2Min-Damaged [Vacation & Surprise]


Damaged – Original Story by Ichigosama (Nikki)
Translation all right reserved by Twominyeah

<< Part 16 – 2Min-Damaged [Drama, 37, & Way Back Home]

WARNING!!!
YAOI (BoyxBoy), SMUTT, & RATE 17+.
Konten yang disajikan dalam chapter ini bersifat dewasa, tidak untuk dibawah umur, dan yaoi (BoyxBoy)
Jika tidak suka dimohon untuk tidak membaca, bashing (menghina), dan silahkan tinggalkan website ini!

Vacation & Surprise

 

Taemin mencoba mengingat semua hal yang bisa menyebabkan ia berada pada situasi yang sulit seperti saat ini, tapi setelah beberapa menit mengumpulkan pikirannya yang berantakan, dia tidak menemukan alasan mengapa ia bisa berada dalam situasi ini.

            “Ah, Minho! Ini memalukan.”, ia terengah dan meringis, dimana ia saat ini sedang terbaring dikasur—telanjang dan terlihat oleh satu-satunya oleh orang yang bisa melihatnya dalam situasi seperti ini.

Kenapa? kenapa dia harus setuju untuk sekamar dipenginapan dengan namja cingunya? Jika saja dia sekamar dengan Key atau yang lainnya, dia tidak akan berada dalam situasi ini. Taemin memaki dirinya sendiri karena terlalu polos menyetujui untuk sekamar dengan Minho. Ini bukannya dia tidak mau untuk sekamar dengan Minho untuk dua minggu di penginapan, atau melakukan hal dengannya ketika yang lainnya tidak ada—tapi ini sungguh memalukan.

Taemin menutup wajahnya dengan kedua matanya seraya ia terengah, udara disekitarnya seperti menekannya dengan setiap gerakan jari Minho didalamnya. Itu hanya kedua kalinya dia merasakan sesuatu menyentuhnya ‘dibawah sana’, dan dia sama gugupnya dan malunya seperti pertama kali.

            “Taemin, aku bilang jika kau mau berhenti, katakan saja.”, Minho membuang nafas, melanjutkan perlahan menghunuskan jarinya keluar dan masuk dari lobang senggama kekasihnya. Dia hanya tidak mengerti sikap antik kekasihnya. Mereka pernah melakukan nya sebelumnya, kenapa dia harus malu untuk yang kedua kalinya?

            “Tidak, aku tidak ingin berhenti.”, Taemin terengah, “Aku hanya…hanya saja…”, ia mencoba berkata, kemudian diam dengan cara membungkam bibirnya menjadi segaris.

            “Tae, jika kau menikmatinya, katakan saja.”, kata Minho, “Tidak perlu malu, Baby. Hanya tinggal kita saja.”

            “Itulah intinya!”, Taemin membuka tangannya dari wajahnya, menunjukkan bahwa dia hampir saja menangis—dari rasa nikmat dan juga dari rasa risih, Minho tidak yakin lagi. “Aku malu karena kau—well, bukannya aku tidak akan malu jika ini orang lain—tapi kau tahu maksudnya! Aku hanya… aku ingin ini berarti untukmu… dan…”

 Minho berhenti menggerakan tangannya dan perlahan menariknya keluar, mendapat rengekan dari Taemin. Dia merunduk ke arah Taemin dan mencium bibir Taemin dalam ciuman manis, “Dan apa, Baby?”

            “Dan aku hanya merasa aku harus melakukan yang sama untukmu, tapi aku tidak bisa karena aku tidak tahu dari mana memulainya, atau bagaimana untuk…”, Taemin mengungkapkan dengan mata menatap pundak Minho yang kekar dari pada ke matanya. Dia merasa dia kurang pengalaman; dia merasa butuh untuk melakukan sesuatu dibanding hanya berbaring disana dan menerimanya, namun dengan pengalamannya—atau kekurangannya—dia bahkan tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia merasa begitu bersalah pada Minho; dia harus melakukan semuanya.

Minho harus menahan erangannya. Kenapa namja cingu nya harus menjadi dramatis disaat seperti ini, dibanding lain waktu? Taemin tampaknya lupa bahwa sebenarnya mereka berdua sama-sama merasakan panas dan juga terganggu dibagian intim mereka—dan Minho tidak tahu jika dia bisa menahan lebih lama lagi sebelum dia bisa memuaskan dirinya sendiri. meski begitu, dia mendaratkan bibirnya di leher Taemin dan melanjutkan dengan tingkat kesabarannya, “Lalu apa masalahnya? Aku tidak meminta apapun lagi, kau tahu itu.”

            “Tapi aku hanya ingin kau juga merasa puas seperti aku.”, gumam Taemin

            “Siapa bilang aku tidak?”, tanya Minho berdecak, “Taemin, kau begitu luar biasa. Setiap kali aku menyentuhmu, tanganku rasanya seperti sedang membelai sutra. Setiap aku melihatmu, aku berterima kasih kepada Tuhan untuk memberikan ku seseorang yang begitu cantik untuk aku rasa dan aku lihat dan aku dengar setiap hari. Ketika kulitmu menyentuhku, aku merasa seperti terkena api dan tidak ada yang bisa membuatku terhindar dari itu, aku merasa seperti aku tidak bisa bernafas saat berada begitu dekat denganmu…ketika ada berada didalammu, aku merasa—“

            “Minho…”, Taemin memotongnya, pipinya mulai memanas dan memerah.

            “Ketika aku ada didalam mu.”, namja berambut hitam itu melanjutkan dengan cengiran nakal, “Aku tidak pernah merasakan hal seperti itu. sama sekali tidak ada yang bisa menggantikan kebahagiaan yang kau dan tubuh indah mu berikan padaku, Taemin.”, bisik Minho. “Aku tidak tahu mengapa kau begitu terganggu oleh hal ini, kau memberiku segalanya hanya dengan membiarkanku menyentuhmu, Baby.”

Kata-kata Minho begitu tulus dan berbisik dengan nada yang manis, dimana mereka membuat mata Taemin untuk akhirnya menatap matanya. Dia semakin merasa malu sekarang, namun sebuah buratan merah tercetak di wajahnya.

            “Benarkah?”

            “Ya.”

            “Kau manis sekali, Minho.”, Taemin tersipu.

            “Dan kau terlalu drama queen.”, balas Minho, “Tapi aku mencintaimu.”

