2Min-Damaged [Drama, 37, & Way Back Home]


Damaged – Original Story by Ichigosama (Nikki)
Translation all right reserved by Twominyeah

<<Part 15 – 2Min-Damaged [Morning After & Memories]

WARNING!!!
DRAMA (FULL OF DRAMA) & YAOI.

Drama | 37 | Way Back Home

 

Matahari bersinar melewati celah jendela, kasurnya terasa hangat dan lembut disekitar tubuhnya, dan hal petama yang Taemin lihat pada pagi yang cerah itu adalah kekasihnya—Minho berada di atasnya membayang-bayanginya selama sekitar lima menit, menunggu dengan sabar agar malaikatnya terbangun.

Minho menyilaukan Taemin dengan salah satu senyum cerahnya, “Ireona, baby~”

Taemin hendak tertawa dengan cara kekasihnya mengucapkan selamat pagi untuknya, namun ia mengingat kejadian semalam, langsung menghapus sepenuhnya hari dimana menjadi pagi yang cerah; Umma nya kembali dan ada banyak hal yang perlu dijelaskan. Keduanya punya banyak hal yang perlu dijelaskan, dan Taemin tidak yakin jika ia ingin melakukan itu lagi. Dia tidak ingin menjelaskan semua yang terjadi kepada Umma nya setelah dia pergi.

Kemudian, seperti Minho tahu persis apa yang Taemin pikirkan, “Jangan khawatir, bibi mu dan pamanmu ada dibawah dan mereka sedang bicara dengan Umma mu. Mereka sudah jelaskan semuanya pada nya, termasuk keberadaan Kai; jadi tidak ada lagi yang perlu kau khawatirkan, Jagi.”

Sebutan sayang membuat Taemin malu dan guratan merah menghiasi wajahnya, namun dia tidak bisa membuat dirinya protes akan hal itu. malahan, dia merasa dia adalah kekasih yang paling kurang ajar sedunia—merasa sebenarnya dia tidak seharusnya menjadi kekasih Minho saat itu juga. Dia ingat bagaimana Minho begitu stress karenanya semalam. Dia terlalu terjebak dalam situasi ini untuk bisa melihat ekspresi wajah Minho.

Taemin berasa seperti pencundang untuk menyebabkan semua perasaan ini, terutama sekarang mereka baru saja kehilangan keperjakaan mereka satu sama lain. Mereka tidak begitu sering bersama seperti itu dalam waktu lama dan lagi, kebahagiaan yang ditimbulkan dengan berbagi tubuh mereka ternyata bersifat sesaat; disambar oleh sesuatu yang mengejutkan ini. Taemin tidak ingin pacarnya tersakiti seperti ini; bahwa begitu mereka akhirnya mempunyai waktu untuk menjadi pasangan normal; sesuatu harus terjadi dan menghancurkan kebersamaan mereka.

Minho mulai merasa lelah oleh semua drama ini,Taemin yakin, dan dia merasa jahat karena bertanggung jawab atas semua ini.

Keceriaan Minho dipagi hari itu seketika lenyap saat dia melihat Taemin bangun dari tidurnya dengan wajah yang begitu terganggu. Namun lagi, dia tidak menduga ini—

            “Maafkan aku, Minho ah.”

Alis Minho berkerut di keningnya. Dia menundukkan wajahnya sedikit untuk melihat wajah Taemin, dimana tertutupi oleh rambut pirangnya ketika Taemin menundukkan kepala. Tidak mengejutkan bagi Minho ketika dia mulai melihat air mata jatuh ke wajah Taemin.

            “Apa maksudmu, Taemin?”, tanya Minho tidak percaya.

Taemin menambah kebingungan namja tinggi itu ketika dia meraih tangan Minho dan meletakannya di dadanya, seperti yang anak kecil lakukan pada seekor kucing. Ia biarkan air mata jatuh pada telapak tangan kekasihnya itu, membasahinya, membiarkan Minho tahu bahwa ia begitu minta maaf untuk membuat hidupnya menjadi kacau balau.

Suara isakan Taemin menyertainya seraya menemani Minho melalui percakapan mereka yang berbisik. Bagaimana dia begitu benci suara itu; benci bagaimana Taemin akan tersedak udara karena isakannya berlanjut keluar dari tubuhnya.

            “Kau hanya ingin sebuah hubungan yang normal, kan?”, tanya Taemin dengan meringis—pertanyaan hipotesis, meski Minho tidak yakin apakah dia harus menjawabnya atau tidak. Kemudian, Taemin melanjutkan, “A-aku seharusnya memberikanmu itu … aku seharusnya menjadi kekasih yang normal yang melakukan itu… “, ketika menjedanya, Minho tahu bahwa Baby nya akan semakin terisak-isak, jadi dia melingkarkan lengannya ke tubuh Taemin untuk menghentikannya agar tidak gemetar.

Bagaimanapun, serangan isakan keras tidak keluar, yang seharusnya membuat Minho lega jika bukan karena hal berikutnya yang Taemin katakan, “Aku minta maaf karena telah membawamu kedalam kekacauan ini, Minho… yang kau inginkan adalah seseorang yang normal dan seseorang yang bisa menjalani hubungan normal denganmu..”, nama pirang itu berhenti untuk menghembuskan nafas gemetar, dan tertawa singkat, “dan semua yang kau dapatkan adalaha ku… dan kau terjebak dalam semacam sinetron yang hanya membawamu kedalam masalah dan stres. Jadi aku minta maaf, aku minta maaf untuk—“

Itu seharusnya bukan sebuah kejutan bagi Taemin ketika kekasihnya itu mendiamkannya dengan memberikan ciuman di bibirnya, namun itu berhasil. Dia mendapat pesan melalui itu bahwa Minho tidak ingin mendengar monolog dramatis lagi, jadi dia tidak melanjutkannya, merasa bodoh karena telah memulainya. Dia hanya tidak ingin Minho berada dalam kekacauan dalam hidupnya lagi—hanya malam ini, dia melihat bagaimana Minho begitu tertekan karena keberadaan Umma nya disana, dan Taemin tidak ingin itu. Taemin tidak ingin Minho, namja yang selama ini melindunginya, untuk menerima kesulitan yang bahkan dia tidak berhak sama sekali.

Dia hanya tidak ingin menjadi egois lagi.

            “Itu tidak masuk akal, Taemin.”, Minho menyampaikan dengan nada tegas yang berbeda, “Jika aku tidak ingin menjalani hubungan ini, lalu kenapa kau pikir aku masih tetap ada disini sekarang?”

Taemin menggeleng kepalanya keras kepala, air mata terus mengalir di wajahnya layaknya sungai, “Tapi kau selalu menjadi orang yang paling stress tentang semua masalahku. Aku tidak pernah ingin—“

            “Sssh … sudahlah, sssh… okay?”

Namja pirang itu mengerutkan alisnya ketika Minho meletakkan jarinya di bibirnya, “Aku serius, Minho.”, Taemin menoleh.

            “Dan aku juga.”, Minho membalas, sebuah senyum terbentuk di ujung bibirnya, “Tapi ini bukanlah suatu hal yang perlu kita bicarakan, okay? Kau dan aku; kita adalah tim. Disini tidak ada pertanyaan tentang siapakah yang ingin ada dalam hubungan ini atau tidak, karena aku lah yang mengutarakan perasaan lebih dulu, kau ingat? Untukku, itu otomatis artinya aku tetap bersamamu, apapun konsekuensinya, bukan begitu?”

Itu tidaklah mudah bagi mereka dalam beberapa bulan lalu. Minho sama sekali tidak menyangkal hal itu, tentu saja. Dia telah melihat kekasihnya terluka, mendapatkan memar ditubuhnya, menjadi incaran bagi seseorang yang lebih kuat, dan hampir mati, demi Tuhan—dan dia selalu menjadi orang pertama yang takut setengah mati karena cemas setiap saat. Tapi sekali lagi, melihat kembali hal-hal yang mengerikan yang mereka alami; Minho juga telah belajar bagaimana rasanya dicintai.

Dan itu bukanlah sebuah pengalaman yang dia akan tukarkan dengan sesuatu yang lain. tentu saja  tidak untuk sebuah hubungan yang ‘normal’.

            “Kau butuh diam dan berhenti selalu memikirkan banyak hal, Taemin, dan ingat bahwa aku akan selalu mencintau mu apapun yang terjadi.”, Minho mengatakan seperti itu sudah jelas sekali.

Air mata dan isakan Taemin terhenti, dan ia mengangguk dengan senyuman kecil.

            “Bagaimana aku bisa membalasmu, Minho?”, ia menghelas nafas.

Kemudian, tangisan seorang balita bisa terdengar di ruangan lain, memberi tanda bahwa Kai akhirnya bangun dan pastinya lapar. Atau lebih buruk; popoknya sudah basah.

            “Mulai saat ini, aku rasa.”, Minho tersenyum.

Taemin balas tersenyum, membayangkan bagaimana bisa dia bisa bertahan tanpa Minho. Pastinya tidak seharipun.

Lagipula, bagaimana ia bisa begitu tergantung padanya?

