31

[Onkey] Perahu kertas

foreword :

I am back, *gak da yang nanya*. mumpung liburan nih, bikin ff dulu. daripada galau gak jelas. 

Ini ff terinsipirasi dari novelnya Dee dan juga filmnya yang berjudul sama. 

lagi tergila-gila ma ni novel, ku rasa ini bener-bener beda sama aslinya.

ntar kalo liburan udah habis, pasti bakal sibuk terus sampek liburan dateng lagi.

Ok, selamat membaca buat para suunders. mian kalau masih banyak miss typonya, ya?

NO COMMENT NO NEXT

Continue reading

Advertisements
9

[Jinkey] Key 4

Foreword :

Annyeong, fast update nih. selamat membaca ya? ini agak panjang dan mungkin ada yang bisa nebak jalan ceritanya.
seperti yang aku ungkapin di part 1, kalau ni ff terinspirasi dari film anime gosick. so kalo ada cerita yang sama harap maklum.

Cast : Jinkey dkk

Genre : banyak yang bilang fantasy

cek it out

Di stasiun desa Shinee World, tibalah sebuah kereta dari pusat kota sm twon. Dari kereta tersebut, turunlah dua orang namja tampan dan cantik. Yang namja tampan membawa sebuah tas koper berukuran besar dengan sebelah tangan, sedangkan tangan yang satunya menggandeng tangan sang namja cantik yang berada di sebelahnya.

Mereka berjalan menyusuri kegelapan malam yang ada disana. mengingat waktu sudah menunjukkan tengah malam, jadi jarang sekali bus atau kendaraan lain lewat disana. beruntung masih ada satu taksi yang masih beroperasi. Namja tampan dan cantik itu menaiki taksi tersebut menuju penginapan dekat dengan desa gumiho yang letaknya di balik gunung. Namun, saat mereka berdua hendak naik, tiba-tiba seorang namja cantik telah menyerobot memasuki taksi tersebut.

“Mian, aku telah berbuat seenaknya, kalian boleh naik bersamaku, kajja,” ajak namja cantik itu tersenyum ramah.

“Ah, ne,” segera saja Jinki dan Key menaiki taksi tersebut.

“Tolong ke penginapan yang ada di dekat desa gumiho,” kata ketiga penumpang itu secara bersamaan.

Hal tersebut membuat sang supir taksi tersenyum sekaligus kaget akan tujuan mereka. Sedangkan ketiga orang penumpang itu saling memandang satu sama lain.

“Jadi tujuan kita sama ya?” tanya seorang namja imut yang duduk di sebelah Jinki.

“Ne, kurang lebih seperti itu,” jawab Jinki sambil terus menatap Key yang memandang keluar jendela.

“Jinki,” panggil Key tanpa mengalihkan pandangannya dari luar.

“Hmm?” tanggap namja tampan itu.

“Kenapa di luar gelap sekali?” tanya Key polos.

Orang-orang yang berada di dalam taksi itu tertawa mendengar pertanyaan namja cantik bermata indah itu.

“Karena orang-orang telah tidur nyenyak di rumah mereka,” jawab Jinki mencoba menahan tawanya.

“Oh,” sahut Key sambil terus memandang keluar.

Tanpa mereka berdua sadari, namja cantik yang kebetulan satu kendaraan dengan mereka terus mengawasi Key. Sebuah senyum terukir di wajah cantiknya.

“Anak yang malang, diusia mudanya harus kehilangan kebebasan,” gumamnya.

Jinki segera melihat ke arah namja cantik itu dengan bingung.

“Anda bicara sesuatu?” tanya Jinki.

“Aniya, ngomong-ngomong kita belum kenalan, namaku Cho Jino, kau?” kata namja cantik yang ternyata bernama Jino.

“Aku Lee Jinki dan namja cantik ini adalah temanku, Kim Keybum,” Jinki mulai memperkenalkan dirinya dan Key.

“Senang berkenalan dengan kalian,” jawab Jino mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Jinki.

Key yang memperhatikan mereka dari ekor matanya mulai memberenggut tidak suka atas kelakuan Jinki yang selalu ramah pada orang lain. Entahlah, seperti tidak rela kalau namja tampan itu memberikan senyumannya pada orang lain selain dirinya.

“Permisi tuan-tuan sekalian, sebentar lagi akan segera sampai,” tegur si sopir taksi pada ketiga namja yang menjadi penumpangnya.

Benar saja, tak lama kemudian mereka bertiga sampai di sebuah penginapan yang sederhana. Seperti rumah bergaya eropa zaman dulu. Bangunan berlantai dua dengan cat berwarna abu-abu tua dan pintu dari kayu berwarna coklat. Namun, ada yang aneh dengan pintu itu, karena disana telah tergantung seekor burung merpati yang telah mati.

“Apa-apaan penginapan ini, menggantung burung merpati yang sudah mati di depan pintu,” omel Jino tak terima.

“Sudahlah, yang penting ada penginapan disini,” tenang Jinki.

Mereka bertiga turun dari taksi, tak lupa juga membayar ongkos taksi dengan uang mereka.

“Ngomong-ngomong Jino-ssi, untuk apa kau datang jauh-jauh kemari?” tanya Jinki seraya menurunkan koper besar milik Key dan dirinya.

“Aku ingin liburan disini, bosan kalau sering liburan di Jeju, mending yang dekat-dekat saja,” jawab Jino enteng. , mata namja cantik itu tak lepas dari Key yang kini berdiri sambil menggandeng tangan Jinki.

Cklek

Pintu di buka oleh mereka bertiga, tampaklah seorang pria tua dengan kumis di wajahnya yang berdiri di balik meja yang cukup tua juga.

“Selamat datang di penginapan kami,” kata pria tua tersebut membungkukkan badan.

Segera saja Jino dan Jinki mengurus segala sesuatu untuk menginap. Jino memesan satu kamar, sedangkan Jinki memesan dua kamar yang berseberangan.

Setelah semua beres, Jino langsung menuju ke kamarnya. Lalu tinggallang Jinki dan Key yang masih berda di bawah. Ketika hendak menaiki tangga mereka dikagetkan oleh suara jendela yang tiba-tiba terbuka sangat lebar. Segera saja si pria tua itu menutup jendela itu.

“Sepertinya malam ini akan terjadi badai, dan di malam seperti ini, rubah juga keluar,” kata si pria tua tersebut.

“Rubah?” tanya Jinki bingung.

“Ne, seekor rubah. Di balik gunung desa ini ada desa rubah bereekor sembilan. Saat angin kencang, mereka turun gunung untuk memburu manusia. Burung yang digantung itu untuk menjauhkan rubah dari sini. Apa kalian datang kemari juga karena iklan tiga baris?” jelas si pria tua itu memandang ke arah Jinki.

“Jadi masih ada lagi?”

“Ya, mereka bertiga ingin pergi naik gunung dengan mobil, tapi jalan setapaknya terlalu terjal, jadi tidak mungkin,” pria tua itu meruba ekspresinya yang tadi ramah menjadi sangat serius.

“Supaya tidak merasakan kemarahan si rubah bereekor sembilan, kalian harus hati-hati,” lanjut si pria tua tersebut.

“Jogiyo, Apakah di desa itu penduduknya memelihara rubah?” tanya Jinki menatap pria itu bingung.

Si pria tua itu menggelengkan kepalanya, lalu melanjutkan, “Tidak, mereka juga manusia. Mereka berambut pirang ikal, berpipi seperti mawar, tubuh kecil, dan semuanya terlihat mirip satu sama lain.”

Si pria tersebut menatap wajah dingin Key dengan kaget. Matanya terbelalak lebar, tubuh tuanya bergetar setelah melihat mata kucing Key yang tampak tenang.

“N….Ne, mereka seperti namja cantik ini, si rubah yang nampak tenang dan menakutkan itu,” gagap pria tua tersebut seraya berjalan mundur menjauhi mereka berdua.

Jinki yang mendengarnya langsung menatap ke arah Key yang meliriknya tanpa berkata satu katapun.

“Mianhe, bolehkah saya meminta tambahan selimut,” terdengar suara Jino dari tangga lantai dua.

“Ah iya, di malam seperti ini pasti sangat dingin,” sahut si pria tua tersebut menunjukkan sebuah senyum pada namja cantik yang berada di atas tangga.

“Aku bisa merasakannya, ngomong-ngomong, bolehkah saya meminjam telepon? Handphone saya tidak menangkap sinyal, apa boleh?” tanya Jino menghampiri si pria tua yang mulai masuk ke sebuah ruangan yang ada di sebelah meja resepsionis tersebut.

“Tentu,” jawab si pria tua itu menyerah selimut dan menunjuk sebuah telepon yang ada di atas meja.

Jinki hanya memandang namja cantik itu dengan rasa penasaran. Namun, suara langkah kaki Key yang sepertinya kesusahan membawa kopernya tersebut menuju ke arah tangga.

“Sini, biar aku yang membawanya,” Jinki menawari, tapi kata-katanya tidak diindahkan oleh namja cantik yang terus menaiki anak tangga menuju lantai dua.

^_^v

Di malam yang sangat sunyi dan mencekam. Di sebuah kanar sederhana, dimana dalam kamar itu hanya ada satu ranjang tempat tidur, satu meja, dan satu kuris yang diletakkan dekat jendela kayu. Tidurlah seorang namja tampan yang hanya mengenakan sebuah kemeja dan celananya  yang tadi ia kenakan.

Namja tampan itu tidak tenang waktu tidur, terlihat dia selalu mengubah posisi tidurnya setiap detik.

Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari luar. Sontak membuat namja yang tadi tidak bisa tidur tersebut segera bangkit dari tidurnya.

“Apa tadi suara rubah?” tanyanya pada diri sendiri.

Lalu, namja tampan berpipi chubby itu keluar dari kamar. Tanpa di duga, pintu kamar yang ada di seberangnya juga terbuka. Tampaklah seorang namja cantik bertubuh mungil sambil memegang sebuah bantal dan mengucek mata kucingnya yang masih sayu. Namja cantik itu memakai baju tidur yang banyak rendanya, rambut pirangnya ia selipkan di penutup kepala dan menyisakan beberapa helai rambut yang keluar dari penutup kepalanya itu.

“Key, kau mendengar suara itu juga?” tanya si namja tampan itu.

“Kau lihat seekor kelinci keluar dari sebuah topi?” kata namja cantik bernama Key itu sambil mengucek matanya yang sayu.

“Eh, maksudnya?” bingung Jinki menghampiri Key yang masih berdiri di depan kamarnya.

“Tanya pada topinya, cepat sana!” sahut Key memalingkan wajahnya dari hadapan namja tampan itu sambil terus mengucek matanya.

Melihat tingkah namja cantik tersebut, membuatnya tersenyum geli.

“Ngelindur ya? Baguslah, aku tidak usah khawatir,” kata Jinki senang.

Sedetik kemudian Key menatap ke arah Jinki dengan kaget. Lalu melihat ke kanan dan kiri dengan bingung. Tak lama kemudian, wajah putih bersih itu berubah menjadi merah tomat karena malu. Melangkahkan kakinya memasuki kamar. Jinki mengikuti Key, tapi

Brukk

Sebuah bantal telah mendarat di wajah tampannya. Disusul dengan sebuah guci, boneka beruang. Beruntung semua itu berhasil di tangkap oleh Jinki dengan baik.

“Key,” panggil Jinki pada Key yang mulai mengangkat sebuah kursi kayu yang ada di depan meja yang terbuat dari kayu juga.

“Hey tenanglah Key,” Jinki mengambil kursi yang akan dilempar Key padanya.

Jdrerr

Suara petir terdengar dari luar, tak lama kemudian disusul oleh turunnya hujan yang membasahi bumi.

“Biar ku tutup jendelanya,” izin Jinki menutup jendela kamar Key yang terbuka.

Namja cantik itu mulai duduk di atas ranjang yang hanya memuat satu orang saja. Namja cantik itu memandang Jinki tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibir plumnya.

Hening telah menyelimuti suasana kamar yang remang-remang tersebut. Jinki mencuri pandang ke arah namja cantik yang hanya memainkan kalungnya.

“Jinki, kau tahu kenapa aku nekat datang kesini?” Key membuka suaranya tanpa memandang ke arah namja tampan itu dan terus memainkan kalung berwarna keemasan tersebut.

“Untuk membersihkan nama baik ibumu?” tebak Jinki memandang ke arah Key.

“Ada lagi, yaitu untuk menyelesaikan perang antara Heechul dan desa gumiho,” jawab Key memasang wajah serius.

“Perang?” tanya Jinki bingung.

“Sebelum Heechul menang, aku tidak akan kembali,” jelas Key dengan penuh keyakinan.

^_^v

Pagi hari yang berkabut, sebuah kereta kuda telah berjalan di tengah hutan dan menembus kabut yang tiada habisnya ini. Dalam kereta tersebut, ada enam penumpang yang menaiki kereta tersebut.

“Annyeonghaseyo, choneun Leeteuk imnida, sebelah kananku ini Changmin, dan di sebelah kiriku Kyuhyun,” salah satu dari tiga namja tampan yang duduk di depan dua orang namja cantik dan seorang namja tampan yang ada di tengah-tengah mereka, memperkenalkan diri.

“Apa kabar,” sapa namja tampan berpipi chubby itu seraya membungkukkan badannya.

“Apa benar, di balik jalan gunung ini ada desa?” tanya Kyuhyun.

“Ne, katanya begitu,” jawab Jinki sekenanya karena ia memang tidak tahu menahu tentang kota dan desa ini.

Sementara Jinki mengobrol dengan ketiga namja tampan yang baru dikenalnya tersebut, Key terus memandang ke luar jendela. Memperhatikan hutan lebat di luar sana. Sedangkan Jino terus mengawasi Key melalui ekor matanya.

Tak lama kemudian kereta kuda itu berhenti di depan sungai. Sontak mereka berenam langsung turun. Betapa terkejutnya mereka, begitu melihat sebuah tembok raksasa seperti pintu gerbang berada di depan sungai tersebut.

“Akan ku jemput kalian disini besok,” kata si kusir kuda lalu meninggalkan mereka begitu saja.

Tiba-tiba jembatan kayu yang menjadi gerbang masuk dengan bangunan itu turun di depan mereka berenam. Setelah pintu besi di belakang jembatan gerbang itu terbuka. Tampaklah segerombol orang-orang yang menghunuskan pedang ke arah mereka.

“Apa-apaan mereka, menghunuskan pedang seperti itu?” omel Jino sedikit ada nada ketakutan dalam suaranya.

“Anak Heechul.”

“Lihat wajahnya! Bencana.”

Begitulah kata orang-orang yang menghunuskan pedang tersebut. Mereka mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Leeteuk, Kyuhyun, Changmin, Jino, mereka semua mundur. Kecuali Jinki yang maju berusaha untuk melindungi Key yang hanya diam di tempat.

“Tunggu!” seru seseorang dari arah belakang kerumunan.

Segera mereka semua minggir dari tempat itu untuk memberi jalan pada orang yang ada di belakang mereka.

“Kepala desa!” kaget para penduduk tersebut.

“Dia datang karena membaca pesan kita. Dia adalah keturunan kita. Kita tidak perlu mengusirnya. Kebetulan bersamaan dengan hari arona terjauh. Walaupun ibu namja cantik ini adalah Heechul, seorang pembunuh,” jelas sang kepala desa.

Key yang mendengarnya mencoba untuk menahan emosinya agar tidak keluar dengan mengepalkan kedua tangan mungilnya.

^_^v

Akhirnya mereka bereenam di perbolehkan masuk. Meski sedikit ada rasa takut di antara mereka, tapi dengan rasa penasaran atas desa tersebut, mereka memberanikan diri memasuki desa yang sedikit aneh itu.

“Usia desa ini sudah 400 tahun. Selama ini kami menutup diri dari dunia luar dan hidup dengan sumber sendiri. Di hari arona terjauh, kami bertemu dengan para leluhur yang kembali pada musim panas, dan merayakan hal itu. Saat matahari terbit besok, upacaranya dimulai dan berakhir saat matahari terbenam. Sampai saat itu, menetaplah disini,” jelas sang namja tua yang tadi di panggil kepala desa.

Leeteuk, Kyuhyun, dan Changmin terus memperhatikan sekitar desa. Mereka melihat seluruh desa ini dengan kagum. Mulai dari bangunan sederhana sampai bangunan sakral di desa tersebut. Sedangkan Jino, Jinki, dan Key memandang ke depan memerhatikan penjelasan kepala desa desa dengan saksama.

Dor

Dor

Dor

Suara tembakan mengagetkan mereka berenam. Terlihat sang kepala desa telah memegang sebuah pistol dan menembakkannya ke arah gunung.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Leeteuk bingung.

“Rubah, di balik gunung desa ini banyak rubahnya,” jelas sang kepala desa.

“bukankah rubah itu adalah penduduk desa ini?” kata Kyuhyun tersenyum licik ke arah sang kepala desa.

“Bicara apa kau, kami adala manusia,” jawab sang kepala desa kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tadi.

Key menatap orang tua itu dengan sangat lekat.

^_^v

Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah bangunan megah bergaya eropa abad pertengahan yang ternyata adalah sebuah penginapan di desa tersebut.

“Selamat datang,” sambut seorang yeoja bermbut hitam yang diyakini seorang maid disana.

Tiba-tiba saja maid itu terkejut begitu melihat wajah dingin Key di hadapannya. Ia mendekatkan wajahnya untuk melihat wajah Key dari dekat.

“Sangat mirip dengan Heechul…” gumamnya.

Lalu berteriak histeris di hadapan mereka semua. Berteriak sambil memegang wajahnya seperti orang gila.

“Walaupun waktu itu aku masih kecil, tapi aku benar-benar ingat,” katanya sambil terus menatap mata Key.

Sang kepala desa dan seorang namja berambut pirang di belakangnya memandang ke arah yeoja terebut.

“Kwon Yuri!” panggil sang kepala desa. Namun tidak diindahkan oleh yeoja cantik itu.

“Heechul yang terkutuk, di rumah ini bahkan di desa ini, kutukannya tak kan pernah sirna! Kyaaa,” yeoja itu semakin menjadi.

Key yang mendengarnya berusaha mengendalikan emosi yang sudah mulai keluar. Beruntung Jinki langsung menggenggam tangan namja cantik itu agar emosinya sedikit mereda.

“Kwon Yuri!” bentak sang kepala desa yang berhasil membuat yeoja cantik itu terdiam.

“Maafkan saya,” kata yeoja tersebut melangkah pergi.

Semua yang ada disana memandang heran ke arah Yuri. Apa-apaan yeoja itu? Itulah pertanyaan yang sama di kepala mereka semua. Key hanya menatap kepergian yeoja itu dengan tatapan menyelidik.

^_^v

Disinilah mereka, di ruang makan sederhana. Meja kayu panjang serta kursi yang berjajar di samping meja kayu itu menghiasi ruang makan. Selain itu,di bagian tengah tembok ruang makan ada cerobong asapa yang menghangatkan ruangan tersebut.

Piring, gelas, dan sendok dari perak menghiasi meja makan itu. Banyak sajian yang menggugah selera tersaji di atas meja.

“Bisakah anda menceritakan, bagaimana Heechul dituduh sebagai pembunuh?” tanya Key membuka suara, membuat sang kepala desa menghentikan aktifitas makannya.

“Kejadiannya, terjadi di ruang baca pemilik penginapan ini, namanya Yoochun. Tepat pukul 12 malam, maid kami bicara soal detilnya. Saat itu Heechul berusia 15 tahun. Dia punya kebiasaan mengisi air tengah malam,” jelas sang kepala desa.

Sementara sang kepala desa menjelaskan, para maid termasuk Yuri menghidangkan makanan di atas meja. Jinki memandang Yuri yang meletakkan teh di sampingnya.

“Dan malam itu, tepat pukul 12 tengah malam,” lanjut sang kepala desa.

“Bagaimana anda tahu waktu tepatnya?” tanya Key yang dari tadi mendengarkan penjelasannya dengan saksama.

Jinki dan kepala desa memandang ke arah namja cantik bermata indah tersebut dengan kaget.

“Saat itu, aku bersama beberapa orang lain melihat Heechul membuka kunci dan masuk ke sana. Waktu itu aku sudah memastikan waktunya dengan jam sakuku, tapi entah kenapa orang-orang yang bersamaku menyebutkan waktu yang berbeda. Saat Heechul masuk ruang baca, dia berteriak dan lari keluar,” kepala diam sejenak lalu melanjutkan.

“Karena khawatir aku mengikutinya, tapi Yoochun-ssi sudah tertusuk pisau dan menghembuskan nafas terakhirnya, disana juga banyak uang koin bertebaran di sekitar mayatnya.”

“Uang koin?” heran key.

“Ne, disini membayar dengan emas dilarang. Karena itu, Yoochun mengumpulkannya. Sejak malam itu, Heechul demam tinggi dan dirawat di kamarnya. Kami menunggu demamnya turun. Dan sebagai kepala desa yang baru.”

Key menundukkan kepalanya menatap makan dihadapannya seakan hal itu adalah objek paling menarik.

“Kami mengusir Heechul dari desa ini,” kepala desa terus menjelaskan.

“Diusir?” bingung Jinki menatap ke arah kepala desa.

“Ne, dengan beberapa lembar won dan tas koper.  Aku melihatnya keluar dari desa dan mulai mengangkat jembatan itu. Dia adalah namja cantik biasa yang tidak tahu tentang dunia luar, bahkan aku ragu kalau dia berhasil selamat di luar sana.”

“Tidak adil,” kata Jinki ketus.

“Pendosa harus diadili atau desa ini akan tertimpa kemalangan. Dan sekarang, anak Heechul datang kemari, ckckck, ironis sekali,” kepala desa menatap wajah Key yang mulai mengeluarkan air mata.

