66

EPILOG : OUR PRECIOUS ONE…IT’S OUR MOST PRECIOUS TIME… /2MIN/MPREG/YAOI

Chingu, ini keiminnie bawa FF dari Fitri, and buat Fitri mian gue bar pos sekarang… U.U

 

Foreword :

annyeong…apa kabar semuanya? Sehat kah? Hehehe. Lagi pengen bawa ff random lagi setelah beberapa waktu ndak nulis. Sebenernya tadi malem lagi ubek-ubek laptop, ketemu OPO part terakhir, trus entah kenapa kepikiran untuk nulis epilog nya. Pada minta epilog kan? :p

Entah yaa bakal gimana ceritanya. Bakal jadi smutt atau sebaliknya, otak gue meliar trus nulis tiba-tiba anak 2min mati bunuh diri atau ketabrak mobil atau keracunan, hahaha. Seperti biasa gue nulis tanpa ide dasar jadi asal aja nii tangan mau ngetik apa. Entah juga yaa bakal jadi seheboh part-part sebelumnya atau engga maklum gue udah lama ga nulis lagi jadi pasti bakalan beda dari yang dulu. Terserah sii mau di komen atau engga, aku ndak perduli. Hehe. Gue udah mencoba nothing to loose pas nulis, jadi kalian mau meluangkan waktu untuk baca aja gue makacii sekaliii.

Hope you likey…

Cue…

By : TaeminhoShouldBeReal

 

 

 

EPILOG…

“hyung, bayi ini kita mau beri nama siapa?”

“untuk yang wanita, Choi Minzy”, Minho menjawab sambi tersenyum. Keduanya persis Minho dan Taemin. Sang wanita luar biasa cantik. Wajahnya persis Taemin, hanya matanya, jelas itu mata elang Minho. Sementara sang namja, ia luar biasa tampan. Wajahnya persis Minho, hanya perbedaan di matanya, sama seperti adiknya yang mempunyai mata elang Minho di wajah cantiknya, sang kakak mempunyai mata teduh Taemin di wajah tampannya.

“kenapa Minzy?”

“Minzy adalah anak yang…istimewa dengan caranya sendiri. Anak yang begitu cantik dan luar biasa aku ingin, anak ini mempunyai sifat seperti itu. Bukan hanya baik untuk kehidupannya sendiri, tapi juga baik dan membawa keceriaan untuk sesama nya”

“lalu yang laki-laki?”

Minho terdiam. Ia belum tau namanya.

“Min…ho”, Taemin berkata pelan.

Minho melihatnya, “nama ku?”

Taemin mengangguk, lalu mengelus pipi chubby kemerahan sang kakak, “aku ingin anak ini dinamakan sama dengan nama namja paling tampan, baik, sabar, lembut, dan bertanggung jawab yang pernah kukenal selama aku hidup. Aku juga ingin ia mempunyai sifat yang sama sepertimu, hyung. Bertanggung jawab menjaga adik perempuannya, menjaga ku, menjaga orang-orang sekitarnya dengan kekuatannya sekaligus kelembutannya sebagai seorang laki-laki”

^^

“waaaaaaa, kyeoptaaaa pffftttt”, teriak Key histeris begitu melihat ‘pangeran dan putri’ keluarga Choi dan Lee di box bayi rumah sakit dan langsung dihadiahi ‘dekapan cinta’ oleh Jonghyun dan Jinki.

Ya, keluarga hangat itu sekarang masih ada di rumah sakit Seoul. Kamar VVIP yang mereka sewa hanya untuk Taemin dan kedua bayi mungilnya kini penuh dengan keluarga besar Choi, Lee dan tak ketinggalan bahkan keluarga besar Kim, Appa dan Umma Jonghyun serta Key ikut larut dalam kebahagiaan yang entah bagaimana dihadirkan dari kedua sosok mungil yang saat ini tengah tertidur di box bayi yang masing-masing berselimutkan biru dan pink. Mengerumuni kotak kecil tersebut sambil membekap mulut cerewet Key dan mengagumi sosok cantik seperti bidadari dan sosok tampan bagai malaikat yang kini menambah jumlah keluarga mereka. Umma Minho dan Appa Taemin bahkan tak kuasa menahan air mata nya. Sang kakek, yang biasa selalu tampil berwibawa bahkan cenderung dingin sebagai owner sekaligus presiden direktur salah satu perusahaan terbesar di Seoul, kini menanggalkan itu semua dan terlarut mensyukuri keajaiban Tuhan atas dua sosok mungil nan luar biasa yang Dia hadiahkan saat ia masih di dunia. Ya, hidup nya lengkap kini, meski masih ada satu keinginan di hati kecilnya untuk melihat sang kakak, Lee Jinki, menyusul adiknya, tapi tetap tak henti ucap syukur itu tulus datang dari hatinya. Memegang tangan mungil Minzy, yang ternyata, meski sedang tidur, si kecil kuat menahan telunjuk sang kakek untuk ia genggam, sambil tersenyum, reflek Appa Taemin menengadah ke atas, dalam hati ia berbicara, “kau melihat mereka sayang? Aku sudah menjadi kakek, dan kau pasti menjadi nenek tercantik yang pernah ada. Taemin, anak mungil kita sudah menjadi orang tua saat ini. Orang tua dari malaikat tampan dan putri cantik yang Tuhan percayakan untuk menjadi bagian dari keluarga Lee. Waktu berlalu begitu cepat. Dulu, ia masih anak-anak. Anak cantik dan luar biasa walau kadang terlihat lemah, tapi kau dan aku yang paling tau siapa sebenarnya Taemin. Sekarang, waktu-waktu itu sudah lewat dan kini ia sudah mempunyai anak. Kita berdua percaya, Taemin kita akan seluar biasa dulu, iya kan? Andai kau masih ada di sisiku kini, aku bahkan masih bisa membayangkan senyum wajahmu ketika melihat cucu kita”, dan air mata itu menetes, mengalir di pipi tua nya.

Jinki, yang melihat Appa nya menangis dalam diam nya, hanya bisa tersenyum. Ia tau itu tangis kesedihan dan kebahagiaan dalam waktu yang sama. Ya, status Jinki memang hanya anak angkat keluarga Lee. Tapi kasih sayang tulus dari pria hebat itu yang membuatnya merasa bahwa ia sepenuhnya bagian dari keluarga kecil ini. Hanya mereka bertiga. Appa, Taemin, dan dirinya, dan ia sudah merasa keluarga ini lengkap. Appa dapat menjadi sosok tegas seorang Appa dan sosok lembut seorang Umma. Appa bertahan belasan tahun untuk tetap sendiri semenjak kepergian Umma hanya untuk menjaga kesetiaan cintanya. Bahwa laki-laki sejati harus menjaga kesetiaan terhadap hal-hal berharga dalam hidupnya, itu yang selalu Appa ajarkan pada Jinki. Dan kesetiaan seorang Lee Jinki sudah ia berikan pada seorang bernama….Lee Taemin. Salah kah?

Tentu saja salah jika dilihat dari sudut pandang bahwa mereka kakak adik dan Taemin sudah memilih Minho. Tapi bagi nya, makna kesetiaan tidak dibatasi hal seperti itu. Bahkan kematian tidak memudarkan sedikitpun kesetiaan Appa terhadap Umma. Kesetiaan adalah hal paling tulus yang Tuhan anugerahkan untuk datang dari hatimu dan kau tidak punya kekuatan untuk menentukan bahwa kesetiaanmu akan jatuh pada siapa. Hanya sesederhana itu! Taemin sudah memilih lelaki terhebat seperti Minho. Jinki bahkan sadar ia tidak akan bisa sehebat Minho untuk menjaga Taemin, dan sungguh tulus ia bersyukur adik terkasihnya mendapat orang paling luar biasa yang bisa mengerti dirinya. Kini ia pun sudah mencintai orang lain. Tapi kesetiaannya yang paling dalam, paling tulus, dan paling ia jaga agar tetap indah di dalam hatinya yang terdalam, yang tak seorang pun tau kecuali ia dan Tuhan, tetap hingga detik ini, bahkan hingga ia mati, hanya untuk sang adik.

Flashback…

“hei Taemin, apa kau tidak malu punya kakak seperti dia? Hanya anak pungut. Cih, itu memalukan, kau tau! Tidak ada yang tau ia anak siapa! Asal usulnya tidak jelas, dan Appa mu bahkan memberikan marga kalian untuk orang yang tidak jelas berasal dari mana?”

Saat itu mereka masih di sekolah dasar. Jinki dan Taemin bersekolah di salah satu sekolah internasional paling elite di Seoul. Karena itu, para siswa nya juga merupakan orang-orang borjuis dengan titel orang tua mereka sebagai Presiden Direktur X.Corp atau owner jaringan multinasional hypermart Y atau para petinggi pemerintahan Seoul. Begitu tau, Lee Jinki, si anak baru yang seharusnya bernama Xxxx Jinki, si anak pungut yang tidak tau berasal dari keluarga mana, seketika para anak-anak borju langsung membuat ‘border’ tak terlihat bahwa anak seperti itu tidak pantas untuk masuk ke kalangan mereka atau setidaknya berada di jarak pandang mereka. Latar belakang keluarga yang [harus] terpandang adalah syarat mutlak untuk masuk dalam ‘border’ itu.

Jinki kecil, tidak buta, tidak bodoh, dan ia tau diri. Diangkat anak oleh salah satu orang terkaya di Seoul dan rela memberikan marga Lee di depan namanya, bukan tanpa konsekuensi. Dan mungkin ini salah satunya. Ia menjadi anak yang pendiam. Bahkan hampir tidak pernah bicara. Nilai nya memang selalu sempurna. Ia menjelma menjadi anak paling cemerlang sedari kecil. Tapi dengan menjadi anak cemerlang, itu tidak cukup untuknya menembus ‘border’ yang ada di sekelilingnya. Dan Taemin kecil, ia masih terlalu kecil dan takut untuk bisa membantah segala perkataan itu. Sungguh Jinki tak menyalahkannya. Ia justru akan lakukan apapun selama bukan Taemin yang dijauhi, meskipun dengan cara juga menjauhi Taemin dan menjadi Jinki si penyendiri. Hingga suatu hari, semuanya berubah…

“kau anak pungut tidak tau diri! Ternyata dengan menjadi kesayangan para guru di sekolah ini, kau menjadi besar kepala! Apapun yang kau lakukan, tidak akan mengubah status anak pungut yang menempel pada dirimu, kau tau!”, seorang anak angkuh berdiri di depan Jinki sambil mengacungkan jam tangan mewahnya yang entah bagaimana caranya bisa ada di dalam tas Jinki.

“pencuri!! Hanya anak pungut saja kau berani mencuri, apa keluarga Lee kurang memberikan uang padamu!! Kau tidak pernah diajarkan kata ‘berterima kasih dan tau diri’ hah?”

Kalimat itu menggema di seisi ruangan. Mata-mata sinis bahkan muak kini tertuju pada anak kecil tampan yang hanya bisa memasang wajah bingung walau sebenarnya ia ingin sekali menangis! Tapi perintah sang Appa bahwa “laki-laki harus kuat apapun yang terjadi padanya” terus ia pegang erat membuatnya masih bertahan hingga kini dengan segala ejekan yang ia terima bertahun-tahun, bahkan di usia yang masih begitu muda. Ia tidak pernah bercerita apapun pada sang Appa. Ia cukup mengerti bahwa Appa nya seorang yang sibuk mengurusi perusahaan besar dengan ribuan karyawan dan pasti ia sudah lelah dengan semua itu. Jinki pun tak pernah meminta Taemin untuk membelanya karena ia tau konsekuensi yang akan Taemin terima jika membela Jinki adalah pengejekan yang sama seperti dirinya dan Taemin masih terlihat terlalu fragile di mata Jinki untuk menanggung semua itu. Tapi kali ini, sungguh Jinki sakit hati. Ia memang hanya anak panti asuhan. Ia memang tidak tau siapa Appa dan Umma nya karena menurut penuturan orang-orang di panti asuhan tempat Jinki tinggal sebelum dibawa ke rumah mewah keluarga Lee, ia sudah ditinggalkan di panti asuhan semenjak hari pertama ia lahir ke dunia dan tidak ada orang yang tau siapa yang tega meletakkan anak yang baru sehari dilahirkannya di sebuah malam yang dingin di depan pintu suatu panti asuhan kecil. Tapi sungguh, di panti asuhan kecil itu lah ia mengenal apa itu kasih sayang tulus dari sebuah keluarga meski tak diikat hubungan darah. Ia ditanamkan nilai-nilai agama yang baik dan salah satunya mengenai kejujuran. Kejujuran yang Jinki pegang sejak kecil, membuatnya tabu untuk melakukan tindakan mengambil hak orang lain yang bukan miliknya, sebesar apapun keinginannya untuk memiliki barang itu. Tapi justru, sekarang ia dituduh menjadi pencuri?

“Taemin, lihat kelakuan kakak mu!!”, seorang anak laki-laki menoleh ke arah pintu dan segera berteriak begitu melihat putra kandung keluarga Lee ada disitu. Ya, Taemin mendengar ada keributan saat melewati kelas kakaknya. Ia berhenti dan melihat seseorang dikerumuni. Tidak berani masuk, ia hanya berada di depan pintu dan kini wajahnya pucat begitu seseorang menyadari kehadirannya dan kini semua mata menoleh ke arahnya, termasuk anak yang dikerumuni itu. Lee Jinki, kakaknya.

Mata mereka bertemu. Taemin melihat Jinki masih bisa tersenyum ke arahnya dan matanya seolah berkata, ‘jangan khawatir, aku baik-baik saja’. Lee Jinki, kakak yang sebenarnya sangat ia sayang, dan ia sangat yakin ia tidak melakukan seperti apa yang dituduhkan. Taemin memang tidak melihat kejadiannya, hanya ia sangat yakin kakaknya bukan orang yang seperti itu!

Seketika, banyak kelebatan memori yang hadir di otak nya. Saat Jinki selalu ada di sampingnya. Dengan sikap sangtae nya ia berusaha menghibur Taemin yang hancur akibat kepergian sang Umma. Di malam-malam yang selalu Taemin takuti karena mimpi buruk semenjak Umma tidak ada, Jinki selalu menemaninya, memegang tangannya, bahkan terkadang bersenandung merdu untuk menemani sampai ia tertidur. Jinki yang merelakan kotak bekalnya diberikan pada Taemin kalau ia lupa ketinggalan membawa bekalnya. Jinki yang meneruskan mengerjakan tugas sekolahnya jika Taemin tertidur kelelahan di meja belajar. Mata teduh itu, senyum tulus itu, sikap baik itu, apa yang sudah aku lakukan sampai Tuhan memberikan hadiah seindah ini di kehidupannya? Lalu haruskah ia diam saja melihat kakak yang paling ia sayang difitnah seperti itu hanya karena alasan takut? Akhirnya ia mengerti, selama ini ia menakuti hal yang salah. Taemin tidak seharusnya takut kehilangan teman-teman atau ejekan yang biasa mereka lontarkan pada Jinki juga terlontar untuknya. Bukan! Taemin tidak seharusnya takut pada hal itu! Yang seharusnya ia takuti adalah ketika Jinki tidak lagi ada di sisinya. Karena selama Jinki hyung ada di sisi Lee Taemin, semua akan baik-baik saja!

Taemin mulai melangkahkan kakiknya ke kerumunan itu. Sorot matanya berubah. Bukan lagi dipenuhi ketakutan dan ketidak berdayaan seperti Taemin yang biasanya, dan Jinki heran melihat itu. Itu pertama kali ia melihat Taemin punya sorot mata seperti itu.

Ia memegang tangan Jinki, “kakak ku bukan pencuri!”. Ketegasan yang kuat terpancar keluar dari suaranya membuat seisi ruangan terdiam. Seorang Lee Taemin? Anak lemah ini? Berani membela Jinki? Apa kepalanya terbentur tembok saat bangun tidur tadi pagi?

“Taemin”, Jinki memanggil lirih. Kenapa dengan adiknya ini? Tidak biasa-biasanya ia begini. Dan suara tegas itu? Seperti bukan Taemin yang Jinki kenal selama ini.

“hah, kau mulai berani membela anak pungut itu Taemin?”

“ia punya nama, dan namanya bukan anak pungut. Namanya Lee Jinki. Ia kakak ku dan itu artinya ia juga sepenuhnya bagian dari keluarga Lee!! Kalau kalian mengejeknya berarti kalian juga mengejek ku, Appa ku, dan seluruh keluarga Lee!!”, Taemin mengeratkan genggamannya, dan Jinki sudah sepenuhnya tidak mengenal orang yang sedang menggenggam tangannya saat ini.

“Taemin…kau…”

“kenapa? Kenapa aku bisa membelanya? Are you deaf? Karena ia kakak ku! Dan jelas kakak ku bukan pencuri! Kami, keluarga Lee, selalu diajarkan nilai-nilai yang baik dan karena ia sepenuhnya bagian dari keluarga Lee, berarti ia juga orang yang baik dan tidak mungkin mencuri! Apalagi untuk jam tangan…murahan seperti itu!”, Taemin sebetulnya tau itu jam tangan keluaran terbaru bahkan sepertinya limited edition, tapi apa ia perduli?

“kalau Jinki hyung mau, ia bisa minta Appa untuk membelikan jam yang harganya 10x lipat lebih mahal dari itu! Kau pikir hanya keluarga mu satu-satunya yang kaya dan mampu membeli jam seperti itu? Kalau itu yang ada di pikiran mu, kau salah besar! Bahkan aku yakin perusahaan multinasional Lee Corp jauh lebih besar dibanding perusahaan orang tuamu, jadi jangan besar kepala!”.

Skak mat! Anak itu terdiam. Ia tau perkataan Taemin benar! Sepenuhnya benar! Ayahnya memang presiden direktur sebuah perusahaan pertambangan besar di Seoul, tapi ayah Taemin adalah owner dari perusahaan multinasional yang masuk peringkat 20 besar perusahaan terbesar di dunia versi suatu majalah ekonomi internasional. Tidak perlu jenius untuk tau siapa yang unggul disini. Ia bisa saja mengejek Jinki selama ini, tapi sekarang, yang ada di hadapannya adalah putra kandung keluarga Lee. Selama ini, ia kira Taemin juga malu mempunyai kakak dengan status tidak jelas seperti Jinki. Karena itu selama ini ia hanya diam. Tapi hari ini?

“Taemin sudah cukup!”, Jinki memperingatkan adiknya.

“kau bisa kena masalah karena ini, karena aku! Sudah cukup!”

Taemin menoleh ke samping sambil tersenyum, senyuman paling manis yang pernah Taemin perlihatkan di depan Jinki, “kau benar hyung. Sudah cukup! Memang sudah cukup aku bersikap pengecut selama ini. Kau kakak ku! Dan sudah sepantasnya seorang adik membela kakak nya yang hebat dan luar biasa! Aku memang sudah terlambat jika melakukan ini sekarang, tapi aku tidak mau tidak memulainya sama sekali. Kau tidak sendirian hyung. Lee Jinki punya Lee Taemin yang akan selalu ada disampingnya, seperti selama ini Lee Jinki yang selalu ada untuk Lee Taemin”, jelas Taemin lembut sambil menekankan setiap kata ‘Lee’ di tiap ucapannya.

Ya, untaian kalimat dihiasi senyuman manis dan sorot mata tegas dari Taemin saat itu yang membuat Jinki menyerahkan kesetiaannya. Sejak saat itu, mereka selalu berdua. Memang tidak ada lagi yang mengejek Jinki jika Taemin disisinya, tapi konsekuensinya, tidak ada pula yang mau berteman dan dekat dengan Taemin. Itu berlangsung sampai mereka dewasa. Kami selalu sekolah di tempat-tempat berisi anak-anak serupa, dan kelakuan yang kami terima pun sama. Jinki pernah bahkan sering meminta maaf pada Taemin, tapi lagi-lagi reaksinya selalu tertawa dan memukul bahu Jinki pelan lalu berkata, “hyung pabo. Untuk apa meminta maaf? Aku baik-baik saja, sudahlah. Selama hyung disampingku, aku bisa menjalani semuanya dan semuanya memang baik-baik saja kan selama ini? Jadi tidak ada yang perlu aku khawatirkan!”.

Lee Taemin…ku, terima kasih…

End flashback…

Jinki menatap kedua malaikat mungil itu, Minho, si tampan yang mempunyai mata teduh Taemin, dan Minzy, si cantik yang mempunyai mata tegas Minho. Kini pandangannya beralih ke belakang, sejoli yang mungkin adalah orang-orang paling bahagia di ruangan ini. Lee Taemin…ah, ani.. Choi Taemin, dengan muka pucat dan lelah namun tak bisa dipungkiri ekspresi itu adalah ekspresi paling bahagia yang pernah Jinki lihat hadir di wajah cantiknya, walau sudah belasan tahun Jinki bersama Taemin. Ia sedang menyandarkan kepalanya di dada bidang Minho, dan Minho melingkarkan tangannya memeluk Taemin. Pemandangan paling indah di ruangan ini selain melihat wajah malaikat dan bidadari kecil yang sedang tertidur itu. Jnki tersenyum sambil menunduk. Senyum paling tulus nya, sambil lirih berkata, “terima kasih Tuhan”.

^^

Dalam kehangatan pelukan Minho di tubuhku saat ini, tak hentinya ia berucap seraya berbisik terima kasih dan aku mencintaimu, sungguh Tuhan, sejujurnya aku ingin menangis saat ini. Melihat begitu banyak yang menyayangi Minho dan Minzy, malaikat dan bidadari kecil kami yang baru saja hadir setelah penantian panjang dan penjagaan over protective dari mereka semua. Ya, kini semuanya terbayar. Rasa sakit itu, malam-malam yang aku lewati penuh dengan kecemasan hingga insomnia, doa-doa yang tak hentinya aku panjatkan untukmu Tuhan agar membuat segala penjagaan dari mereka terhadap anak-anakku bukan seperti menaruh harapan kosong, semuanya selesai kini. Saat ini, yang terucap hanyalah ucapan syukur belasan orang yang menatap kagum pada anak-anakku. Anak yang sudah menempati setengah hati ku di detik pertama aku melihat wajah mereka yang sebelumnya hanya milik Minho sepenuhnya.

“hyung, kau bahagia?”, reflek aku bertanya pada orang yang kini meletakkan kepalanya untuk disandarkan pada kepalaku.

Aku memang tidak melihat wajahnya, tapi entah bagaimana aku tau bahwa ia tersenyum, “bahagia? Sekarang?”, ia kembali bertanya.

“emm”.

“sejujurnya, aku tidak tau apa yang kurasakan sekarang. Aku pernah merasakan apa itu bahagia saat kita menikah. Aku merasakan tubuhku seperti ingin meledak begitu tau kau hamil. Tapi saat ini? Maaf Taemin, tapi aku sudah benar-benar tidak bisa mendeskripsikan apa nama dari perasaan ini”.

Aku menunduk dan kuyakin wajahku memerah. Ya, Minho hyung benar. Sama sepertinya, aku juga tidak tau apa nama perasaan ini sekarang. Entahlah, mungkin aku hanya begitu bersyukur, terharu, atau entah apa namanya bahwa banyak sekali orang yang begitu mencintai malaikat dan bidadari kecil kami.

“hyung”.

“ada apa Umma?”, ia menjawab lembut. Aku tersenyum. Ah, panggilan ku berubah. Ya, saat ini, aku sudah menjadi Umma, sebuah panggilan baru yang juga disertai tanggung jawab baru pula.

“bolehkah ku minta bantuanmu?”

Aku merasakan kepala Minho bangun dari kepalaku, sedikit menunduk dan memegang wajah ku erat. Raut wajahnya cemas, “kenapa Umma? Kau sakit? Perlu kupanggilkan dokter sekarang?”.

Aku menggeleng sambil memegang tangannya yang ada di wajahku.

“tolong aku untuk bersama-sama menjadi role model orang tua terbaik yang bisa kita tunjukkan untuk mereka ……”, aku berhenti sejenak.

“ya Appa…”

Minho tersenyum lebar menatapku. Aku yakin ia juga merasakan sensasi aneh yang sama yang aku rasakan ketika Minho memanggil ku Umma. Itu sungguh perasaan yang luar biasa, kau tau!

“ehm, maaf mengganggu”, suara Key menginterupsi sensasi yang barusan kami rasakan hanya dengan panggilan Appa dan Umma tadi. Kami memang sudah memanggil begitu sejak aku hamil, namun saat ini….entahlah…rasanya sungguh berbeda.

Minho menegakkan badannya dan satu tangannya melingkar di pundak ku sambil menatap ‘Umma ku’ tersayang itu.

“yeobo sudahlah jangan ganggu……mereka”, Jonghyun memegang tangan Key sambil menelan ludah begitu mendapat tatapan sinis dari sang istri.

“aku cuma ingin bertanya, dari sekian juta nama korea untuk anak laki-laki kenapa kalian, dan terutama kau Taemin, tega memberikan izin untuk memberikan nama *si kodok* Minho pada anakmu yang tampan dan lucu itu?”, ucap Key nyaring (dan memelankan kata ‘si kodok’ tentu saja).

“kenapa kau tidak pernah berdiskusi dengan ku soal nama ini? Aku tersinggung!  Suka atau tidak suka, kalian harus mengakui aku punya peran besar dan banyak selama Taemin mengandung Minho dan Minzy. Ergh, aku tidak rela menyebut nama itu”, ia memutar bola mata.

“anak yang kau protes tentang namanya barusan menurutku sangat mirip Appa nya. Kecuali di bagian mata, itu memang mata Taemin. Tapi untuk wajah, sangat jelas ia mewarisi garis wajah tegas Appa nya. Jadi kalau kau bilang anak ku tampan dan lucu….eemmm…terima kasih. Tak kusangka kau diam-diam mengagumi ku Key, aku terharu. Tapi maaf, aku jelas lebih memilih Taemin. Lagipula kau kan sudah punya Jonghyun. Tapi untuk sekedar tanda tangan atau foto aku rasa Taemin bisa merelakan aku melakukan itu, iya Umma?”.

BLAM!!!

Ucapan Minho sukses membuat mata kucing itu melotot tak percaya atas rangkaian kalimat yang baru saja keluar dari mulut manusia tinggi di depannya. Aku hanya bisa tertawa kecil karena menahan sakit dibagian perut melihat Minho membanggakan diri nya sendiri tapi dengan wajah datar seperti biasa. Sejak kapan nampyeon ku ini jadi narsis dan cerewet begini?

“YAK! KAU….”

“kau bisa diam Ny.Kim?”, suara bass berwibawa Appa ku mulai keluar dan berhasil meredam ‘tembakan’ kata-kata Key berikutnya.

“ini rumah sakit Key, dan ada dua bayi sedang tidur disini. Jangan buat malu Umma karena kelakuanmu yang seperti itu”, bentakan kini datang dari Umma Key sendiri.

“memang Umma mau aku memberi nama apa untuk si kecil?”, aku buru-buru meredakan suasana sebelum ‘Umma’ di depan ku ini meledak lagi.

“tentu saja Kibum!”

“pfffttttt”, seketika seluruh orang di ruangan termasuk aku, bahkan Jonghyun dan orang tua Key sendiri, reflek menutup mulut untuk meredam tawa.

“YAK! WAE???”, wajahnya menyiratkan tersinggung sekaligus bingung melihat reaksi sekelilingnya.

“maaf saja, tapi kami hanya menghindari anak ini punya sifat sama sepertimu. Menghadapi satu orang sepertimu saja kami pusing, apalagi jika ada dua. Aku pasti cepat tua bahkan cepat mati kalau mengurusi satu saja keponakan dengan sifat ajaib sepertimu, Key”, Jinki berkata jujur di sela tawa nya yang di langsung mendapat respon pukulan kecil di kepala dari Appa nya yang padahal juga menahan tawa. Nyonya Kim satu ini memang ajaib. Anak orang lain tapi harus diberi sesuai namanya? Darimana datangnya aturan itu?

“YAK! HYUNG! KAU TIDAK TAU KALAU SETIAP LAKI-LAKI YANG DIBERI NAMA KIBUM ITU PASTI HEBAT DAN TENTU SAJA….FABULOUS?”

“hahahahahahahahahaha“, kali ini tidak ada satu pun yang sanggup menahan tawa karena kalimat Key barusan.

Aku mengusap ujung mata ku yang berair sambil meringis karena sakit. Hasil dari operasi itu meninggalkan bekas sakit luar biasa tapi aku benar-benar tidak sanggup menahan tawa.

“ma~maksudmu Umma?”, aku masih tertawa kecil.

“kau tidak mau anakmu hebat dan tampan sepertiku Minnie? Dan coba kau lihat Kibum yang lain, member Super Junior misalnya? Tampan tidak? Sang killer smile? Kurang tampan apa? Atau setidaknya Kimbum juga tak apa. Tapi kenapa harus……Minho? Aku tersinggung!”

“Ummaaa~”, aku mulai merajuk sambil mengulurkan tangan mengundangnya untuk ke berdiri di dekat ku. Aku tau sejak dulu Key memang tidak akan pernah bisa tahan jika aku sudah mulai merajuk.

“aaaahhh”, Key tau ia akan kalah tapi dia tidak pernah bisa menolak. Perlahan-lahan ia berjalan ke dekatku. Ia berdiri di sisi tempat tidur yang berseberangan dengan Minho.

“maaf kalau aku tidak berdiskusi dulu. Tapi aku dan Minho hyung memang tidak pernah membicarakan masalah nama sejak awal. Lagipula nama Minho memang aku yang memberikannya. Mungkin dengan pertimbangan….”, aku terdiam sejenak.

“karena saat itu, saat ini, dan selamanya, aku terlalu mencintai orang dengan nama yang sama, baik fisik dan terutama sifatnya”, jelasku sambil menoleh ke sisi suami ku berada.

Dan aku tau seluruh orang di ruangan itu tersenyum mengiyakan.

^^

“hyung, sudah bangun?”

“ah, pagi Minho. Jam berapa ini?”, Jinki mengusap mata nya sambil melirik jam yang melingkar di tangannya.

“belum tepat setengah tujuh”, Minho menjawab sambil bangun mengambil dua gelas kopi hangat yang memang baru saja ia beli di kafe rumah sakit.

“pagi sekali kau bangun. Tidak bisa tidurkah Appa baru ini?”.

Minho tersenyum sambil menyerahkan segelas kopi pada Jinki, “mungkin aku terlalu bersemangat hyung. Besok Taemin sudah boleh pulang, dan aku tidak sabar membawa Minho dan Minzy untuk melihat rumah baru mereka”.

Jinki berhenti sejenak menyeruput kopi nya. Ah, ia bahkan lupa kalau sebentar lagi adalah hari kepulangan Taemin. Dan dengan bodohnya, ia belum menyiapkan apapun untuk dua keponakan barunya. Selama Taemin di rumah sakit, ia sepenuhnya fokus pada pemulihan adik nya dan entah kenapa memang rasanya sangat berat meninggalkan si malaikat dan bidadari kecil itu. Ia jadi jarang pulang ke rumah, karena selepas dari kantor, ia pasti langsung kesini dan menginap semalaman. Ternyata sudah seminggu, dan itu artinya sudah seminggu pula umur kedua keponakannya, Ia harus cepat pergi dan menyiapkan sesuatu sebelum keluarga kecil itu sampai di rumah. Dan memang sudah ada sesuatu yang ingin disiapkan…oleh kami semua.

“hyung…hyung”, Minho menepuk ringan pundak Jinki yang terlihat melamun.

“ah, ne?”

“melamun?”, tanya Minho.

Jinki menggeleng sambil tersenyum, “hanya memikirkan bahwa waktu ternyata berjalan cepat. Tak terasa kedua keponakan ku itu sudah berumur seminggu”.

