2Min-Damaged [Morning After & Memories]


Damaged – Original Story by Ichigosama (Nikki)
Translation all right reserved by Twominyeah

<< Part 14 – 2min-Damaged [Warning!RATE 17+]

WARNING!!!
DRAMA (FULL OF DRAMA) & YAOI.

Morning after and Embarrassing Moments | 34 |Memories

 

Hal pertama yang Taemin sadari ketika ia bangun di keesokan hari adalah perasaan yang tidak nyaman, sesuatu yang lengket diantara selangkangannya. Dia tidak butuh menebak apa itu, dimana dia mengingat bahwa Minho tidak menggunakan kondom. Merasa agak geli, meskipun secara mengejutkan, Taemin tidak keberatan sama sekali.

Hal kedua yang langsung ia sadari adalah bau aneh seperti bau seks dan baby oil yang menyerbak keseluruh ruangan, bercampur dengan sentuhan bau minyak wangi Minho. Taemin bohong jika ia mengatakan bahwa ia tidak menyukainya. Apakah aneh untuk bilang ia menyukainya? Hanya saja itu semua tercium Minho sekali baginya.

Taemin sedang ditengah-tengah menghirup aroma kekasihnya ketika tiba-tiba, tubuh disampingnya bergerak.

            “Minnie?”, Minho akhirnya bangun, setelah sepuluh menit atau lebih Taemin menunggunya bangun. Ia ingin sekali mandi namun ia tidak ingin Minho bangun sendirian di atas kasurnya. Lagi pula, Minho, dirinya sendiri, tidak akan membiarkan dirinya bangun di kasur yang kosong.

Taemin menatap kekasihnya berser-seri, sebelum mencondongkan tubuh nya untuk memberikan ciuman pagi yang manis. Minho berguling telentang dan meraih namja pirang itu kepelukannya, sedikit terkejut dengan sambutan hangat yang baru ia terima. Meski begitu, dia membalasnya dengan mencium kening namja pirang itu.

            “Kau tidak apa-apa? Apa yang kau rasakan?”, tanya Minho, suaranya tetap serak karena bangun tidur.

Taemin mengangkat bahu sedikit, “Masih sedikit sakit, tapi aku akan baik-baik saja.”

Ia tidak bisa bohong; pantatnya serasa panas.

Sebuah perasaan tidak enak menerjang hati Minho. Ia letakkan kepalanya di bahu Taemin, membuang nafas, “Maafkan aku, Tae. Kau tahu aku tidak ada maksud menyakitimu, kan?”,

Taemin berdecak akan sifat over protektif kekasihnya. Karena tentu, seks akan menyakitkan pertama kalinya entah bagaimana pun mereka melakukannya. Dia tidak bisa percaya Minho terlalu mengkhawatirkan hal ini sendirian.

Well, sebenarnya sebagian adalah kesalahannya. Dia sebenarnya tidak terlalu … kecil, ya begitulah.

Taemin bangkit—mencoba sebisa mungkin untuk menahan erangan karena ngilu—dan menarik Minho bangkit bersamanya. Terlalu terlihat bahwa mereka keduanya kesakitan, meskipun—paha Minho dan pinggulnya tetap sakit dari gerakan yang mereka lakukan tadi malam, dan itu terlihat ketika ia menahan pinggang belakangnya yang ngilu.

            “Ini akan baik-baik saja, Minho. Ini bukan salahmu; kau lakukan yang terbaik untuk tidak menyakitiku. Selain itu, pertama kali melakukannya pastilah sakit, ya kan?”, Taemin mencoba menenangkan kekasihnya, karena ia tahu Minho tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri ketika dia melihat Taemin akan terlihat lemas dan sempoyongan hari ini.

Minho akhirnya tersenyum dan mengangguk. Taemin melakukan hal yang sama, sebelum ia meletakkan kakinya di atas paha Minho dan bermanja padanya. Minho sedikit terkejut dengan aksi yang sama sekali bukan dirinya datang dari kekasihnya itu, namun ia memutuskan bahwa itu mungkin terbawa dari suasana intim yang mereka bagi semalam. Tentu saja, Taemin akan lebih terbuka dan percaya diri—Minho telah menduga hal itu, namun tetap dia tidak bisa percaya bahwa Taemin akan mendekat padanya—dalam keadaan telanjang—dan wajahnya yang suka tersipu malu hilang entah kemana.

Meskipun begitu, dia tidak protes sama sekali tentang itu. Dia bisa hanya berbaring disana sepanjang hari dengan baby-nya yang menempel padanya itu, dan dia tidak akan mau pindah.

Taemin juga memikirkan hal yang sama.

Dan saat ketika momen itu begitu sempurna—saat ketika Minho berpikir bahwa musik romantis akan berputar menjadi backsoundnya, suara dari bawah tangga menggema. Lebih tepatnya, suara Bibi Taemin teriak pada mereka berdua untuk turun dan sarapan.

Keduanya sama sekali lupa dengan keberadaan orang lain dirumah itu.

            “Oh, tidak—Minho! Apa kau mengunci pintunya semalam?”, Taemin dengan histeris bertanya, melepaskan dirinya dari kehangatan tubuh Minho dan melihat kekasihnya dengan mata terbelalak.

Ketika Minho dengan ragu mengangkat bahunya sebagai respon, Taemin terhuyung turun dari kasur—menarik selimut bersama dengannya, tentu saja—dan lari menuju pintu…

…dimana tidak terkunci.

Seperti; bisa dibuka. Dimana artinya bahwa orang lain bisa masuk kedalam kamarnya ketika mereka tidur. Dimana artinya bahwa bibi nya, paman nya, dan paling buruk; adiknya, bisa saja masuk kedalam kamar dan melihat mereka telanjang dibalik selimut, dan melihat tentu saja pertempuran semalam yang penuh gairah.

Taemin berdiri disana, wajah ngeri terpasang di wajahnya.

Minho, disisi lain, hanya menyibukkan dirinya menggenakan celana training nya kembali, sudah jelas tidak terpengaruh oleh keadaan sulit yang mereka alami. Jika seseorang masuk kedalam kamar mereka, mereka akan membangunkan mereka atau berteriak kepada mereka saat ini—dimana itu tidak terjadi, jadi Minho tidak melihat apa yang Taemin khawatirkan.