^_^v

Setelah makan dan berkemas. Key memutuskan untuk pergi dari penginapan menuju ke suatu tempat.

“Key,” pangil Jinki mengejar langkah Key yang semakin jauh. “Kau mau jalan-jalan? Padahal kita baru saja sampai,” omel Jinki begitu langkahnya sudah sejajar dengan namja cantik itu.

“Annyeong, namaku Baekhyun, aku wakil kepala desa disini,” kata seseorang yang muncul di balik tikungan.

“Ne, Annyeong,” sapa Jinki membungkuk di hadapan namja tampan itu.

“Kalian mau kemana? Biar aku temani,” tawar Baekhyun.

“Ada satu tempat yang ingin kami kunjungi, yaitu kediaman Kim Heechul,” jawab Key dingin.

Baekhyun yang mendengarnya terbelalak kaget. Namun, dia sudah berjanji pada mereka, dan mengantarnya sampai pintu sebuah rumah yang sudah tidak berbentuk, tapi pintunya masih awet.

“Sampai sini saja, aku permisi, Annyeong,” pamit Baekhyun lalu lari tunggang langgang.

“Sudah kuduga, jika aku beritahu sejak awal dia pasti tidak akan memberitahukannya,” gumam Key memandang kepergian namja tersebut.

Jinki dan Key memasuki rumah tersebut. Mereka berdua menyusuri setiap rumah dengan terperinci. Bahkan Jinki sampai memegang dindingnya, siapa tahu menemukan sesuatu yang tersembunyi disana.

Krekk

Tiba-tiba saja kaki Key menginjak sesuatu di lantai rumah tersebut. Segera namja cantik itu menghilangkan debu yang menutupi lantai kayu itu dan mulai menariknya sekuat tenaga.

“Jinki,” panggil Key pada namja tampan yang sibuk sendiri itu.

“Ne?”

“Bantu aku,” pinta Key menatap lantai kayu yang sudah tua itu.

Namja tampan itu berjongkok di samping Key. Memposisikan tangannya ke sela lantai kayu diikuti oleh Key. Lalu mereka berdua berusaha mengangkat balok kayu tersebut sekuat tenaga.

Dan

Brakk

Akhirnya balok lantai kau itu terbuka. Tampaklah sebuah kertas berwarna putih yang sedikit kusam karena sudah lama tersimpan disana.

“Tidak apa-apanya,” gerutu Jinki begitu lantai itu terbuka.

Key mengambil kertas putih itu dan membersihkan debunya. Dibaliknya kertas yang ternyata adalah sebuah foto. Foto Heechul dan Key kecil yang berada dalam pelukannya.

“Itu Heechul-ssi,” Jinki menatap foto tersebut.

“Dan fotoku waktu bayi,” sahut Key melanjutkan kata-kata Jinki.

“Bagaimana bisa?” heran Jinki menatap foto yang ada di tangan Key intens.

“Itu artinya ada orang yang datang 16 tahun lalu dan menukarnya dengan foto Heechul  yang sudah dewasa,” jelas Key memeluk foto itu erat-erat.

Jinki menepuk punggung Key untuk menenangkannya. Dia tidak tega melihat namja cantik ini terus mengeluarkan air matanya.

“Lalu, mau kemana kita sekarang?” tanya Jinki tersenyum menatap Key.

Disinilah mereka, di tempat yang membuat setiap orang memikirkan hal yang tidak-tidak. Kabut menyelimuti mereka dan suana mencekam di sekitar mereka. Di depan gundukan tanah yang di ujung gundukan itu ada batu nisan bertuliskan nama Park Yoochun. Jinki dan Key menatap gundukan tanah itu denan wajah ditekuk.

Tiba-tiba Key maju dan mulai mengais tanah dekat dengan nisan makam tersebut dengan brutalnya.

“Key, tidak baik merusak makam orang,” cegah Jinki namun tidak dihiraukan olehnya.

Gerakan tangan namja cantik itu berhenti begitu mendapati sebuah tulisan yang diukir pada batu nisan tersebut.

“Aku tidak bersalah, H,” Key membaca tulisan tersebut.

“H? Kim Heechul, berarti dia,,,,” kata-kata Jinki terpotong oleh ucapan Key.

“Dia datang kemari dan menulisakan kalimat ini….hiks….umma…..hiks,” tangis Key jatuh terduduk di atas makam.

Kikikikik

Jinki mendengar suara tawa dari balik gunung. Namja tampan itu melihat kesana-sini. Lalu ia menemukan sepasang cahaya berwarna biru yang meyala di tengah kabut.

“Key,” Jinki memegang lengan namja cantik itu, matanya terus waspada pada seitarnya.

“Jinki?” heran Key menatap Jinki bingung.

Segera saja namja tampan berpipi chubby itu menarik Key menjauhi tempat tersebut. Karena mereka telah dikejar segerombol rubah di belakangnya.

“Sudah ku duga, itu bukan suara tawa, tapi suara rubah, mata itu seperti mata Key, berwarna biru muda,” gumam Jinki sambil terus berlari menari Key.

Brakk

Mereka membanting pintu kayu penginapan dengan cukup keras. Nafas mereka terengah-engah karena terlalu lelah berlari. Jinki mengintip keluar lewat jendela kaca yang berada di sebelah pintu.

“Rubah?” tanya Key masih terengah-engah dan dijawab dengan anggukkan oleh namja tampan itu.

Keduanya memutuskan untuk naik ke lantai atas menuju sebuah ruang besar. Disana ada Leeteuk, Kyuhyun, dan Changmin yang bermain kartu.

“Bagaimana teleponnya?” tanya Leeteuk begitu mendengar suara pintu terbuka.

“Ah, ku kira Jino, ternyata kalian,” katanya kecewa mendapati Jinki dan Key berdiri di ambang pintu.

“Waeyo?” tanya Jino yang baru saja datang dari acara meneleponnya.

“Aniya,” sahut Changmin lalu melanjutkan acara main kartunya.

Jino melangkahkan kakinya memasuki ruangan besar tersebut menuju meja untuk mengambil minuman. Jinki dan Key menghampiri namja cantk yang kini mengenakan mantel berwarna biru muda.

“Telepon? Berarti disini ada listrik?” tanya Jinki bingung melihat keadaan sekitar.

“Ne, sepertinya desa ini punya sponsor, kalau tidak salah namanya adalah Choi Siwon, sepuluh tahun lalu orang itu datang kemari untuk memasang listrik disini,” jelas Jino menatap Jinki.

“Oh,” respon Key melangkahkan kaki menuju kamar.

“Chakaman, Key!” Jinki mengikuti namja cantik itu menuju kamarnya.

^_^v

Disinilah mereka berdua. Di sebuah kamar yang cukup luas. Disana terdapat ranjang berukuran king size yang diberi bed cover warna putih bersih. Di sampingnya terdapat dua buah meja nakas yang masing-masing di atasnya terdapat lampu tidur. Tak jauh dari sana, ada sebuah meja rias lengkap dengan kursinya. Di depan ranjang tersebut ada sebuah meja dan kursi kecil dari kayu.

Key duduk di atas kursi sambil terus memutar-mutar liontinnya. Sedangkan Jinki mengambil beberapa pakaian dari koper yang mereka bawa dan merapikan pakaian Key yang berantakan akibat ulahnya.

“Choi Siwon, jika dia datang kemari sepuluh tahun lalu tepat saat perang dengan Korea utara terjadi, mungkin dia punya maksud lain,” Key berkata pada dirinya sendiri.

“Mungkin dia datang kemari untuk mengambil sesuatu,” sahut Jinki acuh.

“Benar juga, dia mungkin mengambil sesuatu di rumah umma lalu menukarnya dengan foto Heechul yang sudah dewasa, tapi benda apa itu?” gumam Key berpikir apa yang dilakukan Siwon disini.

Tok tok tok

Suara ketukan pintu terdengar di luar kamar. Sejenak Jinki menghentikan aktifitasnya membereskan barang. Lalu beranjak menuju pintu untuk membukakan pintu tersebut.

Terlihat pelayan bernama Yuri membawa seember berisi air yang masih mengeluarkan asap yang Jinki yakini itu adalah air hangat.

“Saya membawakan air panas untuk mandi, tapi sebaiknya ditambahkan sedikit air,” jelas Yuri menyerahkan ember tersebut kepada Jinki.

“Jadi aku bisa mandi?” tanya Key ceria.

Segera saja Jinki menyiapkan air mandi untuk namja cantik itu ke dalam bath up yang terdapat di kamar mandi. Setelah semua siap, Key langsung masuk ke kamar mandi dan mendorong Jinki keluar.

“Yak, Key aku juga mau mandi,” kesal Jinki setelah ia berada di luar.

“Tidak boleh, kau berjaga di luar saja,” sahut Key dari dalam.

“Curang,” keluh namja tampan itu kemudian mengambil sapu yang ada di sudut ruangan untuk dijadikan senjata.

Jinki berdiri di depan pintu kamar mandi Key ala seorang pengawal yang siap menjaga tuan putri dari bahaya apapun.

Gubrakk

Terdengar suara benda jatuh dari dalam kamar mandi. Dengan sigap, Jinki membalikkan badannya bersiap untuk menyerang.

“Key!” teriaknya.

“Huahh, aku suka mandi, hangat dan segar, hmm, hmmm,” Key mulai bernyanyi di dalam kamar mandi. Membuat namja tampan yang tadi panik menjadi tenang.

“Ternyata dia sedang bernyanyi, kalau begini, aku bisa tenang,” Jinki berkata pada diri sendiri.

Namja tampan itu berjalan menuju meja yang telah tersedia sebuah air. Namun, di dalam gelas tersebut terdapat sebuah benda berbentuk bola berwarna putih. Belum sempat Jinki melihat benda apa itu, tiba-tiba

Ctik

Lampu yang tadi menyala, kini padam. Ruangan yang tadi sunyi dan damai kini berubah menjadi mencekam.

“Key,” panik Jinki memanggil namja cantik yang tadi bernyanyi mulai diam.

“…” tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi membuat namja tampan bermata bulan sabit itu melebar.

“KEY!” teriak Jinki melempar gelas yang tadi di pegangnya begitu saja.

Ctik

Lampu kembali menyala bersamaan dengan terbukanya pintu kamar mandi yang menunjukkan seorang namja cantik yang memakai piyama warna pinknya. Rambut namja tersebut dikucir menyerupai ekor kuda di belakang.

“Wae geurae? Berisik sekali,” gerutu Key menatap namja tampan yang ada dihadapannya.

“Aniya, aku tadi hanya panik saja,” elak Jinki menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Sejenak mata kucing Key menatp ke arah gelas yang tadi dilempar oleh namja tampan tersebut. Tak jauh dari gelas itu ada sebuah benda berwarna putih yang ternyata bentuknya seperti bola mata berwarna hijau.

“Ini, ada yang mengancam kita dan menyuruh untuk segera meninggalkan desa ini,” kata Key menata bola mata itu lekat-lekat.

“Maka dari itu, kita harus pergi dari tempat ini,” usul Jinki membuat namja berparas cantik itu menatap ke arahnya.

“Bukankah kau akan melindungiku?” tanya Key polos.

“Tentu saja,” jawab Jinki mantap.

“Kalau begitu aku tidak usah khawatir,” seru Key sambil tersenyum manis ke arah Jinki yang mematung melihatnya.

“Aku mandi dulu,” ujar Jinki memasuki kamar mandi dengan cepat karena wajahnya telah memanas jika menatap naja cantik itu lama-lama.

Sementara itu Key menatap Jinki dengan senyum malu. Lalu beranjak menuju ranjang king sizenya dan mulai terlelap disana.

^_^v

Di pagi yang cerah di desa gumiho. Terdengar hiruk pikuk penduduk desa yang mempersiapkan upacara arona terjauh. Banyak penduduk desa yang sudah mulai berjajar di dekat jalan untuk menyaksikan upaca tersebut.

Jinki dan Key juga melihat-lihat sekitar. Mereka melihat tiga buah gerobak yang dihiasi oleh labu berwarna merah menyala seperti lentera. Di masing-masing gerobak tersebut terdapat tiga buah arca kertas yang menyeramkan.

“Ini artinya apa ya?” Jinki mulai menyentuh-nyentuh gerobak itu dengan rasa penasaran.

“Itu adalah ordo musim dingin,” jelas Baekhyun yang tiba-tiba muncul dari belakang mereka.

“Ordo musim dingin?” tanya Key bingung jujur saja upacara seperti ini tidak pernah ia baca pada buku di perpustakaan.

“Ne, atau lebih tepatnya setan musim dingin, kami akan membakar gerobak kayu ini sebagai tanda untuk menyingkirkan arwah roh jahat yang tersisa saat musim dingin, semacam tolak bala,” jelas Baekhyun dibalas Jinki dengan menganggukkan kepalanya.

“Kalau begitu, kami melihat-lihat yang lain ya?” pamit Jinki mulai menarik Key yang sejak tadi melihat gerobak itu dengan takjub.

Suara musik terdengar di festifal. Suara drum yang di pukul oleh beberapa orang yang berjalan di festifal, diiringi oleh suara terompet dari orang-orang yang berbaris rapi. Jinki dan Key melihatnya di bagian paling depan.

“Kalau kalian berniat untuk menghina desa ini labih baik kalian pergi!” teriak Yuri menatap tajam ke arah tiga orang namja yang mulai berjalan mundur.

“Kalau kalian percaya takhayul, berarti desa ini sangat terbelakang,” ejek Leeteuk menatap ke arah dua teman yang ada di belakangnya.

“Hey, sudahlah kalau kita benar diusir bagaimana?” Kyuhyun mulai menasehati.

“Mianhe, orang ini memang sering membuat ulah,” Changmin mulai meminta maaf pada penduduk desa.

“Kami akan beristirahat di kamar saja,” Kyuhyun menarik lengan Leeteuk menjauh dari keramaian diikuti oleh Changmin.

Tiba-tiba Jino datang dari arah belakang JinKey. Namja cantik itu berjalan sambil melipat tangan di depan dadanya.

“Mereka benar-benar pembuat onar, kemarin di gereja, mereka mencelupkan vas ke dalam guci berisi air suci,” jelas Jino memegang kepalanya yang sedikit sakit.

Key seperti mendapat sesuatu seperti kepingan yang perlahan mulai tersususun di otaknya.

Jinki pergi meninggalkan namja cantik itu di depan gereja. Key menatap festifal dengan pandangan kosong. Tak lama kemudian Jinki kembali membawa sekantung penuh berisi kue kering rasa coklat.

“Ini, aku bawakan cemilan untukmu,” Jinki menyodori Key kantung tersebut.

Namja cantik itu menerima kantung yang disodorkan Jinki padanya. Lalu memakan kue yang ada di dalamnya dengan pandangan masih terarah di festifal.

Dalam festifal tersebut. Kini berganti pada yeoja dan namja cantik yang memegang sebuah keranjang kecil. Mereka berhenti sejenak di tengah-tengah jalan. Kemudian melempar sebuah biji yang diambilnya dari dalam keranjang tersebut.

Orang-orang berlindung dari biji-biji yang dilempar itu. Termasuk Jinki yang mulai mendekap Key agar tidak terkena lemparan biji.

“Itu,” Key menunjuk seorang namja berambut pirang dan mengenakan topi juga menutupo kepalanya dari lemparan biji.

“Leeteuk-ssi, ternyata dia juga ingin menikmati festifal juga,” sahut Jinki melihat arah pandang Key.

Tak lama kemudian, gadis-gadis itu berganti dengan beberapa namja tampan yang memakai pakaian para tentara tradisional Korea zaman kerajaan. Mereka dibagi menjadi dua. Kelompok berbaju biru dengan kelompok berbaju ungu. Yang berbaju biru memgang tongkat dan mengayunkannya seolah-olah melawan sang tentara berbaju ungu.

Lalu kelompok berbaju ungu itu pura-pura kalah. Kemudian Baekhyun sang pemimpin kelompok berbaju biru maju memegang sebuah obor.

“Wahai setan musim dingin, menghilanglah dari kobaran apa!” ucap Baekhyun mulai menyalakan api dan membakar ketiga gerobak itu.

Orang-orang bersorak riang begitu gerobak-gerobak itu terbakar. Namun, sesuatu bergerak-gerak di atas salah satu gerobak tersebut. Segera saja Baekhyun mendorong gerobak tersebut sampai jatuh.

Arca kertas yang terbakar itu bergerak-gerak. Terdengar suara teriakan orang kesakitan dibaliknya.

“Air, cepat ambil air!” perintah Baekhyun pada penduduk yang menyaksikan.

Tak lama kemudian teriakan tersebut terhenti seiring beberapa orang yang datang membawa seember air lalu menyiramnya.

Krak

Topeng yang menutupi sosok tersebut mulai pecah. Tampaklah seorang namja tampan berambut pirang. Kaca mata yang ia kenakan, lensanya telah pecah. Wajah namja tampan tersebut telah memerah akibat luka bakar yang menimpanya.

“Leeteuk-ssi,” kaget Jinki begitu mengetahui siapa mayat tersebut.

“Bagaimana ia bisa…padahal tadi…” gumam Baekhyun memperhatikan mayat Leeteuk.

Key hanya menatapnya tanpa ekspresi. Dia tetap mengunyak cemilannya tanpa ada rasa takut sedikitpun. Padahal, dihadapannya kini telah ada seorang mayat.

Jinki menatap namja cantik itu dengan heran. Key, siapa kau sebenarnya? Kenapa kau tidak takut sama sekali, padahal dihadapannya kini telah ada orang mati.

TBC

Otte? Ni, yang masih penasaran aku kasih lanjutannya, tapi tinggalin jejak disini ne?

CONTINUE READING

 

 

 

16

[Jinkey] Key 5

Foreword :
Gomawo yang udah mau ninggalin jejak di part sebelumnya. Sesuai janji, ini aku kasih lanjutan dari ff yang gak jelas ini.
Disini bakalan terungkap sedikit demi sedikit, tapi masih ada beberapa misteri yang belum terungkap.

Cast : Jinkey dkk

Genre : banyak yang bilang fantasy

CEK IT OUT

Para penduduk membawa mayat Leeteuk dari tengah-tengah festifal. Mereka meletakkannya di bagian belakang gereja. Kyuhyun dan Changmin yang mendengar bahwa temannya itu telah mati, segera menghampiri mayat Leeteuk yang sudah terbungkus kain berwarna putih.

“Leeteuk hiks,” tangis Changmin di samping mayat Leeteuk.

“Ini kecelakaan. Dia ingin mengganggu festifal dengan niat berkelekar, dia menukar arca kertas dengan dirinya. Tamu yang tolol,” jelas sang kepala desa.

“Itu alasan yang konyol,” sanggah Kyuhyun menatap tajam sang kepala desa.

“Kepala desa, itu tidak mungkin, tadi saat orang-orang melempar biji, namja ini sedang berjalan disana. lagipula di alun-alun banyak orang yang berkumpul. Jadi saya pikir dia tidak mungkin bisa masuk ke tengah-tengah acara,” Baekhyun menceritakan apa yang telah ia saksikan.

“Banyak omong adalah dosa bagi orang bodoh,” sang kepala desa melirik Baekhyun dan membuat namja tersebut terdiam.

“Mianhamnida,” ucap Baekhyun menundukkan kepalanya.

Jinki yang berada disana memandang heran pada sang kepala desa. Dia merasa aneh atas apa yang dikatakan sang kepala desa.

“Kita tidak bisa membatalkan festival. Setelah ini ada acara di gereja. Saya permisi,” pamit sang kepala desa meninggalkan TKP diikuti Baekhyun di belakangnya.

“Tunggu, Hey, Hey,” teriak Kyuhyun begitu sang kepala desa meninggalkan tempat.

Key memandang kepergian mereka dengan tatapan dingin. Namun, diotaknya menyusun setiap kejadian yang baru terjadi tadi.

Seperti yang dikatakan kepala desa, festival arona terjauh terus berjalan dengan lancar. Para penduduk desa juga tidak terlalu memikirkan kematian Leeteuk yang tadi sempat menggemparkan alun-alun.

Jinki dan Key melihat festival di pinggir alun-alun. Mereka berdua terus menatap beberapa orang yang mengayunkan tombak satu-sama lain.

“Walaupun ada orang yang mati, acara tetap dilanjutkan seperti semula, memang ada yang aneh dengan penduduk desa ini, ya kan Key?” tanya Jinki menatapa namja cantik yang ada disampingnya.

Namun, namja cantik bermata indah itu tidak ada disana. Dengan panik Jinki mulai menerobos kerumunan untuk menemukan namja cantik tersebut sambil terus memanggil namanya.

“Bukankah kau akan melindungiku?” kata-kata Key terus terngiang dibenaknya.

Akhirnya, namja tampan berpipi chubby itu sampai di depan gereja. Namja tampan tersebut mulai melangkahkan kakinya memasuki gereja yang telah dipadati banyak anak berbagai usia. Ada yang seumuran dengannya atau yang masih muda sekalipun.

“Jinki-ssi, kau ingin menanyakan masa depan juga?” tanya Baekhyun menghampiri namja tampan yang kini menatapnya bingung.

“Hmm, masa depan?” tanya Jinki.

“Ne, atas kemenangan ordo musim panas, jadi panen yang sukses sudah dijanjikan, dan sorenya acara di gereja. Gereja adalah jembatan bagi arwah para leluhur. Mereka melihat hasil panen kami. Namun, sebelumnya dengan mulut mereka yang masih hidup, arwah leluhur menjawab pertanyaan anak-anak. Nah, Jinki-ssi karena sudah jauh-jauh kemari, kajja!” Baekhyun menarik lengan Jinki menuju pada tenda yang ada di dalam gereja.