Kini giliran Minho yang tersenyum lebar. Ya, dan itu artinya pula ia sudah menjadi Appa selama seminggu. Dan yang dirasakannya? Repot! Mengurus satu anak saja ternyata sulit. Dan kini, pasangan yang tergolong masih muda ini dikarunia Tuhan untuk langsung merawat dua makhluk kecil titipanNya. Kerepotan yang dirasakannya juga dua kali lipat. Tapi mungkin karena disini ada para suster yang berjaga 24 jam sehari, ia dan Taemin masih sangat amat terbantu. Belum lagi segala bantuan dari keluarga mereka yang setiap hari datang kesini, juga berpengaruh besar untuk mengurangi kerepotan Minho dan Taemin. Terutama Minho, ia bukan hanya menjaga kedua bayi mungilnya, tapi ia harus juga harus menjaga Taemin yang masih lemah pasca operasi. Dan besok adalah waktunya mereka pulang dan menghadapi kerepotan yang sebenarnya. Sedikit khawatir, tapi sejujurnya ia pribadi sangat bersemangat untuk menjalanakan ‘profesi’ barunya. Mengurusi perusahaan multinasional dengan ribuan karyawan sudah pernah dirasakannya, dan kini, ia ditambahi Tuhan untuk mengurusi dua orang lagi, dan kali ini, dua orang yang…istimewa.

Oeekkkkk…

Suara tangisan datang dari box sebelah kiri. Dan dengan jeda bahkan mungkin kurang dari 30 detik, tangisan yang sama juga datang dari box sebelah nya.

Detik itu pula, reflek Minho dan Jinki meletakkan gelas kopi nya dan segera berjalan ke arah dua box bayi itu. Selalu begini keadaannya. Apapun yang dilakukan oleh satu orang, menangis, bangun, bahkan hingga tertidur, dalam jeda yang sangat dekat pasti bayi satunya melakukan hal yang sama. Sebuah kejadian yang baru sekaligus luar biasa yang bisa keluarga kecil itu saksikan dari si kembar. Suatu perkembangan sedikit demi sedikit yang membuat mereka lebih belajar untuk sebuah hal baru yang menakjubkan. Ya, bayi tampan dan cantik yang mengajari mereka untuk menuju sebuah step baru selanjutnya, menjadi orang tua!

^^

Hari ini Taemin diperbolehkan pulang. Sejak pagi, seluruh keluarga besar itu sibuk menyiapkan semuanya. Kesibukan terutama sangat terasa di rumah cantik mereka. Dua kamar mungil yang sudah dipersiapkan kini penuh dengan orang. Mereka memutuskan memakai dua kamar karena banyaknya barang yang ada untuk kedua tambahan keluarga baru mereka. Terlalu banyak barang yang dibeli membuat rasanya tidak mungkin menempatkan barang-barang itu hanya disatu kamar, dan lebih tidak mungkin lagi jika menempatkan semua barang-barang itu di kamar utama seperti permintaan sang Appa baru. Lantai dua rumah mewah mereka, terutama di bagian kamar utama, yakni kamar Minho dan Taemin direnovasi ulang dengan menambahkan dua pintu di sisi yang berseberangan untuk terhubung langsung dengan kamar si kecil. Kamar si tampan Minho berada di sisi kanan, sementara kamar si cantik Minzy berada di sisi kiri kamar utama. Kedua ruangan itu dibuat memang sengaja menempel dengan kamar orang tuanya sehingga tidak menyulitkan orang tua baru itu jika kedua bayinya menangis tengah malam. Ada beberapa kamar baru pula yang ditambahkan berdekatan dengan kamar Minho dan Minzy karena para orang tua memutuskan ‘pindah rumah’ sementara waktu untuk membantu mengurus si kecil. Taemin dan Umma Minho bahkan Key menolak mentah-mentah untuk memakai baby sitter dan para suami sudah tidak bisa berkata apapun begitu diberikan argumen “aku mau Minho dan Minzy hanya menjadi anak ku, anak keluarga ku, anak kita, anak Taemin dan Minho, bukan anak baby sitter!! Titik!!”, dan hanya bisa dibalas helaan nafas mengalah dari para namja di ruangan itu.

Di rumah keluarga Choi, kerepotan sangat terlihat di lantai dua, terutama 2 kamar yang kini mendapat perhatian khusus. Kamar di sisi kanan dari kamar utama yang nantinya akan di tempati Minho kecil saat ini penuh dengan Jinki, Jonghyun, Appa Minho dan Appa Taemin. Sebaliknya, kamar di sisi kiri yang akan ditempati Minzy kini sibuk mendapat sentuhan Key, Umma Minho, bahkan Umma Key dan Jonghyun juga datang untuk membantu. Dekorasi kamar itu sangat tercermin sesuai orang-orang yang mendekorasinya. Suasana biru teduh dengan segala barang-barang imut namun simpel yang juga berwarna biru mendominasi kamar Minho, sedangkan tentu saja untuk sang adik dominasi kental warna pink dan yang paling khas dari ruangan itu adalah, sebuah tempat tidur ‘tidak biasa’ yang entah bagaimana bisa Key dapatkan. Tempat tidur berbentuk persis seperti kereta labu dalam cerita cinderella, dengan sentuhan kayu untuk sisi luar dan warna pink di dalamnya langsung mencuri hati semua yeoja di ruangan itu. Ditambah wallpaper tembok kamar bergambar cinderella’s castle membuta kamar itu semakin cantik dan feminim.

Kamar Choi Minho

Kamar Choi Minzy

Selesai dengan dekorasi kamar, mereka mulai untuk menyiapkan welcoming party untuk dua penghuni baru rumah ini nantinya. Walau hanya sebuah pesta kecil, dengan rangkaian balon-balon berwarna pink, biru dan putih membentuk tulisan “Welcome To Choi Family, Our Lovely Choi Minho and Choi Minzy”, pita-pita aneka warna yang digantung di semua sudut ruang tamu dan makanan serta tentu saja kue yang dibuat khusus oleh para Umma, tapi mereka hanya ingin menyampaikan kegembiraan luar biasa dan sekaligus memperkenalkan kehangatan baru atas bergabungnya beberapa keluarga yang menjadi satu karena kedatangan para bayi mungil ini. Kehangatan yang tidak hanya ingin dibagi oleh keluarga Choi dan Lee, tetapi juga oleh keluarga Kim, baik Jonghyun maupun Key. Sebuah harapan tak tertulis yang ingin disampaikan pada Tuhan agar kelak menjadikan kedua anak ini sebagai sumber pemberi kehangatan, bukan hanya untuk keluarganya sendiri, tapi juga untuk sesama nya dan skala yang lebih besar lagi yakni alam semesta. Sedini mungkin, anak-anak kecil ini sudah diperlihatkan role model yang baik sehingga dalam memory pertama mereka, yang disimpan disana hanya berisi kata-kata kebaikan, ketulusan, kedamaian, dan kehangatan yang ditampilkan oleh orang-orang baik. Ingatan pertama yang mudah-mudahan menjadikan hal itu tidak akan terhapus selamanya dari memory mereka.

^^

“tumben hari ini tidak ada yang datang yaa Appa?”, aku bertanya sambil berkonsentrasi memberikan susu botol pada si tampan kecil dan sang suami yang juga sedang melakukan hal sama dengan menggendong Minzy. Rutinitas baru mereka setiap pagi.

Minho hanya tersenyum. Sebetulnya ia merasa di rumahnya kini pasti sedang disiapkan sesuatu sampai tidak ada yang datang di hari kepulangan Taemin. Tapi ia memutuskan diam saja. Toh ini hanya perasaannya saja, belum tentu benar.

Melihat Minho hyung hanya tersenyum tanpa menjawab, aku jadi terdiam. Aku sebetulnya berharap mereka tidak datang kesini karena menyiapkan sesuatu untuk menyambut kepulangan kami dan si kecil. Tapi….ah, mungkin semuanya sedang sibuk bekerja hari ini. Aku sudah terbiasa melihat banyak orang mengelilingi kedua byi ini, tapi hari ini ketika hanya kami berdua, aku dan Minho yang ada diruangan ini bersama anak-anak, hanya terasa…tak biasa. Mungkin seperti ini juga lah rasanya ketika kami di rumah kelak. Kehidupan baru yang harus kami jalani berdua atas tanggung jawab dua titipan Tuhan di tangan kami kini.

Drrrtttt..drrrtttt..

Ponsel Taemin bergetar dan nama Jinki hyung tertera di layar. Aku dan Minho hanya berpandangan. Ottohke? Kami berdua sedang sibuk pada si kecil dan tidak mungkin meletakkan mereka sebentar hanya untuk menjawab telepon. Hal baru lagi yang mereka pelajari hari ini. Biasanya selalu ada yang membantu karena memang mereka tidak pernah ditinggal hanya berempat seperti saat ini.

“Appaaa~~”, aku merajuk meminta Minho mengangkat teleponnya.

“aku tidak bisa meletakkan Minzy, Umma”.

Aku menunduk melihat si kecil dalam pelukan ku. Aku juga tidak mungkin meletakkan Minho. Sebentar lagi ia tertidur, dan kalau botol susunya dilepas, pasti jadi menangis. Anak kecil yang mengantuk pasti akan rewel dan tentu saja rewelnya Minho pasti menular pada Minzy. Haaahhh, efeknya pasti panjang hanya karena mengangkat telepon.

“sudah tidak usah diangkat saja”

Drrrttt…drrrtttt..

Ponsel Taemin berhenti bergetar, kali ini giliran ponsel Minho yang bergetar dengan nama yang sama, Jinki hyung.

Minho menatap ku, “kau tidak juga berubah pikiran kalau kita memang membutuhkan baby sitter, Umma?”

Aku menggeleng kuat, “tidak Appa! Minho dan Minzy harus tumbuh dan belajar di tangan ku, tangan mu, dan tangan keluarga kita! Bukan tangan baby sitter! Aku tidak mau itu! Dulu Umma mengurusku juga dengan tangannya sendiri tanpa bantuan baby sitter! Aku juga mau merasakan hal itu, Appa! Mengertilah!”, sifat keras kepala ku mulai muncul.

“aku mengerti! Tapi baby sitter hanya membantu, bukan mengurus sepenuhnya!”

“aku bisa mengurus mereka sepenuhnya. Dan nanti akan ada keluarga ku, keluarga mu, Key Umma dan Jonghyun hyung juga pasti membantu. Kita tidak perlu bantuan baby sitter lagi!”

“mereka tidak selamanya di rumah kita untuk membantu full 7 hari 24 jam mengurus Minho dan Minzy, Umma. Dan kau itu manusia, butuh istirahat. Kau juga pasti punya kegiatan lain. Aku pun harus bekerja nanti nya. Untuk pemikiran jangka panjang, kita tidak bisa memungkiri kalau kita butuh baby sitter!”

“tapi aku tidak mau anak ku mendapat asuhan dari orang lain!”

“mereka juga anakku, jadi aku punya hak disini untuk berpendapat dan menentukan yang terbaik untuk mereka! Dan menurutku yang terbaik adalah kita harus menyewa jasa baby sitter!”

“aku yang mengandung 9 bulan dan kesakitan melahirkan mereka, Appa. Aku punya hak lebih besar untuk menolak anak ku diasuh baby sitter!”

“tapi aku…”

“Choi Minho dan Choi Taemin…cukup!”, suara berwibawa Appa Minho datang dan memotong pertengkaran pelan kami.

Jinki hyung, Appa ku dan Appa Minho masuk ke ruangan sambil menatap tajam pada kami berdua.

“lupa pada apa yang kami ajarkan pertama kali pada kalian ketika menjadi orang tua, Minho, Taemin?”. Appa ku bertanya dengan nada tegas namun tetap rendah menandakan ia sedang sangat serius. Appa tidak pernah berbicara membentak, apalagi pada ku dan Jinki, anak-anaknya. Ia justru akan diam ketika sedang marah. Namun ketika ia ingin menasehati dan HARUS didengar, semakin serius apa yang akan dibicarakannya, semakin rendah nadanya bicara namun entah kenapa justru terdengar semakin tegas dan menakutkan.

“dilarang keras bertengkar sekecil apapun di depan anak-anak”, ucap kami berbarengan.

Tentu saja kami masih ingat, dan sebetulnya tidak perlu diingatkan kembali. Saat Umma ku masih hidup, aku memang tidak pernah melihat orangtua ku bertengkar. Begitu pula di dalam keluarga Minho punya prinsip yang persis sama, sehingga kami pikir, kehidupan pernikahan akan berjalan mulus tanpa hambatan apapun. Namun ternyata salah. Sebelum Minho dan Minzy lahir, hubungan ku dengan Minho hyung memang selalu berjalan baik. Namun ternyata, kehidupan menjadi orang tua memberikan sensasi yang sangat berbeda.

“baru seminggu, dan kalian sudah seperti ini. Bertengkar hanya karena hal sepele, masalah baby sitter. Lalu bagimana kedepannya? Masalah pendidikan mereka, pergaulannya, bahkan hingga pasangan hidup? Kalau hanya persoalan seperti ini sudah bertengkar, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalian menghadapi perbedaan pendapat yang lebih besar dan penting di masa depan nanti!”, kali ini Appa Minho yang meradang.

“bisa kubayangkan jika tak juga belajar, kalian akan menjadi pasangan yang selalu bertengkar hanya karena berbeda pendapat nantinya”

Justru tak terbayangkan oleh kami, bahwa ucapan pelan Jinki hyung di ruangan rumah sakit itu ternyata menjadi kenyataan di masa-masa selanjutnya.

^^

Oeeekkkkkk…

Sudah hampir dua minggu Minho dan Minzy meninggalkan rumah sakit dan menempati kamar baru. Dan sudah hampir dua minggu pula pasangan orang tua baru ini tidak bisa tidur malam dengan tenang seperti biasa. Hal ini sangat terasa luar biasa lelah terutama untuk Minho, karena sudah sejak tiga hari lalu ia masuk kantor seperti biasa. Pekerjaan yang sangat menumpuk sudah tidak memungkinkan untuk ditunda pengerjaannya lebih lama lagi. Taemin sebetulnya mengerti suaminya luar biasa lelah, tapi ia juga tak bisa bohong kalau ia juga sangat lelah. Orang-orang selalu bilang mengurus satu anak saja sudah sangat lelah. Sekarang yang harus dihadapi Taemin adalah dua anak dengan umur sama dan ikatan batin sangat kuat diantara keduanya.

Begitu mendengar ada suara tangisan, sudah menjadi gerak reflek mereka untuk segera bangun. Pintu kamar yang menghubungkan dengan kamar si kecil memang sengaja tidak ditutup agar suara tangisannya langsung terdengar. Tapi justru inilah yang membuat repot…

Dengan sedikit terhuyung bahkan Minho berjalan dengan mata masih terpejam, mereka menuju kamar Minzy.

“sssttttt, ini Umma sayang”, Taemin segera menggendong Minzy keluar dari ‘kereta labu nya’ sementara Minho membuat susu. Mereka dibiasakan untuk selalu meminumkan susu hangat pada anak-anak, karena susu yang sudah dingin takut sudah terkontaminasi kuman-kuman dari udara.

Taemin masih mengganti pampers Minzy agar lebih nyaman, lalu suara tangisan datang dari kamar seberang.

“ssshhhh”, Taemin menoleh melihat Minho mengibaskan tangannya. Ia memutar bola mata, pasti lagi-lagi tangannya terkena tumpahan air hangat…dan selalu begitu.

“Appa cepat kesana, Minho menangis”

“sabar Umma sudah mau selesai”

Tangisan Minho semakin keras dan sekarang malah membuat Minzy yang tadi sudah diam, kembali menangis.

“Apppppppaaaaaaaa cepaaaaattttt sanaaaaaaaaa”, Taemin mulai berteriak tertahan bingung mendiamkan Minzy.

Cklek…

Pintu kamar utama dibuka. Terdengar langkah kaki beberapa orang yang seperti sudah tersistem langsung terbagi dua menuju kamar Minho dan Minzy.

“sedang apa kalian berdua disini? Minho sendirian?”, Jinki dan Umma Minho masuk ke kamar Minzy.

“ergh”, Taemin segera menyerahkan Minzy di gendongannya pada Umma Minho dan berlari ke kamar seberang.

“Taemin! Kenapa Minho bisa sendirian?”, tegur Appa nya keras.

“maaf Appa, aku tadi di kamar Minzy”, ia segera menggendong si kecil yang masih menangis dari pelukan Appa Minho.

“sssstttttt, cup cup…sayang, diam yaa, ini Umma nak”, mengelus-elus punggung si kecil sementara Tn.besar Choi membuat susu.

“kau tidak boleh begitu. Kau tidak boleh terus menerus mengandalkan kami. Kalian harus berbagi peran, jangan pernah meninggalkan salah satu anak sendirian!!”

“baik Appa”, pandangan Taemin mulai berputar. Ia memejamkan mata sejenak. Selalu begini, langsung bangun dari tidur ditambah tangisan anak-anak dan omelan dari para orang tua semakin membuat kepalanya luar biasa pusing.

^^

Hari ini, sebuah masalah baru. Setiap pagi, Minho, Jinki, Appa Minho, dan Appa Taemin memang selalu ke kantor. Tapi selalu ada Umma Minho di rumah untuk membantu mengurus si kembar. Namun tidak untuk hari ini. Umma Minho harus ikut suaminya untuk datang membantu pernikahan adik sepupu Minho dan tidak enak jika tidak datang. Taemin menenangkan bahwa ia dan anak-anak akan baik-baik saja [walau dalam hati cemas juga]. Minho juga ‘dititahkan’ untuk datang ke kantor lebih siang agar membantu Taemin. Key dan Jonghyun juga tidak bisa datang membantu karena mereka ada pekerjaan lain di luar kota sejak seminggu yang lalu. Dan pagi ini, mereka sendirian!

Taemin menoleh ke arah suaminya, “Appa, kau bisa memandikan Minho atau Minzy tidak? Tidak mungkin kan aku memandikan keduanya bersamaan?”

Minho menelan ludah. Akhirnya hari ini datang juga. Selama ini untuk urusan memandikan, selalu oleh Taemin dan Umma nya. Ia menggendong sambil berdiri saja masih gemetar, apalagi untuk memandikan? Entah kenapa kedua anak itu begitu terlihat……’mudah patah’ di mata Minho, LOL.

“harus yaa Umma?”, Minho memelas.

Taemin memutar bola mata sambil mengangkat kedua tangannya.

“tangan ku hanya dua, Appa”

“dimandikan bergantian saja”, Minho masih berargumen.

“YAK! CHOI MINHO! Makanya kalau pagi jangan malah sibuk menyiapkan sarapan atau memanaskan mobil! Anak mu itu kalau dimandikan bergantian, pasti salah satunya menangis. Sudahlah ayo Appaaaaa”, Taemin menyeret Minho menuju kamar mereka.

Di kamar, “Appa, siapkan air hangat dulu, aku mau membangunkan Minho dan Minzy”.

Taemin bergegas ke kamar sang kakak, Minho. Mengangkatnya perlahan dari box bayi biru nya, memandangi wajah malaikat yang kini masih tertidur tenang dan perlahan mendekatkan wajahnya mencium bibir mungil yang sedikit terbuka itu. Masih tidak terbangun, Taemin membawa si kecil ke kamar nya dan ditidurkan di ranjang utama. Selesai dengan sang kakak, ia kini beralih ke kamar dominasi pink milik sang adik, Minzy. Melakukan hal yang sama dan membawanya untuk ditidurkan di sebelah Minho. Ia tak pernah berhenti kagum melihat hasil karya Tuhan memadukan wajah Minho dan Taemin untuk dipahat pada wajah kedua bayi mungil ini. Sebetulnya tak tega mengusik mereka dalam tidur tenangnya, tapi ia diajarkan untuk mengajarkan anak-anaknya sikap disiplin sedini mungkin. Semua kegiatan harus terjadwal. Tidak hanya mandi, tapi juga bangun tidur, makan, bermain, tidur siang, dan bahkan tidur malam, sebisa mungkin dilakukan setiap harinya dalam jadwal yang sama agar mereka terbiasa. Taemin berharap ketika dewasa nanti, mereka terbiasa untuk melakukan segala sesuatunya sesuai aturan dan menerapkan time management sebaik mungkin.

Perlahan Taemin mengelus-elus pipi sang adik. Minzy sangat sensitif. Dibandingkan Minho, ia jauh lebih mudah terbangun. Dan cara paling efektif membangunkan Minho adalah dengan membangunkan adiknya. Entahlah, tapi ini mungkin salah satu perbedaan yang hanya dirasakan oleh anak kembar. Jika satu orang merasakan sesuatu, maka kembarannya pasti juga merasakan hal yang sama, atau setidaknya hal yang membuatnya merasa aneh tapi bukan berasal dari dirinya.

Taemin terus mengelus pipi Minzy dan perlahan mata mungil itu terbuka.

Taemin tersenyum manis, “morning, dear”.

Minzy masih mengerjapkan mata, dan mungkin karena merasa tidurnya terganggu ia langsung menangis. Tentu saja seketika itu juga makhluk mungil di sebelahnya reflek langsung ikut terbangun dan menangis.

“kenapa mereka?”, Minho langsung keluar dari kamar mandi dan menggendong sang kakak.

“cup cup cup, ini Appa sayang. Umma, kenapa mereka? Tadi sedang tidur kan?”

“iya. Tapi sengaja kubangunkan. Mereka mau mandi, tidak mungkin kan mereka mandi sambil tidur?”, ucap Taemin enteng sambil menenangkan sekaligus melepas pakaian Minzy.

“Appaaaa, sudah jangan digendong terus. Baringkan disini lalu buka kan pakaiannya. Nanti airnya keburu dingin!”

Sedikit sulit untuk melepaskan pakaian sang kakak, karena jika menangis, ia jauh lebih agresif dibanding adiknya. Sempat ingin meminta bantuan sang Umma, tapi ia sudah di kamar mandi untuk memandikan Minzy.

“Minho, diam sebentar nak, Appa susah melepas pakaianmu”

“Appaaaaa, cepat kesiniiii”

Minho menoleh ke belakang, “sebentaaaar Ummaaaaa”.

Ia kembali menghadapi ‘sang jagoan’ di hadapannya, “Minhooooo, jangan bergerak teruuusssss”, sang Appa mulai habis kesabaran.

“kau tau kalau kau punya Umma yang sangat keras kepala dan galak, Minho? Sudah Appa bilang sejak dulu harusnya kita mempunyai baby sitter, tapi Umma mu selalu tegas menolak. Sekarang, ia yang kerepotan sendiri” [ini si kodok saking frustasi nya ampe curhat sama anak bayi = =”]

“Appaaaaaaaa”, Taemin lagi-lagi berteriak dari kamar mandi.

“iyaaaaa Ummaaaa sudah selesaaaiii”, Minho menggendong anak lelakinya menuju kamar mandi tetap bergumam, “dulu Umma mu tidak seperti itu. Appa tidak mengerti setelah ada kalian, Umma jadi galak dan cerewet begitu”

Ketika hanpir sampai di kamar mandi, “ini rahasia kita, oke Minho junior! Rahasia antar lelaki!”, sang Appa tersenyum sambil mencium pipi gembul sang kakak :p

^^

Hari ini sedang dilakukan ‘crisis meeting’ di rumah keluarga Choi untuk membahas konsep ulang tahun pertama Minho dan Minzy. Ya, hampir tepat setahun Minho dan Taemin menjadi orang tua dengan segala kerepotan double mereka. Para orang tua berada di rumah ini hanya sampai 6 bulan pertama. Jadi, hampir 6 bulan terakhir Minho dan Taemin mengurus si kembar sendirian tanpa baby sitter. Hanya ada asisten rumah tangga untuk mengurus masalah rumah dan makanan. Tapi untuk anak-anak ini, sepenuhnya berada pada tangan Taemin dan Minho. Akibatnya? Berat badan sang orang tua turun hingga hampir 10 KG yang berbanding terbalik dengan pertumbuhan Minho dan Minzy yang semakin gembul dan sehat saja.

Minzy kini sudah bisa berjalan meski beberapa kali masih terjatuh. Tapi ia sudah bisa berjalan sekitar 20 meter tanpa terjatuh sama sekali. Yang masih kurang adalah ia belum lancar berbicara. Mungkin salah satunya karena faktor ia lebih memilih banyak diam tapi lincah bergerak. Sangat berbeda dengan Minho. Meski ia juga bisa dibilang sudah bisa berjalan, namun hanya 3 sampai 4 langkah lalu langsung terjatuh. Tapi justru kelebihannya, ia mulai bisa berbicara yang dimengerti oleh orang lain [anak ini langsung menjadi kesayangan Key dan mulai sejak saat itulah, Key tak lagi memusingkan soal nama sang kakak]. Sejak bayi memang sudah terlihat Minho jauh lebih ekspresif dan lincah dibanding adiknya yang justru terlihat lebih ‘cool’. Entah bagaimana sifat kedua anak ini bisa tertukar. Kakaknya, Choi Minho menjadi lebih cerewet dibanding sang adik, Choi Minzy yang lebih terlihat kalem dan tenang.

Semua keluarga hadir termasuk Key dan Jonghyun. Anak kembar itu sedang asyik bermain di arena bermain indoor yang khusus disediakan oleh Minho dan Taemin di rumag keluarga [mirip tempat penjagaan anak di mall]. Minzy asyik berjalan-jalan menyentuh apa saja yang bisa disentuh nya, sementara Minho justru asyik mengoceh sendiri membuka lembar demi lembar buku cerita winnie the pooh yang di dalamnya banyak bangunan atau karakter yang dimunculkan secara 3 dimensi.

Perdebatan itu terjadi juga di ruang keluarga sambil mengawasi Minho dan Minzy bermain. Penjagaan intens saat ini terutama untuk Minzy, anak itu pernah ditemukan sedang naik perlahan di tangga rumah mereka menuju lantai dua dan langsung mendapat respon histeris Taemin begitu melihatnya.

Perdebatan seru terjadi karena ini merupakan suatu peristiwa istimewa untuk anak-anak teristimewa mereka. Dua kepribadian dan dua gender melahirkan dua ide yang sepertinya sulit untuk bisa digabungkan.

“princess saja! Minho dijadikan pangeran. Selesai! Buat apa repot? Tambahkan castle, kereta labu, kuda putih, dengan rumput hijau dan taman bunga. Kalau itu yang dijadikan tema ulang tahunnya, aku yang akan mengurus semuanya!”, Key bersikeras atas idenya.

“princess identik dengan pink. Aku pusing melihat warna pink di sekeliling ku”, disambut anggukan para ‘tetua’ dan tentu saja para nampyeon di ruangan itu.

“Bajak laut saja!”

“lalu menurutmu aku merelakan keponakan ku yang lucu itu dipakaikan pakaian aneh dengan tangan palsu dan sebelah penutup mata, yeobo? Never!”

“aku juga tidak setuju! Bajak laut identik dengan kekerasan, aku tidak mau anak ku dikenalkan dengan kekerasan di usia sekecil ini!”

“Taemin, I love you! Nah, kalian dengar apa kata Taemin? Perkataan seorang Umma adalah keputusan akhir! Jadi jelas ide bajak laut ditolak!”

“dalmantians?”, Jinki memberi usul yang disambut lemparan bantal oleh Key, “kau pikir keponakan ku anjing?”

“lalu apa?”

“PRINCESS!!!”

“nanti Key. Pertimbangkan usul yang lain”, Appa Taemin mulai berbicara.

“bagaimana kalau dibuat biasa saja. Seperti ulang tahun anak-anak kebanyakan dengan balon-balon dan pita. Tidak perlu dengan tema tertentu. Yang penting banyak teman yang hadir dan semuanya senang. Kupikir itu sudah lebih dari cukup”, para tetua mengangguk menyetujui usulan Appa Minho sementara para temuda [loh, bener kan? Para golongan tua kan disebutnya tetua, jadi golongan muda disebutnya temuda] terutama Key malah memutar bola mata pura-pura tidak mendengar = =”

“angel and demon”

“kau yang jadi iblisnya!”, usulan aneh Jonghyun disambut pukulan telak di kepala oleh Minho.

Tapi Taemin ternyata punya pikiran lain….

“bagaimana kalau…..”

^^

Set sudah dibuat. Dan semua orang, terutama Taemin dan Minho hanya bisa terdiam memandangi anak mereka saat ini.

Sebuah set luar biasa megah di sebuah ballroom hotel paling elite di Seoul menjadi tempat pilihan Key untuk merayakan ulang tahun pertama si kembar.

Temanya?

Angel in Paradise…

Ya, sebuah ‘miniatur syurga’ dihadirkan oleh ide gila Key di ballroom hotel ini. Dengan wallpaper keseluruhan berwarna biru langit. Ditambah efek cahaya dan kabut di lantai menimbulkan efek awan buatan dan membuat para tamu serasa sedang berjalan di atas awan. Tak lupa miniatur castle barbie berwarna pink dan biru lengkap dengan air mancur dan taman bunga buatan serta kuda-kuda putih ikut dihadirkan secara detail menampilkan sebuah kerajaan di atas awan.

Lalu si kembar yang berulang tahun?

Mereka memakai pakaian?

Minho, sang kakak, memakai pakaian putih lengkap dengan sayap kecil di punggungnya. Sementara sang adik, Minzy, lagi-lagi campur tangan Key yang memakaikan dress panjang berwarna baby pink yang lembut dengan mahkota bunga-bunga berwarna campuran pink dan putih di atas kepalanya menampilkan seorang bidadari kecil yang sangat cantik. Rambut Minzy yang lurus dengan ikal menggantung di ujungnya dibiarkan terurai. Pipi putih gembul dengan semburat kemerahan alami menambah keindahan seorang bidadari yang dihadirkan Tuhan pada keluarga ini.

Dan yang terakhir bisa terucap adalah…

Saengil cukahamnida uri Choi Minho…Choi Taemin…

Semoga doa baik apapun yang dipanjatkan oleh siapapun untuk mu sayang, sampai pada Tuhan dan masuk dalam ‘waiting list’ Nya untuk segera dikabulkan J

^^

“selamat pagi Nyonya Choi. Waahh, lucu nyaaaaaaa”, selalu itu lah yang Taemin dengar begitu masuk di perusahaan ini sejak pintu gerbang hingga ruangan CEO tempat Minho berkantor.

Hari ini memang pertama kali nya Taemin membawa si kembar ke tempat Appa nya bekerja. Ini sudah tahun ketiga sejak Minho dan Minzy lahir. Mereka sudah bisa berjalan dan terutama Minho, semakin cerewet saja mengomentari segala sesuatu yang baru di matanya.

Bukan tanpa alasan Taemin membawa kedua bocah yang sekarang mulai hiperaktif ini kesini. Ia ada keperluan belanja bulanan dan ada beberapa keperluan lain sepulangnya belanja dan akan sangat repot jika membawa anak kecil. Membawa anak yang sedang sangat senang berjalan kesana kemari ke supermarket adalah DISASTER! Jadi ia menitipkan Minho dan Minzy pada Appa nya. Tadinya Appa Taemin bersedia untuk menampung cucu-cucunya di rumah keluarga Lee, tapi Taemin hanya berkata “biar saja sekali-kali Appa nya yang merasakan lelahnya mengurus dua anak”.

Cklek…

“Apppppppaaaaaaaa”, kedua bocah kecil berlari imut menuju namja gagah di belakang meja yang sibuk dengan kertas-kertasnya. Mereka memakai sepatu anak kecil yang setiap kali diinjak menimbulkan bunyi berdecit [wajar yak diperhatiin, menarik perhatian banget nii anak dua!].

“Minho? Minzy? Kalian kesini? Ummaaa, kenapa tak meneleponku jika ingin kesini?”, Minho bangun dari duduknya dan segera menyambut putra-putri nya.

“aigooo, hei jagoan, hei cantiiikk”, Minho menggendong keduanya. Ia bersyukur anak-anaknya tumbuh sehat tanpa gangguan apapun.

“ada apa Umma?”

“aku titip Minho dan Minzy ya Appa”, Taemin mendekati nampyeon nya mencoba merajuk.

“titip? Kau mau kemana memangnya?”

“belanja, hehe”, Taemin tersenyum manis.

“kenapa titip padaku dan kau asyik belanja?”

“kan kau suamiku”, senyum Taemin semakin manis. Minho sangat tau istrinya ini sedang menggodanya. Taemin memang banyak berubah semenjak punya anak. Ia jadi lebih galak, cerewet, over protective terutama segala hal terkait Minho dan Minzy, dan satu lagi, pasti jadi ‘penggoda’ jika butuh sesuatu.

“aku kan sedang bekerja, Umma”

“aku sibuk Appaaa. Kulkas kosong. Aku harus belanja. Kau mau anak-anak mu kelaparan? Sehari ini saja”

Minho memutar bola mata. Umma berlebihan. Sekosong apapun kulkas mereka, Minho dan Minzy tidak mungkin tidak makan!

