13

[Minkey-Jongkey] DREAM BOY – Chap 1

tumblr_m1dbnmXdTS1qcl8qx

Characters:
Kim Kibum (18 yo); Lee Jinki (19 yo); Lee Taemin (16 yo); Choi Minho (21 yo); Kim Jonghyun (22 yo)
Genre: AU, yaoi, romance, drama, schoollife, sliceoflife, friendship
Rate : PG 13 – till protect
Word Count : chap 1 (4.251 words)
WARNED: THIS IS REALLY YAOI (BOYxBOY) / (NAMJAxNAMJA) COUPLE! Anggap dalam semua cerita ini hubungan sejenis (yaoi) memang bisa terjadi, laki-laki bisa menikah, bisa mempunyai anak (baik itu mengadopsi / mpreg)! Kalian harus menerima resiko dari KETIDAK MASUK AKALAN dalam cerita ini, kalian harus tahu resiko dari YAOI. So dont be rude! if you dont like it PLEASE LEAVE! I warned you!
Summary:
Kibum (yang sering dipanggil Key) tidak bisa berhenti memikirkan bahwa suatu saat ia akan menemukan namja idamannya. Kapan ia dapat bertemu dengan si Dia (namja impiannya)? Kemudian ketika ia bertemu dengan seorang namja tampan dan keren, ditambah sudah duduk di bangku universitas. Kibum merasa bahwa Takdir mempertemukan mereka berdua. Kibum terbuai dengan pesona namja itu, bahkan ia percaya ketika namja itu mengatakan bahwa mereka itu ‘cocok’!. Namun, tidak menurut Taemin dan Jinki yang merupakan sahabat mereka. Kibum banyak berubah, Kibum melupakan kedua sahabatanya, Kibum mulai tidak perduli dengan Ummanya, ditambah Kibum lupa dengan kedua anjing kesayangannya Commedes dan Garcoons. Lalu, ini cinta atau sebuah kegilaan?

Continue reading

Advertisements
63

[Minkey,Jongkey,Onkey – Oneshoot] Past Present Future … Forever

past-present-future

Tittle : Past Present Future … Forever

Pairing : Minkey – MinhoxKey, Jongkey – JonghyunxKey, and Onkey – OnewxKey. Slight! 2min

Another Cast : Jibum (AOC) , and Hyoyeon SNSD

Lenght : Oneshoot

Genre : romance, angst, sliceoflife, fluff, family, friendship

Rate : Pg-13

Author : SannKeylicious~

Continue reading

165

[2min-Onkey] Forbidden Love of a Geisha PART 8 A of 8 B

Forbidden Love of a Geisha part 8 A

Foreword:
Anneyong, ini perwakilan aja … finally, sampai pada part terakhir, setelah bersemedi dari tahun lalu, akhirnya author duo super sibuk dan pinter ngeles ini meluncurkan FF nistanya. Yak, semoga kalian ‘terhibur’ dengan part terakhir ini!

SORRY ADA RE-EDIT TADI, JADI DI REMOVE POSTAN YANG TADI!
Enjoy , and Feel free to comment! Anythink! Good or Bad! We appreciated that!
-Sanniiewkey~ & Vienasoma –

Tangan Taemin bergetar hebat ketika tubuh Minho tergeletak begitu saja di atas pahanya, darah merembes kekimononya yang indah, air mata membasahi pipinya, ia peluk tubuh Minho ke tubuhnya, tidak perduli darah membasahi tubunya.

“Tolongg…”, lirihnya, meski ia tahu tidak ada yang datang, ia melihat memohon ke arah pintu rumah mereka, terbuka, namun tidak ada yang datang. “Tolong … tolong …”, lirihnya,

Jantung Minho masih berdetak, ia masih bisa merasakan itu, namun sampai kapan itu akan berdetak ia tidak tahu, ia bahkan tidak mau berpikir kapan itu berhenti … ia gapai tangan Minho, ia tatap wajah itu, bibirnya memucat dan kulitnya mendingin, ia kecup bibir Minho dengan bibirnya.

“Kumohon … jangan pergi …kumohon …”, bisik Taemin.

Taemin melihat ke arah pintu sekali lagi, siapapun, tolong …

“Taemin –san, aku—akh!!”, seorang Maiko tiba-tiba datang, Yuki menutup tangannya gemetar, ia maju selangkah, kemudian mundur kembali bingung apa yang harus ia lakukan. “Apa yang—oh tidak—apa yang terjadi—Taemin-san—apa yang—“

“Panggil bantuan…”, lirih Taemin masih memeluk Minho, tubuhnya semakin dingin… Yuki masih berdiri disana shock.

“PANGGIL BANTUAN!!”, teriak Taemin, Yuki sontak gelagapan, ia mundur dan berlari keluar, tentu ia kaget, ia bermaksud ingin mengunjungi Taemin karena ia merasa khawatir, dan kejadian seperti itu membuatnya terkejut.

“CEPAT, DISINI!!”, Taemin mendongak, matanya rabun karena air mata yang membasahi wajahnya, satu orang laki-laki datang, dan kemudian ia bisa lihat orang datang menghampiri mereka.

Ia tidak bisa dengar, yang ia bisa lihat adalah semakin banyaknya orang, kemudian ambulan datang dan membawa sosok Minho kedalam sana, dengan tergopoh ia mengikuti Minho, duduk disampingnya , menggenggam tangan itu erat, jangan mati … jangan pernah mati … jangan pernah tinggalkan nya sendiri … semuanya tidak akan  berakhir sampai disini, ia bahkan belum buktikan pada Minho kalau dia ingin sekali berterima kasih karena mengajarkan rasa cinta itu pada nya, memberikan perasaan nyaman yang tidak pernah ia rasakan …
.
.

“MINHO!!!”, teriak sebuah suara, “DIMANA MINHO?!!!”, Yuki menoleh, melihat seorang wanita berkimono indah, dan seorang laki-laki paruh baya berjalan mendekati ruangan UGD, diikuti perawat serta penjaga keamanan untuk tetap tenang.

“BIARKAN AKU MASUK! AKU INGIN BERTEMU ANAKKU! KEMANA MINHO?!!”, teriak wanita itu, Yuki membungkuk, menarik tubuh Taemin yang masih lemas dan hilang dalam dunianya sendiri.

“Tenanglah, perawat bilang ia sedang diberi pertolongan…”, ucap laki-laki itu memeluknya.

“Nyonya tenanglah, ini rumah sakit, dokter sedang berusaha memberikan pertolongan yang terbaik untuknya…”, bujuk sang perawat.

“APA MAKSUDMU TENANG,HAH? INI NYAWA ANAKKU, DIA ANAKKU SATU-SATUNYA…DIA BARU SAJA DITUSUK OL—“ wanita itu terdiam, menangkap dua sosok wanita di ujung ruangan, yang satu dengan kimono berwarna putih , tubuh kecilnya berusaha menahan sosok yang sedang berdiri lemas dan juga terlihat sangat pucat dengan kimono yang penuh dengan bercak darah.

Yuki melihat wanita dan laki paruh baya itu menatap mereka horor, Yuki menarik Taemin lebih dekat melingdunginya.

“KAU!!”, wanita itu berjalan menuju mereka. Yuki menarik Taemin mendekat, takut akan sosok didepannya.

PLAK

“Taemin –san!!”, teriak Yuki menahan tubuh Taemin yang hampir terjatuh, Taemin mendongak perlahan, matanya kosong dan kemudian menunduk lagi, air mata membasahi wajahnya, dan dari sudut bibirnya keluar darah karena tamparan wanita itu sangat kuat.

“Nyonya, apa yang nyonya lakukan?”, teriak Yuki.