“Tidak, aku sedang mencari Key disini, Tunggu, Baekhyun-ssi,” tolak Jinki namun masih terus mengikuti Baekhyun yang masih berlari.

Setelah sampai di depan tenda, mereka berdua berhenti. Baekhyun membuka tirai tersebut dan mendorong Jinki agar masuk ke dalamnya.

Cahaya dalam tenda sangat minim karena hanya diterangi sebuah lilin yang diletakkan di meja. Tak jauh dari meja tersebut, ada kepala desa yang duduk pada kursi kayu yang ada sandarannya.

“Apa pertanyaanmu?” tanya sang kepala desa menatap Jinki.

“Aku ingin mencari Key,” jawab Jinki sekenanya.

“Kalau itu yang kau inginkan, tak usah khawatir, dia tak jauh dari sini, kau dan dia sangat berbeda,” sahut sang kepala desa sambil menatap Jinki tajam.

Akhirnya namja tampan itu berlutut di depan kepala desa. Sebelum melontarkan pertanyaan wajahnya memerah jika memikirkan pertanyaan yang akan ia lontarkan.

“Begini, aku punya teman, apakah aku bisa seterusnya bersama Key?” tanyanya dengan pipi yang memerah.

Sang kepala desa memejamkan matanya berusaha melihat masa depan namja yang ada dihadapannya ini. Tak lama kemudian mata sang kepala desa terbuka, tapi bola matanya menjadi putih tak ada warna hitamnya.

“Kalian akan bersama hingga sebelum ajal. Beberapa tahun dari sekarang, dunia akan bergetar, dibawah hembusan angin yang sangat kencang! Karena berat tubuh kalian yang ringan, angin kencang itu akan memisahkan kalian berdua! Tapi, hati kalian tidak akan berpisah,” kata sang kepala desa mendekatkan wajahnya pada Jinki.

Setelah mengatakannya, sang kepala desa langsung jatuh terduduk di kursinya. Matanya terpejam lagi. Lalu matanya terbuka dan kembali normal.

“Hati kami…maksudnya?” tanya Jinki lagi.

Namun, sang kepala desa tidak menghiraukan Jinki.

“Selanjutnya,” katanya memandang keluar tenda.

Mau tidak mau, namja tampan tersebut mulai meninggalkan tempat. Dia terus merenungkan apa yang diucapkan sang kepala desa. Ada rasa takut yang menghinggapinya. Takut akan kehilangan namjanya. Namjanya? Bolehkah ia berkata seperti itu?

Tap

Suara langkah kaki seseorang berhenti tepat disampingnya. Sontak dia menoleh ke arah orang tersebut.

“Key, kau disini juga?” tanya Jinki begitu mengenali siapa orang itu.

Air mata namja cantik bermata kucing itu tergenang di pelupuk matanya. Membuat Jinki menatapnya bingung.

“Apa yang kau tanyakan?”

Key menghapus airmatanya kasar, kemudian menjawab

“Aku menanyakan pertumbuhan.”

“Pertumbuhan apanya?”

“Tinggiku.”

“Tinngi? Padahal aku kan….argh, sudahlah tak usah dipikirkan,” sahut Jinki meletakkan tangannya dipinggang.

“Kau marah kenapa?” tanya Key bingung atas perubahan sifat Jinki.

“Kau sih hilang secara tiba-tiba, membuat orang khawatir saja. Darimana saja kau?” tanya Jinki mengintrogasi Key.

“Ruang baca,” jawab Key menatap depan tak berani menatap mata namja tampan yang ada disampingnya. Membuat namja tampan itu kaget mendengarnya.

Flashback

Di ruang baca yang sunyi. Seorang namja cantik membuka pintu yang terbuat dari kayu.

“Umma,” katanya memandang ke kanan-kiri ruang baca sebelum memasukinya.

Saat beberapa langkah memasuki ruang baca tersebut. Tiba-tiba ia dikagetkan oleh sebuah tangan yang terkepal dan mulai memeluknya.

“Heechul yang terkutuk!” seru sang empunya tangan yang ternyata pelayan bernama Yuri.

Key hanya bisa diam dalam pelukan yeoja itu. Tak lama kemudian yeoja itu melepaskan pelukannya dan menatap takut ke arah namja cantik dihadapannya.

“Yoochun-ssi dibunuh dengan cara seperti itu, dengan pisau tajam yang menembus punggung atasnya. Bahkan aku hafal bentuk pisaunya,” jelas Yuri. Sejenak yeoja itu terdiam lalu mulai berteriak histeris lagi.

“Yoochun adalah orang dewasa, sementara Heechul adalah seorang anak berusia 15 tahun. Tinggi mereka sangat berbeda!” yeoja itu mengacak rambutnya frustasi.

“Tepat sekali, tidak mungkin seorang anak menggapai punggung seseorang untuk menancapkan pisau disana,” tanggap Key menatap dingin pada yeoja dihadapannya.

“Huuuuuu, Heechul yang terkutuk, jiwanya yang ternoda, tapi jika bukan dia…..” yeoja itu terus mengutuk sosok Heechul.

“Tepat, pelakunya pasti bukan dia, kau juga berfikir seperti itu?” tanya Key memandang Yuri lekat-lekat.

Tanpa menjawab pertanyaannya, Yuri segera meninggalkan ruang baca dengan tangan yang masih menutupi wajahnya. Key hanya melihat kepergian yeoja tersebut dengan bingung.

Teng teng teng

Jam tugu yang ada dalam ruang baca telah berdentang. Key segera menatap jam tersebut dengan bingung. Beberapa ekor burung merpati bertebrangan diluar jendela ruang baca. Tiba-tiba namja cantik tersebut mendapatkan suatu pandangan tentang kejadian 20 tahun yang lalu.

Flashback end

“Sekarang, mata air kebijaksanaan telah bicara padaku dan semua kekacauan berhasil tersusun,” kata Key dengan wajah serius.

“Tersusun? Berarti kau tahu siapa pelakunya,” sahut Jinki menatap Key yang ada dihadapannya.

“Tapi walaupun aku tahu siapa pelakunya, bagaimana caraku membuktikannya?” tanya Key menatap mata Jinki.

Tiba-tiba sebuah suara rubah mengagetkan mereka. Tak hanya Jinki dan Key saja, tapi para penduduk desa juga mendengarnya.

Seperti biasa, setiap mendengar suara rubah. Kepala desa segera mengambil senapan yang diberikan Baekhyun padanya.

“Tidak akan kubiarkan seekor rubah mengganggu jalannya festifal,” kata sang kepala desa mulai berlari ke asal suara diikuti oleh Baekhyun di belakangnya.

“Jinki, kajja!” ajak Key mengikuti kepala desa diikuti Jinki di belakangnya.

^_^v

Sampailah mereka dihutan. Baekhyun memandang sekeliling mencari rubah.

Kresek

Kresek

Sebuah suara terdengar dibalik semak-semak. Segera saja kepala desa menembak ke semak belukar tersebut.

“Hentikan,Andwae!” teriak Key memperiangatkan kepala desa.

Tapi sayang, kata-katanya tak diindahkan oleh pria tua dihadapannya.

Dor

Arghh

Suara teriakan seseorang terdengar dari arah semak-semak. Kepala desa dan Baekhyun menghampirinya. Sedangkan Key mencengkeram kemeja Jinki dengan erat.

“Gawat, dua korban, Jinki,” kata Key ketakutan.

Segera saja Jinki menarik Key menuju ke semak belukar tersebut mengikuti kepala desa dan Baekhyun yang hanya diam disana.

Mereka dikejutkan dengan adanya tubuh Changmin yang terbaring tak berdaya. Dadanya telah terlumuri darah akibat luka tembak yang dideritanya. Sedangkan disampingnya ada Kyuhyun yang menangisi kepergian jasad temannya.

“Wae? Wae? Apa yang kalian lakukan, Hah? Padahal kami Cuma berkeliling, tapi….hiks,” kata Kyuhyun menatap tajam ke arah kepala desa yang masih memegang senapannya.

“Penduduk desa tidak biasanya mendekati hutan kan?” gumam Jinki namun masih bisa didengar oleh orang yang ada disekitarnya.

“Berarti kepala desa salah mengiranya sebagai rubah,” Baekhyun menatap mayat Changmin lekat-lekat.

“Bicara apa kau ini. aku yakin yang kutembak tadi adalah rubah, bukan namja ini,” sanggah kepala desa menatap Baekhyun.

“Jangan bohong! Kembalikan Changmin, Changmin, Changmin!” histeris Kyuhyun menarik-narik baju kepala desa.

“Kyuhyun-ssi, tenanglah,” Jinki coba menenangkan namja yang telah histeris itu.

Sementara itu Key hanya melihat kejadian tersebut tanpa berkata apapun. Tiba-tiba tatapan tertuju pada sebuah biji kacang yang tadi dilempar para yeoja dan namja cantik di festival. Segera saja ia memungut biji tersebut dan menyimpannya.

^_^v

Di atas jembatan yang terbuat dari kayu, berdirilah tiga orang namja. Disebelah kanan ada namja tampan bermata bulan sabit. Dia mengenakan kaos lengan pendek berwarna putih dan jaket warna biru muda, juga celana berwarna senada dengan kaos yang ia kenakan. Ditengah-tengah ada namja cantik yang mengenakan pakaian berwarna biru muda juga. Namun namja cantik itu mengenakan kemeja. Sebelah Key ada Baekhyun yang memakai kaos berwarna hijau lengan panjang dan celana berwarna biru.

“Kepala desa yakin kalau ia tidak bersalah,” kata Jinki memecah keheningan.

“Tapi kalau ia bersikeras kalau tuduhannya salah, maka beliau harus punya bukti,” sahut Baekhyun memandang ke arah air sungai yang memantulkan cahaya jingga dari matahari yang mulai tenggelam.

“Lalu apa yang kau pikirkan?” tanya Key menatap Baekhyun lewat ekor matanya yang tajam.

“Walaupun kepala desa adalah fondasi desa ini, tapi tetap saja ia harus punya bukti untuk membuktikan kalau dia tidak bersalah. Choi Siwon,” sahut Baekhyun tanpa memandang ke arah namja cantik itu.

“Kalau tidak salah, ia yang memasang listrik di desa ini, ya kan?” tanya Jinki memandang Baekhyun yang mulai terkekeh.

“Ne, saat aku masih kecil. Dia hanya singgah disini, tapi ia telah mengajari kami tentang dunia luar. Aku mencintai desa ini, namun, berkatnya aku jadi ingin mengetahui dunia luar, tapi…..” jawab Baekhyun dengan penuh senyuman.

“Sementara itu kau merasa desa ini dipenuhi oleh kekacauan,” sahut Key tiba-tiba membuat Jinki dan Baekhyun memandangnya kaget.

“Aku sudah memegang kepingan penyebabnya. Aku tidak keberatan untuk mengatakannya padamu. Itulah bukti yang kau cari, benarkan?” lanjut Key memandang Baekhyun dengan senyum misterius.

^_^v

Disinilah Jinki, Key, dan Baekhyun. Saat matahari sudah benar-benar tenggelam, mereka bertiga menunggu di dalam sebuah gereja yang masih bagus dan banyak sekali benda-benda kuno. Mereka bertiga bersembunyi di belakang kursi tempat berdoa paling pojok agar tidak ketahuan oleh siapapun.

“Gereja sepi pada malam hari. Hanya saat inilah arwah leluhur menyeberang. Sudah pasti saat seperti inilah pelakunya memanfaatkan keadaan untuk mencuri,” jelas Key sembari memainkan rambut panjangnya.

Baekhyun dan Jinki memandang namja cantik yang sedang asyik sendiri tersebut.

“Kalau seperti itu, barang apa yang mereka curi disini? Disini tidak ada barang yang berharga,” sanggah Baekhyun melihat sekitar gereja yang sedikit menyeramkan.

“Manusia itu hanya memikirkan nafsu tanpa memperdulikan apakah yang mereka lakukan itu salah. Di lain sisi mereka aneh telah mengincar barang tua yang bernilai,” sahut Key sambil terus memainkan rambutnya tanpa memandang ke lawan bicaranya.

“Berarti pelakunyahmmmpppttt” belum sempat namja itu menyelesaikan kalimatnya. Mulutnya telah dibekap oleh namja cantik bermata kucing dengan tangan mungilnya.

“Sssssttt, dia sudah datang,” Key memandang ke arah pintu masuk yang sedikit terbuka.

Krieeeek

Suara pintu terbuka menggema di dalam gereja. Masuklah seorang namja tampan berambut pirang mengenakan topi dan masker. Ketiga namja yang mengawasinya hanya membiarkan namja tersebut melakukan aksinya.

Namja tampan itu berjalan didepan sebuah lambang salib raksasa dimana disana terdapat vas yang terbuat dari emas. Diambillah vas tersebut. Namja itu tersenyum penuh arti melihat vas yang ada dalam dekapannya.

Brakk

Tiba-tiba saja pintu gereja terbuka sangat lebar. Nampaklah para penduduk desa yang membawa sebuah obor dan ditengah-tengah mereka terdapat seorang namja tampan dengan gaya rambut nyentrik.

“Kaulah pelakunya, Park Kyuhyun,” teriak namja nyentrik tersebut.

“Tidak akan kubiarkan orang awam yang tak mengenal harga suatu barang,” sahut Kyuhyun seraya mendekap vasnya dengan erat.

Tanpa menghiraukan apa yang dikatakan oleh sang pelaku. Namja nyentrik yang bernama Jonghyun itu berlari dan menyergap Kyuhyun hingga namja tersebut jatuh tersungkur dengan sebuah biji yang ada disampingnya.

Jinki, Key, dan Baekhyun yang sedari tadi bersembunyi langsung keluar dengan wajah bingung Jinki dan Baekhyun.

“Mereka adalah pencuri barang-barang langka. Perbuatan mereka menjatuhkan vas ke dalam air bukan berniat untuk membuat ulah, tapi untuk membuktikan keaslian dari vas emas tersebut. Vas dengan lapisan palsu akan mengambang di air,” jelas Key menatap Kyuhyun yang telah terduduk dibawah salib.

“Lalu dia membunuh teman-temannya karena saling berdebat?” tanya Baekhyun menatap Key.

“Seperti itulah kira-kira,” jawab Key tanpa menatap sang lawan bicara.

“Tapi, bukankah kita telah melihat Leeteuk saat festival berlangsung, ditambah lagi dia juga terkena lemparan biji?” sangkal Jinki.

“Itu adalah Kyuhyun yang menyamar. Setelah bertengkar dengan Yuri, Kyuhyun memukul Leeteuk sampai pingsan. Kemudian dia membungkus tubuh Leeteuk yang tak sadarkan diri dalam arca kertas,” jelas Key menatap wajah Jinki dengan penuh keyakinan.

“Mana Buktinya?” tantang Kyuhyun menatap tajam ke arah Key.

“Buktinya ada disini,” Key menunjukkan biji yang tadi ada di sebelah Kyuhyun saat diringkus. “Benda ini terjatuh di lantai saat kau diringkus, yang juga ku temukan di sebelah mayat Changmin di hutan.”

Kyuhyun menatap kaget atas penjelasan namja cantik bermata kucing yang kini telah bermain dengan biji tersebut.

“Sebelumnya kau telah menembak Changmin ditengah hiruk-pikuk bedug festival. Setelah itu kau memanfaatkan suara rubah untuk menjebak kepala desa sebagai pelakunya. Saat terdengar suara rubah, penduduk desa akan menembaknya. Dia juga ingat kebiasaan kalian yang kau tunjukkan saat kami tiba,” jelas Key menatap kepala desa yang kini menatap tajam ke arah Key.

“Yang telah membunuh Changmin bukanlah kau. Inilah bukti yang kau butuhkan,” lanjut Key menatap ke arah kepala desa yang nampak terkejut juga.

“Heh, aku diselamatkan oleh anak Heechul, bawa namja ini! .kita akan menghukumnya sesuai adat,” perintah sang kepala desa pada penduduk yang ikut dalam penangkapan.

Jonghyun yang menyaksikan Kyuhyun dibawa oleh penduduk desa mulai panik. Dia adalah inspektur kepolisian di SM Twon jadi dia tidak bisa membiarkan ini terjadi.

“Tunggu, desa ini berdiri di tanah Korea Selatan, jika seperti ini berarti kalian telah melanggar hukum negara,” Jonghyun mencoba menghentikan penduduk desa.

“Kau bilang Korea selatan? Hahaha, ini bukan desa, tapi sebuah kerajaan, yaitu kerajaan Sila dan aku bukanlah kepala desa, tapi seorang raja dan kata-kata raja adalah mutlak,” kata kepala desa menatap tajam ke arah Jonghyun.

Akhirnya namja tampan itu hanya bisa membiarkan Kyuhyun dibawa oleh penduduk desa untuk di adili. Dengan muka merengut dia meninggalkan gereja menuju penginapan yang sama seperti Key dan Jinki tempati.

^_^v

Disinilah mereka yang tidak punya pekerjaan. Jinki, Key yang duduk bersebelahan. Di depan Jinki ada Jonghyun dengan wajah kesalnya dan disebelahnya ada Baekhyun yang hanya menundukkan kepala.

“Dasar, apa-apaan mereka, kerajaan Sila. Kerajaan itu sudah runtuh lama sekali,” gerutu Jonghyun mengayun-ayunkan kakinya dibawah meja.

“Jjong, kenapa kau bisa ada disini?” tanya Jinki polos.

Namja nyentrik yang tadi berwajah kesal kini menatap tajam namja yang ada dihadapannya. Mungkin kalau mata itu bisa menusuk orang, Jinki akan mati.

“Kau tidak berpikir? Bukankah aku hanya boleh keluar, asal dengan pengawasannya,” sahut Key seraya menyesap coklat panas dalam cangkir putih.

“Apa maksudmu?” tanya Jinki yang mulai lola (loading lama).

Belum sempat namja cantik itu menjawab pertanyaannya, pintu kayu yang tadi tertutup kini terbuka. Nampaklah namja cantik nan imut memasuki ruangan tersebut dengan sempoyongan.

“Huah, sepertinya aku kebanyakan minum soju,” racau namja cantik yang kini menjatuhkan pantatnya di kursi sebelah Jonghyun.

Semua yang ada disana menatap tajam ke arah namja cantik yang kini terduduk lemas, kecuali Jonghyun dan Key.

“Chagiy~, apa tugasku sudah selesai? Dongsaengmu cantik juga,” tanya namja cantik itu memandang ke arah Jonghyun.

“Kau banyak minum lagi, Jino-aah,” sahut Jonghyun merangkul pundak Jino.

Jinki menatap adegan itu dengan bingung. Lalu ia beralih menatap Key yang masih asyik menyesap coklat panasnya.

“Dia adalah Cho Jino, namjachingu Jonghyun-hyung, tugasnya adalah mengikuti, mengawasi, dan melaporkannya pada Jjong-hyung,” jelas Key yang bisa membaca tatapan mata Jinki.

“Sepertinya aku ketahuan nih,” sahut Jino menatap gemas ke arah Key.

“Chagiy~ sudahlah, kau minum dulu air putih ini,” Jonghyun menyerahkan air putih yang sedari tadi berada di depannya pada Kekasihnya itu.

Greeek

Suara kursi dimundurkan oleh Key. Namja cantik itu berjalan ke arah Jinki lalu duduk di atas pangkuan namja tampan tersebut. Mereka yang melihatnya nampak terkejut atas apa yang dilakukan oleh Key.

“Baekhyun,” panggil Key menatap ke arah namja tampan di sebelah kanan Jonghyun.

“Ne?”

“Aku butuh bantuanmu untuk mencari buktiku,” jawab Key melingkarkan tangannya di leher Jinki.

“Aku?” tanya Baekhyun menunjuk dirinya sendiri.

“Selain itu, Jinki, kau akan menjadi pemeran utama untuk mencari buktiku,” tanpa menjawab pertanyaan Baekhyun, Key malah menatap Jinki dengan tatapan memohon.

“Aku juga?” tanya Jinki bingung.

Chup

Kini Key telah mengecup bibir Jinki dengan singkat. Membuat namja tampan itu terdiam. Lalu tersenyum membalas perlakuan namja cantik yang kini berada pada pangkuannya.

“Kita akan ke masa 20 tahun yang lalu untuk membuktikan kalau Kim Heechul tidak bersalah,” kata Key mulai turun dari pangkuan Jinki.

Baekhyun, Jonghyun, dan Jino yang ada disana saling menatap bingung atas apa yang dikatakan Key. Namun tidak untuk Jinki karena ia tahu apa yang direncanakan namja cantiknya itu.

TBC

 benerkan? banyak yang udah terungkap? itu kenapa Key jadi genit ya? Ah, Molla yang pasti tinggalin jejak.
Author mau nyari inspirasi buat ff promise dulu. Bye.

 

 

 

28

[Onkey] Love Between the Dark part 5 A

Foreword : Selamat hari raya idul fitri. Nih ane bawa ff yang udah lama aku cari di folderku yang ternyata cuma nemu separo doang. karena seperonya masih belum aku buat. jadi aku bagi deh. Gwenchana ne?

Ok, read this and enjoy this.

ini bagian dari part terakhir. mohon dibaca dan berikan suaranya untuk inspirasiku saat melanjutkan ceritanya.

 

cek it out

 

“Jinki, kau bisa mendengarku kan?” tanya Key.

Jinki yang mendengar suara Key mulai mencari sumber suara, “Key? Apa itu kau?” tanyanya.

“Ne, ini aku, kau bisa memakai kekuatanku yang ada dalam kalung ini,” Jinki melihat kalung yang kini telah melayang dari kotaknya. Entah itu hanya halusinasinya atau apa, ia melihat sosok Key yang tengah mengenakan kalung tersebut.

“Bagaimana caranya, aku bisa memakai kekuatanmu?” tanya Jinki.

