85

[2MIN] TIME OUT/YAOI/PART 4End

Cast : Lee Taemin, Choi Minho, (Lee) Choi Jinki, Kim Kibum, Tiffanny

Genre : School life, fluff, romance

Foreword:

Annyeong~ End of story’s here~

Hehe Thanks buat yang udah baca and meninggalkan komen2 yang menarik dan lucu2 ^^ gue kadang suka ketawa and jadi semangat buat nulis. ^^

Btw, ini ngetiknya ngebut jadi ga sempet edit. Mian kalo banyak typo yah.. (biasanya juga typo mulu) hahaha

Here we go~

NO PLAGIARISM!

NO BASH!

Original Story By : Akino Yoko

Edit by : Kei Love Taemin

ff

Credit Pic by: Page Boy

.

.

.

.

.

Prev Part >>>

Taemin POV Continue reading

151

[2MIN] TIME OUT/YAOI/PART 3 OF 4

Cast : Lee Taemin, Choi Minho, (Lee) Choi Jinki, Kim Kibum, Tiffanny

Genre : School life, fluff, romance

 

Foreword:

Annyeong~ Kei’s here~

Mian lama yaaa… ada beberapa problem yang bikin ini tersendat. Tapi tenang, part selanjutnya end ko. And juga bakal d PW ok? Jadi yang setia baca dan komen dari part1 aja yang dapet yah. Fair. ^^d

NO PLAGIARISM!

NO BASH!

Original Story By : Akino Yoko

Edit by : Kei Love Taemin


ff

Credit Pic by: Page Boy

.

.

.

.

.

Prev part>>>

 

Author POV Continue reading

81

[1s] 2Min – Reach Your Sky

       Cast : Lee Taemin, Choi Minho, Kim Jongin(Kai), Luhan

       Genre : Life, romance, angst(?)

Author : Kei Love Taemin

Foreword:

Yahuuuu HAPPY BIRTHDAY MINHOOOO~~  (ᄑ_ᄑ)ε^;;)

dan kei bawain FF yang ga ada sangkut pautnya sama ultah-mu (┌˘▽˘ )┌ mianhae…

wokelah, langsug aja. And mian kalo ga nyambung ato cerita amburadul.  Tapi kei buatnya sepenuh hati iniii (๑•́ ₃ •̀๑)

       This story is MINE.

       NO PLAGIARISM!

       NO BASHING!

.

.

.

.

77058_451169588262881_26869673_n

           credit pics as tagged

.

.

.

            “Taemin…Taemin, bangun…” Continue reading

147

[2Min] Time Out /Yaoi/2 of 4

Cast : Lee Taemin, Choi Minho, (Lee) Choi Jinki, Kim Kibum, Tiffanny

Genre : School life, fluff, romance

 

Foreword:

Haloo~ ini kei bawa lanjutannya. Mian ya lama…(buat yang nunggu)…

hehe, sesuai janji karena udah 70an komen jadinya kei lanjut.

oke, met baca n jangan lupa KOMEN! ^^;;

NO PLAGIARISM!

NO BASH!

Original Story By : Akino Yoko

Edit by : Kei Love Taemin

Credit Pic by: Page Boy

.

.

.

prev part >>>

Author POV

Continue reading

162

[2Min] Time Out /Yaoi/1 of 4

Cast : Lee Taemin, Choi Minho, (Lee) Choi Jinki, Kim Kibum, Tiffanny (coming soon)

Genre : School life, fluff, romance

Halooo~ 2min lagi yang saia bawa. hehe

Kali ini FF dari cerita cantik yang berjudul sama ‘Time Out’. Gue suka banget ama komiknya, and kepikiran buat bikin jadi 2min. Mungkin sebagian kalian ada yang tau and udah baca. Bagus yaaahh?? gemes2 unyu gitu, ini bacaan gue waktu SMP sekitar 11 tahun lalu. wkwkwkwk

NO PLAGIARISM!

NO BASH!

Original Story By : Akino Yoko

Edit by : Kei Love Taemin

Komen yaaahh, gomawoo… ^^v

Credit Pic by: Page Boy

.

.

.

.

Taemin POV

Pletak!

            Sebutir kerikil menerpa punggung tas ranselku. Memang tidak terasa sakit, hanya saja aku merasa sangat dongkol karenanya. Dan itu membuatku cemberut, tapi aku menahan diri untuk tidak menoleh.

Pletak!

            Kerikil kedua. Kali ini mengenai pundakku. Aku jadi semakin sebal karenanya. “Ya! Apa kau tidak ada kerjaan lain, eoh?!” bentakku sambil berbalik.

            Orang yang kubentak – si penendang kerikil –, hanya tertawa. Namja seumurku. Seragam sekolahnya sama seperti yang kupakai. Warnanya masih cemerlang, pertanda murid baru. Dan… ehm, aku pun juga termasuk murid baru. Sudah beberapa bulan ini, aku menjadi murid SMA – Seoul High School –.

            Jalan ke sekolah memang cukup dekat dari tempat tinggalku. Hanya lima belas menit berjalan kaki. Tetapi setiap aku berangkat melewati jalan ini, hampir setiap pagi aku menerima tembakan kerikil dari orang yang sama. Si namja kurang kerjaan! Begitu aku menyebutnya jika sudah kesal.

            “Ya! Cemberut di pagi hari sangat tidak baik tahu! Lihat! Matahari jadi malas bersinar!” kata namja itu seenaknya.

            Ck, bisa-bisanya dia berkata seperti itu, eoh?! Namun, dia benar. Matahari memang sedang malas bangun dan membuka mata. Cuaca cukup mendung pagi ini. Dan menurutku, sangat tidak nyaman memulai hari yang menyenangkan dengan keadaan cuaca yang kurang cerah seperti itu. Selama sehari nanti, pasti bawaannya malas dan mengantuk. Fiuh..

            “Ya! Kalau wajahmu menekuk begitu terus, nanti akan cepat keriput, hahaha!”ledeknya sambil tersenyum jahil padaku. Melihat wajahnya yang tersenyum seperti itu, membuatku jadi ikut tersenyum.

            “Nah! Begitu lebih manis.”katanya sambil berjalan cepat mendahuluiku.

            Apa?! Manis?? Hei! Aku namja!

            “Ya!” panggilku.

            “Mwo? Kalau perlu sesuatu, katakan dengan baik-baik dan jangan berteriak begitu.”

            Wajahnya yang sok serius itu membuatku semakin kesal.

            Kutarik tasnya. “Kau harusnya minta maaf.”

Namja itu menaikkan alisnya yang tebal. “Aku? Minta maaf? Memangnya aku salah apa?”

            “Berapa kerikil yang sudah kau tendang?! Berapa kali punggungku kena sasaran, eoh?!”

            Ekspresi wajahnya sesaat menegang, lalu kembali seperti semula. “Oh…itu. Hmm, aku cuma ingin membuktikan tendanganku memang jitu. Dan punggungmu…hei, tas-mu baru, ya? Pasti kau sengaja memakai ransel untuk menghindari tembakan kerikilku. Ha ha ha, cerdik juga caramu.”

            Aku tersenyum. Rasanya aku memang tidak bisa marah jika sudah berhadapan dengan makhluk ini. Selalu saja aku memaafkannya jika dia melakukan keisengannya padaku, walau kadang sering keterlaluan tapi pasti akan berakhir dengan aku yang memaafkan perbuatannya itu.

            Choi Minho. Aku mengenalnya sewaktu upacara penerimaan murid baru. Nomor absen kami berurutan. Aku nomor 24 dan dia nomor 25. Sebagai murid baru yang belum saling mengenal, semua jadwal piket dan pembagian tempat duduk berdasarkan urutan absen. Dan itu membuatku sering duduk di dekatnya. Termasuk jadwal piket membersihkan kelas selepas bel pulang.

            Perkenalanku dengan Minho bukanlah perkenalan yang wajar. Waktu itu aku berangkat sekolah dengan tergesa-gesa. Aku tidak ingin terlambat di hari pertama sekolah. Aku sudah bertekad untuk menjalani masa SMA dengan gembira. Hanya gembira. Jangan sampai sedih ataupun ada kejadian yang membuat kecewa.

            Hari pertama yang kumulai dengan berdoa dan banyak senyum dari rumah, ternyata malah membuat wajahku bersungut-sungut, bahkan sebelum waktu aku sampai di gerbang sekolah baru. Sebutir kerikil menerpa punggungku. Tentu saja aku kaget. Ketika aku menoleh, kulihat seorang namja sebayaku sedang tersenyum lebar. Dia berdiri di depan pintu gerbang apartemen yang lumayan mewah. Wajahnya sebenarnya menarik, ehm walau masih tidak bisa menandingi ketampananku tentunya. Hehehe. Namun, kerikil yang nyasar ke punggungku terlanjur membuatku kesal.

            Kuhampiri namja itu, “ Ya! Apa maumu?!” hardikku.

            Sesaat dia kaget. Pasti dia tidak menyangka aku akan berbalik dan menghardiknya.

            “Eh, tidak apa-apa. Aku hanya melatih kakiku. Tendanganku hebat, kan?!” katanya tanpa merasa bersalah.

            Aku sudah hampir marah melihat dia tidak mau meminta maaf. Tiba-tiba pintu apartemen terbuka. Seorang namja berkulit putih, berpipi tembam, dan matanya sangat sipit, benar-benar bertolak belakang dengan namja di hadapanku ini yang berkulit sedikit lebih coklat dan matanya yang besar. Tetapi kalau diperhatikan lagi, ada suatu kemiripan di wajah mereka. Melihat seragam sekolah yang dikenakan, mereka pasti satu sekolah denganku.

            “Hei, ada apa ini?” tanya si namja yang baru keluar tadi.

            Sebelum sempat menjawab, namja bermata besar itu menyahut, “Aku sedang melatih kakiku menendang kerikil. Ketika tembakanku tepat sasaran, ehh…dia marah-marah.”

            Si namja berpipi tembam melotot, “Kau pasti bikin gara-gara. Minho, ayo minta maaf.”

            Oh, namanya Minho, pikirku.

            Akhirnya si namja yang bernama Minho itu membungkuk dalam-dalam sambil meminta maaf. Tetapi matanya mengerling nakal. Aku terkesiap melihat matanya yang berbinar dan kemarahanku langsung reda. ==’a

            Namja berpipi tembam itu memperkenalkan diri. “Kenalkan. Aku Choi Jinki. Dia adikku, Choi Minho.”

            “Aku Lee Taemin,” kataku.