“KAU! KAU JANGAN IKUT CAMPUR!!”, teriak wanita itu ingin memukul Taemin lagi, namun berhasil dihalau oleh laki paruh baya itu yang sepertinya suaminya. “LEPASKAN! AKAN KUBERI PELAJARAN PADA WANITA JALANG INI, INI SEMUA KARENA MU, WANITA SAMPAH, PENJUAL HARGA DIRI!! KAU TELAH MEMBUAT ANAKKU CELAKA!!! WANITA SAMPAAAAAAH!!!”, teriaknya gemas,

“Cukup…ini rumah sakit…”, laki itu mencegah.

“AKU TIDAK PERDULI! KARENA WANITA INI MINHO JADI BEGINI! KALAU SAJA DIA TIDAK KENAL DENGAN MINHO … KALAU SAJA IA TIDAK MASUK DALAM KEHIDUPANNYA!! KATAKAN, KAU YANG MELAKUKANNYA KAN? KATAKAN!!! MINHO JADI MEMBANGKANG KARENAMU!! MINHO MEMBUANG KELUARGANYA KARENA MU! ”, teriak wanita itu, Taemin mendongak, ia hanya bisa menggeleng dan menangis lagi … bukan… bukan aku…
PLAK

“NYONYA!! HENTIKAN!!’, teriak Yuki menangis, “Hentikan nyonya … Taemin –san kami tidak bersalah … aku percaya ia tidak lakukan ini … jangan sakiti dia … dia juga terluka nyonya…”, mohon Yuki memeluk kaki wanita itu.

“JANGAN SENTUH AKU, KAU SAMA SAJA, KAU JUGA SAMA SEPERTINYA, WANITA SAMPAH!!” BRUK

“Akh!”, Yuki terjerembab kebelakang karena kaki wanita itu menendangnya, Taemin dengan gemetar menarik Yuki.

“G-g-g-gomenasai … a-aku..tidak—lakukan itu…”, isak Taemin , “A-aku tidak—lakukan—“ Taemin menatap kosong ke arah wanita itu, air matanya terus keluar.

“Polisi, bawa mereka.”, pinta suaminya,

“JANGAN! JANGAN BAWA KAMI! TAEMIN –SAN TIDAK BERSALAH!!! JANGAN!!”, teriak Yuki menahan tangan Taemin yang sudah ditarik paksa oleh polisi dan diborgolnya, dirinya pun ikut diseret ikut serta.

Taemin melihat ke arah pintu UGD terus menerus,. Air matanya terus mengalir … “Minho –sama…”, lirihnya, “Gomenasai…”

.
.

Saat pertama kali mata ini memandangmu.
Saat pertama kali sosokmu terlihat bola mataku.

Hati ini terjatuh pada kesesatan yang membimbangkan.
Jiwa ini terjatuh pada dosa yang terlarang

Mencintai seorang yang tidak boleh di cintai

Aku kehilangan akal
Aku kehilangan kewarasan

Aku telah di butakan rasa cinta dan sayang
Tidak perduli jika di cerca olehmu
Tidak perduli jka di hina olehmu

Aku hanya ingin membisikanmu
Meneriakan rasaku.

Aku mencintaimu
Aku ada disisimu

Jonghyun tertidur beralaskan paha Jino. Matanya terpejam dengan gurat wajah tenang. Ekspresi yang sangat jarang dia perlihatkan. Jenderal tersebut tengah menikmati kedamaian setelah beberapa lama tersesat dalam goa gelap menyiksa. Tangan pemuda itu menyapu pelan kening Jonghyun dan menyibak poninya.

Senyum terlukis di wajah manisnya namun beberapa detik kemudian berubah menjadi kelam. Dia mendongak. Menghembuskan nafas lelah.

Betulkah apa yang dia lakukan? Apa sudah benar tindakannya yang menemui atasannya dan memberitahukan perihal perasaan cinta yang dia pendam sejak pertama kali mereka bertemu. Perasaan yang setengah mati dia kubur karena dia tahu perasaan itu salah. Apa yang akan di pikirkan orang lain ketika tahu jika mereka….

“Kim – sama.. maafkan saya yang telah menjerat anda.”

Jino mencium kening pria tampan yang tertidur. Cinta ini meledak – ledak dalam Hatinya. Ketidaknormalan bagi mata mereka yang menganggap jika hidup mereka telah sempurna memang sejak awal membuat Jino takut. Pemuda itu takut jika hubungan dia dan Jonghyun malah menimbulkan malapetaka bagi jendralnya.

Menggelengkan kepala. Tidak ada yang salah. Cinta adalah cinta. Cinta datang bukan dari lingkungan yang mendesak. Cinta datang dari hatimu. Kenyamanan  bersama belahan jiwamu, debaran ketika berada di sisi kekasihmu. Itu cinta.

“Seandainya saya seorang Wanita. Seandainya saja Kim – sama. Cinta kita tak akan di anggap terlarang”

Pengandaian manis selalu diinginkan setiap makhluk didunia. Selalu tidak puas ketika kebahagiaan hidup tak bisa di raih karena kondisi dan lingkungan yang tak mendukung untuk meraihnya.  Seperti yang di alami Jino. Cinta miliknya dianggap terlarang karena dia terlahir sama seperti pujaan hatinya. Tiap pasang mata akan melirik dirinya dengan jijik. Akan menghina dan mencekamnya. Itu adalah hukum dunia tidak tertulis. Dimana setiap manusia di ciptakan saling berpasangan pria dan wanita. Bukan pria dan pria.
“Kim – sama.. saya sangat mengagumi anda”

“Eungh..”

Jino menyeka air mata di sudut matanya. Jonghyun telah bergerak. Mata pemuda dewasa itu mengerjap perlahan. Dan ketika matanya terbuka dia melihat Jino yang tengah menatapnya tersenyum, tangannya terangkat. Dia membelai pipi pemuda manis itu.

“Selamat Sore… atau malam?” Ucap Jonghyun mulai mendudukkan diri disamping Jino. Tangannya meraih tubuh kecil disampingnya membawa dalam dekapannya. Jonghyun menaruh kepala Jino dipundaknya. Dia.. dia merasa nyaman dengan melakukan semua ini. hangat. Dan merasa di terima.

Jino melingkarkan tangannya pada pinggang Jonghyun. Berbagi kehangatan kebersamaan.
“Tidur anda nyenyak Kim – sama”

“Tidak pernah senyenyak ini seumur hidupku” Jonghyun mencium puncak kepala Jino “Terima kasih…”

“Saya yang harus berterima kasih. Karena anda mau menerima saya Kim – sama”

Jonghyun terkekeh pelan. Dia mendorong tubuh Jino agar berhadapan dengan dia. “Jika kita membahasnya tidak akan pernah habis. Cukup sampai disini ucapan terima kasih dan maaf. Hmm..”

Jonghyun menangkup wajah manis Jino. Matanya fokus pada bibir pemuda itu yang membuka hendak bicara.

Lumatan kecil. ciuman lembut. Jonghyun menarik tengkuk Jino lebih mendekat kepadanya.

Tubuh Jino telah berada di atas Jonghyun. Mengalungkan tangan kecilnya di leher jendralnya. Memperdalam ciuman mereka.

Hanya sekedar ciuman basah. Hanya seperti itu yang mereka lakukan. Jonghyun yang selama ini tidak pernah melakukan hubungan fisik lebih jauh merasa sedikit aneh ketika merasakan sesuatu dalam tubuhnya menegang. Dia merasa jika nafsu yang selama ini tidak pernah datang. Tidak pernah bereaksi pada dirinya muncul menampakan diri.

“Akh..”

Jonghyun merebahkan Jino di sofa besar putih di dalam kamarnya.

“Aku tidak mengerti bagaimana ini bermula.. hanya saja aku menginginkanmu Jino..”