“Menembuslah kalung yang sejajar dengan jantungku ini, nanti kau akan tahu kekuatan apa yang tersimpan di dalamnya,” jelas Key.

“Yang paling penting adalah percayalah padaku,” lanjut Key.

Kalung permata merah muda itu bersinar terang seiring dengan mendekatnya tangan Jinki ke kalung itu, seuatu telah ia pegang dari kalung tersebut. Entah yang ia sentuh itu apa, yang terpenting adalah, ia percaya dengan dirinya dan percaya dengan Key yang kini memejamkan matanya.

 

~Love Between the Dark part 5~

Lalu secercah cahaya indah terpancar keluar mengitari tubuh Jinki. Bersamaan dengan cahaya itu, dia tengah memegang sebuah pedang yang sangat indah. Sedangkan Key yang asli tengah menjerit kesakitan, tapi tak lama kemudian dia tersenyum.

“Aku percaya padamu, Key,” lirih Jinki sambil mengangkat pedang tersebut tinggi-tinggi.

Jessica yang melihat kejadian itu hanya berdiri mematung, melihat apa yang ada di hadapannya. Sejenak, dia tersenyum sinis. Secercah kebahagiaan dan hasrat untuk segera memangsa Key semakin berkobar.

“Kau tahu Jinki, kenapa aku selalu ingin memakan tubuh Key? Bahkan, sejak dia masih bayi?” tanya Jessica pada Jinki.

“Wae?” sahut Jinki datar dan mulai memasukkan kalung Key ke dalam saku celananya.

Jessica memandang pedang yang dipegang Jinki. Sesaat kemudian, ia menjentikkan jarinya lalu keluar zombie yang langsung menyerang namja bermata sabit tersebut.

Karena kaget, Jinki langsung menghunuskan pedangnya kepada zombie. Ajaibnya, makhluk hijau itu langsung lenyap tanpa bekas. Berbeda sekali dengan pistol yang selama ini ia gunakan. Selama ini memang ia menembaki zombie, tapi si zombie tidak langsung menghilang.

“Apa ini? Kenapa Key mempunyai kekuatan seperti ini?” gumam Jinki sambil memandang pedang yang ada di tangannya. “Apalagi, pedang ini sangatlah besar, tapi aku sama sekali tidak merasa berat jika membawanya?”

“Hahaha, kenapa? Kau terkejut dengan kekuatan itu? Itulah sebabnya, aku ingin memakan Key, supaya aku bisa memiliki kekuatannya,” jelas Jessica.

Kemudian, keluarlah semua jenis zombie ketika sang ratu menjentikkan jarinya. Jinki yang melihatnya hanya menatap bingung ke arah para zombie dan menatap tajam ke arah Jessica.

“Jinki, kau pasti bisa mengalahkan mereka semua, aku selalu berada di sisimu,” tiba-tiba saja suara Key terdengar olehnya.

Jinki yang mendengarnya terus mencari sosok Key. Lalu ia melihat bayangan namja cantik itu di pedangnya. Jinki tersenyum melihat sosok tersebut.

“Sudah kubilang, aku percaya padamu,,,” Jinki memejamkan matanya kemudian ia tersenyum cerah “Key,”

Sosok Key ikut tersenyum lalu menghilang begitu saja di hadapan Jinki.

Namja bermata seperti bulan sabit itu memasang ancang-ancang untuk menyerang sang ratu zombie beserta pasukannya. “Akan lakukan ini, demi kau, keluargaku, dan untuk keselamatan semua orang di dunia,” batinnya. Lalu ia menyerang semua pasukan zombie dengan brutal.

~Love Between the Dark 5~

Sementara itu,  JongTaeHo telah kembali ke rumah keluarga Lee bersama dengan Heechul yang digendong oleh Jonghyun.

Keadaan Taemin sudah membaik, luka goresnya sudah tertutup, tapi dia belum sadarkan diri. Minho yang menggendongnya, masih sangat khawatir. Pasalnya, jantung Taemin sempat terhenti beberapa menit yang lalu. Ia takut, terjadi apa-apa dengan namja cantiknya.

Yunho yang menyadari kedatangan mereka mulai menyambutnya. Segera saja, ia membantu Jonghyun membawa Heechul menuju ke kamar yang kosong. Sedangkan Minho, membaringkan Taemin di sebelah Key.

Jaejoong memandang kedua namja cantik yang tengah memejamkan matanya itu. Tatapannya mengisyaratkan kesedihan yang mendalam, karena ini begitu miris. Taemin mempunyai bakat meramal, dari Taeminlah semua ini bisa ia ketahui bahwa Key-lah yang akan menyelamatkan dunia ini.

Flashback

Seorang namja cantik tengah memeluk seorang namja kecil dengan erat. Di depannya berdirilah sesosok makhluk berwarna hijau telah berdiri di depannya. Makhluk itu mulai mendekat, dan meraih dirinya.

DOR

Si makhluk mengerikan itu langsung jatuh begitu saja di depannya. Lalu, muncullah seorang namja cantik paruh baya berdiri dibelakang makhluk itu.

“Jaejoong, pergilah, dan bawalah Key bersamamu, berlindunglah di kediaman keluarga Lee,” ujarnya.

Tanpa berpikir lama, ia langsung berlari keluar dari rumahnya diikuti oleh namja tersebut di belakangnya. Mereka terus berlari. Dalam dekapan Jaejoong, ada Key kecil yang sedang gemetar karena ketakutan. Dia eratkan dekapannya pada namja kecilnya itu dengan harapan, ketakutan pada anaknya bisa hilang.

Di depan, sudah ada Yunho dan Jonghyun telah stand by dalam mobil jaguarnya. Jaejoong berlari ke arah suaminya tersebut. Namun, kakinya tersandung batu kecil yang mengakibatkan keseimbangannya itu runtuh dan ia terjatuh, sedangkan Key telah terlempar sedikit jauh darinya.

Key kecil terus menangis karena kaget, tiba-tiba saja, namja kecil itu di datangi oleh seseorang yang wajahnya tidak terlihat. Dia menyentuh kepala Key dan menatap mata kucing namja kecil itu. Tiba-tiba cahaya telah menyelimuti tubuh mungil Key. Jaejoong yang melihatnya mulai panik dan menghampiri namja kecilnya.

Saat Jaejoong sampai di depan Key. Orang itu telah hilang, sedangkan mata anaknya telah terpejam. Segera saja, ia gendong tubuh Key yang tak sadarkan diri itu, menuju mobil Yunho  yang telah menunggu mereka.

Blam

Jaejoong menutup pintu penumpang, tepat di sebelah Yunho. Namja tampan itu memandang istri dan namja kecil cantiknya itu.

“Ada apa dengan Key?” tanyanya.

“Molla, yang penting kita harus segera menuju ke rumah Donghae, begitu kata umma,” sahut Jaejoong.

“Lalu umma?” tanya Yunho lagi.

Jaejoong hanya mengangkat bahunya, “Aku tidak tahu, yang penting sekarang adalah keselamatan anak-anak terlebih dahulu,” ujarnya sambil memandang Yunho tajam.

“Kau benar,” sahut namja tampan itu, lalu mulai menjalankan mobil jaguarnya menuju ke rumah keluarga Donghae.

^_^v

Akhirnya mereka sampai di rumah keluarga Lee. Seluruh keluarga Lee tengah bermain di halaman belakang. Mereka bersenang-senang. Sampai si namja yang paling kecil di keluarga Lee berkata

“Umma, cebental lagi aja tamu.”

Umma namja kecil itu menatap anaknya tak percaya. Sejak kapan, namja kecilnya ini memiliki kelebihan seperti hyungnya? Pikirnya.

Ting tong

Bunyi bel pintu menggema sampai ke halaman belakang. Seorang maid tengah membukakan pintu untuk orang yang membunyikan bel. Segera saja Eunhyuk sang nyonya rumah itu melangkah menuju ke depan.

Tampaklah semua keluarga Kim. Yunho yang tengah menggandeng Jonghyun kecil, sedangkan Jaejoong menggendong Key yang tak sadarkan diri. Di tambah lagi, wajah Jaejoong telah tertekuk.

“Omo, ada apa ini? Apa yang terjadi pada kalian?” kaget Eunhyuk melihat keadaan keluarga Kim. “Yeobo, kesini, ppali!” teriaknya memanggil sang suami.

Segera saja orang yang dipanggil itu menuju ke arahnya sambil menggandeng kedua namja kecilnya.

“Waeyo? Omo, Yunho, apa yang terjadi?” pekiknya.

Kemudian Jinki kecil melepas gandengannya pada sang ayah, dia berjalan menuju ke arah Key yang tak sadarkan diri. Dia tatap mata Jaejoong yang sendu dan mengeluarkan air mata.

“Kenapa ahjumma menangis? Uljima, semua akan baik-baik saja,” ujar Jinki kecil menghapus airmata Jaejoong.

Semua yang ada disana kaget atas perilaku Jinki kecil, kecuali Jonghyun dan Taemin. Lalu, si Jinki kecil memandang Key yang berada di sebelah Jaejoong.

“Yeppoh, dia yeppo sama seperti ahjumma,” kata Jinki menyentuh kening Key pelan. Ia usapkan tangan kecilnya pada wajah namja cantik itu. Sejurus kemudian, mata Key mulai terbuka.

Lagi-lagi yang ada disana dibuat terkejut oleh sifat Jinki kecil yang kini menampakkan senyum lebarnya,  sehingga, gigi kelincinya kelihatan. Key kecil yang mendapati Jinki kecil berada di depannya pun bertanya.

“Nuguya?”

“Annyeong, perkenlkan, Choneun Lee Jinki imnida, neo?” tanya Jinki kecil.

“Aku Kim Keybum, tapi biasa dipanggil Key,” sahut Key kecil. Lalu mereka berdua tersenyum bersama.

Jaejoong yang melihat adegan itupun hanya terbelalak tidak percaya. Jonghyun yang mengerti arti tatapan Jaejoong pun berjalan menghampirinya dan mulai memeluk sang umma.

Taemin merengek minta digendong sang appa. Tak menunggu lama, Donghae lalu menggendong anak bungsunya itu.

“Appa, makhluk hijau mengelikan itu apa?” tanya Taemin tiba-tiba.

“Oh, itu zombie, kenapa Taemin tanya seperti itu?” jawab Donghae.

“Uhm, hyung cama hyung cantik itu hebat ya?” puji Taemin memandang JinKey yang mulai akrab.

“Kenapa Taemin ngomong kayak gitu?” tanya Donghae mulai mendudukkan dirinya di sebelah Eunhyuk yang juga memandang Taemin kecil.

“Kalena meleka beldua yang mengalhkan zombienya, huhuhu,” jelas Taemin lalu ia mulai memeluk tubuh appanya erat-erat sambil menangis di dekapan sang appa.

“Kenapa Taemin menangis? Uljima ne?” Donghae menenangkan namja ciliknya itu.

“Taemin ndak mau umma-appa ninggalin Taemin,” ujar Taemin semakin mengeratkan pelukannya pada sang appa.

Semua yang ada disana semakin terkejut, karena Jonghyun juga bertingkah laku sama seperti yang Taemin lakukan yaitu memeluk Jaejoong sangat erat dan menangis disana.

^_^v

Benar saja apa yang dikatakan Taemin beberapa minggu yang lalu. Donghae dan Eunhyuk dinyatakan meninggal karena diserang oleh zombie saat mereka berusaha untuk menyelamatkan Heechul, tapi tidak bisa.

Jinki dan Taemin kecil sangat sedih karena ditinggal oleh kedua orang tuanya. Namun, keluarga Kim datang untuk menghibur mereka berdua.

“Aku janji akan melindungi Jinki dan Taemin seperti aku melindungi Jonghyun dan Key,” janji Yunho dalam hati.

Flashback End

Jaejoong terus memandangi wajah Key dan Taemin. Dia berharap agar kedua orang ini selamat. Namja cantik itu berjalan menuju ke arah Taemin. Dibelainya wajah putih mulus milik Taemin. Halus sekali, sama seperti punya aegyanya. Namun, sayang sekali, takdir kedua namja cantik yang sedang dipandangnya itu sangat sangat berat. Apakah semua ini akan berakhir?

Brakk

Bunyi pintu yang dibuka secara paksa oleh seorang namja yang sama cantik dengan dirinya, tapi agak sedikit tua itu memasuki kamar Taemin. Wajah namja itu terlihat begitu khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu pada cucu dan anaknya. Ia pandang sejenak wajah Key yang kini tengah terlelap. Walau ia tahu kalau cucunya yang cantik itu tidak tidur, dan sedang kehilangan rohnya yang bersatu dengan Jinki dan bertarung mengalahkan sang ratu zombie yang sejak dulu ingin sekali ia bunuh itu.

Lalu namja itu memandang ke arah jam dinding, kemudian bertanya pada Jaejoong.

“Pada pukul berapa Key mulai tidak sadarkan diri?” Jaejoong yang ditanya hanya menggeleng. Ia memang tidak tahu kapan Key mulai tidak sadarkan diri.

“Saat nenek mulai melepas kalungnya, dan itu pukul 2 dini hari,” sahut Jonghyun yang ada di ambang pintu.

“Semoga saja putra sulung Donghae bisa kembali sebelum pukul 2 dini hari,” ujar Heechul sambil menatap sendu ke arah Key. Jonghyun dan Jaejoong yang mendengarnya hanya mengerutkan alis tidak paham.

“Waeyo? Apa yang akan terjadi, jika Jinki tidak kembali pada pukul dua dini hari?” tanya Jaejoong panik.

“Key akan pergi meninggalkan kita untuk selamanya, dengan kata lain, harapan kita satu-satunya akan pergi,” Heechul mulai meneteskan airmatanya.

“Tak kusangka, kau masih bisa menangis umma,” kali ini Yunho berkomentar.

“Ini karena Jonghyun telah kembali menarik hatiku yang sudah lama terkubur,” jawab Heechul sambil melirik Jonghyun yang tersenyum.

“Gomawo, kau memang bisa diandalkan,” ujar Yunho bangga, dia peluk Jonghyun sambil menepuk-nepuk bahu putra sulungnya.

Jaejoong yang melihat hal itu hanya tersenyum. Tiba-tiba saja Minho memasuki kamar tersebut. Dan memandang Heechul dengan tatapan menyelidik.

“Katakan, apa yang ada dalam pedangmu? Kenapa Taemin bisa seperti ini?” tanya Minho dengan nada yang dipaksa agar setenang mungkin.

Heechul menghela nafas lalu menjawab, “tenang saja, teknik pengobatan keluarga Choi bisa menyembuhkannya, dan hanya keluarga Choi-lah yang bisa mengobatinya dengan sangat baik, kau tenang saja, kalau kau ragu, kau bisa memanggil appamu dan bertanya bagaimana mengobatinya.”

Tak lama kemudian, Taemin menggenggam tangan Minho erat sekali. Sedangkan orang yang digenggamnya itu menoleh.

“Jinki-hyung, dia…..” kata Taemin dengan mata yang masih terpejam lalu tangannya yang tadi menggenggam tangan Minho itu mulai terjatuh.

Minho mulai meraih tangan itu dan mencari denyut nadinya, syukurlah, masih berdetak. Entah apa yang akan terjadi jika denyut nadi Taemin tidak ada, mungkin dia akan membunuh Heechul.

“Apa yang ingin dikatakan Taemin? Apa yang terjadi pada Jinki-hyung?” tanya Jonghyun panik. Jujur saja, ia merasa khawatir dan bersalah karena ia meninggalkan Jinki dalam sarang zombie tadi.

Semua yang ada disana hanya mengangkat bahunya. Tanpa menunggu aba-aba, Jonghyun menarik Minho untuk kembali ke tempat itu. Sebelum pergi, Heechul memberitahu seluk beluk rumahnya itu dengan detail tentu saja, dia akan bilang kalau mereka harus ekstra hati-hati terhadap sang ratu zombie.

~Love Between the Dark 5~

Jinki terus menyerang para zombie dengan brutal. Matanya mengisyaratkan kalau dia benar-benar tidak memaafkannya. Namja tampan itu terus mengayunkan pedangnya pada sang ratu zombie. Karena ia mempunyai target untuk menyerang sang ratu zombie.

Namun sayang, usaha Jinki telah diketahui oleh sang ratu. Dengan sekali jentikan jari, semua zombie yang ada disana menghilang. Jessica memandang Jinki intens. Seakan – akan yeoja itu berusaha untuk menjelajahi tubuh namja tampan itu. Tak lama kemudian, ia menyeringai.

“Wae?” tanya Jinki curiga.

“Kau harus kembali sebelum pukul dua pagi,kalau kau terlambat, maka Key akan mati,” sahut Jessica dengan wajah penuh kemenangan.

Dan sukses membuat mata bulan sabit namja itu terbuka lebar.

“Kecuali,” Jinki memandang Jessica dengan tatapan bertanya.

“Kau mau menjadi raja dan besanding denganku untuk membuat dunia dengan rakyat yang bisa kau perintah sesuka hatimu, otte? Apa kau setuju?” tanya Jessica dengan wajah digin.

Jinki menunduk, dan menatap pedang yang berada dalam genggamannya. Tiba-tiba saja, ingatannya kembali ke masa dirinya dan Key masih kecil.

Flashback

Setelah ayah Jinki dan Taemin meninggal, mereka berdua tinggal bersama keluarga Kim di samping rumah mereka. Dia menghabiskan waktunya dengan bermain bersama Jonghyun. Jinki dan Taemin pindah sekolah, alasannya agar Yunho bisa menjemput anak-anak dengan mudah.

Di sekolah, Key memang sedikit pendiam. Karena ia dijauhi oleh teman-temannya. Setelah ia tanyakan alasannya pada Jonghyun, ia sedikit tercengang dengan perkataan hyung Key itu.

“Dia dikira seorang monster dan ada yang bilang jika Key adalah orang gila, karena namja cantik itu pernah menjerit secara tiba-tiba saat di tengah pelajaran. Setelah itu, dia mengobrak-abrik ruangan kelas dengan brutalnya, dan hal itu membuat para siswa lari ketakutan,” penjelasan dari Jonghyun masih terus terngiang di telinga Jinki.

Namja tampan itu merebahkan tubuhnya di atap sekolah yang jarang sekali ada murid berada disana, alasannya karena berbagai mitos yang sangat mengganggu.

Krieeeek

Bunyi pintu tua telah terbuka, lalu tampaklah Jonghyun dengan wajah paniknya. Dia berlari ke arah Jinki.

“Jinki, gawat, Key kembali mengobrak-abrik kelas,” paniknya sambil menarik Jinki agar namja tampan itu berdiri.

“Kenapa kau memanggilku? Seharusnya kau memanggil umma dan appamu,” tanya Jinki bingung.

“Kata Taemin, Cuma kau yang bisa menghentikan Key tanpa harus memberi adikku itu obat bius,” tanpa menunggu jawaban Jinki, ia langsung menarik namja tampan itu menuju ke kelas 8-2.

Terlihat disana para siswa kelas 8-2 berhambur keluar dan para songsanim telah berusaha untuk menghentikan namja cantik bermata kucing yang telah mengobrak-abrik isi kelas dengan brutal.

Taemin berdiri di pintu kelas untuk melihat kejadian itu, dia menatap panik pada Key yang semakin brutal. Ketika Jinki dan Jonghyun datang, ia langsung menoleh dan mendekati mereka.

“Hyung, tenangkan Key-hyung, dia mengamuk karena ia tidak bisa mengendalikan kekuatannya, Cuma Jinki-hyung yang bisa menghentikannya,” Taemin menarik-narik lengan Jinki untuk membawanya masuk ke dalam kelas.

“Yak, kalian jangan masuk, itu berbahaya,” teriak Joon sang ketua OSIS, tapi dihentikan oleh Jonghyun.

“Tenang saja, mereka tidak akan kenapa-napa.”

“Tapi..” Joon sedikit ragu atas pernyataan Jonghyun.

Jinki dengan ragu menatap Key yang masih mengamuk, para songsanim berusaha untuk menahannya, tapi tidak berhasil. Entah keberanian darimana, Jinki berjalan mendekati namja cantik yang tengah mengangkat sebuah kursi yang hendak dilemparkannya pada songsanim yang tadi memegangnya.

“Key?” panggil Jinki ragu.

Namja bermata kucing itu tidak mendengar panggilan Jinki dan mulai melempar bangku itu kepada para songsanim dan Taemin yang berdiri tak jauh dari sana. Dengan satu gerakan, Jinki menahan lengan Key dan menurunkan meja yang dipegang namja cantik itu.

Key sedikit memberontak, karena cengkeraman tangan Jinki sangat kuat pada pergelangan tangannya. Dengan satu sentakkan, namja cantik bermata kucing itu, jatuh ke dalam pelukannya. Yah, walaupun bahu Jinki dicengkeram keras oleh Key, dan namja cantik itu berusaha melepas pelukannya, tapi Jinki tidak menyerah. Ia semakin mempererat pelukannya pada namja cantik itu.

“Key, kembalilah menjadi dirimu sendiri, kau tahu? Itulah yang membuat teman-temanmu menjauhimu,” bisik Jinki lalu melanjutkan, “aku mohon, kembalilah seperti Key yang pertama kali ku kenal.”

Ajaibnya Key langsung membalas pelukan Jinki dan apa yang namja tampan itu rasakan? Kalau sekarang seragamnya basah oleh airmata namja cantik itu.

Sementara itu, para songsanim dan siswa heran menatap, bagaimana cara Jinki membuat Key tidak mengamuk lagi. Sedangkan Jonghyun dan Taemin hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jinki-hyung adalah orang yang diciptakan untuk meredakan kekutan Key-hyung, mereka memang ditakdirkan untuk bersama, tapi sayang, sebentar lagi, mereka akan terpisah jauh. Namun, hati mereka akan terus bersatu dan meski maut memisahkan mereka, tapi tidak dengan hatinya, benar-benar menarik,” kata Taemin tanpa sadar. Jonghyun yang mendengarnya hanya menatap bingung ke arah Taemin.