Akhirnya, sebuah senyum terkembang di wajah Taemin; sederet gigi yang putih terpampang didepan Minho untuk melakukan hal yang sama. Dia letakan ciuman di bibir Taemin lagi dan menahannya lebih lama, ciuman yang mesra, seraya jemari Minho kembali kepada posisi sebelumnya. Saat ini, Taemin membuka lebar kakinya, dengan percaya diri melingkarkannya ke pinggul kekasihnya saat dia rasakan digit licin bergerak masuk kedalam tubuhnya.

            “Apa rasanya nikmat?”, tanya Minho disela bibir Taemin, pertanyaan yang memalukan.

            “Y-ya.”, Taemin terengah, membiarkan matanya tertutup lagi. Ia buang jauh-jauh rasa tidak enak dan mencoba untuk fokus pada kenikmatan yang dia rasakan; kenikmatan yang Minho berikan kepadanya.

Dengan cepat, member namja berambut hitam itu menegang saat ia menjelajahi tubuh kekasihnya dengan jemarinya. Terakhir kali mereka melakukan ini sudah lama, sepertinya, tapi sekarang—Minho lebih siap dari pada saat pertama kali mereka melakukannya. Dia bahkan membawa pelumas dan kondom untuk perjalanan ini, tahu betul bahwa dua minggu tanpa pengawasan orang tua dan kebebasan melakukan apa saja yang mereka inginkan sangat penting bagi mereka berdua. Key dan Onew—dia yakin teman-temannya melakukan hal yang sama diruangan lain, dia hanya memilih untuk tidak memikirkannya.

Segera, Minho menambahkan jari ketiganya untuk bergabung dengan kedua jari yang sudah berhasil masuk dan keluar dari lobang senggama Taemin. “Apa sakit?”, tanyanya ragu, perlahan memperhatikan eskpresi Taemin dari tanda ketidaknyamananan.

Namja lebih kecil hanya menutup matanya dan membuang nafas, tapi menggelengkan kepalanya tanda negatif, “Tidak, lanjutkan saja~”

Itu berlangsung dengan ‘lanjutkan’ dan ‘tidak, tidak sakit’ diantara keduanya sampai akhirnya mereka maju ke proses selanjutnya. Rasanya lama sekali, tapi Minho bertahan dengan sabar sampai Taemin akhirnya memberikannya signal, dengan gumaman malu dia berkata, “Kau bisa memasukkannya sekarang.”

Meninggalkan tubuh kekasihnya sebentar, Minho mengambil sebuah kondom dari laci meja dan dengan susah payah, dia memasangnya di membernya yang panjang. Gemetar dan begitu semangat sama seperti pertama kali, dia membungkuk sampai dia berada tepat di atas Taemin, menopang tubuh dengan siku, dan perlahan, sangat perlahan, mulai memasukkan ereksi nya kedalam lobang senggama Taemin yang sempit.

            “mianhe, mianhe, mianhe.”, Minho mengucapkan ketika rasa bersalah masuk kedalam hatinya, melihat wajah Taemin meringis kesakitan saat membernya yang agak besar menyerbu senggamanya. Tangan namja itu menemukan jalannya ke punggung Minho, sehingga memutuskan utnuk menancapkan kuku nya di kulit licin dan berkeringat.

            “L-lakukan saja d-dengan cepat, Minho.”, desis Taemin, “L-lebih menyakitkan j-jika kau p-pelan-pelan…”

Minho menurutinya. Dengan satu dorongan cepat, dan seruan kecil rasa sakit dari Taemin, dia benar-benar terbenam kedalam ruang senggama kekasihnya. Mata Minho menutup tanpa sadar dan mengerang, tubuhnya gemetar bahkan lebi—saat lubang senggama Taemin mengencang di sekelilingnya.

Ini lah hal yang paling ia benci sekali. Karena disaat dia merasakan kenikmatan, kekasihnya merasakan kesakitan; dan rasa sakit itu membawanya hingga air mata keluar dari mata namja itu.

            “Aku minta maaf.”, ulangnya.

            “Tidak, tidak apa.”, Taemin tersenyum disela rasa sakitnya, “tidak begitu sakit dibanding sebelumnya.”

Minho mengangguk. Dia berharap itu tidak begitu sakit. Dan dia berdoa bahwa tidak akan ada darah lagi. Dengan menoleh sesaat ke arah membernya, dia begitu lega karena tidak menemukan darah keluar dari lobang senggama malaikatnya. Dia akan mati jika hal itu terjadi lagi.

            “Katakan padaku kapan aku bisa memulai.”, Minho menginformasi dengan nafas bergetar, menggigit bibirnya dan mencengkram sprei dengan erat untuk menghiraukan perasaan nikmat untuk memulainya bergerak maju dan mundur.

Taemin mengangguk, “Ya, berikan aku sedikit waktu.”

            “Luangkan waktumu, Baby.”, jawab Minho sambil tersenyum tegang, “Kita punya banyak waktu.”

Taemin bergumam setuju, menarik Minho untuk bisa menautkan lidah mereka kedalam ciuman dan mengurangi fokus kepada punggungnya yang sakit dan terasa terbakar. Sungguh, ini tidak terlalu menyakitkan dari waktu pertama mereka. Tapi tetap saja sakit. Sangat.

Tapi dia akan menanggungnya dengan segenap kekuatannya. Dia akan memberikan segalanya untuk Minho, apapun untuknya.

            “Minho, kau bisa mulai sekarang.”, bisik Taemin setelah beberapa menit bernafas gemetar. Dia membuka matanya lagi dan menemukan tatapan Minho yang penuh semangat menatap ke arahnya, membuat bulu kuduknya merinding, “Dengan lembut, oke?”

            “Aku tidak akan pernah tidak bersikap lembut padamu, Tae.”

            “Aku tahu.”, Taemin tersenyum, “Aku hanya mengingatkan. Karena sepertinya kau ingin memakanku.”

Minho tertawa hanya untuk sesaat, “Nah, memang saat ini, kau terlihat begitu lezat dimataku..”

Itu benar; Taemin tampak benar-benar terlihat ingin sekali dimakan oleh seseorang, dan Minho bersungguh-sungguh dengan sepenuh hatinya. Siapa yang bisa mengatakan sebalikanya sementara Taemin ada disana, dalam keadaan telanjang dalam semua keindahannya dan terbentang dengan anggun, dengan rambut coklatnya yang baru dicat itu terurai di atas bantal di belakang kepalanya, dan kulit yang bercahaya dari lampu kecil yang bergantung di atas tempat tidur mereka?

Betul. Tidak ada yang bisa. Karena tidak ada yang bisa melihat Taemin-nya seperti ini kecuali dia.

Itu hanya hak nya untuk posesif kepada kekasihnya, ya kan?