“baiklah”, Minho mengalah.

“jinjja? Waahh, gomawo Appaaa. Minho, Minzy, hari ini kalian dengan Appa ya. Lpve you, dear”, Taemin mencium bibir kedua anaknya.

“bubyeeee Ummaaaa”

“jangan nakal, arra?”

“neeee”, jawab keduanya kompak.

Bahkan Taemin lupa mencium ku…. Minho menggelengkan kepala.

^^

Kini ia berhadapan dengan kedua bocah kecilnya. Begitu pintu tertutup, sang adik, Minzy mulai mengelilingi ruangan sambil menatap ruangan mewah kantor Appa nya. Ia langsung duduk di kursi besar Appa nya dan mengangkat telepon. Telepon itu langsung tersambung pada Tn.Park, sekretaris pribadi nya.

“selamat pagi Tn.Choi Minho. Ada yang bisa saya bantu?”, terdengar suara dari ujung sambungan.

“ah? Nama ku Minzy, Choi Minzy. Kakaaaakkk, kau dipanggil ahjussi iniiii”.

Orang yang dipanggil langsung menghampiri sang adik di kursi besar Appanya.

“apa ahjusssiiiiii?”

“hei heiiii, tidak boleh bermain telepon”, Minho langsung merebut gagang telepon dari Minho kecil, “tidak Mr.Park, ini anak-anak ku. Maaf mengganggumu”, ia langsung menutup telepon.

“Appa, ahjussi itu ingin belbicala padaku kenapa ditutup!”

“ia asisten Appa, bukan berbicara padamu. Ayo turun anak-anak tampan dan cantik”, ia menurunkan kedua anak-anaknya dari kursi utama.

Minzy mengambil salah satu map yang berisi dokumen dari meja Minho.

“hei Minzy, itu punya Appa sayang”

“Minzy hanya ingin baca Appa”

“kau tidak mengerti sayang. Main dengan kakak mu saja ya”

Begitu Minho melihat ke belakang, sang kakak ternyata sedang memanjat kursi untuk meraih pajangan lumba-lumba mewah berwarna biru di atas rak.

“Minho!”

Sang Appa segera berlari menurunkan anaknya.

“aku mau lihat itu”

“bilang sama Appa nanti Appa ambilkan, jangan ambil sendiri”, Minho mengomel sambil mengambil pajangan itu.

“jangan…..”

BRAK…

“Minzyyyyyyyy”, ia melihat anak perempuannya berusaha mengambil map berwarna pink ditumpukan rak map di meja Minho, dan celakanya, map pink itu berada di tumpukan paling bawah, sehingga jika ditarik, seluruh map di rak itu terjatuh dan berserakan di lantai.

“kau tidak apa-apa?”, ia mengeluarkan anaknya dari tumpukan dokumen dan memindahkan ke tengah ruangan sambil memeriksa sekujur tubuhnya.

“aku cuma mau ambil itu, lalu semuanya jatuh”, ia sudah terlihat hampir menangis.

“sudah sudah, tidak apa-apa. Kau main lah dengan kakak mu yaa”, ia mendudukka Minzy di sebelah Minho yang masih asyik berceloteh dengan lumba-lumbanya.

Ia menoleh ke belakang menghadapi tumpukan dokumen yang sedetik yang lalu masih tersusun rapi. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia mengangkat telepon dan meminta bantuan Mr.Park untuk membantu menyusun dokumen itu lagi.

Sesaat keadaan mulai tenang, lalu tiba-tiba…

“Appa, ini binatang apa?”

“lumba-lumba”

“apa itu lumba-lumba”

“sejenis ikan yang hidup di air”

“kenapa ikan halus hidup di ail?”

“karena ikan hanya bisa bernafas di air. Sama seperti manusia yang hanya bisa bernafas di darat”

“aku pelnah menonton di tv kalau ada manusia bisa belnafas di ail dalam waktu lama”

“ia dibantu alat pernafasan”

“alat apa?”

“tabung oksigen”

“apa itu?”

“yang membantu manusia bisa bernafas di air”

“belalti ikan juga bisa belnafas di dalat jika dibantu alat pelnafasan?”

Minho mulai kehabisan jawaban…

Minho dan Minzy mulai bosan. Minzy hanya diam bermain bantal dan Minho semakin mengajukan pertanyaan aneh.

“Appa, kenapa aku dan Minzy bisa seumul? Kan Minzy adik ku”

“karena kalian kembar”

“apa itu kembal?”

Minho berpikir sejenak, “Umma kalian melahirkan mu dan Minzy di waktu yang sama”

“bagaimana bisa?”

“ya karena kalian kembar”, kesabarannya menipis.

“kenapa kami bisa kembal?”

“Appa tidak tau Minhoooo”, nadanya mulai sedikit meninggi.

“kenapa Appa tidak tau? Kan Appa sudah besal. Kata Umma, olang yang sudah besal lebih pintal dibanding anak-anak. Belalti halusnya Appa tau”

“tanya Umma mu saja kalau begitu”

Lalu Minho bangun dari duduknya dan menghampiri sang Appa. Ia mengulurkan tangan meminta sesuatu.

“apa?”

“katanya aku halus beltanya sama Umma”

“lalu?”

“pinjami aku ponsel untuk menelepon Umma”

Minho sampai tersedak.

“siapa yang mengajari mu hal itu?”

“hal apa?”, ia memiringkan kepalanya, imut.

“meminjam ponsel untuk menghubungi seseorang”

“semua olang sudah tau salah satu alat untuk menelepon olang adalah dengan ponsel. Aku dibelitahu Key Umma”

Ergh, sudah kuduga! Hal apa lagi yang ia cemarkan pada anakku?

^^

“Umma cepaaaaatttt, aku tidak mau telambat di hali peltamaku sekolaaaahhh!!”, Minho dengan suara nyaring [yang semakin hari semakin mirip dengan Key] memanggil Umma nya yang masih sibuk menguncir dua rambut Minzy dengan pita berwarna pink.

“Minhoooo, jangan keluar duluuuu. Appaaaaaa”, Taemin memanggil suaminya.

“iya Ummaaaaaa”

“coba periksa tas Minho apa ada yang ketinggalan? Aku masih sibuk menguncir rambut Minzy”

“sebentaaarrr”, Minho bergegas turun dari atas dengan dasi yang masih menggantung asal di lehernya.

“Minho nya mana?”

“diluar!”

“Minhooooo”

“Appaaaa buka pintu mobil nya cepaaaattt”

“hei nanti dulu jagoan. Sini, Appa mau bicara!”

Minho kecil menghampiri Appa nya dan mereka duduk di tangga teras rumah.

“apa? Aku bulu-bulu” [buru-buru maksudnya]

“Appa mau buat perjanjian dengan mu”

“peljanjian? Apa itu?”

“hal yang harus Minho laksanakan jika ingin menjadi laki-laki seperti Appa. Kau mau?”

“jinjja? Baik!”, ia menjawab tegas dan Minho tersenyum melihat tingkah jagoan kecilnya.

“aku halus belbuat apa?”

“mana jari kelingkingmu?”, Minho menunjukkan jari kelingkingnya, dan ia tautkan pada jari kelingking sang anak.

“ikuti Appa bicara, arra?”

Minho kecil mengangguk.

“Tuhan, Minho berjanji…”

“Tuhan, Minho beljanji…”

“mulai sekarang…”

“mulai sekalang…”

“akan menjaga Minzy…”

“hah?”

“Minhoooo”

“akan menjaga Minzy…”

“sampai kapanpun…”

“sampai kapanpun…”

“dari siapapun…”

“dali siapapun…”

“karena apapun…”

“kalena apapun…”

“dan Minho akan menepati janji ini”

“dan Minho akan menepati janji ini”

Kedua Minho itu melepaskan tautan kelingkingnya.

Sang Appa memegang pundak anak lelakinya, “siapa Minzy?”

“adik ku?”

“kau menyayanginya?”

Minho mengangguk.

“dan kau akan menjaganya? Sebagai seorang laki-laki sekaligus kakak?”

Minho kecil terdiam sejenak…

“sampai kapanpun…dali apapun…kalena siapapun”

“tepati janji mu nak!”, Minho tersenyum.

^^

Saat keluar dari mobil, langkah Minzy sempat terhenti.

Minho menoleh kebelakang dan menghampiri adiknya, “ada apa?”

“Minzy takut”

Wajah cantiknya terlihat sedikit muram.

Tanpa disangka, Minho memegang tangan adiknya erat, dan tersenyum manis. Mata teduh yang diwariskan Taemin mampu menghantarkan kehangatan hanya dengan melihatnya.

“jangan takut. Ada kakak disini yang menjaga Minzy… sampai kapanpun…dali apapun…kalena siapapun”

END…

Yah, that’s all…

Hanya sebuah tulisan random dari seseorang yang sedang meliarkan mimpinya.

Karena manusia tanpa impian hanyalah seonggok daging yang bernama J

 

Semuanya akan baik-baik saja kok..

Tenang saja…

Dan aku harus kuat,

Harus…

(meskipun rasa tenang itu belum sedikitpun ada..sedikit saja..)

71

[OnKey/Transgender/Sequel/4-4] We Got Married, Tried to be Honest for This Feeling…

PD nim naik ke atas rumah mereka, melihat poster yang baru tertempel disana.

“Seunghyun? Siapa yang menempelnya?”

“akuuu. Bolehkah?”

“emm. Kau fans nya? Kalian kan satu management?”, PD nim bertanya heran.

“tidak bolehkah orang satu management saling mengagumi?”, sekarang justru Key yang heran.

“bukan begitu. Hanya tidak biasa saja. Kalian kan setiap hari bertemu. Sudahlah…ini tantangan kedua kalian”, PD nim segera berikan penjelasan tentang tantangan kedua mereka.

Dan ternyata….

“WHAT?”

“MWO?“, ucap mereka berbarengan.

“ahjussssiiiii, ahjummmaaaa”, dua suara imut menyapa mereka dari bawah.

Yang benar saja? Dasar acara gila!! Masa aku disuru merawat dua anak kecil!!! Asdfghjkl, Key sibuk mengumpat.

Sementara yang ada di benak Onew benar-benar kebalikan dari istrinya. Ia sangat menyukai anak kecil. Jadi tantangan ini sepertinya akan menyenangkan.

“mereka sudah datang”

Onew dan Key sama-sama melihat ke bawah.

Dua anak berusia sekitar 4 atau 5 tahun, yang satu namja dengan kemeja biru dongker dan celana hitam membawa robot sementara yang yeoja sangat manis, rambutnya yang ikal menggantung dikuncir dua dengan kunciran winnie the pooh, memakai dress juga dengan motif winnie dan berpita warna putih dengan memegang boneka beruang madu berperut gembul itu.

“yaaaaaaaaaaa, kyeoptaaaaaa”, Onew histeris melihat nya. Dua anak itu imut sekaliiiii.

Ia segera turun, sedangkan istri virtualnya justru masih bertahan diatas sana, menelan saliva nya melihat dua ‘monster kecil’. Ottohke? Dari dulu ia sepertinya tidak ditakdirkan untuk dekat dengan anak kecil.

“baby, annyeeeeeooooong”, sapa Onew ramah sambil mencubit pipi merah tomat kedua anak itu.

Keduanya tersenyum. Bahkan si perempuan kecil itu merentangkan tangannya dan Onew langsung tanggap dengan menggendongnya ke atas.

“annyeeeooong, siapa namamu cantik?”

“Kim Minzy”

“JINJJA?”, teriakan datang dari atas. Key tidak mempercayai pendengarannya. Minzy? Kim Minzy? Benarkah? Ia segera turun dan menghampiri ketiga orang itu.

“siapa tadi nama mu?”, Key bertanya pada anak kecil di gendongan Onew.

Ia tidak menjawab, air mukanya berubah, lalu tiba-tiba “hiks hiiikkss”, ia langsung menangis dan memeluk membenamkan wajahnya di leher Onew. Sang leader SHINee itu langsung memberikan pandangan sinis pada Key, “ish, wajah mu itu menakutkan tau!”, Onew membawa anak kecil itu menjauh, sambil menenangkannya.

“ssstttt, sudah sudah, ahjumma itu memang begitu wajahnya, tidak bisa diubah”

“WHAT? AHJUMMA? APA AKU SUDAH TERLIHAT SEPERTI AHJUMMA?”

“huaaaaa”, tangis si kecil semakin keras. Onew semakin memberikan death glare nya. Ish, yeoja macam apa dia? Apa tidak punya sedikitpun sifat keibuan?

Tiba-tiba baju Key ada yang menariknya, ia melihat ke bawah, “ahjumma, kau cantik tapi kenapa galak sekali”, ‘monster kecil’ satu lagi yang memegang robot ternyata yang menarik baju Key. Dan dia bilang apa? Galak! Kurang ajar!!

“ppffttt, bahkan anak kecil pun bilang kau galak. Mereka ini lucu Key, kau masih bisa memarahi anak selucu mereka?”, omel Onew sambil menenangkan si kecil dalam gendongannya.

“lalu aku harus bagaimana? Mereka merepotkan sekali!!”, Key mulai kehabisan akal. Ia anak tunggal. Seumur hidupnya ia tidak pernah merasakan pengalaman mengasuh anak kecil. Salah siapa setiap anak kecil di dekatnya tidak bisa akrab dan malah menjauh? Jangan salahkan aku kalau aku jadi membenci anak-anak!!

“sapa yang ramah? Cobalah!!”

“ish!! Merepotkan!!”

Ia mulai pada ‘monster kecil’ yang masih asyik bermain dengan robotnya.

“baby…annyeeooong”, sapanya [memaksa] ramah.

Namja tampan kecil itu tidak memperdulikan, ia masih bermain dengan robotnya.

Kurang ajar!! Diajari apa ia oleh orang tuanya!!

“heh”, Key kembali memanggil [membentak sebetulnya].

Si anak tampan itu akhirnya mendongak, menatapnya…malas.

“baby annyeeooong, hehe”, Key memaksa tersenyum.

Si kecil terdiam beberapa detik sebelum akhirnya ia memberikan jawaban yang cukup membuat Key tersentak dan naik darah,

“ahjumma, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kenapa kau bersikap sok ramah padaku?”

“hahahahahaha”, Onew tidak tahan untuk menahan tawanya. Anak ini menjawab jujur…tapi jawabannya….pppffftttt.

“YAK!!”

Anak kurang ajar!!

“hei, tampan, siapa nama mu?”, Onew berjongkok menyamakan tinggi si anak imut ini sambil menurunkan Minzy dari gendongannya. Ia sudah agak tenang dan kembali bermain dengan boneka winnie nya.

“aku? Taemin”, ia kembali bermain dengan robotnya.

“mwo? Jinjja?”, kali ini Onew yang terkaget. Taemin?

“tentu saja”, sahutnya tanpa melepaskan pandangan dari robotnya.

“nama lengkapmu?”

“Choi Taemin. Ahjussi, kenapa kau begitu ingin tau namaku? Memang kita pernah kenal sebelumnya?”, ia kembali menatap dingin.

Key ikut berjongkok di sebelah Onew dan reflek mendekatkan bibir nya ke telinga suami virtualnya ini, berbisik, “anak sekecil ini kenapa bisa mempunyai sikap kurang ajar begitu? Dia aneh!”

Onew menoleh. Masih tidak sadar bahwa yang barusan dilakukan Key dan posisi mereka sekarang adalah posis terdekat mereka selama ini.

“ssttt, anak kecil itu bermacam-macam. Sudah lah, ladeni saja”, Onew ikut berbisik, sementara para kru dan PD nim WGM hanya tersenyum lebar menatap pasangan ini. Apa mereka tidak sadar posisi mereka saat ini?  Dua sejoli itu masih asyik dengan anak kecil di depannya.

Onew berdiri dan matanya menangkap sosok PD nim yang tersenyum menatap mereka, masih tidak sadar kenapa semua orang tersenyum, ia bertanya, ”hyung, benarkah nama mereka Taemin da Minzy?”

“tentu saja! Kau pikir mereka bohong? Anak kecil tidak bisa berbohong, Jinki”

“maksudku…kenapa bisa kebetulan dengan nama magnae kami?”, Key ikut berdiri menayakan hal yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Kalau ini suatu kebetulan, aneh sekali!!

“mana mungkin kebetulan. Kami memang sengaja mencari anak kecil yang bernama Taemin dan Minzy. Anggap saja anak kecil itu benar-benar magnae kalian dan kami ingin tau bagaimana kalian memperlakukan magnae masing-masing”

Onew dan Key berpandangan. Lagi-lagi tanpa disadari.

“memperlakukan magnae?”.

Memory Key dan Onew bersamaan memutar perlakuan mereka pada sosok mungil di group masing-masing.

Taemin selama ini diperlakukan istimewa oleh semua hyung nya, tidak ada yang aneh. Sementara Key? Semua Unnie di 2ne1 memperlakukan Minzy dengan baik, KECUALI KEY!! Yaaa, ia memang tidak pernajh mempelakukan siapapun dengan baik kan? Tidak terkecuali Minzy, sang magnae? Jadi harusnya, tidak ada yang aneh dong?

“ahjussii, Minzy lapal”, sosok imut berkuncir dua mendekati mereka, atau bsia dibilang, lebih mendekati Onew lebih tepatnya. Setengah wajahnya disenmbunyikan di balik boneka winnie nya.

“aigoo, lapar sayang. Kajja, kita ke restoran ayaaaamm”, ketika hendak berjalan, kerah kemeja Onew ditarik oleh Key dari belakang.

“yak! Sakit!”

Bletak…

“bodoh!! Kau mau membuat seluruh generasi penerus Korea menjadi monster ayam sepertimu? Pakai otak mu, masa anak kecil kau beri makan ayam? Aigo, aku tau kau bodoh tapi bisakan tidak keterlaluan?!”, Key memarahi sambil berbisik. Biar bagaimanapun, bertengkar di hadapan anak kecil bukan suatu contoh yang baik [tuh tau Key].

“lalu aku harus memberi makan apa?”, ia ikut berbisik.

Sementara dua anak kecil di depan mereka hanya melihat aneh dua orang dewasa di depannya yang sibuk berbisik satu sama lain.

“tanya mereka mau makan apa!! Bodoh!!”

“aish. Kau membantu sekali”, ucap Onew menyindir.

“Minzy, Taemin, mau makan apa?”

“memangnya aku minta makan? Yang minta makan kan hanya Minzy”, lagi-lagi ucapan sinis keluar dari namja kecil ini.

“yak! Kalau tidak mau makan tidak usah sinis begitu!”, Key mulai kehilangan kesabaran menghadapi anak kecil satu ini. Setauku Taemin, magnae SHINee begitu imut, kenapa anak kecil ini berbeda sekali?

“kau juga sedali tadi sinis, ahjumma”, ia kembali bermain dengan robot di tangannya.

“KAU..”

“Key sudahlah”, Onew menghentikan pertengkaran yang tidak perlu ini.

“Minzy, mau makan apa?”

“emmm. Bubul”, ucapnya imut.

“kau ini sudah besal kenapa masih mau makan bubul?”, Taemin kecil memarahinya.

“memangnya kenapa?”

“hei hei sudah”, kenapa kecil-kecil sudah bisa bertengkar.

“heh ayam, kenapa kau menghentikannya? Aku mau melihat kalau anak kecil bertengkar seperti apa?”

“ish. Bicara apa kau ini?”, Onew menatapnya dengan pandangan aneh.

“lalu kau mau makan apa, Taemin?”, Onew bertanya lembut.

“pizza”, ucapnya yakin.

“hah? Pizza? Memangnya kau tau pizza itu apa? Heh, anak kecil sok tau, belum ada 10 detik yang lalu kau bilang tidak ingin makan, lalu sekarang bilang dengan yakinnya mau makan pizza? Plin plan sekali kau!”, Key mengomel.

“sudah Key”

“biarkan saja! Anak sok dewasa ini harus diajari untuk konsisten terhadap ucapannya sendiri!!”

“ahjumma, tadi ya tadi, sekalang ya sekalang. Sudah sebesal itu kau masih belum bisa membedakan waktu?”

Key serasa ditampar oleh makhluk mungil di depannya. Anak ini benar-benar mau membunuhku pelan-pelan yaa?

“Taemin, jangan begitu sayang”, Onew mengelus kepala nya pelan. Anak ini hanya harus diajari dengan cara yang mereka mengerti, bukan cara yang orang dewasa mengerti. Tidak ada kata ‘salah’ dalam kamus mereka, karena saat ini mereka hanya sedang belajar…belajar untuk mengenal dan mempelajari segala sesuatu. Disaat seperti ini, orang dewasa dituntut untuk menurunkan egonya hingga ke titik terendah.

“mulai sekarang, kalau permintaan mu ingin dituruti, kau juga harus sopan terhadap orang yang lebih dewasa, karena untuk anak se umur mu, kau masih belum bisa memenuhi apa yang kau mau tanpa orang dewasa. Arra?”

“ahjumma ini menyebalkan, ahjussi”

“kau seratus kali lebih menyebalkan dari ku!”

“Keeeyyy”, Onew mengingatkan. Pandangannya seolah berkata ‘enough!’.

Ia terdiam.

“kalau kau bersikap manis, aku yakin kakak cantik ini juga akan manis padamu”, Onew berkata sambil tersenyum. Ia ingin mengajarkan pelajaran selanjutnya, perlakuan apa yang ingin kau terima dari orang lain, maka kau harus melakukan hal yang sama pada orang lain juga.

“maukah meminta maaf padanya. Seorang laki-laki, kalau kau menganggap dirimu dewasa, maka harus bersikap selayaknya orang dewasa. Laki-laki dewasa harus bersikap sopan pada wanita dan meminta maaf jika salah. Sekarang, ayo minta maaf”, Onew masih berkata lembut.

Beberapa detik, ia masih bergeming. Onew menganggukkan kepala untuk memberikan keyakinan padanya.

“ahjumma…”, ia berhenti sejenak.

“Taemin minta maaf”, ia melanjutkan lirih sambil menunduk tapi cukup terdengar Onew dan Key.

“sudah, ahjussi”

“good boy!!”, Onew mengacak rambutnya gemas.

Ia menggendong Minzy.

“kajja. Disini ada restoran pizza. Kita beli pizza lalu makan di tempat bubur. Kebetulan aku kenal dengan pemiliknya, jadi tidak masalah kalau kita membawa makanan lain ke kedainya”

Taemin menatap Onew yang menggendong Minzy.

“aku juga mau digendong, ahjussi”.

Minzy mengeratkan pegangannya pada leher Onew, seolah tidak mau melepaskan.

Onew memandang Key…

“aku? aniyaa”, ia mentah-mentah menolak. Urgh, menggendong anak kecil. Yang kurang ajar seperti ini pula!! Tidak sudi!!

“Keeyyy, tolonglah. Aku tidak mungkin menggendong dua anak bersamaan. Tangan ku hanya dua”, Onew memohon.

Key menoleh ke anak kecil sok dewasa itu.

“kau kan bisa jalan sendiri, kenapa harus minta gendong sih? Manja!”

“tuh kan, ahjussi. Ahjumma ini yang telus mencali masalah dengan ku”

Onew memandang yeoja disampingnya. Pandangannya lelah. Sungguh, ia memang sudah lelah hari ini.

“arrassoooo”, ia kemudian menggendong Taemin.

Mereka berempat berjalan menuju restoran pizza yang tidak jauh dari taman.

Di perjalanan, Onew dan Minzy berjalan di depan sedangkan Key dan Taemin berjalan di belakang.

“Taemin”, Key memanggilnya pelan.

“emm”, ia hanya menyahut sekedarnya.

“kenapa kau bersikap tidak selayaknya anak kecil? Tidak manis, tidak sopan. Setauku sifat anak kecil tidak seperti itu. Memangnya kau diajari begitu oleh orang tuamu?”, Key mengeluarkan uneg-unegnya sejak tadi.

Ia masih terdiam dan bermain dengan robotnya.

“Taemin, jawab aku atau kuturunkan di jalan”, Key mengancam.

“aku tidak pelnah diajali olang tua ku”

Hah?

“maksudmu?”

“olang tua ku sibuk bekelja. Aku sendilian di lumah belsama pala lobot”, ia dengan entengnya menjawab.

“para robot?”, kalimat yang aneh jika mengacu pada benda.

“aku menyebutnya begitu. Meleka olang-olang yang menggantikan olang tua ku untuk mengulusku di lumah. Sikapnya sepelti lobot, hanya menuluti pelintahku tanpa bisa diajak belcanda. Sepelti lobot yang kubawa ini, tidak bicala. Hanya menuluti apa yang aku pelintahkan”

DEG…

Key seperti melihat dirinya dalam sosok yang lebih kecil. Persis dirinya. Karena itu mereka tidak bisa cocok. Karena sifat keras kepala mereka sama!! Karena didikan yang diterima sama!! Didikan pelayan!! Ya, didikan para robot bernyawa yang disewa orang tua mereka untuk menggantikan tugasnya. Padahal mereka bukan boneka. Hanya disayang…lalu selesai. Dipenuhi segala kebutuhannya, lalu dibiarkan sendiri. Bahkan hingga detik ini, ia masih tidak bisa mendeskripsikan apa arti frase kasih sayang itu?

Ya, detik ini, ia sangat mengerti keadaan Taemin. Ia seperti berkaca, mungkinkah dulu ia juga bersikap seperti ini? Menyebalkan, meremehkan setiap orang. Sifat seperti ini, ternyata sungguh…tidak baik di mata orang lain. Apakah ketika besar, Taemin akan menjadi seperti dirinya. Suatu doa yang reflek terucap bahwa ketika Taemin besar, ia akan menjadi seorang Lee Taemin, magnae SHINee. Anak imut dan menyenangkan, bukan seperti seorang Kim Kibum, dingin dan tertutup.

Ia memeluk namja kecil ini, tanpa terasa air matanya mengalir.

Empat jam kemudian…

“Taemin sudah tidur, dan pelayannya baru saja menjemputnya”, Key duduk di sebelah Onew yang sedang duduk di balkon, memandang ke depan sambil menggantungkan kaki ke bawah. Langit sudah menjelang malam.

“jinjja? Lalu Minzy?”, Onew menoleh memandang yeoja cantik yang duduk di sebelahnya dan sekarang ikut memandang langit sore menjelang malam di depan mereka.

Key menoleh. Kini, kedua leader itu saling menatap, pandangan Key teduh, entah apa yang menyebabkannya sangat berubah hari ini. Semenjak mereka makan, Key menjadi berubah. Ia lebih ramah, bahkan Minzy sudah tidak takut dengan Key. Kamera masih merekam mereka intens. Suatu perkembangan yang mengejutkan, sungguh!!

“dia kan sudah dijemput orang tuanya dari tadi, dasar bodoh”, ia tersenyum dan kembali menatap ke depan. Senyum itu juga…..berbeda. Bukan senyum sinis seperti yang biasa Key tunjukkan pada Onew.

Onew masih menatap Key. Wajah oval dengan pipi tirus mulus dan mata kucing yang indah, semakin cantik ketika ia menggunakan segala anugerah Tuhan itu untuk tersenyum dan memandang hangat orang lain.

Key sebetulnya tau Onew masih menatapnya, tapi entahlah. Hatinya sedang baik hari ini, dan lama kelamaan, tanpa bisa dipungkiri ada suatu perasaan nyaman yang ditawarkan pelan-pelan oleh namja di sampingnya, bahkan tanpa Key sadari.

Dan kini…

Onew mengambil gitar yang ada di pojok rumah mungil mereka. Gitar yang memang ia sengaja bawa untuk mengusir rasa bosan kalau Key mulai bersikap dingin seperti biasa.

Sebuah alunan akustik manis, mengiringi sebuah lagu yang belum pernah Key dengar. Ada di girl group beraliran hip-hop membuatnya lebih sering mendengar dan mengenal lagu bertempo cepat dibanding lagu beraliran sweet pop seperti saat ini.

Mereka berdua sama-sama memandang ke depan. Sungguh apa yang meeka lakukan saat ini tidak ada di script, mereka tau itu. Tapi entah kenapa, hati mereka sedang mencoba jujur saat ini, mengalirkan perasaan yang selama ini

You’re my girl, my love, my girl

You’re my girl, my love, my girl

 

You are the only one I want, you’re the only one I love

Then keep promise you this from the bottom of my heart

On the good days and bad days and the times you need someone to lean on

I’ll always be there for you

 

You’re my girl

 

When I open my eyes to your voice in the morning

I can’t help but keep smiling all day

When we’re together I want to hold you forever and never let go of you baby

Don’t want to go chasing after this love

This can dissappear anytime

When I am in doubt I will remember your smile forever

I will love you, girl

 

You are the only one I want, you’re the only one I love

Then keep promise you this from the bottom of my heart.

On the good days and bad days and the times you need someone to lean on

I’ll always be there for you

 

You’re my girl

You’re my girl

 

If there is anything I could say to show my love

I would say them to you right away

Even if I’ve been around this world

There’d be nothing to show how much I really adore you, girl

I’m afraid this can turn into memories but

I’ll try not to think of it

Cause a lifetime is not enough to be loving you

Forever, I will love you

 

You are the only one I want, you’re the only one I love

Then keep promise you this from the bottom of my heart

On the good days and bad days and the times you need someone to lean on

I’ll always be there for you

 

You’re my girl

 

Oh, Dear God…

 

Don’t let this relationship fade away

Without her, I couldn’t even go on

Because I love her so

Because I cherish her

I’ll never let go of this love

 

You are the only one I want, you’re the only one I love

Then keep promise you this from the bottom of my heart

 

You are the only one I want, you’re the only one I love

Then keep promise you this from the bottom of my heart

 

You are the only one I want, you’re the only one I love

Then keep promise you this from the bottom of my heart

On the good days and bad days and the times you need someone to lean on

I’ll always be there for you

 

You’re my girl, my love, my girl

You’re my girl, my love, my girl

You’re my girl, my love, my girl

You’re my girl, my love, my girl

 

You’re my girl, oh my love…

[Kevin (Xing), My Girl (English Version)]

*sumpah ini lagu enak banget, kalian harus dengerin…*

Key menatap namja tampan di sampingnya, sementara yang ditatap hanya terus menatap ke depan. Lagu ini…..apakah untuknya?

Ia menunduk…

“gomawo………..oppa”, untuk kata yang terakhir ia berkata sangat lirih.

HAH?

Onew menoleh cepat. Ap-apa tadi katanya? Oppa?

“kau memanggilku apa?”

Key mengangkat kepalanya, “aniya, aku hanya bilang gomawo. Memang nya tidak boleh?”, nadanya kembali sinis seperti biasa, Key yang biasanya.

“bukannya tadi memanggilku…”, ucapan nya terhenti begitu melihat mata kucing Key yang menyipit sinis, mengancam.

“memanggilku…ayam”, ia menunduk. Aku pasto salah dengar!!

“kan memang kau ini ayam jejadian. Sudah aku mau pulang”, Key berdiri dari duduk nya dan berjalan menjauh.

Namun baru beberapa langkah…

“Key”

Ia membalikkan badan.

“apa?”, sahutnya malas.

Onew ikut berdiri dan berjalan mendekati pasangan virtual nya ini

“kau berterima kasih untuk apa?”

Mereka saling memandang…lekat.

“semuanya…sampai sejauh ini”, ucapnya pelan.

“memangnya kau merasa aku melakukan apa sejauh ini?”, pertanyaan itu memancing, dan Key ingin menunjukkan bahwa ia bukan orang yang mudah terpancing.

“kalau kau tidak merasa melakukan apapun sejauh ini, itu jauh lebih bagus“, ia kembali berjalan, namun…tangannya ditahan oleh tangan kekar itu.

“pembicaraan ini belum selesai. Jawabanmu tidak menjawab pertanyaan”

“karena pertanyaan mu memang tidak seharusnya ditanyakan”, ia melepaskan tangannya, memberi bungkukan salam pada semua kru kemudian turun, menuju mobil yang sudah bersiap dibawah membawanya pulang ke dorm.

Leader SHINee itu masih tidak bergerak di tempatnya, menatap mobil van hitam metalik yang membawa istri virtual nya, berjalan semakin menjauh dan akhirnya benar-benar tak nampak.

“karena memang bukan pertanyaan itu yang sebenar nya ingin kutanyakan padamu, Key”, ucap hatinya. Ya, hanya ia dan Tuhan yang tau perasaan apa yang ingin Onew jujur sampaikan pada orang yang bisa dibilang baru mengenalnya.