“Apa yang kau katakan barusan adalah takdir mereka?” tanya Jonghyun bingung, karena namja tampan itu mempunyai kelebihan dengan mengetahui pikiran orang-orang yang ada di sekitarnya.

“Mwo? Memang tadi aku bilang apa? Aku tidak tahu?” respon Taemin, “sepertinya aku mulai berbicara tanpa sadar lagi hyung, hehehe,” kekehnya membuat Jonghyun tidak tahan untuk mencubit pipi Taemin.

Mereka menatap Jinki yang mulai memberitahu atas kejadian yang dialami oleh Key. Terlihat wajah kaget dan rasa bersalah disana, tapi namja tampan itu kembali menenangkannya dan mulai membungkuk meminta maaf pada para siswa dan songsanim.

^_^v

Malamnya, Jinki bermimpi telah bertemu sang appa. Dia mengatakan tentang kejadian yang selama ini terjadi, dan kenapa keluarga Kim berada di rumah beberapa tahun lalu. Dia berjanji pada Donghae kalau ia akan melanjutkan perjuangannya.

Setelah kejadian itu, Jinki lebih dekat dengan Key itu karena Jonghyun menyuruhnya untuk mengawasi adiknya agar tidak mengamuk lagi. Namun, ia tidak keberatan karena ia memang ada sedikit rasa pada namja cantik itu.

Hari-hari yang indah telah ia lewati, tapi sayang hari indah itu tergantikan dengan hari yang suram. Heechul mengambil berkas penelitian yang sudah dilakukan Donghae selama ini, dan membawanya kabur ke Daegu. Dan hal itu disaksikan sendiri oleh Jinki. Dengan berani, ia dan Taemin pindah ke Daegu dan itu tanpa pamit dengan Key. Mereka hanya berpamitan dengan Yunho dan Jaejoong saja.

Setelah kepergian Jinki, Key kembali mengamuk dan Yunho membuat sebuah kalung untuk meredam kekuatan namja cantik itu. Namun, sayang, Key tidak bisa menerimanya karena namja cantik itu langsung pingsan ketika mengenakan kalung tersebut. Akhirnya, Yunho mencoba untuk menghapus memori anak bungsunya. Jonghyun juga berjanji agar tidak mengungkit kejadian dimana Key suka mengamuk. Dan Yunho juga menghapus memori semua siswa dan songsanim yang ada di sekolah Key.

End Flashback

Jinki menunduk, sorot matanya mengisyaratkan kalau ia sangatlah merasa bersalah karena sempat meninggalkan Key hanya untuk mengejar Heechul. Jessica menatapnya.

“kesempatan terakhir, apakah kau mau menjadi raja dan besanding denganku untuk membuat dunia dengan rakyat yang bisa kau perintah sesuka hatimu?” tawar Jessica.

“Aku tetap akan berkata TIDAK dan TIDAK AKAN,” sahut Jinki lantang.

“Kalau begitu, kau harus merasakan, apa yang aku rasakan!” murka Jessica kemudian mengeluarkan begitu banyak zombie dengan banyak jenis dan ukuran disana.

Jinki bersiap untuk menyerang para zombie tersebut. Tetapi,

Zrakk

Bahu kanannya telah tergores oleh kuku zombie yang tajam. Darah segar telah menetes dari bahu kanannya yang sepertinya terluka amat dalam.

Brukk

Tubuh Jinki jatuh di tengah-tengah kerumunan zombie, karena tidak bisa menopang tubuhnya yang kelelahan juga kehabisan banyak darah.

TBC

Gimana? ane bingung adegan berkelahinya, jadi saya mengambilnya dari film anime Guilty crown. Mianhe kalau ada yang mirip. saya tunggu suara dari para suunders. Bye.

 

20

[Jinkey] Key 3

Foreword : Annyeong,

 sudah lama nggak ol lewat pc. nih ff udah lama di laptop, tapi belum sempat di post.  ok, dari pada berlama-lama. silahkan di simak.

 

Cast : Jinkey dkk

Genre : banyak yang bilang fantasy

 

terbuka untuk siapa saja yang mau baca.

 

Seandainya aku adalah seekor binatang. Aku akan memilih menjadi seekor burung yang bisa terbang bebas kemanapun ia inginkan, tapi ada kalanya seekor burung juga tidak bisa terbang bebas. Karena burung itu telah dikurung oleh majikannya sendiri. Yah, walaupun burung itu dikurung pada sangkar yang terbuat dari emas dan semua fasilitasnya terpenuhi, tapi tetap saja ia merindukan bisa terbang bebas bersama teman-temannya.

 

Yah, itu adalah gambaran tentang diriku. Diriku yang terkurung dalam sebuah menara yang dalamnya terdapat banyak buku dan kebun yang indah. Namun, tetap saja aku kesepian di tempat ini. Aku tidak punya teman satupun. Itu karena ayahku mengurungku sejak kecil bahkan ketika aku masih bayi.

 

Lucu sekali, kisahku seperti cerita seorang putri berambut panjang yang dikurung oleh penyihir di menara istananya.

Biarkan aku memperkenalkan diriku. Namaku Kim Keybum atau biasa dipanggil Key oleh ayahku. Aku adalah putra kedua di keluarga Kim. Ibuku Kim Heechul adalah namja cantik keturunan desa gumiho, dia diusir karena fitnah sejak umurnya 15 tahun. Lalu dia bekerja menjadi seorang penari eksotis, disitulah ia bertemu dengan ayahku yang ingin sekali mendapatkan kekuatan dari desa gumiho.

 

Ayahku bernama Kim Hanggeng. Kalian tahu, aku terlahir bukan karena cinta atau ketidak sengajaan yang dibuat oleh kedua orang tuaku, tapi karena ayahku yang ingin mengusai negeri ini. Dia ingin mendapatkan keturunan dari desa gumiho yang letaknya tak jauh dari Sm town.

 

Pasti banyak yang bertanya-tanya, kenapa aku dikurung di menara yang ada di SM akademi. Sebenarnya bukan pertama kalinya aku dikurung di menara. Aku dikurung sejak aku masih kecil. Aku tumbuh di menara yang berada di rumah keluarga Kim. Tidak ada yang bicara denganku kecuali Kim Jonghyun, kakakku. Walaupun ia selalu bicara kasar padaku, tapi sebenarnya dia menyayangiku.

 

Dulu aku memang kesepian, tapi semenjak dia datang, hidupku jauh lebih berwarna. Dia adalah Lee Jinki. Namja yang datang menghampiriku. Aku yang terkurung di tempat gelap dan dingin ini. Dia mengulurkan tangannya kepadaku dan berkata, kalau aku tidak sendiri dan dia berjanji akan membawaku melihat dunia luar yang selama kulihat dari buku-buku yang aku baca.

 

Selain membuatku merasa tidak sendiri, dia memberiku teman-teman yang baik. Mereka adalah Taemin dan kodok yang membenciku. Entahlah, aku tidak tahu kenapa ia membenciku. Tapi yang jelas, dulu aku pernah menyelesaikan kasus yang melibatkannya atau lebih tepat dengan menlibatkan keluarganya.

 

^_^

 

“DOR,” Jinki mengagetkanku yang sedang membaca buku di perpustakaan.

 

“Hey Key, kau melamun atau membaca buku sih?” tanyanya melambaikan tangan di depan wajahku.

 

“Apa kau tidak lihat? Aku kan sedang membaca buku, dasar Jinki pabo,” omelku.

 

“Yah, gitu aja marah, ngomong-ngomong, hari ini aku membawa roti selai untukmu, semoga kau sen….” kata-katanya terhenti saat aku menatapnya dengan wajah yang berseri-seri.

 

“Gomawo, selamat makan,” kataku segera merebut bungkusan yang ada di tangan Jinki.

Keheningan menyelimuti kami. Aku sibuk memakan roti selai strawbery yang diberikannya, sedangkan Jinki sibuk mengerjakan tugasnya. Sekarang aku memakai kaos berwarna abu-abu polos yang di balut dengan blazer berwarna biru tua dan celana tiga perempat berwarna hitam. Jinki, tentu saja memakai seragam sekolahnya yang berblazer biru gelap dan celana panjang hitam.

 

“Key, jika kau bisa keluar dari sini, kau mau kemana?” tanya Jinki dengan wajah yang berseri-seri.

 

Aku melihatnya dari ekor mataku, “Shinee world,” jawabku singkat.

 

“Shinee world? Sepertinya aku pernah dengar nama desa itu?” Jinki meletakkan tangan di dagunya, juga bibirnya yang ia miringkan. Aku yakin, dia pasti sedang berfikir.

 

“Ah, aku ingat, ini….” ujarnya tiba-tiba seraya menyodorkan koran ke hadapanku.

 

“Ada apa?”

 

“Coba baca pada kolom iklan,” intruksinya.

 

Ku ambil koran yang ada di tangannya. Kemudian aku membaca sesuai dengan intruksinya.

 

Ini tidak mungkin, apa maksud iklan ini? ku pandang Jinki yang menatapku bingung. karena tiba-tiba mataku terbelalak setelah membaca iklan tersebut.

 

“Disitu tertulis, hai para keturunan gumiho. Di hari upacara arona terjauh. Kami menunggu ke datanganmu. Kau lihat sendiri, disitu ada petanya. Dan lokasi desa gumiho dekat dengan kota Shinee world,” katanya.

 

Tanpa basa-basi lagi. Aku langsung berdiri, dan mencoba untuk mencari sebuah buku di lantai bawah. Namun, ketika langkahku tinggal sedikit lagi mendekat ke tangga, aku tersandung kaki Jinki. Sehingga aku jatuh dalam keadaan tengkurap. Bunyi debuman keras menggema di seluruh menara saat aku jatuh.

 

“Appo,” ujarku setelah berhasil duduk kembali sambil mengusap keningku yang sakit.

 

“Jelas sakit, jatuhnya tadi keras sekali,” Jinki mencoba menghampiriku tapi.

 

 

 

 

 

 

Krakk

 

 

 

Cemilan isi krimku yang berceceran di lantai telah dia remukkan dengan tangannya.

 

“Aish, karena cemilanmu tersebar kemana-mana, jadi kotor deh,” omelnya seraya memungut cemilan isi krim yang tadi diremukkannya.

 

“Kau harus tanggung jawab, cepat makan!” perintahku menatapnya dengan sebelah mata karena mataku yang satunya tertutupi oleh tanganku yang mengusap kening.

 

“Mwo?” kagetnya seraya melihat cemilan tadi dengan jijik.

 

“Cepat makan!” teriakku.

 

“Ne, aku makan,” sahutnya pasrah dan mulai memasukkan cemilan itu ke dalam mulutnya.

 

“Setelah itu, ambilkan aku sebuah buku yang berada di lantai empat, rak nomer 3, bersampul coklat di pojok kanan.”

 

“Arraseo,” ujarnya.

 

Jinki bangkit dari duduknya. Dan menuruti perintahku. Walaupun dengan wajah yang sangat-sangat pasrah.

 

Tak lama kemudian ia kembali membawa buku yang ku maksud.

 

“Ini buku yang kau minta, buku tentang desa gumiho,” jelasnya. Lalu menyerahkan buku tersebut kepadaku.

 

“Gomapta,” ucapku tulus setelah menerima buku tersebut.

 

 

^_^v

 

 

Konon dahulu kala di kota SM town ini. Ada satu mitos di suatu tempat di balik gunung, yaitu rubah berekor sembilan, gumiho. Walaupun sebagian besar adalah dongeng fiktif,tapi di sebuah jurnal yang ditulis pada abad ke-16 oleh penjelajah Inggris yang singgah. Dia menulis bahwa dia bertemu dengan gumiho yang bisa bicara bahasa manusia. Gumiho itu pandai dan bijak. Tetapi, apa yang dimaksud dengan rubah berekor sembilan disini?

 

“Key,,,” panggil Jinki.

 

“Hmm?” tanyaku melihat ke arahnya.

 

“Aniya, gwenchana,teruskan membacamu,” jawab Jinki kemudian berbalik membelakangiku.

 

“Waeyo Jinki-aah?” heranku melihat sifatnya.

 

“Itu, ada kakakmu,” sahutnya menunjuk ke arah seorang namja berkepala dino berjalan menapaki anak tangga.

 

“Annyeong kelinci-ssi,” sapa Jonghyun memandang ke arah Jinki.

 

“Hey, aku bukan kelinci, namaku Lee Jinki, ingat itu!” tak terima Jinki.

 

“Kenapa kau kemari, Jonghyun?” tanyaku menatapnya dingin.

 

Jonghyun memandangku sejenak. Sama sepertiku, dia menatapku dengan dingin. Ia menarik nafas sejenak, kemudian berkata.

 

“Mulai besok kau boleh keluar dari tempat ini, tapi hanya di sekitar akademi ini saja, tidak boleh keluar kemana-mana tanpa sepengawasanku,” jelasnya.

 

“Lalu, apa aku harus tinggal disini?”

 

“Aniya, kau tinggal di sebuah rumah dekat dengan taman yang berliku-liku, dan disini akan dibangun sebuah lift untuk

memudahkanmu keluar dari sini, tapi lift itu hanya boleh digunakan olehmu, aku, dan penjaga sekolah saja. Si kelinci ini tidak boleh menggunakan lift tersebut karena dia adalah murid akademi ini.,” jawab Jonghyun memandang ke arah Jinki yang sepertinya tidak terima dengan apa yang ia ucapkan.

 

“Arraseo, aku akan disini sampai kalian menggunakanku kan?” tanggapku memandangnya remeh.

 

“Semua barangmu yang ada disini akan dipindahkan ke rumah itu, itu kalau kau bisa menemukannya, Annyeong,” katanya. Lalu menghilang di balik anak tangga.

 

Aku terus menatap kepergian Jonghyun hingga ia menghilang di balik pintu besi perpustakaan ini. Akhirnya aku bisa pergi dari tempat yang membuatku bosan. Tetapi, aku tidak bisa pergi dari akademi ini. huft, sama saja, aku akan bosan.

 

^_^v

 

 

Author Pov

 

 

Di salah satu kamar asrama yang terlihat sederhana. Duduklah seorang namja tampan bertubuh tinggi di kursi depan meja belajarnya. Tatapannya kosong. Dia melamunkan sesuatu yang hanya dimengerti olehnya. Sebuah masa lalu yang melibatkan keluarganya dan termasuk kakaknya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Brakk

 

 

 

 

 

 

 

Namja tampan itu memukul meja belajarnya dengan kesal. Beranjak dari tempat duduknya dan memandang ke arah sebuah menara yang merupakan sebuah perpustakaan. Walaupun gelap, di atas perpustakaan masih ada secercah cahaya yang terpancar dari atas menara itu. Namja tampan itu mengepalkan tangannya, memandang geram pada menara itu.

 

“Dasar, gumiho terkutuk, juga keluarga Kim yang terkutuk, karena mereka kakakku mati!!!” geramnya.

 

“Mwo? Siapa yang mati hyung?” tanya Taemin yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar namja bernama Choi Minho.

 

“Ah, Anniya, tidak ada apa-apa kok,” sahut Minho tergagap.

 

Taemin memicingkan matanya pada sosok namja tampan di hadapannya itu. Dia mencoba mencari sesuatu pada diri Minho.

 

“Hyung, kau membenci Key-hyung karena apa?” tanya Taemin menyelidiki.

 

“Karena dia telah membuat noonaku mati, noonaku mati karena dia terlalu stress,” jelas Minho.

 

“Kalau kau mau, kau boleh cerita padaku Minho-hyung,” Taemin mengelus punggung Minho menenangkan namja tampan itu.

 

“Gomawo, Taemin, sebenarnya, noonaku mati karena dia depresi melihat kedua orang tua kami terbunuh di hadapannya.

 

Walaupun saat itu aku masih kecil, tapi aku juga menyaksikan adegan pembunuhan tersebut. Dan kau tahu siapa yang membunuhnya?” Minho memandang ke arah Taemin yang menjawab dengan gelengan kepala.

 

“Mereka dibunuh oleh keluarga Kim yang gila akan kekuasaan. Keluarga Kim yang sangat dihormati di seluruh Korea selatan dan dunia. Katanya mereka mempunyai gumiho yang bisa berbicara dalam bahasa manusia, tapi tidak ada satupun yang bisa melihatnya.”

 

“Lalu, apa hubungannya dengan kematian kakakmu?”

 

“Dia stress karena keluarga kami terlilit banyak hutang, karena tidak bisa membayar hutang-hutangnya, dia bunuh diri setelah menitipkanku di panti asuhan. Tak lama setelah kejadian itu, datanglah keluarga Choi yang mengadopsiku sebagai anak,” cerita Minho sambil menangis. Sontak Taemin memeluk tubuh namja yang ada di sampingnya itu.

 

 

 

 

Cklekk

 

 

 

 

 

 

“Bukan keluarga Kim pelakunya,” ujar sebuah suara di depan pintu kamar Minho yang telah terbuka.

 

“Key-hyung?” kaget Taemin dan Minho ketika mendapati Key berada di depan pintu kamarnya.

 

Sementara itu, Jinki masuk dengan dua gelas minuman dingin di tangannya. Dengan wajah bingung, Jinki mengikuti Key untuk memasuki kamar Minho. Dia kaget, saat melihat Taemin adik sepupunya itu berada di kamar Minho.

 

“Apa maksudmu pelaku pembunuhan itu bukanlah keluargamu?” tanya Minho menatap Key yang memilih duduk di kursi yang tadi diduduki olehnya.

 

“Pembunuhnya adalah sang penagih hutang itu,” jawab Key seraya meneguk minuman yang disodorkan Jinki ke arahnya.

 

“Bagaimana kau tahu?” tanya Jinki diikuti anggukkan Minho dan Taemin.

 

“Mata air kebijaksanaan telah bicara padaku, setelah semua kepingan kekacauan telah terkumpul, sebenarnya peristiwa ini sudah aku jelaskan pada Jonghyun, tapi akan aku ceritakan lagi jika kalian mau,” sahut Key datar.

 

“Ne, ceritakan padaku,” Minho bersuara dengan nada yakin dan penasaran.

 

“Saat sebelum orang tuamu terbunuh, mereka telah bertengkar dengan sang penagih hutang dari keluarga Park. Karena tidak sanggup membayar hutang-hutangnya. Akhirnya Mr Park memberi solusi agar menyerahkan putri keluarga Choi yang ternyata adalah noonamu sendiri, tapi kedua orang tuamu menolak untuk mengambil solusi tersebut. Karena kesal, akhirnya Mr Park membunuh mereka berdua. Karena terlalu takut ketahuan mereka, kakakmu membawamu ke panti asuhan. Sedangkan dia menemui keluarga Park untuk menyerahkan diri, tapi sebelum dia menemui keluarga Park, ternyata dia telah dibunuh oleh Mrs Park yang tidak menyukai keluargamu. Setelah dibunuh, dia membuat seolah-olah kematian itu adalah suatu bunuh diri,” detail Key menjelaskannya.

 

Minho hanya bisa menangis begitu mendengar penjelasan dari Key. Merasa bersalah kalau selama ini, ia selalu membenci keluarga Kim yang terhormat. Namja tampan itu menatap Key yang sedang bertengkar kecil dengan Jinki. Senyum terukir di wajah tampannya. Taemin yang melihat senyum Minho mulai terpesona.

 

“Key, gomawo,” ucap Minho tulus dari lubuk hatinya.

 

Key yang sejak tadi bertengkar dengan Jinki pun mengalihkan perhatiannya pada namja bermata belo tersebut. Kemudian menganggukkan kepalanya. Sedangkan Jinki hanya tersenyum melihat keakraban Key dan Minho.

 

“Taemin, berkediplah! Apa karena kau terpesona dengan Minho, sampai-sampai matamu tidak berkedip seperti itu?” goda Jinki yang menyadari bahwa sepupunya itu tidak juga mengedipkan matanya.

 

Mereka yang ada disana hanya bisa tertawa melihat wajah Taemin yang memerah seperti kepiting rebus. Malu, sudah pasti.

 

“Jadi sekarang sudah tidak ada musuh lagi?” Taemin mulai angkat bicara setelah berhasil mengendalikan emosinya.

 

“Ne, tidak ada musuh lagi, sekarang yang ada adalah persahabatan kita,” sahut Minho merangkul pundak Taemin.

 

“Sepertinya kalian berdua lebih dari sahabat deh?” goda Jinki pada pasangan Taemin dan Minho yang mulai menjauhkan tubuh mereka.

 

“Ah, seperti kau tidak saja!!” balas Taemin dengan nada jengkel.

 

Sedangkan Key hanya bisa memandang mereka dengan bingung. Merasa tidak mengerti apa yang telah mereka bicarakan. Benar, Key tidak mengerti apa itu cinta dan bagaimana rasanya. Karena dia dibesarkan bukan karena cinta dan kasih sayang.

 

 

 

 

 

 

 

Brakk

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tiba-tiba Key berdiri dan mulai berlari meninggalkan kamar Minho menuju ke rumah sederhana miliknya yang berhasil ia temukan tadi sore, setelah Jonghyun pergi. Sementara itu, Jinki langsung mengejar Key yang berlari. Sedangkan Taemin dan Minho hanya menatap mereka berdua dengan bingung.

 

Akhirnya Jinki sampai di depan rumah Key dengan nafas yang masih terengah-engah. Rumah yang mirip sekali dengan tempat tinggal boneka barbie. Berlantai dua dan berwarna merah muda.