Minho percaya hal itu bisa terjadi. Taemin adalah miliknya dan hanya dia satu-satunya. Dan saat itu membuktikan semuanya yang ia percayai. Taemin sangat bersikeras untuk memberikan semua yang dia miliki padanya, bahwa Minho tidak bisa tidak menerimanya, dan menyimpannya sebagai miliknya.

            “Ani, Hyung. Sebenarnya kau lah yang terlihat begitu mengundang untuk dimakan…lihat lah abs coklat mu!”, Taemin terkikik.

            “Hmm…point yang tepat.”, Minho tersenyum, “Well, bisakah aku mulai bergerak sekarang atau kita akan terus melanjutkan obrolan kecil kita lebih lama lagi?”

Taemin cemberut, “Akukan sudah bilang kau bisa mulai.”

            “Well,tidak masalah jika aku memulainya kan~”

Percakapan ringan itu membantu rasa malu Taemin surut, itulah mengapa erangan yang tidak terkendali diikuti saat ereksi besar member Minho mulai masuk dan keluar dari liang senggamanya, mendorong menemukan bagian sensitifnya dan mengirimkan getaran kebagian atas punggungnya terus menerus. Untuk beberapa saat, dia mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, namun begitu sulit setelah Minho memulai mempercepat gerakannya.

Jika Taemin adalah seekor kucing, maka Minho adalah tempat nya untuk menggaruk (kucing biasanya mencari tempat untuk menggaruk cakarnya).

            “Damn, Tae.”, Minho terengah disela gerakan pelannya, “Kau tidak begitu kasar begini terakhir kali.”

            “M-Mianhe—aah!”, Taemin mendesah, mencakar punggung Minho sekali lagi.

            “Gwencana…aku menyukainya.”, namja berambut hitam itu tersenyum, meskipun dia sangat takut saat dia menyentuh prostat Taemin, karena ketika hal itu akan terjadi—

            “Oh God!”

Ketemu. Ouch.

Tubuh atas Taemin langsung saja bangkit dari atas kasur dan ia menghujamkan kukunya ke punggung kekasihnya seperti itu adalah hal terakhir yang bisa ia lakukan. Mengeluarkan tangisan erotis karena ia mencapai puncak kenikmatannya, dia sementara dibutakan oleh secercah cahaya putih ketika kenikmatan itu mencapai titik nya. Minho telah menemukan prostatnya, dan Taemin bersyukur sekaligus berterima kasih kepada Tuhan secara bersamaan karena telah memberikannya kesempatan itu, karena ketika ia kehilangan kesadarannya—itu terasa begitu luar biasa.

Itu begitu lebih, lebih baik dibandingkan terakhir kalinya yang bisa ia ingat.

Minho tidak memberikan ia kesempatan, melainkan, mulai mendorong ke spot yang sama seraya ia mempercepat gerakan tubuhnya. Panas di bagian pahanya mulai menguras seluruh otot-ototnya, tapi dia terus melakukannya—apapun untuk membuat malaikatnya menikmatinya sampai dia benar-benar puas. Sebagai reaksi, tangisan erotis Taemin bergema didalam kamar hotel mereka yang agak besar.

            “A-apa kau suka?”, Minho bertanya lagi, terdengar sombong saat ini karena dia tentu tahu bahwa Taemin merasa menyukainya.

Dan sekali lagi, namja yang lebih kecil itu tidak lagi merasa malu pada dirinya sendiri disamping kenikmatan yang membakar seluruh tubuhnya. Dia bahkan hampir tidak berbaring di tempat tidur sekarang, bagian atas tubuhnya didukung oleh sandaran tempat tidur dibelakangnya dan salah satu lengan Minho melilit tubuhnya—ia sudah dalam keadaan menangis dan tidak tahu lagi apa yang kurang dan lebih nya.

Rasanya seperti pertama kali melakukannya—hanya sedikit lebih baik.

            “Y-Yes! Oh, Minho yes!”, ia mendesah tanpa rasa malu yang seharusnya dia dapatkan jika tidak di hujam terus menerus oleh kekasihnya, “B-bagaimana dengan m-mu?”

            “Luar b-biasa, babe.”, Minho menjawab dengan cepat. Dia genggam pundak Taemin dengan satu tangan dan menahan beratnya pada nya, rasa panas yang membakar membuat keringat berlimpahan dari pori-pori mereka.

            “Saranghae, neomu saranghaeyo.”, Taemin mengakuinya, tetap mendesah di setiap ujung hembusan nafasnya, “Jangan berhenti! Kumohon, jangan berhenti.”

            “N-nado Saranghaeyo. Aku tidak-a-akan berhenti, baby…tidak-a-akan.”

Mereka tidak tahu berapa lama waktu terlewatkan setelah itu, namun rasanya seperti lama sekali. Sebuah keabadian dengan kesulitan bernafas, desahan yang panjang, dan cakaran di punggung Minho. Keduanya tidak ingin itu berakhir, tapi seks hanyalah pilihan kedua mereka—karena daya tahan tubuh mereka sebetas apa yang bisa mereka capai sampai saat itu.

            “Oh…shit. Aku ingin…”

Itu Minho yang pertama kali merasakan panas di perutnya.

            “T-tunggu aku.”

Minho menyetujuinya, dan ia melakukan sebisa mungkin untuk menahan sensasi panas diperutnya sampai kekasihnya itu sampai puncaknya. Memilih untuk mempercepat gerakan erotisnya, dia lepaskan pundak Taemin dan menurunkan tangannya untuk meraih member Taemin kedalam genggamannya, mendapatkan reaksi punggung namja dibawahnya melengkung ke atas dan lolongan yang begitu erotis dan tidak tertahan dari mulut Taemin, bersaman dengan setengah sebutan dari namanya dipanggil.

Butuh beberapa detik untuk Minho menyadari bahwa kekasihnya telah melepaskan beberapa orgasme nya ditangannya. Baru ketika namja itu mulai mengencangkan dinding senggama disekeliling membernya, dia menyadari hal itu—dan dia juga sampai pada orgasme puncaknya di menit berikutnya.

            “Taemin, oh god!”

Teriakan nya sangat nyaring sehingga Taemin bersumpah akan membunuh dirinya sendiri dimeja makan esok pagi ketika mereka bertemu wajah menjengkelkan teman-temannya yang ada disebelah kamar mereka keesokan hari. Meski begitu, dia tidak bisa menahan perasaan nya bhawa Minho meneriakkan namanya saat klimaks. Hal itu membuat dia bangga dan hangat didalamnya, dan membiarkan dia tahu bahwa dia telah menyebabkan ekspresi erotis yang ada diwajah kekasihnya itu.