“Jinki”, bahunya ditepuk oleh PD nim.

“nee hyung”, cengiran gigi kelinci khas nya kembali.

“gomawo untuk hari ini yaa. Waahh, kau hebat sekali!! Improvisasi mu dengan lagu tadi sungguh luar biasa! Aku puas!! Gomawo yaa”

“ah? Aniya hyuung. Aku hanya sedang senang dengan lagu itu, jadi reflek menyanyikannya, hehe“, ia masih tersenyum lucu, matanya hanya segaris ketika ia tersenyum, karena itu siapapun yang melihatnya tersenyum, pasti mau tidak mau ikut tersenyum melihat ekspresi wajahnya.

“benarkah? Hanya karena alasan itu? Bukan karena leader tampan kita satu ini mulai menyukai leader cantik 2ne1?”, PD nim mulai menggodanya. Sebetulnya tanpa ditanyakan, sebetulnya ia sudah yakin bahwa Onew memang menyukai Key. Jelas terlihat dari segala gerak-gerik bahkan tatapannya. Bekerja di industri hiburan berpuluh-puluh tahun, apalagi sekarang dipercaya menangani acara semacam ini, membuatnya sudah hafal membedakan mana orang-orang yang melakukan segala hal, mulai dari tingkah laku dan tatapan mata yang jujur dari hati atau hanya sekedar acting seprofesional apapun itu, karena sesuatu yang jujur datang dari hati tidak dapat ditutupi dan ditandingin dengan acting sebagus apapun, dan apa yang ditunjukkan Onew selama ini jelas terlihat memang datang dari hati leader baik ini,

“menyukai? Ah, aniyaa. Namja ideal Key adalah TOP hyung dan aku jelas sama sekali berbeda dari nya. Jadi tidak mungkin”, ia tersenyum…miris sambil memandang poster di samping mereka.

“tck. Namja ideal itu kan hanya sekedar kriteria idaman, tidak berarti apa-apa, jangan khawatir. Seperti aku, yeoja ideal ku itu Lee Dae Hee. Siapa namja yang tidak menyukai aktris super cantik itu? Tapi bukan berarti aku hanya mengharapkannya saja dan tidak menerima orang lain kan? Buktinya, istriku sekarang sama sekali berbeda dengan Lee Dae Hee namun dimataku ia adalah yeoja yang paling cantik dan istimewa. Semuanya, Tuhan yang mentakdirkan dan ini yang menentukan, Jinki”, PD nim menunjuk hati nya.

Onew hanya terdiam. Ia dengarkan perkataan itu baik-baik. Sebuah pelajaran hidup yang bisa mengubah pandangannya, mengubah segalanya.

“Bukan berarti dengan mempublikasikan pada media tentang namja ideal nya, ia hanya menyukai TOP dan tidak membuka hatinya untuk yang lain. Kau ini sama sekali tidak peka yaa? Kau itu masih harus banyak belajar. Aku saja bisa melihat Key mulai pelan-pelan membuka hatinya untuk lebih mengenal mu, dan itu adalah sebuah kesempatan emas yang harus kau manfaatkan baik-baik. Key bukan yeoja biasa, ia istimewa! Kau harus sadari itu! Karena itu perlakuan mu padanya pun harus istimewa! Ia unik, introvert, terkesan dingin dan tak tersentuh, tapi itu hanya untuk menutupi segala kelemahan dan kelelahannya. Terkadang orang yang seperti itu seringkali justru malah jauh lebih lemah dibanding orang yang dari luar sudah terlihat rapuh”

Onew mengangguk. Ya, ia mengerti kalau segala sifat dingin Key hanya sebiah topeng yang ia pasang sebagai tuganya menjadi leader.

“aku pulang dulu hyung. Kamsahamnida untuk hari ini, semuanya kamsahamnidaa”, Onew membungkuk pada semua kru.

Waktunya pulang dan membenahi semuanya, hati dan pikiranku.

Di dalam van 2ne1…

“oppa, kau punya nomor manager SHINee?”, Key bertanya pada manager nya.

“ada. Wae Key?”

“bisakah tolong hubungi dia? Aku ingin bicara…”

“dengan Onew?”, ia memotong pembicaraan.

“nee”, untung lampu mobil tidak terlalu terang dan manager nya duduk di kursi depan sehingga semburat merah yang entah dari mana datang tidak terlihat.

Manager mereka merasa ada yang aneh.

Ia menoleh ke belakang, menatap Key

“tadi kau meminta…tolong?”, ia bertanya tidak yakin.

“nee. Waeyo?”

“a-ah? anii”, salah makan apa dia?

“telfonnya diangkat”, ia menyerahkan ponselnya pada Key.

“yoboseyo Oppa, ini Key. Bisa berbicara dengan Onew?”

“Onew? Ah bisa tentu saja. Jakkamannyo”

“yoboseyo”

“ayam, kau sibuk tidak? Bisa bicara sebentar?”

Onew melihat jam tangannya, sudah malam, dan besok ia harus kebandaa pagi-pagi sekali. Tapi ajakan ini terlalu menggiurkan untuk ditolak.

“oke. Dimana?”

“taman samping dorm kami. Kau tau?”

“nee. Aku segera kesana”

PIP…

Telfon diputus.

Di taman…

Mereka duduk di dua ayunan yang bersebelahan.

“ada apa?”

“aku…aku hanya penasaran tentang lagu tadi”

Onew tersenyum. Ah, tentang lagu…

“kenapa?”, Onew memancing the truth question.

“ah? Emmm…lagu itu…kenapa menyanyikan lagu itu?”

“lho? Kau mengundangku bicara malam-malam hanya untuk menanyakan alasan ku menyanyikan sebuah lagu?”, Onew masih tersenyum.

“aniii, hanya…”, Key masih memikirkan kalimat yang tepat untuk mengatakannya.

“kau ingin menanyakan apa lagu itu kunyanyikan untukmu?”

Hah? Apa namja ini punya kekuatan membaca pikiran?

“kau ingin jawaban jujur atau jawaban yang menyenangkanmu?”, Onew melanjutkan pertanyaannya.

“ini sudah malam, jangan membuang waktu!”, Key berusaha menyembunyikan perasaannya.

“ya, itu untukmu. Be my girl”, Onew menatap ke depan.

Hhhhh, Key menarik nafas panjang, terdiam.

Onew menoleh.

“ada sesuatu yang ingin diceritakan padaku?”

Key balas menatapnya. Mata teduh itu. Sifat polos itu. Onew hadir dengan segala kesederhanaannya, masuk perlahan ke hatinya melalui pintu yang tidak pernah dilewati siapapun. Menawarkan rasa yang tidak pernah diberikan oleh siapapun, yang bahkan Key tidak tau apa namanya.

“aku pernah jatuh cinta, dulu”

Key mulai bercerita.

“kami menjalin hubungan selama tiga tahun, tapi sekarang, orang itu telah memilih yang lain”

Onew masih mendengarkan intens.

“ia sekarang bersama sahabatku”

“pacarmu direbut oleh sahabatmu?”

“aniyaa. Aku yang menyerahkannya”

Menyerahkan? Kening Onew berkerut heran.

“menyerahkannya pada orang yang jauh lebih baik dan lembut. Aku terlalu mencintainya. Selama tiga tahun kami bersama, ia terlihat bahagia dan hubungan kami baik-baik saja, tapi entah kenapa kebahagiaannya tidak membuatku bahagia. Atau mungkin karena kebahagiaan itu bukan berasal dari hatinya?” Key tersenyum miris.

“karena itu kau menyerahkan namja itu pada sahabatmu?”

Key tersenyum, “emm, sahabat ku jauh lebih bisa membahagiakannya, sampai detik ini, bahkan di depan mataku. Tapi yang aku tidak sadari adalah itu ternyata menghancurkan hatiku pelan-pelan, dan saat ini…”

Key menoleh, menatap Jinki.

“hati ku sudah benar-benar hancur. Hancur karena luka yang ada tidak sanggup kuobati sendiri karena lukanya terlalu dalam dan obatnya tidak sampai di lukanya. Semakin lama, luka itu mengikis hati pelan-pelan dan entah sejak kapan, akhirnya hancur tanpa bisa dibangun lagi. Luka itu akhirnya mengunci diri, tidak sanggup menerima obat dari siapapun karena terlalu takut orang asing itu malah semakin menghancurkannya”

“tidakkah kau mencari kuncinya?”

Ia tersenyum, “kuncinya ada di namja itu. Orang yang memperkenalkan pelangi dan badai dalam waktu bersamaan”

“pelangi dan badai?”

“keindahan dan kesedihan dalam waktu bersamaan, sekarang kunci itu hilang, atau hancur bersama hatinya, entahlah”

Key kembali menatap ke depan

“karena itu, siapapun yang memaksa untuk masuk, dia akan selalu menempati posisi kedua. Tempat di posisi pertama sudah terlalu hancur dan tidak bisa ditempati siapapun karena terkunci. Walau orang itu akan sama-sama memperkenalkan pelangi, pelangi itu tidak akan pernah sama karena dilihat dari sudut yang berbeda”

Key bangun dan memegang pipi namja tampan ini, “dan kau terlalu baik untuk hanya mendapat posisi kedua. Jadi…maaf”

END…

End aja yah? Gue capppee. Sorry, numpang curcol dikit, hehe.

Tha_tha babaiiii…

123

[2min/YAOI/MPREG/Part 6 END] OUR PRECIOUS ONE… (A of B)

[2min/YAOI/MPREG/Part 6 END] OUR PRECIOUS ONE…

 

Foreword :

Annyeong, maaf lama banget update nya yaaahhh. Entahlah, gue agak takut nerusin ff ini. Pertama karena ini sequel nya You’re my Precious nya Sani, dan siapa yang ga tau ff itu? Kedua, yaaah gue lagi mengalami krisis kepercayaan diri nulis ff smuutt sumpah.

DAN SESUAI JUDUL, IT’S THE END…

Lagi-lagi ga tau ceritanya kaya apa karena gue nulisnya ga pake mikir. Hehe. Gue bikin sebenernya lebih ke gara-gara buanyak banget yang nagih ff ini, ampun deh.

Maaf banget kalo hasilnya ga sesuai yang kalian harapin… hauuuhh, sumpah deh entah kenapa gue udah ga bisa nulis smuutt lagi kayanya.

Disini kayanya bakalan terjadi perubahan karakter dari Taeminnya yaa.

Special thanks to Aristyasanniie Putri yang udah bolehin gue nerusin YMP. Ga tau yaa ini bakal kaya apaa, aigooo.. moga suka deeh..

Hope you likey..

Cue..

By : TaeminhoShouldBeReal..

“kenapa kau bersikap seakan mengacuhkan ku? Kau masih marah karena yeoja itu? Mau kuantar ke rumahnya agar kalau perlu ia berlutut meminta maaf padamu?”, suara Minho mulai meninggi. Ia tidak suka Taemin yang mengacuhkannya.

Ssshhhh, tangan Taemin tiba-tiba memegang perutnya, sakit!

Tapi Minho seolah tidak melihat itu…

Andai Minho hyung tau. Aku malu bersanding dengan mu hyung!! Ingin kuteriak kan kata-kata itu padanya.

Aegya nya semakin bereaksi.

Minho masih terus menatap istrinya, lekat, seakan ingin mencari penjelasan kenapa ia bersikap aneh hari ini padanya. Bukan seperti Taemin yang biasa.

“kau tau kalau aku mencintaimu dan hanya kamu kan Taemin?”

AKU TAU HYUNG!! Ya sebuah jawaban yang tak terucap karena pikiran namja cantik itu saat ini terkonsentrasi pada aegya nya yang entah sedang apa dan kenapa di dalam sana.

“sudah sejauh ini, kumohon jangan buat aku  untuk memulai dari pertama untuk meyakinkan mu Taemin, ku mohon!!”, Minho memeluk tubuh mungil itu erat.

Namun tiba-tiba…

“Taemiiinnn”

Tubuh di pelukannya merosot ke bawah, pingsan!! Dan perlahan, sebuah aliran merah mengalir di kaki mulusnya. Ia sedang menggunakan celana panjang berwarna putih, sehingga warna itu sangat kontras terlihat di sana. Minho tercekat!! Tuhan…

Membopong Taemin dengan bridal style. Cairan merah itu menetes di sepanjang lantai putih marmer rumah mewah mereka. Wajahnya pucat!! Tapi suaminya, wajah seorang ice prince Choi Minho bahkan lebih pucat dari istrinya. Ia benar-benar tidak tau apa yang terjadi saat ini!! Tuhaaaannn, demi nama Mu aku benar-benar meminta satu hal, selamatkan Taemin dan aegya kami!! Hanya itu!! Ia sadar selama ini ia bukan orang yang dekat dengan Tuhannya, tapi sungguh doa kali ini adalah doa paling sepenuh hati yang pernah ia pinta!! Rumah itu kosong, karena jika malam, asisten rumah tangga yang Minho pekerjakan untuk membantu Taemin sudah pulang. Ketika malam, Minho lah yang menggantikan pekerjaannya. Suatu bentuk rasa cinta yang Minho lakukan hanya demi Taemin.

Mendudukkan Taemin di kursi penumpang dan sedikit merebahkannya ke belakang. Tangannya mendingin. Entah tangan siapa karena tangan mereka bersatu. Minho menjalan mobil dengan kecepatan tidak normal, hanya dengan satu tangan sementara tangan lainnya terus menggenggam tangan mungil itu. Sebentar lagi sayang!! Lalu lintas kota Seoul di malam hari cukup lengang. Pikirannya serasa hancur!! Ia tidak tau harus memikirkan apa saat ini. Tidak tau harus berbuat apa. Bahkan ia tidak tau apa yang terjadi dan kenapa ini bisa terjadi. Keringat dingin mulai hadir di dahi namja tampan itu. Dirinya seakan mau meledak dari dalam karena kencangnya jantung bekerja memompa darah saat ini. Dadanya bahkan sampai sakit. Genggaman itu semakin erat. Ia tidak tau bagaimana cara menghentikan darah itu. Darah itu muncul dari mana saja ia tidak sanggup membayangkannya.

“Taemiin, sayang, kumohon jawablah, kau mendengar ku kan?”, ia tak henti-hentinya berbicara pada sosok yang terlihat sedang tidur dengan wajah pucatnya. Tidak ada jawaban.

“Taemiiiiinnn, kumohon jangan bercanda untuk hal semacam ini. Kau hanya sedang bermain dengan ku kan? Kau hanya tertidur kan?”, otak nya semakin tidak bisa berpikir. Sosok cantik di samping nya masih terdiam, matanya tertutup.

“TAEMIIIIIINNNN, KUMOHON TUNJUKKAN PERGERAKAN APA SAJA, SEDIKIT SAJA, YANG MENUNJUKKAN KALAU KAU MENDENGAR KU!!”, tanpa sadar ia berteriak. Hati, otak, mulut, tangan, apapun di tubuhnya saat ini bekerja tanpa diperintah, bahkan Minho tidak tau saat ini masih ada apa di dalam tubuhnya. Semuanya serasa tertinggal di suatu tempat, entah dimana karena mereka terlalu takut untuk menghadapi kejadian yang terjadi saat ini. Bahkan ia tak tau kejadian ini nyata atau mimpi buruknya saja!! Kalau ini hanya mimpi, ia akan lakukan apapun untuk secepatnya terbangun. Tapi kalau sampai kejadian ini nyata………

@ Seoul Hospital…

Minho terduduk, bukan di kursi melainkan ia merosot di lantai di depan ruang ICU. Taemin sudah di dalam dan DAMN ia tidak boleh menemaninya. Kalau ia masih punya tenaga saat ini, demi apapun ia akan memaksa untuk masuk ke dalam. Tapi sayangnya ia terlalu lelah untuk hanya sekedar menjawab apalagi berdebat. Seluruh tenaganya seakan hilang, seiring tubuh istri nya yang juga hilang, masuk ke ruangan itu entah untuk diapakan. Pandangannya kosong. Ia seperti tidak berpikir apapun. Bukan, lebih tepatnya ia memang sedang tidak bisa berpikir apapun saat ini. Sebelah kakinya menekuk, dan wajah tampan itu ia sembunyikan dalam satu tangan yang bertumpu pada kaki itu. Ia masih sangat bersyukur karena Dokter Krystal, dokter kandungan yang sejak awal memeriksa Taemin masih ada di tempat.

CESS..

Reflek ia menoleh ketika sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Seorang anak perempuan berusia sekitar 10 atau 11 tahun menggunakan tongkat penyangga di kedua sisi tubuhnya, sedang tersenyum menatap Minho sambil menyodorkan sebatang coklat dingin.

“untuk mu ahjussi, sepertinya kau lebih memerlukannya dibanding aku”, tangannya tetap terulur sambil memegang bungkusan panjang berwarna emas.

Minho masih bergeming. Kali ini apa lagi? Otaknya masih tidak dapat berpikir.

“kata Umma ku, mengabaikan pemberian orang lain itu perbuatan yang tidak sopan”, ia melanjutkan ucapannya namun tetap dengan wajah tersenyum.

Dengan ragu, Minho mengambilnya. Tapi ia masih tidak mengerti. Ia siapa? Kenapa tiba-tiba ada disini dan memberikan coklat padanya?

Ketika coklat itu sudah berpindah tangan, anak manis itu malah mengulurkan tangannya, “Minzy”.

HAH?

Otak nya masih belum bekerja secara sempurna. Bahkan Minho tidak yakin ia masih punya otak di dalam sana. Daritadi pikirannya kosong, tidak ada pikiran apapun yang hadir disana. Jangan-jangan ia memang sudah tidak punya otak?

“tck. Ahjussi, aku mengajakmu berkenalan. Namaku Minzy”, ia memajukan wajahnya, menatap aneh namja tampan yang terduduk lemas di lantai. Apa ia orang bukan orang Korea dan tidak mengerti bahasa kami yaa? Atau jangan-jangan orang ini tidak waras? Tapi sepertinya tidak mungkin, gadis kecil itu sibuk dengan pikirannya.

Tangan kekar Minho menyambut tangan mungil nya, “Minho”.

“ini….untuk ku?”, Minho mengacungkan makanan yang baru saja diberikan kepadanya.

Ia tersenyum lega. Ternyata ia masih bisa mengerti bahasa ku. Agak repot kalau ternyata harus mengajak bicara orang asing.

“eung. Ahjussi sepertinya lebih membutuhkan coklat itu dibanding aku, hehe. Kau pernah nonton film Harry Potter? Pasti kan? Siapa manusia di dunia ini yang tidak mengenal film tentang penyihir itu? Aku teringat film Harry Potter yang ke empat, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, saat di kereta menuju Hogwarts, Harry pingsan karena melihat Dementor, monster ‘pemakan’ rasa bahagia masuk ke dalam kereta dan diperintahkan oleh kementerian sihir untuk mencari Sirius Black, tawanan pertama yang berhasil kabur dari penjara sihir Azkaban. Lalu setelah ia sadar, Professor R. J. Lupin, guru pertahanan ilmu hitam Hogwarts yang baru, memberikannya coklat padanya untuk memulihkan tenaga. Begitu pula saat adegan Harry diajari untuk bisa melawan tiruan dementor dengan mantra patronus, ‘expecto patronum’ dan menghasilkan patronus berupa rusa jantan, setiap akhir dari sesi latihan, ia juga diberikan coklat oleh Prefessor Lupin. Jadi, aku menganggap, coklat itu punya efek menenangkan dan rasa manisnya bisa membuat orang menjadi bertenaga. Jadi, kau lebih membutuhkannya dibanding aku”, jelasnya panjang lebar.

Minho tidak terlalu mengerti apa yang diomongkan gadis ceria di hadapannya ini. Ia tidak terlalu mengikuti salah satu film Hollywood box office itu. Ia tau, tapi tidak pernah mengikuti jalan ceritanya dalam novel apalagi menonton film nya. Kesibukannya sebagai CEO di salah satu perusahaan terbesar di Korea tidak mengizinkannya untuk membuang waktu di bioskop atau tempat-tempat hiburan lain. Ribuan nyawa bergantung dengan keputusannya menjalankan perusahaan, dan harapan besar sang Appa mewajibkan si anak sulung ini tidak mengecewakannya sedikitpun!!

Tapi ia tersenyum. Anak ini bercerita dengan penuh semangat. Apalagi ketika ia mengucapkan mantra…apa tadi? Patro…entahlah. Wajahnya sangat penuh semangat dan ceria. Keceriaan yang tanpa ia sadari ternyata bisa menular, bukan hanya dengan coklat yang ia berikan, tapi justru dengan ekspresi wajahnya.

“ahjussi, bisakah kita mengobrol sambil duduk di bangku saja. Maaf, tapi aku cepat lelah kalau harus berdiri lama-lama, hehe”, ia menggaruk kening nya, malu. Matanya menatap ke bawah, ke arah dua tongkat yang menyangga sisi kanan kiri tubuhnya.

Minho tercekat. Otaknya baru bisa merespon pemandangan di depannya. Sedari tadi ia masih terduduk di lantai dan anak ini berdiri di depannya. Pasti ia lelah. Minho secepatnya berdiri dan bermaksud membantu anak itu untuk berjalan menuju bangku terdekat, tapi…

“gwaenchana ahjussi, aku bisa sendiri kok”, ia tersenyum manis berusaha menolak secara halus bantuanku untuk menuntunnya berjalan.

Aku melepaskan tangan dari bahu nya, membiarkan nya berjalan duluan di depan.

“haaah”, ia menghela nafas lega saat duduk di deretan kursi panjang berwarna merah di depan ruang ICU. Lorong itu kosong. Hanya ada kami berdua dan seorang namja paruh baya yang tertidur di ujung kursi. Helaan nafasnya teratur, sepertinya sangat lelah dan ia tertidur pulas.

Ia mengikuti arah pandang ku, “dia Appa ku”, sahutnya sambil lagi-lagi tersenyum. Entah kenapa senyum yeoja satu ini begitu mengingatkanku pada Taemin.

Ah, aku menunduk. Hati ku mencelos begitu otakku menampilkan namanya.

“orang di dalam sana…pasti orang yang sangat berarti untukmu yaa ahjussi?”

Aku menoleh. Kami baru kenal tadi tapi kenapa ia begitu mudahnya terlihat akrab dan ingin tau keadaanku, ingin memastikan aku baik-baik saja. Bukan aku tidak suka, sungguh aku justru begitu bersyukur di saat seperti ini aku tidak dibiarkan sendirian. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku sendirian, bisa-bisa otakku mengirimkan perintah macam-macam. Tapi, aku hanya….heran. Aku tidak banyak bertemu orang-orang yang mudah akrab dan berwajah setulus anak ini. Hidupku selalu dikelilingi workaholic yang juga menyeretku ke dunia yang sama dengan mereka. Hanya Taemin yang mampu menarik ku dari sana hingga saat ini. Hanya Taemin yang bahkan membuatku rela melepas segalanya hanya untuk nya. Hanya Taemin dan memang selamanya untuk Taemin. Yeoja ini….begitu mirip dengannya.

Aku mengangguk untuk menjawab pertanyaannya, “sangat. Dia hidup ku”, aku menjawab lirih.

Ia tersenyum sambil menunduk. Wajahnya berubah sendu namun bibir itu tetap menampilkan senyuman nya. Ia mendadak diam.

“kau kenapa?”, aku tidak tahan untuk bertanya. Mungkin lebih tepatnya, saat ini aku sedang tidak tahan melihat orang lain juga berwajah sendu seperti itu. Entahlah, tapi ekspresi seperti itu mempengaruhi keadaan hati ku semakin memburuk saja.

“aniyo, ahjussi. Hanya aku sedang mengingat rasanya”, ia berbicara sambil tetap menunduk.

Aku mengerutkan kening, “rasa apa?”

Ia menoleh padaku sambil memiringkan kepalanya imut. Aku tau ia sedang menahan untuk menangis. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Tapi berkaca dari ekspresi Taemin yang selama ini kuamati dan kupelajari, ekspresi seperti itu adalah ekspresi seseorang menahan tangisnya, meski gadis kecil ini menampilkannya dalam bentuk yang lebih terlihat dewasa.

“rasa seperti di dalam situ”, ia menunjuk hatiku.

“rasa ketika aku merasakan perasaan yang sama. Saat hidupku pergi meninggalkanku. Ibuku akhirnya meninggalkanku dan Appa demi laki-laki lain setelah kami hidup bersama selama bertahun-tahun. Entah karena apa. Mungkin karena laki-laki itu lebih kaya dan berkuasa dibanding Appa ku yang hanya seorang guru dan menghidupi kami berdua dengan sederhana. Tidak kekurangan memang. Tapi hanya cukup, tidak mewah seperti yang dapat diberikan laki-laki baru Umma”, ia tersenyum miris.

Aku tercekat. Entah harus berbicara apa. Aku hanya ingin mendengarkan ceritanya. Ingin menghapus ekspresi sendu itu seiring kelegaan yang ia dapatkan karena membagi bebannya pada orang lain.

“Umma ku sangat cantik dan lembut. Ia seperti boneka barbie di mataku. Kata Appa, ia adalah langganan juara pemilihan Ulzzang saat ia masih sekolah. Dan ahjussi tau kan secantik apa para Ulzzang itu? Ahjussi tau SNSD Yoona Unnie? Yeoja paling terkenal di SNSD karena kecantikannya? Umma ku bahkan lebih cantik dari itu”, ia melepaskan kalung berbandul liontin berbentuk lingkaran yang dipakainya.

KLIK, ia membuka lingkaran itu, dan didalamnya, ada dua buah foto.

“ini foto Appa dan Umma ku”, ia memberikan liontin itu.

Aku mengamatinya…

Hanya dua kata, LUAR BIASA. Tidak bisa dipungkiri anak ini sama sekali tidak melebih-lebih kan cerita tentang Umma nya. Tanpa disadari, Minho malah menatap Minzy. Bagaimana ia bisa tidak sadar kalau anak di depannya ini adalah seorang putri yang sangat cantik? Ia benar-benar mewarisi 90% kecantikan sang Umma. Ia yakin, orang di dalam foto ini ketika kecil, pasti mempunyai wajah seperti Minzy saat ini. Dan itu artinya, gadis ceria di depannya akan tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Matanya bulat besar, hidung mancung sempurna, rambutnya hitam pekat lurus tapi dengan sedikit ikal menggantung alami di bawahnya. Wajahnya oval dengan dagu menggantung, putih mulus dengan pipi yang sedikit chubby kemerahan. Dihiasi bibir tipis berwarna pink yang selalu tersenyum manis dan lesung pipi di kedua sisi nya. Anak ini begitu cantik dan manis di saat yang sama, persis Umma nya. Bahkan lesung pipi itu, hal yang sama yang dimiliki ibunya karena ia sedang tersenyum di foto ini.

“cantik kan ahjussi?”

Aku mengangguk sambil menutup liontin itu dan memberikan padanya.

“dan ketika besar kau pasti juga akan tumbuh secantik Umma mu. Kalian begitu mirip”

Ia menggeleng, “mungkin dari wajah, kami berdua mirip. Tapi ketika besar kelak, aku tidak mau menjadi seperti Umma. Aku suka quote di dalam sebuah buku yang pernah kubaca, kesetiaan adalah satu-satunya mahkota yang merupakan anugerah dari Tuhan kepada setiap wanita untuk menjadikannya ratu dihadapan orang yang paling dicintai dan mencintainya. Namun, ketika mahkota itu jatuh atau bahkan hilang, seorang wanita langsung jatuh pada level terendah seorang manusia, karena ratu yang kehilangan mahkotanya, sama seperti rakyat biasa yang bukan siapa-siapa dan tidak dianggap”, ia berkata mantap.

Aku mengelus kepalanya sayang, “aku yakin kau membaca buku yang tidak sesuai dengan umur mu yaa?”

“aniiii”, ia menggembungkan pipinya. Baru kali ini ia terlihat seperti anak kecil di mataku.

“aku dan Appa sama-sama suka membaca dan kami punya perpustakaan sendiri di rumah. Entah kenapa salah satu buku Appa terselip di lemari buku ku, jadi yaa salahkan Appa kalau aku membaca buku nya. Kan itu ada di lemari buku ku, jadi aku berhak membaca apapun yang ada di situ. Lagipula aku tidak suka semua orang selalu menganggap ku anak kecil. Well, aku memang masih kecil. Dua bulan lagi umur ku baru 11 tahun, tapi kedewasaan seseorang bukan dilihat dari umur kan? Umur hanya deretan angka, tidak berarti apa-apa untukku. Apa yang kualami dan kurasakan sudah menempaku untuk bukan waktunya lagi bersikap rapuh seperti anak-anak, karena kalau aku rapuh, aku tidak akan sanggup bertahan sampai saat ini”, suaranya sedikit bergetar, tapi mati-matian ia sembunyikan itu. Memang keadaan menuntutnya untuk berpikir dan bersikap jauh melebihi anak seusianya, tapi jauh di dalam sana, tidak bisa dibohongi, jiwa itu masih jiwa seorang anak perempuan kecil yang sudah retak namun ia rekatkan kembali sebisanya. Yah, seperti katanya, hanya sekedar untuk membuatnya bisa bertahan menjalani hari-hari nya sampai sekarang, tanpa Umma nya.

Ia memalingkan pandangannya dari ku, menoleh ke arah yang lain, ke arah namja yang masih mirip dengan foto yang ada di liontin itu. Mungkin foto itu belum lama diambil. Tapi ada perbedaan jelas dari foto yang Minzy tunjukkan pada ku. Di hadapan ku saat ini, namja yang sedang tertidur pulas itu, wajahnya memang masih tampan seperti di dalam foto, tapi kini wajah itu sudah dihiasi gurat-gurat kelelahan yang sepertinya membuat umurnya lebih tua beberapa tahun dibanding umur yang sebenarnya. Wajar memang dengan segala masalah yang ada di kehidupannya.

“kata Umma dulu, Appa adalah seseorang yang hebat. Ia sangat penyayang dan berkharisma. Karena itu, ditengah banyak namja yang menyukai Umma, ia justru memilih gurunya sendiri”

“gurunya sendiri?”

Ia kembali menatapku, “emm. Appa ku adalah guru dari Umma saat ia masih sekolah. Tapi umur mereka hanya berbeda 5 tahun. Banyak yang mengatakan aku adalah anak dari hasil hubungan tidak resmi. Anak haram, begitu mereka menyebutnya. Aku selalu ingat perlakuan orang-orang pada ku sejak kecil. Mereka menganggap ku aneh. Aku tak pernah punya teman karena tidak ada orang tua yang mau membiarkan anaknya main dengan ku. Karena itu aku jadi penyendiri dan hanya berteman dengan buku. Tapi bahkan hingga detik ini, aku masih bisa merasakan belaian tangan Umma, disini, di rambutku”, ia menunjuk kepalanya sendiri.

“setiap ada orang yang memperlakukan ku begitu, Umma selalu menyemangati dan bilang bahwa itu tidak benar. Appa dan Umma melakukan segalanya atas dasar cinta, dan anak yang lahir atas dasar cinta, terlalu kejam untuk disebut seperti apa yang mereka selalu bilang padaku”, tess. Akhirnya pertahanin nya runtuh. Segala emosi yang sejak tadi ia tahan akhirnya memaksa untuk diungkapkan keluar.

“Umma ku orang yang sangat lembut. Persis seperti kata Appa, ia bukan hanya cantik secara fisik, tapi hatinya juga sangat baik. Entah *hiks* apa yang *hiks* membuatnya sekarang menjadi seperti ini”, ia menutup mulutnya untuk menahan isakan nya terdengar keluar. Melirik ke ujung tempat Appa nya berada, mungkin tidak mau isakan ini didengar oleh Appa nya.

Aku ingin memeluknya, menenangkannya, tapi kalau Appa nya bangun dan melihat anak perempuan kecil nya di peluk pria tak dikenal, aku bisa dibunuh.

Aku hanya mengelus-elus tangannya, tidak tau harus berbicara apa karena otakku sudah sangat kacau. Kacau karena keadaan Taemin, semakin kacau dengan cerita miris anak manis ini.