            “Boleh kupanggil Taemin saja?” tanya Minho.

            Aku menaikkan alisku. Namja ini benar-benar seenaknya. Tapi…dipanggil Taemin memang lebih terdengar akrab daripada dengan embel-embel ‘shi’, mungkin aku akan berteman dengannya.

            “Boleh.” ujarku.

            Lalu kami bertiga berjalan bersama. Aku melangkah berdampingan dengan Jinki hyung. Minho berkali-kali menyeruak diantara kami, sehingga dia berada di tengah. Berkali-kali pula Jinki hyung menyeret tangan adiknya untuk menyingkir bila kami sedang bercakap-cakap.

            Aku merasa beruntung berkenalan dengan Jinki hyung. Dia sudah kelas dua. Jadi, dia lebih tahu tentang situasi sekolah.

            “Ada beberapa klub olahraga yang bisa dipilih. Aku sendiri memilih sepak bola.”jelas Jinki hyung.

            “Aku juga mau ikut klub sepakbola.” celetuk Minho.

            “Aku tidak tanya,” jawabku cuek.

            Jinki hyung tertawa keras melihat Minho yang kaget dengan ucapanku barusan. Perjalanan singkat ini ternyata sangat menyenangkan. Aku jadi lebih banyak tahu tentang sekolahku yang baru. Aku sudah berangan-angan untuk memilih salah satu. Mungkin klub fotografi, tari atau olahraga.

            “Jangan memilih fotografi. Jinki hyung bilang, anaknya serius-serius. Nanti kau pasti langsung jadi tua.” nasihat Minho sok tahu.

            Di sekolah, aku bertemu dengan beberapa teman SMP. Kami segera bergabung dan berkenalan dengan teman-teman lainnya. Kulihat Minho punya banyak teman. Dia memang menyenangkan dan gampang akrab dengan orang lain bahkan dengan kakak kelas dia kelihatan sudah banyak mengenal. Maklum, Jinki hyung kan kelas dua. Pasti banyak yang pernah main ke apartemennya. Minho menyapa teman-teman hyung-nya dengan ceria, sedangkan aku hanya berjalan diam disebelahnya.

            “Hei Taemin, senyuuumm. Dari tadi wajahmu cemberut saja. Jelek tahu!” benak Minho.

            Cih, dasar… belum kenal dekat sudah berani membentak. =3=

            “Aku bukan cemberut, tahu. Kalau kau sibuk sendiri menyapa semua orang dan aku tidak kenal mereka, kau pikir aku harus berbuat apa?!” bantahku.

            Minho tertawa geli. “Iya juga, ya. Yah, aku memang memiliki pesona tinggi.”

            ==’…. aku hanya terdiam mendengarnya. Dia benar-benar percaya diri sekali.

            Walau dia itu sedikit narsis, menyebalkan dan jahil…entah kenapa ada sesuatu di hatiku yang mengatakan dia namja yang baik dan menyenangkan. Mudah-mudahan aku bisa berteman baik dengannya.

            Dan entah mengapa, mataku tidak bisa lepas dari Minho. Aku suka melihatnya tertawa. Wajahnya terlihat sangat menarik. Matanya seperti hidup bila ia sedang berbicara, dan tawa yang membuat orang lain ikut merasakan kebahagiaannya. Aku bertopang dagu di tepi jendela. Tanpa sadar aku memperhatikan Minho yang sedang bercakap-cakap dengan anak laki-laki lainnya. Tangannya selalu bergerak kalau bicara. Tawanya terdengar renyah. Ah… diam-diam aku menyimpan wajahnya yang sedang tertawa itu di dalam benakku. Aku….

            Tiba-tiba Minho menoleh ke arahku. Dari kejauhan, dia memeletkan lidah. Aku kaget, sekaligus malu. Tidak kusangka dia tahu bahwa aku sedang memperhatikannya. Dengan cemberut aku balas memeletkan lidah, lalu pergi dari jendela. Malu karena ketahuan aku sedang memperhatikannya.

            Pertemuan kedua berlangsung setengah jam kemudian. Kami harus berbaris sesuai dengan urutan nomor absen. Aku berada didepan Minho.

            “Hei Taemin, sepertinya kau tidak mau pisah denganku, eum?” katanya menggoda.

            Suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat anak-anak disekitar kami menoleh. Mereka menatapku dengan heran. Aku menjadi gemas, dan kutarik rambutnya.

            “Tidak akan kulepas sebelum kau minta ampun,” kataku.

            Minho terkekeh, “Tidak mau. Dijambak namja cantik sepertimu malah membuatku senang.”

            “Mwo?!” spontan aku melepaskan tanganku dari rambutnya. Minho tertawa geli. Anak-anak yang melihat juga tertawa.

            “Dengar Minho, aku namja dan tidak cantik! Dengar itu!” protesku dan segera berbalik ke depan.

            “Kalau marah semakin manis, Tae-Miiinn-niie~” bisiknya menekankan namaku seperti meledek.

            Aissh… cari gara-gara rupanya, eoh?! Aku segera berbalik dan akan melayangkan kepalan tanganku untuk menjitaknya tetapi suara songsaenim di depan, membuatku mengurungkan niatku.

            “Dengarkan!” kata guru tersebut, “Setiap kelas harus memilih dua orang wakilnya untuk mengikuti upacara penerimaan siswa baru besok.”

            “Lee Taemin!” tiba-tiba suara Minho terdengar lantang.

            Beberapa teman SMP yang telah mengenalku langsung bertepuk tangan.

            “Ya, Lee Taemin saja!”

            “Dulu dia aktif di OSIS SMP.”

            Aku terbengong. Aissh… dasar namja gila. Yah gara-gara ulahnya, aku mewakili kelas kami bersama dengan Kim Kibum. Tak akan pernah kulupakan senyuman Minho ketika aku berdiri di depan kelas.

            Akhirnya, aku juga dipilih menjadi ketua kelas. Wah, sebenarnya ini tugas berat mengingat aku belum mengetahui karakter anak-anak di kelasku. Sementara itu, dengan semangat tinggi Minho berkali-kali meneriakkan namaku.

            “Minho, berisik!” aku membentaknya yang kini menjadi teman sebangku-ku.

            Walau awalnya ia kaget karena aku membentaknya, tapi akhirnya ia akan tetap berbuat sesuka hatinya.

            Tugas pertama sebagai ketua kelas adalah membagi jadwal piket dan susunan bangku. Karena kami belum saling mengenal, maka diputuskan untuk membaginya berdasarkan nomor absen. Dan itu berarti, aku tetap duduk berdekatan dengan Minho. Aku juga tetap satu kelompok piket dengannya.

            Setelah selesai membagi jadwal dan kembali ke tempat dudukku, Minho mendekatkan kepalanya padaku.

            “Aku tahu, pembagian tugas itu karena kau ingin selalu dekat denganku,” bisiknya. Wajahnya begitu dekat, dan aku menjadi jengah karenanya.

            “Bukan. Aku…”

            “Ah, sudahlah. Aku tahu, kok!”

            Aku benar-benar kesal Karena dia tidak mau mendengar ucapanku dan aku hampir saja memukulnya kalau saja songsaenim tidak keburu masuk ke kelas.

            “Awas kau. Dasar ge-er.” cibirku.

            Namun, sejak kejadian itu kami menjadi akrab. Saling olok, saling mengejek. Tetapi selalu saja aku tidak bisa marah padanya. Walau terkadang aku benar-benar sangat ingin memukulnya. Dan yang paling aku suka darinya, adalah mendengar tawanya yang renyah. Diam-diam, aku juga sering mencuri pandang saat dia mengobrol dengan teman-temannya.

           Aissh…kurasa aku sudah gila! Aku akan memasukkan catatan ke notes-ku untuk mengunjungi psikiater nanti.

            Bagaimana bisa, aku tertarik dengan sesama namja, eoh? Terlebih namja menyebalkan sepertinya. Gezz….

            Hmm,, Minho memang tidak setampan hyung-nya. Jinki berwajah lembut. Walau begitu, ternyata Jinki hyung dipilih menjadi kapten tim sepak bola sekolah! Dan… kalau Minho… menurutku dia tidak jelek… dia memiliki senyum dan tawa yang menarik. Rahangnya yang kukuh membuatnya tampak serius. Namun, melihat matanya yang bersinar nakal, orang pun akan tahu bahwa namja itu luar biasa jahil, suka seenaknya.

            Bruk!

            Aku menabrak punggung Minho yang berhenti mendadak. Orang-orang menatapku dengan pandangan aneh. Tentu saja aneh, karena aku tiba-tiba menabrak punggung orang lain.

            “Minho!”

            “Bukan salahku, kan? Harusnya kau waspada kalau ada mobil berhenti mendadak.” katanya. Sejurus kemudian wajahnya kelihatan serius. “Memang kau melamunkan apa, eoh?”

            Aku gelagapan. Mana mungkin aku bilang kalau aku sedang memikirkannya. Huuu… bisa jadi ejekan sepanjang hari nanti.

            “Aku… aku sedang memikirkan pertandingan sepak bola minggu depan. Aku khawatir kita tidak bisa berlatih serius. Mana sekarang sedang banyak tugas.”

            Minho menatapku. Tepat di bola mataku.

            “Kau mengkhawatirkan klub sepak bola?” tanyanya. “Pagi-pagi begini sudah memikirkan klub?”

            Aku mengangguk mantap. “Tentu. Bukankah aku manajer klub? Wajar saja kalau aku memikirkan klub kita. Kalau kalian tidak bisa berlatih, aku juga yang repot.”

            Begitulah. Setiap hari aku selalu mendapatkan sapaan kerikil selamat pagi.

.

.

.

Author POV

            Acara latihan sepak bola selalu membuat Taemin bersemangat. Ia merasa, semangat yang keluar dari masing-masing pemain sepak bola bisa menularinya untuk terus bersemangat. Apalagi kalau melihat Jinki berlari mengelilingi lapangan, kakak laki-laki Minho itu selalu bersemangat bila sudah di lapangan bola.

            Taemin menyukai gaya Jinki saat dia sedang member intruksi pada anggota klub lain. Tegas dan membuat yang lain hormat padanya. Dia tidak tampak berlebihan dan merasa sok jadi pemimpoin sebuah klub.

            Bahkan Minho yang suka bersikap seenaknya pun menjadi takluk. Walau menghadapi adiknya sendiri, Jinki tidak pandang bulu. Mungkinkah Minho serius kalau turun ke lapangan karena sikap hyung-nya?? pikir Taemin.