Namja berambut hitam itu menghembuskan nafas dan memeluk kekasihnya dari belakang, yang masih saja kaku layaknya stupa, dan berkata, “Tenanglah, Tae. Meskipun mereka mengetahuinya, mereka termasuk orang yang terbuka pemikirannya, ya kan?”

Taemin mengeluarkan suara rengekan, “Tapi bagaimana jika—“

            “Tidak, tidak, tidak—jangan memulai dugaan apapun, kumohon. Sekarang bisakah kita bersihkan badan? Ayolah~”, namja tinggi itu menarik pinggul Taemin, dan memaksanya bergerak dari tempat dimana ia berdiam diri. Mereka berdua sungguh butuh mandi, dan bukannya mereka bau—Minho hanya saja ingin Taemin kering dari air mani yang ada di dadanya dan perutnya dan diantara selangkangan Taemin, dimana terlihat menggelikan.

Nafas Taemin tersedak di kerongkongannya.

            “T-tunggu,”, gumamnya, “Maksudmu… sama-sama?”,

                “Tentu saja.”

            “Tapi…”

Minho menaikkan satu alisnya, “Kecuali kau tidak merasa nyaman dengan itu.”

Taemin memutar badannya dan menatap kekasihnya, “Baiklah,ini… ini bukan karena aku tidak nyaman dengan itu, maksudku…setelah semalam, aku tidak melihat kenapa aku harus tidak nyaman. Tapi…”

Tapi semalam hanya satu lampu.. jika mandi bersama, kau bisa melihat semuanya.

                “…semalam begitu gelap, dan … maksudku.”, Taemin gugup, dan berbisik di akhir kalimat, “Mungkin akan terlihat tidak sama.”

            “Apa yang kau bicarakan, Taemin?”, Minho membuang nafas, mengetahui dengan jelas kemana ini akan dibawa, “Apa kau bermaksud mengatakan setelah apa yang telah terjadi semalam, dan setelah pagi ini—kau masih saja takut untuk terlihat telanjang didepanku?”

Taemin tersipu akan kenyataan itu, “Menyentuh akan beda dibanding melihat.”, dia bergumam.

Minho tidak bisa percaya dengan apa yang ia dengar. Jadi Taemin nyaman dengannya jika disentuh dan tidak untuk dilihat? Apa yang sebenarnya ada di kepala namja ini?

Jika memang itu masalahnya, dia sudah bertekad untuk menghilangkan apapun perasaan tidak nyaman yang masih Taemin miliki.

            “Lalu katakan padaku; apa yang kau takutkan untuk aku lihat?”, tanyanya tegas, tapi tetap lembut sebisa yang ia bisa.

Taemin berusaha menghindari tatapan matanya ke arah lain dibanding ke mata namja tinggi itu, namun Minho menahan wajahnya dengan kedua tangan untuk tetap menjaga dia tidak melihat ke arah lain.

            “Katakan saja padaku, Taemin.”

Namja pirang itu berpindah posisi dari kaki kiri kekaki kanan, melirik ke arah Minho sesekali, “Kau berjanji tidak akan merasa jijik?”

Minho sedikit tersinggung oleh anggapan dia dimana dia benar-benar akan melakukan hal itu, “Tae, kau tahu aku tidak akan pernah melakukan hal itu.”

Namja pirang itu membuang nafas. Setelah beberapa menit perdebatan, dia memutuskan itulah hal yang terbaik untuk memulai untuk lebih terbuka padanya. Setidaknya Minho sangat mengerti, dan Taemin yakin dia tidak akan melakukan atau mengatakan apapun yang akan menyakitinya.

Dia berhenti gelisah dan melepas selimut yang menutupi tubuhnya, membiarkannya jatuh mencapai batas pinggangnya.

Jika mereka ingin lebih intim sebagai seorang pasangan, maka biarkan Minho untuk melihat semuanya, ya kan?

Taemin mengigit bibirnya sebelum ia memutar badannya dan memamerkan punggungnya pada namja tinggi itu. Minho bingung sesaat, namun ketika ia melihat itu semua, kemudian  ia paham; kulit Taemin yang pucat, dan halus terdapat bercak kecil, dan garis panjang yang terbentang diseluruh punggungnya.

Tidak begitu terlihat, namun ketika kau melihatnya dengan jeli, itu akan terlihat. Minho tidak pernah melihat itu sebelumnya. Tentu aja, itu tertutup oleh memar ketika terakhir kali ia melihat punggung Taemin.

Inikah yang ia khawatirkan?

Dari semua reaksi yang Taemin bayangkan, dia tidak mengira bahwa tawa Minho yang terdengar seperti yang sedang dilakukannya. Dia menoleh kan badannya, melirik kesal ke arah Minho yang tertawa karena kekurangannya. Dia sangat serius sampai ingin menangis, sampai Minho akhirnya bicara duluan, “Kau Pabo! Kau berpikir aku kan merasa jijik dengan itu? Tae, bahkan jika kau punya tiga tangan dibelakang mu, aku tetap tidak akan perduli.”

Minho berhenti terkekeh, dan langsung saja, mood nya berubah serius. Taemin mendongak padanya dengan harap.

            “Taemin.”, mulai nya, suranya tiba-tiba serius dan lembut. Dia bawa tangannya ke wajah namja pirang itu dan tetap disana, “semua luka itu tidak ada artinya bagiku. Semua luka itu tidak merubah mu menjadi tidak cantik sedikitpun, kau harus tahu itu. Semua itu hanya luka, demi apapun.”

            “Tapi—“

            “Tidak.”, Minho berkata tegas, mengejutkannya dan berhasil membungkamnya. Namja tinggi itu melanjutkan, memarahinya hampir seperti Appa ke anaknya. Taemin merasa sedikit malu untuk dihukum seperti ini, tapi dia tidak bisa menahannya kan? bekas luka itu jelek sekali. Bekas luka itu adalah kenangan akan masa lalunya yang mengerikan. Bekas luka itu adalah karena Appa nya.

Semua bekas luka itulah alasan kenapa Taemin tidak ingin kekasihnya melihat seluruh dirinya.

Dan ketika Minho mengatakan seperti itu padanya, dia merasa sangat bodoh karena telah melihat dirinya begitu rendang seperti itu, ketika sebenarnya, dia tidak perlu begitu. Dia telah salah berpikiran hal yang sangat buruk kepada Minho.

