali tapi tidak se agresif ini. Meskipun, ia tidak bisa mengatakan bahwa ia tidak menyukainya.

Minho tidak memberikan jawaban. Malahan, ia merubah posisinya jadi ia berada di antara kaki Taemin, dan namja kecil itu seharusnya merasa tidak nyaman, tapi tidak. Minho tidak menghabiskan waktu dan ia mencium Taemin lagi, menarik dan menghisap bibir bawah namja pirang itu diantara gigi nya.

Dan lagi, bibir Taemin disiksa dan dibuat memar oleh namja cingunya yang sedang penuh nafsu. Dan ketika ia melepas ciumannya, mereka sudah kehabisan nafas lagi.

Dadanya naik turun seraya dia mencari udara, Taemin membuka matanya yang langsung bertemu dengan mata hitam Minho, matanya berkaca-kaca. Sebuah tatapan yang tidak familiar, mata gelap yang menatap mata coklatnya, besar dan Taemin tidak yakin jika itu bisa mengintimidasinya. Ia merasa lebih tertarik dibanding takut, meskipun, dia tidak mengenali tatapan tajam dari Minho.

Ia tidak menyadari, sampai Minho mendorong tangannya masuk kebalik bajunya, tatapan itu, adalah tatapan sebuah nafsu.

Tidak pernah merasa takut, bahkan tidak sekalipun masuk kedalam setiap pembuluh darah Taemin setiap kali Minho ada didekatnya. Kecuali mungkin takut ditolak atau takut melakukan kesalahan didepan orang yang dicintainya itu, tapi tidak sekalipun dia merasakan terintimidasi yang sebenarnya dari namja tinggi ini.

Well, setidaknya saat ini.

            “Taemin ah.”, terdengar suara berat berbisik dari bibir Minho yang memerah. Nafas hangatnya berhembus ke wajah Taemin, membiarkan dia diselimuti bau pasta gigi yang segar bersamaan dengan aroma strwabery yang memabukkan menyerbu udara diantara mereka. Taemin menghirup sekali lagi bau nafas surgawi itu sebelum bibirnya sekali lagi di penuhi oleh bibir namja diatasnya. Ia gemetar saat ini, sarafnya menegang hingga ke tubuh mungilnya ketika Minho melakukan hal-hal yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya. Minho tidak pernah sejauh ini selama ia menyentuh nya dibalik bajunya.

Namun malam ini, Taemin merasakan sesuatu yang baru akan terjadi.

Dan dia tidak bisa untuk merasa sedikit takut.

Tangan besarnya yang hangat perlahan sekarang menelusuri perlahan, lembut, naik ke tubuh atas Taemin. Perlahan dan ragu saat mereka mencoba menelusuri perut rata Taemin, namja dibawahnya itu tidak bergerak atau mengeluarkan suara protes. Tamin tidak tahu bagaimana bereaksi. Jadi dibanding melakukan sesuatu, dia memilih diam, tetap dalam keadaan terkejut dimana namja cingunya melakukan hal ini.

Apa yang sebenarnya Minho maksudkan? Apa yang dia ingin lakukan? Apakah dia ingin Taemin melepas bajunya? Karena dia baik-baik saja melakukan itu tapi …

Apakah dia ingin melakukan seks?

Taemin tidak pernah berpikir tentang itu sebelumnya, tapi, sekarang ia memikir kesana…

Sebenarnya itu membuat ia agak terangsang.

Minho, disisi lain, dengan hormon masa mudanya dan keinginannya kepada namja pirang itu, tetap sadar dengan apa yang sedang ia lakukan. Dan ketika dia menyadarinya, ia langsung dengan cepat menyadari apa yang dia lakukan dan membuat namja dibawahnya terkejut.

Dengan perasaan penuh malu lalu ia menarik tangannya dari dalam baju Taemin, cepat, seperti ia baru saja menyentuh api. Namja pirang itu bangkit dengan menyanggah tubuhnya dengan siku dan melihat Minho penuh tanya.

            “A-aku m-minta maaf, Tae—aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, aku hanya…Oh, my God, maafkan aku.”, Minho menggelengkan kepalanya kuat-kuat, rasa malu yang luar biasa membuat dirinya tahu dengan adanya kemerahan yang terpancar diwajahnya. Dia menatap Taemin penuh dengan maaf, yang masih tetap bingung, dan membawa tangannya menyentuh wajah namja pirang itu untuk mengusap air liur dibibir bawahnya. “Maafkan aku. Aku tidak seharusnya menyentuh mu seperti itu.”

Dan hanya begitu, Minho kembali menjadi lembut, namja cingu yang sangat perhatian lagi—namja cingu yang Taemin kenal dibanding namja yang terlihat sangat haus akan nafsu beberapa menit lalu. Dia langsung tenang ketika tangan besar yang hangat dari Minho menyibak helaian rambut dari wajahnya—caranya sendiri untuk menunjukkan bahwa ia meminta maaf.