Ia segera menghapus air matanya perlahan, menepuk-nepuk pipi nya pelan untuk mengembalikan ekspresi nya seperti biasa, dan ia kembali tersenyum, “maaf ahjussi, aku jadi malah menceritakan kisah ku, hehe. Sebetulnya aku tidak tahan begitu ahjussi melewati kamar ku dengan wajah….mengenaskan”

Aku tersenyum. Wajahku memang mengenaskan sejak tadi. Ia benar.

“aku hanya ingin mengatakan jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. After hurricane comes a rainbow, right?”, ia mengutip sebuah lirik lagu, fireworks.

CKLEK, kamar ruang ICU terbuka dan keluarlah dokter Krystal sambil melepas masker nya, terlihat lelah.

Aku segera berlari menghampirinya, terlalu bersemangat sampai ia harus mundur selangkah ke belakang agar tidak bertabrakan dengan ku, ”bagaimana Taemin?”, tanya ku cepat.

“hhhh”, ia menghela nafas panjang seolah bingung menyampaikan sesuatu.

Ia melihat seorang anak kecil yang akhirnya menyusul dan berdiri di sampingku, “oh hai Minzy, bagaimana keadaan mu? Sudah malam kenapa malah jalan-jalan?”, aku tau Krystal hanya mengulur-ulur waktu.

“aku bosan di kamar dok. Lagipula kapan aku bisa melepas tongkat ini kalau aku tidak pernah berlatih jalan dan hanya duduk diam di kamar?”

Ia mengelus kepala Minzy sambil tersenyum, “terserah kau saja. Jangan terlalu lelah, arra?”

Ia menoleh pada ku, “kita berbicara di ruangan ku. Kau sudah kenal Minho?”, ia menundukkan badannya dan berbicara pada yeoja manis disebelahku.

“emm. Kami berbincang banyak, hehe”

“kalau begitu kupinjam Minho sebentar yaa?”

Ia mengangguk dan Krystal berjalan menuju ruangannya.

Aku berjalan di belakang mengikutinya, lalu “Minho oppa”

Aku menoleh.

“jangan lupa makan coklatnya, nee. Harganya mahal. Aku marah kalau kau tidak memakannya”, ia tersenyum menampilkan lesung pipinya.

Aku hanya mengangguk.

“Minho oppaa”, ia memanggil ku lagi baru selangkah aku berjalan.

Ia berjalan mendekat secepat yang ia bisa menggunakan tongkat itu.

“aku mendoakan semoga hidup mu yang di dalam sana”, ia menoleh ke ruang ICU, “cepat kembali pada mu lagi. Tetap semangat dan tersenyum!! Karena senyuman itu memberikan energi positif untuk lebih banyak orang yang membutuhkannya”

Aku mengelus kepalanya, “doa yang sama untuk mu juga yaa. Tetap tersenyum!! Kau sangat cantik jika tersenyum”, aku kembali berjalan, namun beberapa langkah aku berbalik, “Minzy, gomawo”, ucap ku sambil melambaikan coklat pemberiannya.

Ia tersenyum, “no problem oppaaa”…

@ Dr. Jung Krystal’s Room…

“apa yang mau dokter sampaikan? Kenapa harus di ruangan?”, aku menatapnya lekat. Tanpa ku ketahui, ada sesuatu yang berdesir di dalam hati dokter cantik itu. Ia menunduk. Calm down, Krys!! Jangan berpikir macam-macam!!

“aku hanya tidak mau omongan seperti ini didengar anak sekecil Minzy dan aku tidak tega untuk menyuruhnya pergi, jadi lebih baik bicara disini”, ia menjelaskan cepat. Hatinya masih aneh begitu melihat tatapan Minho padanya tadi.

“hhhhh”, ia kembali menghela nafas panjang. Sulit sekali mengatakan sesuatu. Sebetulnya ia sedang sulit mengendalikan perasaannya saat ini. Tenang Krystal!! Profesional lah seperti biasanya!!

Ia mengangkat kepalanya, menatap ku tajam, meskipun aku melihat ada sedikit rona kemerahan di pipi putihnya, “kau lupa apa yang kubilang padamu sejak awal? Sejak aku mengatakan Taemin hamil? Ini kasus langka. Bukan tidak pernah terjadi, tapi masih sangat langka, dan istrimu”, suara nya agak bergetar ketika mengucapkan itu.

“adalah salah satu orang istimewa yang dipilih Tuhan untuk menerima anugerah bisa mengandung seorang bayi. Kuulangi, ia istimewa, karena itu kau harus menjaganya dengan penjagaan yang istimewa pula, dan kau sangat yakin bisa menjaganya sejak awal!! Tapi apa buktinya? Usia kandungan Taemin baru 5 bulan”, ia menggunakan kata ganti untuk kata ‘istri’.

“usia kandungan yang masih begitu muda dan rentan bahkan untuk kandungan normal sekalipun. Apalagi kandungan yang seperti Taemin rasakan? Dan mana penjagaan yang kau janjikan dulu? Masih ada 4 bulan ke depan, waktu yang cukup lama, tapi bahkan kau sudah lengah di awal start!! Taemin mengalami pendarahan, yang untuuuungnya kau sigap membawanya kesini sehingga Tuhan masih menyayangi nya dan sang bayi. Mereka masih bisa selamat, SEKARANG!! Kami perlu pemeriksaan lebih lanjut tentang apakah kejadian ini akan mempengaruhi sang Umma dan aegya nya beberapa bulan ke depan bahkan sampai proses melahirkan. Kalau memang ada indikasi ke arah sana, maka maaf dengan terpaksa Taemin harus melahirkan sebelum waktunya”

“prematur?”, aku berucap sangat lirih. Kau tau rasanya? Seperti melayang jatuh tanpa ada alat bantu, seluruh organ-organ di dalam tubuhmu mencelos ke bawah.

Ia mengangguk, “tapi itu perlu pemeriksaan lebih lanjut dan pengontrollan secara teratur. Satu yang bisa kusimpulkan sekarang, kandungan Taemin menjadi semakin jauh lebih lemah. Kandungannya memang sudah lemah sejak awal, tapi dengan kejadian seperti ini, semakin memperparah keadaan yang memang sudah sangat rentan”

Suara dokter itu semakin terdengar kecil. Bukan karena ia memelankan suaranya, tapi entahlah, aku seperti melayang menjauh. Entah sensasi apa itu. Aku mencengkeram meja agar tidak jatuh.

“kami sudah memberikan segala yang kami mampu lakukan. Tapi apakah itu akan berefek pada tubuhnya atau tidak, kami tidak tau. Obat-obatan dalam keadaan seperti ini, dirancang untuk seorang wanita. Tapi jika pria yang meminumnya, kami belum tau apa menimbulkan efek yang sama atau justru malah tidak berefek apa-apa. Karena itu, sangat diperlukan waktu untuk bisa menjawab semua pertanyaan itu”, ia menggigit bibirnya. Kode etik kedokteran membolehkan seorang dokter merahasiakan keadaan yang sebenarnya pada pasien jika dirasa dengan mengatakan hal yang sebenarnya, pasien malah akan putus asa. Tapi sebaliknya, dokter dituntut untuk harus selalu mengatakan hal yang sebenarnya pada keluarga pasien. Tapi kalau malah dengan ini Minho akan putus asa, apa bukannya justru akan semakin memburuk keadaan?

“apa….ada harapan?”, Demi Tuhan aku butuh apapun untuk menguatkan ku sekarang!! APAPUN!!! Bahkan kalaupun dokter ini memberitahukan ku harapan kosong pun sekalipun sungguh akan kusyukuri itu.

harapan akan selalu ada untuk orang yang mempercayainya”, ia tersenyum.

“kami selalu mengusahakan yang terbaik untuk setiap pasien kami. Apalagi ini menyangkut dua nyawa sekaligus. Banyak berdoa Tuan Choi. Kami, para dokter hanyalah manusia biasa yang diberi pengetahuan untuk bisa berusaha lebih dari yang bisa dilakukan orang lain. But final answer still and never can be changed, in God’s hand”

Aku menunduk…

Dua tetesan air bening jatuh, tanpa suara, tanpa aba-aba. Air yang aku tak tau apakah dari mata atau hati ku.

Tuhan…

Marahkah Kau pada ku kali ini…

Krystal tercekat. Omooo, Minho menangis? Sepertinya aku harus memberitahukan ini sekarang.

Tiba-tiba…senyuman lembut hadir di wajah wanita cantik berbaju putih di depan ku ini…

“Tuan Choi, mau kuberitahu sesuatu yang…….menarik?”

Aku mengangkat kepalaku, menatapnya…

Lagi-lagi ada desiran aneh dihatiku ketika mata kami bertemu. Krystaaaalll, jangan gilaaaa!!!!

“tadi kubilang kalau Taemin istimewa kan? Kau tau kenapa aku mengatakan hal itu? Karena ia istimewa bukan hanya ia bisa mengandung padahal mempunyai fisik seorang laki-laki, tapi ia istimewa….juga karena aku menduga kuat ia sedang mengandung…2 bayi saat ini”

HENING…

DIAM…

PUTIH…

@ kediaman keluarga Lee..

Lee Jinki, namja tampan pewaris utama bisnis keluarga Lee, seperti biasa sedang berkutat dengan laptop dan tumpukan berkas-berkas di meja.

CKLEK…

“Jinki”, suara bass yang lembut terdengar memanggil namanya. Ia mengangkat kepalanya lalu tersenyum.

“nee Appaa”, seorang namja yang sudah terlihat tua namun masih tampan dan kharismatik itu masuk ke dalam ruang kerja putra angkatnya.

“sedang apa? Sudah malam, belum tidur?”, ia menarik bangku di depan Jinki kemudian duduk.

Namja tampan itu menampilkan senyuman gigi kelincinya, “sebentar lagi Appa. Hanya memeriksa beberapa laporan tagihan dari para supplier. Appa tidurlah duluan”

“beberapa? Kelihatannya tidak begitu”, ia menunjuk tumpukan tinggi map di meja krja mewah itu.

Jinki hanya tersenyum, “itu tidak sebanyak yang Appa pikirkan. Ini semua sudah dikerjakan staff ku. Aku hanya memeriksa nya saja. Ini persoalan tagihan, jadi semua harus lebih berhati-hati dan tidak boleh ada kesalahan karena menyangkut perputaran keuangan perusahaan”.

Ya, putra kebanggaannya ini memang orang yang begitu workaholic dan perfeksionis. Tuan besar Lee sudah menganggap dirinya terlalu tua untuk mengurusi semua bisnis ini. Perusahaan Lee bukan perusahaan kecil, karena itu ia hanya mempercayakan tampuk kepemimpinan dipegang oleh orang-orang yang sangat capable di bidangnya dan ia percaya, Jinki salah satunya. Dan pilihannya tidak salah. Saat kursi teratas ia serahkan pada Jinki, perusahaan mereka justru semakin besar sehingga memasukkan nama Jinki sebagai salah satu pengusaha muda paling cemerlang di Seoul, bahkan untuk kawasan Asia. Berbarengan dengan nama Jonghyun, suami Key, Minho dan Changmin, menantu dan calon menantunya. Ah, mengenai Changmin…

“Jinki, bagaimana hubungan mu dengan Changmin?”

Namja tampan itu tertegun sambil tetap menunduk. Gerakan pena nya yang sedari tadi ia coret-coretkan di atas kertas tiba-tiba berhenti. Tidak biasa-biasanya Appa nya ini menanyakan hal begitu pada nya. Biasanya pembicaraan antara mereka hanya seputar bisnis dan Taemin, putra bungsu sekaligus putra kesayangan keluarga Lee yang luar biasa manja itu. Tuan besar Lee dan Tuan muda Lee mempunyai sifat yang sama. Pendiam, hanya berbicara seperlunya, hal-hal yang mereka anggap penting untuk dibicarakan. Tangan mereka lebih banyak berbuat dibanding mulut yang berbicara. Apalagi pembicaraan mengenai hal sensitif begini, sangat jarang dilakukan.

Ia tersenyum, “tumben Appa menanyakan itu. Kami baik-baik saja, Appa”

Suasananya tiba-tiba canggung. Jinki kembali menulis, sementara Appa nya mengelus tengkuk nya. Haaah, ayah dan anak ini memang tidak ‘dirancang’ untuk melakukan pembicaraan seperti ini.

“lalu kapan?”, Appa nya kembali bertanya. Sengaja menggantungkan ucapannya karena ia yakin Jinki mengerti.

Terdiam sejenak. Ia berusaha memikirkan jawabannya, “mollayo. Kami masih sama-sama sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing Appa”, ia mengatakan itu sambil tetap menulis, dan sesekali matanya menatap ke arah layar laptop nya.

“Lee Jinki”, namja tampan itu berhenti menulis. Jika Appa nya sudah memanggil dengan nama lengkap, maka itu berarti ada sesuatu serius yang ingin dia bicarakan. Ia mengangkat kepalanya, menatap sang Appa serius.

“kau tidak menganggap tanggung jawab atas perusahaan Lee yang kuserahkan padamu itu menghambat kehidupan pribadi mu kan, nak?”

Ia menggeleng kuat, “kenapa Appa berpikiran seperti itu? Keluarga ini sudah terlalu baik pada ku, hanya dengan seperti ini, hanya melakukan ini, aku berusaha untuk bisa membalas kebaikan Appa dan Taemin padaku sejak dulu, walau tentu saja belum sebanding dan mungkin tidak akan pernah sebanding”

“kau tau kan Appa tidak pernah suka kau menyebut keluarga mu sendiri dengan kata ganti ‘keluarga ini’. Sejak kau menjadi bagian dari keluarga Lee, aku dan pasti juga Taemin, satu kalipun kami tidak pernah menganggap kau adalah orang lain. Jangan pernah melakukan sesuatu atas dasar balas budi, Jinki. Karena memang tidak ada hal apapun yang perlu kau balas”, ia memundurkan kursi nya dan berdiri.

“sebetulnya Appa kesini karena ingin mengobrol lebih jauh dengan mu, tapi kita berdua sepertinya memang tidak bisa banyak berbicara yaa”, ia tersenyum.

“tidurlah. Jangan terlalu lelah. Selamat malam, Jinki”

“malam, Appa”

Pintu tertutup.

Hhhhh, Jinki meletakkan pena nya dan menyender ke kursi kerja mewahnya. Selalu saja berakhir begini. Jinki dan Appa nya hanya bisa ‘mengobrol normal’ kalau ada si kecil Taemin. Sebetulnya sama seperti Appa nya, ia juga ingin mengobrol banyak seperti layaknya ayah dan anak, tapi… sifat mereka berdua entah kenapa sangat sulit mengizinkan mereka untuk bisa melakukan itu.

Melihat ke arah telfon, menghubungi seseorang yang dirindukannya.

Beberapa kali nada tunggu, tidak juga diangkat. Menelfon ke ponsel suaminya…hasilnya sama, tidak juga diangkat. Menelfon rumahnya, tetap nihil. Ia memang tau kalau malam begini, di rumah adiknya itu tidak ada asisten rumah tangga. Tapi mereka pasti selalu ada di rumah kecuali jika ada urusan mendesak, karena Minho pasti tidak mungkin memperbolehkan Taemin keluar malam-malam.

Bangun dari duduknya, merapihkan berkas dan menutup laptop. Entah kenapa perasaannya aneh. Ia mengambil jaket yang tersampir di sandaran kursi dan kunci mobil, kemudian keluar.

Melewati ruang tengah, ia berhenti. Pemandangan disana yang membuatnya berhenti.

Appa nya sedang duduk di kursi piano. Matanya memandangi foto yang ada di sana. Jinki tau benar foto siapa itu. Foto Umma nya, orang yang belum pernah ia lihat secara langsung karena ketika ia dibawa ke rumah ini, wanita cantik itu sudah tiada. Malam ini, Appa nya pasti kesepian. Karena itu ia tiba-tiba datang ke ruang kerja nya dan mengajaknya bicara. Ia pasti merindukan sosok yang selalu Taemin banggakan. Sosok lembut, cantik, dan sangat keibuan. Ia melangkah masuk. Ia semakin ingin ‘meminjam’ Taemin sehari di rumah ini. Ia matahari, dan kehadirannya mampu mencairkan apa saja, termasuk keadaan di rumahnya saat ini. Hanya Taemin yang mampu mengobati air mata itu, karena sosok nya yang begitu menyerupai sang Umma. Karena Taemin lah, Appa nya bertahan untuk tetap sendiri, menjaga kesetiaan itu sampai akhir, sampai Tuhan yang akan mempertemukan mereka disana, kelak.

“Appa”, memanggilnya pelan.

Lelaki yang dipanggil itu menoleh.

“nee?”, ia sedikit heran melihat ku.

“kau mau kemana malam-malam begini?”

“ke rumah Taemin. Aku merindukannya”, Jinki tersenyum.

Ia mengangguk, “sampaikan salam ku untuk adik mu itu yaa. Appa juga merindukannya. Kau nasihatilah dia, suruh ia mengurangi sifat manja dan childish nya itu. Kasihan Minho, Appa yang tidak tega melihatnya terus menerus berkorban karena kemanjaan adikmu itu”

Jinki tertawa, “anak itu sudah terbiasa dimanjakan setiap orang, Appa. Selepas dari kita, ia begitu dimanjakan Minho, jadi selama suaminya itu tidak tega untuk membuatnya lebih dewasa, Taemin akan terus seperti itu. Tapi pasti akan kucoba, biar bagaimanapun, anak itu sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Minho bisa menjaga dua bayi jika istrinya terus bersikap seperti itu”.

See, pembicaraan tentang si manja itu selalu berhasil memancing suasana akrab dan sama sekali tidak canggung diantara mereka.

Appa nya mengangguk, “memang sedari awal salah kita karena terlalu memanjakannya. Sampaikan salam Appa untuk Minho yaa. Kau hati-hatilah di jalan”

Jinki tersenyum dan keluar. Kehadiran Taemin pasti akan membahagiakan Appa nya malam ini. Biar bagaimanapun, ia harus mampu membujuk Minho untuk membawa Taemin menginap di rumah ini, malam ini juga!!

Sesampainya di rumah Minho dan Taemin…

Pintu gerbang terbuka otomatis. Pintu mereka dilengkapi sensor yang hanya akan membuka pada mobil Minho, Jinki, Key, Jonghyun, orang tua Minho dan Appa Taemin. Selain orang-orang itu, mobil tidak dapat masuk ke dalam kecuali atas izin pemilik rumah.

Jinki keluar dan melihat keadaan. Sepi. Bahkan lampu di teras dan taman belum dinyalakan.

Ia melangkah masuk. Memencet bel, tidak ada yang keluar membukakan pintu. Ini semakin aneh di pikirannya. Kemana mereka?

Mencoba meraih handle pintu, terbuka. Jinki tercekat. Pintu tidak terkunci sementara rumah seperti ditinggal penghuni nya. Perasaannya semakin tidak enak. Apa ada yang terjadi?

Ia melangkah masuk, dan detik itu juga ia langsung mundur selangkah.

Di lantai putih marmer mereka, ada banyak tetesan darah. Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?

“TAEMIIIINNN”, Jinki berteriak sambil berlari masuk ke dalam rumah. Mengikuti arah tetesan darah tersebut, dan sampai di dapur. Tapi tidak ada siapapun. Ia melihat ponsel Minho tergeletak di meja makan. Berlari kembali memasuki setiap ruangan bahkan kamar mandi di dua lantai rumah mereka. Tidak ada siapapun.

SHIT!! Ia menjambak rambutnya sendiri, frustasi!! Apa yang sebenarnya terjadi?!

Ia mengeluarkan ponsel dan menelfon seseorang.

“Key, kau bersama Taemin atau Minho?”, ucapnya begitu terdengar suara di seberang sana.

Key mengerenyit heran, kenapa ayam satu ini? Bahkan telfonnya tanpa kata ‘yoboseyo’.

“anii, hyung, aku bersama Jonghyun sedang makan malam. Waeyo? Kenapa suaramu begitu? Kau habis olahraga malam-malam begini?”

Tanpa sadar Jinki mengepalkan tangan. Kalau bukan dengan Key atau Jonghyun, lalu dimana mereka?

“kau…kau punya…”, ia kebingungan mencari kata yang tepat. Kalau Key sudah ‘bergabung’ dalam kasus ini, semuanya pasti akan tambah repot. Tapi Key adalah orang yang paling mengenal Taemin, kan? Siapa tau ia punya informasi. Tapi bagaimana caranya mengetahui itu tanpa membuatnya curiga ada sesuatu yang terjadi? Otak nya berputar cepat.

“kau tau tidak mereka pergi kemana? Atau apa ada tempat yang biasa mereka datangi?”

Di seberang sana, Key semakin heran tentang pertanyaan hyung nya satu ini. Memangnya ada apa sih?

“Key, kau mendengarkan ku?”, Jinki bertanya begitu orang yang sedang ditanya serius malah diam.

“a-ah, nee hyung. Memangnya ada apa?”

Akhirnya pertanyaan ini keluar juga!!

“eemmm, tidak ada apa-apa, jangan khawatir”, tenang Jinki!! Buat dia percaya!!

“aku hanya rindu adik ku tapi rumahnya kosong. Memang malam-malam begini Taemin diperbolehkan keluar?”

“rumahnya kosong? Kodok jelek itu tidak mungkin membiarkan istri tersayang nya keluar malam-malam begini…yah, kecuali kalau ada urusan yang memang benar-benar penting. Memeriksa kandungan misalnya”

GOTCHA!! BODOH JINKI!!! Kenapa tidak kepikiran?? Kalau memang darah ini berasal dari *okei jangan pikirkan itu*, mungkin Minho membawanya ke rumah sakit, kan? Apalagi dia sampai lupa membawa ponsel nya? Orang yang lupa membawa benda pribadi seperti ponsel, biasanya karena ia sedang sangat terburu-buru…

“kau tau dimana rumah sakit tempat Taemin biasa memeriksakan kandungannya?”, pertanyaan basa-basi sebetulnya karena tentu saja Key pasti tau!! Jika Minho tidak bisa mengantar Taemin untuk periksa, ia pasti akan menyerahkan tanggung jawab itu pada sang Umma, Kim Keybum.

“Seoul Hospital, bersama Dokter Krystal. Kau tidak tau? Makanya jangan sibuk mengurusi bisnis mu, heiiii….”

Telfon diputus…

Ayam kurang ajar!!!

Ia segera keluar menuju mobilnya dan melaju menuju rumah sakit.

@ Seoul Hospital…

PUTIH…

Ini dimana?

“ahjussi, Minho ahjussi, kau sudah sadar?”, perlahan kudengar suara mungil memanggil nama ku. Apa aku sudah mati?

Perlahan kubuka mata.

Terlihat…bidadari kecil dengan wajah cemas menatap ku…

Apa benar aku sudah mati?

“ahjussi”, bidadari kecil itu menggerak-gerakkan tangannya di depan mataku.

“kau sudah sadar?”, ia mengulangi pertanyaannya.

“ini”, ia menyodorkan sesuatu. Sesuatu yang familiar di mataku. Coklat?

“Minzy?”, aku mencoba duduk.

Hhhh, ia menghela nafas lega dan membantuku untuk duduk.

“jinjjayo kau ini memalukan, ahjussi. Badan mu kekar, tapi jatuh pingsan sampai dokter Krystal kebingungan memanggil para perawat. Aku saja yang wanita dan masih kecil tidak pernah pingsan”, ia menyipitkan mata, meremehkan.

“aku…pingsan?”, mana mungkin?

“ini dimana?”, aku berusaha mengingat-ingat. Terakhir kali, aku ada di ruangan dokter dan ia memberitahuku…

“ruang perawatan. Kau dipindahkan kesini, sekamar dengan…”

Omoooo…

“Taemin”, reflek aku memanggil namanya dan melihat sekeliling.

“kenapa ia bisa dipindahkan kesini? Memang keadaannya sudah bisa dipindahkan dari ruang ICU?”, aku bertanya pada Minzy.

“aku tidak tau, tapi kata Dokter Krystal keadaannya sudah membaik”

Mengamati wajahnya. Wajah nya memang sudah tidak pucat. Ia lebih terlihat seperti orang yang tertidur tenang. Dua selang infus masih mensuplai kehidupannya. Untuk makanan dan obat, serta satu selang yang menghubungkan dengan kantong infus yang berisi cairan merah untuk menggantikan cairan di dalam tubuh karena pendarahannya.

“jadi, kakak cantik itu, namanya Taemin?”

Aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.

Aku memegang tangannya, masih sehangat dulu. Tidak pernah berubah. Mendekatkan wajahku, mata ku terpusat pada bibir plum itu, namun…

“ahjussi”, ah, aku lupa ada anak di bawah umur di ruangan ini. Aku menoleh…

“ia…sedang mengandung yaa?”, Minzy bertanya sambil mendekati kami.

Aku hanya mengangguk dan kembali memandang wajah angelic di hadapanku.

“hebat sekali. Padahal ia sama seperti mu kan?”, sama sepertimu? Oke aku mengerti maksud frase itu.

“ia pasti orang yang istimewa sampai Tuhan memberikan keistimewaan sebesar itu padanya”, ia berkata lembut sambil tetap memandang Taemin.

Aku menoleh menatap anak kecil di sebelah ku, “istimewa? Kau tidak menganggap nya…aneh?”, aku teringat kejadian di reunian ku waktu itu.

T               B                 C 

 

Gaaahhhh, 34 page bos!!! Gelaaaa, ini ff panjang banget yaaaakkk!!!!

 

Sekali lagi, kalo pendek, berarti dipotong!!!!

 

RCL yaaa..

 

Tengkyuuu so maaacchhhh, ma’acih udah setia nunggu nii ff.

 

Semoga sukaaaa…

 

Tha_tha Babaiiii…

PS : vienasoma yang potong…………… hohoho 

next chapt bakal  SERUUUUUU…………. KEREEEENNNNNNNNNNNNNNN….. DAEBAK POKOKX… ADAGERJFFDHERHRDFRE………… AMPE SAYA GK BISA MENJELASKANNYA DENGAN KATA2…. MINHO SUAMI IDAMAN… SI KEY YANG ASTAGA MENYIKSA ONJONGHO KARENA TETEM MW LAHIRAN…

KOMEN BNYK LGSG SAYA POST NTAR MALAM LANJUTANNYA…. 60 KOMEN.. REQ AUTHORNYA…

BUBYE….. *LAMBAI KOLOR 2MIN* 

59

[OnKey/Transgender/Sequel/3-?] We Got Married, Tried to be Honest for This Feeling…

[OnKey/Transgender/Sequel/3-?] We Got Married, Tried to be Honest for This Feeling…

Foreword :

Yap, OnKey is out!!! Ga tau sebenernya mau nulis apa, tapi gue cuma lagi pengen nulis.

Ma’aciiiihhhh yaaa buat semua orang yang ga bisa gue sebutin satu-satu yang udah ucapin selamat ulang tahun ke gue.

Waaahhh, aku sudah tuaaa *sedih*…

Love you all…

Specially, thanks to Sitaaaa, thanks buat kue dan coklat nya yaaaa. Enaaaaaakkkk bangeeeetttt…

Thanks to appaaaaaa, waaahhh ma’aciiih yaaa post an nyaa. Aku sukaaaaa. Kya kya kyaa.

Buat semua do’anya, Amiiiiiinnn ya Allah…

Do’a yang sama untuk kalian semua yaaa…

Semangaaaatttt!!!!!

Jangan lelah untuk terus berjuang dalam segala hal… okeeeyyyy…

Untuk OPO kayanya ntar-ntaran deh. Atau ada yang mau lanjutin? *lirik Aristyasannii Putri…

Gue entah kenapa kehilangan mood untuk bikin yang smuut-smuut gitu. Ga pede mungkin lebih tepatnya.

Jadi sabar-sabar aja yaaa.

Next ff, mau bikin cerita horor kayanya. Terinspirasi dari Mystery Six nya Super Junior (berhubung gue lagi berkhianat untuk kembali menjadi ELF, jadi inget reality show dulu mereka). Tapi ga tau bakal jadi kapan.

Yang pasti mah buat OPO bakalan masih lama kayanya. Huehehe.

Hope you likeeeyyy…

Cue…

By : TaeminhoShouldBeReal

@ YG Building…

“Unniieeeeee”, sang magnae 2ne1 mulai merajuk seperti biasa kepada leader kharismatik nya ini.

Saat ini mereka sedang ada di studio latihan YG Building untuk latihan koreografi lagu terbaru mereka, Ugly. Dan yaah, sekarang semuanya sedang istirahat setelah hampir 3 jam mereka menari. Park sister, Sandara dan Bom sedang ke bawah membeli sesuatu, CL sedang sibuk dengan I-Pad nya, dan sekarang, magnae mereka Minzy, sedang menggoda sang leader yang terlihat melamun di sofa.

“Unniiieee, sedang memikirkan apa?”, Minzy menyenggol lengan Key untuk menyadarkan lamunan sang leader.

“h-hah? aniyoo”, Key menjawab sekedarnya.

“bohoooong”

Zzzzz, anak ini, Key mulai merubah ekspresi nya, you-know-what-will-happen-if-you-disturb-me-look.

Minzy menunduk, ‘aku salah lagi’, pikirnya.

“Unnieeee, sudahlah. Jangan menatap seperti itu. Seperti tidak tau magnae kita ini saja. Ia hanya ingin tau dan khawatir padamu. Lagipula, tidak biasa-biasanya kau melamun begitu. Waeyo?”, CL datang mendekat sambil menjinjing I-Pad nya.

“aniyaa”. Hhuufftt, Key meniup poni di kening. Ia sudah malas kalau CL mulai berlaku bijak seperti ini. Ya, mereka seumur, 91’lines meskipun Key lebih tua beberapa bulan, namun dari segi kelakuan, ia memang jauh lebih bijak dari Key. Pada awalnya, saat 2ne1 baru terbentuk dan mereka belum debut, semua orang mengira CL yang akan menjadi leader 2ne1. secara kharismatik di atas panggung, yeoja cantik ini tidak telalu berbeda dengan Key, dan secara sifat, jelas ia jauh melebihi Key dalam hal mengurusi member yang lain, tapi entah kenapa President Yang malah memilih orang seperti Key untuk menjadi leader girl group ini dan masih dipertahankan sampai sekarang. Walau ada yang orang lain tidak ketahui. Ya, di mata para member 2ne1 sendiri, Key tau bahwa mereka lebih menganggap CL sebagai leader, bukan diri nya. Itu salah satu masalah mendasar dan paling internal di dalam girl group itu, yang Key simpan rapat-rapat tapi cukup membuatnya stress dan sakit hati!!

Minzy mendongak dan tersenyum begitu CL datang dan membelanya. Ia duduk menjauh dari Key agar Unnie nya satu ini bisa duduk diantara mereka. Yah, bisa dibilang, diantara mereka ber empat, CL, Sandara, Bom, dan Minzy, yang bisa menghandle leader mereka ketika sedang ‘bertaring’ seperti sekarang, memang hanya CL orangnya.

“Unniee”, CL mulai bertanya.

“hmmm”, lagi-lagi Key hanya menjawab sekedarnya. Ia mengeluarkan I-Pod nya dan mulai memasang headset. Terkesan sangat tidak sopan memang karena CL jelas menunjukkan kalau ia ingin bertanya dan bicara tapi orang yang diajak bicara malah mendengarkan musik. Tapi bagi semua member yang sudah bertahun-tahun bersama nya, kelakuan ‘aneh’ leader nya ini sudah dari dulu dan mereka sudah cukup tabah untuk menghadapinya.

“Unnnniiiiiieeeee”, ia mulai merajuk.

“apa? Aku mendengarkan, kau bicara saja”, ia masih mengutak-atik I-Pod nya.

“mmmmm, aku ingin bertanya tentang pasanganmu di reality show itu. Nugu?”

Ya, itu hal yang membuat penasaran semua orang karena Key sangat menutup mulut rapat-rapat soal pasangannya dan episode pertama mereka belum tayang karena masih dalam tahap editing.

“tonton saja episode pertamanya nanti”, tak disangka bibir tipis nya yang biasa mengeluarkan senyuman dingin dan sinis pada semua orang, kini sedikit tertarik meski mata kucing nya yang indah tetap menatap layar I-Pod canggih nya, dan tatapan itu, ya, tatapannya juga berbeda, mata itu terlihat lebih teduh dari biasanya, dan ia sedikit tersenyum, namun bukan senyuman yang biasa orang-orang di sekitar Key lihat. Detik ini, potongan memory pertemuan pertama mereka yang tergambar dalam otak nya lah yang membuat senyuman manis itu hadir. Hmmm, pertemuan yang aneh, sangat aneh!! Tapi entah kenapa bisa menimbulkan suatu sensasi yang Key sendiri tidak tau apa namanya. Berbeda, tidak menyenangkan namun….lucu dan hangat. Entah apa itu namanya.