Jonghyun memperhatikan perubahan wajah Jino dari terlonjak kaget hingga malu dengan wajahnya memerah.

“Aku terkena penyakit impotensi Jino – ah.. tapi kenapa aku bereaksi kepadamu”

Bingung dan tidak mengerti tentang kondisi dirinya sendiri. Jonghyun hanya sabar menanti perkataan Jino menjawab perkataannya.

“Apa saya salah jika menyimpulkan jika anda mencintai saya melebihi cinta – cinta anda sebelum ini Kim – sama?”

Melebihi cinta sebelumnya? cinta dia kepada Kibum? Dia memang mencintai wanita itu tapi hanya sekedar cinta tempat dia merasa nyaman dan di terima. Dia merasa sakit hati ketika dia dikhianati oleh Kibum dan terpuruk, namun dia masih bisa mencoba untuk menghadapinya. Tapi… bayangkan jika itu Jino.. PERIH…. Dia.. dia tidak akan sanggup untuk merasakan sakitnya jika pemuda manis itu mengkhinatinya. Dia tidak akan sanggup lagi untuk membuka mata. Dia akan mati.

Satu penjelasan yang mencerahkan keraguan dalam bilik hatinya “Jadi seperti itu.. walau pertemuan kita singkat tapi aku sudah sangat mencintaimu.. aku bahkan mencintaimu hingga seperti ini..”

“Saya lebih mencintai anda Kim – sama”

Begini saja cukup. Mungkin dia terlihat tidak perduli lagi dengan pandangan dunia luar terhadap mereka. Dia seorang Kim yang jatuh cinta, tidak sangat jatuh cinta kepada Cho Jino pemuda asistennya dalam bekerja. Tidak bisa dia pungkiri jika semakin hari cinta mereka semakin kuat.

“Aishiteru..”

Jonghyun kembali melumat bibir Jino. Lidahnya menjilati bibir luar dan memaksa masuk.

“Ungh..”

.

.

Taemin terus muntah , ia tidak bisa makan makanan yang disajikan oleh penjara. Jika ia paksakan hanya untuk mengisi perutnya dan menjaga agar ia tetap sehat untuk menghadapi penyelidikan, maka itu percuma, beberapa saat kemudian ia akan muntah lagi, dan ia merasa tidak enak badan …

Terlebih bebannya bertambah rasanya, ia dengar desas desus yang berdedar, seorang pangeran dari Korea menembak dirinya sendiri di Okiya nya, siapa lagi kalau bukan Jinki –sama, ia khawatir dengan Kibum –san, ia tidak tahu apa yang sedang menimpa mereka, ia merasa bersalah juga karena tidak bisa membantu Kibum –san, dan menambah masalah di Okiya mereka … kenapa, kenapa harus ia dan Kibum –san yang terluka dari sebuah cinta begini?

“Taemin –sama, silahkan ikut keruang persidangan …”, Taemin berdiri, tubuhnya limbung, ia pegang tembok disekitarnya.

Taemin dan Yuki menerima kabar gembira, palu dipukul, mereka diputuskan tidak bersalah, Hiroshi Yuji, seorang pria yang pernah Taemin temui di kantor Minho, adalah kunci dari semua kasus nya. Pria itu mengatakan semua bukti-bukti atas kejahatan Yuri berikut keluarganya, karena selama ini ia diminta oleh Minho untuk melakukan penyelidikan atas istri yang dinikahinya.

Apa yang dilakukan Yuji sangat besar, ia membeberkan semua mulai dari berkas penyelundupan surat tanah keluarga Minho, membawa saksi kejahatan pembakaran rumah Taemin dan Minho beberapa saat lalu yang mengakui mereka utusan Yuri … dan … juga saksi yang sangat membuat Yuri tidak bisa berkutik. Ayah Yuri sendiri, Yuri menangis meraung melihat ayahnya sendiri membeberkan kejahatannya, ia berteriak bahwa ia dijebak, keluarganya juga dijebak.

“Kita bebas Taemin-san …”, Yuki memeluk Taemin erat dan menangis, Taemin tersenyum, akhirnya … pada akhirnya ia bisa bertemu Minho. Ia edarkan pandangannya ke arah lain, melihat kedua orang tua Minho …

“APA?!”, pekik Ibu Minho, Taemin terkejut, sedetik kemudian kedua orang tua Minho melesat pergi. Taemin tahu satu firasat, ada yang tidak beres… Mungkinkah … Tidak … tidak mungkin … tidak akan terjadi apapun …
.
.
Lenguhan dari kecapan mereka. Jonghyun memejam mata menikmati. Rasa basah dan lembut bibir mereka bersatu kian dalam.

Jonghyun memiringkan wajahnya. Meraup celah kosong di bibir Jino dan kembali melumat kemudian menghisapnya kuat. Mereka berciuman hingga kehabisan nafas.

BRAK

“APA YANG KALIAN LAKUKAN?”

Sang kepala keluarga Kim masuk mendobrak pintu. Matanya membesar  seakan dapat keluar kapan saja dari tempatnya. Urat – urat kemarahannya terlihat di keningnya. Nafasnya memburu. Wajahnya memerah.

Anaknya. Anak keduanya tengah bergumul dengan sesama pria dihadapannya. Cukup. Sudah berapa kali anak tidak berguna itu menyusahkannya. Impoten? Bercerai? Dan kini menjalin hubungan yang menjijikan.

“KAU BENAR – BENAR ANAK TIDAK BERGUNA!”

Lelaki tua itu meraup kerah baju Jonghyun dan melemparkannya bagai sampah ke lemari besar.

BRUG

PRANK

Kaca lemari tersebut pecah setelah tertimpa tubuh Jonghyun. Beberapa benda didalamnya terjatuh dan menimpa jendral itu.

“KIM – SAMA!”  Jino berteriak khawatir. Dia hendak berdiri mendekati Jonghyun namun sebuah samurai tersajikan siap menyayat lehernya

“JANGAN SAKITI DIA…” erang Jonghyun berusaha menjauhkan benda – benda yang menimpanya.

“AKH…….” Rintihnya. Sebuah kaca tertembus di sekitar pinggangnya. Dia mencoba menariknya. “SShhhh aKHhh”

“Kim – sama”

Jonghyun hanya menatapnya dengan raut wajah menenangkan namun pada kenyataan dia kehabisan nafas menahan sakit di sekitar pinggangnya. Darah bersimbah di sekitarnya. Jino semakin khawatir dan gelisah di tempat duduknya

“Kenapa tidak sekalian benda itu menembus jantungmu anak sialan hingga kau bisa mati tanpa mempermalukan keluarga ini. Aku sudah menaruh curiga terhadap kalian.. dan ternyata benar seperti ini. sial. Kenapa kau tidak mati saja! ”

“Hahaha. Sepertinya tuhan masih menyayangiku Oba- san.”

“Jangan memanggilku seperti itu, kau bukan anakku lagi”

“Cih.. Aku melakukannya karena terpaksa”

“KAU……..”

Lelaki tua itu mendekati Jonghyun siap dengan samurainya. Jino menarik kakinya membuat kepala keluarga Kim meliriknya dengan pandangan jijik “Lepaskan tanganmu manusia menjijikan”

Jino menggeleng dan tetap menahan Kaki ayah Jonghyun. Lelaki tua itu tampak marah dia menendang – nendang tubuh Jino yang meringkih kesakitan.

“Lepas Jino.. kumohon..” seru Jonghyun

“Tidak Kim – Sama. Dia bisa membunuh anda”

“Pemuda bodoh. Aku akan membunuhmu terlebih dahulu”

“TIDAK………..”