Namun sayangnya, Taemin tidak pernah mengatakan apapun tentang tidak menyukai itu.

            “T..-tidak apa jika kita lanjutkan, Minho.”, namja pirang itu mengakui malu-malu, membuang mukanya kebawah dan melihat pahanya seraya guratan merah terpancar di wajahnya, “Aku tidak masalah … jika…jika kau menyentuh ku…tidak apa.”

Minho mengulum bibir bawahnya, “Tapi…bukannya kau merasa tidak nyaman? Kita belum pernah melakukan apapun lebih dari sekedar berciuman…”

            “Ya, tapi…”, Taemin merubah tatapannya ke wajah namja cingunya, dan lega ketika menemukan mata coklat yang lembut itu menatapnya, “Aku ingin melakukannya.”

Ya benar, dia sangat ingin.

Ia menginginkannya, menginginkan Minho.

            “Please, Minho.”, Taemin memohon dengan matanya, “Aku menginginkan ini.”

Minho mengigit bibirnya karena permintaan mendadak itu, secara langsung sibuk dengan perdebatan pro dan kontra dengan melakukan ini. Jika ia setuju—dan ia merasa bahwa seharusnya itu sebuah panggilan baginya sejak ia yang memulainya—ada kemungkinan bahwa ia bisa menyakiti Taemin. Dan jika mereka melakukan nya…itu akan menjadi sebuah kemajuan pesat dalam hubungan mereka, tentu saja menjadi waktu paling indah dalam hidup mereka. Tapi…ia tidak terlalu ingin membuat Taemin terluka. Ia sudah lakukan apapun untuk membuat Taemin tidak sakit atau terluka dan akhirnya, ia lah yang akan melakukan ini padanya?

Apa akan sepadan dengan resikonya?

Ada sebuah keraguan yang terpancar di matanya. Taemin bisa melihatnya, dan Minho menyadari itu.

Dan layaknya namja yang keras kepala, Minho bertanya, “Apa kau yakin, Tae? Apa kau benar-benar yakin?”

            “Ya.”, jawab Taemin tanpa ragu sedikitpun.

Sejujurnya, Taemin mulai merasa kesal dan tidak sabar, dimana itu sama sekali bukan karakternya—tapi Tuhan, ia sungguh ingin menyentuh namja cingunya dan menciumnya sampai mereka pingsan kehabisan oksigen.

Ia baru saja ingin mengambil inisiatif sampai Minho melakukan sesuatu; perlahan dan hati-hati, seolah takut ia akan menakuti Taemin dan menghentikan apa yang akan mereka lakukan sekali lagi, Minho memposisikan diri diantara kaki namja pirang itu lagi dan menyembunyikan pipinya yang merona seraya meletakan ciuman kembali di bibir Taemin.

Perlahan dan sensual kali ini; seperti bibir Taemin adalah sesuatu yang sangat berharga dan lembut, dimana penuh dengan kepolosan. Taemin meresponnya dengan hal yang sama, dengan penuh kelembutan dan mesra, tangannya naik meremas rambut Minho perlahan, dimana namja didepannya menyentuh lehernya, membuat kepalanya tetap disana.

Mereka berciuman setidaknya beberapa menit, sempurna dan dengan singkronisasi yang indah. Lidah mereka beradu secara sadar ketika Minho dengan berani meminta untuk masuk kedalam mulut Taemin, dimana Taemin membiarkannya tanpa protes. Ciuman mereka begitu panas, lidah mereka bersatu dengan manis, menari dengan mesra—tanpa ada rasa untuk mendominasi, namun hanya menikmati itu untuk merasakan satu sama lain.

Namun akhirnya, hasrat darah muda mereka yang tidak bisa dielakan bercampur dengan keinginan satu sama lain menang, dan mereka berdua merasa lebih menginginkannya.

Jadi ketika dia merasa waktunya tepat, Minho kembali menelusupkan tangannya kebawah baju namja pirang itu, sekali lagi menelusuri kulit lembut dan halus namja dibawahnya. Ia raba tangannya ke perut ratanya, mengagumi setiap inci kulitnya sebelum menuju ke dadanya, dan Taemin mengeluarkan desahan ketika tangan namja itu dengan tangan kasarnya menyentuh nipple nya. Minho mengangkat baju Taemin sampai ke batas dadanya, dan menurunkan tangannya kebawah untuk kembali mengagumi sisi tubuh mungil Taemin dengan telapak tangan dan jemarinya, membelainya dengan kembut, gerakan yang penuh sayang.

Dan Taemin tidak pernah merasa dicintai seperti ini, merasa dibutuhkan, sampai Minho menyentuhnya seperti itu. Dan meskipun itu agak menegangkan dan memalukan, Taemin menginginkannya. Dia ingin disentuh; dia tidak menginginkan apapun selain mengungkapkan betapa dia mencintai dan menyanyangi Minho dengan keberadaannya, baik secara emosional atau fisik.