            “Tentu saja aku serius. Di lapangan dia bukan hyung-ku. Dia seniorku. Aku bisa membedakan kapan harus bercanda dan kapan harus tertawa-tawa.” Jawab Minho ketika Taemin menanyakan hal itu.

            Namun, Taemin lebih suka saat melihat Minho berlari. Matanya yang tajam memandang ke depan dan wajahnya tampak bersungguh-sungguh. Sama sekali tidak kelihatan bahwa dia bandelnya minta ampun.

            Sore ini, Taemin selesai membenahi ruang klub sepak bola. Anak-anak klub sering seenaknya melemparkan kaus dan tas mereka sembarangan. Dan Taemin sangat tidak suka melihat pemandangan klub yang penuh dengan barang berserakan sehingga ia dengan suku rela membereskannya. Loker Minho tampak paling berantakan lalu Taemin mengambil sebuah kaus yang menyangkut di pintu lokernya yang terbuka, kemudian melipatnya dengan rapi, menata sepatu dan juga tas sekolah yang dimasukkan secara asal.

            “Aigoo~ kenapa berantakan sekali…” gerutu Taemin sambil menutup pintu loker Minho.

            Membereskan loker tentu saja bukan tugas Taemin sebagai manajer. Tetapi melihat loker yang berantakan itu membuat Taemin gemas untuk membereskannya. Yah, Taemin bisa memaklumi keadaan loker dan ruang klub yang berantakan. Bukan karena mereka namja yang urakan, tetapi karena waktu untuk berganti baju memang terbatas. Selepas bel pulang sekolah berbunyi, semua anak klub sepak bola berlari ke ruangan ini. Mereka punya waktu paling banyak setengah jam untuk menyiapkan diri. Bisa dibayangkan, betapa kacaunya kalau mereka datang bersama-sama.

            Jarak antara ruangan klub sepak bola, basket atau klub olahraga lain memang cukup jauh dari kelas. Mereka harus menyusuri koridor menuju halaman belakang sekolah. Di sana terbentang lapangan rumput, lapangan basket, dan lapangan tenis. Sedangkan lapangan sepak bola terletak paling ujung karena sangat luas. Mereka harus melewati beberapa lapangan olahraga lain untuk sampai ke ruangan klub.

            Taemin pun harus segera melesat keluar kelas bersama yang lain. Kalau hanya anggota klub sepak bola saja yang harus bergegas, mungkin tidak apa-apa, tapi yang membuat mereka terlambat adalah karena semua anak dari berbagai klub juga harus bergegas menuju ruang klub masing-masing sehingga koridor di depan kelas selalu penuh dengan anak-anak yang berlari untuk mengjar waktu.

            Namun, ada satu hal yang selalu membuat Taemin selalu bersemangat. Ia bisa memandangi Minho sepuas-puasnya dari jendela. Saat ia sedang berlari, jongkok, berlari kodok, atau saat ia melamun. Semua itu ia simpan dalam otaknya dan kalau mengingatnya, itu membuatnya bersemangat. Yah, Taemin akui bahwa ia terpikat oleh Minho. Walau Minho suka bersikap seenaknya, tapi itu yang membuat Taemin semakin menyukainya karena Taemin tahu, Minho hanya berbuat begitu padanya. Pada teman-teman yang lain dia memang sering jahil, tetapi berbeda dengan yang ia lakukan pada Taemin.

            Yang membuat hubunga mereka istimewa adalah karena mereka bisa berangkat dan pulang sekolah bersama-sama. Taemin terkadang balas meledeknya, atau mereka bisa bertukar cerita tentang apa saja. Dan Taemin yakin, dengan begitu berarti Minho percaya padanya.

            Menyenangkan sekali mempunyai rahasia yang hanya di ketahui berdua….

            Beberapa helai handuk harus sudah dicuci. Ketika Taemin hendak berdiri membawa keranjang berisi handuk, tiba-tiba badannya menabrak loker dan keranjang yang dibawanya pun terjatuh sehingga handuk-handuk di dalamnya berserakan.

            Ketika Taemin akan memungutinya, tiba-tiba sebuah tangan mengangkat handuk yang jatuh itu.

            “Jinki hyung?! Kenapa masih di sini? Yang lain sudah mulai berlari mengelilingi lapangan.” Kaa Taemin heran, setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih karena dibantu memunguti handuk-handuk tadi.

            “Aku mau mengambil catatan pemain yang akan turun sore ini.” Jawab Jinki.

            Taemin tersenyum, “Aku suka melihat gaya hyung ketika sudah bertanding di lapangan. Minho yang jahil dan suka seenaknya itu pun jadi serius”

            “Minho?” kening JInki berkerut. “Anak itu selalu serius kalau berhubungan dengan sepak bola. Dia sudah ikut klub sepak bola sejak SMP. Apa dia tidakperbah cerita?”

            Taemin menggeleng. “Yang aku tahu, Minho itu nakal, jahil dan suka seenaknya.”

            Jinki terkekeh geli, “Itu memang bawaan dari lahir.” Guraunya. “Oya Taemin, apa kau tidak lelah menjadi manajer di klub ini? Tugasnya kan banyak sekali.”

            “Lelah? Yah, pastinya lelah. Tapi aku menyukainya. Walaupun menurut orang lain tugas seorang manajer klub sepak bola sama dengan seksi repot, tetapi menurutku ini sangat menyenangkan. Apalagi saat melihat kalian berlatih. Aku merasa semangat kalian juga ikut menerpaku.” Kata Taemin sambil menerawang, memandang keluar jendela.

            Apa lagi saat melihat Minho berlari…. –lanjut Taemin.

            Jinki memandang Taemin serius, “Jadi itu alasanmu menjadi manajer klub kami?”

            “Ya,” Taemin balas menatap Jinki. “Menjadi manajer klub di sini berarti belajar mengurus segala macam keperluan. Yah, dengan begini aku bisa belajar untuk bertanggung jawab.”

            Namja berpipi tembam itu berkacak pinggang, “Ah, kalau begitu anak-anak akan kusuruh berlatih lebih semangat. Supaya kau ikut tertular semangatnya.”

            “Wah, jangan berlebihan begitu…” kata Taemin malu.

            “Nah, supaya kau makin bersemangat, pakailah handuk ini di leher. Kau akan terlihat seperti pelatih yang berdiri di pinggir lapangan.” Jinki mengalungkan handuk yang dipegangnya ke leher Taemin.

            Taemin terpaku. Wajah mereka sangat dekat, dan Taemin merasa pipinya panas dan memerah karena malu.

            Tiba-tiba pintu terbuka. Minho! Dia berdiri memperhatikan Taemin dan JInki dengan raut wajah yang sulit diartikan. Minho terlihat tercengan, tak percaya.

            Taemin menjadi malu kepergok ketika sedang berdekatan dengan Jinki. Bahkan tangan Jinki berada di pundak Taemin.

            “Eh, sori mengganggu.” Minho berbalik.

            “Hei!” panggil Taemin.

            “Kau ada perlu apa?” Tanya Jinki pada Minho. Suaranya sangat tenang.

             Taemin tahu, sebenarnya Jinki juga gugup. Tetapi dia bisa menguasai diri. Pastinya juga karena terbiasa menghadapi situasi tegang seperti ini ketika di lapangan.

            “Tidak. Aku…aku hanya ingin tahu daftar nama pemain yang diturunkan sore ini.” Jawab Minho. “Kata anak-anak, daftarnya tertinggal di ruangan. Jadi, aku ke sini untuk mengambilnya.”

            “Oh… itu. Aku juga sedang mengambilnya. Ini, ada di kantongku.” Jinki mengeluarkan daftar itu, dan segera keluar ruangan.

            “Jinki hyung.” Panggil Taemin.

            Namja itu berhenti dan berbalik, “Ya?”

            “Terima kasih yang tadi, ya.”

            Jinki tersenyum, lalu melambaikan tangan.

            Minho masih berdiri di pintu. Dia ikut berbalik mengikuti hyungnya. Sebelum melangkah keluar, Minho melongokkan kepalanya ke dalam ruangan.

           “Hei, terima kasih yang tadi apa, eoh? Kau diapakan oleh Jinki hyung sampai kau bilang terima kasih segala?”

            Taemin memanyunkan bibirnya, “Mau tahu saja.”

            “Oh, ayolah Taemiiin…” ucap Minho merajuk.

            Taemin menghela napas, “Tadi dia membantuku memungut handuk-handuk yang terjatuh.”

            Minho mengerutkan keningnya, “Termasuk handuk yang itu?” katanya sambil menunjuk handuk yang melingkar di leher Taemin.

             Wajah Taemin memerah, Minho pasti berpikir yang tidak-tidak.

            “Tidak, ini…”

            “Hmm, aku tahu.”

            “Hei, bukan. Aku tadi sedang membereskan ruangan sewaktu….” Ucap Taemin gugup.

             Namun, namja bermata belo itu sudah menghilang dari pintu. Percuma bila Taemin menjelaskannya. Taemin melempar             handuk di lehernya ke dalam keranjang.

             “Pasti si Minho itu akan terus-terusan mengejekku besok.” Gumamnya kesal.

             Taemin meletakkan keranjang ke sudut ruangan. Tak ada lagi yang bisa ia kerjakan sampai mereka selesai berlatih. Dari jendela, ia melihat Jinki mulai memanggil nama-nama pemain yang turun sore ini. Mereka adalah pemain yang dipilih untuk menghadapi pertandingan minggu depan.

             Taemin bertopang dagu d jendela. Pemandangan dari jendela yang paling ia suka. Dia bisa melihat lapangan sepak bola yang luas, lengkap dengan jajaran pepohonan yang mengitari lapangan. Tempat itu memang menyenangkan.

              Sekilas ia melihat Jinki melambaikan tangan padanya. Taemin membalas dengan lambaian dan senyum lebar. Sejurus kemudian Minho menoleh padanya, dan memeletkan lidah. Taemin pun membalasnya dengan sebal.

             “Weee, Minho jelek!” teriaknya.

              Taemin tertawa sendiri. Yah mana mungkin Minho bisa mendengarnya. Dia berada di dalam ruangan dan jendelanya tertutup.

              Mereka telah selesai memilih pemain dan latihan pun dimulai. Jonghyun menggiring bola lalu mengoperkan pada teman di sebelah kirinya. Tetapi musuh menghadang terlebih dulu dan menendangnya jauh ke muka gawang. Di sana ada Minho. Kakinya bagai lem yang menangkapnbola operan dengan mudah. Dengan gerakan manis, dia berputar sambil menendang bola ke arah  gawang lawan. Putaran badannya sama sekali tidak terduga oleh kipper. Endangannya yang keras berhasil menggetarkan gawang.