 

 

 

 

 

Cklekk

 

 

 

 

 

Ketika hendak memasuki rumah itu, langkahnya terhenti begitu mendapati Key membawa sebuah koper berukuran besar. Tampaknya namja cantik itu keberatan karena ukurun tubuhnya yang kecil sehingga tidak bisa membawa koper itu.

 

“Mau kemana?” tanya Jinki heran.

 

Key tidak menghiraukan pertanyaan Jinki, dan terus menyeret kopernya melewati Jinki. Namun, tangan namja itu telah menahan koper Key sehingga tidak bergerak. Melihat ke arah namja cantik itu dengan heran. Sedangkan yang dilihat hanya menggembungkan sebelah pipinya.

 

“Oh, kau sakit gigi rupanya,” kata Jinki.

 

Tanpa menjawab, Key semakin menggembungkan kedua pipinya kesal dengan perilaku namja tampan itu.

 

“Arra, kita lihat apa isi kopermu ini,” Jinki mulai membuka isi koper yang dibawa Key.

 

Disana ada beberapa pakaian, alat mandi, boneka, vas bunga, dan….

 

“Kursi lipat?” kaget Jinki mengambil kursi lipat dari koper Key dengan heran.

 

 

Sementara itu sang namja cantik bermata kucing tersebut hanya menggembungkan pipinya kesal. Karena Jinki menggeledah tasnya dengan seenaknya.

 

“Baiklah, aku akan mengantarmu ke rumah sakit, aku tidak sengaja mengetahui jalan rahasi kalau tidak karena disuruh Shindong-ssi membersihkan taman depan,” ujar Jinki menarik tangan Key untuk mengikutinya.

 

 

^_^V

 

 

 

Disinilah mereka. Di dalam kereta yang membawa mereka berdua menuju desa Shinee world. Jinki menatap Key heran. Sedangkan sang namja cantik hanya melihat ke luar jendela.

 

“Wae?” tanya Jinki datar.

 

Key melihat ke arah Jinki heran.

 

“Kenapa kau membeli tiket dengan tujuan desa Shinee world? Bukankah kau mengatakan kalau, kau tidak boleh keluar dari akademi itu? Dan sekarang kau telah melanggarnya,” Jinki menatap Key intens.

 

Tanpa berkata-kata, Key mulai mengeluarkan liontin yang ia sembunykan di balik t-shirtnya. Menggeser kalung berwarna ke emasan itu. Tampaklah sebuah foto seorang namja cantik yang sangat mirip dengannya. Jinki melihat foto itu dari dekat.

 

“Itu kau?” tanya Jinki heran.

 

“Aniya, ini adalah ibuku, Kim Heechul,” sahut Key dengan wajah datar tanpa ekspresi.

 

“Mwo?” keget Jinki menatap Key bingung.

 

“Ibuku adalah penari dengan dandanan eksotis, dia juga berasal dari desa gumiho. Kim Hanggeng ingin kemampuan khusus rubah berekor sembilan dalam garis darah birunya. Kemudian Heechul berada di tangannya, tidak lama kemudian aku lahir. Tetapi, Kim Hanggeng mengetahui rahasia ibuku,” jelas Key.

 

“Rahasia?”

 

“Ibuku adalah pendosa.”

 

“Pendosa?”

 

“Pada suatu malam. Saat ibuku bekerja sebagai maid di desa gumiho. Dia melakukan sebuah dosa besar. Diasingkan dari desanya. Saat mengetahuinya, Hanggeng menyesalkan darahnya telah bercampur dengan darah kami. Ibuku kabur, dan menghilang entah kemana. Dan aku, terkunci dan tumbuh dalam menara. Semua yang ku lihat ini, ada berkat ibuku yang melakukan dosa besar malam itu. Jika itu tidak terjadi, ibuku tidak akan diasingkan dari desanya. Dan aku tidak perlu dilahirkan,” Key mengakhiri ceritanya sambil memagang liontinnya.

 

“Itu masalah untukku,” sahut Jinki cepat.

 

Key yang mendengar hal itu segera memandang ke arah Jinki yang menundukkan kepalanya.

 

“Mianhe, aku kelepasan,” ucap Jinki dengan nada menyesal.

 

Key hanya menatapnya heran. Kemudian tertawa melihat ekspresi namja tampan bermata bulan sabit di depannya itu.

 

“Wae?” tanya Jinki tak terima.

 

“Aniya, hanya saja kau lucu sekali, jika memasang muka malu seperti itu, hihihi,” kikik Key.

 

“Ah, iya, kalau ibumu kabur saat kau bayi, bagaimana kau bisa mendapat kalung itu?” tanya Jinki yang berhasil menghentikan tawanya.

 

“Aku bertemu ibuku hanya sekali. Dia memberiku kalung ini. katanya, jika ada kalung ini, dia akan berada disisiku. Bisa dibilang, kalung ini adalah pengikatku dan juga ibuku,” jelas Key dengan wajah sedih hampir menangis.

 

“Itulah sebabnya kau menangis sambil menatap kalung itu, karena kau merindukan ibumu?” tanya Jinki.

 

Key hanya bisa menganggukkan kepalanya karena ia tidak sanggup menahan tangis yang selama ini ditahannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Grep

 

 

 

 

 

 

 

 

Jinki memeluknya dari samping. Membenamkan wajah Key pada dada bidangnya, tanpa peduli kalau bajunya akan basah karena air mata namja cantik itu.

 

“Uljima, aku disini, dan aku akan selalu melindungimu,” bisik Jinki menenangkan Key.

 

Setelah membiarkan Key menangis. Akhirnya, namja cantik itu bisa tenang juga. Walau masih sedikit terisak namja cantik itu bisa mengendalikan emosinya.

 

“Jinki, bantulah aku membersihkan nama baik ibuku,” pinta Key menatap Jinki dengan wajah memohon.

 

“Ne, aku akan membantu dan melindungimu, Key,” janji Jinki.

 

Dengan reflek namja cantik itu berhambur pada pelukannya. Dan dengan senang hati disambut olehnya.

 

Tanpa mereka sadari, seseorang tengah mengawasi gerak-gerik Jinki dan Key dari kejauhan. Orang tersebut menyeringai menatap ke arah dua orang yang tengah berpelukan itu.

 

“Ternyata kau nakal sekali, gumiho kecil,” gumam orang itu membenarkan letak topinya yang sedikit geser.

 

 

 

 

 

 

 

Tbc

 

 

 

gimana? Minho gak jadi jahat kan? Pasti udah tahu siapa yang jahat disini? mianhe kalau banyak miss typo nya ya?

46

[Onkey/SG] Bidadari Surga | 1shoot

Foreword : Hai, lama tak jumpa reader. Nih aku bawa ff yang terinspirasi dari ceritanya kakak kelasku yang udah lulus dua tahun lalu. Ni cerita bener-bener mengharukan banget. tapi tetep, isinya beda sama cerita aslinya karena telah bercampur dengan imajinasi saja.

so cek it out

Warning : Alur kecepetan, membuat pada reader MERINDING.

>0<

Tiga orang yeoja cantik memandang tengah bercanda ria di taman depan Shinee akademi. Mereka berdua saling tertawa dan membicarakan, you know lah, mereka perempuan pasti tahu apa yang selalu mereka bicarakan. Mulai dari namja terkeren, terpintar, dan ter ter lainnya. Namun, tiba-tiba saja salah seorang yeoja cantik berpipi chubby bertanya pada yeoja bermata kucing yang ada di hadapannya.

“Key, apa impianmu?”

Yang ditanya mulai berpikir apa impiannya. Tak lama kemudian ia tersenyum sangat cerah.

“Aku ingin menjadi bidadari surga,” jawabnya.

Kedua temannya yang bernama Jino dan Taemin saling berpandangan tidak mengerti atas apa yang yeoja paling cantik di Shinee akademinya itu bicarakan.

“Bidadari surga? Apa tidak salah, kau bicara seperti itu Key eoni?” tanya Taemin bingung.

Sontak Key langsung menggelengkan kepalanya. Dia meyakinkan temannya kalau apa yang ia bicarakan tadi itu adalah benar. Hal itu membuat Taemin dan Jino tertawa mendengarnya.

“Wae? Kenapa kalian tertawa? Apa aku salah bicara?” bingungnya, yang membuat Taemin dan Jino tertawa keras.

“Kau lucu sekali, semua yeoja pasti mempnyai mimpi akan bertemu dengan namja yang mencintainya dengan sungguh-sungguh, tapi kau malah hahaha, ingin menjadi bidadari surga?” tawa Jino makin keras seraya menunjuk-nunjuk Key yang hanya mempoutkan bibirnya kesal.

“Aniya, aku memang ingin menjadi bidadari surga,” ngototnya.

“Eoni, kau itu sudah menjadi bidadari di Shinee akademi ini, jangan berharap lebih tinggi lagi,” hibur Taemin mengelus punggung Key.

“Terserah kalian mau ngomong apa, yang penting impianku adalah menjadi seorang bidadari di surga,” ngeyel Key seraya membenahi barang-barangnya yang berserakan kemudian pergi meninggalkan Taemin dan Jino yang masih tertawa.

>0<

Yeoja cantik itu berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya. Pertanda kalau ia sedang kesal pada tingkah dua teman yang tadi mengejeknya. Tanpa ia sadari, seorang namja tampan dengan manik bulan sabit telah berlari kencang di koridor.

Brukk

Mereka berdua bertabrakkan. Karena tubuh sang yeoja lebih kecil dari sang namja, akhirnya dia jatuh terhuyung ke belakang. Beruntung namja tampan itu langsung memegang pinggang rampingnya.

“Gwenchana?” tanya namja tampan itu.

“Ne, gwenchana,” sahutnya.

“Mianhe,” kata mereka secara bersamaan. Sesaat mereka saling berpandangan kaget. Sedetik kemudian mereka berdua tertawa dengan keras.

“Mianhe, aku tidak sengaja menabrakmu tadi,” ucap sang namja seraya membungkuk 90 derajat.

“Gwenchana, aku juga minta maaf karena tidak melihatmu tadi,” sahut yeoja itu tersenyum cerah.

Deg

Deg

Deg

Tiba-tiba saja, jantung sang namja tampan itu berdetak lebih kencang dari biasanya. Begitu melihat senyum sang yeoja dihadapannya. Omo, baru pertama kali ini aku melihat yeoja sebaik dia, apalagi senyum itu sangat cantik seperti bidadari saja, pikir sang namja tampan itu tanpa mengalihkan perhatiannya pada sosok yeoja yang mulai memunguti bukunya yang berserakan.

“Biar ku bantu,” namja tampan itu menawarkan sebuah bantuan.

“Gomawo,” ucap sang yeoja tulus.

“Aku Lee Jinki, tapi biasa dipanggil Onew, kau?” akirnya sang namja tampan itu memperkenalkan dirinya.

“Ah ya,namaku Kim Kibum, tapi biasa dipanggil Key sama teman-teman,”  jawab Key.

Sesaat mereka saling berpandangan. Dengan Jinki yang masih memegang buku Key yang tadi tercecer. Keduanya merasakan detak jantung yang sama-sama kencangnya.

“Onew-hyung, hoy, sebentar lagi Mr Jung akan masuk, kau mau dihukum, eoh?” teriak suara bass yang ada di belakang Key.

Sontak Onew dan Key menoleh ke sumber suara dari seorang namja tinggi yang kini berkacak pinggang.

“Mianhe Key, aku harus pergi, senang berkenalan denganmu dan semoga kita bisa bertemu kembali,” pamit Onew sambil menyerahkan buku yeoja cantik itu kemudian berdiri. Sebelum ia pergi, dia tersenyum cerah dihadapan yeoja cantik tersebut.

Key langsung terpaku di tempat begitu melihat senyum yang terpancar namja tampan  yang bernama Onew tersebut. Seperti senyum seorang malaikat. Omo, apa aku tadi sedang berbicara dengan seorang malaikat? Pikir Key sambil terus memperhatikan sosok tampan itu menghilang di tikungan koridor.

>0<

Seorang namja tampan manik bulan sabit itu memperhatikan Mr Jung yang sejak tadi mengoceh tidak jelas. Kenapa tidak jelas? Karena namja tampan itu tidak memperhatikan sang dosen dengan sungguh-sungguh.

“Hyung, kau kenapa sih?” bisik seorang namja berambut nyentrik yang ada di sebelahnya.

“Aniya, gwenchana,” elaknya lalu berusaha fokus kepada Mr Jung lagi.

“Bilang saja kalau kau sedang memikirkan sang Diva Key itu,” bisik namja jangkung.

“Sudah, jangan main bisik-bisik tetanggan, nanti kena semprot Mr Jung baru tahu rasa kamu,” bisik Onew pada kedua sahabatnya yang mulai terkekeh melihat tingkahnya.

Tak lama kemudian, Mr Jung mengakhiri mata kuliahnya hari ini. semua mahasiswa fakultas seni musik itu membereskan barang-barang mereka. Termasuk ketiga sahabat yang sangat digandrungi di Shinee akademi.

Mulai yang paling kecil, Choi Minho. Yah walaupun umurnya paling muda di antara tiga sekawan tersebut, tapi dia mempunyai tubuh yang tinggi dan atletis. Membuat semua yeoja bertekuk lutut padanya. Namun, seperti para yeoja itu kurang beruntung, karena sang idola telah menentukan targetnya pada seorang yeoja cantik jurusan design, bernama Lee Taemin.

Yang kedua, namja paling nyentrik di antara ketiganya. Kim Jonghyun. Meskipun tinggi badannya kecil, tapi badannya kekar dan juga suaranya yang merdu nan seksi itu telah membuat banyak yeoja telah bertekuk lutut padanya. Lagi-lagi para yeoja itu harus berpikir dua kali untuk mendapatkan hatinya karena namja tampan itu telah memiliki yeojachingu dari jurusan yang sama dengan Taemin, Cho Jino.

Yang paling tua di antara mereka, Lee Jinki atau biasa dipanggil Onew. Dia dikenal sebagai namja yang memiliki senyuman malaikat.begitu dia tersenyum, banyak yeoja yang bertekuk lutut padanya. Walaupun senyumannya sangat cerah, tapi dia jarang sekali menunjukkan senyumnya pada orang lain. Hanya pada satu orang yang baru saja ia temui, Kim Kibum, yang merupakan yeoja yang memiliki julukan bidadari Shinee akademi.

 

Tiga sekawan itu sedang bercanda di sepanjang koridor. Tiba-tiba saja mereka bertiga terdiam begitu melihat tiga orang yeoja cantik yang melewati mereka dengan tawa yang terkembang.

“Hahaha, sudahlah Key, lupakanlah mimpimu untuk menjadi seorang bidadari surga,” kata Taemin jengah.

“Siapa kau, berani menyuruhku menghentikan impianku? Sudahlah, lupakan saja soal itu, yang penting sekarang kita harus menyelesaikan design kita, otte?” Key mulai mengalihkan pembicaraan.

“Arraseo, aku tidak akan mengungkitnya lagi,” sahut Jino dan Taemin secara bersamaan.

Sementara itu, ketiga namja yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka bertiga, hanya terpaku di tempatnya. Terlebih namja bermanik sabit yang masih terpesona menatap yeoja bermanik kucing tersebut.

“Kau memang pantas menjadi seorang bidadari,” gumam namja tampan itu membuat kedua temannya melihat ke arahnya dengan bingung.

“Sepertinya, ada yang sedang jatuh cinta nih,” seru kedua Minho dan Jonghyun secara bersamaan.

“Mwo? Aniya, aku tidak jatuh cinta padanya,” elak Onew melihat kedua temannya yang mulai menyeringai.

“Siapa yang bilang kalau kau jatuh cinta pada Key? Wah, jadi benar, hyung ada rasa nih,” goda Jonghyun menyenggol lengan Onew.

“Ne, aku kalah, kajja, ada tugas yang harus kita selesaikan,” Onew mengalihkan pembicaraan. Lalu pergi melangkah sambil menyeret Minho dan Jonghyun.

>0<

Seperti biasa Key dan kedua temannya selalu mengerjakan tugas bersama-sama di taman belakang Shinee akademi. Mereka saling bercanda dan saling bertukar pikiran tentang tugas yang mereka kerjakan.

Gedubrak

Suara sebuah benda terjatuh terdengar dari belakang ketiga yeoja cantik tersebut. Sontak ketiganya langsung melihat ke arah suara itu berasal. Terlihat tiga orang namja tampan terjatuh saling bertumpuk satu sama lain, dengan kertas partitur yang berceceran di sekitar mereka.

“Aish, gara-gara Onew-hyung jatuh, kita semua ikut jatuh deh,” gerutu seorang namja berambut nyentrik tersebut seraya bangkit dari posisinya yang amat sangat memalukan.

“Kalian tidak apa-apa?” tanya Key semabari mengulurkan tangan pada ketiga namja tampan tersebut.

“Ne, gwenchana, kalian tidak usah mengkhawatirkan kami, ini karena Onew-hyung yang memang ceroboh dari sananya,” jawab Jonghyun polos.

“Eh, Key kami pergi dulu ya? Karena ada suatu urusan sebentar,” pamit Taemin dan Jino sambil menyeret Jonghyun dan Minho pergi tanpa menunggu jawaban dari yeoja cantik tersebut.

Key dan Onew menatap teman-temannya bingung.

“Kenapa mereka menyeret Jonghyun dan Minho?” bingung Onew seraya menggaruk belakang kepalanya.

“Molla, apa kau baik-baik saja?” sahut Key membantu Onew berdiri.

“Gomawo, kau baik sekali,” ucap Onew tulus.

“Memang harus ada alasan untuk baik pada seseorang?”

“Tidak juga sih, aneh saja, ada gadis secantik dan sebaik dirimu, semoga kau memperoleh namja yang baik juga,” kata Onew membuat kedua pipi Key memerah.

“Miane, impianku berbeda dengan impian banyak yeoja pada umumnya yaitu menjadi seorang….”

“Bidadari surga, ya kan?” potong Onew membuat yeoja cantik itu terkejut.

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Key

“Mianhe, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian bertiga tadi,” jawab Onew.

Hal itu membuat yeoja cantik yang mempunyai manik kucing tersebut murung. Pasti saat ini namja tampan dihadapannya ini menganggapnya aneh. Akan tetapi, apa yang di anggap yeoja cantik itu salah.

“Semoga impianmu berhasil, aku akan mendukungmu,” Onew mengacak rambut Key.

Yeoja cantik itu hanya tersenyum menanggapi apa yang dilakukan namja tampan itu padanya. Keduanya saling tersenum mengalihkan perhatian dari degup jantung yang sedari tadi berdetak sangat kencang.

Tanpa mereka sadari, seseorang telah memotret keduanya. Orang itu tersenyum puas atas gambar yang baru saja ia ambil.

“Ini moment yang sangat langkah, sang malaikat dan bidadari yang tersenyum cerah, pasti jadi berita menarik di mading Shinee akademi,” gumam orang itu sembari memperhatikan gerak-gerik Onew dan Key yang mulai akrab satu sama lain.

>0<

Keesokannya seluruh Shinee akademi sangat riuh. Mereka berbondong-bondong melihat ke arah mading yang menampilkan foto Key dan Onew yang sedang tersenyum cerah. Sebagian yang ada disana sangat senang melihat idola mereka tersenyum, tapi sebagian orang juga terlihat murung karena orang yang mereka sukai telah bersama orang lain.

Key,orang yang mereka bicarakan itu datang sambil berusaha menelepon ibunya itu datang. Sontak membuat orang-orang yang ada disana melihat ke arahnya yang sedang sibuk sendiri.

“Key-eoni,” panggil Taemin menepuk bahu Key pelan.

Yeoja cantik itu menoleh ke arah namja imut tersebut. Dengan smartphone yang masih setia berada di tangannya.

“Ada apa Taemin?” tanya yeoja cantik tersebut.

“Kau memang seperti bidadari jika tersenyum seperti itu,” jawab Jino yang muncul dari belakang Taemin.

“Gomawo,” jawab Key singkat sambil berusaha menelepon ibunya lagi.

Taemin dan Jino hanya memandang temannya itu dengan bingung. Ada apa dengan temannya ini? tidak biasanya selalu memegang telepon genggamnya saat berbicara dengan seseorang.

“Key, waeyo?” tanya Jino heran.

“Oh, ini ibuku tidak bisa dihubungi dari tadi, aku tadi lupa memberitahu kalau nanti aku pulang terlambat karena mengerjakan tugas di rumah Taemin,” jelas Key terus melihat gadget berwarna merah mudah tersebut.

“Nanti kau bisa menghubunginya lagi Key, mungkin telepon ibumu sedang di charge,” nasehat Jino menenangkan Key yang sejak tadi sangat pani.

Yeoja cantik itu menganggukkan kepalanya sambil memasukkan samrtphonenya ke dalam tas.

Taemin memperhatikan pakaian yang di pakai Key hari ini. Entah kenapa, perasaannya hari ini sangat buruk.

“Eoni, kenapa pakaianmu serba putih begini?” tanya Taemin bingung.

“Molla, tiba-tiba saja ingin sekali memakai pakaian ini,” jawab Key singkat.

“Kau cantik sekali, seperti bidadari sungguhan,” Jino ikau menimpali.

Bagaimana tidak cantik. Yeoja cantik itu memakai longdress berwarna putih dengan hiasan renda berwarna senada di bagian bawahnya. Rambut blondenya yang panjang dikucir kuda dengan ikat rabut berwarna putih juga. Dan tas warna putih yang bertengger di pundaknya.

Dari kejauhan terlihat seorang namja tampan berlari menghampiri tiga yeoja cantik itu. Diikuti oleh dua namja yang tak kalah tampannya dengan namja yang ada di hadapannya.

“Key,” panggil namja tampan yang tadi berlari.

“Ne, waeyo Onew-oppa?” tanya Key menatap namja tampan yang terengah-engah di depannya.