            “Minho.”, Taemin bergumam kembali, mengeluarkan desahan nikmat ketika ia rasakan panasnya orgasme Minho didalam kondom.

Dan seperti waktu dulu, tidak mudah untuk menstabilkan nafas mereka dan segera sadar dari kenikmatan yang mereka dapatkan. Kedua pasangan saling mencintai itu tidak bergerak untuk sementara, tetap menyatu satu sama lain dengan Minho merasa tidak ingin untuk mencabut membernya dari liang senggama yang hangat itu.

            “Itu begitu luar biasa, Tae. Sangat luar biasa, ya kan?”, Minho berdecak setelah ia bisa mengatur nafasnya.

            “Ya, pastinya,”, kekasihnya setuju, “Meskipun begitu…aku minta maaf karena sudah mencakar punggungmu. Sekarang kau harus mengenakan kaos jika pergi ke pantai besok.”

            “Hmm? Kata siapa aku harus? Aku akan tunjukan kepada semuanya bagaimana aku menikmati malam ini.”, kata Minho membalasnya.

            “Oh, diamlah.”

            “Salah mu sendiri terlalu kasar…atau apa aku terlalu baik melakukannya, hmm?”

            “Sekarang kau semakin sombong.”, Taemin cemberut.

            “Akui saja lah…”

Namja berambut coklat itu menjulurkan lidahnya, dengan maksud menunjukkannya layaknya anak kecil, dimana namja berambut hitam itu mengambil kesempatan untuk meraih bibir kekasihnya yang sudah ‘babak belur’ kedalam ciuman yang hangat dan penuh sayang.

            “Saranghaeyo, Tae,” ia berbisik disela bibirnya, memberikan arti disetiap kata nya seperti pertama kali dia pernah ucapkan itu sebelumnya.

Minho tidak butuh menunggu lebih lama bagi Taemin untuk mengatakan hal yang sama.

            “Jika aku tahu kalian akan melakukan seks sepanjang malam, aku tidak akan mengundangmu ke liburan ini. Oh my God, aku tidak bisa tidur semalaman karena kau!”

            “Kibum!”, bentak Minho, kesal pada temannya karena tega mengucapkan kata-kata kasar didepan Taemin.

            “Diamkau, horndog! Kenapa kau harus terus melakukan nya pada Taemin? Sekarang dia tidak memiliki cukup energi untuk perjalanan kita ke pantai hari ini.”, Key berpaling kepada namja yang mungkin juga sudah bersemu merah padam di pipinya, dan mencubit pipinya dengan sayang, “Jangan khawatir, Baby. Aku tidak marah padamu! Aku marah pada namja cingu horndog mu yang tidak bisa sama sekali menjaga apa yang ada didalam celananya.”

Onew sama sekali tidak mengerti apa yang Kibum katakan. Dia tidur lelap sekali setelah dia dan Kibum melakukan apa yang sama sekali tidak terucapkan, namun dia memutuskan untuk ikut campur, “Kibum, tenanglah. Minho sudah berumur 17 tahun dan Taemin juga akan segera berulang tahun. Kita berada dipenginapan tanpa pengawasan orang tua, apa yang bisa kau harapkan?”

            “Bahwa dia tidak melakukannya pada Taeby sampai jam dua pagi! Ya Tuhan, dia bahkan terdengar seperti sedang membantai baby ku yang malang. Ya tuhan, kau tidak dengar teriakan Taeby semalam?!”, Key menghela nafas, jengkel dan bersikap seperti diva.

            “Hentikan, Kibum.”, Minho melirik kesal.

Namja itu tidak perduli tatapan membunuh yang ia terima. Dia tetap melanjutkan tanpa malu, memberikan tatapan penasaran dari beberapa orang disekitar meja mereka, “Serius, kalian begitu berisik. Atau apa dinding begitu tipis? Dia tidak begitu hebat, ya kan Taeby? Maksudku, pastinya Minho masih perjaka dan—“

            “Hey, guys. Apa kabar?”, sapa Jonghyun, namja itu datang masih dengan rambut berantakan dan masih dengan piyama nya. Ia terlihat sama buruknya dengan yang lainnya…kecuali Onew yang punya waktu cukup istirahat semalam.

            “Biasa saja. Kenapa kau punya lingkaran dibawah matamu?”, Onew bertanya, menunjuk pada lingkaran hitam dengan sumpitnya.

Jonghyun mengangkat bahu, “Taemin begitu berisik sekali tadi malam, aku tidak bisa tidur. Dia terdengar seperti dia sedang kesurupan, tapi sebuah kesurupan yang erotis. Aku tidak tahu, Man, aku rasa aku mendengar Minho juga. Kalian tidak seharusnya fu—umm, melakukan intercourse tepat disebelah kamarku, lagipula—Kibum, apa kau berniat makan itu?”

Tepat saat itu juga, Taemin memandang garpu didepannya dengan begitu ingin menusuk dirinya sendiri dengan itu. Kenapa juga ia harus setuju untuk dikenalkan kepada ‘sahabat terbaik’ kekasihnya itu lagi? Dan yang lebih penting, kenapa juga dia setuju untuk menghabiskan dua minggu liburan musim panas di sebuah penginapan yang jauhnya enam jam dari rumahnya dengan mereka?

Taemin kali ini memberikan tatapan ‘bunuh aku sekarang’ kepada kekasihnya, dimana namja itu hanya membalasnya dengan senyuman minta maaf.

Tentu saja, ini akan menjadi liburan yang sangat panjang.

            “Apa kau masih kesakitan?”

Taemin menarik nafas atas pertanyaan yang dilemparkan padanya itu untuk kesekian kalinya sejak mereka bangun hari itu. Ia menggelengkan kepala sebelum merebahkan badannya didada Minho, namja tinggi itu telah memeluk nya dari belakang saat mereka memandang ke atas langit melihat bintang dari balkon mereka, “Aku seharusnya menanyakan hal yang sama.”, Taemin menoleh dan memberikan tatapan khawatir.

            “Aku tidak apa-apa. Aku hanya bertanya jika kau masih merasakannya.”, balas Minho, lengannya mengeratkan pelukan di sekitar pinggang ramping kekasihnya.

Desahan lain keluar dari bibir namja itu, “Well, aku tidak apa-apa, jadi kau tidak perlu khawatir lagi. Jangan pikir aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan dikepalamu itu, dan kau harus tahu bahwa ini bukan salahmu.”, Taemin memastikan.