              “Gooool!!”

               Taemin ikut bersorak kegirangan. Minho menleh ke jendela dengan gembira Taemin mengacungkan kedua jempolnya ke arah Minho.

               “Kau hebat, Minho!” teriak Taemin semangat.

                Taemin tak peduli Minho mendengarnya atau tidak. Tetapi dari ekspresi wajahnya, dia pasti tahu Taemin gembira. Entah mengapa, dada Taemin jadi berdebar-debar.

                Minho, kau memang menarik.

                Namun kegembiraan itu hanya sekejap. Semua pemain harus kembali ke pola permainan di lapangan. Inilah yang Taemin suka dari permainan sepak bola. Kegembiraan yang meluap karena berhasil memetik gol, harus segera diimbangi dengan konsentrasi penuh pada permainan berikutnya. Penguasaan emosi yang luar biasa ini harus dimiliki oleh setiap pemain. Kalau si pemain terlalu bergembira, bisa-bisa konsentrasi permainannya melenceng. Bahkan dengan supporter banyak pun mereka tetap tak boleh terpengaruh. Latihan semacam ini sangat di perlukan untuk mengantisipasi kemungkinan supporter lawan yang lebih kuat.

                 Menurut Taemin, Minho sudah menguasai hal itu. Dan Taemin yakin kalau Minho tak kalah dengan Jinki, hyungnya.

                 Dan, sekarang Minho tengah berlari menggiring bola. Matanya tajam menatap teman yang akan ia beri umpan, sementara kakinya bergerak lincah menggiring sekaligus melindungi bola dari sambaran kaki musuh.

                  Taemin sangat suka melihat gaya Minho yang seperti itu. Rambut yang menutupi keningnya melambai-lambai di terpa angin. Matanya tajam seperti elang. Rahangnya dikatupkan kuat-kuat. Sungguh menarik.

                  Tiba-tiba Taemin merasakan hangat di dalam dadanya. Jantungnya yang berpacu lebih kencang dari biasanya. Taemin sadar bahwa ia menyukai Minho sejak pertama ia melihat tawanya. Rasa sukanya terhadap Minho, membuatnya tak bisa marah bila Minho mulai menggodanya.

                   Latihan selesai ketika matahari sudah mulai bergulir ke barat. Ruangan yang semula rapi, sekarang menjadi seperti kapal pecah. Kaus di lempar sembarangan, sepatu berserakan dimana-mana, ditambah lagi dengan bau keringat yang hmm…. Luar biasa,

                    “Hei, jangan melempar kaus sembarangan, ya! Kasihan manajer kita. Dari tadi dia merapikan ruangan ini.” Teriak Jinki. “Kalian ini bagaimana?! Sudah dibantu merapikan tidak berterima kasih malah bikin berantakan lagi.”

                      Taemin menunduk malu, “Bukan begitu. Maksudku….ini kan memang tugasku.”

                      Jinki berdiri. “Di sana kan sudah ada keranjang untuk kaus-kaus kotor. Kalau mau melempar, lempar saja ke keranjang itu.”

                       Seperti dikomando, anak-anak melempar kaus itu ke dalam keranjang cucian besar. Gaya mereka kini seperti pemain basket. Taemin tertawa melihatnya.

                        “Ha,,ha,,hmmp” tawa Taemin terhenti ketika sebuah kaus bertengger di kepalanya.

                        “Eh, mian. Kukira tadi keranjang basket.”

                         Uh, siapa lagi kalau bukan Minho. Hnaya dia yang suka berlaku seenaknya pada Taemin. Taemin mengambil kaus itu dan melemparnya balik ke arah Minho yang sedang tertawa. Yap! Tepat mengenai wajahnya. Lalu Taemin berbalik keluar ruangan.

                         “Mau kemana?” Tanya Jinki.

                         “Keluar. Bau keringat di sini luar biasa.” Kata Taemin, menahan tawa.

                         Taemin berdiri di koridor, memandang lapangan sepak bola yang sekarang kosong. Beberapa menit yang lalu, lapangan itu ramai oleh anak-anak yang berlari-lari mengejar bola. Sekarang, sunyi sepi. Hanya ada rumput dan tiang gawang yang membisu.

                         Aneh rasanya.

                         “Sedang apa di sini?”

                          Taemin menoleh.

                          Minho.

                           “Eh..tidak apa-apa. Kau sendiri sedangapa?”

                            Minho diam. Tidak biasanya ia seperti itu.

                            “Taemin, maaf tadi aku melempar kaus. Aku….”

                             Taemin menatapnya heran. “Tumben kau minta maaf? Pasti disuruh Jinki hyung, kan?”

                            “Anii.”

                             Taemin mengernyitkan dahi bingung. Tapi melihat Minho yang jadi salah tingkah, akhirnya ia menepuk bahu Minho, “Nee, ku maafkan.”

                             Setelah membereskan seisi ruangan untk terakhir kali, Taemin segera mengunci pintu. Matahari sudah meluncur ke barat. Sinarnya yang kemerahan membuat koridor terasa hangat. Taemin menyukai suasana seperti ini. Ia merasa seperti berjalan di dunia lain. Sekali lagi, ia menoleh ke lapangan sepak bola yang kosong. Sinar matahari sore membuat bayangan tiang gawang menjadi panjang.

Pletak!

                             Sebuah kerikil mengenai pundak Taemin.

                              Tanpa perlu menoleh, ia tahu benar siapa pelakunya. Hanya Minho yang mempunyai kebiasaan menyapa seperti itu. Kebiasaan yang aneh.

                             “Kau lelah, Taemin?”

                              Taemin tertawa. “Wah, aku jadi terharu. Huhuhu…hari ini kau terlihat lain dari biasanya. Tadi minta maaf, sekarang menanyakan aku lelah atau tidak. Luar biasa sekali!”

                               Dengan gemas, Minho manarik ransel Taemin, “Aku serius. Kalau kau lelah, sebaiknya kau berhenti jadi manajer. Tugas sekolahmu kan sudah cukup banyak. Kau jadi ketua kelas, manajer klub, juga pengurus OSIS. Hmm, apa kau masih kurang kerjaan?”

                              Taemin melongok mendengar kata-kata Minho barusan. Terlebih Minho mengatakannya dengan serius.

                               “Kalau kurang kerjaan, bilang padaku. Aku akan menyuruhmu berlari dua puluh kali mengelilingi lapangan.”

                              Dasar Minho! Tetap saja iseng menggoda orang.

                              Taemin mempoutkan bibirnya lalu memukul lengan Minho pelan. Akhirnya mereka keluar ruangan bersama-sama. Jinki masih berada di ruangan guru, menyelesaikan laporan untuk pertandingan mendatang.

                              “Apa yang membuatmu ingin menjadi manajer klub sepak bola, eoh?”

                              Hampir saja Taemin menjawab, Minho-lah yang mendorongnya untuk masuk ke sana. Tetapi tentu saja itu tak mungkin ia katakan.

                               “Permainan ini menarik. Setelah masuk klub, aku baru tahu. Untuk menyajikan permainan yang hebat di lapangan, butuh waktu lama untuk berlatih. Tidak hanya berlatih menendang bola, tetapi juga berbagi bola dengan anggota lain. Itu yang aku suka.” Jawab Taemin tenang.

                               “Hanya itu?”

                                Oh, ntah apa maksud pertanyaan Minho barusan.

                              “Banyak alasan lain. Hei, kau bukan eomma-ku dan juga bukan appa-ku, kan? Jadi aku tak perlu menjelaskannya padamu.” Sahut Taemin sambil memeletkan lidahnya lalu tertawa. “Sayangnya, dalam permainan sepak bola tidak ada istilah Time out. Kalau ada, kita bisa mengatur strategi singkat untuk menghadapi lawan.”

                               Minho diam saja.

            “Kau ikut turun main minggu depan?”

            Minho menendang kerikil, “Ya. Dari kelas satu ada enam orang. Lainnya anak kelas dua.”

             Taemin mengangguk. “Memang harus begitu, ya? Kalau kelas satu harus diikutkan supaya punya pengalaman. Jadi, kalau para senior sudah naik kelas tiga, kalian yang akan menggantikan mereka.”

              “Baik, manajer.”

              Taemin hanya tersenyum keki mendengarnya.

              Apartemen Minho sudah dekat. Tapi rasanya Taemin ingin jalanan antara sekolah dan apartemen Minho diperpanjang agar mereka mempunyai banyak waktu untuk berjalan bersama.

              “Tendangamu tadi bagus! Aku sampai berjingkrak-jingkrak karena senang.” Puji Taemin tulus.

               Mata besar Minho berbinar, “Pasti kau berjingkrak-jingkrak sambil memanggil-manggil namaku.”

               Muka Taemin memerah. “Anii. Jangan ge-er, ya!”

               Namun Minho seolah tak mendengar, “Gomawo. Kau suka?”

               “Ya. Aku suka.”

                Sejenak Taemin tedrdiam. “Maksudku…hmm…maksudku, aku menyukai permainanmu di lapangan.”

                “Oh, begitu.”

            Mereka terdiam. Taemin takut kalau-kalau Minho mengetahui bahwa sebenarnya ia menyukai Minho.

            Gerbang apartemen Minho sudah di depan mata. “Sampai besok, ya.” Kata Taemin sambil melambaikan tangan.

            “Annyeong~”

             Minho berdiri di depan gerbang. Taemin jadi berhenti dan berbalik.

            “Ada apa?”

             “Terima kasih kau mau membereskan lokerku yang berantakan, Taemin.”

             Wajah Minho sedikit memerah karena malu atau karena terkena sinar matahari senja, eoh?

             “Oh, itu…”

             “Jangan bilang ‘itu memang tugasku sebagai manajer’. Aku bosan dengan jwaban itu.” Selanya.

              Taemin terdiam. “Itu karena mataku seperti diganjal batu sewaktu melihat lokerm yang berantakan. Jangan dikira karena aku berbaik hati merapikannya, ya. Apa lagi bau keringatmu yang ugh…”

               Minho tercengang.

               Taemin terkekeh senang sambil berlari menjauh.

               “Hei, Taemin!”

Pletak!

                Sebutir kerikil mengenai pundaknya lagi.