Taemin turun kelantai bawah dengan Kai digendongannya, dan melihat bahwa Umma nya masih ada diapur bersama dengan keluarganya yang lain. Sebuah senyuman terpancar dari wajahnya ketika dia melihat anaknya, dan bibir Taemin sontak membentuk sebuah senyuman. Minho tersenyum sendiri ketika dia melihat bagaimana miripnya Umma dan anaknya terlihat saat itu, semua pikiran negatif malam sebelumnya pergi saat itu juga.

            “Umma.”, ucap Taemin, “Ahjushi, Ahjuma, selamat pagi.”

Nyonya Lee berdiri dari kursinya disamping Sekyun dan memeluk kedua anaknya. Kai terlihat bingung untuk sesaat, namun ketika Nyonya Lee tersenyum padanya dan memberikan gestur dengan tangannya, Kai langsung mengulurkan tangan pada orang baru didepannya meminta digendong. Taemin tertawa dan menyerahkannya pada Umma nya.

Ini masih seperti mimpi baginya, dan dia tidak bisa untuk berpikir jika Umma nya benar disana, atau dia hanyalah sebuah ilusi?

Dia menggunakan pakaian yang berbeda, jadi Taemin menebak bahwa dia bisa jadi pulang tadi malam dan kembali sebelum mereka bangun. Taemin membayangkan dimana Umma nya tinggal, atau dimana dia pindah ketika dia pergi, dan sebuah pikiran seketika muncul dikepalanya; apakah Umma nya akan membawanya bersamanya?

Itu membuat dia takut, sejujurnya. Alasan bahwa antara dia akan membawanya atau tidak membawanya kerumah nya. Keduanya sama-sama membuatnya takut.

            “Makan sarapanmu, Sweetie.”, Nyonya Lee menunjuk kepada tumpuk pancake yang menunggu nya di atas meja, “Kai punya sesuatu yang spesial di kursinya sendiri, ne?”, dia mengayun Kai ditangannya, memberikan sebuah tawa bahagia namun malu-malu dari anak berumur tiga tahun itu.

Taemin mengangguk dan menurut duduk disamping Ahjuma nya. Senyumnya tidak bisa ia sembunyikan, meski ketika dia mulai menikmati pancake yang ia tahu bukan Ahjuma nya yang membuat. Hanya Umma nya yang akan meletakkan pisang di pancakenya; ia yakin itu.

Itu sangat aneh untuk bersama wanita ini bersamanya setelah beberapa tahun lewat. Tapi Taemin harap dia akan terbiasa untuk memiliki Umma lagi. Seseorang yang akan memeluknya ketika ia menangis, seseorang yang akan mengkhawatirkannya dan memastikan dia makan dengan baik tiga kali sehari, seseorang yang bisa ia ceritakan tentang rahasianya, seseorang yang akan mendengarkan semua masalah nya dan memberikan masukan seorang Umma baginya, dan akan menghapus air matanya ketika ia merasa kecewa. Rasanya begitu canggung untuk memikirkan bahwa dia akan memiliki Umma lagi, namun dia tidak merasa sedih sama sekali.

Selama dia tidak akan pergi lagi.

Taemin yakin bahwa dia tidak akan. Dia sudah berjanji.

            “Taemin ah,” panggil Nyonya Lee, “Maukah kau mengunjungi Appa mu hari ini?”

Taemin mengangguk dan tersenyum, ide itu memberikan ia sensasi bahagia yang begitu hangat.

Akhirnya, mereka akan menjadi sebuah keluarga lagi.

Taemin berdiri didapur dengan Umma nya setelah Ahjuma nya dan Ahjushinya pergi kerja. Dia bergerak dari kanan kekiri, sejujurnya tidak tahu apa yang harus dilakukan, sampai Umma nya menyadari ketidaknyamanannya.

            “Biarkan aku bereskan ini semua dan kemudian kita bisa pergi, okay?”, kata Umma nya dengan senyuman kecil. Meskipun, Taemin bisa lihat bahwa itu tidak mencapai ke matanya; dan mata yang mirip dengannya memiliki sesuatu yang nyaris tak terbaca tepancar didalamnya. Sesuatu seperti penyesalan…kekecewaan, atau kesedihan—Taemin tidak yakin sepenuhnya, tapi itu membuat hatinya hancur.

Namja itu mengangguk perlahan dan pergi ke atas untuk mengambil sepatu Kai dan topinya. Dia tidak bisa hindari perasaan berat yang ada dalam hatinya dengan setiap langkah yang ia ambil menaiki anak tangga, namun ia memutuskan bahwa itu lebih baik untuk melupakannya daripada merasa keccewa dihari yang luar biasa ini bersama dengan keluarganya.

Lee Taemin tahu bahwa dia harusnya merasa bahagia saat itu, lebih dari apapun. Dia tahu dia seharusnya tersenyum, dan saat ini harusnya menjadi waktu yang sangat berharga dan tidak tersentuh oleh berbagai kesedihan. Seharusnya Taemin tahu itu.

Dia akhirnya bisa menghabiskan waktunya dengan Umma nya setelah selama beberapa tahun ini ia tidak ada, siapa yang tidak ingin bahagia jika mereka berada pada posisi ini?

Benar. Nyatanya, dia tidak. Tidak cukup setelah apa yang terlah terjadi sebelumnya, setelah dia kembali turun ke dapur. Dia tidak bisa benar-benar merasakan momen ini setelah semua itu.

Minho, disisi lain, melihat ketidak yakinan yang maish ada di mata kekasihnya sama seperti dirinya sedniri, seraya ia bersiap untuk pulang. Dia tidak akan pernah bisa melewati kesedihan yang terpancar dari bola mata coklat Taemin, tidak perduli berapa pun usaha Taemin untuk menyembunyikannya dibalik poker face nya.

Minho memakai ranselnya ke bahunya, lalu berjalan mendekati namja yang pastinya sedang mengalami guncangan batin didepan pintu. Dia menarik perhatian Taemin, dan namja pendek itu segera menutupi kekhawatiran dimatanya—tapi sudah terlambat. Tidak ada yang bisa menipu mata Minho.

            “Taemin ada apa?”, tanya namja tinggi itu lembut, membawa tangannya ke wajah namja pirang itu sehinga ia bisa mengibaskan rambut yang menghalangi mata Taemin. Taemin balik menatapnya, mengeluarkan hembusan pasrah ketika ia sadar bahwa ia tidak memiliki kesempatan untuk menyembunyikan apapun dari kekasihnya yang begitu perhatian. Dia alihkan pandangannya ke kakinya dan memutuskan untuk menceritakan Minho semuanya.

            “Ini hanya… aku hanya khawatir bagaimana ia akan bereaksi ketika aku katakan padanya…kau tahu, apa yang terjadi dengan Appa.”, jelasnya dengan suara pelan, hampir terdengar seperti berbisik, “Aku…aku melihatnya menangis tadi, didapur ketika dia berpikir aku masih di lantai atas. Dia berkata ‘Aku minta maaf’ lagi dan lagi … dan ketika ia melihatku, dia memelukku dengan erat dan mengatakan banyak hal yang tidak bisa kupahami; dia terus menangis.”, hatinya sakit ketika ia mengingat apa yang barusan terjadi beberapa jam lalu. Melihat Ummanya seperti itu membuat ia sedih dan ia tidak bisa mengerti, dan dia tidak ingin melihatnya begitu lagi. Dia membenci melihat orang-orang terkasihnya terluka.

Seperti biasa, Minho begitu bersimpati pada malaikat kesayangannya. Mereka punya cukup waktu diakhir pekan ini dan tidak mengherankan baginya untuk melihat Taemin begitu memikirkan hal itu. Dia sendiri, belum bisa reda dari rasa terkejut dengan kedatangan Ibu dari kekasihnya itu, dan dia juga, masih merasa belum nyaman dengan itu. Masih ada rasa ketakutan bahwa Umma Taemin ada disini akan memberikan jarak pada mereka semakin jauh.

Dan dia hanya berharap itu tidak akan terjadi.

Seperti dia tidak membiarkan hal itu ditunjukkan, Minho merasa dia tidak bisa tahan jika mereka lebih jauh terpisah.

            “Tenang saja, Minnie. Kau akan melewati semua ini, kau selalu bisa.”, namja tinggi itu tersenyum, “Aku tahu kau kecewa dan aku tahu Umma mu juga. Tapi aku juga tahu bahwa apapun yang terjadi, tidak mungkin ada akhir yang tidak bahagia saat ini, ya kan?”

Taemin berusaha mengangguk. Ia butuh beberapa menit untuk paham perkataan Minho, dan ketika ia paham, ia merasa lebih bahagia, “Aku pikir begitu … aku harap begitu.”, katanya, “Hanya saja…begitu menyakitkan melihat ia sedih, dan aku tidak ingin ia lebih sedih dari sebelumnya. Kau tahu apa yang terjadi padaku, pada kita, waktu lalu. Bisa kau bayangkan bagaimana… sedih nya dia ketika aku mengatakannya kan?”