            “Hal yang normal untuk merasakan sakit sedikit. Kau berusaha memasukan sesuatu disana.”, katanya sedikit gemetar.

            “Aku tidak akan pernah mencoba itu lagi selama hidupku, tapi aku akan meminta maaf.”, Minho tersenyum, “Mianhe, Minnie~meskipun kau bilang ini bukan salahku.”

Taemin memutar bola matanya, “Baiklah, permintaan maaf yang tidak dibutuhkan diterima.”

            “Oh my Minnie sungguh murah hati. Terima kasih!”

            “Diamlah. Kau merusak suasana.”, Taemin merengek, memberikan sekali lagi lengan Minho pukulan pelan. “Jika aku ingin menghabiskan malam hanya mengobrol saja maka aku seharusnya memanggil Kibum kesini.”

Sebuah cibiran kecil menghiasi bibir Minho, “Lalu apa yang seharusnya kita lakukan disini selain mengobrol?”

Taemin menunjuk ke arah langit malam, yang dihiasi dengan bulan yang penuh dan titik-titik bintang dimana-mana. Tentu itu adalah malam yang begitu indah, sesuatu yang tidak selalu bisa mereka nikmati di kota dimana lampu-lampu lebih terang dibanding bintang, “Mengobservasi.”

            “Mengobservasi apa?”

            “Bagaimana malam bisa begitu indah.”, Taemin menjawab dengan sebuah senyuman.

Namja tinggi itu mendengus, “Bagaimana mungkin bisa aku melihat keindahan dari itu semua ketika kau menutupi semuanya dengan dirimu sendiri?”, Minho menyengir, “Kau gila jika kau pikir aku kan bisa berkonsentrasi dengan hal lain jika kau disini, Love.”

            “D-diam lah.”, Taemin mendengus setengah hati, pipinya sudah mulai mengeluarkan guratan merah muda, “Berhenti menghujaniku hanya karena kau bisa melakukan sesuatu pada ku nanti. Aku tidak kemakan rayuanmu!”

Minho meletakkan bibirnya di sisi kening namja itu, sebuah tawa menggema dari dalam dadanya, “Siapa bilang aku akan mencoba melakukan sesuatu? Yah, Minnie! Kau memikirkan sesuatu hal yang nakal?”

Taemin menggeliat didalam pelukan namja itu, “A-anio! Aku tidak pernah mengatakan begitu, babo!”

            “Lalu apa yang kau maksud dengan ‘melakukan sesuatu’, hm?”, ledek Minho, mencium kepala Taemin lagi. “ByunTae~” (*Byuntae (변태) = cabul, pervert, mesum)

            “Ani!”

            “Taeminnie’s a pervert!”

            “Yah! Aku pikir aku sudah jelas mengatakan bahwa aku disini untuk tidak berbicara atau melakukan apapun!”, sergah Taemin, berulang kali menyikut tulang rusuk Minho dengan kekuatan minimum. “Diam atau aku akan melemparmu keluar balkon.”

Minho tertawa kencang dengan ancaman tidak masuk akal itu, “Oh ya? Kau bahkan tidak bisa lepas dariku, meski kau ingin melakukannya.”,

Namja pendek itu berusaha melepaskan diri lagi, berusaha sebisa mungkin untuk mengalahkan kekuatan tangan Minho disekitar tubuhnya, namun gagal, “Hpmh! Aku bisa jika aku ingin, tapi aku lelah sekarang jadi aku berikan kau kesempatan. Anggap saja sebagai pemberian dariku.”

            “My, My. Aku begitu tersanjung kalau begitu.”, Minho tersenyum lebar.

            “Yeah, kau bisa pikir begitu.”, ucap Taemin, “Jadi diam dan biarkan aku tenang, frog face!”

            “Aish, kau moody sekali hari ini, Taemin.”, namja tinggi itu protes. Meski begitu, ia memeluk Taemin lebih dekat ke tubuhnya—begitu dekat sehingga Taemin bisa merasakan detak jantung kekasihnya dipunggungnya. Ritme teratur berdebar-debar perlahan menenangkan kerutan di alisnya, dan akhirnya, itu membuat tubuhnya menjadi lebih santai.

Akhirnya, lebih dari yang Taemin inginkan; kesunyian menemaninya hanyalah suara ombak yang terdengar dikejauhan dari arah pantai, bunyi suara jangkrik dari kejauhan, dan juga mulut Minho yang terdiam.

Taemin merasa sebuah senyum terpancar dari wajahnya, dimana hal yang tidak bisa ia hindari seraya ia menutup matanya dan menghirup bau laut yang segar. Udara begitu menyegarkan sesuai dengan pemandangan yang ada. Taemin berharap ia bersama dengan keluarganya; Kai akan menyukai pantai diumurnya yang begitu muda dan masih ingin bermain.

            “Aku ingin membawa Kai dan Umma kesini suatu hari. Mereka akan suka disini.”, Taemin membuang nafas bahagia.

            “Aku rasa begitu.”, jawab Minho. “Oleh karena itu aku sudah buat rencana untuk kembali ke sini tahun depan.”

Taemin mendongakkan kepalanya, sebuah tatapan bingung tiba-tiba menghiasi wajahnya, “Tahun depan?”

            “Ne.”

            “Kenapa tidak sesegera mungkin?”

Minho hanya tersenyum, “Kau akan lihat nanti.”

Taemin cemberut, “Yah, apa maksudnya dengan ‘Kau akan lihat nanti’?”.

            “Tahun depan, Minnie. Akan jadi sebuah kejutan.”, namja tinggi itu membalas, sebuah kilatan nakal dimatanya merumuskan seribu pertanyaan di kepala Taemin.

            “Terserah.”, gumam Taemin, mengembalikan pemandangannya ke hitamnya laut malam itu, “Babo.”

Satu tahun terlewat sudah setelah malam di balkon saat itu. 365 hari sejak janji yang tampaknya tidak berarti untuk kembali lagi kepantai itu dibuat.

Taemin telah melupakannya seketika setelah ia meninggalkan penginapan itu, namun Minho tentu tidak. Janji yang sudah ia buat telah ia ukir layaknya di atas batu—dan disanalah mereka kembali, di pantai yang sama, di tanggal yang sama, namun dengan banyak orang.

            “Apa kau yakin sudah menyiapkan semuanya, Honey?”, Umma nya bertanya padanya untuk kesekian kalinya hari itu. Dia hanya terlalu bersemangat sama sepertinya, pastinya lebih dari yang dibayangkan.