               “Sampai besok, ya!” Minho berlari sebelum Taemin sempat mengatakan apa-apa. Akhirnya Taemin pun meneruskan perjalanannya menuju rumah. Bayangan Minho yang tercengang sewaktu melihatnya berduaan dengan Jinki kembali berkelebat di benaknya. Wajah Minho tampak kaget. Dia menangkap ada rasa tidak suka pada matanya.

                 Wae??

.

.

.

.

TBC

Thank you for your comments… ^^

kalo banyak yg minat, dilanjut. Komen dibawah 70, ga dilanjut. Trim’s… *lambei2

 

 

 

80

SECOND LIFE/2MIN-ONKEY/PART 9 OF?

CAST : LEE TAEMIN, LEE JINKI, CHOI MINHO, KIM KEY

SUPPORT CAST : KIM JONGHYUN

GENRE : Sinetron!!!!!!!

ONTAE-2MIN-ONKEY

AUTHOR : KEIMINNIE – KEI LOVE TAEMIN

Annyeong~ ^^/

Haha kei’s back! Ada yang ingat dengan saia dan ff saia ini? Ada yang nunggu?

Pasti dah pada lupaaaa T_____T

Mianhae, kemaren saia hiatus skripsi dan alhamdulillah saia lulus dengan nilai memuaskan XDD yeyey!!

Oke deh, tadinya ga pede mau ngepos ini. Tapi si Yuri sms mulu ingetin buat pos. haha

Mian yah, yuuurr *sayur kalii* kalo kelamaan hehe

Makasih buat yang masih support saia buat lanjutin ff2 yang pada masih ngegantung kayak jemuran basah. hahaha

Pokonya ini sinetron banget and rada panjang, plus ngebosenin. *tepok tangan

oke dah, met baca and dikomen yaaaaa.

No bash.

No plagiarism.

Ini ff punya Kei Love Taemin = Keiminnie

enjoy guys~ ^^

Previous part >>>

.

.

.

.

SECOND LIFE 9th

 

“Kau harus fokus ! Pilih salah satu, bung ! Basket, atau dia…”

“Tidak bisa ! Keduanya penting bagiku !”

“Pikirkan baik-baik. Taemin mungkin bisa menunggu, tapi beasiswamu tidak.”

“BERISIK!” Minho melempar handuk yang dipegangnya ke depan cermin kamar mandi setelah ia mencuci muka di washtafel. Pikirannya terus berkecamuk. Kembali teringat percakapannya dengan teman se-tim-nya mengenai beasiswa yang akan di dapatnya. Menjalani training selama 2 tahun untuk meraih impiannya berlaga di NBA. Mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarah yang membuncah di dadanya.

“Mengapa ini menjadi sulit ??”

.

.

.

Keesokan harinya…

“Taemin ! Taemin-ah ! Kenapa kau menghindariku terus, eoh ?!!” Minho menarik tangan Taemin namun ditepis dengan kasar. “Wae, Minnie ? Jebal ?”

Taemin pun berhenti dan menatap Minho dingin, “Just leave me alone.” Lalu berlalu pergi kembali ke kamarnya.

“Tapi kenapa ?!” teriak Minho sambil melempar kursi kayu yang ada di lorong ke salah satu tembok hingga kursi tersebut hancur.

Taemin terkejut mendengar suara dentuman yang menggema di sepanjang lorong asrama kemudian menoleh kebelakang. Namun sosok Minho sudah tidak lagi terlihat. Hanya seonggok kayu yang tak berbentuk.

“Mianhae……”gumam Taemin penuh dengan rasa bersalah.

Esoknya…

“Ya !” kini Minho mencegat Taemin di depannya.

Sebenarnya Taemin terkejut dan belum siap berhadapan dengan Minho seperti saat ini, tapi keputusannya sudah bulat, ia tidak ingin Minho menyesal. Cukup dia saja, cukup pada hidupnya yang tidak lagi lama. Yah…cukup. Ia cukup melakukan ini dan pastinya akan membuatnya bahagia.

Taemin menghembuskan napasnya perlahan lalu tersenyum menatap Minho. Membalas tatapan bingung tersebut dengan sebuah kejujuran yang membuat hangat.

“Hyung sudah makan siang ? Kita makan bersama, otte ?”

Mata Minho melebar dan kebingungannya semakin bertambah, “Ji -jinjja ?”

“Ne~ kkajaaa~!” jawab Taemin sambil mengalungkan tangannya pada lengan Minho untuk pergi ke kantin.

Selama makan berlangsung, Taemin-nya yang dulu telah kembali seperti semula. Minho menghela napas lega dan mengelus kepala Taemin lembut.

“Kenyaaangg~” sorak Taemin sambil memegang perutnya yang terasa penuh.

Minho terkekeh dibuatnya melihat tingkah lucu Taemin yang terlihat kekanakan namun manis di mata Minho.

Tetapi sedari tadi masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia melihat Taemin dengan pandangan sendu, seperti dapat menerka ada hal lain yang disembunyikan Taemin darinya.

“Taemin, boleh aku bertanya satu hal ?”

Taemin membalasnya dengan anggukan karena ia sedang menyeruput strawberry milkshake-nya.

“Apa… apa ada sesuatu yang terjadi tanpa sepengetahuanku ?” dan Taemin memandang Minho dengan serius sambil mengelap bibirnya dengan ujung cardigan yang ia pakai.

“Maksudnya ?”

“Emm…” Minho menggaruk tengkuknya dengan canggung. Kalau seperti ini ia terlihat seperti tengah mengintrogasi Taemin dan itu membuatnya salah tingkah. Dia tidak ingin Taemin salah paham dan merasa Minho mencurigainya atau tidak percaya padanya.

Taemin masih setia menunggu perkataan Minho dengan ekspresi setenang mungkin. Padahal hatinya benar-benar takut membayangkan apa yang akan dikatakan Minho selanjutnya. Apa namjanya ini telah mengetahui hal yang selama ini….anii, belakangan ini, ia rahasiakan….?

Minho terbatuk sesaat merasakan tenggorokannya yang terasa kering mendadak. Melihat wajah namjanya yang sangat cantik tengah menatapnya, menghela napas perlahan dan mengembalikan keseriusannya, “Beberapa hari ini… kau… yah, kau tahu kita…”

Dan Minho melihat pandangan Taemin mulai sendu dan perlahan menunduk menatap ujung sepatunya.

Sulit untuk Minho melanjutkan perkataannya melihat Taemin yang berubah murung seperti sekarang, tangannya berusaha menggapai pipi Taemin tapi tiba-tiba namja cantik itu mendongak membalas menatapnya, membuat tangannya yang semula akan menyentuh Taemin tetap menggantung di udara.

“Hyung…”

??? Minho kembali menarik tangannya, “Ne ?”

“Sebaiknya kita putus saja.” ucap Taemin kemudian sedikit menundukkan kepalanya kepada Minho dan Taemin beranjak pergi meninggalkan Minho begitu saja.

Minho tidak bisa mencerna ucapan Taemin  barusan dan ia hanya terdiam tanpa melakukan apapun. Lebih tepatnya, ia terlalu syok hingga tidak tahu harus apa. Tiba-tiba ia merasa dunia ini sangat sunyi, tidak ada suara sekecil apapun yang dapat ia dengar. Seolah ia hanya sendirian di dalamnya.

Tenggelam dalam pikiran kosongnya, seperti detik-detik manusia akan meregang nyawa. Hati dan otaknya terus berbicara bahwa yang ia dengar tadi…bukanlah hal yang sebenarnya ?

.

.

.

“Aaakhh… hhahh…hhhh” Taemin tengah mencengkram dada kirinya kuat-kuat, sesekali mengusapnya untuk menetralisir rasa sakit dan nyeri di dalamnya.

Tiba-tiba penyakit jantungnya kembali kambuh. Belakangan ini memang sering sekali ia merasakan hal yang menyiksanya itu. Bahkan ia sering tidak bisa tidur kala malam datang. Rasa sakit diliputi rasa takut tidak lagi bisa membuka matanya keesokan harinya, benar-benar membuatnya gila.

Terlebih sekarang ia kambuh tepat disaat pelajaran tengah berlangsung. “Ini ga…waaatt…”gumam Taemin sambil merogoh laci mejanya mencari obat yang setidaknya dapat menahan sakit tersebut, mengobrak-abrik isi tasnya dan akhirnya menemukan apa yang ia cari. Sekuat tenaga menahan sakitnya dan meminta izin untuk keluar kelas sebentar.

Ketika melewati Key, ia melihat tatapan khawatir dari ummanya itu dan dia hanya tersenyum samar dengan susah payah. Berjalan keluar kelas setelah sebelumnya melirik bangku belakang –bangku Minho – dan melihat namja tampan itu tengah melamun dengan pandangan kosong.

“Mianhae, hyung….mianhae…” gumamnya prihatin melihat keadaan Minho yang seolah seperti seonggok tubuh tak bernyawa.

………….

“Haah…sshh…aaakhh…”Taemin masih meremas dada kirinya, dengan susah payah mencoba membuka botol obatnya dan bahkan botol itu hampir saja terjatuh, tapi tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyambar botol tersebut dan membukakannya.

“Hy..hyung…aakhh..shhh….”

“Ini minumlah.”

. . . . . .

“Bagaimana sekarang ? Mau ku antar ke rumah sakit ?”

Taemin menggeleng pelan, “Anii…tidak perlu. Ini sudah biasa, aku baik-baik saja. Maaf merepotkanmu, hyung.. gomawo.” Jawab Taemin sambil memijit pelan dadanya.

“Ternyata benar kau sakit…”

“Hm ?”

“Kalau boleh jujur, aku juga pernah memergokimu kambuh disini. Kupikir saat melihatmu meminum obat, kau sedang memakai obat-obatan…yah, kau tahu…obat-obatan terlarang. Oleh karenanya lebih baik aku berpura-pura tidak tahu. Tapi ternyata kau sedang kesusahan seperti tadi… maafkan aku…aku sama sekali tidak berpikir kalau kau sakit.” ucap namja yang menolong Taemin barusan -Jonghyun-.

“Gwenchana hyung…” jawab Taemin sambil tersenyum manis. Melihat itu Jonghyun langsung mengacak rambut Taemin.

“Tapi…dengan begini bertambah lagi orang yang tahu penyakitku.”gumam Taemin mempoutkan bibirnya.

“Suatu saat pun aku juga pasti akan tahu. Kau tidak akan bisa menyembunyikannya terus, kan ? Terlebih kalau kau sedang kambuh seperti tadi. Bisa saja orang lain yang mengetahuinya.” ucap Jonghyun sambil mengusap punggung Taemin.