Dia seharusnya menduga bahwa Minho akan melakukan sesuatu seperti ini.

            “Taeminnie, jika ini bisa membuat mu merasa baikan, itu tidak terlalu kelihatan.”, Minho mengatakan itu sebagai kata terakhir ketika ia masih melihat kekasihnya tidak tersenyum. Dia merasa ingin menggunakan jempolnya dan memaksa bibir namja pirang itu tersenyum. Namun dia tidak bisa melakukan itu, tentu saja.

            “Kau tidak berpikir ini menjiijikan?” tanya lagi dengan suara pelan menyelidik.

Minho memutar bola matanya, “Kau sudah mendengarkan ku selama sepuluh menit terakhir kan?”, dia memarahi lagi dengan cara menggoda.

Akhirnya, Taemin tersenyum karena itu, dan namja rambut hitam merasa beban telah terangkat dari hatinya ketika ia melihat wajah cemberut kekasihnya lenyap. Taemin menghempaskan dirinya ke arah Minho, yang kemudian menangkapnya dengan mudah, dan melingkarkan kakinya ke pinggul namja itu. Rasa sakit dibelakangnya tidak dipedulikan lagi untuk sementara. Ia punya namja cingu yang sempurna dan dia tidak perduli lagi tentang apapun.

            “Jadi, kita mandi?”

Taemin bergumam tidak jelas.

Selimut yang menutupi daerah rahasia Taemin telah terlepas seiring mereka berjalan menuju kamar mandi (yang menjadi satu dengan kamar tidur), dan juga celana Minho.

Keduanya tidak perduli sama sekali.

Di meja makan, Taemin tidak bisa melihat ke arah mata Bibi dan Pamannya lebih dari dua detik, takut jika ia lihat lebih lama, mereka akan memberikan tatapan ‘aku tahu apa yang kau lakukan semalam’ dan dia sangat tidak menginginkan hal itu. Malahan, dia berusaha sebisa mungkin duduk normal di kursi ketika ia merasa pantatnya panas sekali.

            “Jadi, bagaimana kencan kalian semalam, Minho-goon?”, Sekyun bertanya, berusaha membuat percakapan kepada tamu mereka.

Minho berhenti menyuapi sereal ke Kai sebelum menjawab sopan, menggunakan kharismanya untuk menarik perhatian keluarga Taemin—dimana sangat berhasil demi keuntungannya sendiri sebenarnya, “Menyenangkan, Mrs. Jung. Kita makan malam disebuah restauran seafood dan setelah itu langsung pulang. Aku sarankan kalian pergi kesana juga—makanannya lumayan enak.”

            “Tapi tentu saja, masakanmu lebih enak, Mrs. Jung.”, Minho menambahkan dengan ekstra bumbu pemanis.

Taemin hanya menyengir dengan bagaimana kekasihnya itu bisa memanipulasi. Meskipun, itu bukan bohong; Mrs. Jung adalah koki terbaik, dimana itu terbukti dengan adanya lemak di pipi Taemin sekarang. Dia mengira beratnya akan bertambah 10 punds pada minggu depan.

Sekyun terkekeh dan tersipu malu untuk beberapa menit sebelum bertanya hal lain, salah satunya membuat Minho tersenyum malu, paman Taemin menahan tawa, dan Taemin sendiri tersipu malu, sangat malu sampai mungkin ia bisa menjadi tomat.

            “Lalu, apa yang terjadi setelah kencan, Minho ah?”, Bibi Taemin bertanya dengan nada yang tidak bisa dijabarkan sebagai pertanyaan. Mereka tahu semuanya. Taemin tidak ingin bernafas saat itu juga.

Dia melirik ke arah keponakannya, terkekeh saat melihat pipi dan kupingnya yang memerah.

Ketika Minho tidak menjawab dan wanita itu berhenti tertawa, Sekyun mengibaskan tangannya sebagai tanda tidak perlu digubris ucapannya dan berkata, “Jangan khawatir, kami tidak marah pada kalian.”, dia tersenyum, “Tapi pastikan kalian mencuci spreinya dengan bersih, neh?”

Ya Tuhan, kumohon bunuh aku.

            “—dan kunci pintunya.”, Paman Taemin menambahkan, “Demi Tuhan, Kunci. Pintu. Nya.”,

Taemin semakin tenggelam diatas kursinya. Dia tidak berharap apapun selain menghilang saat itu juga. Setidaknya Minho tidak semalu dia. Ini bukan keluarganya yang menemukan kejadian yang mereka lakukan.

            “Setelah sarapan, aku akan membantumu mencuci spreinya, Taemin ah.”, Sekyun bilang, “Aku akan ajarkan mu bagaimana benar-benar menghilangkannya dari sprei.”

            “Dan selalu ingat kalian, keamanan dan tanggung jawab.”, Paman Taemin tersenyum.

            “Ngomong-ngomong, apa kau melihat dimana baby oil Kai? Aku mencarinya dari tadi pagi.”

            “Minnie Hyung, kau berubah jadi tomat!”

Dan ini terus menerus terjadi sepanjang hari.

Tepatnya jam 7 malam ketika Bibi Taemin dan Pamannya memutuskan untuk keluar rumah sementara. Lagipula itu hari Sabtu, dan ketika kedua namja itu mengatakan mereka tidak akan pergi, mereka mengambil kesempatan untuk berkencan juga. Mereka meninggalkan Kai pada mereka, dan untungnya, balita itu tidur lebih awal dan memberikan kesempatan mereka untuk terbebas beberapa jam dari seorang balita yang begitu aktif.

Setelah mereka meletakkan Kai dikamar, waktu menunjukkan pukul delapan, dan Minho menyarankan mereka menonton film untuk membunuh waktu. Taemin meminta bahwa mereka menonton Koala Kid. Untungnya, kekasihnya itu tidak protes sama sekali. Minho hanya tersenyum dan memasang DVD nya.

Kredit film diawal sudah dimulai, kedua namja itu bermanja di atas sofa bersama dengan sebuah selimut tebal terhampar di atas tubuh mereka, ketika sebuah ketukan terdengar.