Dan semuanya terlambat, samurai itu telah berhasil menyayat leher Jino. Tak sempat mengucapkan kata apapun. Pemuda itu telah jatuh bersimbah darah dengan mata terbuka teraliri air mata.

“JINO………….”

Jonghyun berusaha bergerak. Namun lukanya sangat parah. Dia bisa merasakan perih dari sekitar tubuh belakangnya. Dan darah di pinggangnya juga tak berhenti mengalir.

“Akh…” erangnya ketika menyeret tubuh mendekati Jino. Setiap langkah yang dia ambil merupakan kesakitan terdalam dari tusukan ribuan samurai, sekujur tubuhnya merasa perih, lecet dan dia dapat merasakan jika  darah tak hentinya merembes. Tangannya meraih tangan pemuda yang beberapa hari ini mulai dia cintai. Tak ada air mata di mata teduhnya. Mungkin telah habis. Telah mengering. Tak ada gunanya karena dia tahu pemuda itu tidak suka jika dia menangis.

Dia menatap Jino dan hanya bisa  tersenyum seperti orang gila. Memang mungkin takdir mereka akan seperti ini. dia tidak ingin melawan. Dia pasrah. Dia memejamkan mata. Kesedihan yang tak berujung. Kemudian kebahagiaan sesaat. Sepertinya dunia yang dia miliki hanya seperti itu. mungkin dia memang harus pergi dari dunia ini. Dia harus meninggalkan semua penderitaannya disini. Jinonya. Jinonya telah menunggunya.

“Kenapa kau tersenyum anak sialan?”

“Hidup itu ternyata indah..”

“Cih..”

“Bunuh aku secepatnya.. bukankah kau takut jika aku kembali mempermalukan keluargamu..”

“Tentu saja kau akan kuhabisi seperti pasangan menjijikanmu itu. seharusnya aku membunuhmu sejak dulu. Pantas saja kau tidak bereaksi terhadap wanita. Ternyata kau seorang yang tidak normal. Kau memang anak pembawa bencana”

“Hahahah.. sayang sekali anak pembawa bencana ini ternyata adalah darah dagingmu”

Lelaki tua itu mengarahkan ujung samurai tepat kearah jantung Jonghyun.

“Apa kau sama sekali tidak memiliki rasa sayang untukku? Apa aku hanya sekedar alat untukmu?”

Jonghyun menatap ayahnya pilu.

“Kau hanya alat untukku”

Jonghyun menangkap samurai dengan tangan kanannya. Dia hanya membiarkan ketika bagian tajamnya kembali menyayat telapak tangannya. “Kalau begitu aku benar – benar tidak di harapkan untuk berada di dunia ini Oba- san”

JLEB

Ujung samurai dia arahkan tepat mengenai jantungnya. Darahnya mengucur deras dari tempat dia menusukannya. Tak sampai disitu, jonghyun tersedak mengeluarkan darah. Dia terjungkal kedepan hingga tubuhnya menindih Jino.

“Tunggu aku Jino.. tunggu aku dimana cinta kita tidak di larang”

Bisikkan terakhir. Lirihan teramat lirih. Samar matanya mulai tertutup. Nafasnya mulai melambat. Dan pada akhirnya dia pergi, meninggalkan penderitaannya.

jika ketiadaan adalah tempat terakhir untuk cinta kita
maka tak ada gunanya berada di lautan keramaian
jika kehampaan adalah tempat mulia untuk cinta kita
maka aku akan menghilang dari dunia yang penuh pesta pora

tempat abadi dimana kita tak di kekang
bisa mencurahkan apa yang ada dihati
menjelaskan kepada siapapun
meneriakannya kepada yang mau mendengar

hey…. Kami.. yah kami.. adalah sepasang kekasih
kami saling mencintai,,,

dan cinta kami tidak salah……

.

.

Lautan pelayat berdiri mengelilingi sebuah lubang dimana disampingnya ada peti mati mahal berbingkai logam – logam indah. Didalam sana. di dalam peti mati itu telah tertidur seorang pemuda yang merupakan pujaan daru ratusan ribu manusia di korea. seorang pangeran yang seharusnya menjadi Raja masa depan, seharusnya bisa menjadi sebuah acuan dari rakyatnya. Namun kini. Dia hanya bisa terbaring kaku disana. Dia telah pergi dalam kedamaian.

Matanya terpejam. Wajahnya pucat pasi. Dia mengenakan pakaian kebangsaannya. Pakaian yang melambangkan jika di adalah seorang pewaris Imperial Korea. HWANGSASON.

Tak tampak sama sekali jika dia telah tiada. Dia terlihat seakan tertidur, terlelap dalam tidur panjang yang suatu waktu akan terbangun.

Wajahnya masih terlihat tampan
Mata sabit yang terukir
Bibir bulan purnama yang penuh
Kedua pipi yang bagai bulan di malam hari
Dia pusat dunia yang indah
Dia adalah segala rotasi dari perputaran sebagian manusia yang mencintainya.

Lee Jinki..
Pangeran Korea yang Sempurna

“Oppa… hikss…..” Gadis muda memakai hanbok putih menangis didalam pelukan ibunya. Dia melihat dengan takut ketika peti mati kakaknya di angkat dan di masukkan kedalam liang lahat yang nanti akan mengebumikan seluruh jasadnya

“AKH….. OPPA….ANDWE…..….”

Perlu beberapa manusia berpakaian hitam selayaknya bodyguard untuk menenangkan gadis itu. dia di bawa menjauh dari sana. dibawa pergi dari pemandangan menyayat hati. Disana ratusan manusia menangis. meratap pilu kepergian pemuda baik hati itu.

“INI SALAHMU UMMA… INI SALAH KALIAN… KENAPA TIDAK MENGIZINKANNYA BAHAGIA.. KALIAN TELAH MEMBUNUHNYA…”

Gadis itu meraung histeris, memukul – mukulkan kepalan tangannya kepada para bodyguard yang mencoba menenangkannya. Ibunya hanya bisa diam membatu dengan air mata tak henti mengalir. Merasa terluka. Matanya yang berbingkai sabit sama seperti anak lelakinya terpejam. Tanganya mengepal didada. Dia melihat jauh kearah langit, mengabaikan teriakan – teriakan menyalahkan dari anak keduanya.

“Jinki… Lee Jinki..” bergumam lirih. Wanita itu tak dapat menyaksikan lagi ketika peti mati sudah hampir tertutup oleh tanah.

“Maaf…”

.
.
Kibum bersenandung pelan. Rambutnya acak – acakan. Kimononya berantakan. Noda darah mengering di beberapa bagian di obinya. Tangannya yang tergeletak disisi kiri tubuh hanya terkulai dengan telapak yang bersimbah darah. Baru saja belati tajam itu menyayat pergelangan tangannya.

Matanya terpejam damai. Tangan yang memegang belati menyusuri bagian leher dan pundaknya. Dia menambah luka sayatan disekujur tubuhnya dengan sengaja. Kibum hanya ingin mengalihkan rasa sakit, perih. Kosong dan hampa di hatinya.

“Oka – san..”

Yuki memekik pelan berlari mendekati kibum. “Apa yang anda lakukan? Kenapa anda menyakiti diri anda?”

Yuki membuka laci baju Kibum, meraih kain yang bisa menyerap dengan cepat. Lalu kembali duduk disamping Kibum. Gemetar, tangan mungilnya menyapu darah yang mengalir dari pergelangan tangan. Leher dan pundak.

Tak tampak jika Kibum meringis atau merasa sakit. Dia mati rasa. Matanya tetap terpejam dan dia tetap bersenandung menyanyikan sebuah lagu.