Taemin menghela napasnya dan mengangguk membenarkan perkataan Jong barusan, “Ya, hyung ! Aku mohon jangan kasihani aku dan memperlakukan aku seperti orang sakit, ne ? Lakukan sama seperti sebelum kau mengetahuinya. Anggap kau tidak tahu apa-apa, yaksok ?” Taemin menyodorkan pinky promise-nya yang mungil.

“….” Jong terdiam sesaat dan tidak menyambut jari Taemin yang menyodor padanya, “Taemin, apa Minho tahu?”

Mata Taemin langsung melebar. Minho! Nama tersebut spontan membuat kepanikan mulai melanda dirinya, “Tidak ! Emm… belum…”

“Kau tidak memberitahunya ?”

“Tidak ! Maksudku…tidak perlu. Tolong jangan katakan apa-apa padanya. Ayo berjanjilah, hyung..? Jebal ?”

Jjong memalingkan wajahnya yang ditatap penuh harap oleh Taemin. Rasanya sakit melihat wajah tersebut (yang sekarang ia sadarai semakin pucat sejak terakir ia melihatnya) menatap memohon padanya, “Tapi…kenapa kau menghindarinya ? Jangan kau kira aku tidak tahu yang terjadi antara kau dan Minho.” Ucap Jong tanpa menjawab permintaan Taemin tadi.

Taemin menutup matanya sambil menghirup napas dalam-dalam, meyakinkan bahwa keputusannya memang benar, “Aku sakit, hyung. Dan aku akan mati.”

Skak mat ! Jonghyun langsung terdiam mendengarnya. Pandangannya berubah nanar dan sedih.

“Dari pada dia menderita ketika aku mati, lebih baik dia membenciku ketika aku masih ada.”

“…..”

Dan agar Minho hyung dapat meraih mimpi-mimpinya, pikir Taemin.

.

.

.

Taemin menggembungkan pipinya kesal sambil mengganti-ganti channel TV. Tidak ada satupun acara yang dapat menghilangkan rasa bosan yang tengah hinggap di dirinya sekarang ini.

“Aishh aku bisa mati bosan kalau begini terus..” gumamnya sambil merebahkan diri di sofa dan melempar remot tersebut ke sembarang arah.

“Auw !” teriak seseorang yang tepat terkena lemparan random-nya itu.

“Ha ?! Mian !” Taemin terlonjak kaget mengetahui ada orang lain di kamarnya. Karena Onew hyung sedang keluar. Begitu ia menoleh ke asal suara, dia semakin terkejut lagi. “Mi-…Hyung?”

“Tae…aku ingin bicara.” Minho berjalan menghampiri Taemin, dan tatapan Taemin berubah dingin.

“Soal apa? Kurasa tidak ada hal penting yang harus dibicarakan.”

Melihat Taemin yang seperti itu membuat Minho semakin kesal. Amarahnya yang dipendam belakangan ini seolah meledak begitu saja, “Apa salahku, Taemin ?! Tolong katakanlah…!” bentaknya dan meraih kedua pundak Taemin, menatap lurus ke bola mata coklat itu, mencari kebenaran.

Taemin mengangkat bahunya dan memalingkan wajahnya, “Tidak ada. Dan tolong lepaskan aku Minho hyung.”

Tiba-tiba Minho mendorong tubuh Taemin dan menekannya di sofa.

“Hyu-hyung..??” Taemin memegang tangan Minho yang tengah mencengkram bahunya cukup kuat.

“KENAPA ? KENAPA KAU LAKUKAN INI PADAKU ?!” pekik Minho dan cengkramannya di bahu Taemin semakin kencang dan tanpa sadar ia mengguncangkan tubuh kurus itu dengan kasar.

“Sakit…” ringis Taemin berusaha mendorong Minho, tetapi Minho menekannya cukup kuat hingga gerakannya terkunci, “Lepaskan Hyu-mmphh…”

Tanpa ragu Minho menyambar bibir Taemin dengan bibirnya. Menghisapnya dengan sedikit kasar dan mulai melumat bagian atas dan bawah bergantian. Taemin melebarkan matanya karena syok akan apa yang terjadi sekarang. Kenapa Minho-nya berubah seperti ini ?! Kemana kelembutan yang selalu diberikan Minho padanya ?

“Hentikan, hyung ! Andwae ! Shireo !” Taemin terus berusaha mendorong tubuh Minho agar bisa terbebas, namun apa daya…tenaganya tak cukup kuat bahkan Minho sama sekali bergeming di tempatnya.

“Wae!?” Minho melepaskan ciumannya karena Taemin terus-terusan mencoba mendorongnya, dan ia kembali mengguncangkan tubuh Taemin kasar, “Apa kau sudah menemukan orang lain selain aku, yang lebih dariku ?! Apa benar begitu ?! Jawab aku !!”

Taemin menggeleng. Terpancar ketakutan yang sangat dari kedua bola matanya. Ketika pegangan Minho melonggar, ia mencoba bangun dari posisinya namun lagi-lagi Minho menekannya dan ia kembali mencium Taemin.

Taemin berusaha memukul-mukul punggung Minho, tapi percuma saja. Tenaga mereka tidak sebanding terlebih sekarang ini Minho tengah dilanda emosi. Dia bahkan tidak bisa mendengarkan penolakan Taemin dibawahnya. Minho semakin ganas dan ia mulai membuka kancing kemeja yang Taemin pakai satu per satu sambil terus memainkan bibir ranum yang tengah dilumat oleh bibirnya. Mencium pipi, dagu, leher dan turun ke dadanya, memberikan hickey, menyatakan bahwa Taemin adalah miliknya. Tidak ada yang lain ! Tidak boleh ! Namun begitu ia beralih turun dari leher Taemin menuju pundak dan dadanya yang sudah terekspos, Minho terdiam seolah ditampar oleh penglihatannya yang menyakitkan.

Minho kembali tersadar begitu melihat beberapa bekas jahitan yang masih membekas di kulit putih Taemin yang semula mulus tanpa cela. Ia langsung teringat kembali dengan kejadian beberapa saat lalu ketika Taemin hampir dilecehkan oleh senior mereka. Minho menatap wajah Taemin yang tengah menangis tanpa suara, mata sendunya mengeluarkan cairan bening yang membasahi wajah cantiknya.

“Mianhae…jeongmal mianhae Taemin-ah…mianhae..” sesal Minho dan beranjak bangkit dari atas tubuh Taemin. Mengusap wajahnya dengan kasar, tidak dapat mempercayai perbuatannya barusan yang sangat menyakiti Taemin.

Taemin hanya terdiam. Air matanya masih berlinang, dan tubuhnya gemetaran. Ia takut. Ia teringat kembali dengan kejadian waktu ia dilecehkan dulu. Yang mengakibatkan bekas luka ditubuh dan hatinya.

.

.

.

“Tae, maafkan perbuatanku kemarin… jeongmal mianhae.” Minho kembali mencoba berbicara dengan Taemin setelah sebelumnya Taemin menghindarinya terus. Tidak mebalas sms-nya dan juga mereject telpon darinya.

Taemin hanya diam menatap kosong mata Minho. Ia jelas merasa kecewa dengan perbuatan Minho yang menyakitinya, tetapi dia pun dengan jelas mengerti mengenai alasan mengapa Minho sampai bisa berbuat hal seperti itu.

“Gwenchana. Sudah lupakan saja, hyung. Lagi pula kita sudah putus.”

“!!!”

Lagi-lagi kata-kata Taemin membuat Minho terdiam di tempat. Taemin berlalu begitu saja dan meninggalkan Minho yang syok atas tingkah anehnya ini. Taemin menggigit bibirnya kuat, menahan air mata yang hendak keluar dari matanya. Ia tidak ingin mengatakan hal itu…sama sekali tidak ingin…

Seolah takdir seperti mempermainkan hidupnya…

Minho berjalan cepat menyamai Taemin dan menarik tangannya untuk berhenti. “Siapa yang bilang kita putus ?! Aku sama sekali tidak berkata begitu ! Itu hanya keputusanmu sendiri !”

“Terserah.”sahut Taemin dan ia segera masuk ke kelas. Melihat itu, entah perasaan Minho sudah layaknya benang kusut yang tak mudah diluruskan kembali. Mood-nya untuk kuliah sudah benar-benar menghilang dan ia tidak lagi berniat ke kelas. Kalau harus melihat wajah Taemin saat ini, itu hanya akan membuatnya semakin gila. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk bolos dan pergi keluar lingkungan kampus. Ia merasa sangat kesal dan merasa Taemin sungguh tidak adil padanya.

Andai ia tahu…Bahkan ketidak adilan itu pun tengah bermain-main dengan sosok namja cantik-nya…

Tapi tanpa sengaja, Onew melihat Minho yang tengah berjalan keluar gerbang.

………..

“Minho hyung tidak masuk….” gumam Taemin ketika pelajaran dimulai. “Mianhaeyo~ hyunggie.. hanya ini yang bisa kulakukan agar tak membuatmu menyesal memilihku, yang pada akhirnya akan meninggalkanmu.” Taemin menyeka air matanya yang akan menetes di sudut matanya, “Gwenchana, Taemin. Gwenchana. Semua akan baik pada akhirnya…” bisiknya pada dirinya sendiri.

Saat Taemin tengah memusatkan konsentrasinya pada pelajaran yang berlangsung, Key menoleh padanya, “Dimana Minho ? Tidak masuk ?” tanya Key. Ia tahu kalau Minho dan Taemin sedang tidak saling bicara. Onew pun sama sekali tidak mau memberitahunya meski ia sudah menggunakan berbagai cara dan bahkan mengancam, tapi itu hanya berbuah pertengkaran. Seperti pagi ini, ia dan Onew pun sedang perang dingin.

“Tidak tahu, umma…” jawab Taemin datar sambil mengangkat bahunya.

Ini bukan Taemin yang biasanya, eoh ?? , pikir Key. “Nanti sepulang sekolah temani aku, ne ? Kita refreshing !” ajak Key dengan penuh semangat. Ia hanya merasa harus membantu malaikat kecilnya ini (walau memang bukan anak kandungnya, tapi Key selalu beranggapan Taemin adalah ‘benar-benar’ baby-nya) yang saat ini tengah tersesat. Berusaha menuntunnya menemukan cahayanya kembali walaupun hanya berupa hal kecil.

Jelas sekali, Key ingin Taemin –baby-nya– bahagia…. Salahkah?

Dan Taemin mengangguk menyetujuinya.