Dan didalam pikirannya, dia tahu ini akan terjadi suatu hari nanti.

Hari ini akan menjadi hari itu.

Nafasnya mulai menjadi berat dan terengah, nafas cepatnya ia coba kendalikan dengan mengatur nafasnya, dengan putus asa mencoba untuk tenang meski perasaan gelisah bercampur dengan hormon remajanya, keduanya membuat semuanya mengalir dan merasuk kedalam pembuluh darah namja itu.

Tidak perlu merasa gugup. Ini adalah Minho. Dia mencintaiku dan dia tidak akan menyakitiku, namja kecil itu meyakinkan dirinya sendiri

Taemin menganggap ini sebagai keyakinan untuk akhirnya mengambil langkah lebih maju dan menggerakan tangannya ke belakang punggung Minho, dimana ia menggerakannya naik dan turun dengan canggung, namun menyukai momen ini dimana usahanya membalas apa yang sedang dilakukan Minho padanya. Mulut mereka tetap mengulum bibir satu sama lain, masih bergerak selaras satu sama lain sementara desahan dan erangan kecil berhasil lolos dari namja dibawahnya, memberikan keyakinan untuk namja yang ada di atas.

Minho melepaskan mulutnya dari Taemin untuk sejenak melepaskan baju Taemin. Ia membuka bajunya juga, dia percaya bahwa Taemin setidaknya akan lebih nyaman jika mereka sama-sama tidak menggunakannya, dan membungkuk kembali untuk mencium bibirnya lagi, menyatukan tubuh mereka satu sama lain dalam prosesnya.

Kulit dengan kulit dirasakan begitu mengundang namun juga menegangkan. Taemin belum pernah telanjang di depan orang lain, apalagi bertelanjang dada, tapi itu menegangkan dan sekaligus memalukan.

Kehangatan dari tubuh Minho menolongnya untuk lebih tenang, dan perlahan, perasaan gugup dalam dirinya perlahan mulai terkikis.

Minho melepaskan ciuman mereka jadi ia bisa memindahkan ciumannya turun ke leher Taemin, dimana ia berdiam di satu sisi dan menghisapnya dengan kuat pada kulit itu. Namja pirang itu mengeluarkan suara antara desahan dan juga rintihan bergantian, dan ia memiringkan kepalanya ke atas untuk memberikan akses lebih dimana secara tidak sadar tangan kanannya menjambak rambut hitam Minho.

Minho menangkap reaksi ini sebagai izin untuknya melangkah sedikit lebih jauh; dengan menekan tonjolan yang mulai membesar di selnagkangan Taemin, dia mulai menggoyangkan tubuhnya dengan lembut ke tubuh namja itu.

Taemin mengeluarkan erangan terkejut ketika ia merasakan bahwa dirinya semakin terangsang tidak seperti yang ia kira, sebuah perasaan nafsu yang tidak terduga yang membuat tubuhnya bergetar.

Minho melihat ke wajahnya, sebuah tatapan khawatir menjalar pada dirinya, namun namja pirang itu mengangguk memintanya untuk meneruskan, “Tidak apa. Aku hanya terkejut, itu saja.”, ia memaksakan dengan senyum, tapi senyuman malu.

Minho mengangguk. Dia mulai menyesali sedikit keputusannya. Sebagian dari dirinya tidak terlalu berencana untuk melakukan sejauh ini dan bagian itu berteriak kepadanya untuk menghentikan ini sebelum lebih jauh, namun sisi lainnya mengatakan padanya sekeras mungkin; dimana mengatakan padanya—bahwa dia tidak akan punya kesempatan lain seperti ini untuk waktu yang lebih lama.

Ia mendengarkan pemikiran keduanya.

            “Jika kau mau berhenti, katakan saja.”, Minho menyarankan pada namja dibawahnya. Meskipun, sesuatu mengatakan padanya bahwa Taemin tidak akan mau berhenti. Mungkin ini dilihat dari cara ia beraksi secara terbuka atas sentuhannya, atau fakta bahwa mata Taemin, terlihat berkaca-kaca dan setengah tertutup, dimana mengatakan padanya untuk melanjutkan.

Jadi ia lakukan. Dengan beberapa gerakan erotis, dia terus memutar pinggulnya melawan Taemin, matanya langsung terpejam saat merasakan kenikmatan yang menakjubkan ia rasakan dari ereksi dari gosokan pinggul mereka. Minho menundukkan kepalanya lagi untuk menghisap leher Taemin. Kali ini, bergerak kebawah dan mengulum nipple Taemin di bibirnya.