            “Siapa yang datang?”, Taemin bertanya-tanya dengan suara keras. Dia menatap Minho dengan tatapan puppy eyes terbaiknya dengan cemberut juga. Namja tinggi itu dengan mudah termanipulasi—menghela nafas dan berdiri utnuk membuka pintu.

Minho membukanya untuk melihat seorang wanita yang belum pernah ia lihat sebelumnya, “Ada yang bisa ku bantu, Nyonya?”

Wanita itu sekitar umur 30 tahun; hal itu terlihat jelas oleh rambut beruban dibagian atas kepalanya yang tidak ditutupi oleh pewarna rambut, dan keriput dimatanya yang berkerut saat dia tersenyum pada Minho. Dia mengenakan pakaian formal, terdiri dari blazer dan rok pencil nya, menciptakan aura bemartabat disekelilingnya. Minho tahu bahwa dia orang kaya, selain  mobil mahal yang terparkir di halaman mereka.

Siapa wanita ini?

Dia tersenyum lembut pada Minho, sebelum bertanya, “Apa Lee Taemin tinggal disini?”

Selama dua belas tahun semenjak Umma nya meninggalkan Appa nya dan dia, Taemin tidak pernah sekalipun mengenal sosok dirinya lagi.

Semua fotonya, semua hal yang mengingatkannya dan semua bajunya, entah ditinggalkan atau dibuang bersamaan dengan kenangan Taemin tentang Ummanya. Bahkan potongan terakhir dari ingatannya yang menua; adalah hal terakhir yang ia ingat dikepalanya, satu-satunya hal yang bisa ia ingat, karena tidak ada lagi yang tersisa untuknya.

Tidak ada hal untuk dikenang. Tidak ada foto, tidak baju-bajunya—tidak ada memori tentang nya ada. Taemin tidak pernah menyadari sebelumnya, ketika ia masih berumur empat tahun, namun Appa nya telah membuang semuanya mengenai hal yang mengingatkannya pada istrinya. Sedikit demi sedikit, selang ulang tahunnya terlewati, ingatan tentang Umma nya menjadi hilang sedikit demi sedikit, sampai saat ini—tidak ada yang tertingal kecuali sisa-sisa bekas luka terdahulu.

Dia telah pergi untuk waktu yang sangat lama, sampai Taemin mulai percaya bahwa ia telah tiada. Seperti apa yang selalu Appa nya katakan setiap kali mabuk.

‘Dia tidaklah berarti bagiku selain dia sudah mati. Sadarlah, dia meninggalkan kita! Tidak ada hal yang bisa kau lakukan untuk membuatnya kembali, karena dia tidak ingin melakukan apapun padamu!’

Ya, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Tidak ada yang bisa dia lakukan atau harapkan, tapi kenangan sudah tidak tersisa lagi didirnya.

Meski begitu, mungkin masih ada satu hal tentang Umma nya yang tidak akan pernah, bahkan setelah bertahun-tahun, memudar dibenak Taemin.

Matanya adalah satu-satunya hal yang paling berkesan dikepala Taemin. Mata Ummanya yang indah dan coklat berkilauan setiap kali dia melihat ke cermin. Matanya, yang menatapnya penuh cinta saat masih bayi, adalah satu-satunya yang mendarah daging dalam memori Taemin, membuat itu semua percuma baginya untuk melupakan itu seperti apa.

Hal itu saya yang mustahil untuk dia lupakan, yang lain benar-benar hancur berantakan.

Dan itu mungkin alasan mengapa ia mengenalinya begitu mudah.

Umma?

Terlepas dari perubahan dramatis dari ciri fisiknya, tanda-tanda penuaan yang terlihat di wajahnya dan rambut abu-abu yang dulunya merupakan warna hitam segar, seperti yang ia ingat—matanya tetap sama. Terang dan penuh kehidupan.

Sama seperti milikku.

            “Taemin?”, wanita itu mengambil langkah menuju anaknya. Perlahan, gerakan yang pasti, jadi namja itu tidak akan terlalu terkejut. Dia tersenyum dan matanya berkaca-kaca dengan air mata yang terancam ingin jatuh, dan dia melihat ke arah Taemin seperti dia melihatnya dalam mimpi. Tidak percaya, bahagia, lega. Mungkin ia merasakan semua itu.

Namja pirang itu tidak tahu kenapa ia melakukannya; mungkin karena insting pertahannya, namun saat wanita itu melangkah menuju ke arahya, dia menarik lengan Minho dan bersembunyi dibalik namja tinggi itu seperti anak yang ketakutan.

Minho dijadikan pelindungnya terhadap wanita ini. Dia akan menyakitinya, kan?

            “Taemin, jangan takut. Ini aku.”

Aku?’ siapa dia dan apa yang dia lakukan disini? Apa dia berpikir bahwa dia akan berlari kepelukannya; siap untuk menerimanya lagi kedalam hidupnya setelah apa yang dia lakukan? Dia meninggalkannya. Tidak pernah melihat kebelakang dan tetap berjalan, meninggalkan dia dengan Appa nya yang akan menyebabkan kematian dirinya. Namun tentu saja, wanita itu tidak bisa memperkirakan sebelumnya setelah dia mengambil tas kemudian berjalan pergi begitu saja.

            “Taemin ah, ini Umma. Tidakkah kau ingat? Aku Umma mu.”,

Minho melihatnya, sama terkejutnya dengan namja yang bersembunyi dibelakangnya, seperti yang seharusnya menjadi reuni yang dramatis didepan matanya.

‘Mama?’

Ah ya, itulah panggilan untuknya ketika Taemin masih kecil. Itu merupakan ingatan yang kabur. Pudar dan hampir terhapus; kenangan tentang dirinya yang berusia tiga atau empat tahun memanggilnya Umma-nya dengan panggilan Amerika untuk ‘Mother’.

‘Mama’

Nama yang ia panggil ketika ia sedih. Nama yang ia panggil ketika ia butuh sesuatu, bisa saja untuk meminta mainan atau segelas jus. Sayangnya, itu juga sebuah nama yang ia teriakan ketika melihatnya pergi dan meninggalkannya dan Appa nya.

“Mama! Mama!”, dia beteriak untuk Umma nya lagi dan lagi dengan sekuat tenaga. Ia ingin berlari menyusulnya dan menghentikannya untuk meninggalkannya, namun Appa nya menahan ia erat ditangannya, melarangnya melakukan hal itu.