.

.

.

“Key ! Taemin !” panggil Jong yang muncul di pintu kelas mereka.

“Hyung ?” sahut keduanya berbarengan.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan, eum ? Kalian sudah selesai, kan ?” ajak Jong sambil menghampiri meja Key.

“Wah, kebetulan sekali ! Aku baru saja mengajak Taemin untuk shopping. Kau ikut saja, hyung ?!” sahut Key riang.

Jjong mengacak rambut Key, “Sepertinya tidak ada hal lain selain belanja di kepalamu ini, eoh ?”

“Geezz, jangan sentuh rambutku !! Kau hanya merusaknya !”

“Mwo ?!”

^&$%&^$%#$#%&*

Kucing betina dan The Dino kini saling mencakar… ==’a

Taemin hanya tersenyum samar, “Taman bermain…”gumamnya. Ia tak bermaksud meminta, hanya berbicara untuk dirinya sendiri, tetapi sepertinya kedua Kim itu mendengarnya.

“Mwo ?” ucap keduanya serentak, membuat Taemin terkejut dibuatnya.

“Err…hmm…maksudku…tidak, “ Taemin gelagapan begitu keduanya menatapnya dengan pandangan heran. Tapi tiba-tiba Key tersenyum dan menepuk bahu Taemin,

“That’s a great idea, baby !” soraknya.

Tetapi Jjong mengerutkan alisnya dan menatap Taemin dengan tatapan –Apa kau yakin ?–

Taemin tersenyum melihat Key yang bersemangat dan ia menjawab tatapan Jjong dengan sebuah anggukan mantap.

.

.

.

“Eiissh !” Minho meremas kaleng soda-nya hingga remuk lalu melemparnya ke tong sampah yang berada cukup jauh darinya, tapi, HUP… masuk dengan mulusnya.

“Nice shoot.” ucap sebuah suara yang tiba-tiba muncul sambil bertepuk tangan.

Minho menoleh cepat ke sumber suara, “Hyung ?”

“Annyeong..” sosok bergigi kelinci itu tengah tersenyum menyapanya riang.

Minho mengangkat alisnya dan akhirnya memalingkan wajahnya kembali menatap ke depan. Hatinya tengah dibakar api kekesalan. Sama sekali tidak berminat untuk beramah tamah, dan sosok itu pun merilekskan tubuhnya di sebelah Minho.

“Kau bolos, eum ? Tadi kulihat kau keluar gerbang kampus saat perjalanan berlangsung. Kenapa ?”

“Tidak apa-apa.”

“Taemin kah ?”

Minho langsung menoleh dan menatap sosok bergigi kelinci tersebut –Onew– dengan tajam.

“Apa dia bercerita sesuatu ?” Minho memalingkan tubuhnya menghadap Onew yang tengah duduk di sebelahnya dengan rasa penasaran yang langsung membuncah begitu mendengar nama ‘Taemin’ disebut.

“Hahahaha….” Onew malah tertawa yang menurut Minho sama sekali tidak lucu. Apa yang membuatnya tertawa eoh ? Meledeknya kah ? Ck,

“Ck, sepertinya kau sudah gila, hyung.”

“Yaah, begitulah. Hidup terlalu serius tidak menyenangkan.” Jawabnya santai.

Minho menarik ujung bibirnya sedikit. “Ck, dasar aneh.” gumamnya kesal.

“Aku akan memberitahumu satu hal penting tentang dongsaengku itu, asal kau bisa menang main basket melawanku.” tantang Onew, “Tapi kalau kau takut, ya tidak usah, hahaha”

What ?? Minho mengedutkan alisnya. Menantangnya main basket itu sama saja seperti memberi daging domba ke singa yang lapar.

“Kau tidak salah bicara, hyung ? Kau tidak tahu berbicara pada siapa ?”

Onew hanya tersenyum lalu beranjak pergi, “Kita main di hall.”

. . . . . . .

“Woaaaahh~” Taemin menatap takjub arena taman bermain yang sangat luas dan ramai.

Jonghyun dan Key saling menatap heran, namun akhirnya mereka tersenyum.

“Kau mau naik sesuatu ?” tanya Key. “Biar Jjong hyung yang menemani, iyakan hyung ?” sambung Key cepat. Karena ia tengah hamil muda, ia tidak bisa menaiki wahana yang ekstrim dan akan membahayakan aegya-nya.

“Eh ? A—aku… tidak usah. Sepertinya mengerikan…aku hanya ingin melihat-lihat saja. Hehe”

Key langsung mengerutkan alisnya mendengar jawaban Taemin yang menurutnya tidak masuk akal. Lalu, untuk apa dia ingin ke taman bermain kalau tidak menikmati permainan, eoh ?

“Yah, benar kata Taemin. sebaiknya kita jalan-jalan atau bermain air saja.” sahut Jjong yang tahu betul alasan Taemin menolak untuk menaiki wahana yang kebanyakan memang memacu adrenalin dan tidak baik untuk jantung yang tidak sehat.

Dan Taemin pun tahu betul tentang kehamilan Key yang membuatnya tidak bisa menaiki wahana-wahana tersebut.

“Baiklah, kalau begitu kita jalan-jalan saja.” putus Key.

Ketiganya pun mengangguk dan mulai mengitari taman bermain yang sangat luas tersebut. Taemin sibuk memotret hal-hal yang menurutnya menarik dan mereka tertawa bersama. Sampai akhirnya mata Taemin menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya.

. . . . . . .

Sementara itu di hall basket kampus.

“Aku pasti akan membuatmu bercerita, hyung !” ucap Minho penuh semangat.

“Hahaha, Oke. Buatlah aku membuka mulutku. ^^” sahut Onew enteng.

Dan… TOS !

Setelah jump ball, permainan pun dimulai. Minho mendapat bola pertama tetapi Onew tidak semudah itu membiarkan Minho melewatinya.

Saat keduanya tengah berhadapan, “Kau tahu mitos basket, hyung ?” Tanya Minho sambil menyunggingkan seksi smirk-nya.

“Yang mendapat bola pertama, dia yang akan menang !” sahut keduanya bersamaan.

“We’ll see.” ucap Onew.

“Lets see.” balas Minho.

Dan pertarungan yang sengit pun terjadi hampir sepuluh menit.  9-9, kedudukan seimbang.

Sekarang adalah game point, tembakan terakir adalah penentu siapa yang menang.

“Cih, hebat juga dia.” gumam Minho –kagum– sementara Onew sudah banjir keringat dan tengah mengatur napasnya yang cukup tersengal hebat.

“Aku semakin tua saja… hahaha” ucap Onew sambil mengelap keringatnya dengan ujung kaosnya.

“Kau lumayan.” Puji Minho.

“Haha..”Onew hanya tertawa mendengarnya lalu permainan kembali dimulai.

Detik penentuan siapa yang menang dan kalah.

Bola ada di tangan Onew sekarang. Minho berusaha merebutnya tapi Onew pintar berkelit dan mempertahankan bola tersebut di tangannya. Mereka masih memperebutkan bola tersebut dengan sengitnya, namun tiba-tiba tangan Onew menjadi kaku dan sama sekali tidak bisa digerakkan sehingga Minho dapat merebutnya dan menembakkan bola tersebut tanpa perlawanan.

Masuk !

Onew masih terbengong di tempat dan wajah tenangnya sedikit berubah panik. Minho juga merasa tadi itu terlalu mudah. Ia percaya seharusnya Onew bisa merebutnya kembali atau paling tidak berusaha menghentikan. Tapi tadi Onew benar-benar hanya diam di tempat.

“Kau kenapa, hyung ? Hilang konsentrasi ?”

Onew sendiri juga merasa bingung ada apa dengannya ? Lalu sedetik kemudian, tangan dan kakinya bisa digerakkan kembali. “Apa aku benar sudah setua itu ? Seperti Key yang selalu menyebutku ‘Old man’ ??” (O.O) pikirnya.

“Hyung ! Kau kalah !”

Onew menghela napasnya dan kembali tersenyum, “Apa jadinya kalau MVP kampus kalah bermain dengan orang biasa, eum ? hahaha”

“Sudah tahu akan begitu kenapa menantangku ?!” sahut Minho sombong.

“Hanya iseng saja. Aku bingung kenapa Taemin sangat ingin bisa bermain. Ternyata memang mengasyikkan.”

Minho mengedutkan alisnya, dan detik berikutnya ia mengingat sesuatu, “Hyung ! Janjimu !”

Onew menghela napas perlahan lalu menatap Minho serius, “Dia sedang berkorban untukmu.”

Mata Minho melebar, “Berkorban ? Maksudnya ?”

“Anak itu memang bodoh. Untuk apa ia mengorbankan perasaannya sendiri, membuatnya menderita, hanya untuk orang sepertimu ?”

Mendengar itu Minho langsung mencengkram kerah baju Onew, “Apa maksudmu ?!”

“Yang jelas dia itu sangat mencintaimu. Jangan pernah ragukan itu.” Onew melepas tangan Minho dari bajunya dan menyentil jidat Minho, “Aku sunbaemu. Sopan sedikit. Haha” lalu ia berjalan pergi.

Kini Minho sedang mencerna perkataan Onew barusan sambil menatap punggung Onew yang tengah berjalan keluar gedung olahraga itu.

“Hei ! Sampai kapan kau mau melamun disitu ?!” Onew berbalik menatap Minho yang masih berdiam di tempatnya berdiri tadi, “Ikut aku !”

“Eoh ?”

.

.

.

Taemin dan Key tengah duduk di sebuah bangku kayu di dekat danau buatan di pinggiran arena taman bermain tersebut. Sedangkan Jjong sedang membeli minuman untuk mereka bertiga dan juga gulali untuk Taemin yang sedari tadi menatap kapas merah jambu itu dengan mata berbinar.

“Kenapa kau tidak mau mencoba salah satu permainan, eoh ? Kupikir kau ingin bermain-main disini.” ucap Key sambil menatap Taemin heran. Tapi Taemin hanya tersenyum membalas Key, lalu yang membuat Key terkejut adalah ketika Taemin tiba-tiba menaruh tangan kecilnya di perut Key.

Eoh ? O.O

“Hihi…” Taemin terkekeh kecil sambil mengusap-usap perut yang kini terisi oleh makhluk hidup mungil lainnya.

“Ta-Tae..k-kau…kenapa ?” Tanya Key panik. Ia ingin menepis tangan Taemin dari perutnya, tapi di lain sisi, ia merasakan kehangatan dari sentuhan lembut itu. Seolah rasa rindunya akan sentuhan sang Appa sedikit terbayar.