“Oka – san.. anda harus segera menemui dokter.. luka – luka anda tidak bisa di biarkan. Nanti meninggalkan bekas” Yuki membebat luka di pergelangan tangan Kibum. Dia terisak kecil. oka – sannya selama beberapa hari ini. terhitung semenjak insiden bunuh diri Pangeran Lee berdiam diri seperti patung. Tidak makan. Tidak mau melakukan apapun. Dia tidak beranjak sedikitpun dari duduknya. Dan hari ini. dia melukai diri sendiri.

“Oka – san.. hiks.. saya mohon.. Oka – san, kembalilah menjadi Oka –san seperti biasanya.. hiks..”

Yuki menunduk sembari menarik – narik kimono Kibum agar tersadar. Wanita cantik itu tengah berada di dimensi lain. di dunia yang tak mengijinkan siapapun mengganggunya. Tak berselang lama. Tangannya yang telah dibebat meraih pipi Yuki. Kibum tersenyum, menghapus air mata maiko yang telah mengabdi kepadanya selama beberapa tahun.

“Kenapa menangis Yuki – chan?”

“Oka – san.. anda… anda telah sadar?”

“Apa maksudmu? Aku tidak pernah merasa pingsan atau tertidur”

“Tapi anda tidak ..”

“Bisa ambilkan Kimono biruku itu Yuki? Dan tolong bawa meja riasku kesini”

“Apa yang ingin anda lakukan Oka – san?”

“Berdandan tentu saja!”

“Tapi anda harus kerumah sakit terlebih dahulu”

“Tidak bisa Yuki. Aku harus segera menemui Jinki. Aku tidak ingin dia menunggu lama..”

“TIDAK… anda tidak boleh Oka – san”

“Kau ingin membantahku?”

Yuki terdiam. Kibum mengeluarkan tatapan mautnya seperti biasa jika dia merasa maiko tidak menuruti kemauannya. Yuki melangkah berat dengan menangis pelan. Dia berusaha menghapus air matanya.

“huhuhu.. hikss…”

Mengambil Kimono biru di gantungan di dekat lemari – lemari kayu lainnya. Dia beralih ke dekat pintu, disana ada sebuak kotak besar berwarna coklat. Yuki mengangkatnya.

Dengan Kimono dan kotak tersebut Yuki menaruhnya di depan kibum “Ini yang anda hiks..anda butuhkan Oka – san”

Kibum membuka kotak tersebut. Tutupnya merupakan sebuah kaca dimana dia bisa bercermin. Didalamnya ada rentetan alat riasan wajah yang terdiri dari bedak, perona wajah dan bibir. Kibum mengambil sebuah sisir kayu bergerigi rapat. Mulai dari atas kepala hingga ujung rambutnya. Dia menyisir pelan tak lupa untuk bersenandung. Dia mengambil sebuah Kanzhasi biru. Menatapnya terdahulu dengan raut  penuh rindu. Lalu dia mulai menyanggul rambutnya dan menyematkanya dengan manis.

“Yuki.. Bantu aku memakai kimono dan berhentilah menangis.”

“Baik Oka – san”

Yuki menahan tangisnya dengan nafas sesak. Dia memakaikan kimono dalam berwarna putih dan kemudian memakaikan kimono luar berwarna biru ketubuh kibum. Mengambil obi berwarna Putih dan melilitkan di sepanjang perut Kibum, airmata tak hentinya menetes dari kedua matanya. dia menangis tanpa bersuara karena Kibum telah memerintah dia agar tidak menangis. Tapi. Dia terlalu sedih akan apa yang telah di lakukan oka – sannya. Oka – sannya berniat menyusul Jinki.

“Bagaimana? Apa aku terlihat Cantik?”

Kibum membalikan badannya tepat kehadapan Yuki “Sudah kukatakan jangan menangis Yuki – chan”

“Maafkan saya Oka – san”

Yuki menghapus air matanya

“Baiklah.. antarkan aku  ke tempat Jinki…”

“Tapi… saya mohon Oka – san.. anda jangan-

“Yuki.. aku tidak suka di bantah!! Aku tidak ingin membuat Jinki menunggu…”

Kibum menatap langit biru. Dia tersenyum bahagia. Sesuatu membuncah dalam hatinya. Kesempatan yang akhirnya dia dapatkan. Kibum sebentar lagi akan menemui Jinki. dia dapat merasakannya jauh didalam lubuk hatinya.
.
.
Belum kering rasanya air mata yang kemarin turun di pipinya, dan rasanya belum sembuh juga rasa sakit hatinya, bahkan belum sempat juga ia katakan bahwa ia benar mencintai nya … sungguh dalam hatinya ia mencintai Minho, ingin rasanya ia teriakan itu, seandainya waktu bisa diputar, dan ia bisa berikan apapun pada Tuhan untuk mengulang satu hari –tidak, satu menit saja, dia akan mengatakan itu pada Minho …

Berdiri dengan anggun dengan kimono terbaiknya, berdiri tegak, setegak mungkin dan membiarkan air mata mengalir dipipinya, bau dupa menyengat, hilir mudik orang melewatinya, namun kakinya tetap berdiri didepan pintu masuk rumah besar itu, menggenggam o-koden* di tangannya …

“konodabi wa goshusho sama desu* (turut berduka cita)” lirihnya pelan sekali, kemudian membungkuk dalam, ia terisak … mengigit bibirnya dengan kuat, ia sudah tidak kuat … perlahan kakinya melemas, terjatuh di tanah, bersimpuh di depan peti yang ada dihadapannya.

“Hiks ….hikss ….hukkss…”, mencengkram kimononya sendiri,

“A-apa kau bilang Yuji-sama?”
“Itu benar Yuki, saat sidang selesai, kondisi Minho –sama memburuk … dan sempat mengalami koma selama 2 hari …lalu …”
“Bohong! Dia hanya …tidak mungkin…kenapa?”
“Lukanya menyerang rusuknya, ada saraf ke otak yang kena … maka dari itu …”
“Ap-apa…kenapa Minho –sama?”
“T-taemin san?”
“Ada apa dengan Minho –sama?! KATAKAN ADA APA?!”
“…”
“….dia …meninggal subuh ini…”

[“Kau … siapa namamu?”, tanya Minho.
“Taemin… Lee Taemin…”, katanya, Minho tersenyum.
“Taemin…nama yang bagus, dan …coba kau dengar ini, Taeminho…bukankah menurutmu itu terdengar bagus? Kita cocok…”, kata Minho asal]
.
[“Kau suka Taemin?”, Tanya Minho, Taemin menoleh dan mengangguk.
“Ya , aku sangat suka, tempat ini indah, sama seperti Okiya …”, kata Taemin, Minho menarik nafas.
“Tapi tempat ini akan menjadi tempat mu selamanya bersamaku …”, balas Minho, Taemin mengangguk
“Ya Minho sama … aku akan melayani anda sepenuh hatiku …”,]
.
[“Taemin … aku mencintaimu…”, desah Minho mencium leher Taemin seiring desahan nya, Taemin melingkarkan tangannya ke pundak Minho. Membenamkan kepalanya disana.
“M-minho –sama… a-aku…”]

Semua rasanya sudah terlambat, kata itu mengambang begitu saja, kata cinta yang mudah seharusnya bisa ia katakan, bukan saat dimana Minho tidak dengar ketika ia katakan sebelum semua ini terjadi …
Ia peluk tubuhnya sendiri, masih terasa rasanya pelukan Minho saat itu, masih terasa kecupannya di lehernya, masih terasa ciumannya di bibirnya, dan masih berasa deru nafas di telinganya … dan masih terasa tangan dingin itu perlahan turun melemas dari genggamannya …
Ia menangis … dan terus seperti itu …

Hati ini telah pergi mencari tempatnya berarti
Hati ini telah berlari dariku dimana dia bisa berguna
Menyembunyikan dirinya dariku sebagai penguasa.
Tidak lagi ingin menjadi seluruh hidupku
Hati ini memilih terbagi. Memilih memisahkan diri
Berada di separuh jiwaku, berada di separuh jiwamu

Aku tersesat dalam dua arah
Tidak dapat memilih untuk maju atau memundurkan langkah
Hanya bisa berjalan di tempat bagai raga tak berjiwa
Tanganku ingin menggapaimu
Sedangkan jemariku telah di lekat olehnya

Bagaimana aku harus bersikap
Memilih cintaku atau mengabaikan cintanya yang besar terhadapku?