Namja tinggi itu sedikit mendengus dengan Umma nya yang meragukannya. Tentu saja semuanya sudah disiapkan; dia sudah menyiapkan segala sesuatunya sampai ke hal paling kecil. Kembang api, lampion, champagne, surprise party, kado-kado—semuanya sudah direncanakan. Dengan pertolongan temannya Kibum, Minho sangat yakin bahwa tidak ada yang akan gagal malam itu.

Dia dan malam Taemin, lebih tepatnya. Itu semua masalah waktu dan eksekusinya.

Dan tentu saja, dengan setumpuk keberanian.

            “Disinilah aku, hampir berumur sembilan belas tahun dan tetap tidak lebih tinggi darimu atau Jinki.”, Taemin membuang nafas dramatis, “Bagaimana aku bisa terus hidup didunia ini? Bahkan Minho bertambah tinggi! Bagaimana denganku?!”

Kibum memutar bola matanya sementara menata rambut merah lembut didepannya dengan sisir, mengamati ekspresi putus asa Taemin di cermin.

            “Setidaknya kau bukan Jonghyun. Dia tidak bertambah tinggi se-inci pun sejak menginjak SMA.”, Kibum tertawa.

            “Yeah.”, jawab Taemin setuju. “Tapi dia semakin kekar. Aku sudah pergi ke gym juga dan masih belum ada perkembangan apapun.”, komplainnya, “Aish. Bagus Minho tidak tertarik dengan namja yang sama kekar nya dengan dia sendiri.”

            “Apa kau yakiiinnn~?”, ejek Kibum.

            “Y-yah!”, Taemin mengerutkan alis, “Aku yakin dia tidak! Dia bilang padaku bahwa namja kurus lebih kepada tipe nya.”

            “Mhhmmm, okay.”

Taemin terkesiap, “…atau dia hanya mengatakan padaku begitu karena aku memang kurus?”

            “Aku rasa tidak.”, Kibum tersenyum.

            “Omo! Aku tidak pernah menyadari sebelumnya!”, Taemin panik, “Keeeey, apa yang harus aku lakukan?!”

            “Taemin, bisakah kau diam dan biarkan aku menyelesaikan rambutmu? Kau terlihat begitu mempesona.”, Kibum sumringah, “Minho akan meneteskan air liurnya akan penampilanmu dan kau tidak perlu khawatir mengenai hal-hal yang tidak penting terlintas dikepalamu.”

Namja berambut merah itu bergidik, “Aku lebih memilih dia tidak meneteskan air liurnya di dekatku.”, katanya, “Lagipula, aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi disini! Tidak ada yang mengatakan apapun padaku! Bahkan tidak Jinki atau Umma atau staff penginapan!”

            “Itulah kenapa ini disebut surprise, sayang…”, Kibum terkekeh.

            “Aish, aku benci suprise.”, Taemin menyilangkan tangan depan dadanya, “Ini lebih baik bukan seperti ‘melempar pie kepada yang diberikan suprise’.

            “Aku jamin, Taemin. Tidak ada hal seperti itu.”, Kibum tersenyum, memberikan sentuhan terakhir di kepala Taemin—atau bisa dia bilang; mahakaryanya. “Ini adalah sebuah kejutan besar dan Minho sudah merencanakannya dari enam bulan sebelumnya, dengan pertolongan aku juga, tentu saja.”

Enam bulan lalu?! Ini tambah membuat namja berambut merah itu mengerutkan alisnya. “Kau tidak perlu berlebihan…ini bukanlah ulang tahun ku atau apapun.”

            “Benar sekali.”

Memutar tubuhnya yang duduk di kursi, Taemin mendongak kepada teman adroginus nya, ‘Jadi kenapa kau melakukan ini?”, tanyanya, “Aku sangat tidak suka ketika kau melakukan hal berlebihan untukku. Meskipun aku menghargainya, aku tidak ingin kalian melakukan banyak hal hanya untukku.”

Kibum hanya tersenyum simpul. Menepuk pipi Taemin dengan sisir, dia berkata, “itulah intinya, Minnie. Ini semua untukmu. Oleh karena itu kita ingin hal yang paling sempurna.”

            “Tapi—“

            “Sekarang berpakaianlah!”, Kibum menyela dengan memberikan perintah, “Aku ingin melihat mu dengan celana luar biasa itu, ppali!”.

Taemin membuang nafas. Tidak seorang pun yang memberikan ia klue, bahkan tidak dengan Umma nya yang jelas menjadi bagian dibalik semua ini! Apa yang hendak dilakukan oleh keluarganya dan juga teman-temannya? Ini bukan ulang tahunnya, bukan juga hari anniversary mereka…

Apapun itu, itu membuatnya sangat cemas.

            “Seseorang lebih baik lempar sesuatu padaku atau aku akan—“

            “Sshh. Minnie. Kita sampai.”, Kibum berbisik padanya.

Taemin merasa dia sendiri diantar ke suatu tempat yang gimana juga dia belum pernah sama sekali. Penutup mata yang Kibum ikatkan dikepalanya tidak memberikan dia kesempatan melihat apapun, bahkan tidak setitik siluet, namun dia mendengar bisik-bisik disekitarnya, dan dentuman sol sepatu seraya orang-orang menuju ke tempat yang sudah ditentukan.

Wow. Ini sangat memalukan.

            “Dimana aku?”, dia menanyakan, menoleh kepalanya kesana sini, mencari sumber suara Kibum. Namun karena ia cemas, dia menyadari bahwa temannya telah pergi dari sisinya dan membiarkannya keluar ditempat terbuka.

Dia menggerakan tubuhnya tidak merasa nyaman, merasa sangat sadar saat suara-suara sunyi terus bergumam disekelilingnya. Dimana Minho saat dia membutuhkannya? Dia berpikir ini akan menjadi sebuah kejutan…

            “Taemin.”

Akhirnya!

            “Minho, ada apa ini? Kalian tidak akan melakukan hal yang aneh padaku kan?”

            “Taemin, aku bersumpah tidak ada yang akan melemparkan kue pie ke wajahmu. Lepas ikatan mata mu dan lihatlah sendiri.”, Minho berdecak.

Seraya membuang nafas apapun itu yang ada di rencanakan kekasihnya; Taemin melonggarkan simpul dibelakang kepalanya dan membiarkan kain hitam itu jatuh dari wajahnya.

Apa yang ada dihadapannya adalah hal terakhir yang paling ia harapkan.

Tidak ada kue pai yang menunggu untuk dilemparkan ke arahnya. Sebaliknya, ada orang yang berkerumun di sekitar mereka dalam lingkaran besar, semua berpakaian rapih untuk sesuatu yang tampaknya penting.