CL dan Minzy berpandangan. Apa yang terjadi dengan leader mereka? Siapa orangnya yang bisa membuat ekpsresi Key berubah menjadi seperti itu?

“Unnnniiiiieeee, tell us”, keduanya kompak merajuk.

“tsk. Sudah latihan lagi!!”, ia melepas headset nya, bangkit dari sofa dan mulai menari seperti biasa.

Tapi, tatapan dan senyuman itu, tak bisa dibohongi!! Itu adalah ekspresi paling jujur yang pernah member mereka lihat hadir di wajah cantiknya walau hanya beberapa detik. Bahkan sekarang lihatlah, Key sudah berubah menjadi ia yang biasa, terkesan dingin dan untouchable.

Saat selesai latihan…

Begitu keluar dari studio, mereka berpapasan dengan rombongan senior mereka di Big Bang yang hari ini mempunyai jadwal memakai ruangan setelah latihan 2ne1. sontak muka Key memerah begitu melihat dia. Seorang Choi Seunghyun atau para fans lebih mengenalnya dengan nama TOP, nama yang diberikan oleh salah satu orang dalam YG Family juga, se7en. Hanya penampilan sederhana, dengan kaos polos putih dan celana training hitam serta topi hitam yang menutupi rambut blonde nya, tapi entah kenapa hanya dengan melihatnya saja, selalu bisa menimbulkan semburat merah di pipi putih sang leader cantik itu. Sudah jadi rahasia umum dalam YG Family, para fans, bahkan mungkin orang-orang di luar sana bahwa Key sangat mengidolakan TOP. Namja gagah, tampan, seksi, yang terbungkus dengan aura dingin dan terkesan misterius. Kyaaaa, ia namja yang sempurna dan sungguh sama dengan dirinya. Image Key yang sekarang pun bahkan tidak luput dari sasaran serangan media dan para netizen bahwa ia menjiplak image seorang TOP, karena Big Bang jelas lebih dahulu debut dibanding 2ne1, apalagi mereka tergabung dalam management yang sama. Tapi toh lagi-lagi seorang tough girl seperti Key jelas tidak bergeming dengan serangan murahan seperti itu. Ia tetap bertahan dengan diri dan image nya hingga lama kelamaan serangan itu berhenti dengan sendirinya.

Hanya basa-basi sebentar antara sunbae dengan dongsaeng nya. G-Dragon terlihat stylist luar biasa seperti ia biasanya namun wajahnya agak sedikit muram karena persoalan Big Bang mengenai daesung dan album mereka yang perilisannya harus tertunda. Biar bagaimanapun Key mengerti perasaannya. Untuk situasi seperti ini, leader memang dituntut untuk tetap bertanggung jawab atas keadaan member dan group nya ditengah dia yang harus mengatasi kegalauan perasaannya sendiri. Pasti berat tentu saja. Key hanya tersenyum dan berbisik ‘fighting’ dan sebagai balasannya GD hanya mengacak rambut panjang dongsaeng nya itu sambil tersenyum. Sudah sewajarnya diantara keluarga itu saling menguatkan, bukan?

Begitu di hadapan TOP, Key menunduk. Namun tak disangka, namja tampan itu malah berhenti sejenak di depannya dan menghalangi jalan Key.

“a-ah? Oppa?”, ia memberanikan diri menatap mata elang itu.

“annyeong Key”, ucap nya dengan suara bass yang….aaaahhhh, aku tidak bisa mendeskripsikannya. Bahkan lebih dari sekedar seksi menurut nya.

“a-ah? Annyeong Oppa”, lagi-lagi ia menunduk. Damn!! Kenapa harus menyapa ku sih? Dan kenapa bertahun-tahun melihatnya, aku tidak pernah sanggup juga untuk menatap mata itu?

“kudengar kau cast terbaru untuk WGM yaa? Siapa namja nya?”

DEG…

Kenapa coba ia harus menanyakan itu. Tangan Key mulai berkeringat. Apa jangan-jangan….

Key masih belum menjawab dan ia masih menunduk. Member 2ne1 yang lain mulai mengerubunginya. Kesempatan emas!! Tidak mungkin leader mereka menolak menjawab pertanyaan dari seorang TOP Oppa. Sementara member Big Bang yang lain sudah masuk ke dalam ruangan.

“kami sudah menanyakan berkali-kali tapi Unnie tidak mau menjawabnya, Oppa. Katanya kami disuruh menonton sendiri tayangan perdananya”, Minzy mencoba memanas-manasi suasana, namun ternyata…

“oh begitu? Kalau begitu kau tidak usah jawab! Aku akan langsung menonton episode pertamanya. Sepertinya akan menarik. Fighting Key”, kemudian ia masuk kedalam sambil mengacak rambut Key seperti yang dilakukan GD tadi.

HAH!! Ia tersenyum puas dan semburat di pipi nya semakin memerah. Sungguh ini hari keberuntungannya!! Ia tersenyum menang dengan wajah sombong pada magnae nya seolah berkata ‘turuti saja apa kata leader mu kalau tidak yaa begini hasilnya’, sementara ketiga member 2ne1 yang lain sibuk menjitak kepala magnae imut itu. Bodoh!! Karena kau kita kehilangan kesempatan mendapatkan informasi!!!

Saat di lobi…

“nona Key, ada titipan untuk anda”, seorang namja yang berdiri di belakang meja receptionist menyerahkan sebuah amplop kecil berwarna baby pink.

Key menghampiri meja receptionist dengan wajah sumringah karena elusan TOP Oppa tadi. Tapi begitu mendekat dan melihat ‘titipan’ itu, wajahnya langsung berubah 180 derajat.

Sebuah mission card? Lagi? Bahkan episode pertama saja belum tayang, sudah mau syuting episode ke dua? What the…. Aku harus bertemu namja bodoh itu lagi? Rusak sempurna sudah hari ini!!

“apa itu?”, seluruh member 2ne1 mendekat.

“apa sih? Ini untukku!”, Key menyembunyikan amplop baby pink itu di belakang punggungnya.

Keempat member berpandangan.

“WAE?”, ia mulai mengeluarkan ‘suara emas nya’ seperti biasa.

“hahahahahahahaha”, keempatnya sontak tertawa.

“YAK!!”, muka nya memerah. Sejak kapan mereka berani menertawakan ku? Sudah bosan hidup rupanya!!

“pffftttt”, mereka menutup mulut dengan punggung tangannya. Bukan tanpa alasan mereka berani mengambil resiko membuat macan betina ini mengeluarkan ‘taringnya’. Selama bertahun-tahun, bahkan sejak masa trainee, seorang Key tidak pernah bersikap kekanak-kanakan seperti tadi. Ergh, sikap macam itu, menyembunyikan barang di belakang punggung? Sejak kapan Key mengeluarkan sikap spontanitas yang seperti itu? Kalau Key ingin sesuatu untuknya tidak diketahui orang lain, dan Key memang orang yang seperti itu, seorang introvert yang cukup parah, ia langsung berjalan lebih dulu meninggalkan siapapun yang sedang bersamanya saat itu. Tapi sekarang? What the….

“Unnie, mianhae, tapi kau memang lucu sekali. Sejak kapan kau punya sifat kekanakan seperti itu?”, CL berkata sambil mati-matian menahan tawanya. Dorm mereka bisa diubahnya menjadi neraka kalau berani macam-macam dengan leader satu ini.

BLUSH…

Key menunduk. Ia baru sadar sifat spontanitas nya tadi sama sekali bukan Key yang biasa. Kurang ajar!! Kenapa aku tiba-tiba bisa bersikap seperti ini?

Ia berjalan duluan menuju van mereka sambil memberikan tatapan death glare yang ampuh menghentikan tawa empat yeoja cantik itu. Hanya satu dalam pikiran mereka saat melihat mata kucing itu, ‘AKU DAPAT MASALAH BESAR!!’.

@ SHINee Room, SM Building…

Ketiga ‘anak asuh’ SM Entertainment yang sekarang sedang berjalan pelan namun pasti mencapai puncak kesuksesannya, Kim Jonghyun, Choi Minho dan Lee Taemin sedang duduk melingkar di lantai. Ketiganya sedang menatap sosok yang sedang tersenyum tidak jelas sejak tadi. Sosok pencinta ayam, super ceroboh dan yang paling menyedihkan adalah sosok yang seperti itu yang menjadi leader mereka, Lee Jinki atau lebih dikenal dengan nama Onew [sangtae].

Ketiganya sama-sama menatap Onew yang duduk di atas sofa memegang sebuah mission card selanjutnya, namun tatapan ketiganya berbeda-beda. Taemin, magnae imut SHINee hanya bisa menatap hyung nya itu dengan tatapan innocent seolah berkata ‘Onew hyung kenapa yaa? Apa dia sedang bahagia?’, rapper SHINee sang flaming charisma menatap malas dengan mata bulat besarnya seolah ‘kenapa grup kami yang kebagian mempunyai leader dengan wajah sebodoh itu sih? Lihat wajahnya sekarang? Memalukan!’, dan leader vocal mereka, king of pervert Kim Jonghyun hanya menatap nya dengan yaaah you-know-what ‘apa isi mission card itu? Apa ajakan malam pertama mereka?’. Ya, tiga tatapan dari tiga orang berbeda yang mencerminkan kepribadian serta dominasi dari pikiran mereka.

“hyuuung, apa isinya?”, sang magnae mereka akhirnya membuka suara.

Onew akhirnya tersadar dari lamunan dan imajinasi hasil karya nya sendiri.

Ia menatap serius, melihat tatapan berbeda dari ketiga dongsaeng nya, “kenapa kalian menatap ku begitu? Yak! Minho! Jonghyun! Apa maksud tatapan mu?”, matanya menyipit curiga.

“kenapa hanya kami berdua yang disebut? Tae kan juga menatap mu!”, siapa lagi yang berani membantah Onew kalau bukan sesama leader, Jonghyun.

“hah? Kenapa aku jadi dibawa-bawa?”, seperti biasa magnae imut itu hanya bertanya polos.

“tatapan Taemin tidak ada yang aneh!! Hanya tatapan kalian berdua yang…mencurigakan!!”

“beritahu saja apa isinya!”, flaming charisma berusaha mempersingkat obrolan yang lebih sering berakhir dengan bertengkar. Tentu saja pertengkaran antar sesama leader, Onew dan Jonghyun, sedangkan ia memilih diam melihat, malas, dan Tae, haah, anak selugu itu tidak mengerti apa itu pertengkaran. Haah, sudah biasa.

“baca kan Taemin”, ia memberi kan kartu itu pada dongsaeng kesayangannya.

“YAK! KENAPA…”, omelan sang leader vocal terhenti ketika melihat tatapan dongsaeng nya yang bermata paling besar diantara mereka. Ish. Kenapa dia punya mata menakutkan begitu sih? Sungguh mengintimidasi!!

“boleh aku bacakan sekarang?”, Taemin melihat ketiga wajah hyung nya.

“bacakan saja”, suara Minho melembut sambil mengelus kepalanya, sayang. Diantara mereka, memang tidak ada yang bisa marah dengan anak manis satu ini, entah kenapa.

“hari ini, pukul 10.00 KST, datanglah ke rumah kalian. Disana kalian akan mendapatkan tantangan selanjutnya. Fighting!!”

Hanya sebuah pesan singkat tapi mampu membuat leader mereka tersenyum-senyum sejak pertama menerimanya dari manager mereka.

“jinjjaaa? Kalian sudah punya rumah hyung? Waaahh, seperti apa? Boleh kami berkunjung kesana?”, Taemin bertanya heboh.

“eemmm. Kau pasti suka Taemin. Hanya sebuah rumah kecil, tapi…indah!!”, ia kembali tersenyum. Rumah mungil itu kembali terbayang, lengkap dengan semua kejadian dan penghuni cantiknya.

Onew mengingat jadwal mereka hari ini. Sebetulnya hari ini mereka free, karena harus beristirahat untuk berangkat ke Nanjing besok untuk SHINee World Concert mereka. Hari ini mereka datang ke SM Building hanya untuk menerima beberapa pengarahan tentang keadaan dan proses begitu sampai disana, serta beberapa koreo yang dirasa masih kurang dihafal. Syuting WGM hari ini pun dijadwalkan selesai tidak terlalu malam. Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, 09.32. Setengah jam lagi syuting harus mulai. Sepertinya tidak apa-apa kalau kuajak mereka sebentar, sekalian ajang perkenalan calon kakak ipar mereka, pikir Onew senang.

“kajja, kids. Setengah jam lagi syutingnya dimulai. Kalau kalian mau ikut, cepat mandi lalu kita berangkat”

“asiiiiikkkk”, Taemin meloncat senang lalu langsung menghambur keluar lalu disusul Minho.

Saat Onew juga mau keluar,

“Onew hyung”, namanya dipanggil, dan ia menengok.

“mwo?”, ia menyahut malas.

“macan betinanya sudah dijinakkan, kan?”, ia mengejek lalu langsung berlari keluar.

“YAK!! KIM JONGHYUN!!”

Di van 2ne1…

Key duduk di kursi depan, sendirian, sementara ke tiga membernya berdempetan di kursi tengah dan Minzy sebagai magnae harus puas untuk selalu duduk di kursi belakang. Walau terkadang ada yang menemani, tapi susunan yang tidak pernah berubah adalah Key selalu duduk sendirian. Ia memang selalu seperti itu, sendirian, tertutup. Bahkan di dorm pun, Key memaksa untuk mendapatkan dorm mewah dengan 3 kamar karena ia hanya mau tidur sendirian. Jadilah saat ini, Key sendirian menempati kamar utama, Bom berbagi dengan Sandara, sedangkan Minzy sekamar dengan CL.

Van itu sunyi. Keempat mmeber 2ne1 yang biasa berisik hanya bisa mengunci mulut rapat-rapat karena hari itu mereka sudah mendapatkan masalah serius dengan menertawakan Key tadi di lobi, dan mereka jelas tidak mau lebih jauh ‘mengorbankan nyawa’ dengan membuat berisik van dan membuat mood Key semakin drop.

Dengan malas Key membuka amplop baby pink itu. Ish, warna norak!! Ia baca tulisan didalamnya [sama dengan yang diterima Onew]. Melihat jam tangan putih nya, 09.53. Sial!! Kalau begini ia harus langsung ke taman dan ke rumah bodoh bertemu dengan namja bodoh.

“huuftt”, ia kembali meniup poni nya. Memasukan kembali mission card itu ke dalam amplop dan meletakkannya ke dashboard. Tapi begitu membuka dashboard, matanya menangkap sesuatu yang ia tau persis apa itu karena memang barang itu miliknya. Senyjman jahil hadir di wajah cantiknya, ia ambil benda itu. Sebuah gulungan, tepatnya sebiah gulungan poster Choi Seunghyun. Yap, ia bahkan meminta poster TOP Oppa dari manager Big Bang. Sungguh itu hal yang paling malu ia kerjakan dalam hidup nya. Saat awal ia masih benar-benar sangat nge fans dengan TOP padahal mereka sudah ada dalam satu management meskipun 2ne1 belum debut. Hasilnya? Sebuah poster official lengkap dengan tanda tangan sang empunya foto, bahkan diberikan langsung oleh TOP. Dan sejak saat itulah seluruh YG Family tau bahwa yeoja cantik ini penggemar berat seorang TOP.

“oppa, langsung ke taman samping Chicken Restaurant”, ia kembali memerintah, tanpa ucapan ‘tolong’. Seorang nona muda yang biasa dilayani pelayan memang tidak terbiasa mengucapkan ‘kata sakti’ itu. Dan semua orang, supir, make-up artist bahkan manager mereka sudah terbiasa dengan sifat Key yang seperti itu. Dan kebanyakan, mereka semua lebih memilih untuk diam dibanding menanggapi.

Member yang lain berpandangan namun masih tidak berani bertanya satu kata pun.

Sesampainya di taman, “oppa antar mereka saja. Nanti aku hubungi kalau syutingnya sudah hampir selesai”

BLAM…

Pintu ditutup, lagi-lagi tanpa kata ‘terima kasih dan hati-hati di jalan’. Itulah seorang Kim Kibum.

Malas-malasan Key mulai memasuki area taman. Ketika sudah dekat dengan area rumah bodoh-maksudku rumah pohon nya, ia melihat rumah itu lebh ramai dibanding biasanya. Tapi bukan oleh kru. Ia menyembunyikan diri di balik sebiah pohon besar di dekat rumah pohon mereka, mengamati situasi. Sepertinya ada orang-orang baru, tapi tidak mungkin itu kru. Wajah mereka terlalu tampan dan mulus untuk seorang kru. Tunggu…tunggu, sepertinya aku kenal orang itu. Tapi pernah lihat dimana yaa?

Rambut blonde, wajah mirip perempuan dan terkesan kekanakkan.

Ia mengeluarkan ponselnya, searching sesuatu, ‘SHINee Member’.

“aaahhh, benar kan!! Itu member SHINee. Namja bodoh!! Buat apa dia mengajak seluruh membernya kesini? Mau pamer?! Apa mission card yang diterimanya beda dengan punyaku? Ish. Dasar acara bodoh!! Curang sekali!! 4 lawan 1??”, ia sibuk mengomel.

Tiba-tiba ponsel nya bergetar.

“yoboseyo”, PD nim menelfon. Sial!!

“nee oppa”

“Key, kau dimana? Syuting sudah hampir mulai, dan kau kedatangan tamu yang ingin bertemu”

Tamu? Cih!! Kenal saja tidak!!

“nee oppa aku segera sampai”

PIP…

Ottohke? Haruskah?

Ia akhirnya keluar dari ‘tempat persembunyian’ dengan wajah malas. Ia tidak suka keramaian, apalagi ditengah orang-orang yang tidak ia kenal.

“Key, kau sudah datang?”

“nee”, ia tersenyum sekedarnya.

Sementara di atas, “ah, Key, annyeoooooonnngggg”, Onew melambai dengan muka polos dari rumah mungil mereka.

Hah!! Ia memalingkan pandangan sambil sebelumnya tersenyum seadanya.

Masih saja dengan wajah bodoh!! Sudah kubilang tipe ideal ku itu TOP, kenapa ia tidak juga belajar sih? Ah, aku lupa, dia kan ayam. Dan ayam itu bodoh = =”

“wah, Key Noona, annyeong haseyo, nama ku Lee Taemin. Bangapseumnida”, seorang namja…err atau yeoja, ah entahlah, berambut blonde dengan wajah sangat imut melambai dari atas.

Kalau dari data yang barusan ia dapatkan, anak ini adalah magnae mereka, Lee Taemin. Apa karena bermarga Lee membuat magnae dan leader ini sama-sama mempunyai wajah polos yang terkesan bodoh begitu, yaa? Key sibuk berpikir.

Di atas sana…

“hyung, ternyata kalau dilihat dari dekat ia lebih cantik yaa? Matanya… Wow!!”

“yak! Pervert!! Dia itu istriku, jangan macam-macam kau Kim Jonghyun!! Dan kau froggie Choi Minho, ubah wajah mengintimidasi mu itu. Kalian ini mencontoh Taemin dengan menjadi anak manis kenapa tidak bisa sih? Ayo kebawah”, sang leader mengajak para dongsaeng nya ini menemui istri virtualnya.

“Key. Kenalkan ini…”, tangan Onew hendak merangkul pundak Key tapi detik itu juga ia langsung bergeser menjauh, sambil memberikan glare don’t-touch-me look. Jonghyun reflek tertawa, sementara Minho masih bisa menahan tawanya dengan menutup mulut, dan si imut Lee Taemin, ia masih tidak sadar apa yang baru saja terjadi.

“ini semua member SHINee. Ini magnae kami, Lee Taemin”

“sudah tau. Dia sudah memperkenalkan diri”, ucap Key pelan namun dingin dan hanya Onew di sampingnya yang bisa mendengar kalimat barusan. Ia mengatakan itu tetap dengan muka tersenyum walau senyum ramah itu tidak sampai di mata kucingnya. Mata itu tetap dingin sepert biasa. Otaknya sibuk menggumam ‘jangan sok akrab dengan ku namja bodoh hanya karena ada di depan member-member mu!!’.

Nyali Onew sedikit ciut. Semua permainan yang mereka lewati pada eps pertama kemarin apakah benar-benar tidak berarti apa-apa bagi yeoja cantik ini?

“ini leader vocal, Kim Jonghyun dan ini rapper SHINee, Choi Minho”, Onew langsung menyambung memperkenalkan Jonghyun dan Minho agar mencegah si pervert itu bersalaman dengan istri nya.

“dan semuanya, ini istriku, Kim Kibum, Leader 2ne1”, mata Key menyipit sinis begitu mendengar kata ‘istriku’. Sejak kapan?

Keempatnya saling membungkuk memberi salam.

“nah. Sudah. Kalian pulang dan istirsahat di dorm. Tidak ada lagi acara keluar. Kita akan sangat sibuk dan lelah besok!! Jadi simpan tenaga kalian hari ini!! kajja”, Onew memanggil manager mereka untuk membawa ketiga dongsaeng ini pulang.

“hyung, masa cuma begini?”, sang magnae protes sambil mempoutedkan bibirnya. Sedari tadi, mata Key tidak lepas melihat makhluk indah di depannya. Anak ini…kenapa begitu….manis? Wajahnya terlalu cantik untuk menjadi seorang pria. Apa Tuhan salah meniupkan arwah padanya?

“memangnya mau apa? Kau sudah ku ajak ke rumahku, sudah kukenalkan pada istriku, lalu apa lagi?”, lagi-lagi Key merasa telinganya terganggu dengan kata ‘istriku’ itu. Ergh, namja kurang ajar, membuat ku tidak bisa berkutik karena ada para member nya. Biar bagaimanapun, aku harus menjaga nama baik 2ne1 dan YG Entertainment jika di depan orang lain, apalagi boy group asuhan ‘management tetangga’ seperti SHINee.

“ini bahkan tak pantas disebut rumah, hyung”, Minho protes.

“memang”, Key berkata lirih sambil menunduk.

Member mu saja pintar. Masa leader nya bodoh? Apa tidak malu? Kalau aku, lebih baik mengundurkan diri!!

“aniyaa Minho hyuung, rumah ini sangat cantik, Minnie suka, hyuung”

Key mendongak, lagi-lagi menatap Taemin. Lihat sifat dan kesukaannya nya itu? Benar-benar sifat seorang Onew. Apa mereka sebetulnya kakak beradik kandung? Ia jadi teringat pada Minzy. Apa semua magnae seperti ini yaa? Mengganggu!! Tapi wajah seimut itu mana bisa dimarahi? Persis Minzy, kecuali aku, semua member tidak ada yang tega memarahinya.

“Key Noona, kau pasti juga menganggap rumah ini cantik kan?”, Taemin bertanya sambil tersenyum.

“a-ah? Nee, cantik”, bahkan aku pun tidak mampu membantahnya! Wah, ia pasti diberi keistimewaan di group nya.

“waaa, kita sependapat”, soraknya imut. Key masih menatapnya. Ia semakin yakin kalau Tuhan memang salah meniupkan arwah ke diri yeoj-maksudku namja ini.

“Jinki, Key, syuting segera dimulai”

“neee”, sahut keduanya.

“Jjong, Minho, Taemin, sudah pulang sana. Ingat, jangan kemana-mana!!! Istirahat di dorm full untuk hari ini!! Hyung, tolong awasi mereka yaa”, pesannya pada manager mereka yang keluar dari van.

Ketiga super star itu pun masuk ke mobil sambil meninggalka sebuah pesan singkat yang hanya mereka dan Key yang dengar karena Onew sedang diajak bicara oleh PD nim, agak jauh dari tempat mereka.

“Noona, tolong jaga hyung ku yaa. Dia sangat ceroboh. Jangan repot-repot mengubahnya karena kami saja yang enam tahun bersama sejak masa trainee, tidak juga bisa mengubahnya, hehe. Gomawoyo Noona. Fighting!!”, tentu saja ini adalah pesan dari si manis magnae mereka, Taemin.

“Key, mulai detik ini kau sepertinya harus terbiasa menghadapi ke sangtae annya. Mau bagaimana lagi, sepertinya itu kutukan. Tabah saja yaa”, pesan dari siapa namanya entahlah, namja bermata bulat besar.

“Key, sudahkah kau poppo…pppffffttttttt”, Minho membekap mulut hyung pervert nya ini dan menyeretnya ke dalam van. Bikin malu saja!!

“annyeong Key”, ucap Minho sambil tetap membekap mulut Jonghyun.

“Noona, annyeeeooong. fightiiiinggg”, mau tidak mau Key tersenyum melihat anak manis satu ini.

Akhirnya van itu pergi dan syuting dimulai…

Mereka berdua naik ke atas rumah pohon.

Sabil menunggu smeua persiapannya…

“gulungan apa yang kau bawa itu?”, Onew menunjuk pada gulungan yang dibawa Key.

“ah ini”, wajah Key tiba-tiba sumringah.

“kyaaaaaaaa”, ia berteriak sambil membuka gulungan yang sudah ditempel perekat di belakangnya, dan ia tempelkan di tembok.

Terbukalah sesosok wajah yang cukup familiar di mata Onew.

“TOP hyung?”

“kyaaaaaaaa”, Key lagi-lagi berteriak tidak jelas.

“kau mengenalnya? Yah tentu saja siapa yang tidak mengenal TOP Oppaaaa. Aaaaaa, jinjjaaa dia tampan sekali kaaaannnn? Seorang namja itu harusnya seperti ini!! Tampan…misterius….seksiiii, kyaaaaa”, kini semburat merah sudah sepenuhnya hadir di pipi tirus itu. Memory TOP mengelusnya hadir dengan jelas di otak Key., membuatnya semakin tersipu.

Onew menatapnya lekat, bergantian. Key… Poster itu. Sesosok wajah dingin namun luar biasa tampan terpampang jelas disana. Ia menunduk? Apa sudah tidak ada kesempatan? Lihat dirinya? 180 derajat berbeda dengan namja tampan di poster itu. Sebanyak apapun Onew merubah dirinya, ia tetaplah ia yang sekarang dan tidak mungkin menjadi seorang namja di poster ini.

“ayam, kau kenapa?”

“ah, aniyaa”, ia tersenyum. Key tau namja di depannya sedang memikirkan sesuatu…entah apa. Tapi, ah, apa peduliku?

PD nim naik ke atas rumah mereka, melihat poster yang baru tertempel disana.

“Seunghyun? Siapa yang menempelnya?”

“akuuu. Bolehkah?”

“emm. Kau fans nya? Kalian kan satu management?”, PD nim bertanya heran.

“tidak bolehkah orang satu management saling mengagumi?”, sekarang justru Key yang heran.

“bukan begitu. Hanya tidak biasa saja. Kalian kan setiap hari bertemu. Sudahlah…ini tantangan kedua kalian”, PD nim segera berikan penjelasan tentang tantangan kedua mereka.

Dan ternyata….

“WHAT?”

“MWO?“, ucap mereka berbarengan.

TEEE BEEEE CEEEEE

80

[OnKey/Transgender/Sequel] We Got Married PART 2, We Begin to Knowing Each Other…

[OnKey/Transgender/Sequel] We Got Married PART 2, We Begin to Knowing Each Other…


Foreword :

Ada yang nungguin ff ini? Banyak yah *PeDe gila gueee*. Candaaa!! Maaf yah lama update. Aku nunggu mood dan ilham *siapa yang namanya ilham, ga dateng-dateng gue tungguin?*.

Ini bakalan ga jelas karena untuk kesekian kalinya gue nulis tanpa ada ide awal, jadi suka-suka tangan aja mau ngetik apaan.

Makasiiiiii banget suunders dan seluruh OKS di WP nya Appa Viena, ya ampuuuuunn kalian ini salah makan apa sih bisa suka sama FF ga jelas kemaren. Itu bener-bener ff OnKey pertama aku, makanya ga PeDe parah buat publish, itu engga bangeeettt, eeerrggghhh, kalo inget-inget males sendiri. Sekali lagi thankiss suundeers dan para OKS. ILYSM deh pokoknya maaahhhh. Maaf yaa kalo hasil ini juga ga seperti yang kalian bayangin atau kalian mau. Kalau ada ide tentang OnKey ke depannya, plis kasih tau aku yaaaa. Bikin OnKey ternyata lebih susah dibanding 2min.gue modal nekat doang sama ketidak mampuan menolak permintaan si cantik Viena itu untuk nulis ff OnKey ini.

Udah ah banyak omong…

Hope you likey…

Cue…

[eh gue bikin ini sambil dengerin lagu ciptaannya abang Dongeee di 5jib, beneran judulnya cuma ‘Y’ yak? Untung lagunya enak, kalo engga pasti gue judge nii lagu aneeehh, judul nya cuma satu huruf!! Dan lagi-lagi, I Love Mr.Simple Sooooo Much, ALRIGHT!!! Ahahaha. Jadi nii ff pasti hasilnya yaaahhh…simpel-simpel ajaaa!! LOL. Gue lagi tergila-gila 5jib niiihh. EunSiHae, aaaaaa, saranghae cup cup muach deh pokoknya. Jarang-jarang lah gue bilang si anchovies ganteng. Ahahaha/digampar. Yuk sama-sama berdoa piala GDA yang mengantar kepergian Teuki Teuki Leeteuk, sama Chullie Noona wamil. Moga skenario nya SM tahun ini, SuJu yang menang!! Kan kemaren, udah di skenario in para tante sonyuside yang menang tuh, hehehe.

FYI : baru 2 hari MV Mr.Simple udah diliat hampir 3 juta orang!! Padahal Bonamana butuh waktu 4-5 hari untuk nembus penonton 2 juta orang!!]

By : TaeminhoShouldBeReal

Welcome to Your New House, OnKey Couple….

“WHAT??”

Key kembali mengeluarkan suara nyaringnya sampai Onew yang berjalan di belakangnya tanpa sadar mundur selangkah.

“RUMAH MACAM APA INI???”, ia meradang!! Emosi jelas terpancar di mata kucing itu sambil menatap ke atas, ke arah ‘rumah sementara’ yang dimaksud di mission card bodoh itu!! Acara bodoh, pasangan bodoh, mission card bodoh, sekarang rumah yang bodoh…. Errrggghhh, kenapa semua hal di sekelilingku saat ini semuanya BODOH!!! Key sibuk mengumpat.

Sementara pria tampan berwajah lucu di belakangnya juga menatap ke objek yang sama namun dengan ekspresi yang sangat berbeda. Ia tersenyum. Tiba-tiba kenangan masa kecil nya hadir. Waaahhh, acara ini semakin menarik saja. Ia yang sedari tadi ada di belakang Key, kini mulai berjalan ke depan dan naik ke atas.

Kalian ingin tau seperti apa yang dimaksud ‘rumah sementara’ itu?

 [GAMBAR]

 Yak. Sebuah RUMAH POHON!!!

[sebetulnya gue terinspirasi dari adam couple yang rumah sementara nya itu kontainer. Tadinya mau dibikin kontainer juga. Tapi takut malah di bash sama pencinta adam couple disini, makanya gue ganti jadi rumah pohon. Pokoknya gue mau tetep sesuatu yang unik!!]

Di area tertentu di taman, dibatasi pagar pendek, dilatarbelakangi langit sore yang yang indah, dan rumah kecil cantik di atas sana, membuat siapapun pasti ingin naik ke atasnya. Yaaah, walaupun ada pengecualian untuk yeoja cantik bermata kucing ini.

“YAK YAK!! MAU KEMANA KAU?” Key masih belum merendahkan nadanya.

Onew yang sudah masuk ke dalam area yang di pagari, menengok ke sumber suara. Ah, ia lupa kalau ia datang ke sini tidak sendirian!!

“kau ini kenapa berteriak terus dari tadi?”, ia malah balik bertanya. Heran!! Kalau tidak sinis, diam, sekarang teriak. Apa leader satu ini memang tidak bisa bicara normal ya? Onew bahkan benar-benar memikirkan pikiran aneh nya itu.

“KAU KEBERATAN?”

Onew memutar bola matanya. Sudahlah!! Ia mulai naik.