            “Dia sudah tahu, ya kan?”

            “Ya, Tapi.”, Taemin mengigit bibirnya, “Dia akan bertanya, iya kan? itulah yang akan dilakukan orang dewasa, kan? mereka selalu ingin tahu.”, jelasnya panik.

            “Jika dia tahu apa yang terjadi, lalu kau tidak inign menceritakan padanya hal-hal lain.”, kata Minho, “Jika kau tidak ingin menceritakan padanya, maka kau tidak harus menceritakan.”

Taemin mengangguk, dengan cepat ia menganggap itu sebuah hal yang masuk akal, “Iya. Aku tidak ingin memberitahunya. Aku harus melindunginya dari semua kesedihan itu.”

            “Ah, Taeminnieku begitu luar biasa, selalu perduli pada orang yang ia cintai.”, kata Minho bangga, sebelum merunduk dan memberikan ciuman dibibir Taemin, seperti menutup semua obrolan mereka. Taemin tersipu, namun mencium kembali, memberikan sedikit usaha kedalam ciuman itu.

            “Minho.”, ia berbicara ketika mereka melepas ciuman itu, matanya langsung terlihat tidak yakin, “Apa kau pikir… apa kau pikir Umma tahu mengenai kita?”

            “Aku tidak tahu. Kau tidak mau dia tahu mengenai hal ini?”, alis mata Minho berkerut.

            “Bukan, bukan seperti itu!”, jawab Taemin cepat, “aku hanya berpikir bahwa mungkin dia tidak terlalu ingin menerimanya, kau tahu. Haruskah aku mengatakan padanya hari ini ketika kita pergi pemakaman? Aku pikir ini tidak akan adil bagimu jika aku menyembunyikannya dari Umma ku sendiri.”

Sebuah senyum terlihat di wajah Minho, hatinya begitu hangat seiring dengan wajahnya. Dia pastinya merasa begitu tersentuh dengan pemikiran kekasihnya, “itu tidak masalah, Taemin. Kau bisa memilih untuk tidak mengatakan padanya jika kau tidak ingin.”

Taemin balik tersenyum dan mengangguk. Tentu saja, Minho akan begitu pengertian.

Ini bukan masalah dia tidak ingin mengatakan pada Umma nya, tapi dia hanya takut dia akan begitu panik atas preferensi seksualnya dan akan pergi lagi. Dia tahu bahwa Umma nya tercinta tidak akan seperti itu, tapi dia tidak menduga Appa nya akan menjadi seperti itu juga.

            “Terima kasih, Minho.”, Taemin berjinjit untuk memberikan ciuman pada kekasihnya, “Terima kasih sudah mendengarkan. Kau yang terbaik. Aku merasa lebih baik sekarang.”

            “Sama-sama, Taemin.”, jawab Minho, “Aku harus pergi sekarang, Minnie, tapi aku akan merindukanmu. Aku harap aku tidak pulang kerumah tapi ujian akhir minggu depan dan Umma ku akan menghukumku.”

            “Tidak apa, Minho. Selama kau menjawab terlepon dariku dan mengingatku setiap malam.”, namja pirang itu terkekeh.

            “Kapan aku bisa menolak melakukan itu?”

Taemin berpura-pura berpikir dengan pose satu jari di bibirnya, “Hmmm… tidak pernah?”

            “Benar, jadi kau tidak masalah, kan? aku akan menjawab teleponmu bahkan jika aku sedang di toilet.”

            “Ew, Minho!”

Minho tertawa pada ekspresi ngeri kekasihnya dan memutuskan untuk keluar pintu ketika kekasihnya masih dalam mood yang bagus. Dengan tangan yang ada di gagang pintu, ia mengirim Taemin ciuman jauh dan kedipan mata, lalu berkata, “Aku akan berkunjung lagi, Minnie. Aku mencintaimu.”

Taemin merasa hatinya sesak. Dia tidak ingin Minho pergi dulu, tapi dia harus, “Aku juga mencintaimu. Bye.”

            “Bye-bye.”

Minho harus memaksa dirinya keluar dari pintu, atau dia akan terus ingin tinggal disana selamanya bersama dengan Taemin nya. Ia berikan Taemin senyuman lagi sebelum berlari ke dalam mobilnya, masuk dan mengendarainya sampai keluar dari parkiran dan menjauh dari pandangan Taemin.

Taemin merasakan hatinya pastinya ingin menangis seraya melihat mobil Minho menghilang, namun mood nya kembali muncul ketika ia rasakan sepasang tangan melingkar di kakinya. Taemin menunduk dan melihat Kai sudah berpakaian rapih, tersenyum dan berkata, “Ayo, Minnie Hyung! Kita pergi liat Appa dengan Ahjumma.”

Taemin tersenyum, berjongkok untuk menjajarkan dengan tinggi adiknya, “Kau tahu, kau bisa panggil dia ‘Umma’. Dia akan menjaga kita sekarang, dan dia akan jadi Umma baru mu juga.”

Mata Kai terbelalak, dan anak itu tersenyum dengan sangat lebar, “Jinjja, hyung?”

            “Yes, Jinjja. Dia akan menjagamu, jadi kau harus nurut padanya, arraso?”

            “Okay, Hyung!”, Kai tersenyum seraya memeluk leher Hyungnya. Dia tentu saja merasa bahagia karena punya seseorang yang bisa ia panggil Umma lagi, dan hati Taemin merasa ingin meledak karena bahagia ketika dia melihat adiknya bahagia.

Dia berharap Kai akan terus seperti itu.

Perjalanan menuju kampung halamannya begitu sunyi, hanya pembicaraan singkat ini dan itu. Kai begitu gelisah di kursinya namun Taemin berusaha untuk membuatnya tenang dengan menghiburnya dengan cerita lama yang biasa Umma nya ceritakan padanya,dimana Umma mereka mendengarkan mereka dengan senyum terkembang diwajahnya. Kedua anak itu sibuk berinteraksi satu sama lain dan membiarkan wanita itu sejenak berpikir.

Taeyeon tahu betapa ia begitu melewati banyak hal, namun dia bahagaia bahwa anaknya tumbuh menjadi namja yang baik disamping penyiksaan yang dia alami. Dia merasa begitu resah karena sudah meninggalkan anaknya kedalam dunia itu, namun dia tidak tahu bahwa suami nya akan menjadi seperti itu ketika dia meninggalkannya karena keegoisannya sendiri, dan sekarang dia menemukan anak nya lagi, Taeyeon sudah bertekad untuk memberikan apapun kepada anaknya dan juga Kai. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan lakukan apapun untuk membuat mereka bahagia dan akan memanjakan mereka dengan semua hal yang tidak pernah mereka rasakan ketika masa kecil.

Mulai dari sekarang.

            “Anak-anak, maukah kalian makan siang dan membeli es krim sebelum kita mengunjungi Appa kalian?”, tanyanya, menyentuh sesuatu di dashboard nya untuk mencari restauran terdekat, “Aku yakin kalian sangat lapar sekarang ya kan?”

Taemin tersenyum, sementara Kai mulai melonjak naik dan turun di kursinya ketika mendengar kata ‘es krim’.

            “Ya, Umma. Ayo, makan es krim!”, pekik Kai.

Taeyeon tersenyum, hatinya begitu hangat ketika anak kecil itu memanggilnya ‘Umma’.

            “Baiklah, es krim kalau begitu.”

Taemin masih merasa sangat disfungsional tanpa kehadiran Minho disana, tapi ia merasa mood nya menjadi lebih baik saat mereka makan siang dan menikmati dessert direstauran sederhana. Kai tidak sempat makan banyak permen dirumah karena Ahjuma mereka takut ia mengalami kerusakan gigi, jadi Umma mereka menyalahgunakan kesempatan ini untuk memberikan padanya semua hal yang tidak pernah ia rasakan. Kai begitu menikmatinya dan Umma nya tersenyum lebar karena melihatnya.

Taemin merasa lengkap hanya begitu saja, dengan sebuah keluarga dan yang lainnya, dan dia tidak meminta apapun lebih dari itu.

            “Taemin, kau mau tambah es krim lagi? Kita bisa pesan lagi.”, Umma nya menawarkan.

Taemin menggeleng kepala. Dia tidak ingin berlebihan dan perutnya rasanya akan meledak dalam beberapa menit, “Tidak, terimakasih. Aku sudah kenyang.”

            “Arraso, tapi jika kau mau yang lainnya, katakan saja padaku, okay?”

Taemin mengangguk lagi, menoleh keluar jendela. Sejujurnya, dia menyadari betapa kaya nya Umma nya. Dengan mobil yang begitu bagus dan baju mewah, dan dari cara dia bertanya pada mereka jika mereka ingin sesuatu dan dia akan membelikannya—Taemin menduga bahwa mungkin Umma nya memiliki sebuah pekerjaan yang layak ketika dia pergi kemudian menjadi orang yang kaya.

Meskipun dia kaya atau tidak, dia tidak ingin wanita itu memanjakannya dan berpikir dia anak yang tidak tahu malu.