            “Taemin…”

Namja berambut merah itu menoleh ke arah kiri dan melihat kekasihnya berdiri disana, sebuah senyum lebar terkembang di wajah tampan nya. Butuh beberapa detik bagi Taemin untuk menyadari bahwa Minho memakai sesuatu yang jauh dari biasanya; sepasang celana panjang yang mewah, kemeja, dan blazer dengan sebuah dasi. Semi formal? Apakah kita ada acara pembaptisan?

            “Minho. Aku benar-benar bingung.”, Taemin bergumam, matanya mengelilingi sekitar pavillion penginapan untuk melihat siapa saja yang datang.

Dia melihat banyak wajah yang familiar, sebagian besar adalah mantan teman sekelasnya dan beberapa teman dekat, namun sisanya dari keramaian itu sebagian dari keluarga Minho. Taemin hanya melihat mereka sekali atau dua kali di kediaman Choi saat acara reuni ketika ia diundang untuk sebuah alasan.

Lalu … kenapa mereka disini? Taemin membayangkan.

            “Lee Taemin.”, Minho berbicara menggunakan sebuah mic yang dia pegang. Taemin bahkan tidak menyadari keberadaan benda itu sampai Minho menggunakannya.

Mata namja berambut merah itu terbelalak dengan wajah polos yang bingung seraya perlahan Minho menghampirinya, dengan langkah yang mantap. Nafasnya tercekat sesaat, entah kenapa dadanya merasa sesak dengan perasaan cemas, sampai Minho meraih nya ditengah-tengah lantai dansa.

Ia bernafas melalui hidungnya saat Minho meraih tangannya. Taemin menyadari bahwa dia agak gemetar, membuat ia penasaran kenapa Minho begitu gugup.

Apa yang terjadi? Taemin mencoba untuk bertanya padanya melalui tatapan mata, namun namja tinggi itu hanya melanjutkan senyumnya disamping tangannya yang gemetar.

            “Lee Taemin.”, Minho mengulang lagi melalui mic untuk bisa seluruh orang diruangan itu mendengar, “Kau tahu kenapa aku disini?”

            “Tentu saja tidak.”, Taemin bergumam, menggeleng kepalanya mantap, “Apa yang kita lakukan disini, Minho? Kenapa keluargamu dan teman-teman sekelas kita ada disini?”

            “Ini karena ada suatu hal yang ingin aku katakan padamu, dan mereka datang untuk menyaksikannya. Aku sudah mengundang semua orang yang penting bagi kita, dan mereka datang untuk mendengarkan aku melakukan sesuatu yang tidak bisa dipercaya malam ini.”, kata namja berambut hitam itu, “Dan kau mungkin suka atau tidak suka—tapi aku harap kau akan mendengarkan…dan aku harap kau tidak marah atau apa.”

Mata Taemin berpindah dari satu wajah ke wajah lain yang melihat padanya. Wajah mereka tidak memancarkan apapun selain senyuman, dan sesuatu dimata mereka mengatakan padanya bahwa sesuatu yang serius akan terjadi. Mereka tidak terlihat mereka akan melakukan hal usil padanya atau lain-lain.

            “Aku…aku tidak akan marah, aku janji.”, Taemin membalas tidak yakin.

Minho tersenyum lebih lebar diwajahnya. Aku harap begitu

Mengambil nafas dalam-dalam dari hidungnya, ia meletakkan mic didepan mulutnya dan mulai melakukan pidato yang paling mendebarkan dalam hidupnya;

            “Aku sudah memikirkan hal ini untuk waktu yang lama, Tae.”, mulainya, suaranya bergetar dan menggema diseluruh pavillion yang besar dan didekorasi dengan sangat indah, “dan aku berpikir, setelah beberapa bulan memikirkannya dan mengambil keputusan—aku merasa yakin untuk mengatakan bahwa aku siap melakukannya.”

Alis Taemin berkerut. Sebenarnya, melakukan apa?

Minho tetap menjaga tatapannya ke dalam mata Taemin yang bingung, meremas jemari tangan namja itu. “Aku sudah bertanya pada Umma ku, Appa ku, dan aku pikir semua orang tahu, jika aku telah mengambil keputusan yang tepat—dan mereka semua mengatakan hal yang sama…mereka bilang padaku bahwa aku terlalu muda untuk melakukan hal ini. Kita terlalu muda…”

Minho memberikan tatapan sejenak kepada Umma nya, yang sudah terlanjur berkaca-kaca karena emosinya, dan kemudian ke Appa nya, yang sudah jelas meluangkan waktu kerjanya untuk hadir di dalam acara yang begitu penting dalam hidupnya sejauh ini. Keduanya tersenyum dan mengangguk padanya untuk melanjutkan, dan hati Minho merasa lega karena dukungan keduanya.

            “Aku berusaha mempercayai mereka.”, lanjut Minho, mengembalikan tatapan sayang kepada Taemin yang terpana. “Aku mempercayai mereka dan melakukan semua rencana yang aku lakukan bersama Kibum untuk beberapa bulan ini. Aku berusaha untuk menjaganya tetap rahasia sebisa yang aku mampu, tapi … kemudian aku bertanya pada diriku sendiri; kenapa aku harus mempercayai semua ucapan orang lain jika aku sudah bisa membuat keputusan sendiri?”

            “Aku tahu, Taemin, bahwa kita masih sangat muda. Delapan belas tahun dan baru saja lulus dari SMA, aku tahu.”, Minho tersenyum, “Namun ini bukan sebuah ilusi terdistorsi tentang seorang namja yang jatuh cinta seperti yang dikatakan keluargaku, sama sekali bukan.”

Aku sama sekali tidak paham apa yang ia katakan… jantung Taemin mulai berdebar di dadanya. Untuk sebuah alasan, keseriusan di setiap kata yang diucapkan Minho membuat jantungnya berdebar tiga kali lipat. Taemin meremas tangan Minho dan menyadari bahwa itu tetap gemetar lebih dari sebelumnya.

            “Aku sudah habiskan banyak malam untuk meragukan diriku sendiri, bertanya jika aku melakukan hal yang tepat.”, lanjut Minho, “Namun kukatakan sejujurnya padamu, semua malam yang aku habiskan untuk mempertanyakan diri ku sendiri tidak pernah menghasilkan jawaban yang pasti, karena aku sudah tahu sendiri bahwa aku telah membuat keputusan ini sepenuh hati dan jiwa ku, bahwa rasanya tidak mungkin untuk menjauhi pilihan yang sudah aku buat…”

Minho, apa yang kau bicarakan? Taemin ingin mengatakannya, namun dia tetap terpaku ditempatnya, menatap kekasihnya dengan mata besarnya seraya speaker menggema kan setiap kata yang diucapkannya.