Dia tidak mengerti kenapa Appa nya tidak menghentikannya. Tidakkah ia lihat bahwa Mama nya meninggalkan mereka? Kenapa dia tidak menghentikannya? Kenapa dia berdiri disana, hanya melihatnya pergi?

Dia tidak ingat, juga tidak mengerti, apa yang Umma nya jelaskan padanya dari awal. Dia telah menjelaskan padanya kenapa dia pergi, namun Taemin yang berumur empat tahun tidak mengerti. Yang dia tahu adalah, dia meninggalkannya dan dari lihat keadaannya; dia tidak akan pernah kembali.

“Mama! Jangan pergi!”

Dia tidak melihat ke belakang. Taemin berteriak sekeras mungkin dengan paru-paru kecilnya yang bisa ia gapai, namun sekeras ia bisa, dia tidak menoleh lagi. Hanya terus berjalan dengan tas di tangannya, pastinya untuk ke ‘tempat baru’ yang dia tuju. Dia tidak mengatakan kemana ia pergi, namun Taemin tahu itu jauh sekali.

Appanya, yang saat itu berumur kira-kira 20 tahunan, mencoba untuk menenangkannya dan mengatakan kepadanya bahwa semua akan baik-baik saja. Taemin tidak ingin mempercayainya. Jika semua akan baik-baik saja, lalu kenapa dia tidak menghentikan Umma nya untuk pergi?

Itu sudah lama sekali dan sampai Taemin hampir tidak mengingatnya.

Tidak! Tidak mungkin, Taemin menggelengkan kepalanya kuat-kuat, ini pasti bukan dia.Umma ku sudah lama mati!

Lengan yang mencengkram lengan Minho, mencengkramnya dengan keras seraya Taemin memejamkan matanya, berharap bahwa ketika ia membukanya lagi—wanita itu akan pergi.

Namun ketika ia membuka mata lagi, dia tidak menghilang seperti apa yang ia harapkan.

Umma nya benar-benar ada disini.

Dia mengharapkan momen ini menjadi momen bahagia. Jika dia sempat melamun tentang kejadian ini dimasa hidupnya; dia mengharapkan sebuah reuni yang dramatis. Pelukan yang erat, ciuman di pipi, air mata, isak tangis, apa saja.

 Namun tidak ada.

Sama sekali tidak ada.

            “Taemin?”

Ia hampir tidak ingat Minho memanggil namanya, sebelum kegelapan menghampiri seluruh pandangannya.

Minho memandang tajam wanita dihadapannya. Kebencian sudah jelas terlihat dari pandangan sinisnya, dan jika dia tidak ingat untuk bersikap sopan dalam dirinya, Minho mungkin sudah memakinya. Dia tidak mau bersikap tidak sopan, terlebih pada wanita yang lebih tua, namun siapapun dia yang melukai Taemin-nya tentu pantas menerima perlakuan itu.

Sebuah kerutan diwajahnya tampak saat dia menatapnya, matanya hanya satu sentimeter untuk melepaskan tatapan kemarahan.

Berani sekali dia kembali? Dia tidak pantas menganggap Taemin sebagai anaknya, dia tidak melakukan apapun untuk pantas menjadi Umma Taemin! Hanya, bagaimana bisa dia berani menunjukkan wajahnya setelah selama 12 tahun dia menelantarkan Taemin seperti itu?

Ketika ketegangan begitu kentara di antara keduanya, Taemin berbaring di sofa disampingnya, tetap dalam keadaan pingsan disamping usaha mereka untuk membangunkannya. Mungkin dia tidak ingin bangun sama sekali, sampai wanita ini pergi. Minho tahu bahwa kekasihnya takut pada wanita itu, jelas sekali; Taemin tidak ingin ‘Umma’ nya disana.

Rasa marah bergemuruh didalam dadanya, menjadi lebih dan lebih terlihat saat detik-detik antagonisnya berlalu. Itu hanya semakin membuat ia ingin meledak kepada wanita didepannya, namun, dia tetap menahan emosinya, menahan diri untuk tidak meneriakinya karena satu-satunya alasan mengapa itu adalah Umma Taemin, dan dia tidak ingin marah, atau membangunkan si namja pirang disampingnya.

Lagipula, Minho tidak memiliki sekecilpun rasa hormat untuk wanita ini.

Wanita itu sepertinya merasakan kemarahan yang di perlihatkan oleh wajah Minho ditengah gangguan emosionalnya sendiri. Wanita itu, yang sekarang memakai eyeliner hitam yang jelek dan mengalir di pipinya, mengangkat kepalanya dari tangannya untuk menatap anak laki-laki didepannya.

Dialah yang pertama kali memecahkan kesunyian diantara mereka, “Minho-goon, aku tahu kau kecewa denganku saat ini, namun kumohon berikan aku kesempatan untuk menjelaskan sebelum kau marah padaku.”, katanya.

Minho tidak hiraukan wajah kecewa di wanita itu. meski begitu, dia mengangguk padanya untuk melanjutkan.

            “Dengar”, dia memulai, matanya merah dan penuh dengan air mata yang emncoba untuk jatuh lagi, “Aku tidak bermaksud untuk—“

Mungkin ceritanya tidak dimaksudkan untuk diceritakan, sampai Minho mengerti segalanya, karena ceritanya terputus saat anaknya mulai menggeliat di sofa. Tubuh yang perlahan mendapatkan kembali kesadarannya telah berguling ke sisinya, dan dengan banyak usaha, mencoba membuka matanya dan memberikan mata itu menyesuaikan diri dengan cahaya yang menerangi ruang tamu.

Awalnya, dia tidak begitu ingat dimana dia dan ketika ia tertidur, namun tidak lama setelah itu, pikiran yang berantakan perlahan mulai menyatu kembali.

Tidak butuh waktu lama untuk perasaan terkejutnya yang meluap kembali ke sistemnya. Dan ketika itu terjadi, tampaknya menjadi sepuluh kali lebih buruk.

Ketika dia akhirnya cukup memiliki tenaga dan kesadaran untuk membuka matanya, hal pertama yang Taemin lihat adalah Ummanya, duduk didepannya dengan ekpresi wajah yang tidak bisa tergambarkan. Keberadaannya, meskipun terlihat dia seperti baru saja kehilangan keluarga, membuktikan padanya apa yang baru saja terjadi, faktanya, semua bukan mimpi.