Setelah makans siang, mereka melanjutkan perjalan beberapa jam sampai mereka tiba di pemakaman. Hari itu menjadi hari yang bagus dengan matahari yang bersinar terang, awan begitu putih dan begitu banyak terbentang di atas kepala, dan angin berhembus meniup kulit Taemin dengan lembut dan hangat.

Bagaimanapun, disamping begitu indahnya udara itu dan bahagianya mood keluarga mereka, semangat Taemin langsung saja luntur ketika mereka tiba di kuburan Appa nya, dan dia harus menggunakan senyum palsunya lagi.

Sejujurnya dia begitu merindukan Appanya; seseorang yang begitu cinta dan sayang padanya ketika ia masih kecil. Taemin berharap dia tidak meninggal. Dia bisa saja berubah, bisa berhenti mengkonsumsi alkohol dan memberikan kesempatan lagi pada keluarga ini. Taemin berpikir bahwa semua mimpi itu mungkin terjadi, namun saat ini semua sudah terlambat.

Ketika mereka duduk ditanah didepan baru nisan dengan nama Appa mereka, dengan persembahan bunga lonceng biru diletakkan di tanah, Taemin menyadari bahwa bukan hanya dia satu-satunya yang besedih. Kai tiba-tiba merangkak dipangkuan Taemin dan tidak butuh lama bagi anak yang lebih tua untuk merasakan air mata merembes melalui kemejanya. Hatinya begitu hancur. Dia tidak tahu apa Kai tahu artinya, dan dia berharap anak itu tidak tahu.

            “Aku rindu Appa.”, sebuah suara lembut namun begitu sedih berkata padanya.

Hati Taemin hancur ketika mendengar kesedihan dari suara adiknya, dan dia membayangkan kenapa juga Kai merindukan pria seperti dia, seorang pria yang bahkan tidak mau mengganggap nya—namun Taemin tahu bahwa anak akan mencintai seseorang tanpa balasan dan Appa mereka adalah satu-satunya Appa yang Kai punya.

            “Aku juga merindukan dia, Baby.”, Taemin balik berbisik, memeluk adiknya yang menangis mendekat ke tubuhnya. Ia mengeratkan rahangnya untuk menahan tangisnya; dia tidak ingin biarkan Kai melihatnya ketika ia lemah, Kai harus melihat sisi dirinya yang kuat.

Umma mereka tidak mengatakan apapun. Taemin tidak berani melihat ke arah nya untuk melihat ekspresinya, namun kesunyian menandai bahwa ia juga sedih.

Mereka duduk disana untuk beberapa lama, memberikan penghormatan dan juga ‘berbicara’ pada orang tercinta mereka yang sudah tiada.

Ketika tiba waktunya mereka untuk memulai pembicaraan, Taeyeon lah yang pertama kali berbicara. Dia bicara ditengah tangisnya, dan itu membuat Taemin kecewa mendengar suara Umma nya seperti itu, “Taemin, aku tahu apa yang sudah kau lewati dengan Appa mu ketika aku tidak disana. Aku tahu bagaimana dia menyakitimu, bagaimana dia…menyiksamu. aku tahu bagaimana beratnya itu pasti bagimu untuk melewatinya sendirian dengan tidak adanya siapapun untuk kau mintai tolong, dan percaya padaku ketika aku mengatakan bahwa aku tidak akan berpikir dua kali untuk mendapatkanmu kembali jika aku tahu. Aku tahu aku gagal menjadi Umma mu, kau percaya padaku dan aku mengkhianati kepercayaan itu. Dan aku sangat minta maaf atas semuanya. Maafkan aku untuk meninggalkanmu ketika kau sangat membutuhkanmu dalam hidupmu. Aku begitu pengecut; aku ingin mencapai impianku dibisnis dan Appa mu tidak menginginkannya. Dia bilang kau membutuhkanku dirumah, dibanding rapat bisnisku dan juga perjalanan keluar negeri demi perusahaan.”, Taeyeon terisak, seakan mengingat ingatan yang tidak menyenangkan, tapi dia melanjutkan, “Dan saat itu, aku tidak memilikinya. Aku begitu muda dan begitu buta dengan impianku untuk menyadari bagaimana egoisnya aku untuk pergi—namun aku tetap pergi. Aku pergi dan aku menyesali setiap langkah yang aku ambil hari itu dimana aku meninggalkanmu dan Appa mu.”

Saat itu, Taemin membuang jauh-jauh semua pemikiran masa lalu yang mendesak kedalam pikirannya. Dia paksakan senyum pada Umma nya, berkata, “Tidak apa, Umma. Kau tidak bermaksud.”

Taeyeon tersenyum lemah, air matanya masih terus mengalir, “Ya, aku tidak bermaksud. Aku begitu panik pada diriku sendiri setelah pindah ke Seoul. Aku habiskan beberapa minggu di kota, hanya mempertimbangkan untuk kembali atau tidak. Appa mu begitu kecewa padaku dan aku yakin dia akan menendangku keluar jika aku kembali. Aku begitu merindukanmu pada bulan-bulan pertama aku habiskan waktuku di Seoul, di sebuah apartemen kecil aku sendirian, dan aku baru sadari saat itu bahwa aku membuat kesalahan besar.”, ia berhenti sesaat untuk menarik nafas, “Ketika aku kembali setelah hampir satu tahun, kau telah pergi. Aku mencari dan terus mencarimu dan Appa mu, tapi aku tidak menemukan apapun. Aku hanya mendengar tentangnya ketika enam bulan kemudian, dia memanggil ku untuk datang ke kantor pengacara untuk tanda tangan surat perceraian. Dia mengambil alih untuk mengasuhmu, karena aku telah pergi hampir dua tahun.”

Taemin benar-benar tidak bisa berkata apapun mendengar kebenaran itu. Dia tidak berpikir bahwa itu lah alasan mengapa ia pergi. Dia berpikir dia pergi karena dia lelah padanya, tidak ingin menjaganya lagi.

Tanpa ia inginkan, air mata mengalir dari matanya, dan Taeyeon dengan cepat menyeka itu dengan telapak tangannya.

            “Sekarang ketahuilah, ketahuilah bahwa aku sudah memilikimu lagi, aku akan lakukan apapun dan memberikan semuanya padamu, semuanya yang sudah aku lewati.”, katanya, “Aku akan lakukan semuanya yang aku bisa untuk membuatmu bahagia dan membalas waktu aku kehilanganmu. Aku akan lakukan semuanya, my Baby.”

Taemin tidak tahu apa yang harus dia katakan, jadi dia tidak mengatakan apapun dan hanya bisa meresponnya dengan mengangguk. Taeyeon tersenyum dari sela air mata yang mengalir di wajahnya, dan dia berkata kepada anak tertuanya dengan nada meyakinkan, “Aku akan lakukan apapun untuk bisa mendapatkan mu kembali.”

Tapi kau sudah memilikiku, Umma.

Taemin mengangguk lagi, merasa tidak bisa melakukan apapun lagi. Ia mulai terisak saat ini, image kuat yang ia bangun untuk ia tunjukan kepada Kai sirna sudah.

Ia merasakan sepasang tangan yang hangat merengkuh nya dan tubuh Kai. Tindakan yang biasa dilakukan, dimana membawa nya kedalam rasa nyaman hanya anak seperti dia yang akan mengerti, membawa air matanya terus mengalir dan bukan malah berhenti. Dia merasa begitu bahagia. Dia menangis karena dia merasa bahagia.

Kai tentu saja panik ketika melihat Hyungnya menangis, dimana kemudian ia melingkarkan tangan kecilnya di leher Taemin dan mengeratkannya. Taemin mendekat dan meletakan leher anak itu ke bawah dagunya, membiarkan namja itu merasakan kehangat keluarga lagi.

Dan selama siang itu membuat ia puas.

            “Umma.”, Taemin membuka pembicaraan saat mereka dalam perjalanan kembali ke rumah keluarga Jung.

            “Ya, Taeminnie?”

Taemin menggigit bibirnya cemas. Pertanyaan yang selanjutnya ia ingin sampaikan membuat ia bingung, meskipun begitu mengganggunya dia masih belum mengatakannya.

Pada akhirnya, Taemin menemukan waktu yang terbaik untuk mengungkapkannya sebelum dia bisa berpikir dirinya mati.

            “Apa tidak apa untukmu jika aku katakan bahwa Minho…bahwa Minho…”

Taeyeon memiringkan kepalanya kesamping menunggu anaknya menyelsaikan kalimatnya, “Anak laki-laki yang baik sewaktu dirumah? Aku belum terlalu mengenalnya dengan baik. Ada apa dengannya, Minnie?”

            “Apa tidak apa untukmu jika Minho dan aku lebih dari sekedar teman?”, kata Taemin cepat. Ia memusatkan perhatiannya kepada dashboard mobil, takut untuk melihat reaksi apapun yang dikeluarkan Umma nya.

Dia menduga Umma nya akan marah, atau setidaknya jijik karena suatu hal, namun mengejutkan—dia tertawa dan berkata, “Aku pikir itu luar biasa. Aku bisa lihat bagaimana dia mencintaimu, seberapa besar ia ingin melindungimu. Nyatanya, tidak akan baik-baik saja untuk ku jika dia bukan namja cingumu.”