“YAAKKK!!!”, Key kembali berteriak sambil maju mendekat selangkah namun belum masuk ke area dalam. Hanya sedikit mendekat ke pagar mungil itu.

“aku punya nama dan nama ku bukan ‘yak’”, sahut Onew santai sambil terus naik.

“KAU!!”, Key makin emosi. Sebetulnya…..ah aku malu harus mengakui. Rumah pohon itu terlihat cantik dan sebetulnya ia juga ingin naik ke atas. Tapi…..ia tidak tau bagaimana caranya!! Pertama, ia tidak pernah punya rumah pohon karena ia sedikit takut pada ketinggian, dan kedua, ia tidak pernah naik ke manapun melalui tangga kayu yang terlihat rapuh itu!! Biasanya kan ia naik dengan eskalator atau elevator!! Atau paling tidak, tangga biasa yang terlihat layak! Tapi sekarang, jujur saja ia takut melihat tangga itu agak berderit ketika dinaiki si leader SHINee itu entah siapa namanya [yak kau benar, KEY LUPA NAMANYA]. Ia takut ketika si leader itu naik, tangga nya rubuh lalu ia jatuh, bagaimana? [wait wait!! Kenapa aku jadi khawatir pada orang aneh itu?? Errrgghhh, kau pasti sudah gila Kim Keybum!!].

Onew sudah sampai diatas. Dan pertama kali reaksi nya adalah ‘woaaahhh’. Ini lebih bagus dari rumah pohon yang dibuat oleh dia dan Appa nya sewaktu dia kecil di halaman rumah mereka. Dari bawah, ini terlihat kecil, namun ternyata begitu masuk ke dalam, tidak sesempit yang ia bayangkan. Setidaknya ini lebih besar di banding rumah pohon masa kecil nya dulu. Ada karpet bundar dan diatas nya ada meja bundar serta dua kursi kayu kecil. Diatas meja itu ada kotak tertutup dan diatas nya seperti sebuah kartu. Mission card lagi? Ia memutuskan untuk membukanya nanti. Ia sedang menikmati rumah mungil nya ini. Ia tertawa samapi matanya tinggal segaris. Benar-benar seperti rumah di dongeng-dongeng. Atapnya melengkung dan ada lampu kecil yang menerangi ruangan itu. Meskipun rumah pohon, ternyata itu tetap diberikan listrik oleh PD nim. Ada space untuk mereka tidur sambil melihat langit. Dua buah kantung tidur sudah diletakkan disana. Apa mereka akan tidur bersama malam ini? Reflek Onew mengelus tengkuk nya dan mukanya memerah. Sudahlah, tidak usah dipikirkan!! Ia menatap keluar. Dilihat dari atas, pemadangan langit sore ternyata lebih indah!! Ia keluar ke ‘balkon’, dan disana….

Ia baru sadar kalau istri virtual nya itu masih dibawah sambil bersedekap dengan muka bosan. Hahaha, ia sebetulnya ingin tertawa melihat ekspresi itu. Entah kenapa, Key terlihat, eeeemmmm….mungkin imut di mata Onew.

“Key, kenapa kau masih disitu? Tidak naik? Disini indah sekali!!”, ia berteriak cukup keras.

“yak! Kau pikir bagaimana cara nya aku naik!!”, Key emosi menghadapi namja di depannya ini. Kenapa jadi cowo tapi tidak peka sekali sih!! Bikin sebal!!

Lah, kali ini Onew yang bingung. Apa mata nya tidak melihat ada tangga? Dia terlalu banyak memandang sinis orang siih makanya matanya bermasalah, pikir Onew polos.

“itu ada tangga. Kau tidak liat?”

“KAU PIKIR AKU BUTA!!”, namja kurang ajar!! Aku juga tau ada tangga!! Ish. Jinjjayooo namja ini!!

Kru WGM yang sedari tadi meliput mereka tak henti-henti nya tersenyum. Pasangan ini persis Tom and Jerry, setiap bertemu tidak pernah bisa akur!! Yeoja nya galak, namja nya polos!! Perpaduan yang menyenangkan untuk ditonton!! PD nim bahkan optimis penayangan WGM untuk OnKey couple pasti mendapat kan rating tinggi!! Ini penyegaran baru di tengah pasangan-pasangan WGM lain yang akur-akur saja!!

Hhhhh, Onew hanya mengehela nafas. Sudah berapa kali hari ini aku kena semprot yeoja cantik ini? Mimpi apa aku semalam? Kalau WGM ini tayang, harga diriku sepertinya benar-benar akan jatuh!! Mudah-mudahan aku tidak kena masalah oleh President Kim (CEO SM) dan Lee Soo Man sonsaengnim karena mempermalukan SM.

“yasudah kau tinggal naik lewat tangga kan?”, ia mencoba sabar!!

Key semakin emosi!! Namja ini benar-benar tidak peka, polos, atau ingin mempermainkan aku sih?

Ia melihat ke sekeliling. Urgh, ditertawakan!! Kurang ajar!! Aku kelihatan bodoh kalau begini!!

Bukan Kim Kibum, Leader Girl Group paling keren di Korea namanya kalau ia tidak bisa menyelamatkan harga diri nya, “KAU!! KAU INGIN MEMBUNUHKU YAA!!  KAU TIDAK LIHAT TANGGA NYA RAPUH BEGITU!! KALAU AKU JATUH, LALU CEDEA ATAU BAHKAN MATI, BAGAIMANA? KAU MAU TANGGUNG JAWAB APA PADA PRESIDENT YANG HYUN SUK, SELURUH YG FAMILY DAN PADA ORANG TUAKU, HAH?”

Wow, itu kalimat terpanjang yang Key ucapkan pada Onew hari ini. Ternyata yeoja ini kenal yang namanya kalimat!! Kirain hanya mengenal kata!! Suatu keamjuan besar!! Ia tersenyum.

Melihat Onew tersenyum begitu, Key semakin emosi! Namja ini benar-benar mau membuatku mati kena darah tinggi atau serangan jantung yaa?

“hei, leader. Kau ini berlebihan. Aku kan sudah naik dan nyatanya aku baik-baik saja kan? Tangga itu tidak serapuh kelihatannya kok“, Onew berbicara sambil masih tersenyum.

Key memicingkan mata. Memang sih dia tidak jatuh. Dan jelas berat badan Key juga pasti lebih ringan dibanding dia. Tapi tetap saja kan!! Bagaimana kalau karena sudah dinaiki dia, tangga itu jadi rapuh, lalu pas aku naiki, jadi jatuh!!

“Key, ada mission card lagi yang harus kita buka disini. Cepatlah naik. Hari semakin malam”

“MWO? MISSION CARD?”, ia kembali berteriak. SHIT!! Kenapa penderitaanku belum juga berakhir hari ini!!

“KAU BUKA LALU BACAKAN PADAKU SEKARANG!!”, ia memerintah.

“shireo! Kita baca bersama”

Key kaget. Selama ini perintah nya tidak pernah ditolak!!

“HEH, KAU!! AKU INI LEADER!! PERINTAH LEADER HARUS DITURUTI”

Onew tertawa.

“lalu? Kau lupa kalau aku juga leader? Peraturannya sesama leader tidak punya kuasa untuk saling memerintah, jadi maaf yaa LEADER”, Onew menekankan kata terakhir.

Shit!! Ia lupa kalau ia juga sedang berhadapan dengan leader!! Jangan kan status nya, namanya saja lupa!! Makanya dari tadi ia hanya memanggil ‘kau’.

“kalau kau disitu terus, syuting ini tidak selesai-selesai!! Bukannya anak-anak YG Ent.itu SIBUK?”, lagi-lagi ia menekankan kata terakhir! Ikuti saja kemauan yeoja ini.

“tentu saja kami sibuk!”, Key bicara angkuh.

“kalau begitu bisa kah kau naik ke atas sini dan cepat selesaikan syuting hari ini?”

Ia mulai berfikir. Besok memang ia ada jadwal pagi, dan hari sudah semakin malam. Kalau ia disini terus, syuting tidak akan ada perkembangan. Akhirnya, dengan jantung berdebar, ia mulai masuk ke area dalam pagar, sampai tepat di hadapan tangga kayu itu. Ia melihat ke atas, leader SHINee itu sedang duduk dengan kaki menjuntai ke bawah sambil tersenyum dengan wajah lucu-maksudku dengan wajah bodoh nya!!

“ayo naik”

Key menatapnya sinis. Sebetulnya ia takut! Tapi masa ia harus mengaku!! Mau taruh dimana mukanya? Akhirnya, harga diri tinggi seorang leader serta image cool dan dingin yang sudah bertahun-tahun susah payah dibangun dan dijaganya lebih besar daripada rasa takut nya.

Injakan pertama, kayu nya sebetulnya agak berderit. Jantungnya mulai memompa darah lebih cepat dari biasanya. Tangannya mulai berkeringat. Tenang Key, jangan menjatuhkan harga dirimu dengan jatuh!!

Pijakan kedua, ia sedikit lebih tenang. Setidaknya ia sudah berhasil melewati tangga pertama. Begitu melihat ke atas, namja aneh itu masih menatapnya.

“YAK!! KAU TIDAK ADA KERJAAN LAIN SELAIN MENATAP KU??”

Sebetulnya entah kenapa ia gugup diliati seperti itu. Kenapa tatapan bodohnya itu bisa membuat jantung ku semakin berdebar sih? Key bingung sendiri dengan perasaannya.

“anii. Aku hanya bingung kau naik tangga lama sekali. Atauuuu…”, Onew tersenyum jahil.

“kau takut ya?”

BLUSH, wajah Key memerah.

Kurang ajar!! Ia serasa ditampar!!

“MUSUN SORIYA? MANA MUNGKIN LEADER TAKUT HANYA DENGAN SEPERTI INI!!”, Key masih tidak bergerak dari tangga kedua.

“biar bagaimanapun, leader itu manusia. Punya rasa takut itu wajar! Kau ini lucu”, Onew bangun dari duduknya sambil menepuk-nepuk celana nya untuk menghilangkan debu, lalu masuk ke dalam.

Melihat Onew yang meninggalkannya, reflek ia berteriak, “YAK!! MAU KEMANA KAU?”

Onew menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Key. Yeoja ini sungguh aneh. Diliatin, ia disemprot. Ditinggal pergi, ia juga kena semprot. Lalu ia harus bagaimana coba?

“kau ini mau aku melakukan apa sih jadinya?”, Onew bertanya heran.

Key terdiam. Kenapa namja ini selalu menanyakan pertanyaan yang susah ia jawab!! Kemana otak cerdas mu Key? Masa kalah dengan namja bodoh ini?

“diam disitu”, Key menjawab sinis. Ia melanjutkan langkahnya.

Sampai ditangga paling atas, baju nya tersangkut kayu. Ia mau melepaskan, tapi bagaimana? Dua tangannya sedang memegang tangga. Kalau dilepaskan, ia pasti jatuh. Tiba-tiba….

Sebuah tangan terulur. Key melihat ke atas. Sang leader SHINee yang bahkan namanya pun ia lupa sedang menjulurkan tangan ke arah nya tanpa kata.

Sedetik…dua detik….tiga detik… Key berfikir. Onew masih menjulurkan tangannya, menunggu…

Akhir nya Key menyambut tangan kekar itu. Tangan kanan nya digenggam Onew dan tangan kiri nya melepaskan baju yang tersangkut itu.

Begitu tangan kecil itu digenggam oleh tangan si kekar, entah kenapa darahnya tiba-tiba berdesir. Ada suatu perasaan di dalam sana yang Key belum pernah merasakannya dan tidak tau itu apa. Tanpa ia tau, diatas sana, Onew juga sedang merasakan hal yang persis sama. Key merasakan suatu kehangatan yang sulit dijelaskan, sementara Onew merasakan suatu kenyamanan yang juga sulit dijelaskan. Satu hal yang sama, tanpa disadari, mereka menikmati perasaan itu.

Sesampainya diatas, tanpa sadar mereka masih saling menggenggam. Key terpana melihat pemandangan di depannya. Langit sore Seoul yang luar biasa!! Ia sangat senang melihat langit, namun kali ini adalah langit paling indah yang pernah ia lihat!! Ia memang sering melihat langit dari tempat tinggi, rooftop YG Building, tapi hasilnya….berbeda!! Saat ini, langit dihiasi dengan cahaya sunset yang terbias dari sela-sela pepohonan taman. Ia membeku, tidak sadar bahwa tangan mungil nya masih digenggam sang namja tampan yang juga melihat ke arah yang sama!!

“indah kan?”

Key terdiam. Ini….jauh lebih dari sekedar indah!!

Pertanyaannya tidak dijawab, Onew menoleh, menatap yeoja cantik disampingnya. Ia terlihat jauh lebih cantik dengan ekspresi seperti ini, dan Onew memang baru sekali ini melihat wajah Key dihiasi ekspresi seperti saat ini. Biasanya wajah cantik itu hanya dihiasi ekspresi angkuh dan dingin. Tapi saat ini? Onew tersenyum. Ia bahkan tidak sadar kalau tangannya masih menggenggam tangan mungil itu.

Kamera kru WGM semakin intens merekam. Ah, akhirnya moment ini hadir juga!! Jarang-jarang Tom and Jerry bisa akur seperti Spongebob dan Patrick!!

“aku rindu pemandangan ini. Terakhir aku melihat ini, sewaktu aku TK”, kenangan itu kembali memenuhi otak leader SHINee yang sekarang beranjak dewasa dan menjadi super star. Kehidupan yang 180 derajat berbeda dari dulu!! Ia kembali memandang ke depan.

Kali ini Key yang menoleh memandang namja di samping nya, “kau…punya rumah pohon?”

“dulu. Sewaktu kecil. Rumah pohon yang aku bangun bersama Appa di halaman rumah kami. Hanya sebuah rumah yang kecil dan sederhana, tapi mengandung kenangan yang luar biasa! Kenangan saat kami susah payah membangunnya, kenangan saat aku bermain kesana, kenangan saat aku sembunyi disana kalau dimarahi Umma, bahkan kenangan ketika aku jatuh dan harus di opname di rumah sakit yang menyebabkan rumah pohon itu dihancurkan Appa atas perintah Umma”

Key memalingkan wajahnya, kembali melihat ke depan. Ada perasaan….. mungkin…. iri!! Yah, mungkin!! Karena sebetulnya ia tidak tau seperti apa perasaan iri itu!! Ia lahir dari keluarga kaya namun sibuk. Dan Key adalah anak tunggal, ia tidak punya saudara. Jadi masa kecil nya dihabiskan sendirian dengan penjagaan ketat para pelayan nya. Jangan kan membangun rumah pohon, main keluar pun ia dilarang. Ia habiskan waktu nya dengan belajar dan berbagai macam les. Itupun privat di rumah. Pelajaran, vocal, alat musik, bahkan sampai balet, semuanya dilakukan dan disediakan segala fasilitas nya di rumah nya yang seperti castle itu. Karena itu, ia memang tumbuh menjadi anak yang punya berbagai keahlian dan membawanya masuk ke salah satu managemen artist terbesar di Korea dan langsung menduduki jabatan leader walau bukan ia yang tertua di group nya.

Ia selalu berhadapan dengan orang-orang sibuk dan perfeksionis, karena itu, ketika tumbuh besar, ia pun menjadi seseorang yang perfeksionis dan tidak pernah memikirkan perasaan orang lain!! Ingat kan ia menghabiskan masa kecil dengan pelayan? Walaupun masih anak kecil, di mata mereka, Key tetap majikan yang harus dihormati dan mereka sangat menjaga jarak, tidak bisa diajak bermain!! Mereka hanya ada untuk menuruti segala permintaan sang nona muda. Karena itu ketika besar, ia terbiasa memerintah tanpa memikirkan dahulu perasaan orang yang diperintah nya dan segala perintahnya harus dituruti!! Belum lagi status nya sebagai leader dan ‘blue chip’ perusahaan, dimana Key adalah salah satu aset paling berharga YG Entertainment. Jadi kenyamanannya adalah faktor mutlak yang harus perusahaan turuti untuk membuat Key tetap bertahan di YG. Semua kisah itu yang melatar belakangi sifat Key saat ini. Ia menjadi anak yang introvert, keras kepala, dingin, tukang perintah, dan tentu saja angkuh!!

Tapi sekarang, karena namja bodoh di sebelahnya ini, ia akhir nya merasakan satu hal…iri!!! Dan ternyata, sungguh rasanya tidak enak!!

Ia menunduk. Tiba-tiba matanya melihat tangannya masih digenggam oleh namja ini. Saat itu juga ia langsung melepaskan tangannya paksa dari sang namja.

“YAK!! PERVERT!!”, Key mengamuk.

Onew pun kaget!! Ia juga tidak sadar kalau tangannya masih menggenggam tangan macan betina ini [macan ga punya tangan baang]. Sekarang dibilang pervert pula!!

“hah? Aku juga tidak tau!!”

“YAK!! BAGAIMANA KAU TIDAK TAU KALAU MENGGENGGAM TANGAN ORANG LAIN??”

“lalu aku tanya, kau juga bagaimana tidak tau kalau tangan mu digenggam orang lain?”

“Cut…”

PD nim berteriak.

“ganti kaset dulu. Sudah cukup bertengkar nya. Setelah ini  waktunya kalian membuka mission card, oke”

Ia pun berbalik dan mulai sibuk mengatur kru yang lain.

“pervert!”, Key menjitak kepala Onew dan berjalan menjauh, duduk di balkon rumah mereka sambil memandang langit yang sudah mulai gelap.

“YAK!! SAKIT!!”. Ish, dasar yeoja gila!!

Onew duduk di kursi bundar namun tiba-tiba…..

GUBRAK….

Key seketika menoleh ke dalam. Ia melihat Onew jatuh di lantai karena kursi kecil yang coba ia duduki terguling.

“hahahahhahaha”, Key tertawa puas sambil masuk ke dalam. Dasar namja bodoh!! Kenapa ia hobby sekali jatuh?

Kru WGM yang lain tidak bergeming. Onew jatuh? Sudah biasa!!

“sudah dua kali kau jatuh di depanku hari ini. Pertama di restoran dan sekarang disini. Bahkan keledai pun tidak jatuh di lubang yang sama dua kali!!”, bukannya membantu suami nya yang masih kesakitan, ia malah terus tertawa.

“sebetulnya aku sudah 7 kali jatuh hari ini. 4 kali di rumah sebelum syuting ini, 1 kali di jalan, dan 2 kali disini”, Onew menjelaskan polos dengan muka meringis menahan sakit.

Key semakin tertawa keras. Kenapa orang begini bisa diangkat jadi leader? SM sungguh aneh!! Malang sekali nasib SHINee punya leader seperti dia!!

“itu sudah biasa. Ia di juluki Onew sangtae karena sifatnya yang seperti ini!! Jadi jangan heran. Ia memang sepertinya punya masalah dalam hal keseimbangan. Sudah ayo syuting lagi”, PD nim datang dan menjelaskan pada Key yang masih saja tertawa sampai keluar air mata di sudut mata kucingnya.

Uurrghh, wajah Onew semakin memerah. Kalau ia dikatakan seperti itu di hadapan member nya atau setidaknya SM Town sih tidak masalah. Tapi ini kan dihadapan Key!! Bunuh saja aku hyung!!

“jinjjayo oppaa? Woaaahh, pantas saja kau jatuh dari rumah pohon waktu kecil. Aku tidak heran!!“, Key masih tertawa namun di dalam hatinya sedikit lega. Oohh, namanya Onew!! Akhirnya aku tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana untuk tau namanya tanpa menghilangkan harga diri!! Key mengingat nama itu baik-baik!!

Akhirnya syuting dimulai kembali…

Mereka masuk ke dalam rumah. Memutuskan duduk di lantai daripada untuk meminimalisir akibat yang mungkin terjadi.

Mereka membuka mission card…

“buka kotak ini, pakai yang ada di dalamnya, kemudian berputar belalai gajah selama 10 putaran, ambil sumpit yang sudah disediakan. Yang mendapat sumpit yang diujungnya ada tanda merah, artinya ia berhak menentukan kotak yang berisi pertanyaan yang harus kalian jawab. Yang menjawab salah atau terlambat, akan mendapat hukuman yaitu coretan dengan lipstick yang sudah disediakan, dan diakhir, yang mendapat hukuman paling banyak, tidak boleh membersihkan wajahnya dan pulang dengan keadaan tanpa melepas baju yang kalain pakai selama permainan”

Mereka berpandangan. Yak!! Permainan bodoh apa lagi ini!!

“kau buka kotaknya!”, Key lagi-lagi memerintah.

Hhhh, Onew yang sudah mulai terbiasa dengan tingkah polah macan betina ini hanya bisa mengikuti.

Agak sedikit gemetar, ia membuka tutup kotak yang ukurannya lumayan besar. Key duduk menjauh. Tidak lucu begitu dibuka tiba-tiba ada yang keluar atau meloncat dari dalam!! Awas saja!!

Onew membuka kotaknya pelan-pelan sambil menutup mata. Jujur saja ia juga takut!! Begitu kotaknya terbuka, ia segera lari menjauh dan GUBRAK…lagi-lagi terjatuh karena terpeleset di karpet. Sudah 8 kali!! Sebenar nya berapa rekor orang ini terjatuh dalam satu hari? Key hanya memutar bola mata tak sanggup tertawa karena ia khawatir apa yang ada dalam kotak yang kini sudah terbuka itu.

Tidak ada sesuatu yang aneh yang muncul, Key memberanikan diri mendekat.

Begitu ia lihat isinya, “IGE MWOYAAA?”, ia kembali berteriak histeris.

Onew yang penasaran akhirnya mendekat.

Key mengeluarkan satu item.

Baju…..badut??

Hah? Onew sepertinya eknal dengan bentu itu.

“ayaaaammm”, serunya girang.

Key yang melihatnya malah takjub. Ia melempar baju itu ke arah Onew dan mengambil baju satu lagi.

“WHAT? SHOULD I WEARING THIS STUPID THING??”

“miaaauuuwww”, Onew kembali menggoda Key.

“hahahaha, baju itu terlalu lucu untukmu!! Kau seharusnya di beri baju macan, baru pas!!”

Bletak…

“YAK!! KAU INI YEOJA ATAU PREMAN SEBETULNYA!!”

Salah kau mengajak bercanda macan betina!!

PD nim memberikan tanda pada mereka untuk memakai baju tersebut.

Air wajah Key benar-benar kesal!! Apa nanti kata blackjack kalau melihatnya memakai baju begini!! Apa kata YG Family, apa kata TOP oppaaa? Ottohkeee!!!

Sementara, sebaliknya, Onew dengan senang hati mulai memakai pakaian itu. Selama bentuk nya ayam, semua nya akan baik-baik saja!!!

Onew sudah selesai sementara Key masih tetap tidak bergeming.

Ketika pakaian itu sudah lengkap dipakai dan leader SHINee itu sduah bertransformasi menjadi OnChicken, Key yang melihatnya langsung tertawa. Dengan pipi chubby dan pakaian seperti itu, ahahaha, kenapa seorang namja bisa terlihat se imut ini?

“kenapa kau tertawa? Memangnya aku memakai nya terbalik yaa??”, tanya Onew polos sambil mengamati pakaiannya.

Key baru bertemu dengan namja yang pikirannya polos seperti anak kecil!! Ia terbiasa bekerja dengan namja yang benar-benar serius dan perfeksionis sampai-sampai ia kira kalau semua namja pasti seperti itu!! Tapi orang didepannya yang sudah bertransformasi menjadi ayam bahkan dengan perasaan suka cita ini? Kenapa begitu….berbeda?? dan yang Key lebih heran, ia nyaman dengan ‘perbedaannya’ itu? Tanpa repot-repot berubah menjadi orang lain?

“cepat pakai pakaianmu!! Ini sudah semakin malam!! Aish, bukan hanya kau saja yang punya urusan besok, nona!!”

Key mengamati pakaiannya. Bagaimana cara memakai ini?

Seakan tau apa yang di pikirkan Key, Onew mengambil baju itu, membuka resleting nya lalu memberikannya kembali ke Key.

“ini bagian depan nya. Selama ini kau tinggal di planet mana sih, masa tidak pernah melihat kucing?”

“YAK!! AKU SERING MELIHAT KUCING TAPI TIDAK PERNAH PAKAI PAKAIAN ANEH BEGINI!! TIDAK SEPERTI KAU!! AKU CURIGA KALAU MALAM KAU BENAR-BENAR BERUBAH JADI AYAM!!”, lagi-lagi Key berteriak.

“kau ini kenapa berteriak terus dari tadi? Tidak bisa bicara nya biasa saja? Aku belum tuli, tapi kalau kau bicara begitu terus aku benar-benar akan jadi tuli!!”, Onew mengomel sambil tetap membantu Key untuk memakai pakaiannya.

PD nim dan seluruh kru WGM hanya menggelengkan kepala melihat pasangan aneh ini. Kok ada yaa, yeoja, cantik, berbakat, tapi luar biasa galak?

“kau ini pernah nonton Doraemon tidak? Dia kan kucing!!”

“ih, kau menonton Doraemon?”, Key kaget. Namja nonton…robot kucing biru bantet itu?

“memangnya tidak boleh?”

“memalukan!!”

“kenapa? Kau berlebihan!!”

“apa maksudmu?”

“TIKUS!!”

Key berlari menjauh.

“hahahahaha, tuh kan kau persis Doraemon, takut tikus!!”

“YAK!! KAU!!”

Lagi-lagi PD nim harus memberikan tanda untuk menghentikan pertengkaran mereka.

Begitu pakaian itu sudah sempurna di pakai Key, kini gantian Onew yang tertawa. Pakaiannya imut, kucing berbulu lembut berwarna putih. Serasi dengan kulit susu putih Key. Tapi yang bikin ia tertawa adalah ekspresi wajahnya. Pakaiannya kucing yang imut, begitu naik ke wajah, persis seperti macan betina. Ahahaha. Meskipun macan masih satu keluarga dengan kucing, tapi tetap saja kan mereka dua binatang yang berbeda!!

“sudah kuduga kau lebih cocok diberi pakaian macan dibanding kucing!!”

Onew terdiam begitu melihat pandangan Key. Daripada nyawaku melayang di gigit macan!! Aku yakin macan pasti juga doyan ayam!!

“Mari mulai…”, PD nim bersuara.

Mereka bersiap. Tangan kiri terjulur seperti belalai, sementara tangan kanan ‘mengunci’ tangan kiri dengan melewatinya kemudian memegang hidung, dan mereka menunduk, bersiap memutar.

“junbi…si…jak”

Ayam dan kucing, keduanya berputar selama 10 kali putaran. Seperti biasa, Onew yang jalan seperti biasa saja, jatuh, apalagi berputar seperti itu?

Akhir nya Key yang selesai duluan dan mengambil sumpit. Tadinya ia mengambil sumpit yang ujungnya tidak berwarna merah tapi berhubung Onew masih sibuk dengan ke sangtae an nya, Key menukar sumpit itu.

“I WON!!!”, Key menunjukkan sumpit itu pada Onew yang susah payah menyelesaikan putaran belalai gajahnya [bang onyu kasian amaattt].

Hhhhhh, ia jatuh terduduk. Permainan ini memang sungguh tidak adil untuk orang sangtae seperti dia!!

“baik Key, silahkan pilih kotak nomor berapa?”

PD nim menunjukkan 2 kotak di depan mereka, biru dan merah.

“kotak merah”, sahutnya yakin!!

PD nim mengeluarkan kartu yang didalam kotak merah.

“Pengetahuan Umum”

“WHAT?”, Key berteriak.

Onew tersenyum. Aha, waktunya menunjukkan kalau aku tidak sebodoh yang kau pikirkan Key.

Ia bangun dan duduk mensejajarkan diri dengan Key. Key terlihat panik. Ottohke? Walaupun ia tidak bodoh, tapi kalau pengetahuan umum? Lebih baik beri ia soal matematika atau kimia deh!!

Pertanyaan disampaikan oleh PD nim dan mereka menjawab secara berebutan. Siapa yang salah atau telat menjawab, maka wajahnya akan dicoret-coret dnegan lipstick warna merah menyala yang sudah disiapkan.

Dan seperti yang sudah di perkirakan, Onew memimpin permainan. Key sampai heran. Orang macam begini, kenapa bisa pintar?

Tapi ada satu hal yang tidak mereka sadari, dan mungkin hanya disadari oleh orang-orang yang menemani mereka seharian, para kru WGM  atau penonton yang akan menonton tayangan ini, sepanjang permainan, ONEW DAN KEY TERTAWA!! Ya. Meskipun di wajah Key saat itu sudah penuh dengan coretan lipstick yang dicoretkan sembarangan oleh Onew membentuk kumis kucing, tanda tangan nya, atau sekedar coretan tak beraturan, beberapa coretan lipstick di wajah Onew walaupun tak sebanyak di wajah Key, tapi mereka menikmati itu!! Cara menjawab yang berebutan seperti anak kecil, berantem nya mereka karena merasa menjawab duluan, berantemnya mereka saat memberikan hukuman, baik Onew kepada Key atau sebaliknya, tertawaan mereka yang melihat wajah lawan atau wajah sendiri, hanya hal-hal kecil tapi entah kenapa bisa menjadi sesuatu yang sangat menyegarkan untuk dua leader dari group yang sama-sama sedang bersinar di Korea. Suatu penyegaran ditengah beratnya pertanggung jawaban atas posisi mereka sebagai leader, beratnya jadwal mereka yang padat, belum lagi berbagai masalah pribadi yang pasti ada dan terus datang, masalah para member yang mreka harus turut andil untuk menyelesaikannya agar tidak berlarut-larut dan mempengaruhi kinerja group. Hanya sebuah permainan kecil dan sederhana namun berhasil untuk membuat semua beban itu terangkat sejenak, karena tanpa disadari mereka berbagi rasa, berbagi beban, karena Key mengerti beban seorang Lee Jinki dan Onew pun mengerti beban seorang Kim Kibum, karena mereka berdua ada di posisi yang sama!!

Permainan itu selesai. Mereka semua puas. Kru dan PD nim WGM mendapatkan gambar yang mereka inginkan, sementara di sisi lain, para leader ini semakin dekat walau jelas keduanya menyangkal keras!! Permainan ini hanya membuktikan satu hal, they knowing each other, more than anyone, indeed their members.

“sekarang kalian tuliskan pendapat kalian tentang pasangan kalian”

Saat ini mereka masing-masing memegang selembar kertas dan pena.

“lalu setelah ini, jangan bilang kalau kami akan membacakannya di hadapan masing-masing?”, Key bertanya curiga.

“tidak!! Kertas kalian akan kami simpan!! Pasangan kalian tidak tau apa yang kalian tulis. Tenang saja!!”

Mereka mulai menulis…

Lee Jinki…

Kim Kibum, Key, seorang leader yang….berbeda. Ia unik. Sangat unik, dan ia bertahan dengan keunikannya itu.

Key, entah kenapa, aku hanya merasa bahwa keangkuhan yang kau tampilkan bukanlah sifat mu yang sebenarnya. Ya, aku tau kalau aku memang belum mengenal dirimu dengan baik. Walaupun aku mengaku, kalau aku adalah fans mu, Key. Taukah kau kalau kau sangat hebat? Kau mampu menjadi leader dengan kemampuan mu yang luar biasa. Kau mampu membawa group mu mencapai langit nya saat ini. Aku terkadang melihat pancaran kelelahan di mata mu, tapi itu hanya sedetik, lalu kau langsung tutupi itu dengan sikap mu yang dingin dan angkuh. Percaya atau tidak, aku mengerti kenapa kau melakukan itu, karena kita ada di posisi yang sama. Kita sama-sama seorang leader, meskipun aku tau kau lebih lelah dari aku. Kau memimpin 4 member, sementara aku hanya 3. Dan aku merasa kalau memimpin sebuah girl group lebih berat dibanding memimpin sebuah boy group. Berkaca pada sunbae kami, SNSD, aku tau kalau Taeyeon mengalami banyak tekanan berat dalam memimpin 8 member. Karena pikiran wanita lebih rumit. Sensitif sekaligus egois dan keras kepala dibanding laki-laki. Apalagi kau adalah seorang leader tapi bukan yang tertua. Kau harus tegas menjalankan tugasmu sebagai leader sementara membermu, Bom dan Sandara lebih tua 7 tahun dibanding kau. Itu pasti berat dan membingungkan kan, Key?