Itu membuat hatinya sedih melihatnya seperti itu, dia tidak bisa melakukan apapun untuk itu. Dia tidak ingin berbohong dan mengatakan bahwa dia tidak takut padanya…atau lebih tepatnya, takut dengan apa yang bisa ia lakukan untuk menyakitinya—karena begitulah, sesungguhnya.

Itulah alasan utamanya kenapa dia malah memanggil Minho.

Namja berambut hitam itu langsung menuju kekasihnya, pandangan tajamnya langsung meredup seraya dia menolong kekasihnya duduk di sofa.

            “Kau tidak apa? Apa ada yang sakit?”, Minho menyibak rambut dari wajah Taemin, mengerutkan alisnya ketika ia menyadari betapa dinginnya kulit Taemin. Dia meletakkan tangannya di wajah namja pirang itu, dan menggunakan telunjuknya untuk membujuk kekasihnya agar sadar sepenuhnya dengan menggosok memutar di pipinya.

Kepala belakang Taemin terasa sakit sekali, namun ia mengatakan, “Aku baik-baik saja.”

Tak satupun dari mereka menyadari bahwa Umma Taemin dengan hati-hati berpindah dari tempat duduknya ke sofa lain. Anak itu terlihat tersentak saat wanita itu meletakkan tangannya dipunggungnya, tapi tidak melakukan apapun untuk menghentikannya.

Lagipula, dia tetaplah Ummanya. Dia tidak mungkin bisa membencinya, ya kan?

Tidak, tidak. Dia tidak bisa melakukan hal yang tidak mungkin seperti itu.

Namun, Minho tidak senang dengan ini, “Jangan sentuh dia.”, katanya hampir bergeram.

Dia tidak lagi bisa menahan rasa tidak sukanya sekarang, rasa melindungi terhadap kekasihnya itu jauh lebih penting dibandingkan menghormati wanita ini.

Disisi lain, Taemin rupanya tidak memiliki kemampuan untuk membencinya sama seperti Minho. Dia meletakkan tangan kecilnya didada Minho, dan segera menenangkan namja tinggi itu, “Tidak apa-apa, Minho. U…Umma hanya bermaksud baik.”

Sangat aneh untuk memanggil wanita ini ‘Umma’ nya. Taemin tidak begitu yakin jika ia harus bisa memanggilnya begitu.

Kenapa dia harus kembali kesini?

Setelah merasa yakin tidak ada satu bagian pun dari Taemin yang sakit dan bahwa mereka tidak perlu membawanya ke rumah sakit, Minho meminta ijin dirinya untuk pergi mengambil segelas air untuk Taemin didapur. Setengah darinya, ada perasaan enggan, ingin memberikan Umma dan anak itu waktu untuk berbicara, dan membiarkan Taemin menyesuaikan diri dengan perasaan terkejut yang harus ia rasakan saat itu juga.

Minho mengeluarkan gelas dari rak piring dan mengisinya dengan air dari dispenser. Tapi alih-alih kembali ke ruang tamu setelah itu, dia duduk di meja dapur dan meletakkan gelas didepannya. Mengubur wajahnya ditangannya, dia berusaha mati-matian menahan diri agar tidak hancur. Dia sangat menyukai Taemin sehingga perasaan mereka sepertinya saling terkait satu sama lain, meskipun, dia tidak bisa membayangkan apa yang seharusnya dirasakan Taemin saat itu juga.

Dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya memiliki orang yang telah membuangmu; kembali setelah bertahun-tahun hidup tanpa mereka.

Tuhan, tolong jadikan aku saja sebagai gantinya.

Tolong jangan sakiti dia lagi.

Dan yang paling dibenci Minho adalah; kenyataan bahwa dia tidak dapat melakukan apapun.

Ketika Minho duduk di dapur sendirian, Taemin semakin duduk menjaduh ke ujung sofa. Kehadiran Umma nya tidak membuat ia merasa nyaman sama sekali. Sangat berlawanan sekali. Entah kenapa, dia bahkan merasa harus melarikan diri sekarang juga, seperti yang selalu dia lakukan saat dia ketakutan.

Dia takut pada Umma nya sendiri. Dia tidak bisa percaya.

Wanita itu jelas-jelas menangis sekarang, air mata jatuh dari mata familiar nya dan jatuh ke bagian rok nya. Dia berusaha untuk tetap meraihnya, namun Taemin langsung menjauh sebelum dia bisa meraihnya. Katakan saja itu mekanisme pertahanan diri, namun dia tidak tahu kenapa tubuhnya lakukan itu. Itu tidak disengaja.

Sebuah isakan pecah dari kerongkorangan wanita itu dan langsung tertuju ke hati Taemin. Dia tidak suka melihatnya seperti ini, namun apa yang bisa ia lakukan?

Dia bahkan tidak bisa membawa dirinya sendiri untuk melihat ke arahnya.

            “Baby, kumohon.”, pintanya, “Tolong lihat Mama… kumohon.”

Pemandangan di balik matanya itu sangatlah tidak tertahankan. Dia tidak bisa mengatakan tidak pada wanita itu. tidak ketika dia begitu dekat padanya, disana dan hanya beberapa jangkauan dariya. Dia tidak bisa menyianyiakan kesempatan ini untuk melihat Umma nya lagi. Siapa yang tahu? Mungkin wanita itu akan menghilang untuk 12 tahun lagi.

Wajahnya terlihat kabur dari balik air mata yang membasahi matanya, namun ia bisa melihatnya. Dia melihat wajah yang sama, mata yang sama. Dia melihat wanita yang sama dimana telah mengasuhnya beberapa tahun lalu. Dan sayangnya, itu adalah wajah wanita yang sama yang terlah meninggalkannya. Meskipun sudah kemakan usia, sosok nya tetaplah sama dan familiar dari memori nya yang kabur.

Itu tidak membantu ingatannya tentang sosoknya yang mundur berulang-ulang dalam pikirannya, sehingga lebih sulit baginya untuk fokus pada citra sebenarnya didepannya—karena yang dia lihat hanyalah wanita yang meninggalkannya. Dia berusaha mati-matian untuk mengusir kenangan itu tapi dia tidak bisa melakukannya.