Saat itu juga, Taemin merasakan beban berat terangkat dari dadanya, dan dia tidak menyadari bahwa ia telah menahan nafasnya sampai Umma nya mengatakan itu. Sebuah senyum langsung terkembang di wajahnya, dan dia langsung bertemu dengan tatapan lembut Umma nya yang mengatakan padanya hal-hal yang tidak perlu dikatakan.

Melihat kembali ke jalan raya, Taeyeon kemudian menambahkan, “Lalu aku duga kau ingin tinggal dekat dengannya, kan? Kembali ke kampung halaman kita?”

Taemin tersenyum sedih, mengangguk, “Aku harap bisa.”

Taeyeon tidak mengatakan apapun lagi, namun tetap menahan senyum di wajahnya. Taemin tidak begitu mengerti dengan raut wajah nya, namun dia tidak menanyakan apapun. Malahan, ia sandarkan kepalanya kesisi kursi dan mencoba untuk tidur. Mereka masih punya waktu dua jam untuk tiba disana.

Sebelum Taemin bisa tenggelam dalam tidurnya, ia merasakan ponselnya bergetar di kantongnya. Taemin mengerang namun ia membuka pesan yang ia terima, langsung ceria ketika ia sadari itu pesan dari Minho.

From: Minho

Aku harap kau baik-baik saja dengan Umma mu sekarang. Dia akan tetap mencintaimu dan menyayangi mu sekarang. Aku ikut bahagia untukmu, Taemin. Aku harap kau bisa menemukan kebahagian di keluargamu juga. Dan jangan mengkhawatirkan apapun. Semuanya akan baik-baik saja.

Aku mencintaimu. Aku merindukanmu. Aku tidak sabar bertemu denganmu lagi.

 

Taemin merasa hatinya begitu hangat hanya dengan membaca hal singkat itu, hanya karena sebuah pesan dari namja yang baru saja pergi dalam sehari ini.

Tetap dengan senyum merekah diawajahnya yang ia coba untuk menahannya, Taemin mengetik balasan.

To: Minho

Terima kasih, Minho~ kau benar, semuanya akan baik-baik saja.

Aku juga mencintaimu, Minho. Lebih dari yang kau bayangkan.

                “Kau dan Lee Taemin?!”

Minho bangkit dari kursi dan menutup mulut besar dan bawel Key temannya. Namja lebih pendek itu menepis tangan temannya dan melanjutkan teriakannya, “Jadi itu sebabnya kenapa kau tidak lagi bermain dengan kita?! Kau punya seorang namja cing—“

Ia berusaha lagi untuk membuat sang Diva diam dan ia mendapatkan tamparan lain di tangannya. Minho berharap dia tidak menceritakan sebenarnya lagi pada sang Almighty Key yang begitu berisik, namun namja itu begitu keras kepala, “Ya, Key. Dia namja cinguku, jadi bisakah kau diam sekarang?”, dia berdesis dengan nada pelan. Orang-orang mulai memperhatikan mereka dengan penasaran.

Key terlihat terkejut, “Jadi kau malu karena dia namja cingumu? Jadi itulah kenapa kau tidak mengatakannya pada kita? Kau ini jahat sekali!”, omelnya, “Meski kau Gay, tidak ada hal yang perlu membuatmu malu pada kita! Kita tetap menerimamu.”

Minho memijit batang hidungnya kesal, “Bukan, bukan seperti itu, Key.”, dia mencoba menjelaskan dengan nada meyakinkan, “Aku ingin memberitahumu. Hell, aku ingin mengumumkannya keseluruh dunia. Namun percaya padaku, Taemin sangat bersikeras untuk tidak membiarkan orang lain tahu.”, dia menjelaskan dengan tarikan nafas kecil, “Aku tidak bisa menolak keinginannya, dan dia ingin hubungan ini rahasia…setidaknya untuk saat ini.”

Minho tidak bermaksud untuk Key mengetahuinya, namun temannya yang menyebalkan itu secara ‘tidak sengaja’ membaca sebuah pesan dari seseorang bernama Taemin dengan sebuah kata ‘Aku mencintaimu’ di akhir nya. Meski jika Key tidak mengenal baik mantan teman sekelasnya itu, dia tahu seluruh nama teman-teman dan wajah mereka hanya karena mungkin saja akan menjadi bagian dari gosip berikutnya. Dan sayangnya, ini merupakan berita baru yang mengejutkan.

Namja berambut coklat itu awalnya bersikap tenang, kemudian meletakan pensilnya yang dimaksudkan untuk menusuk tangan Minho dengan itu. Kemudian, layaknya orang yang bersifat bi-polar, dia mulai terkekeh layaknya yeoja yang sedang puber, “Oh my God! Kau seharusnya mengatakan padaku sedari awal, dasar kau pecundang! Kau tidak percaya padaku?”

            “Tidak, aku tidak percaya padamu.”

Key terlihat kesal, namun hanya menjawabnya dengan hal tidak masuk akal, “Diam kau! Oh my God, Minho. Ini begitu… begitu luar biasa. Oh my God! Kalian berdua terlihat begitu cocok! Kenapa. Kau. Tidak. Memberitahu. Aku?!”

            “Karena kau itu tukang gosip.”, Minho menjawab simple. “dan kau pastinya akan menyebarkannya kesemua orang yang kau tahu. Yang artinya, keseluruh sekolah. Kemudian Taemin akan membunuhku.”

Key tidak hiraukan kicauan sinis Minho, malahan dia berkata, “Omo, aku sudah tahu pasti anak penyendiri itu punya sesuatu didalam dirinya! Aku selalu berpikir dia agak manis namun dia selalu terlihat sedih sepanjang waktu, seperti dia tidak mau berbicara pada siapapun. Tapi lihat lah dirimu! Menjalin kasih dengan anak penyendiri itu~”

            “Dia tidak terlihat seperti itu lagi..”, jelas Minho. Ada rasa sedikit kesal dihati Minho ketika ia mendengar Key menggambarkan Taemin seperti itu. Namun siapa yang bisa menyalahkan sang Diva? Itu benar … atau, itu memang  benar. Taemin memang anak yang pendiam dan penyendiri dulu; seseorang yang mungkin menjadi tembok dikelasnya. “Dan dia bukan penyendiri. Dia hanya…dia hanya punya masalah dirumahnya—dimana kau tidak perlu tahu—dan dia sudah banyak berubah sekarang. Percaya padaku.”

Key cemberut, “Oh, lalu kenapa dia harus pindah kalau begitu?”

Minho mengangkat bahu, “Masalah keluarga.”

Mulut Key berbentuk ‘O’ untuk menunjukkan dia mengerti, dan langsung memikirkan alasan masuk akal kenapa Taemin pindah ke tempat lain sesuai dengan imaginasinya. “Itu pasti begitu berat bagi kalian berdua.”, dia bersimpati, namun hanya untuk beberapa detik, “Ini sama seperti disalah satu drama? Apa ini sama rasanya seperti salah satu anime—dimana aku memaksamu menontonnya?”

Minho membuang nafas, “Well, sedikit.”

Kemudian mereka berdua terdiam, sebenarnya Key menahannya karena dia harus berteriak yang tertahan dengan tangannya.

            “Ini begitu nyata. Oh my f8cking God! Ini seperti kisah sungguhan pasangan namja! BL! Urgh! Aku tidak percaya kau tidak pernah mengatakan padaku sebelumnya!”, Key mulai lagi, “Aku benci padamu. Aku seharusnya memberikan mu masukan mengenai percintaan ketika kau berada dalam masa ‘pendekatan’. Aku akan memberikanmu tips berkencan dan seks dan—“

            “Woah, apa kau baru saja bilang seks?”, tanya Minho tidak percaya, menampar lengan temannya.

            “Yup, aku rasa kau sudah melakukannya kan? sudah berapa lama kau melakukannya? Aku sangat yakin kau sudah melakukannya.”, Key mengatakannya tanpa basa basi dengan alis naik turun.

Namja berambut tinggi itu sontah tersipu, “Sudah beberapa waktu lalu.”

            “Dan?”, namja itu menekankan lagi, sebuah cengiran tampak diwajahnya yang membuat Minho ingin sekali meninjunya.

            “…Yes. Kita melakukannya—tapi jangan katakan pada siapapun! Aku akan membunuhmu jika kau mengejek Taemin tentang itu.”, ancamnya.

Key berlonjak di atas kursinya dan pastinya memekik layaknya seekor babi, “Oh my God, itu luar biasa! Jadi kau kehilangan keperjakaan kalian secara bersamaan? Omo, bagaimana rasanya? Kapan ini terjadi? dan aku lebih membencimu karena tidak mengatakannya padaku!”

            “Kau berlebihan, Key.”, Minho menjawabnya dengan wajah pokerface, meskipun sedikit tersipu, “Aku tidak akan mengatakan apapun padamu.”