Seorang leader memang dituntut untuk memakai topeng! Ya, selelah apapun kita, tapi kita punya tanggung jawab untuk mengurus member yang lain. Disaat group kita sedang jatuh, para leader dituntut untuk tetap berdiri!! Karena ia yang akan menjadi penopang untuk para member nya, fans nya, dan nama besar group serta management nya. Karena itu kan kau selalu bersifat angkuh dan dingin kapan pun pada siapapun? Untuk menutupi semua rasa lelah itu? Rasa lelah yang aku tau memang tidak semua orang mengerti, Key.

Jadi kedepannya, maukah kita mencoba untuk saling meringankan beban masing-masing? Aku akan mencoba untuk membuatmu jujur, minimal ketika di depanku. Karena aku tau rasanya memakai topeng setiap waktu. Lelah kan Key? Jadi, mari sama-sama berjuang!!

Nb : sungguh, kau ekspresif sekali kalau diatas panggung. Aku iri!! Kenapa kau tidak se ekspresif itu di hadapanku? Hehehe.

Tapi lagu-lagu kalian, sungguh KEREN!!!

Bam ra ta ta, ta ta ta ta ta. Oh my God!!

Kya kya kya…

SHINee Fighting!!

2ne1 Fighting!!

Kim Kibum, SEMANGAT!!

From : Your Fans, Lee Jinki, Leader Boy Group SHINee.

Kim Kibum…

Lee Jinki, Onew, seorang leader yang….berbeda. Ia unik. Sangat unik, dan ia bertahan dengan keunikannya itu.

Hei Onew, atau haruskah aku memanggil mu oppa? Errghhh, aku pikirkan itu nanti!! Kau terlihat seperti dongsaeng di mataku!! Doraemon? Apa itu!! Dasar kekanak-kanak kan!! Pantas saja kau bisa dekat dengan anak kecil di taman tadi. Kau juga masih kecil!! Anak kecil yang terperangkap dalam tubuh dewasa.

Kau percaya tidak kalau aku melupakan siapa nama mu hari ini? Untung saja aku tidak harus memutar otak untuk mencari tau siapa nama mu tanpa ketahuan.

Sebetulnya aku hanya ingin bertanya satu hal, kau ini benar-benar punya masalah dengan keseimbangan yaa? Aku serius bertanya!! Otak mu sepertinya bermasalah!! Tapi aku kaget ketika permainan bodoh itu. Kau ternyata….pintar? Sejujur nya aku tidak rela mengakui karena outlook mu sama sekali tidak menunjukkan kalau kau adalah namja yang pintar.

Jujur saja, aku iri ketika kau menceritakan tentang rumah pohon itu. Kau sepertinya tumbuh dari kelurga yang sederhana namun hangat. Benarkah? Atau hanya perasaanku saja? Hah, berbeda sekali denganku! Hei Onew, seperti apa rasanya bercanda dengan orang tua? Bahagia kah?

Aku lelah….

Aku jujur, aku lelah!!

[awas saja kalau surat ini sampai bocor apalagi dibaca makhluk ayam jejadian di depanku, aku bunuh orang yang membocorkannya!!]

Sebagai leader, kau juga lelah kan? Jujur saja, wajah bodoh mu itu seperti buku yang terbuka. Mudah sekali dibaca!! Kau ini namja apa sih, ekspresif sekali!! Kau harus belajar banyak dari TOP Oppaa, kya kya kya. Seorang namja yang dingin dan terkesan misterius itu terlihat lebih charming di depan wanita, kau tau tidak? Ergh, pasti tidak tau, kau kan bodoh!! Makanya, lain kali jangan memilih menjadi ayam. Kau pernah lihat otak ayam tidak? Kecil kan? Pilih binatang yang cerdas sedikit!! Anjing, atau monyet kalau perlu!!

Tapi aku ingin menyampaikan satu hal! Ergh, haruskah aku mengatakan ini?

Gomawo.

Jangan tanya kenapa aku mengatakan itu karena aku juga tidak tau!! Otak ku pasti sedang bermasalah!!

Di dekat mu hari ini, entahlah…

Aku hanya merasa perasaan yang….berbeda. Aku tidak tau perasaan apa itu, tapi yang aku bisa rasakan adalah hatiku terasa lebih ringan dari biasanya. Bahagiakah itu namanya? Aku tidak tau dan aku juga tidak yakin. Memangnya apa yang namja bodoh seperti mu bisa lakukan sampai membuat seorang diva almighty Key bahagia!! Tidak mungkin!!

Jadi, atas perasaan yang aku tidak tau apa namanya, terima kasih.

Aku tidak tau, hari esok akan seberat apa, tapi bersama mu hari ini memberiku sebuah semangat yang tidak bisa kujelaskan.

[oke Key, otakmu benar-benar bermasalah!!]

Uruslah group mu dengan baik!! Aku tidak tau salah apa mereka sampai diberikan leader sebodoh kau!!

Urus juga otak mu yang bermasalah itu!! Periksakan ke dokter!! Bikin malu saja!!

Nb : aku akan mulai mendengarkan lagu SHINee. Sejujurnya aku tidak tau lagu-lagu kalian. Tapi berhubung kalian bernaung di bawah SM Ent, sepertinya itu jadi sebuah jaminan kalau lagu-lagu nya pasti bagus.

TAPI TENTU SAJA TIDAK AKAN SEBAGUS LAGU 2NE1 !!! ITU SUDAH PASTI!!

”sudah selesai?”, PD nim bertanya begitu melihat mereka sudah selesai menulis.

“emmm”, Onew menjawab dnegan tersenyum. Ihihi, ia bingung sendiri kenapa bisa menulis begitu!!

“benarkah ini tidak akan diberitahukan pada dia?”

“wae? Kenapa memangnya? Kau diam-diam menyukai ku yaa?”, Onew menggoda nya.

“ha-ha-ha”, Key tertawa sinis. Seoul akan banjir bandang kalau aku sampai menyukai namja bodoh ini!!

“tidak! Sini  lipat, masukkan ke amplop, beri nama, lalu berikan padaku”.

Syuting pun selesai…

Seperti kesepakatan awal, bahwa yang kalah harus pulang tanpa membersihkan wajah dan melepas kostum mereka.

Disini Key yang kalah, namun Onew ber inisiatif menemaninya, yang disambut dengan ucapan sinis Key seperti biasa “kau seperti nya memang senang yaa memakai baju bodoh begitu? Cocok sih dengan muka bodoh mu”, ia melengos pergi.

Onew hanya tersenyum. Apapun perkataan Key pada nya, ia hanya yakin bahwa itu bukan dari hatinya, iya kan Key?

Jadi lah malam hari, ada seekor ayam dan kucing berjalan berdampingan dengan muka penuh coretan lipstick.

Sesampainya di drom SHINee…

“wahahahaha, kau kenapa hyung? Wah, diapakan oleh macan betina itu? Dirubah jadi ayam? Ahahaha. Lalu lipstick itu? Wuaahhh, jadi kah? Berapa ronde?”

Kalian tau kan siapa member yang menyambut leader SHINee ini? Tidak suah kujelaskan!!

Tanpa menjawab, Onew masuk ke kamar nya. Ia meliaht ke cermin, dan tersenyum.

Sesampainya di dorm 2ne1…

“Unnniiiieeeeee, kau kenapa? Siapa pasangan mu? Unniiieee, itu…itu pelecehan seksual…. Kita harus lapor polisi!!!”, ke empat wanita super star itu kontan histeris melihat leader nya pulang dengan keadaan ‘mengenaskan’ begitu!!

“jangan membuat keributan malam-malam!! Diam kalian semua. Aku tidak apa-apa. Awas kalau ada yang berbuat macam-macam!!”, sang leader kembali ke sifat semula. Dengan nada rendah dan pandangan mengancam yang mampu membuat semua orang di ruangan itu mendadak diam tak bergerak.

Key masuk ke kamar nya, melihat cermin, ia tersenyum.

1 hal jujur yang keluar dari hati seorang namja polos dan yeoja dingin di malam itu, ‘aku bahagia!!’…

END…

Atau

TeBeCe…

Ahahahaha, capek aaaahhhh.

Hope you likey….

Sepanjang nulis ini aku ditemenin lagi 5jib SuJu lho, ampe pengang!!/promosi. Walkin’, My love My Kiss My heart, Y, Storm, Memories, Sunflower, dan tentu saja Mr.Simple.

Jadi kali kalian suka sama hasilnya, terima kasih lah pada 5jib nya Super Junior. Ahahaa.

RCL yaaa…

Tha_Tha Babaiii…

124

[2min/MPREG/YAOI/5-?] Our Precious One

Foreword :

Haaahhh, gue pusing bikin ini. Bukan ceritanya, tapi waktunya. Dan plis guys, jangan terus menerus tanya kapan ff ini, atau WGM 2min, atau OnKey update yaa. Sungguh gue jadi ngerasa terdesak, padahal gue juga lagi ribet mampus sama kampus. Ini cuma gue tulis pas lagi ada waktu aja dan saat otak dan badan gue mau kerja sama. Gue cuma hobby nulis, dan kalo ada hal mendesak yang lebih penting, gue pasti ngenomor duain ini. Semua orang harus memilih kan? Jadi, biarin gue ‘bernapas’ sejenak yaaa. Gomawooo. ILYSM Suunders…

Okei, ini bakalan aneh, entahlah. Maaf Sani.

NB from vienasoma : Yosss… ini ada beberapa kata dari gue!! hehehe! muup untuk cut yang membuat anda semua kesal!! hahaha! saya hanya ingin memainkan perasaan para readers sedikit! supaya agak tegang! kan gak asik klu tbcx gak tegang! jadi yah… saya ubah kata2nya sedikit!! oye……….. pkkx sedikit saja saya ganti!! silahkan baca!!

next FF WGM………….. woy WGM………….. WGM 2min………………….. komeng banyak WGMx saya cepat PUBLISH!!! WGM 2min!!! wkwkwkwkkwkw

Hope you likey…

By : TaeminhoShoulBeReal

CKLEK, pintu di buka perlahan.

Key melihat anaknya sudah tertidur. Ia melangkah mendekat, mencoba memastikan. Wajahnya seperi malaikat, tenang! Sepertinya ia memang sudah tidur. Tangannya ia letakkan di atas perut yang sudah mulai membesar itu.

Key memasukkan tangan Taemin ke dalam selimut dan menaikkan selimutnya sambil mengecup keningnya perlahan. Ia letakkan tangan nya ke perut Taemin, masih ada pergerakan. Ia mengelus perut itu lembut, “ssstttt, sayang. Ini Key. Kau mengenalku kan? Istirahatlah. Ini sudah malam. Umma mu sudah tidur, jangan bergerak terus nanti ia terbangun. Ia sedang lelah. Tapi aku yakin kau pasti menyemangatinya kan?”, perutnya masih terus menunjukkan pergerakan. Kenapa keponakannya jadi gelisah begini? Key melihat wajah Taemin mulai sedikit kesakitan namun ia tetap tidak terbangun. Key measih mengelus perut Taemin, mencoba menenangkan makhluk mungil itu. Apa mungkin….??

Key bangun dari duduknya dan keluar.  cemas.

Di ruang tengah…

“jadi begitu? Kau tidak bohong padaku kan?”

“untuk apa aku bohong? Aku sudah sangat bahagia dengan Taemin dan aku tidak butuh orang lain, apalagi yeoja centil seperti mereka. Dan sekarang Taemin sedang mengandung anakku, hyung!!”

“bicara tentang anakmu, bisakah kau keatas?”, Key tiba-tiba muncul dan bersandar di pintu sambil menatap lekat Minho. wajahnya kelihatan kawatir.

“Key?”

“kau tidak berhasil menenangkan Taemin?“, Jinki berkata takjub. Tumben!

“bukan Taemin, tapi bayi nya………..” sahutnya

“kenapa dengan aegya kami???????” tanya minho kawatir

“ bayi nya……….. bayi nya terus saja bergerak seperti gelisah. Jadi aku pikir mungkin ia rindu Appa nya”, ia memelankan kalimat terakhir.

“darimana kau bisa berkesimpulan begitu? Bayi bergerak bisa karena apa saja kan?”, Changmin bertanya heran.

“dunno. Aku hanya menebak”

“tapi sepertinya benar hyung. Setiap malam menjelang tidur, memang aku selalu mengobrol dengan aegya kami”

“mengobrol?”, Jinki dan Changmin bertanya bersamaan.

“sudahlah. Kalian laki-laki memang tidak mengerti urusan begitu. Cepat kau ke atas sana, nanti Minnie ku keburu bangun karena anaknya yang bergerak-gerak terus!”

Jinki dan Changmin berpandangan. Padahal Key kan juga laki-laki!! Dan ia juga belum pernah mengandung. Dasar anak sok tau!! = =a

Di kamar Taemin….

Minho masuk perlahan diikuti Key dibelakangnya. Tangan Taemin yang tadi dimasukkan Key ke dalam selimut kini terletak diatas perutnya lagi.

Minho menoleh ke belakang menatap Key. Yang ditatap hanya memberikan isyarat dengan wajahnya untuk mendekati Taemin.

Minho berlutut di tepi tempat tidur Taemin, tepat di hadapan perut nya.

Satu tangannya menggenggam hangat tangan mungil itu, dan tangan satunya ia letakkan di atas perut Taemin. Memang pergerakan anaknya cukup keras. Ia melihat ke wajah Taemin, mulai menampakkan titik-titik keringat. Mungkin ia menahan sakit. Minho menghapus nya perlahan, turun mengelus pipi putih itu, sebetulnya tidak tahan untuk mencium bibir cherry itu, tapi sekarang, tugasnya adalah menenangkan aegya mungilnya ini.

Ia mendekatkan wajahnya perlahan ke perut Taemin sambil tidak berhenti mengelusnya.

“halo sayang, ini Appa”, Minho berkata lirih, tidak mau membangunkan sang Umma. Ia merasakan pergerakannya semakin pelan. Minho tersenyum.

“heii, kau rindu pada Appa yaa? Appa juga sangat merindukanmu sayang”, Minho melihat wajah istrinya semakin tenang.

“heii, Umma mu sudah tidur. Kenapa kau belum tidur? Menunggu Appa kah?”, kini pergerakan di dalam sudah sepenuhnya tenang.

“tidur yang nyenyak yaa sayang. Jangan nakal dengan Umma. Kau harus menggantikan Appa sebentar untuk menjaganya karena Appa tidak bisa membantu Umma mu saat ini. Kau masih ingat pesan Appa kan? Appa mencintaimu nak”, Minho mencium perut istrinya, pelan, lembut, hangat.

Minho berdiri, mengecup kening Taemin perlahan, turun ke hidung, lalu bibir cherry itu. Berbisik, “aku mencintaimu, Umma. Tolong, percayalah padaku”.

Ia menyelipkan benda yang daritadi ia bawa. Boneka keroro kesayangan Taemin. Ini yang selalu menemani Taemin dalam tidurnya. Menyelipkan di pelukannya, membetulkan letak selimut pooh itu, mengecup keningnya sekali lagi, “tidur yang nyenyak, sayang. saranghae”.

Berdiri, kemudian berjalan keluar. Key membukakan pintu, “aku akan disini menjaga Taemin sampai besok. Terima kasih karena sudah menenangkan keponakanku”.

Minho mengangguk, “kutitip istri dan anakku Key”.

Ia mengangguk perlahan. Ketika Minho sudah keluar dua langkah dari kamar, Key memanggil, “Minho”, ia menoleh.

“aku percaya kau tidak selingkuh. Taemin hanya….terlalu mencintaimu. Jadi maklumi saja kalau ia jadi cepat salah paham. Dan kuharap kau juga bisa lebih menjaga sikapmu. Ia sedang hamil, jadi jangan membuatnya stress. Itu berpengaruh langsung pada aegya kalian”

Minho menatap Key lekat, “terima kasih karena sudah mempercayaiku, toling beri pengertian pada Taemin yaa Key. Aku berharap besar padamu”

Key tersenyum meremehkan, “memang aku yang paling mengerti Taemin. Jadi kau tenang saja”

Minho tersenyum. Ia tidak bisa menyangkal itu. Biar bagaimanapun, Key adalah ‘Umma’ untuk Taemin. Dan kedudukan seorang ‘Umma’ selalu lebih tinggi dari siapapun kan?

Keesokan pagi….

Taemin mulai terbangun, mengerjapkan mata sebentar. Ah, ini dimana?

Ia bangun dan melihat Key sedang membaca sebuah novel di sampingnya.

“Umma?”, Taemin memanggilnya perlahan sambil melihat sekitar. Aah, ini kamar di rumahnya kan? Mengucek matanya imut.

“annyeong sayang”, Key mengecup kening Taemin, sebuah morning kiss untuk menggantikan Minho.

“ah, keroro-naa”, ia tersenyum senang dan memeluk boneka hijau itu. Pasti Umma yang mengantarnya kesini. Key memang paling luar biasa. Ia bahkan ingat Taemin tidak bisa berpisah dengan boneka nya ini.

Key hanya memandang tingkah anak kecil nya itu. Pasti ia mengira aku yang membawanya. Sudahlah biarkan saja.

“annyeong sayang, tidur mu nyenyak semalam? Waah, kau tenang sekali semalaman padahal Appa mu tidak ada. Hmmm, berarti kau mulai tidak ketergantungan dengan Appa mu kan sayang? Anak pintar!! Kau memang yang paling mengerti Umma”, Taemin mengelus perutnya senang. See, Minho hyung, tanpamu aku juga bisa menenangkan anakku!!

Key hanya melihatnya tanpa berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum kecil. Kau tidak tau saja Taemin

“kajja, mandi sana. Sudah aku siapkan air hangat. Umma kebawah dulu yaa. Habis mandi, langsung turun untuk sarapan”, Key menutup novel nya dan keluar kamar.

Saat di tangga…

Drrttt drrtttt, ponsel Key bergetar.

“yoboseyo Key. Kau sudah menyuruh Minnie untuk pulang?”

Tsk. Dasar kodok bodoh! Dikira gampang memaksa anak kecil seperti Taemin untuk melakukan sesuatu yang belum mau dilakukannya?

“belum. Ia baru bangun. Sabarlah. Mungkin malam baru aku antar ia ke rumah. Hari ini, biarkan ia bersama keluarganya dulu”, Key berkata dingin.

“mwo? Malam?”, terdengar nada protes dari seberang sana.

“kenapa? Kalau kau keberatan, bujuk saja sendiri”, nada Key meremehkan.

“aish, baiklah terserah kau saja. Tapi yang jelas, hari ini ia sudah harus pulang yaa, Key”

PIP…

Tanpa menjawab Key mematikan sambungan telfon nya. Dasar kodok cerewet!! Aku tidak suka diperintah!!

Satu hari itu, Key mengajak Taemin berbelanja bulanan dan untuk kebutuhan Taemin di rumah Key. Kapan lagi ia bisa mengajak Taemin jalan-jalan? Biasanya selalu dilarang keras oleh kodok belo itu. Tapi mumpung ia dan Taemin kali ini satu kubu, jadi yaa apa salahnya. Toh, Key juga diwanti-wanti Jinki untuk tidak berlebihan!! Ia pun juga mengurangi 3 jam dari waktu belanja normalnya!!!

Sesampainya di rumah, hari sudah sore.

Mereka bertiga, Taemin, Key dan Jinki sedang bersantai di gazebo taman mereka sambil minum teh. Taemin sedang merendam kakinya dengan air hangat sambil memeluk boneka keroro nya seperti biasa, mengurangi rasa pegal akibat jalan-jalan tadi. Berat badannya semakin naik saja dan ia mulai frustasi lagi melihat bentuk tubuh nya kini. Apalagi jika disandingkan dengan Key, hauuuhhh, persisi angka 10 !!! ia masih frustasi akibat kejadian kemarin malam., ditambah pagi ini ia melihat timbangan, beratnya naik 2 KG dari 2 hari yang lalu!! Jadi 1 hari 1 KG?? aigoooo!!!! Ikut Key jalan-jalan juga sebetulnya ingin mengurangi berat badannya. Tapi begitu ditimbang ulang, berat badan tidak berkurang, malah capek dan lelah yang didapat!! Menyebalkan!! Ia bingung apa sih yang menyebabkan berat badannya begitu cepat naik? Padahal dulu ia termasuk orang yang paling susah gemuk!! Ia sibuk dengan pikirannya sendiri.

Sementara di sebelahnya, Jinki menoleh pada Key yang menyeruput teh nya sambil berpikir bagaimana caranya membujuk anak ini pulang,

“Taemin”, panggil Key pelan.

Tidak ada reaksi. Taemin kini masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

Jinki dan Key berpandangan.

“Taemin”, kali ini Jinki yang memanggil dengan lebih keras.

“a-ah? Nee, hyung”

“sedang memikirkan sesuatu?”

“aniii”, Taemin menunduk.

Kedua orang itu menghela nafas. Lagi-lagi bohong.

Key bangun dan duduk di sebelah Taemin. Memegang wajah mungilnya, memaksa memandang mata kucing itu.

“ada apa?”

Melihat Key begitu dekat, Taemin malah jadi semakin iri. Kenapa ia bisa punya badan yang begitu bagus?

Ia mempouted kan bibirnya.

“aniyooo, Umma. Aku hanya masih berfikir soal kejadian kemarin malam”, ia kembali menunduk sedih.

Hhhhh, Key menarik nafas. Bagaimana lagi meyakinkan anaknya ini kalau si kodok itu hanya mencintai Taemin seorang?

“kenapa kau masih saja mengingat hal menyebalkan begitu sih Minnie?”

Taemin mengangkat bahu, “entah. Tiba-tiba terlintas begitu saja”, ia kembali bersandar dan memejamkan matanya.

Pikirannya mulai aneh semenjak kemarin malam.

“kau percaya bahwa suamimu selingkuh?”, kali ini Jinki yang bersuara.

“aku hanya mengambil kesimpulan berdasarkan yang kulihat”

“tau kah kau kalau mata kadang tidak melihat hal yang sebenarnya?”

Taemin menegakkan duduknya, “aku tidak mengerti, hyung”

“mata manusia terkadang hanya melihat hal yang terjadi diluar padahal itu bukan kejadian sebenarnya. Gunakan mata hati dan nurani mu Taemin. Apa kau merasa suami mu berselingkuh? Mata hati sebenarnya jauh lebih bijak dalam memandang berbagai hal, dan ia tidak pernah berbohong. Hanya manusia terkadang terlalu gengsi dan egois untuk mendengarkan pendapatnya, melihat pada kenyataan. Kau hanya bertahan atas sesuatu yang kau ingin yakini!! Tapi apa? Yang terjadi seperti sekarang kan? Kalian malah bertengkar. Kau sudah salah paham. Aku memang tidak melihat kejadiannya, tapi aku percaya pada Minho kalau ia benar-benar tulus mencintaimu. Aku, orang luar saja percaya, Taemin. Key juga aku yakin percaya pada suamimu. Karena apa? Karena kami dapat melihat ketulusan dari seorang Choi Minho dalam memperlakukanmu. Kenapa kau malah yang tidak mempercayai nya? Ia pasti sedih dan bingung semalam. Kejadian kemarin kau pikir ia yang merencanakannya? Para yeoja itu datang begitu saja kan? Jangan mempertahankan keegoisanmu hanya untuk memenangkan pendapatmu, Taemin. Saat ini kau bukan seorang diri, kau punya dia”, Jinki menunjuk perut Taemin.

“anakmu butuh Appa nya. Jangan hanya karena kesalah pahaman kecil seperti ini membuat makhluk kecil mu itu kehilangan sosok Appa nya. Itu terlalu kejam untuk nya, sayang”, Key mengelus kepala Taemin.

Taemin menunduk, air matanya jatuh. Ia memang tau kalau ia salah, ia bodoh, dan ia egois. Tapi mereka tidak mengerti apa yang jauh dirasakan Taemin selain rasa bersalah. Taemin malu menemui Minho!! Sangat!! Ia malu tingkah childish nya, ia malu akan bentuk badannya yang sudah tidak seperti dulu, dan yang baru ia sadari, ia malu karena ia NAMJA!!! NAMJA YANG HAMIL DAN ITU ANEH!!!

“ssstttt, uljima Minnie”, Key meletakkan kepala Taemin di bahunya.

“kuantar kau pulang, maukah?”

Taemin tidak menjawab. Key menatap Jinki, dan Ia memberikan isyarat mengembalikan Minnie ke rumahnya, tempat yang memang untuknya.

Ia memeluk tubuh Taemin dan menuntunnya ke mobil.

Disaat yang sama…

Kriiing…

“yoboseyo? Istriku sudah pulang?”

“belum tuan muda”

Shit!!

“gomawo”

Minho membanting ponsel nya ke jok sebelah.

“mana janji mu Key? Katanya mau mengembalikan Taemin sebelum malam?”

Minho segera mengeluarkan mobil nya dari area kantor dan langsung menuju rumah keluarga Lee. Kalau aku tidak bisa mengandalkan orang lain, maka aku sendiri yang akan berbuat!!!

Begitu sampai, tanpa memasukkan mobil, Minho turun dan segera masuk.

“Jinki hyuuung? Keeeeyyy!! Taemiiinnn”, suaranya sedikit berteriak.

“kau ini ada apa siih teriak-teriak di rumah orang”, Jinki muncul dari taman belakang.

“hyung, katanya kau mau mengantar Taemin pulang. Kau sudah janji padaku kan? Sekarang mana buktinya? Taemin belum pulang!!”

Tsk. Dasar namja emosian!!

“Taemin sudah pulang. Ia tidak ada disini”

“jangan bohong hyung. Taemin belum ada di rumah!!”

“jangan menguji kesopanan ku padamu Choi Minho!! Ia baru saja diantar Key pulang”, Jinki menjawab dengan nada yang sangat dingin.

Minho terdiam. Kalau baru saja diantar pulang, berarti saat ini menelfon, memang Taemin belum ada di rumah. Ia menunduk, “mianhaeyo hyung. Aku hanya…..”, Minho tercekat.

“aku tau kau cemas dan rindu pada nya dan aegya kalian. Tapi jaga emosi mu. Biar bagaimanapun aku ini kakak iparmu, dan kau sudah seharusnya menghormatiku. Aku tidak akan dan tidak bisa menolak Taemin disini. Karena ini juga rumahnya. Tapi aku sudah berusaha sebisaku untuk membujuknya pulang, jadi tolong hargai itu! kau tau membujuk Taemin sama sekali bukan perkara mudah!!”, Jinki berkata semakin dingin.

Minho tidak menjawab apapun karena kali ini, memang ia yang salah!

“cepat pulang, perbaiki sifatmu. Aku tidak mau melihat adikku seperti semalam, arrasso! Sekali lagi ia mengeluh karena kelakuanmu, aku tidak segan-segan membawanya pergi ke tempat yang kau tidak tau! Jadi JAGA ADIKKU BAIK-BAIK!!”, Jinki sangat menekankan 3 kata terakhir.

Minho mengangkat kepalanya, “aku berjanji hyung. Percaya padaku!”, Minho meyakinkannya.

“tidak usah repot-repot karena aku memang sudah mempercayaimu. Yang aku dan Taemin butuhkan sekarang adalah, pembuktian!! Jangan cuma bicara! Aku tidak suka namja yang hanya bisa omong kosong apalagi itu menyangkut adikku!! Dia memang terlihat lemah dan rapuh, TAPI AKU TIDAK!! Jadi kalau kau menyakitinya, kau tidak akan berurusan dengannya, tapi DENGANKU!! Arrasso?”

Jinki meninggalkan Minho di ruang tengah dan naik ke atas.

Minho sekarang tau bahwa ia belum menjadi suami yang terbaik untuk Taemin.

Di rumah Minho dan Taemin….

“aku pulang yaa Minnie. Minta maaf pada suami mu, arrasso?”, Taemin mengangguk lemah.

“sudah jangan sedih, jaga kandunganmu baik-baik. istirahatlah”, Key melihat jam tangannya.

“sepertinya Minho sebentar lagi pulang. Sambut ia dengan wajah ceria, oke? Dadah sayang!! Aku pulang yaa baby”, ucapnya sambil mengelus perut Taemin.

“gomawo Umma”

Ia hanya mengedipkan mata sambil tersenyum dan keluar.

Hhhh, Taemin menutup pintunya dan menuju ke kamar mereka.

Beberapa saat kemudian, Minho sampai di rumah.

Ia berlari masuk dan melihat ke kamar.

Minho melihat Taemin sedang duduk di tepian tempat tidur, dan memandang ke lantai.

Ia perlahan masuk, dan duduk di sebelah Taemin.

Taemin sebetulnya tau suaminya datang. Tapi entahlah, ia tidak tau harus berkata dan berbuat apa.

Mereka sama-sama terdiam dan malah memandang lantai.

Hhhh, kenapa suasananya jadi awkward begini?

“aku merindukanmu”

“aku minta maaf”, mereka bicara bersamaan.

Minho memandang Taemin, tapi Taemin tak mampu membalas tatapan itu.

“seharus nya aku yang minta maaf karena tidak mendengarkanmu. Kalau kita tidak datang ke reuni itu, kejadian waktu itu tidak akan ada”.

“dan hubungan kita akan baik-baik saja”, Minho melanjutkan sambil meraih tangan Taemin, menggenggamnya erat.

Taemin melepaskannya, “kau mau makan malam apa hyung?”, ia berdiri dan bersiap keluar untuk membuat makan malam.

Hhhh, Minho menghela nafas panjang.

“apapun yang kau buat pasti istimewa untukku”

“sebentar hyung, aku buatkan makan malam”

Minho hanya mengamati punggung Taemin yang lama-lama menjauh. Kau kenapa sayang? Masih marah kah padaku? Ia berniat menelfon Key, tapi pasti ia yang akan kena semprot. Sudahlah, kuhadapi sendiri saja!

Di dapur mereka tidak berkata apa-apa. Taemin memasak dalam diam, dan Minho pun tidak tau harus berkata apa menghadapi dinginnya Taemin. Ia selama ini mengenal Taemin sebagai orang yang hangat, manja dan menggemaskan, tapi jika begini? Bagaimana menghadapinya?

“Taemin?”

“nee hyung?”

“saranghae”

Taemin terdiam.

 Minho melangkah mendekati Taemin, membalikkan paksa tubuh mungil yang begitu dirindukannya. Ia menangkup wajah Taemin, memaksanya untuk menatap mata elang Minho.

“saranghae sayang”

Pandangan Taemin terkunci. Pandangan itu masuk, serasa mengaduk-aduk perasaannya, mencari sesuatu. Jawaban!!

“kau tidak lagi mencintaiku?”

“aniyoo”, Taemin menjawab lirih.

“lalu kenapa?”

“apanya?”

“kenapa kau bersikap seakan mengacuhkan ku? Kau masih marah karena yeoja itu? mau kuantar kerumahnya agar kalau perlu ia berlutut meminta maaf padamu?”, suara Minho mulai meninggi. Ia tidak suka Taemin yang mengacuhkannya.

Ssshhhh, tangan Taemin tiba-tiba memegang perutnya, sakit!

Tapi Minho seolah tidak melihat itu….

Andai Minho hyung tau. Aku malu bersanding dengan mu hyung!! Ingin kuteriakkan kata-kata itu.

Aegya nya semakin bereaksi.

Minho masih terus menatap nya intens!!

“kau tau kalau aku mencintamu dan hanya kamu kan Taemin?”

AKU TAU HYUNG!!

“sudah sejauh ini, kumohon jangan buat aku untuk memulai dari pertama untuk meyakinkanmu Taemin, kumohoooonnn!!!”, Minho memeluk tubuh mungil itu erat.

Namun tiba-tiba….

“Taemiiiiiinnnn”

TeBeCe……..

Yaaak, bunuh aja gue, gue tau ini jelek!! Tau ah, gue lagi pusing. Sani, maaf OPO nya jadi begini. Viena (Appaa), maaf ga sesuai keinginan. Aku ga tau, cuma asal nulis dan hasilnya malah begini. Eerrrggghhh.

RCL yaa *engga juga gpp deh*

Tha_tha Babaiii…

Viena (Appaa), maaf ga sesuai keinginan. jawab ; hah???????? manax yang gak sesuai?? ckckc ini udah DAEBAK banget! sumpah!! appa doyaaaaannnnnn *joget india*