TBC~

PART 8 B coming soon~ Please RCL.
We really love that!

Sorry for mistake n miss typo … kita buat ini berdua dengan bahasa sendiri-sendiri, dan dijadikan satu! jadi maaf kalau ada perbedaan gaya bahasa dan masih banyak miss dalam koreksi tulisan!Annyeong~
-Vienasoma Newmoon & Sanniiewkey~-

111

[2min-Onkey/PW ask sanni &viena] Forbidden Love of A Geisha PART 7 of 8

[Onkey-2min] Forbidden love of a Geisha part 7 of 8

Foreword:

Syalalaa.. gue sibuk kerja.. = =”. Ini yeobo gue kasian di tagih.. dan yah gue selesaikan dalam waktu beberapa jam saat libur kerja! Ini panjang banget. Rekor pokoknya. Sama aja ini 2 chapter. Hohoho.. jangan heran banyak kata puitis. Jiwa gue lagi berubah menjadi pujangga. Hohoho… thanks to sista gue atherion Vienna buat kosakata jepangnya. Dan yah selamat menikmati. Doakan saya huks…

~vienasoma~

Annyeong, sumpah, ini gue ketik ulang! Gue nangis” ngadu ke yeobo gara” tulisan sebelumnya belum ke save dan word gue yang stupid menghapus semuanya disaat sudah mau selesai , jadi tulisan kali ini dengan mood yang berbeda. Semoga suka T^T
ps: thnx to Kei eon atas kamus berjalannya :p

Feel free to comments and like
~sanniiewkey~

Pemuda berwibawa terduduk lemas dengan wajah yang dia tangkup dengan kedua tangan. Jemari tangannya mengusap permukaan wajahnya. Memberikan sedikit saja rasa nyaman yang tidak dia dapatkan beberapa hari belakangan. Ada kesedihan dalam lekuk wajahnya. Ada sebening air mata yang hinggap di sudut matanya. Dia mendongak dan melihat langit kamar besar yang dia tempati. Sendiri. Dia mengulurkan tangan kesamping tubuh dan tidak ada yang bisa dia rasakan selain kehampaan.

Tidak ada lagi wanita yang bisa menjadi sandarannya. Tidak ada lagi wanita yang bisa memeluknya memberikan kehangatan dan secercah rasa bahagia.

Matanya memejam pelan. Memberi peluang untuk air mata yang menetes mengalir jatuh membasahi pipinya. Tanganya terangkat menggapai sebuah pigura coklat indah yang berada tak jauh dari sisi kiri tubuhnya. meraihnya dan berusaha menampik rasa yang langsung mengerogoti hatinya hingga berdarah

Sebuah gambar dari wanita yang baru saja mengkhianatinya. Didalam sana tercetak dengan bahagia ketiga wajah manusia yang saling bersahabat. Dia yang melingkarkan tangannya di pinggang wanita tersebut, dia berada di tengah diapit cintanya dan sahabatnya. Jinki dan Kibum. Keduanya tersenyum dan dia juga tersenyum

Jonghyun berusaha menarik bibirnya melengkung membuat sebuah senyuman yang sama persis dengan gambar dirinya yang berada didalam pigura.

“ah…”

Ngilu dan sedikit nyeri. Jemarinya memijit kedua sisi pipinya. Meredam sakit dari usahanya yang membuat bibirnya tersenyum.

“Bahkan senyumpun sekarang aku tak bisa. Kalian terlalu menyakitiku. Merusak rasa bahagiaku. Menghilangkannya bagai angin yang tak lagi dapat ku lihat dan kujangkau. Kalian… kalian adalah sumber dari rasa bahagiaku. Kini setelah kalian juga merusak hatiku, menyakitiku. Aku menjadi tidak mengerti. Aku kembali tidak paham. Apa arti dari kata bahagia… apa artinya… aku tak tahu.. tak tahu.. aku sudah tidak mengerti,..”

Menaruh pigura tersebut dan merebahkan dirinya sendiri. Menikmati kembali kesendirian yang dia rasa. Lama dalam keheninganya yang dalam. Entah sudah berapa hari berlalu dia pun tak ingat. Semenjak kejadian memilukan itu dia menutup diri dalam kamarnya dan mengindahkan semua aspek luar yang menghubunginya. Dia butuh waktu. Butuh memperbaiki retakan dalam jiwanya.

“Kau terlihat sangat menyedihkan Tuan Kim!”

Suara lirih dari seorang wanita. Semakin mendekat kearah jonghyun. Wanita itu menaruh baki yang berisi beberapa makanan di atas sebuah meja besar yang terdapat dalam kamar luar seorang jenderal kim jonghyun.

Menyampirkan kimono tangannya dan memperbaiki letak rambut dan kanzashinya. Wanita itu cantik namun wajahnya muram dan tampak kesal. Memandang jonghyun dengan wajah arogan dan melecehkan.

“Sampai berapa lama kau menjadi sampah seperti ini? kau tidak kembali menangani tugasmu?”

“Bukan urusanmu!”

“Cih.. tentu saja ini urusanku Tuan kim.. aku istrimu dan otoo-sama (ayah) terus menanyakan keadaanmu padaku. Membuat ku harus mengarang cerita!”

“Katakan padanya jika aku sakit.. itu sudah cukup..”

Lelah. Demi apa dia lelah. Semua menghimpitnya dengan kuat, bahkan beristirahat sejenak saja dia tidak di perbolehkan.

“Aku sudah mengatakan seperti itu padanya. Namun seperti biasa tua bangka itu tetap saja menanyakanmu..”

“Dia pasti panik karena anaknya tidak menangani tugas dengan baik. Takut pangkat jenderalku di tarik.. hahahha…..”

Dia mengerti akan hal itu. sudah terbiasa mungkin. Ayahnya hanya perduli dengan keluarga KIM, nama besar yang mereka sandang. Pangkat yang keluarga mereka miliki. Anak pertamanya yang seorang Dokter. Dan dia anak kedua seorang Jenderal besar. Apa yang paling dia perdulikan jika bukan takut salah seorang anaknya kehilangan pangkat? Itu Bisa mencemari nama Kim.

“Kau sangat mengenal si tua bangka itu.. kalian memang punya hubungan darah.. ckckck…”

“Diamlah.. tutup mulutmu. Pergilah sekarang, aku butuh sendiri!”

“Tanpa kau suruhpun aku ingin pergi. Aku hanya ingin memberitahumu jika assitenmu datang dan ingin bertemu denganmu”

“Minho?”

“Bukan.. Aku tidak mengenalnya. Cho jino. Itu namanya! apa dia assisten baru di tempatmu bertugas sekarang?”

“Yah.. seperti yang kau duga! Suruh dia masuk!”

“Cih.. aku bukan pelayanmu Tuan Kim… dan yah…  satu lagi…Aku sudah mentandatangani Surat perceraian yang kau ajukan! Aku sangat berterima kasih padamu. Akhirnya aku bebas tanpa perlu menjadi yang di salahkan. Ini pertemuan terakhir kita Tuan kim jonghyun. sayonara!”