            “Baiklah.”, jawab Diva itu cemberut, “Tapi aku ingin mengenalnya. Musim panas ini, okay? Dia akan menjadi sahabatku.”

Minho mengibaskan tangannya sebagai tanda menyerah, berkata, “Baik, baiklah. Sekarang tinggalkan aku. Aku harus belajar dan kau butuh kembali mengurus urusan mu sendiri. Pergi dan ganggu Jonghyun atau siapa, mungkin dia akan meninju wajahmu untukku nanti.”

            “Tapi aku akan bertemu dengannya kan? ya kan? ya kan?”,

            “Iyaaa…!”

Key tersenyum puas, “Baiklah. Tapi aku tetap membencimu karena kau menyembunyikan semua rahasia ini.”

            “Baiklah.”

            “Baiklah!”

Beberapa minggu setelah Taemin dan Umma nya bertemu lagi, Taeyeon telah membuat rencana untuk mengambalikan anaknya ke tempat asalnya. Itu membutuhkan banyak waktu dan juga usaha baginya, tapi dengan menggunakan uang untuk menyewa pengacara handal, itu berlangsung dengan mudah dan Taeyeon berhasil membuat anaknya dibawah asuhannya lagi. Tuan dan Nyonya Jung begitu sedih karena keponakan kesayangannya harus pergi, tapi mereka berpikir itulah yang terbaik dan membiarkan mereka pergi.

Selama beberapa minggu terakhir tahun ajaran kedua Taemin, dan beberapa minggu pertama memiliki keluarga yang utuh lagi, Umma nya memanjakan mereka tanpa henti, karena hal itu memberi dia kepuasan bahwa dia membayar kembali ketidakhadirannya untuk mencintai mereka, dan juga secara materi yang tidak pernah diterima anak laki-laki nya dalam kehidupan mereka sebelum ini. Taemin telah menolak hal-hal yang Umma nya coba belikan padanya, tapi dia sama sekali bersikeras dan dia menghabiskan banyak pakaian dan barang baru untuknya, bersama dengan laptop dan iPod touch yang masih belum dia paham betul untuk dia gunakan. Kai juga telah diberi perlakuan khusus; karena mainannya sekarang sudah tiga kali lipat banyaknya, dan balita itu perlahan mulai dekat dengan Taeyeon dengan mulai memeluk dan mencium pipinya lebih sering.

Pada minggu-minggu itulah Taemin mengetahui banyak hal tentang Umma nya. Dia mengetahui bahwa dia adalah seorang direktur keuangan di salah satu perusahaan besar di Seoul, dan baru saja pergi ke kota tempat dia tinggal sekarang untuk menghadiri pertemuan bisnis. Dia suka banyak berpergian dengan harapan bisa menemukannya, dan dia tidak pernah berhenti mencari setelah dia kehilangan semua kontak dengan mereka. Dia tidak menikah lagi atau memiliki anak, dan menghabiskan seluruh waktunya untuk berdoa agar Taemin kembali kepadanya suatu hari nanti, jadi mereka bisa menjadi keluarga lagi dan dia bisa memintaa maaf karena telah meninggalkannya.

Dan kau melakukannya, dia mengatakannya saat dia menjelaskan bagaimana dia menemukannya, Kau kembali kepadaku. Saat itulah dia dan Minho berada di restauran makanan laut sehingga dia melihat mereka, dan itu menjelaskan mengapa Taemin merasa sedang di awasi sementara mereka sedang kencan. Taeyeon mengatakan padanya bahwa ketika dia melihatnya, dia tidak bisa mempercayai matanya sendiri. Dia langsung mengenalinya saat dia melihat matanya, dan perasaan tidak enak di perutnya ketika melihat Taemin yang membuat ia tidak fokus pada makan malam dengan rekan-rekannya sepanjang malam. Taemin mengetahui bahwa Umma nya melacak mereka berjam-jam malam itu, sampai keesokan harinya saat dia muncul didepan pintu rumah mereka.

Ini juga sampai pada sepengetahuan Taemin bahwa Umma nya tinggal disebuah flat besar di Seoul, tapi sekarang setelah dia menemukan anaknya yang telah lama hilang, dia membeli rumah lain di tempat asalnya tanpa sepengetahuan Taemin dan pindah ke cabang perusahaan mereka didalam kota.

Taemin, bagaimanapun, sangat gembira saat mengetahuinya, bahwa dia hampir menangis dan air matanya jatuh ke es krim yang Umma nya belikan untuknya. Bukan hanya itu, berarti mereka tinggal bersama satu atap; tapi juga dia bisa bertemu dengan Minho lagi, dan dia akan mendaftar lagi disekolah lamanya. Dia berpikir bahwa hidup tidak akan bisa lebih baik dari pada itu, tapi kemudian hari dimana mereka harus pindah tiba juga; Kai masih tidur dipangkuan Taemin, keduanya duduk di bangku belakang. Ketika Umma nya berhenti disalah satu halaman rumah baru mereka, Taeyeon mengguncang tubuhnya untuk membangunkan anak laki-lakinya itu.

            “Apa—dimana kita?”, Taemin menegakkan tubuhnya dan mengusap mata kantuknya. Kai juga terbangun, namun kembali tertidur ketika ia berbalik dan meletakan wajahnya di leher Taemin.

            “Kita sampai, Sweetie.”, ucapnya lembut, mematikan mesin mobil.

Butuh waktu dua detik, dan rasa kantuk sontak berubah menjadi kegembiraan. Taemin langsung membuka sabuk pengamannya sendiri sebelum keluar dari mobil dengan Kai masih ditangannya. Taeyeon keluar juga dan berdiri disamping anaknya, tangan dipinggangnya dan berdoa kepada Tuhan bahwa Taemin akan menyukainya.

Mata gembira menyapu jalanan sekitar setelah mengagumi rumah besar yang dilukis putih dan atap berwarna biru. Baru ketika kegembiraan itu mereda, Taemin mengenali jalan yang tidak begitu asing baginya.

            “Tapi, Umma, ini rumah Minho.”, gumamnya pikirannya langsung lari ke berbagai arah.

Ini jalan rumah Minho. Aku pernah kesini beberapa kali sebelumnya, aku tidak salah lagi! Kenapa kita disini?

Mungkinkah? Apa Umma benar-benar melakukan ini untukku?

Taeyeon tersenyum bangga, “Yes, itu rumah Minho-goon ada disebelah sana. Tapi ini.”, jari yang indah menunjuk ke rumah megah didepannya, “Akan menjadi rumah kita mulai saat ini.”

            “…rumah kita mulai saat ini.”

Kalimat itu langsung menyadarkan Taemin, dimana mulutnya menganga lebar karena perasaan terkejut yang keluar dari dirinya sendiri. dia hampir menjatuhkan Kai karena saking gembiranya, tapi tetap menahannya dan hanya memeluknya erat sampai balita itu terbangun.

            “Aku—aku..U-umma, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, aku sangat… aku…terima kasih, Mama.”, Taemin menangis, “Terima kasih, terima kasih, terima kasih!”

Taeyeon merasakan tangis bahagia mulai keluar dari matanya saat dia melihat bagaimana ia membuat anaknya begitu bahagia. Taemin melompat kegirangan dengan berteriak dan masih Kai yang tidak mengerti, terlihat begitu bersinar layaknya bohlam lampu dengan senyum yang terkembang di wajahnya. Balita itu tidak tahu apa yang terjadi, namun dia tersenyum ketika dia melihat Hyung nya bahagia.

            “Baby, kau tidak ingin menyapa Minho sekarang? Kau sudah lama tidak melihatnya, ya kan?”, tanya Taeyeon.

Taemin berhenti sementara memeluk adik kecilnya itu dan mengangguk semangat. Itu benar bahwa dia dan Minho sudah lama tidak melihat satu sama lain semenjak minggu lalu mereka bersama. Mereka berdua sama-sama sibuk belajar untuk ujian akhir dan sibuk dengan mengemas barang dan juga mengurus surat legalitas. Taemin sangat kehilangan Minho; dia akan menjadi gila jika dia tidak melihatnya sekarang.

Taeyeon mengambil Kai dari gendongan Taemin dan namja itu tidak berpikir dua kali sebelum pergi ke rumah sebelahnya.

Ketukan dipintu begitu bersemangat namun Taemin tidak bisa membuat dirinya sendiri perduli akan hal itu. Dia gemetar karena gembira, dia tidak bisa percaya Umma nya akan melakukan ini untuknnya! Itu adalah hal yang paling indah yang diberikan padanya sejauh ini; dia sangat bersyukur bahwa dia bersumpah dia akan menangis sepanjang hari karena dia sangat bersyukur.

Beberapa detik setelah ketukan paniknya, Minho yang bingung mulai membuka pintu, jelas terlihat segar dari bangun tidur siang. Ketika dia menyadari bahwa itu adalah namja cingunya yang cantik berdiri disana, seluruh kantuknya menghilang dari sistemnya dan dia langsung bertemu dengan pelukan Taemin.