            “Aaah…”, Taemin mendesah tanpa ragu. Perlahan dia mulai terbiasa dengan intimasi mereka, rasa malu perlahan demi perlahan berubah sesuai dengan hormon nya, nafsu, dan keinginan atas kekasihnnya itu menutupi nya. Ia letakan tangan kecilnya dikepala Minho seperti permintaan baginya untuk terus melanjutkan.

Jika ia berhenti saat itu juga, Taemin bersumpah dia akan menangis.

            “Taemin ah.”, Minho menarik nafas di depan dadanya, nafas panas berhembus di nipple Taemin, membuat namja itu untuk secara tidak sengaja menurunkan dadanya karena terkena hembusan panas, “Kau sangat cantik seperti ini … cantik sekali.”

Pujian tersebut membuat si namja pirang itu mengerang, sambil meraih bahu Minho dan menariknya lebih dekat padanya.

Tangan Minho tidak berhenti mengagumi kulit lembut yang disajikan dengan anggun didepannya, kedua tangannya menjelajahi sekujur tubuh Taemin berulang-ulang. Pinggul mereka berada pada situasi yang sama—tetap terhubung dan saling bergerak di atara satu sama lain dengan sensual dan penuh sayang.

Namja berambut hitam itu membuka mulutnya untuk mengeluarkan sedikit lenguhan erangan sendiri saat dorongannya mulai ia percepat. Taemin tidak bisa menduganya—ia tidak mampu membuat dirinya sendiri beriringan dengan gerakan pinggul Minho.

Kemudian, mereka mulai merasakan ada rasa panas dicelana yang mereka kenakan. Kedua member mereka terasa terjepit didalam kurungan mereka, dan Minho, yang lebih dominan dari keduanya, mengambil inisiatif untuk melepaskan kedua celana mereka. Sebelum dia bisa memiliki pemikiran kedua, Taemin mengangkat pinggulnya saat Minho berusaha untuk melepaskannya sendiri dan praktis memberikan izin terakhir untuk menuju yang sejauh ia mau.

Karena sejauh ini, dia tidak memiliki niatan sama sekali untuk berhenti. Dan dia yakin Minho juga tidak sama sekali.

            “Cepat.”, engah Taemin. Kalimat yang sama sekali bukan dirinya keluar begitu saja, namun Minho mengerti.

Ketika kedua celana mereka mendarat di lantai kayu, bersamaan dengan kaos mereka, Minho menunduk lagi dan mulai mencium Taemin untuk kesekian kalinya hari itu. Kembali ia gerakan pinggulnya, dan dengan mengeluarkan desahan,  ia nikmati perasaan nikmat karena bagian intim mereka menyatu dengan dibalut kain tipis yang menghalangi mereka.

Namun, lagi, tubuh mereka berteriak seakan membutuhkan lebih.

Perlahan dan dengan hati-hati, Minho menurunkan tangannya ke dada Taemin dan berhenti di batas celana boxer Taemin. Ia melepaskan ciuman mereka untuk bertanya, “Bolehkah?”, dimana Taemin hanya menjawabanya dengan anggukan, suaranya seperti tersangkut ditenggorokan.

Minho memasukkan tangannya kedalam celana boxer Taemin. Jantungnya berdegup begitu cepat di dadanya karena terlalu gugup, dimana ia menganggap ia sebentar lagi akan kena serangan jantung.

Karena sungguh, ia akan melakukan hubungan seks dengan namja cingunya untuk pertama kali dan ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

Jadi dia hanya mengikuti intuisinya dan lakukan apapun yang tubuhnya katakan padanya; ia meraih member Taemin yang keras ditangannya dan mulai menggerakan naik turun, gerakan perlahan.

Itu adalah pertama kalinya ia lakukan ini pada orang lain, dan dia tidak terlalu sering melakukan untuk dirinya sendiri jadi dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Namun dinilai dari cara Taemin memejamkan mata dan mulutnya terbuka dengan mengeluarkan desahan, Minho bisa mengatakan bahwa apa yang dia lakukan sejauh ini benar.

Dengan tangannya yang lain, ia melepas seluruh boxer Taemin, dan ia nikmati pemandangan seluruh tubuh namja cingu nya itu untuk pertama kali. Dia hampir saja merasakan mulutnya berair karena pemandangan itu, tapi reaksi yang paling terasa ada dibagian membernya—tetap terhimpit didalam boxernya. Jadi ia berhenti sejenak meremas member Taemin sementara untuk melepaskan boxernya dan melemparnya ditumpukan baju dilantai.

Udara dingin menerpa kulitnya membuat ia merinding. Ia merasakan tubuh Taemin juga seperti itu ketika ia letakan tangannya di member namja pirang itu, terus membelainya dengan gerakan panas. Dia melanjutkan ini selama beberapa menit, dengan jujur tidak tahu harus berbuat apa, sampai ahirnya Taemin menuntut lebih.

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Adalah sebuah pertanyaan yang ada dikepala Minho. Apakah ia langsung saja memasukan jarinya atau…?