Taemin tidak tahu apakah dia akan bisa melupakannya. Tapi dia bersedia memaafkannya.

Dia tidak bisa membencinya bahkan jika dia mencobanya.

Taemin tidak ingat bagaimana kejadiannya tapi hal berikutnya yang dia tahu, dia telah lari sendiri ke tangan wanita itu ketika dia membuka tangan untuknya.

Semuanya menjadi kabur berantakan sejak ia berada dalam momen itu. Lengannya … semua terasa begitu familiar. Begitu hangat, begitu nyaman … rasanya terlalu mirip seperti …

rumah.

Bukan sebuah rumah yang biasa mereka miliki ketika mereka masih memiliki sebuah keluarga, tidak apartemen dimana Taemin habiskan selama dua belas tahun semasa hidupnya. Tangan Ummanya adalah rumah yang berbeda. Itu tidak tergantikan, dan menawarkan setiap kenyamanan yang dia butuhkan; begitu aman, damai … hangat.

Sejak saat itu, dia tidak merasakan tangan Umma di punggungnya, telapak tangannya yang hangat berusaha menghalau dia seperti apa yang dia lakukan saat dia masih bayi. Tapi rasanya sama seperti berada dipelukannya. Hanya saat itu, dia tidak menghiburnya hanya karena dia punya boo-boo di dengkulnya.

Taemin terisak di bajunya seperti tidak ada hari esok. Dia tidak sadar tangannya mencengkram blazernya erat, meremas kain di blazer itu menjadi berbentuk bola dan mencengkramnya kuat-kuat. Mungkin saja ia takut jika ia melepaskannya, dia akan pergi meninggalkannya lagi.

            “Umma.”, ia meraung di pundaknya, “Kumohon jangan tinggalkan aku lagi. Kumohon, kumohon, Umma. Kumohon.”

Dia tidak tahu kenapa dia memohon. Mungkin itu adalah anak berumur empat tahun dalam dirinya yang memohon padanya untuk tetap disana. Namun, dia tidak berhenti memohon lagi dan lagi, mengatakan hal yang tidak masuk akal baginya saat itu. Dia hanya tidak ingin wanita itu pergi. Dia tidak ingin mengalami rasa sakit yang sama lagi…dia ingin apapun asal jangan itu.

            “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, Taemin ah.”, dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi. Aku tidak akan pernah, selamanya meninggalkanmu.”, janjinya. Suaranya terdengar begitu tulus sebisa mungkin, dan anak yang dalam perlukannya bisa diyakinkan. Itu menenangkannya, sampai batas tertentu, sehingga bahunya berhenti bergetar. Tapi air matanya masih tidak henti-hentinya, tangannya masih erat mencengkram blazer belakangnya.

            “Kau berjanji untuk itu?”, gumamnya disela bajunya.

            “Aku berjanji, nak. Tidak akan lagi. Aku sangat minta maaf atas semua yang telah kulakukan.”, dia melepas pelukannya hanya untuk menatap Taemin dengan mata yang familiar, “Aku mencintaimu, Taemin. Umma tidak pernah berhenti mencintaimu. Dan aku tidak akan pernah melakukannya.”

Itu membuat hatinya tenang, dan Taemin mengangguk percaya. Hanya kalimat singkat itu hampir cukup mengisi jarak 12 tahun mereka; Taemin cukup puas dengan hanya mengetahui bahwa dia tidak akan membuangnya begitu saja, namun tetap menyimpan dirinya dialam hatinya meskipun ketika ia pergi.

Itu saja cukup.

Dan berbagai pertanyaan akan datang pada waktu yang tepat.

Tidak ada kata yang terucap lagi setelah itu, dalam diam Taemin menikmati perasaan berada dipelukan orang tuanya. Dia tidak ingin meninggalkan tempat yang hangat ini. Rasanya seperti berada ditangan Minho, rasanya nyaman dan aman. Tapi berada di pelukan Umma nya begitu berbeda.

Mungkin karena fisik dan mentalnya merasa lelah, atau keduanya—untuk hal yang berikutnya ia tahu, Taemin sudah tertidur dalam pelukannya setelah beberapa jam berada dipelukannya.

Tapi sebelum dia bisa hanyut dalam ketidaksadaran, dia berhasil mengatakan,

            “Aku juga mencintaimu, Umma.”

Minho kembali ke ruang tamu beberapa menit kemudian setelah mendengar isakan mereda. Meskipun ketika ia kembali, segelas air sudahlah tidak berguna; Taemin sudah tertidur di pelukan Umma nya, terlihat begitu nyaman bahkan dengan air mata yang berbekas di wajahnya. Tersenyum sedikit, dia tanpa bicara membantu namja itu bangkit dari sofa dan membopongnya dalam pelukannya, mengabaikan eskpresi kebingungan yang diberikan oleh Umma Taemin.

Dia bawa namja pirang itu kembali ke kamarnya, dimana ia meletakkannya dengan hati-hati dikasur sebelum ia menyelimutinya dengan selimut. Taemin langsung memutar badannya ke sisi lain dan Minho meletakan sebuah bantal dibawah tangannya, tahu persis bahwa dia akan sangat nyaman dengan sesuatu ditangannya. Taemin langsung memeluk nya dengan erat ketubuhnya.

Sementara itu, Mrs. Lee melihat perubahan ini yang terjadi diantara kedua namja, pikirannya hampir seketika mencari tahu apa yang sedang terjadi diantara mereka. Ini banyak menjelaskan, sebenarnya. Cara anaknya bersembunyi dibalik namja ini sebelumnya sebagai bentuk mencari perlindungan, dan cara namja tinggi ini bertingkah laku melindungi Taemin. Hal itu begitu jelas, dan sejujurnya, dia tidak keberatan sama sekali.

Sesungguhnya, dia senang baby nya memiliki seseorang untuk melindunginya.

Setelah menyibak rambut dari mata Taemin, Minho kembali menghadap wanita yang berdiri diambang pintu. Sekarang dia sudah tidak marah. Namun tetap saja, dia tidak menyukai wanita ini, juga tidak ingin memperlakukannya sebagai Umma Taemin.

Dia akan membawanya pergi dariku, ya kan?