            “Minho! Oh my God, Minho! Kau tidak akan percaya ini.”, Temin memekik seraya Minho mencoba untuk menyeimbangkan berat tubuh mereka, dengan Taemin yang melingkarkan kakinya di pinggul namja tinggi itu dan menggelayut padanya layaknya bayi koala.

            “A-apa? Taemin, apa yang kau lakukan disini? Kau tidak bilang padaku kalau kau akan datang.”, kata Minho, tetap terkejut dengan kehadiran kekasihnya secara tiba-tiba. Itu tidak menghentikannya untuk memberikan pelukan yang erat pada namja cingunya.

            “Umma membuat kita pindah disebelah rumah, Minho! Bisakah kau bayangkan? Aku tinggal persis disebelahmu!”, Taemin mengatakannya semuanya dengan tenang.

Mata Minho dan mulutnya terbuka lebar. Dia melepas pelukan Taemin sejenak untuk melihat jika ia berbohong, dan sebuah senyum di wajah Taemin mengatakan padanya namja pirang itu tidak berbohong.

Rasa hormat kepada Umma Taemin meningkat seribu kali lipat. Minho menarik semua pikiran tentang nya yang akan membuat mereka menjauh. Dia akan membungkukkan tubuhnya pada wanita itu sekarang dan bersedia mencium kakinya.

            “Oh my God, Taemin. Katakan kau tidak bercanda. Tolong katakan padaku kau tidak bercanda.”, tuntut Minho, dia menyengir lebar dengan ide bahwa dia pastinya akan tinggal bersama. Taemin akan tinggal hanya beberapa meter dari rumahnya? Itu seperti surga berada di atas piring perak dengan strawberry dan chocolate sirup di atasnya.

            “Tidak!”, Taemin memekik lagi. Rasa bahagia semakin membuncah di hatinya dan sebelum dia bisa berpikir lagi apa yang selanjutnya dia lakukan, dia langsung mencium bibir Minho yang sedang tersenyum lebar. Ia remas pundah Minho yang berada di tangannya, membawa tubuh mereka sedekat mungkin, ketika Minho menahan Taemin di tubuhnya disekitar pinggulnya.

Itu mengingatkan namja tinggi itu dengan adegan yang ada di film Notebook—jangan tanya kenapa dia tahu itu—tapi dia dan Taemin, itu lebih baik, jauh lebih baik dari semua film romantis yang pernah ia lihat. Dia tidak menahan dirinya lagi dan dia mendorong Taemin ke tembok terdekat. Gerakan tiba-tiba itu membuat wajah mereka berbenturan, namun keduanya tidak memperdulikannya. Menunjukkan betapa keduanya begitu mencintai satu sama lain adalah hal yang paling penting saat itu.

Keduanya berciuman dan saling memeluk, seperti baru pertama kalinya mereka tidak pernah bertemu sama sekali; terpisahkan oleh jarak.

            “Bukankah aku terlalu awal untuk punya cucu?”, sebuah suara familiar datang dari seorang wanita yang tiba-tiba muncul di belakang Minho.

Dan secepat Taemin mencium kekasihnya, lebih cepat ketika dia melepaskan namja itu darinya. Taemin melompat dari gendongan Minho, matanya terbelalak ketika ia menyadari bahwa dia pastinya sedang memperkosa anak Nyonya Choi didepan nya.

Wanita itu tersenyum lebar dari wajahnya, seraya ia merentangkan tangannya pada Taemin untuk berlari kepadanya. Namja pirang itu memeluk wanita yang berdiri disana layaknya Umma nya sendiri ketika ia masih berada dalam masa suram, rasa malunya sontak hilang ketika ia rasakan kehangatan pelukan Nyonya Choi. Taemin tertawa senang dan memeluknya, memekik ditelinganya tentang berita mengejutkan dia pindah disana.

            “Jadi kau orang yang membeli rumah disamping?”, Nyonya Choi gembira, “Oh, bagus sekali! Biarkan aku bertemu dengan Umma mu, okay? Aku butuh memberikan kalian sambutan makan malam.”

            “Neh, Ahjumma.”, ucap Taemin senang.

Jelas merasa dikecualikan, Minho mencuri Taemin kembali dan dengan mudah mengangkatnya lagi.

            “Ya, ya. Makan malam selamat datang bisa nanti. Kita akan pergi ke kamar ku untuk berduaan, bye Umma~”, Minho pamitan sebelum lari ke lantai atas dengan namja pirang digendongannya layaknya koala. Taemin tertawa seraya dia dibawa pergi ke kamar Minho, tempat yang tidak asing dimana mereka membagi kenangan berdua.

            “Aku tidak ingin segera punya cucu, arraso?”, mereka mendengar Nyonya Choi berteriak kepada mereka, membuat keduanya tertawa lebih kencang.

Saat yang tepat dihabiskan dengan dua remaja yang saling mencintai hanya berguling-guling di ranjang Minho dan berusaha menjaga kebahagiaan mereka dengan saling menggunakan tubuh masing-masing sebagai bantalan. Kaki mereka saling terkait dan tidak ada yang berniat melepaskan anggota badan mereka, Taemin terbungkus oleh tubuh Minho layaknya bantal yang seukuran dengannya. Hidung namja kecil itu tepat dileher Minho untuk mencium bau tubuhnya, sementara Minho menghabiskan waktunya untuk memainkan rambut Taemin.

            “Apa kau bisa percaya ini, Minho? Kita akhirnya bisa bertemu satu sama lain setiap saat lagi.”, namja pirang itu bergumam di leher kekasihnya, mengelitik Minho dengan hangat nafasnya yang berhembus di kulit nya.

            “Yeah, aku juga tidak bisa percaya ini, Tae—tapi ini bagus.”, Balas Minho dengan senyuman simpul di wajahnya, “Benar, hal yang selalu mereka katakan; bahwa kau tidak akan pernah tahu apa yang kau miliki sebelum itu pergi darimu.”, katanya, “Well, kau tidak pernah pergi sebenarnya, kau hanya jauh diluar jangkauan—dan aku menyesali setiap harinya bahwa aku tidak bisa habiskan waktuku selama kau ada disini.”

Dengan kata-kata itu, itu adalah respon otomatis untuk telinga dan pipi Taemin menjadi memerah. Dia tidak merasa malu, tidak sama sekali tidak. Dia cukup tersanjung lebih dari apapun. Minho membuatnya sangat dicintai.

            “Aku juga, Minho.”, ia meresponnya dengan nada yang berbisik, “Aku berjanji untuk ada disisi mu setiap hari. Kapanpun kau membutuhkanku; kau bisa langsung mengetuk pintu ku, aku akan selalu ada untukmu.”

Minho tersipu malu juga, tapi dia membalasnya, “Hei, bukankah itu seharusnya kata-kata ku? Sejak kapan kau menjadi suka menggombal?”

Taemin memukul dada Minho pelan, “Yah, aku sedang berusaha disini. Ini tidak selalu kau yang harus perhatian padaku setiap saat. Aku ingin menjadi seorang namja juga dalam hubungan ini.”, cemberutnya.

            “Mmm… ya, ya.”, namja berambut hitam itu tersenyum malas, menjalarkan tangannya untuk mengelus rambut pirang Taemin yang mulai memudar berkali-kali. Meskipun tidak terlalu puas dengan jawaban yang ia dapat, Taemin mendekat ke tubuh kekasihnya meringkuk layaknya anak kecil, dan melingkarkan tangannya di pinggul Minho, seperti menyudahi diskusi mereka.

            “Bisakah kita tetap seperti ini untuk sementara? Aku yakin Umma tidak masalah jika kita membuatnya menunggu.”, Taemin bergumam ngantuk.

            “Tapi kau harus melihat rumah barumu, memilih sebuah kamar dan—“, kalimat Minho terhenti untuk membuat ia menguap lebar, “—dan, … kau tahu, melakukan persembahan untuk rumah mu…”

Tubuh Minho bergitu hangat, dan Taemin menikmati ini ketika suhu ini bertahap membuatnya untuk tertidur. Matanya perlahan semakin berat dan berat, nafasnya semakin teratur. Taemin melupakan hal lain dan memutuskan untuk menyerah kepada rasa kantuk yang menariknya masuk kealam mimpi. Selain itu, dia memberikan alasan bahwa mereka sudah berbaring bersama-sama selama beberapa jam sekarang, itu akan menjadi sayang jika mereka harus bangun sekarang.

Tidak lama setelah Minho menyadari bahwa tubuh kekasihnya sudah melemas disisinya, dan nafas kekasihnya itu sudah mulai teratur, dia akhirnya dengan sukses masuk kedalam tidurnya yang lelap juga. Mata Minho tertutup, bibirnya berbentuk menjadi sebuah senyuman seraya ia masuk kedalam alam mimpinya, dengan namja paling cantik di sampingnya.

Dan saat itu merupakan hal yang paling sempurna, dan dia tahu semuanya akan baik-baik saja.

Karena saat itu, tidak ada hal lain selain mereka berdua. Pada saat itu, Taemin merasa ia adalah orang yang paling cantik didunia, sekaligus begitu beruntung dengan cara kekasihnya memberinya perhatian. Pada saat itu, Minho merasa menjadi namja yang paling beruntung untuk mendapatkan namja yang begitu baik dan cantik, dan untuk memilikinya begitu dekat dan juga begitu mencintainya, bahwa seperti surga telah memihaknya diantara orang lain.