“Apa kau punya waktu?” Onew mulai membuka pembicaraan.

Yeoja cantik itu memandang kedua temannya yang hanya tersenyum penuh arti.

“Ne, masih ada waktu lima belas menit, sebelum aku masuk,” setuju Key membuat Onew tersenyum mendengarnya.

“Kajja,” Onew menggenggam tangan Key.

Lalu Key dan Onew meninggalkan keempat temannya yang hanya tersenyum melihat pasangan paling serasi di seluruh Shinee akademi ini.

“Sepertinya akan ada pasangan baru di kampus ini,” gumam Joghyun meraih pinggang ramping Jino.

“Semoga, Onew-oppa menjaga Key-eoni dengan baik,” kata Taemin seraya memeluk Minho yang menatapnya bingung.

“Waeyo, chagi?” tanya Minho bingung mendapati sang yeojachingu telah menangis di dada bidangnya.

“Molla, aku merasakan firasat buruk yang akan terjadi pada Key-eoni,” sahut Taemin dengan suara serak.

“Mungkin hanya perasaanmu saja, semuanya akan baik-baik saja,” Minho menenangkan Taemin yang masih menangis.

>0<

Onew dan Key saling berhadapan satu sama lain di atas sebuah jembatan kecil di taman belakang Shinee akademi.

“Key, aku mau ngomong sesuatu sama kamu,” kata Onew gugup.

Key hanya menatap namja tampan itu bingung.

“Key, aku tahu kita baru saja bertemu, tapi aku masih tidak bisa menahan perasaanku ini padamu,” Onew mulai berbasa basi.

“Maksudmu apa Oppa?” bingung yeoja cantik itu.

“Lupakan yang itu, yang penting adalah Saranghae Key,” Onew setengah berteriak mengucapkannya.

Sontak yeoja cantik itu terkejut dengan apa yang telah ia ucapkan. Onew memejamkan  matanya, takut kalau ia akan ditolak.

“Nado saranghae, Oppa, tapi aku tidak yakin akan bisa berada disisimu dalam waktu yang lama,” jawab Key yang membuat Onew tersenyum lebar. Namun, senyum itu hilang setelah mencerna kata Key tadi.

“Maksudmu?” tanya Onew bingung.

“Aku juga tidak tahu, yang pasti aku juga mencintaimu, Oppa,” Key tersenyum ke arah Onew.

Perlahan, tapi pasti namja tampan itu mendekatkan wajahnya pada yeoja cantik bak bidadari itu. Lalu mencium bibirnya lembut. Sangat lembut dan manis saat bibir keduanya saling menyatu. Saling melumat tanpa nafsu, hanya cinta yang mendominasi ciuman di antara dua insan yang sangat indah di mata manusia biasa tersebut.

“Kajja, kau harus kembali ke kelas, sebentar lagi kan kau ada jadwal,” kata Onew setelah ciuman mereka terlepas.

Key hanya mengangguk dan menggandeng tangan Onew menuju kelas Key. Senyum menghiasi kedua insan tersebut. Membuat orang-orang yang melihatnya itu ikut tersenyum, sebagian juga ada yang terpesona melihat dua orang yang berjalan sambil bergandengan tangan tersebut.

>0<

Di depan kelas, Onew melepas tautan tangannya dengan Key. Memandang wajah cantik yeoja yang baru saja menjadi yeojachingunya itu.

“Nah, sampai disini saja ya? Nanti kau aku antar pulang, otte?” tanya Onew.

“Mian oppa, aku ada akan mengerjakan tugas di rumah Taemin, mianhe, aku tidak bisa pulang bersamamu,” Key meminta maaf dengan raut kecewa.

“Gwenchana, tugasmu lebih penting,kalau begitu, annyeong, aku juga ada kelas, jadi sampai jumpa besok,” pamit Onew lalu beranjak pergi begitu saja.

Key memandangnya dengan raut wajah kecewa, karena Onew tidak melakukan sesuatu padanya. Ketika akan berbalik, dilihatnya Onew berlari menuju ke arahnya dengan wajah panik.

“Key, jaga dirimu baik-baik ne? Saranghae,” kata Onew memeluk Key erat. Seakan tidak ingin melepaskan yeojanya.

“Oppa, kau kenapa?” bingung Key atas perilaku Onew yang aneh.

“Molla, aku tidak ingin lepas darimu Chagiya,” sahut Onew masih memeluk Key dengan erat.

“Aku akan baik-baik saja oppa, sebentar lagi Mrs Park akan datang, aku tidak mau kena marah, sampai jumpa Nae cheonsa,” kata Key melepas pelukan Onew yang menariknya lalu mencium kening yeoja cantik itu.

“Ne, sampai jumpa,” pamit Onew kemudian berbalik menuju kelasnya sendiri.

>0<

Pelajaran telah selesai, semua mahasiswa jurusan design mulai berhambur keluar kelas menuju rumah masing-masing. Termasuk ketiga yeoja cantik yang melangkah meninggalkan kelas.

Ketiganya berjalan menuju halte bis yang ada di depan kampus. Mereka harus melewati jalur kereta api yang ada di depan kampus untuk menuju halte bis tersebut.

Dua dari tiga yeoja itu sedang asyik bercanda satu sama lain, meninggalkan seorang yeoja yang kembali sibuk dengan smartphonenya. Berniat untuk menelepon sang umma. Headset berwarna putih gading telah bertengger di telinganya. Bunyi nada sambung terdengar dari benda putih tersebut.

Tak jauh dari sana, terlihat seorang namja tampan telah mengawasi sang yeoja yang sibuk menggerutu sambil terus mengutak-atik smartphone warna merah mudanya.

Tiiin

Bunyi suara kereta api terdengar dari kejauhan. Dengan cepat, Taemin dan Jino menyeberang jalur kereta api tersebut. Namun tidak dengan yeoja yang sibuk sendiri di belakang mereka.

Sang namja tampan yang memperhatikannya itu langsung membelalakkan mata bulan sabitnya. Begitu kereta tersebut mau mendekati sang yeoja.

“Hey awas, ada kereta!” teriak orang-orang sekitar yang melihat Key berada di tengah rel kereta api.

Sontak Key menoleh pada orang-orang yang berteriak histeris melihat kereta yang mau mendekatinya. Onew melepas tas yang bertengger di pundaknya, lalu berlari menghampiri Key. Tapi

Brakk

Tiiiin

Kereta berhasil menabrak tubuh mungil yeoja cantik itu hingga sang yeoja terpental sejauh 5 meter dari tempat kejadian.

“Keeeeeeeeeeeeey,” teriak Onew histeris mendapati sang yeojachingu telah bersimbah darah yang mengotori long dress putihnya.

Orang-orang mendekatinya, termasuk Taemin, Jino, Minho, dan Jonghyun yang berada di menyaksikan peristiwa naas tersebut. Namun, semua orang kembali tercengang begitu melihat jasad yeoja cantik itu.

Dia tersenyum cerah, wajahnya yang pucat nampak bercahaya tangannya telah bersedekap. Seperti sudah tahu kalau hari ini adalah hari dimana ia dipanggil oleh sang maha kuasa.

Onew langsung memeluk jasad Key yang masih bersimbah darah.  Air mata yang berusaha ia bendung keluar seketika. Menangisi kepergian orang yang baru saja menjadi kekasihnya tersebut.

Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahu namja tampan itu. Sontak Onew langsung melihat orang yang menepuknya.

“Relakan saja dia, dia sudah bisa meraih impiannya, yaitu menjadi bidadari surga, karena ia mati dengan keadaan yang suci yaitu dia mati karena ingin menuntut ilmu,” kata orang itu kemudian pergi begitu saja.

Orang-orang yang ada disana hanya menangis terharu mendengar apa yang dikatakan oleh orang misterius itu. Onew semakin memeluk tubuh Key yang sudah tak bernyawa lagi semakin erat. Mencium setiap inci wajah yeoja cantik itu. Kemudain menggendongnya ke rumah keluarga Key untuk di istirahatkan dengan tenang.

>0<

Tak terasa sudah hampir 5 tahun semenjak peristiwa naas tersebut. Taemin, Minho, Jino, Jonghyun, dan Onew mulai berubah menjadi orang yang berbeda.

Taemin menjadi seorang koreografer di broadway. Minho menjadi seorang aktor yang hebat yang mulai dikenal di seluruh dunia. Jino menjadi seorang designer artis-artis papan atas baik di Korea maupun di Hollywood. Jonghyun menjadi seorang komposer lagu ternama di Korea banyak artis papan atas yang menyanyikan lagunya.

Onew menjadi seorang direktur utama. Dia mendirikan sebuah perusahaan entertaiment yang melahirkan banyak bintang terkenal hampir di seluruh dunia. Minho adalah salah satu diantara semua artis didikannya.

Sayangnya hal itu tidak merubah perasaannya. Direktur muda itu masih tidak bisa melupakan sosok yeoja cantik yang selalu berada di hatinya. Sosok yeoja yang menyimpan kunci hati namja tampan itu dengan baik. Key, cinta pertama dan terakhirnya. Dulu hingga sekarang, namja tampan itu tidak bisa melupakan sosok cantiknya.

Key, yang kini telah menjadi seorang bidadari sungguhan seperti mimpinya. Mungkin yeoja itu telah senang berada di surga sana. Namun tidak dengan sosok namja yang kini menatap kota Seoul dari kaca jendela besar di kantornya.

“Key, nan bogoshippo,” lirihnya. Tanpa terasa cairan bening mengalir membasahi pipinya.

Cklekk

“Hyung, maaf mengganggu, apa kau jadi ikut kami berlibur ke pulau Jeju?” tanya seorang namja jangkung yang masuk ke ruangannya.

“Dasar kau, Minho, apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?” marah Onew menatap namja tadi dengan dingin.

“Sudah ku ketuk, tapi tidak kau sahut, ya sudah aku masuk saja, hehehe,” kekeh Minho menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Ne, terserah kau saja, aku ikut dengan kalian, tapi temani aku makan siang di luar ne?” sahut Onew mendirikan badannya dari kursi empuk.

“Asal kau yang traktir hyung,” kata Minho yang mendapat tatapan kesal dari Onew.

“Terserah kau sajalah,” jawab Onew kemudian beranjak dari ruangannya. Di ikuti oleh Minho yang hanya tertawa tidak jelas.

Di jalan yang di padati orang-orang yang lalu lalang. Minho dan Onew menyeberang jalan dengan tergesa-gesa karena lampu yang menandakan kalau mereka akan berhenti segera menyala.

Di tengah-tenga kerumunan orang yang lalu lalang. Onew melihat sosok yeoja cantik berpakaian serba putih menatapnya. Mata kucing yeoja tersebut menatap lekat ke arah mata sabit namja tampan yang kini terpaku di tengah-tengah jalan.

“Key?” panggilnya ragu.

Yeoja yang dipanggilnya Key itu tersenyum mengiyakan apa yang dikatakan olehnya. Akan tetapi…

“Onew-hyung awas!” teriak Minho histeris begitu melihat Onew tidak ada di sebelahnya malah berdiri mematung di tengah jalan.

Sontak namja bermata bulan sabit itu menoleh ke arah Minho dan mendapati dirinya telah bersimbah darah. Orang-orang mulai mengerumuninya. Termasuk namja jangkung yang kini menatapnya khawatir.

“Onew-hyung pabo, kenapa sampai tidak melihat truk yang ugal-ugalan itu?” maki Minho dengan air mata yang mengalir dengan derasnya.

“Minho, aku melihat Key, dia ingin mengajakku ikut bersamanya,” gumam Onew lirih sekali.

“Tidak boleh, kau tidak boleh ikut bersamanya, Hyung!” Minho semakin berteriak histeris sambil terus memeluk tubuh sahabatnya itu.

“Mianhe, tapi aku tak bisa hidup tanpanya, aku akan menjadi malaikat yang akan menemani sang bidadari sepertinya,” kata Onew sebelum menutup kedua matanya.

“Hyung, Onew-hyung, jangan pergi, jangan meninggalkan sahabatmu ini, Hyuuuung, hiks,” tangis Minho mulai pecah, begitu mendapati Onew telah tak bernafas lagi.

“Huhuhu, selamat jalan Onew-hyung, semoga kau bahagia disana,” Minho menutup wajah Onew dengan sapu tangan putihnya.

Tak lama kemudian polisi dan ambulans datang. Segera saja Minho meletakkan jasad Onew ke tandu yang dibawa oleh petugas rumah sakit. Lalu mengantarnya menuju rumah sakit.

>0<

Di sebuah lorong yang gelap, tampaklah seorang namja tampan berpakaian serba putih berdiri disana.

“Dimana aku?” tanyanya pada diri sendiri.

“Onew-oppa ada di surga,” sahut seorang yang ada di belakangnya.

“Key, kau cantik sekali,” puji Onew memerhatikan wajah Key yang tersenyum cerah ke arahnya.

“Gomawo, Oppa juga tampan, kajja!” ajak Key menyeret Onew ke suatu tempat.

“Kita akan kemana Key?” tanya Onew bingung.

“Kita akan ke rumah kita, aku adalah bidadari yang diciptakan khusus untukmu,”jawab Key. Sontak membuat namja tampan itu tersenyum cerah dan ikut berlari bersama dengan Key.

Sementara itu, di kehidupan nyata. Seorang namja tampan yang menyaksikan jasad Onew yang di evakuasi hanya tersenyum.

“Sepertinya mereka memang ditakdirkan untuk bersama, semoga kalian berdua bahagia di atas sana,” kata orang itu memandang langit yang tersenyum cerah. Terlihat wajah Onew dan Key yang berseri-seri menandakan kalau mereka bahagia di atas sana.

The End

 

Story by Riataemints

Otte? alurnya kecepetan ya? Mianhe. kalau banyak Miss typonya juga. gomawo udah baca ff abal ini. terserah reader mau komen apa nggak.

50

[Jinkey] Key2

Foreword : Hahaha, sepertinya banyak yang minta lanjut nih. Ok, aku punya lanjutannya. Disini mulai muncul tokoh lainnya. hari ini saya malas bicara, tapi aku mau ngucapin terima kasih sudah mau baca ff abal ini.

 

cek it out

 

Cast : Jinkey dkk

Genre : banyak yang bilang fantasy

Baru pertama kali ini, aku tidak merasa kesal dengan keputusan ayah. Entah kenapa, keputusan yang dibuat ayah, sangat menyenangkan. Keputusan dimana aku harus bersekolah di SM akademi yang penuh dengan misteri. Yah, walaupun disini aku tidak punya teman selain, dia. Si peri emas yang penuh dengan misteri atau dia aku sebut si peri emas yang sangat suka cemilan manis ya? Hahaha.

“Jinki, ada apa?” tanya Taeyeon-songsanim yang sedang mengajar di kelas.

Tunggu, kelas? Apa tadi aku mengucapkan apa yang aku pikirkan? Hah, sudah tidak mendapat teman, aku malah di anggap orang aneh disini. Malangnya nasibku.

“Sekarang malah menghela nafas, kau kenapa Jinki?” tanyanya sekali lagi.

Semua siswa memandangku dengan tatapan aneh. Ingin rasanya aku berteriak kalau aku bukan dewa kematian. Aku ini manusia sama seperti kalian. Aku pandangi mereka satu-persatu dengan tatapan tajam. Lalu aku beralih menatap Taeyeon-songsaenim yang malah tersenyum. Dasar guru aneh.

“Aniya, gwenchana,” kataku, kemudian duduk kembali ke tempatku.

Taeyeon-songsaenim hanya menganggukkan kepala tanda ia mengerti. Kemudian berteriak dengan riangnya.

“Nah, hari ini kita akan kedatangan dua murid baru, ayo-ayo masuklah!” Taeyeon menepuk-nepuk tangannya.

Sontak semua siswa menoleh ke arah pintu. Tak lama kemudian masuklah seorang namja tampan dan seorang namja cantik. Sang namja tampan itu sangat tinggi hingga membuat siswa yang pendek harus mendongak untuk melihatnya, sedangkan yang namja cantik itu sangat cantik bahkan kecantikannya melebihi seorang yeoja.

“Ayo, perkenalkan diri kalian.”

“Annyeonghaseyo, Choi Minho imnida, aku pindahan dari Daegu, aku kesini karena pekerjaan orang tuaku di kota ini,” kata namja tampan yang wajahnya mirip sekali tokoh anime karena matanya yang besar itu.

“Annyeonghaseyo, Lee Taemin imnida, aku pindahan dari Seoul. Aku kesini karena aku i….” kata-katanya terputus karena ucapanku.

“Taemin? Kau sekolah disini?” aku berdiri dan menatapnya.

Mata namja cantik itu melebar karena melihatku, “Jinki-hyung? Aku tidak tahu kalau kau sekolah disini juga,” katanya dengan nada senang.

Aku hanya menganggukkan kepala. Senyum tidak lepas dariku. Akhirnya aku punya teman selain Key, tapi Taemin bukan temanku melainkan dia adalah sepupuku. Hah, dunia ini sempit sekali sih.

“Baiklah, mari kita cari tempat duduk disini,” Taeyeon-songsaenim celingukan kesana-kemari untuk mencari tempat duduk kosong.

“Nah,Minho-ssi, kau bisa duduk di belakang Jinki, dan Taemin-ssi kau bisa duduk di sebelah Jinki,” ujarnya sambil menunjuk dua bangku yang kosong.

Kalau tempat ini penuh, berarti Key memang tidak bisa keluar dari tempat itu. Maaf Key, aku tidak bisa membawamu pergi dari tempat yang membuatmu bosan. Mungkin, aku bisa membawanya jalan-jalan di sekitar akademi ini. Akan aku tunjukkan dunia luar padanya.

Tanpa ku sadari, sedari tadi Taemin memandangku heran. Aku balas menatapnya dan memberikan senyum padanya. Aku yakin, dia pasti bingung kenapa aku melamun dari tadi. Hahaha, biarkan saja yang penting setelah pulang sekolah, aku akan pergi ke kota untuk membelikan Key cemilan supaya dia tidak bosan.

Ting Ting Ting

Akhirnya bel tanda pelajaran usai telah berbunyi. Saatnya pergi ke kota, aku harus cepat sebelum dia marah lagi seperti dulu ketika aku terlambat datang ke tempatnya. Key tidak mau bicara denganku selama dua hari, lalu kami berbaikan karena aku membawakannya banyak sekali cemilan manis. Tanpa terasa aku tersenyum sendiri mengingat betapa lucunya Key saat marah padaku.

“Hyung, gwenchana?” tanya Taemin khawatir.

“Ah, ne Gwenchana, Taemin, apa kau menyukai cerita horor atau hal-hal yang mistis?” tanyaku padanya.

“Ne, aku sangat menyukai cerita seperti itu, aku dengar ada gumiho yang suka memakan nyawa manusia disini, dan istimewanya, gumiho ini bisa berbicara dalam bahasa manusia,” cerita Taemin dengan wajah yang serius.

“Bukankah cerita gumiho itu hanya legenda yang ada di masyarakat Korea? Dan yang aku tahu, gumiho itu adanya di kuil bukan di akademi seperti ini,” sahut Minho yang sedari tadi memainkan ponselnya.

“Inikan Cuma rumor yang aku dengar dari siswa disini hyung >0<,” Taemin mempoutkan pipinya.

Minho dan aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.

“Ngomong-ngomong, apa kalian sudah lama seperti ini?” tanyaku bingung dengan ke akraban mereka.

“Kami baru saling mengenal pagi ini ternyata siswa disini memang orang kaya semua, tapi mereka sangat percaya pada cerita mistis seperti itu,” jawab Minho dengan wajah bosan.

“Tapi, Jinki-hyung juga terlibat dalam cerita mistis itu, aku dengar dia dibilang sebagai shinigami yang menemani peri emas,” timpal Taemin.

“Tapi aku tertarik dengan kisah gumiho yang kau bilang tadi, Taemin,” tanggap Minho dengan tangan yang ia letakkan di dagunya. “Gumiho yang menyukai nyawa manusia, menarik sekali.”

“Yang aku tahu adalah gumiho yang sangat menyukai cemilan manis,” sahutku yang membuat kedua orang ini melihat ke arahku dengan bingung.

“Hyung dapat cerita itu darimana?” tanya mereka bersamaan.

“Wah, kalian kompak juga ya?” godaku lalu pergi meninggalkan Taemin dan Minho yang mulai berteriak tidak  jelas.

***

Aku berlari menyusuri anak tangga perpustakaan. Aku membawa sekantung besar berisi cemilan untukku dan Key, sedangkan dipunggungku terdapat tas yang berisi laptop. Kali ini, aku akan menunjukkan sesuatu yang menakjubkan padanya.

Tapi, saat aku tiba di lantai atas tempat Key berada. Aku melihat seseorang yang berdiri menatap Key dengan tajam. Sedangkan sang namja cantik itu hanya menundukkan kepalanya.

“Tidak aku sangka kau ternyata baik-baik saja tinggal disini, apakah kau menyukai tinggal disini, dari pada di tempatmu dulu?” kata si namja tampan dengan rambut nyentrik seperti dinosaurus.

Key tidak menjawab, dia hanya menunduk melihat buku yang terbuka dihadapannya. Ku lihat namja itu mulai geram denngan kelaukuan Key yang sedari tadi hanya diam saja.

“Cih, dasar gumiho yang tidak tahu apa-apa tentang dunia ini, bahkan kau lebih buruk dari orang cacat,” ejeknya memandang rendah Key.

“Jinki, kau sudah datang? Kemarilah, ayo kita baca buku bersama-sama,” Key tidak menjawab ucapan namja itu malah dia menatapku dengan senyum yang dipaksakan.

Aku berjalan ke arahnya. Meletakkan kantung berisi cemilan dihadapannya. Lalu membungkuk ke arah namja berambut nyentrik tersebut.