-FIN-

Part – 16 2Min-Damaged [Drama, 37, & Way Back Home] >>

Hai Gaes! Akhirnya update lagi yah… mohon maaf yah delay terus, karena kesibukan kerja juga hahaha.
Oh, btw. Mohon maaf juga kalau Translate nya udah mulai error yah, berusaha sebaik mungkin utk bisa tetap dipahami yah artinya 😉
selain itu, FF ini butuh beta reader dulu, makanya agak lama updatenya!

Info lainnya adalah, FF ini akan berakhir beberapa chapter lagi, sekitar 2-3 chapter lagi. FYI, bakalan ada Chapter smutt nya lagi, tapi akan lebih HOT *lol. Jadi… kayaknya bakalan di protect ^^;

so, comment and  I will give you password later! 😉

See you on Sunday for next chapter!

Regards,
@vittwominaddict

Please do not post this translation everywhere! Take a full credit from me and Ichigosama as original author of this Fanfic!

Advertisements

21 thoughts on “2Min-Damaged [Morning After & Memories]

  1. Akhirnya taemin ketemu sma umma nya aq kira umma nya taemin udah mati, trus kai beneran adik nya taemin apa gymna, jangan biarkan taemin pergi dri minho yah aq brharap akhir nya happy ending 😊 d chap depan bkalan ada smut nya lagi dn ini lebih hot lalu mau d protec, yakin kka ini mau d protec 😁😁!!!

  2. ternyata umma.a taem msih hdup.. kirain dia udah mati…
    knpa dia dli ninggalin taem..
    knp dia gak bwa bwa taem ikut ama dia…
    gak tau apa taem hmpir mati d tngan appa.a
    ap dia bkalan bwa taem ikut sma dia dan taem bkalan jauhan lg ama ming???

    Smoga aja gak deh… taem ama minho hrus bersma..

    tante am om.a taem lcu ih.. hehehe
    ngegoda taem ama minho hhahaha
    ingat taem kunci pintu.a

    mian authornim aq komen.a langsung d part in…

  3. Kenapa baru sekarang ummanya Taemin muncul? Kemana saja selama ini? Darimana dia tau Taemin berada di rumah bibinya? Jangan bilang dia mau membawa Taemin bersamanya dan itu jauh dari Minho.

  4. Lucu bgt pas kai nyeletuk bilang minnie hyung berubah jadi tomat hahaha
    Dan sekarang ummanya taemin kembali….tanda2 ini bakalan bahagia2…
    Ditunggu krlanjutannya

  5. Knpa ummanya tiba tiba muncul??? Buat apa??? Aq mah spndapat sama minho , takut emin tersakiti lgi…
    Kalo ummanya emg sayang dya knpa gak nyari dr dlu???
    penasaran next part.nya kak…

    Fighting kakak 🙂

  6. Yah berharap kedatangan umma di kehidupan taemin tidak membuat taemin sedih lagi. Sekarang keluarganya perlahan2 menjadi utuh.
    Dan berharap smutt nya bisa di post sebelum puasa wwkwk

  7. Gue kira setelah bangun dari pingsannya, dia bakal ngusir umma nya. Tp akhirnya dia tetap menerima kehadiran umma nya. Wahhh ditunggu next chapternya!! And give me a password! I’m curious uwww!!

  8. Wkwkwkwk ga kebayang itu malunya si tetem xD
    Makanya entar klo mau making love pintunya di kunci atuh ming -_- jgan asal sosor ae xD

    Manisnya pas mereka bru bangun itu loh.. Apalagi yg pas minho nerima taemin apa adanya.. Bikin pen bca berulang2 😂

    Dan itu ummanya taem kok bikin kesel yah? Awas ajha klo dia bwa taem pergi -_-

  9. Oke, aku berasa cengo sendiri pas baca ternyata Mama Lee balik tanpa ada ujan plus angin yang menyertai, apalagi negara api yang menyerang .g gemes sebenernya, tapi mau dikata apalagi, dia orang tua satu-satunya Taemin. Ku cuma bisa berharap Mama Lee ga sama kea Ayah Lee deh, and Im still curious with her reason left them and the reason why she came back after long years.
    Kak, kalo diprotek minta pw nya via apa dongseu?

    • Seperti yang udah aku kasih info di Part selanjutnya, kamu bisa minta PW nya by mention ke twitter aku @twominyeah atau add dulu aja FB aku di Sunny Lee. sebutin aja nama kamu untuk komen di WP . I’ll know 😉

  10. Gue kira setelah bangun dr pingsanya, taemin bakal ngusir ummanya. Tp akhirnya dia tetap menerima kehadiran umma nya.
    Part 16 udah keluar aja, lanjut baca lagi nih! Pasti makin seru, ending nya mesti dapet password nya nih!

  11. Gue kira setelah bangun dari pingsannya, si taemin gak mau nerima kehadiran umma nya. Tapi syukurlah dia dengan baik menerima umma nya kembali.
    Btw, udeh publish aja part 16, lanjut baca lagi deh! Pasti seru! If ending part will be protect, give me the password, i’m curious!

  12. Moment ya koq mrka kyk penganten bruu 😂mantepp bgt itu paman bibi ya ngecengin ampe muka ya kyk tomatoo hahahahha
    Ya amvun… gw rasa gw btuh pnjelsan bgt.. kasian bgt taemin 😔.. enak bgt enaknya tggl dtg.. ttp gw gk trima 😭… mang si khdiran mom pntg bgt cma.. not fair..
    Pkoknyaa will seee….. 😦😦

  13. 😶😶😶😶😶 jd ikutan malu…
    minho…minho…saking kepengen.ny sampe lupa kunci pintu…
    untung ya paman-bibi.ny taeminnie itu baik, pengertian sm keponakan tersayang.ny…jd mereka wajar lh klo taeminho lakuin itu,, malah ngasih masukan 😄😄😄😄😄

    eomma.ny taemin kok tau taemin tinggal sm paman.ny…apa dia suka ngawasin taemin tp knp baru skg muncul ?? setelah yg dilalui taemin, dia baru muncul,, sebel jg sih…

  14. Pas awal masih manissss yaaa.. Manisss banget taemin malu-malu gitu apa lagi yg lupa kunci pintu hahaha
    Tapi pas ummanya taemin muncul kok masalah lagi nih.. Dan karakter si taemin sumpah deh baik banget sih.. Kirain bakalan marah-marah sama ummanya..

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s