Jantung kedua namja itu berdetak kencang satu sama lain. kehangatan tubuh mereka menjadi satu dan mengalir ke tubuh masing-masing, dan tidak ada yang mengalahkan keintiman mereka. Tangan saling mencengkram posesif, bahkan dalam tidur mereka tahu bahwa mereka saling mencintai dan menyayangi. Tidak ada yang salah dalam pemandangan itu, dan mungkin itu seperti sebuah lukisan dari akhir yang membahagiakan.

Sebuah lukisan yang indah, tanpa ada yang bisa digambarkan menjadi sebuah kesalahan, dan banyaknya bekas luka telah tergantikan dengan begitu banyaknya cinta. Memar yang ada ditubuhnya telah lama hilang, dan kulit Taemin seperti dicat ulang dengan cahaya terang dan sehat yang bersinar seiring dengan matanya yang seperti anak kecil. Kisah pedih di masa lalunya, peristiwa yang dikendalikan oleh pikirannya, akhirnya telah sirna oleh cinta dari Minho dan kesabaran untuknya.

Kedua namja itu melukis gambaran indah ini dengan sendirinya. Sebuah gambar yang mengatakan seribu makna, dan seribu lebih alasan mengapa mereka saling mencintai.

Minho tidak sempurna, dan Taemin juga tidak.

Tapi cinta mereka…

Cinta mereka adalah cerita yang berbeda.

-FIN-

Part 17>>

Hai Gaes! Yey, akhirnya update lagi! Cepet yah? hahaha…
FYI, Damaged AKHIRNYA akan mencapai puncak nya! maksudnya akan ending! hahahaha…
Setelah ini di Part 17 akan ada smutt (very smutt and hot)! Akhirnya memutuskan untuk di Protect, so sorry! Please comment (at least di chapter sebelumnya) jadi bisa dikasih Pw-nya!

Caranya cukup DM ke Fb aku aja >> Sunny Lee
Dengan sebutin nama akun kamu aja buat komen di WP ini.
Atau bisa mention di @twominyeah di Twitter 😉

See you on next chapter! will announce more on Facebook!
Add facebook yah di Sunny Lee 😉

Thanks & Regards,
@vittwominaddict

Please do not post this translation everywhere! Take a full credit from me and Ichigosama as original author of this Fanfic!

Advertisements

21 thoughts on “2Min-Damaged [Drama, 37, & Way Back Home]

  1. Bahagianyaaaa akhirnya kehidupan taemin kembali normal dan ga jauh2 lagi dari minho. Udah mau tamat ya kak, abis damage translate ff lagi ya kak heheh

  2. Sumpah ikut nangis pas bagian di makam itu…
    akhirnya skarang kebahagiaan taemin benar2 utuh…
    semakin gak sabar menunggu part selanjutnya…

  3. akhirnyaaaaa 2Min bsa dkatan lagi…
    umma.a taem baik bgt dia beli rmh dkat rmh.a ming…
    mreka akhir.a bhagia..
    ini stimpal dgn apa yg d rsakan taem dulu..
    akhir.a dia dpt kbhagian yg smpurna…

  4. Aaahhh lega rasanya… Semua beban taemin menghilang di part ini.. Semua pertanyaan sudah terjawab dan selanjutnya hanya ada kebahagiaan dan kisah manis antara Minho dan Taemin ❤❤

    Kehadiran key yg walaupun cuma seuprit sukses bikin gemes 😂 penyakit(?) rempongnya kga sembuh2 yah *plak*

    Dan semua yg di lakukan taeyeon untuk taemin sudah mmbuktikan betapa dia ingin menebus kesalahannya di masa lalu…

    Nextnya sangat di tunggu kak ^^ fighting !!!!!

    • Key kaya emak-emak tukang gosip banget yah, gemes dan ngeselin, kebayang kan wajah dia? hahahaha…
      thank for comment, will be update later, thanks 😉

  5. Seneng bgt… ternyata umma taemin aslinya baik… aq pkir awalnya taem akan menderita lagi…
    Mereka dah bahagia gini , adakah konflik lagi abis ini????
    Penasaran ama next part nya kak…
    Ditunggu next partnya kak…
    Fighting 🙂

  6. So happy akhir nya mereka bisa brdeketan aq kira setlah taemin ketemu sma umma nya taemin akan menjauh dr ming dan bkalan ldr an trnyata kejutan yg myenangkan, jangan ada lagi masalah d part2 selanjut nya yah udah cukup buat akhir yg happy ending, chap depan bkaln d protec aq boleh minta pw nya kn kka. ..😊

  7. Masih sempat was2 sama ummanya Taemin. Semoga saja tidak.Semoga dia benar2 menyesal dan perbuatannya kali ini tulus. Dengan membeli rumah disamping rumahnya Minho, aku rasa ummanya Taemin benar2 ingin menebus kesalahannya.Tinggal di rumah yg berdamingan terasa tinggal bersama.Ke sekolah yg sama lg,duh senengnya.Dan semoga kali ini Taemin lebih terbuka dan mau bergaul dgn teman2nya.

  8. Sweet bgt itu bobo beduaa pelukan lg 😚😚😚
    Cba jj mom minho fhoto mrka 😂😂 manis deh

    Oh bgtu… pntesna ortu ya sm2 muda.. hebat bgt taem bsa brthn smpai skrg, ada si minho hero ya… dan smuanya 2x lipet manis yaa 😍. Cpetan pndah ke sekolah minho lg biar seru ma mak key hahhahahh 😂😂.
    awww rmhnya sblehan dan mok minho bawel wkwkwk lom tau apah anaknya dh Otw buat cucunya xixixixi.

    Seru bgt sich cyin ff yaa 😀😁😄😄😄😃😃 !
    Dtggu yaa post baru ya hehehe & PW jga fufufu

  9. Uluuuuh, padahal ini belum menuju puncak, tapi mereka manisnya kebangetan. Im so done with them😭
    Suka sama chapter ini, banyak kejutan, berasa epilog gitu wkwk mana ada cameo Key yang rempong abies kea emak-enak sosialita😂
    Ditunggu chapter smutt nya kak muahahaha

  10. bahagia.ny 😄😄😄😄😄
    kekhawatiran taeminho tinggal berjauhan gak terjadi malah mereka jd tetangga…taeyeon emg pengertian…
    ternyata yg ngawasin taemin itu eomma.ny…kira.in mir…lega gak ada yg ngusik kebahagiaan taeminho lg 😊😊😊😊😊

    ya ampuuuun almighty key…bener2 berisik ya…bener minho gak cerita sm dia klo cerita pasti taemin ud jd bahan gosip satu sekolah bahkan mgkn bahan bully gara2 pacaran sm minho yg notabene namja terkenal…
    gak sabar next chap ^^

    tp msh agak bingung sm lama waktu disini…di bag. ketiga part awal di cerita.in taeyeon butuh waktu berminggu-minggu utk ngurus surat hak asuh taemin dll…tp di bag. ketiga yg lain di ceritain klo taeminho ud seminggu gak ketemu gara2 urusam yg sm n ujian…lama waktu.ny kdg membingungkn…

  11. Sebenarnya sempat gx yakin dgn ummanya taemin, takutnya dia bakal jadi penghalang cinta taeminho. Tp syukurlah itu hanya ketakutanku saja…hehehehe

    Next part lanjutt eonni 😀

  12. Seneng baca taemin akhirnya bahagia gini. Dia jg gak jauh-jauh lagi Sama minho 😍 semacem pacar lima langkah kalo sekarang 😂
    Mama taeyeon baiiiikkkk bangettt… Dia bener-bener ngerasa bersalah sampe beli rumah di samping rumah minho, apa aja maunya taemin sama kai di turutin.
    Terus apa itu nyonya choi ga mau cepet-cepet punya cucu hahahaha
    Dan yg aku sayangin itu kemunculan key dikiiiiit bangettt, padahal seru loh si diva satu itu..

  13. Aahhh Taemin akhirnyaaa kumpul sama ummanya ><
    Akhirnya kamu bahagia ya sayang❤ gada iri2an lagi sama minho. Karena minho adalah keluargamu juga saat ini 😘😘

    Yatuhan itu cara mereka pisah kenapa alay sih 😂😂 wkwk
    Minhoooooooooooo!!!! Yakali lo mau jawab telfon di toileeeetttt astagaaaaaaa jorooookkk!! Untung sayang *fiuh*
    Ujujuju yg gamau pisah~ sana" tinggal bareng aja~~

    Aaaaakkkkkk Taeyeon ahjumaaaa!!!!
    Terinakasih karena sudah merestui lovebird kami! Terimakasih karena membuat mereka berdua dekat lagi! suka suka muah 😘
    Aku juga akan meningkatkan rasa hormatku ke ahjuma jadi sepuluhribu kali lipat 😂😂😂😂😂😂😂 hahahaha

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s