            “Tae, apa yang punya sesuatu…lotion atau semacamnya?”, tanya Minho kehabisan nafas.

Ada beberapa desahan yang datang dari namja itu sebelum menjawab, “A-ada baby oil Kai di laci—nng.”

            “Itu bisa digunakan sekarang.”, melapaskan tangannya dan bibirnya dari Taemin, dia melompat dari tempat tidur dan menyambar botol satu-satunya di meja Taemin. Sejenak, dia merasa ada rasa bersalah karena mereka menggunakan baby oil Kai untuk ini, tapi ia baru saja berjanji akan membelikannya yang baru besok. Setelah melepaskan tutupnya, dia menuangkan cairan licin itu ditangan, sedikit agak banyak dan membuang botol itu ke suatu tempat di atas kasur.

Minho menarik nafas gemetar dan menghembuskan nafasnya. Dia tidak pernah merasa segugup ini sejak hari dimana ia jujur pada kedua orang tuanya bahwa ia seorang biseksual. Dia gemetar dan berkeringat saat itu.

Tapi saat itu hasilnya bisa diterima. Jadi mudah-mudahan kali ini juga.

Taemin meringis kecil saat Minho memasukkan jari telunjuknya ke dalam lobang duburnya. Minyak itu berhasil membuatnya basah dan licin, memberikan penetrasi yang mudah untuk digit pertama. Itu tidak menyakitkan, hanya agak tidak nyaman.

            “Tae, kta bisa berhenti jika kau mau, ingat itu.”, Minho mengingatkannya, memperhatikan wajah malaikat itu perlahan untuk melihat ada rasa sakit disana.

Namja itu menggelengkan kepala, tersenyum untuk menunjukkan bahwa ia ingin melanjutkan ini sesuai dengan isi hatinya. Minho balas tersenyum dan melanjutkan, hatinya merasa hangat dan perutnya geli karena sensasi penasaran atas hubungan intim yang akan mereka bagi ini.

Jari didalam senggama Taemin mulai bergerak dengan lembut. Namja pirang itu bahkan mencoba untuk bernafas, dimana dadanya naik dan turun dengan cepat, namun gagal ketika ujung jari Minho menyentuh spot sensitif didalam tubuhnya dan membuat ia mengeluarkan desahan panjang dari tenggorokannya dan membuat punggungnya melengkung indah.

Ketika Minho melihat reaksi ini, ia ingin lebih bereksperimen dan menusukan jarinya ke spot itu lagi, puas ketika ia mendapatkan reaksi yang sama seperti sebelumnya—Taemin mendesah lagi dan meremas sprei disamping nya sampai kepalan tangannya memutih.

Minho tambahkan jarinya lagi, kali ini masuk dengan mudah sama seperti yang pertama, dan kemudian mulai memutarnya. Kali ini, namja pirang itu merasa agak perih dari dua digit jari yang merenggangkan lobang senggamanya namun kenikmatan yang diberikan oleh jari Minho menggesek prostat nya membuat ia mendesah kebih hebat lebih dari sekedar rasa sakit. Ketika Minho menambahkan jari ketiganya, rasa sakit langsung terasa hilang.

            “Aaah, Minho!”, ia tidak bisa menahan teriakannya. Terlalu banyak yang terjadi hanya dalam waktu sebentar; jari Minho bergerak didalamnya dengan cepat, tangan lainnya memberikan ransangan di member Taemin dengan ritme yang sama dan dengan itu—Bahkan Taemin tidak bisa ingat kapan Minho memulai—namja berambut hitam itu mulai melancarkan ciuman di leher Taemin.

            “Minho, Please, aku tidak bisa tahan lebih lama lagi—ahhh—lakukan saja..”, Taemin memerintah dengan kehabisan nafas.

Minho mendongak, “Kau yakin?”

            “Yes! Oh God, hanya—hanya kumohon…”

Taemin tidak bisa percaya bahwa ia terdengar sangat putus asa namun memang benar, dengan segala kejujurannya. Fakta terbukti ketika tubuhnya mendorong maju menuju jari Minho, ingin lebih dalam dan cepat dan merasakan kenikmatan lebih lagi. Rasa nikmat membuat ia kehilangan kontrol, seluruh tubuhnya menyerah dan menjadi begitu menginginkan tangan Minho.

Ia tidak memiliki kendali atas apa yang ia lakukan lagi.

Tubuhnya, pikirannya, dan seluruh dirinya—adalah milik Minho sekarang.

Dan Taemin ingin DIA yang memiliki nya.

            “Minho, aku mencintaimu.”

Dan saat itulah. Tiga kata itu sepertinya menghentikan semua apa yang mereka lakukan dan Minho hanya terus menatap kedalam mata coklat yang indah itu, untuk mengingatkan dirinya bahwa ini adalah Taemin yang ia cintai. Cintanya. Kekasihnya, seluruh hidupnya.