Tersenyum lebar dan penuh kemenangan wanita itu melangkah pergi. Membetulkan letak kimono putihnya. Menggeser pintu terbuka dan mempersilahkan seorang masuk kedalam kamar Jonghyun. Pemuda tampan yang masih kelihatan sangat muda dan wajahnya yang tak lazim untuk seorang pria. Terlalu cantik dan manis.

Pemuda itu membungkuk di depan pintu dan masuk dengan gugup, dia memperhatikan ketika kim jonghyun berdiri dari ranjangnya dan menuju sofa yang berada ditengah ruangan tersebut. Kamar mewah besar dan antik. Kamar yang di dominasi dengan warna coklat.

Jonghyun mendudukan dirinya dengan sopan, wajahnya telah berubah menjadi berwibawa dan tegas. Air mata yang menggenanginya telah hilang. Kini di wajah itu terpampamg topeng tegar dirinya yang lain. Dirinya yang selalu berpura – pura kuat.

“Jadi sepertinya aku harus segera kembali?” tuturnya pelan. Menggeser baki yang sama sekali tidak menarik  selera makannya.

“Tidak Kim – sama! Saya di tugaskan untuk mengecek keadaan anda! Semua orang mengkhawatirkan kesehatan anda. Karena itu saya di kirim kesini..”

Membungkuk lagi dan kini memainkan jemari tangan di balik punggung tubuhnya, dia gugup. Tentu saja dia gugup, berhadapan dengan seorang jenderal besar. Walau selama ini dia sering menemuinya karena dia adalah assisten jonghyun, namun kali ini mereka hanya berdua saja. dia menjadi ciut dan merasa tidak pantas.

“Ah.. begitu kah? Mereka mengkhawatirkanku? Hahahhaa…. Kelihatannya sangat mustahil Jino.. apa kau berbohong.. hmm?”

Matanya menatap pemuda kecil itu. meminta penjelasan karena dia merasa janggal. Tidak mungkin jika bawahannya mengkhawatirkan dia. Yah. Mungkin kecuali Minho. Namun assitennnya itu di tugaskan disini. Tidak menemani dia pergi ke bagian barat jepang.

“Kau berbohong Jino? Aku sama sekali tidak suka siapapun berbohong kepadaku”

Bugh

Pemuda itu berlutut dengan cepat. Membungkuk beberapa kali

“Gomen… Gomen Kim-Sama.. saya.. saya… seharusnya saya tidak datang kesini..”

“Eh… Aku tidak mengerti Jino.. untuk apa kau datang kesini dan berbohong seperti ini. aku ingin mendengar penjelasan yang jujur kali ini..”

Er. Diam dan gelagapan bingung, jino menunduk menyembunyikan wajahnya dan mendongak. Ketika matanya melihat mata jonghyun lagi kepalanya menunduk.

“Gomen.. saya mengkhawatirkan anda Kim-Sama.. gomen!! Saya meminta izin untuk menjenguk anda, berbohong kepada Masumi – Sama mengatakan jika ada berkas yang sangat penting untuk anda Lihat.. Hontou ni gomenasai!”

Kening jonghyun berkerut bingung, pemuda ini sangat membuat dia bingung. Untuk apa dia melakukan itu semua. Sungguh tidak bisa jonghyun percaya jika jino melakukan itu hanya karena rasa khawatir. Itu telalu berlebihan

“Kau mengkhawatirkanku?”

“Hai..(yah)… Gomen Kim-Sama”

“Ah.. tidak apa – apa! Tapi aku hanya bingung kenapa kau begitu terhadapku. Kau baru menjadi assitenku sekitar 2 bulan ini, dan sepertinya kau sangat berlebihan Jino”

“Gomen Kim-Sama… saya benar – benar murni mengkhawatirkan anda”

Melihat kesungguhan dari mata pemuda itu. sedikit merasa hangat di hatinya. Setidaknya ada seorang yang memikirkannya. Yang tulus kepadanya. Namun, yah dia tidak mau berharap terlalu jauh. Dia baru saja merasakan di khianati oleh sahabatnya sendiri.

“Arigato Jino.. itu sangat berarti untukku”

Tersenyum.. yah dia tersenyum. Walau masih terasa ngilu karena wajahnya terasa kaku. Sangat kaku.

“Apa anda baik – baik saja Kim-Sama..”

Eh?

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Senyum anda… senyum anda terlihat sangat sedih..”

Terdiam. Benarkah terlihat jelas? Bukankah dia sedang memakai topeng kebanggaannya? Kenapa bisa ada celah yang bisa membuat orang lain sadar.

“hahaha.. kau pintar sekali bercanda jino.. tentu saja aku baik – baik saja. tidak ada senyum yang sedih.. semua senyum itu pertanda bahagia”

Berusaha tertawa pelan, berusaha berpura – pura. Yah seperti itulah dia. Pemuda yang tidak suka menebar luka di dalam hidupnya.

Jino beranjak berdiri dan pelan melangkah kearah jonghyun, pemuda itu memposisikan diri berada disamping jonghyun, kemudian membungkuk. Jemari kecilnya meraih sudut kiri mata jonghyun. Dan mengusap pelan setitik airmata yang singgah.

“tidak ada senyum yang sedih. Semua senyum itu pertanda bahagia. Jika seperti itu Apa airmata ini juga adalah pertanda anda bahagia karena anda sedang tertawa Kim-Sama?? Tapi kenapa terlihat jika tawa ini seperti teriakan kepedihan dari bibir anda”

Dan kesedihan itu akhirnya menyeruak keluar

Dan Air mata itu akhirnya menampakan diri… mengadu pada sebuah uluran tangan

Merintih pada sesosok yang mengerti

 

Ingin bersandar ketika menemukannya

Ingin merebahkan diri sejenak ketika berhadapan dengannya

 

Kau…

Telah hadir dari ratusan hari yang kutunggu

Kau..

Telah menghampiriku yang telah menunggumu…

“Kim – Sama.. apa yang membuat anda begitu sedih? Apa yang membuat anda begitu menderita?

“Kenapa kau bisa mengetahuinya?”

“Karena aku merasa kita sama Kim – Sama.. saya bisa melihat kesedihan di mata anda karena saya pernah merasakannya. Saya melihat penderitaan anda. Saya bisa melihat semuanya.. anda mengingatkan diri saya ketika saya masih berada di panti asuhan… Kim – Sama.. anda tidak kesepian…. Saya ada untuk menemani anda… berhentilah memperlihat kesedihan anda. Itu menyiksa saya. Dan itu yang membuat saya khawatir”

Aku hanya ingin di cintai tidak lagi di hina

Aku hanya ingin di sayangi tidak lagi di cerca

Aku hanya seonggok raga yang berjalan di antara lautan masa yang tidak mengaggapku ada

Aku hanya sebuah jiwa yang bergerak diantara sekumpulan raga yang tidak menganggapku ada

Masih berharap ada sebuah  tangan yang meraih tanganku

Masih berdoa ada sebuah sosok yang memelukku

Membisikan kalimat terindah yang kuimpikan

 

“kau tidak kesepian”

Jonghyun menarik tubuh mungil pemuda itu. seperti anak kecil yang menemukan ibunya. Dia menangis pelan dan menyembunyikan wajahnya di pundak jino. Perasaan hangat yang menjalar disetiap saraf tubuhnya.

Ada seorang pemuda yang mengkhawatirkannya, yang mengerti tentangnya. Karena mereka sama. Karena mereka mengalami hal sulit tersebut.

Ada seorang pemuda yang melihat dia apa adanya. Yang menerima segala kekurangannya.

Ada seorang pemuda yang membisikkannya. Kalimat indah, kalimat yang dia nantikan dari bibir seseorang jika dia tidak kesepian.