“Annyeonghaseyo, Lee Jinki imnida,” aku memperkenalkan diri.

“Ne, annyeonghaseyo, Kim Jonghyun imnida, aku adalah kakaknya Key,” sahutnya ikut membungkuk 90 derajat sama sepertiku.

Tunggu, apa katanya tadi? Kakaknya Key? Tapi kenapa beda sekali? Dan kenapa dia berkata kasar pada dongsaengnya sendiri? Dan kenapa dia tidak mau membebaskan Key dari penjara ini?

Seolah mengerti jalan pikiranku, Key menjelaskan, “Dia memang kakakku, tapi ibu kami berbeda, dia adalah pewaris keluarga Kim, sedangkan aku adalah anak yang lahir dari seorang pendosa.”

“Key bukannya tidak bisa keluar dari sini, tapi dia tidak diizinkan oleh ayah untuk pergi dari tempat ini,” timpal Jonghyun seraya menatap iba ke arah Key.

“Bukankah kau kakaknya? Kenapa kau tidak bisa membawanya keluar?” sanggahku.

Jonghyun menatapku sekilas, lalu ia menghela nafas seperti orang yang frustasi.

“Bukannya aku tidak bisa mengajaknya keluar, tapi aku tidak punya waktu untuk mengajaknya keluar dari tempat ini,” ujarnya menatapku dengan wajah melas.

“Hyung, kalau kau tidak keberatan, bolehkah aku membawa Key jalan-jalan bersamaku?” tanyaku menatapnya dengan yakin.

“Akan ku tanyakan pada ayah dulu, kalau boleh, akan aku izinkan. Untuk sementara, aku titipkan rubah kecil terkutuk ini padamu,” kata Jonghyun sambil menepuk bahuku sebelum meninggalkan tempat.

***

Aku menatap kepergian Jonghyun dengan tatapan kosong. Aku terus memerhatikan namja nyentrik itu sampai dia menghilang di lantai bawah.

Kresek Kresek  Kresek

Aku mendengar suara gemerisik di belakangku, aku yakin itu pasti Key yang sedang membongkar isi kantung yang aku bawa tadi. Aku membalikkan badan dan melihatnya telah kebingungan menatap minuman kaleng yang aku bawa.

“Jinki, apa ini?” tanyanya seraya mengocok-ngocok minuman tersebut.

Aku tersenyum melihat wajah polosnya. “Itu minuman kaleng,” jawabku seraya duduk dihadapannya.

“Mwo? Minuman bisa diletakkan pada besi yang tertutup rapat seperti ini?” kagetnya sambil mengacungkan minuman itu ke wajahku.

Aku terkekeh melihat tingkahnya itu. “Ini bukan besi, melainkan aluminium yang khusus untuk minuman,”sanggahku seraya duduk di samping namja cantik itu. Ku pegang tangannya, lalu mengarahkannya pada penutup kaleng. “Kau lihat? Ini ada tutupnya, dan bisa dibuka.”

“Bagaimana cara membukanya?” tanya Key menyentuh-nyentuh tutup kaleng itu.

“Caranya seperti ini,” ku arahkan tangannya supaya memegang tutup kaleng itu, lalu mulai menariknya dengan kuat.

 

 

Tus

 

 

 

 

Byuuur

Isi kaleng keluar mengenai kami berdua. Sepertinya Key terkena wajah dan bajunya hingga ia basah seperti itu, sedangkan aku hanya lenganku yang kena semprotan dari soda yang ada di kaleng itu. Key terdiam sejanak lalu air mata keluar dari mata kucingnya.

“Huwaa, dasar nappeun, kau sengaja melakukannya di depanku ya? Lihat, baju dan wajahku basah dengan air yang keluar dari besi itu,” omelnya sambil menunjuk kaleng yang berada dalam genggamanku.

“Sudah jangan nangis, sini aku bersihkan,” aku menariknya menuju air mancur yang berada di tengah-tengah taman itu.

Mendudukkan Key yang masih sesenggukan di pinggir air mancur, sedangkan aku menuju ke kamarnya untuk mengambil baju ganti dan handuk untuknya.

“Jinki, bawakan aku t-shirt warna pink saja, aku tidak mau pakai kemeja,” teriaknya.

Aku mengangguk meski aku tahu Key tidak akan melihatku karena jarak kami jauh. Aku mengambil t-shirt berwarna pink dengan gambar hello kitty di bagian depannya. Lalu aku berjalan menuju tempat biasa kami menggantung handuk basah. Lalu mengambil handuk berwarna pink. Jangan tanya, kenapa aku bilang kalau aku menyimpan handuk disini. Itu karena aku memilih untuk menemani Key hingga pagi disini. Jadi aku memindahkan sedikit pakaianku disini untuk berganti baju.

Aku berjalan menghampiri Key yang hanya diam menatap kaleng cola yang aku tinggalkan di sampingnya. Aku mengambil kaleng tersebut lalu meminumnya. Key hanya menatapku heran karena aku telah meminum benda yang membuatnya basah.

“Nah, sekarang kau harus mengelap wajahmu yang basah itu,” ku ambil sapu tangan yang ada di saku celanaku, kemudian aku mencelupkannya ke dalam air mancur.

Ku usapkan sapu tangan yang sudah basah itu kewajahnya. Setelah beres, ku buka bajunya yang berenda itu untuk ku ganti dengan t-shirt yang tadi aku ambil.

“Gomawo hyung ^_^” Key tersenyum manis dihadapanku.

“Key,” panggilku.

Dia menatapku, lalu

 

 

Tuk

 

 

Ku sentil dahinya pelan. Mau bagaimana lagi, aku gemas melihatnya tersenyum seperti itu. Tapi, kenapa dengan wajahnya? Wah, gawat sepertinya ia mau menang…..

“Sakit, huks kenapa kau memukulku dengan keras begitu huks, Jinki-nappeun, huwaaaa,” tuh kan, aku bilang apa, dia akan menangis.

Aku hanya tertawa mendengarnya menangis sambil mengusap-usap dahinya yang aku sentil tadi. Sekarang Key mulai menggembungkan pipinya. Hahaha, sepertinya dia marah padaku.

“Mianhe, aku hanya menyentil pelan, tapi kenapa kau menangis begitu?” ujarku padanya.

“Kalau ku bilang sakit ya sakit. Jinki jahat,” teriaknya memunggungiku.

Yah, sepertinya dia marah, “Aku minta maaf karena sudah menyentilmu, untuk permintaan maafku, aku punya sesuatu yang membuatmu senang,” kataku mengalah padanya.

Tak lama kemuadian, Key memandang ke arahku dengan wajah yang berseri-seri. Ku tarik tangannya dan mengajaknya kembali ke tempat dimana kami biasa membaca buku bersama-sama.

Setelah sampai, ku dudukkan Key di lantai, lalu ku ambil sebuah meja kecil yang berada di samping semak-semak dan meletakkannya di depan Key. Kemudian ku ambil laptop warna putihku, dan beberapa DVD yang baru saja aku beli di kota. Ku nyalakan laptopku. Anehnya, Key malah menatap takjub benda yang ada dihadapannya.

“Jinki, apa ini? kenapa bisa bersinar seperti ini? apa ini termasuk handphone yang sering kau bawa?” katanya polos.

“Hahaha, ini bukan handphone, ini namanya laptop. Kau bisa bermain, mencari informasi, mendengarkan musik, melihat video, dan masih banyak lagi kegunaan benda ini,” jelasku sambil menunjukkan aplikasi apa saja di depan Key.

Ku lihat dia tersenyum senang melihat laptop yang ada di depannya. Sepertinya Key belajar dengan cepat. Lihat saja, dia sudah mulai bermain game mencocokkan benda yang ada disana. Sesekali dia bergumam tidak jelas saat dia kalah bermain game.

“Hey sudah, jangan bermain terus, yang mau ku tunjukkan bukan ini, tapi ini,” aku mengambil kaset yang ku letakkan di samping laptop.

“Piring? Kenapa kau membawa piring yang bolong seperti donat begitu?” tanyanya dengan wajah polos.

Aku terkekeh mendengar pertanyaannya. Tanpa menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh gumiho kecil ini, aku mengambil DVD berwarna putih polos. Lalu ku masukkan ke dalam laptop. Tak lama kemudian, tampillah kota SMtwon di layar monitor.

“Apa itu?” tanya Key menunjuk gambar yang ditampilkan di layar monitor.

“Itu suasana kota Smtwon, apa kau tidak tahu?” aku memandang ke arah Key yang menggeleng.

Ternyata dia benar-benar terkurung disini. Walaupun dia cerdas karena selalu membaca. Tapi, dia kesepian dan tidak punya teman untuk di ajak bicara. Jadi selama ini, temannya hanyalah sebuah buku yang memang tahu banyak hal, tapi tidak bisa di ajak bicara. Namun sekarang, sang gumiho yang kesepian ini adalah temanku. Tidak, dia bukan gumiho, melainkan seorang namja cantik biasa yang kesepian.

“Jinki, menurutmu, apakah aku bisa keluar dari sini?” tanyanya menatap ke arahku yang sejak tadi melihatnya.

Sontak aku memalingkan wajahku yang memerah karena malu, walau aku yakin kalau dia tidak memperhatikanku tadi.

“Kalau kau mau, aku bisa membawamu keluar dari perpustakaan ini, tapi aku tidak membawamu keluar dari tempat ini, karena aku takut kena marah kakak dan ayahmu itu” jawabku seraya menunjukkan senyum terbaikku padanya.

“Gwenchana yang penting aku bisa melihat dunia luar, tapi…” dia menunjuk ke arah anak tangga yang sangat banyak di perpustakaan.

“Biar aku yang membukakan pintu untukmu, kau berjalan di belakangku saja,” sahutku.

“Kau memang pelayan yang sangat baik,” katanya dengan nada yang mengejek.

Karena kesal, ku gelitiki pinggangnya. “Apa kau bilang? Pelayan? Rasakan ini, gumiho jelek,” kataku masih menggelitiki seluruh pinggangnya.

Key tertawa keras saat aku gelitiki sampai dia terbaring saking tidak kuatnya. Tanpa ku sadari aku sudah berada di atasnya sambil memegang pinggangnya. Tawa kami terhenti saat menyadari posisi kami yang sesungguhnya. Tanpa mengubah posisiku. Aku memandang wajah cantik Key yang berada di bawahku.

“Yeppoh, walaupun semua orang takut padamu, tapi aku akan terus melindungimu,” janjiku padanya.

“Tapi, aku hanya sebuah alat, alat untuk merebut kekuasaan yang sudah diimpikan oleh ayahku,” sanggahnya seraya meletakkan tangannya di dadaku.

“Tidak, kau bukan alat ataupun gumiho, tapi kau adalah temanku yang sangat berharga, kau berhak untuk bebas dan melakukan semua yang kau suka,” aku meyakinkannya.

Chu~

Dia mencium bibirku. Ku balas ciumannya yang lembut dengan tak kalah lembutnya. Tidak ada jarak di antara kami berdua. Ku angkat tubuh Key dan memperdalam ciuman kami. Rasanya manis, tapi agak sedikit asin karena becampur dengan air mata yang turun dari mata kucingnya.

“Jinki, gomawo kau mau menjadi temanku, jangan pernah meninggalkanku, tetaplah di sisiku,” katanya setelah ciuman kami terlepas.

“Aku janji, jadi sekarang…” aku berdiri dan menggendong Key ala bridal style.

Key yang terkejut atas perlakuanku meletekkan tangannya di leherku. Dia juga menatapku bingung karena aku membawanya turun dari lantai atas perpustakaan dengan tangga. Aku tidak peduli pada laptopku yang menyala, toh disini tidak mungkin ada pencuri.

“Kau mau membawaku kemana?” tanyanya mengeratkan pegangan ini. “Dan kenapa kau mau beban berat ini?” lanjutnya menundukkan kepalanya sedih.

“Aku membawamu makan malam bersama teman-teman yang lain, dan bukanlah beban,” sahutku menatap ke arah Key yang kini tersenyum kecil.

Akhirnya sampai juga di lantai dasar, ku langkahkan kakiku menuju pintu besi perpustakaan. Sebelum ku buka pintu itu, ku turunkan Key terlebih dulu dan mulai membuka pintunya.

Krieeet

Bunyi pintu besi itu. Tampaklah cahaya oranye yang menerangi kami berdua. Sepertinya hari sudah mulai sore. Dan aku tidak terlambat untuk makan malam. Ku rasakan genggaman di tanganku yang ku yakin itu pasti Key.

“Nah, ayo kita keluar dari tempat ini,” ajakku.

Kami berjalan menuruni anak tangga kecil yang ada di depan perpustakaan. Setelah menutup kembali pintu perpustakaan tentunya. Kami menyusuri jalan setapak dari perpustakaan menuju ke asrama. Tepatnya, tempat dimana semua siswa yang bersekolah disana makan malam.

***

Key sangat senang karena ia bisa keluar dari perpustakaan. Lihat saja senyumnya yang lebar itu. Dia menatap takjub ke segala arah. Di tengah-tengah jalan dia berhenti untuk menatap langit jingga yang indah. Aku yakin Key belum pernah keluar sedikit pun.

“Kau menyukai langit sore?” tanyaku padanya.

Key hanya bisa mengangguk tanpa menatap ke arahku. Matanya masih menatap langit sore dengan takjub. Entah ada ide jahil darimana. Tiba-tiba saja tanganku menutup matanya yang terbuka lebar sekali.

“Jinki, aku tidak bisa melihat langit sore itu,” rengeknya berusaha melepas tanganku dari matanya.

“Kau tidak boleh melihat langit jingga itu lama-lama nanti matamu bisa sakit, kalau kau sakit, aku bisa dibunuh oleh Mr Kim,” jelasku masih mempertahankan tanganku untuk menutup matanya.

“Biarkan saja, dia tidak peduli padaku yang hanya sebuah alat untuk kekuasaannya saja,” belanya masih berusaha melepaskan tanganku darinya.

Aku menjauhkan tanganku yang tadi menutup matanya. Ku pandangi Key yang mulai mengeluarkan airmata. Kenapa hari ini dia sering sekali menangis? Sakit rasanya kalau melihatnya menangis seperti itu.

Aku membungkukkan badanku ke hadapannya. Ku pandangi wajah Key yang masih mengeluarkan tetes demi tetes air mata. Ku hapus airmata itu dengan ibu jariku dan berkata

“Pabo, berapa kali aku bilang, kalau kau adalah temanku dan bukanlah sebuah alat, tidak akan aku biarkan ayahmu atau siapapun memperlakukanmu sebagai alat, arraseo?”

Key mengangguk kepalanya. Sedetik kemudian dia tersenyum manis ke arahku. Akupun ikut tersenyum melihat senyumnya itu. Hah, semoga saja Jonghyun bisa mendapat izin untuk mengajak Key jalan-jalan.

Aku mulai berdiri dari posisiku. Kemudian menggandengnya lagi menuju ke asrama. Apa respon teman-teman disana ya? Jika aku bawa seorang peri emas yang mereka takuti? Hahaha, pasti heboh sekali.

Ketika hampir sampai asrama, kami bertemu dengan Shindong-ssi yang membawa makanan di tangannya. Dia terkejut saat melihat kami berada di hadapannya. Wajahnya takut saat melihat Key yang ada di sampingku.

“K….k..k..kau, kenapa membawanya keluar dari menara perpustakaan? Apa kau tidak takut terkena amarah dari Mr Kim?” tanyanya gugup, terlihat dari tangannya yang bergetar.

“Aku sudah mendapatkan izin dari Jonghyun, jadi tidak masalah kalau aku mengajaknya makan malam bersama, lagi pula ini tidak keluar dari akademi kan?” jawabku santai.

Setelah mengendalikan dirinya. Shindong mulai tersenyum dan memberikan makanan yang ada di tangannya padaku.

“Aku mengerti, biar bagaimanapun Key tetaplah seorang manusia, dia pasti kesepian, sekarang ajaklah makan di dalam, kajja kalian masuklah,” katanya membukukan pintu ruang makan.

“Gomawo Shindong-ssi,” ucapku tulus.

Kami memasuki ruang makan dengan tenang. Sebenarnya hanya aku yang tenang, karena Key gemetaran ketika memasuki tempat itu. Terlihat dari tangannya yang bergetar di belakangku.

 

 

Brakk

 

 

 

 

Prang

Karena sibuk mengawasi Key yang gemetar, aku jadi menabrak tiang yang berada di depanku. Semua siswa melihatku dengan tatapan aneh dan takut. Aduh,kenapa aku bodoh sekali sih, bisa-bisanya menabrak tiang. Ku lihat Key menahan tawa melihatku yang jatuh dengan spageti yang berada di rambutku.

“Jinki-hyung, kenapa kau bisa seceroboh ini sih,” kesal Taemin yang berlari ke arahku diikuti Minho di belakangnya.

“Hahaha, Mianhe,” aku malah menertawai kebodohanku sendiri.

Key berjalan ke arahku, dia berjongkok di depanku dan mulai membersihkan mie beserta sausnya di tubuhku dengan sapu tangan berwarna pink. Tak jauh dari kami, Taemin dan Minho berdiri mematung menatap ke arah kami berdua, atau lebih tepatnya ke arah Key yang masih sibuk membersihkanku.

“Kulit putih mulus, pipi tirus yang semerah mawar, mata yang setajam kucing, juga rambut panjang berwarna keemasan,” dekripsi Taemin terhadap Key.

“Tidak salah lagi, itu adalah…..” Minho menambahkan kata-kata Taemin

“Si peri emas,” teriak Taemin membuat semua siswa melihat ke arah kami dengan kaget.

“Si gumiho terkutuk,” kata Minho dingin.

Plak

Taemin menampar wajah namja belo itu dengan keras hingga tertinggal tanda merah berbentuk tangan di pipinya. Sedangkan yang ditampar menatap kaget ke arahnya.

“Hyung, dia itu bukan gumiho terkutuk, dia adalah boneka yang diciptakan oleh tuhan, lihat saja wajahnya cantik sekali,” omel Taemin seraya menjewer telinga Minho.

“Arraseo arraseo, sekarang lepaskan tanganmu dari telingaku Taemin-aah, ini sakit sekali,” sahut Minho berusaha melepaskan tangan Taemin dari telinganya.

Akhirnya Taemin melepaskan tangannya dari telinga Minho. Tapi kenapa tangan yang sedang menyentuh wajahku ini gemetar? Aku mengalihkan perhatianku dari pasangan Taeminho ke arah Key. Matanya terbuka sangat lebar, tangannya bergetar ketakutan. Mungkinkah ini karena perkataan dari tuan Choi itu?

“Tenanglah, kau bukanlah gumiho terkutuk, semua orang terlahir dalam keadaan suci, kau bukanlah orang yang terkutuk itu, hmm?” tenangku memeluk Key.

Mengusap-usap punggungnya yang gemetar. Tanpa sepengetahuannya, aku menatap tajam ke arah Minho yang telah menyakiti Key. Sontak orang yang aku tatap itu langsung mengeluarkan keringat dingin. Hal itu membuat Taemin tertawa melihatnya.

“Jinki,” panggilnya lirih.

“Ne?”

“Badanku lengket karenamu,” ujarnya seraya mencubit pinggangku keras sekali. Sontak ku lepas pelukanku padanya.

“Aigoo, Key neomu appo….” manjaku mengusap pinggang yang tadi dicubit olehnya.

Key sama sekali tidak peduli. Dia hanya memandang t-shirt pinknya itu dengan tatapan jijik. Karena t-shirtnya itu telah ternoda dengan saus spageti yang masih ada di tubuhku. Sontak semua yang ada disana tertawa melihat tingkah kami berdua. Taemin berjalan ke arah Key. Namun, si peri emas itu mundur.

“Jangan takut, dia adalah sepupuku,” tenangku mengusap bahunya.

Key mengangguk dan mulai menatap ke arah Taemin yang tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke arah Key. Dengan ragu, Key menjabat uluran tangan Taemin.

“Annyeong, aku Lee Taemin senang berkenalan denganmu si peri emas yang cantik,” kata Taemin seraya menaik-turunkan tangannya yang menggenggam tangan Key.

“A..annyeong, namaku Kim Keybum, tapi kau bisa memanggilku Key, aku mohon jangan memanggilku peri emas lagi,” sahut Key gugup.

Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Key menatap ke arah Minho dengan bingung. Lalu ia menatapku meminta jawaban. Sedangkan aku hanya menaikkan alis untuk bertanya kenapa?

“Jinki, kenapa ada kodok berkeliaran disini?” tanya Key polos.

Aku dan Taemin tertawa mendengar pertanyaan Key yang polos. Sedangkan Minho menatap tidak suka ke arah kami semua.

“Itu bukan kodok, tapi Choi Minho, dia itu temanku,” jawab Taemin dengan senyum.

“Choi Minho? Jadi kaulah orangnya,” gumam Key menatap ke arah Minho dengan tatapan menyelidik.

Sedangkan Minho menatap jengkel ke arahnya. Namun, yang aku tangkap dari tatapan Minho sepertinya ia membenci keberadaan namja cantik itu disini. Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka?

“Dasar, gumiho terkutk,” geramnya, tapi masih bisa kutangkap dengan telingaku.

Apa hubungan Key dan Minho? Kok sepertinya dia mempunyai dendam pada namja cantik yang ada di hadapanku ini? Hah, Key, kenapa kau bertambah misterius di depanku? Siapa kau sebenarnya?

 

 

 

 

TBC

Hah, Mianhe kalau banyak Wrong Typo-nya. Apakah pertanyaan suunders yang di part 1 udah terjawab? mungkin ada yang belum, tunggu next part aja. Dan untuk para Flamers, next part jangan bunuh saya ya? karena ada kemungkinan next part Minho jadi jahat. *sujud di hadapan flamers*.