            “Aku juga mencintaimu, Tae.”, balasnya dengan ketulusan yang cukup membuat hati Taemin meleleh. Ia menarik tangannya dari Taemin dan melumaskan membernya dengan oil yang masih tersisa ditanganya, “Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.”

Minho menundukkan kepalanya dan meletakan bibirnya di bibir kekasihnya, meredam erangan yang keluar dari mulut namja itu ketika ujung member Minho mulai memasuki lobang senggama nya yang masih belum terjamah. Tubuh namja pirang itu tersentak sebagai reaksi tidak disengaja dan Minho mencoba menenangkan rasa sakitnya dengan membelai member Taemin, berharap gerakan itu bisa menutupi rasa sakit nya dengan rasa nikmat.

Rasa sakit itu benar-benar luar biasa. Taemin merasa seperti sedang diserang, sesuatu yang membelahnya menjadi dua dari belakang saat Minho memasukan perlahan membernya yang panjang kedalam tubuh Taemin inci demi inci. Rasanya seperti lama sekali bagi Taemin. Dia beusaha keras untuk tidak menangis dan mungkin akan membuat Minho menariknya keluar, tapi dia tidak bisa menahan sedikit air matanya yang keluar dari matanya yang merengut kesakitan.

            “Tae.”, Minho mendesah, matanya terpejam karena kenikmatan luar biasa yang ia rasakan. Otot Taemin mencengkram begitu rapat disekeliling member nya, mencengkramnya begitu kuat dimana tubuhnya mengatakan untuk segera meneruskan ke step selanjutnya. Itu adalah sebuah keinginan yang sulit ia hindari.

            “Baby, kau tidak apa?”

Taemin mengeluarkan rengekan susah payah untuk meresponnya. Terlihat sekali, ia tidak baik-baik saja. Minho tetap menjaga pinggulnya pada posisinya, tangannya tetap berada di member Taemin, ketika tangannya yang lain menopang tubuhnya di samping kepala Taemin.

Rasanya seperti lama sekali sampai Taemin merasa sakitnya agak mereda. Dia merasa sepertinya ia berdarah, namun ia tidak memikirkan nya dan berpikir itu mungkin baby oil yang mengalir dari lobang senggamanya. Sayangnya, Minho merasakannya juga, dan ia menunduk untuk melihat ada cairan merah keluar dari lobang dubur Taemin.

            “Oh, Tuhan, oh Tuhan, Taemin, kau berdarah.” Minho panik.

            “Tidak! Jangan keluar, tidak apa!”, Taemin segera bicara ketika ia merasa Minho akan menarik membernya, dengan tiba-tiba meraih lengan kekasihnya untuk menarik dirinya, “Kumohon, Minho. Kita sudah sejauh ini. Aku tidak ingin berhenti sekarang,”, mohonnya.

Dan meskipun itu menyakitkan melihat Taemin melewati semua ini demi dirinya, dia tidak bisa menolak permintaan untuk memberikan dirinya pada kekasihnya itu. Ia membunguk lagi sehingga perutnya menyentuh perut Taemin, ia letakkan kedua sikunya disetiap sisi tubuh Taemin dan dengan perlahan menggerakan pinggulnya, Minho mulai menarik keluar membernya, hanya untuk memasukannya sekali lagi, menerima desahan tertahan bercampur dengan erangan kesakitan dari namja itu.

Begitu perlahan, gerakan berulang yang secara langsung menambah kenikmatan. Minho tetap pada ritme nya, mencoba selembut dan sepelan mungin.

Kemudian, rintihan kesakitan yang berganti menjadi desahan kecil. Tangan Taemin melepas sprei dan pindah ke lengan Minho, meriah lengan kencangnya agar tubuh mereka tetap bergerak serentak. Lobang senggama Taemin yang berdarah cukup lebar untuk cukup menerima besarnya member Minho, dan rasa sakit segera berubah menjadi perih tidak terasa yang langsung berubah menjadi rasa nikmat.

            “Minho…”, rintih Taemin.

Mendengar namanya dipanggil seperti itu membuat ia lebih bernafsu.

            “Mmmm… katakan lagi, Tae.”, engahnya, kecepatan hujamannya menambah seiring namanya disebut dari bibir indah Taemin.

Dan kemudian, hanya ketika Taemin hendak untuk mendesah dan menyebut nama Minho—ia malah teriak, dimana member Minho tepat mengenai prostatnya. Dan saat itu juga, semua sirna selain adanya mereka berdua, tidak ada apapun namun hanya dia dan Minho.