“Hihi, perut umma lucu ! Sedikit gembul seperti perut Onew hyung. Jangan tanya aku tahu dari mana, karena aku pernah melihatnya berganti pakaian. Hahaha ^^;;” tawa Taemin riang.

Mendengar itu Key ikut tertawa membenarkan. Dan akhirnya ia membiarkan Taemin mengelus-elus perutnya tanpa ada rasa curiga. Ia yakin bahwa dirinya telah menutup rapat soal aegya yang ia kandung dan tidak ada yang mengetahuinya. Tetapi seolah Tuhan tidak menyetujuinya, Taemin pun ditakdirkan mengetahui hal itu tanpa sepengetahuannya.

Tak lama Jjong pun kembali dengan minuman dan gulali di genggamannya, membuat Taemin kembali berbinar senang.

“Ini untukku ?” ucap Taemin riang.

Jjong tersenyum dan mengusap kepala Taemin sayang, “Tentu manis…haha”

Key malah merinding begitu mendengar Jjong yang sangat cheesy menurutnya dan bergidik geli, “Ingat, dia sudah milik si kodok !” bisik Key.

Jjong hanya tersenyum mengangguk. “Aku tahu Key, dan sebentar lagi…” melihat seseorang yang datang Jjong pun menghentikan kata-katanya.

“Eh ?” tiba-tiba ada sesuatu yang bertengger di kepala Taemin, membuatnya yang tengah asyik mengemut gulali, sedikit tersentak kaget. “Apa ini ? Topi ?” Taemin mengambil topi yang berbentuk jamur tersebut dan berbalik ingin melihat siapa orang yang memasangkan topi lucu itu ke kepalanya, “Hyung !?” pekik Taemin begitu ia tahu siapa sang pelaku.

“Minho ?” ucap Key yang juga terkejut melihat kehadiran makhluk tampan itu di sana.

Tanpa memedulikan Key yang tengah menatapnya, Minho langsung mendekap bahu Taemin, “Bodoh ! Kenapa datang ke sini tidak mengajakku ?”

“Ke—kena…kenapa hyung bisa di sini ?” Tanya Taemin gugup dan tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri mereka dengan membawa balon yang sangat banyak hingga menutupi wajahnya sendiri.

“Balon !” pekik Taemin membuat ketiganya menoleh ke arah balon-balon itu.

“Key… Maafkan aku.” ucap orang itu dan menyodorkan balon-balon tersebut pada Key sehingga wajah dibalik sekumpulan balon tersebut pun tampak dengan jelas tengah tersenyum lebar hingga matanya yang sipit tenggelam oleh pipi chubby-nya yang ikut mengangkat naik.

Taemin masih memandang balon-balon itu dengan mata berbinar –ingin pegang– . Diam-diam Minho memperhatikan ekspresi Taemin dan tersenyum melihatnya. ‘Imut’ pikirnya gemas. Dia benar-benar rindu dengan namja cantiknya itu.

“Jinki ?” ucap Key dengan mata berkaca-kaca.

“Iya sayaang, ini aku.”

Jjong terkekeh, “Kalian… ck, dasar dubu. Mana mempan Key dikasih balon seperti itu….” Belum sempat Jjong menyelesaikan ucapannya tiba-tiba Key langsung melompat memeluk Onew dan balon-balon yang dipegang Onew terlepas dari genggamannya.

“Balon !” pekik Taemin berusaha menggapainya namun sayang sekali balon tersebut sudah terbang tinggi, namun Minho berhasil menangkap satu buah. Taemin melirik balon yang ada digenggaman Minho kemudian melirik tangannya yang kosong, merasa tidak dapat balon lalu Taemin menggembungkan pipinya sebal. Minho tersenyum geli melihatnya.

“Yeobo ya~ mian~ aku memang terlalu cerewet.” Ucap Key dan dia hampir menangis menatap mata sipit milik Onew-nya. Yah, Onew-nya. Hanya miliknya.

Onew mengelus kepala Key lembut, “ Aku yang salah Key. Bukan maksudnya untuk merahasiakan sesuatu darimu. Tapi saat itu aku benar-benar sedang lelah hingga membentakmu. Mianhae~”

Key menggeleng dan kembali memeluk Onew dengan erat, karena ia merasakan kehangatan yang tersalurkan ke perutnya –aegya mereka–.

“Tapi Key, aku berhasil membawa Minho kesini dan biar dia yang menjelaskan apa yang terjadi antara dia dan Taemin. Sesuai pertanyaanmu padaku kemarin. ^^”

Key melepaskan pelukannya dan langsung menatap Minho dan Taemin bergantian, “Ya ! Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian, eoh ?” todongnya.

Taemin tersentak begitu juga Minho dan mereka berdua tidak sengaja bertemu pandang tapi Taemin buru-buru membuang mukanya.

“Ya ??” ucap Key tidak sabaran.

“Ti..tidak ada, umma…” tapi tiba-tiba Minho menarik dagu Taemin agar dapat menciumnya dan membuat si empunya bibir terkejut kaku begitu juga dengan ketiga hyung-nya yang lain.

“Saranghae…” bisik Minho dan meraih tangan Taemin lalu memberinya balon yang tadi ia tangkap.

“Hyung…?” Taemin tidak percaya dengan perbuatan Minho yang sangat ekstrim karena menciumnya di depan para hyung-nya.

“Haah, irinyaaaaa…” ucap Jjong sambil tersenyum meledek.

“Minho pabo ! Siapa yang mengijinkanmu menciumnya, hah ?!” Onew langsung mengunci leher Minho dengan lengannya, membuat Minho terbungkuk karenanya.

Key dan Jjong sontak tertawa melihat adegan itu, dan Taemin masih terbengong namun akhirnya ia ikut tersenyum senang.

“Mianhae, cantik…” bisik Minho genit, sambil menggandeng tangan Taemin yang terasa sangat kecil dibandingkan dengan tangannya. Membuatnya ingin selalu menjaga malaikat cantik ini selamanya, “Jangan pernah berkorban untukku kalau itu membuatmu sakit dan kita menjadi jauh.”

“Tapi…aku…aku tak mau jadi penghalangmu, hyung.” Ucap Taemin tertunduk pelan.

“Aku bisa bermain basket kapan pun dan dimana pun yang aku mau. Tapi kau hanya ada satu, dan bila aku tidak memilhmu, aku tidak bisa melihatmu bersama orang lain. Kau…hanya milikku, Minnie ah..” Minho mengeratkan genggamannya pada tangan Taemin.

“Tapi kesempatan tidak datang dua kali, hyung.”

“Begitu juga kau, Tae… Mungkin aku akan sedih jika tidak mendapat bneasiswa itu…” ucap Minho, dan Taemin kembali menundukkan kepalanya sendu.

“Tapi, aku akan menyesal dan menjadi gila bila aku memilih untuk melepasmu, Tae..”

Blush !! (O////O) Taemin tersipu malu mendengar ucapan Minho barusan dan sukses membuatnya terdiam dan jika di dalam cerita komik, maka sekarang kepala Taemin mulai mengeluarkan asap.

Jonghyun dan Key dengan susah payah berpura-pura tidak mendengar agar tidak merusak suasana romantis tersebut, tapi si pemilik gigi kelinci tidak sengaja menumpahkan minuman ke bajunya sendiri dan berteriak kaget, membuat Taemin dan Minho sadar bahwa sedari tadi mereka sedang ditonton.

“Ya ! Jinki !” Key memukul lengan Onew yang jelas-jelas membuyarkan adegan seperti di sinetron-sinetron remaja pada umumnya.

Jonghyun terpingkal melihat tingkah Onew yang terkadang clumsy, sedangkan Onew sibuk mengibas-ngibaskan bajunya san akhirnya Key mengeluarkan tisu dan membantu membersihkan.

“Dingin~” ucap Onew.

Minho dan Taemin memperhatikan hyungnya itu lalu mereka saling pandang. Minho mengangkat bahunya sambil tersenyum, Taemin pun ikut tersenyum dan membalas genggaman Minho dengan erat.

”Aku percaya hyung…” mendengar itu Minho langsung menarik tubuh Taemin agar mendekat, dan merangkulnya.

“Jangan pernah mengambil keputusan sendiri apa lagi jika itu menyangkut masalah kita berdua.” Bisik Minho dan mengecup pipi tembam Taemin.

Taemin menatap mata bulat Minho dengan seksama dan hanya ada ‘kejujuran dan cinta’ yang terpancar dari mata indah itu. “Mian hyung…” Taemin merutuki kebodohannya, bagaimana bisa ia meragukan tatapan Minho yang jelas-jelas bersinar penuh cinta untuknya ?

“Na ddo, mian Minnie…” sambil menarik hidung Taemin pelan, lalu mencium pucuknya yang memerah karena ulahnya itu.

“Makanya kalau minum hati-hati, yeobo. Kau minum seperti bayi !”

“I-iya tadi aku kan tidak sengaja…”

Key mempoutkan bibirnya merajuk.

CUP

BLUSH !

“Aku minta maaf, sayaang…” dan Jinki kembali mecium bibir pink milik Key yang membuatnya sangat gemas ingin mengecupnya lagi dan lagi.

“Aiissh cukup, aku malu…”Key mencubit lengan Onew pelan dan Onew tertawa melihat Key yang selalu blushing bila ia melakukan hal-hal seperti ini.

“Hei, sebaiknya kita pulang saja. Ini sudah petang.” Saran Jjong melihat langit yang telah berubah warna menjadi orange kemerahan.

Onew melirik jam tangannya, lalu keempatnya menganggguk setuju. Lalu Onew menyadari Taemin yang terlihat lelah dan pucat, agar tidak kambuh, Onew menyuruhnya untuk tidur. Taemin pun tertidur di punggung lebar Minho yang sangat nyaman. Walau awalnya Minho harus bertengkar dulu dengan Onew mengenai siapa yanga akan menggendong Taemin. Dan tanpa ada yang tahu, Taemin tersenyum di dalam tidurnya…

Tuhan, semoga pilihanku ini tidak salah. Karena aku egois ingin mempertahankannya….

.

.

.

BRUK

“Onew hyung !!!!!”

“Andwae !!!”

.

.

.

.

TBC AGAIN!! ^^

Mau liat berapa banyak yang masih minat ff ini ditamatkan hehe…

Bye, see u again…

My Fav 2min moment hehehe >///<

Ini juga salah satu momen onkey favoritku XDD