            “Jadi, Taemin.”, mata Minho bergetar ketika ia memanggil nama kekasihnya, “Kau tidak perlu memberikan jawabanmu padaku sekarang, saat ini pada momen ini, namun aku hanya ingin kau tahu bahwa aku ingin tetap membuat mu menjadi milikku selamanya… aku ingin kau tahu bahwa aku tidak akan pernah sampai kapanpun meninggalkanmu untuk orang lain atau apapun, bahwa aku akan lakukan apapun untukmu meski itu membunuhku, dan aku akan merelakan apapun yang aku punya hanya untuk membuatmu bahagia…karena aku mencintaimu. Aku mencintaimu lebih dari apapun yang ada didunia ini, dan aku akan terus mencintaimu sampai aku mati.”

Minho…

            “Kumohon jangan berpikir bahwa aku akan mengikatmu, karena aku tidak akan pernah ingin kau melakukan apapun yang tidak kau inginkan…”

Yah…

            “Tapi, Lee Taemin…”

Minho berlutut dengan satu kakinya dan meletakan mic dilantai.

Taemin menunggunya untuk bangkit, namun tidak.

            “Aku akan menunggumu sampai kapanpun atas jawabanmu, apapun itu, my love.”

Oh God…

Tangan yang Minho genggam mulai berkeringat dan dingin, namun itu tidak membuat namja berambut hitam itu melepaskannya. Malahan, dia menggenggamnya lebih erat ditangannya, seraya ia mengeluarkan kotak kecil dari kantong nya dengan tangan lainnya.

Minho mendongak lagi untuk melihat sesuatu yang sama, pucat, terkejut, hampir menangis dari wajah kekasih hidupnya. Dia tersenyum simpul disamping debaran jantungnya yang menggila di sela rusuknya, dan menanyakan sebuah pertanyaan yang sudah ia latih terus menerus didepan cermin beberapa enam bulan terakhir.

            “Lee Taemin.”, katanya lagi, kali ini, hanya keduanya yang mendengar, dua setengah tahun bersamamu begitu menyenangkan…tapi aku ingin bersamamu sepanjang hidupku.”

Babo, apa yang kau lakukan? Taemin merasakan sesuatu yang tidak terduga mengalir dipipinya. Ia terlalu terpaku untuk menyekanya, seperti jantungnya yang berdetak kencang telah terkendala dan darahnya berhenti mengalir, membuatnya tidak dapat melakukan apapun kecuali menatap Minho dengan kagum.

            “Jadi, Minnie…”

Oh God…

 

                “Mau kau menikah denganku?”

-FIN-

Final Part>>

Hai Gaes! Gimana smutt nya kali ini? biasa aja kan?! Makanya dipastikan nggak jadi dipassword! Oh yah, next chapter adalah Final yah. Akhirnya selesai juga… hehehe…
Di next chapter bakalan gue kasih Link untuk download File FF ini, jadi, bagi kalian yang mau baca lagi nggak perlu buka-buka website ini (hemat kuota kan?)

Thank you for support

Seeya,
@vittwominaddict

Advertisements

10 thoughts on “2Min-Damaged [Vacation & Surprise]

  1. Demi apa itu lamarannya ming bikin speachless T.T gentle bget dirimu bang… Padahal umurmu bru 18 tapi udah dewasa bgt… Terharu lah T. T

    untuk Rate scenenya mah no coment deh 😂 eh tapi itu beneran deh greget pengen lakban mulutnya ibum -_- kata2nya kga ada yg di sensor Wkwkwk rasanya pen bantuin tetem buat nenggelemin(?) badannya biar kga malu xD

    Ga kerasa next part end T.T berharap ada next ff lagi 😂😂😂

  2. Haduh ini bikin baper, minho kau sungguh romatis pria idaman bngtd, chap depan tamat yeeeeeeee
    Smoga menjadi akhir yang bahagia 😊😊😊

  3. Astaga!!! Minhoo… 😲
    Huwaaaa….Q merinding pas di bagian minho melamar si tetem. Pengen nangiss 😢😢😢😢 terharuuuu 😗😗😗😗

    Untuk bagian NCnya, no coment. Panass! Pluss manis 😊

  4. Itu sumpah obrolan mereka agak gakbpenting di sela sela adegan hot nya hahaha
    sumpah ikutan nangis bareng taemin sama lamarannya minho…
    gak sabar nunggu episode terakhirnya

  5. Akhirnya…..part yg manis2 doang isinya setelah sebelumnya nangis2. Taemin jd punya bnyak teman,syukurlah.Sekarang hidup Taemin penuh dgn orang2 yg menyayanginya. Gk terasa hubungan 2min udah berjalan lama. Dan Minho melamarnya dgn sangat romantis. Part finalnya 2min menikahkah?

  6. Ahhhh gw berkaca – kaca bcanya hiksss… 😢
    Siapa sangka minho secepat itu… he’s really man of gantle… gw klo jd taemin psti lgsg mwek 😶… depan smua kluarga pula hiks….
    Bw harap doi gk pingsan hahahhaha
    Sumvah ikut deg2 an 😂😂 !
    Kira2 jwaban ya yes or later yaa 😂😃😃…

    2min💜💜💜💜

    Ps: gw kira gw lewatin 1 chapter tau2 dh vacation hahaha 😂😂.. kren asli cyin hiksss final yaa 😟😄…

  7. Aigoooooooo lucu amat pas part awal NCanya mreka… aq bacanya gak bergairah tapi malah ngakak… kebanyakan ngobrol pas NCanya..hehehhe
    Dan di endinya finally ming ngelamar…
    So sweet bgt…

  8. Terima!!!Terima!!Terima!
    akhir.ny si choi ngelamar taeminnie 😄😄😄😄😄
    taeminnie polos bgt siiihh,, masa dia ngira surprice.ny dia mau di lempar pie 😑😑😑😑😑 taeminnie itu drama queen bgt…apa2 dipikir serius…untung minho sabar…

    rate scene.ny hot-hot summer 😁😁😁😁😁 smpe tetangga sebelah keberisikan n gak bs tidur…lain kali sewa kamar yg kedap suara…
    itu kibum rese bgt siihh bicara.ny keras2…smpe taemin ud merah gitu 😃😃😃😃😃

  9. Oh my God! Why is Minho act so sweet everytime everywhere😭 dan apaaa, baru lulus SMA dah ngajak nikah ajaa ugh aku harap Taemin ga ragu buat terima :’)

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s