Bola mata Taemin seperti memutar kebalik matanya ketika Minho terus menerus menerjangnya di spot yang sama. Insting yang tepat dan nafsu yang mengambil alih dan tiba-tiba, mereka tidak memiliki kontrol pada diri mereka sama sekali. Perasaan seperti itu ada saat kau merasa kehilangan diri mu dan pada dasarnya membiarkan tubuh mu melakukan pekerjaannya—itulah yang terjadi pada keduanya. Saat orgasme mendekat, Taemin tidak bisa merasakan apa-apa kecuali Minho dan tidak melakukan apapun kecuali mengerang dan menjerit.

Mulut Minho terbuka lebar dan air liurnya mengalir disekitar bantal dimana ia membenamkan wajahnya disana, namun ia tidak perduli. Dia tidak bisa mengeluarkan suara apapun namun hanya sedikit suara seperti erangan sementara pinggulnya terus bergerak erotis.

            “Minho, Minho, Minho—God! Aku ingin—aaah!”, sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, gumpalan panas keluar dan terkumpul di perut Taemin, terurai dan menyemburkan benih di antara perut mereka, oragasme nya dibantu oleh gosokan perut Minho pada membernya.

Seperti berada di surga. Rasa ekstasi murni yang tidak bisa diberikan selain oleh Minho.

Pinggulnya bergetar sampai tidak terkendali sebelum ejakulasinya berhenti. Dan begitu orgasme nya berhenti, Minho memulai; melepaskan erangan nyaring sebelum mengeluarkan cairan hangat didalam kanal Taemin. Taemin mendesah sesaat merasakan cairan panas itu memenuhi tubuhnya sepenuhnya. Minho mencapai orgasme dengan sedikit dorongan sebelum ia menghentikan hentakan pinggulnya, menarik keluar dari Taemin yang masih lemas dan jatuh di tempat tidur dengan setengah tubuhnya ada di atas Taemin.

Ketika mereka mereda dari orgasme masing-masing, sesuatu membuat mereka sadar;

Mereka melakukannya

Mereka bercinta

Mereka menjadi satu.

            “Taemin, aku sangat mencintaimu.”, Minho berusaha mengatakannya dengan wajah yang setengah terbenam di bantal.

            “Aku juga mencintaimu, Minho. Selamanya.”, itulah jawaban Taemin yang sudah tidak menyadari sekitar.

Mereka benar-benar lelah. Dan meski Minho begitu ingin membersihkan Taemin, mengelap darahnya dan mencuci wajahnya, dia tidak bisa lakukan apapun selain menarik selimut menutupi tubuh nya dan kekasihnya sebelum mereka terlelap.

Dan malam tidak akan pernah sesempurna ini.

-FIN-

Part 15 – 2Min-Damaged [Morning After & Memories] >>

Hai Gaesss!! Muahahahahaha *ketawa Taemin (evil)*
Gimana? sudah dibaca smutt nya? jangan pada ikutan YADONG (pervert) kaya gue dan bilang ini kurang Hot yah… karena bukan gue yang buat kan! (kalau gue yg buat juga belum tentu Hot sih) hahahaha…

So, sorry yah update nya jadi hari ini (gak sesuai info di FB), karena acica sakit kemarin, jadi bedrest dulu seharian 😦

Well, Damaged ini masih panjang kisahnya. Boring gak? hahaha… karena menurut gue, Authornya sangat adil, dimana awal FF ini sedih, penyiksaan, permainan emosi Taemin. Nah, kebelakang malah manis2nya 2min.

Jadi, terima kasih yang masih pantengin FF ini dan nunggu update dengan sabar!
Thanks for commenting, support, share, and Like!

Regards,
@vittwominaddict

Please do not post this translation everywhere! Take a full credit from me and Ichigosama as original author of this Fanfic!

Advertisements

24 thoughts on “2min-Damaged [Warning!RATE 17+]

  1. wahahahaha
    si Taemin yang mau ketemu si minho girang banget sumpah
    padahal ya baru seminggu tapi kayaknya udah lama banget kek berbulan bulan
    mana mereka ciuman diluar lagi terus si taemin pake acara manjat2(?) badan si minho hahahahaha untuk paman bibi nya nggak mempermasalahkan

    duh duh duh ini sih hot
    mesti pake kipas angin+AC buat ngeredain panasnya hahahahha
    bersyukurlah ya sekarang mereka dah benar benar bersatu dan semoga gak ada halangan lain buat mereka kedepannya
    minho plis ya jagain dan tetep cintain taemin kan dia udah nyerahin semuanya sama kamu minho jangan sampe bikin taemin kecewa sedih dan sakit hati kan taemin nya juga udah cinta mati ama kamu minho
    ah pokoknya semoga gak ada rintangan yang berat buat hubungan 2MIN kedepannya

    😀

  2. Ya ampun kok jd taemin yg nepsong sih… hahahahahha
    Lumayan hot kak
    Ming gentle bgt ya merlakuin taem…
    Kodok mah emang jagonya romantis”an..hehe
    Untung aja tuh paman bibinya ma kai blm plg..
    Ditunggu next part nya kak.. fighting 😉

  3. Whahahahahaha, ini mah bukan smutt tp NC seneng deh baca part nya taemin yg ketemu sma minho bahagia bngtd smoga kedepan nya gx ada halangan lg biar pun ada halangan tp jangn baret2 gx sanggup liat tetem menderita lagi, kira d setiap pertemuan mereka nanti bakalan ada adegan smutt2 nakal lgi gx yah, wkwkwkw( ketawa evil)

  4. aduuuhh maaf ya kak pasti gara2 komen.ku di fb td 🙏🙏🙏🙏🙏 pdhal kak author lg sakit…
    tp makasih ya kak ud di post meskipun msh sakit…
    GWS kak ^^
    —————————–

    taeminnie excited bgt mau ketemu minho 😊😊😊😊😊 smpe bgtu minho dtg lsg di tubruk n di kasih hot kiss 💋💋💋💋💋
    auh taeminho gak ketemu seminggu aja ud making love 😶😶😶😶😶 tp sweet bgt mereka malu2 gtu…

    eh td pas dinner taemin ngerasa ad yg ngawasi dia…siapa ya ?? smg cm perasaan taemin aj…

    • ehh? masa sih? gak sadar, komen apa? hahaha.. lagian emg aku lg sakit jadi gagal post xD
      Kita liat saja siapa yang ngawasin dia nanti yaah hehehe…

  5. Taeminnya rada agresif yah 😂😂 tapi suka *plak* minhonya juga itu kenapa kok perhatian bget yah jdi cwok.. Kan gue makin envy sama tetem 😭😭

    Kebahagianmu sudah di mulai tem.. Dan untuk seterusnya…..

  6. Entah kenapa bagian pake baby oil nya itu lho yg cuteee XDDDD
    Dan karakter taemin disini kok dia jadi kea cewe banget wkwkwk tapi aku sukaaaaaaa XD cant wait sama manis2nya 2min 😍

  7. Suka suka bgt sama part ini, ini bner2 moment 2min bgt, puas bgt sama moment mereka, dan sumpah malam pertama mereka hot sekali hahahah
    bner2 awal yg manis buat kehidupan taemin

  8. Duh jadi gerah nih,hehehe..
    Akhirnya mereka melakukannya juga.Part ini isinya indah2 melulu.Tapi curiga dan penasaran siapa yg mengawasi Taemin ketika mereka lg di restaurant? Mengingat kisah 2min masih panjang,jd takut muncul konflik baru yg bakal mengganggu hubungan 2min.

  9. Uh my god hahahhaa
    Bner bgt adil cyin klo bgni crnyaa horeeee bkal ad trus2 san wkwkkw 😍.

    Uih si taemin berubah gtu hahahhaha pdhal selang smggu huowww brri dya cepet move on orgnya kren loch taem 😍. Wah tuh bocah msh SMA yaah critnya wkwkwk mantafff. Waduhhh mrka pingsan bgtu jja?? Gmn pas bangun ntr?? Ntr shocking soda loch itu bibi paman ya. Wawkqkqkkqk
    Wait!! Itu kalimat ” taemin serasa di awasin” wah jgn2 😑😑😑. A new enemy 😬😬…. hiksss cobaann lom brhnti intinya 2min keep loving each other ya 😍!

  10. Oh gawd! Kak serius aku sudah tak bisa berkata apapun, aku suka ini. All the scenes, I LIKE. Wkqkqk. Sungguh ini yang aku harapkan setelah Taemin mendapat perlakuan tidak baik dari ayahnya, and oh my god she did it for me and readers. Thanks to her lol. I hope their sweet story will flow as u said that this story still have long chapter to go ;))

    • Yass yaas!! I told you she is the best! this FF soooo gewd! huhu…
      pastinya masih banyak lagi sih kejutannya, jadi ditunggu aja update an selanjutnya yess 😉

  11. Akhirnyaaaaa mereka ketemu.. Bibi sama pamannya taemin jg pengertian banget sih langsung pergi jalan-jalan bawa kai tau aja kalo 2min kalo lepas kangen bakalan GITU ~ iya GITUAN ~ 😁 hahahaha

    Eh tapi siapa ya yg perhatiin taemin pas lagi kencan.. Kok jadi curiga sama Mir. Jangan-jangan…..

    Next yaaaa..

  12. Skip skip skip skip skip
    Serius baca chap ini tuh skip terus isinya 😂😂😂😂 hahahahaha
    Bahaya bahaya 🔞🔞🔞🔞🔞

    Finally Taemin bahagiaa aaaaaakkkkkkkkkk
    Suka suka!!!
    Akhirnya Taemin hidup layaknya umumnya dan normalnya orang hidup.
    Bukan hidup dalam kungkungan dan kekangan ketakutan.
    Bukan hidup dalam penyiksaan yang selama ini ia alami..
    Hah.. You deserve all Taeminie❤❤❤💋

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s