“Saya sangat kagum kepada anda. Saya menyanjung anda. Saya menyayangi anda. Karena itu lah saya kemari. Saya ingin menghilangkan kesedihan anda, saya ingin melenyapkan penderitaan anda Kim- Sama”

Saat pertama kali mata ini memandangmu.

Saat pertama kali sosokmu terlihat bola mataku.

 

Hati ini terjatuh pada kesesatan yang membimbangkan.

Jiwa ini terjatuh pada dosa yang terlarang

 

Mencintai seorang yang tidak boleh di cintai

 

Aku kehilangan akal

Aku kehilangan kewarasan

 

Aku telah di butakan rasa cinta dan sayang

Tidak perduli jika di cerca olehmu

Tidak perduli jka di hina olehmu

 

Aku hanya ingin membisikanmu

Meneriakan rasaku.

 

Aku mencintaimu

Aku ada disisimu

 ~~ FLOAG ~~

“Kau dari mana Minho –sama?”, Minho menoleh, melihat Yuri –sang istrinya, berdiri diambang pintu kamar, dengan kimono tipis dan rambut terurai.

Minho melanjutkan melepas baju seragamnya dan mengacuhkannya, “Aku dari tugas ke luar kota …”, jawabnya singkat. Yuri menatapnya sinis dan berjalan mendekat.

“Tugas …?”, sindirnya, “ … atau kau bertemu dengan wanita penghibur lebih tepatnya, Minho –sama?”, Minho terhenti ketika mendengar hal itu, ia berbalik dan menatap Yuri sekilas.

“Apa maksudmu?”, tanya Minho. Yuri berdecak menyadari akan permainan ‘pura-pura’ bodoh Minho.

“Siapa nama wanita itu? Geisha yang telah membuat mu berbohong padaku dan keluarga hah?”, tanya Yuri, Minho melirik ke arahnya, “Atau tepatnya, siapa nama wanita penghibur semua pria itu, untuk kau supaya lebih —aah!”, Minho menabrak tubuh Yuri begitu saja, tidak perduli dan tidak ingat ia tersulut emosi.

“Jangan sekali-sekali kau bicara yang jelek tentangnya, atau aku—“

“ATAU KAU MAU APA?!”, teriak Yuri menarik lengan Minho dan mendorongnya ke tembok, Minho terkejut akan kekuatannya, “Kau … kau tahu bahwa aku mencintaimu kan Minho –sama?”, jelas Yuri menghimpit tubuh Minho.

“Hentikan …”, jelas Minho menoleh ke arah lain, enggan melihat Yuri, wanita itu merasa direndahkan, tidak sedikit pun, tidak pernah sekali pun Minho menatapnya, dan itu membuat sakit hatinya, kenapa Minho tak mau menatapnya sebentar saja?

“Apa lebih nya dia dariku? Dia hanya wanita jalang yang kau cintai, begitu?”, Minho menoleh, berhasil, hanya itu yang membuatnya menatap Yuri, air mata Yuri sudah menggenang karena kesal, sakit hati, dan juga merasa terbuang.

Minho menoleh ke arah lain lagi, tidak ia rasakan sedikit pun menyesal ketika melihat wanita didepannya menangis, tidak ketika ia jika melihat Taemin yang seperti itu, “Taemin … namanya Taemin.”, jelas Minho, dan Yuri bisa melihat wajah Minho berseri, bahkan hanya menyebut namanya saja, muak rasanya, ia muak pada Minho. “Dan dia bukan wanita jalang …”, Minho melirik tajam ke arahnya.

Yuri menggertakan giginya, ia mencengkram kerah Minho, memaksanya menghadapnya dan dengan paksa ia cium bibir Minho, Minho mendorong bahu Yuri paksa, ia tidak mau membuat wanita tersakiti, maka ia sebisa mungkin menahan emosinya.

“Apa yang kau lakukan?”, tanya Minho dingin, Yuri menarik bajunya dan mencium leher Minho, tidak ia rasakan apapun, ia tahu kenapa Yuri seperti ini , jelas ini karena ia tidak pernah menyentuhnya…

“Kenapa? Jelas aku ingin disentuh oleh mu Minho –sama…”, lirih Yuri, wanita ia beralih tangannya ke belt celana Minho, seraya ia menghimpit tubuh Minho dan merangsangnya dengan ciuman di leher Minho, namun tangan itu segera ditangkap oleh Minho…

“Aku akan lakukan apapun Minho –sama …”, Yuri membuka kimononya, mempertontonkan bagian atas tubuhnya, namun Minho seakan tidak perduli ia menatap ke tembok disampignya dengan datar. “Sentuh aku Minho –sama…” Yuri menggerakan tangan Minho dan membawanya menyentuh payudaranya. Minho menoleh , dingin …

“Berhenti kataku, aku tidak bisa …” jelas Minho dingin, bahkan sudah seperti ini ia tidak merasakan apapun, harus apa Yuri? Telanjang bulat dan menari atau apa, hingga membuat Minho ingin menyentuhnya?. Ia menggertakan giginya.

“KENAPA?!!”, teriak Yuri, “AKU MENCINTAI MU MINHO –SAMA, JUNGKIR BALIK AKU CINTA PADAMU … TAPI …HIKS…TAPI KENAPA KAU MALAH MEMILIH SELALU PERGI KEPELUKAN WANITA JALA—“

BUK!

Yuri terkejut, tubuhnya di balikkan ketembok, dan Minho mencengkram kedua bahunya, menatapnya lekat, terbesit rasa takut pada Yuri karena baru kali itu ia melihat Minho begitu emosi, karena wanita itu kah? Cih … membuat Yuri tambah muak!

“Jangan pernah … kudengar kau berkata buruk tentangnya!”, desis Minho. “Aku pernah katakan padamu, aku TIDAK pernah mencintaimu, aku bahkan TIDAK mau menikah denganmu, seharusnya kau tahu apa konsekuensinya saat kau tetap setuju meneruskan ini. Jelas kau tahu, aku TIDAK menginginkanmu…”, jelas Minho ketus, terlihat rasa sakit hati dimata Yuri, tapi Minho menepis semua rasa simpatiknya, ia tahu jelas itu hanya acting, ia tahu seperti apa Yuri sebenarnya, dia dan keluarganya, hanya perlu status terhormat yang dimiliki keluarga Minho, dan juga …harta Minho.

Minho menjauh dan menarik naik kimono Yuri ke atas tubuhnya, itulah manner yang dimiliki seorang Minho. Kemudian ia mengambil jasnya dan berjalan keluar.

“Tidak!”, rengek Yuri, ia tahan kaki Minho untuk beranjak pergi. “J-jangan … kumohon … jangan pergi Minho –sama …kumohon …jangan pergi lagi …”, lirihnya menangis tersedu memohon dan meminta , Minho masih tidak bergeming, “Kumohon Minho –sama …hiks … aku rela lakukan apapun asal kau bersamaku …hiks … ak-aku mencintaimu …”, lirihnya,

Minho berbalik dan menatap Yuri kasihan, “Kalau begitu, aku minta lepaskan aku, gomenasai Yuri –san, aku tidak bisa mencintaimu, dan biarkan aku pergi bersama Taemin , aku akan jelaskan ini pada orang tua kita …”,

Yuri terbelalak, permintaan macam apa itu? Bukan, bukan seperti itu!! “TIDAK!”, teriak Yuri, “AKU TIDAK AKAN BIARKAN KAU PERGI UNTUKNYA!! Hiks… T-tidak Minho –sama, apapun , asal jangan pergi menemuinya…hiks…”, isak Yuri.

Minho menarik nafas, ia melepas paksa tangan Yuri dan membuat wanita itu menangis sejadinya, “Aku mohon, lepaskan aku Yuri –san, aku mencintai Taemin , aku tidak bisa terus bersamamu, jika ini terus kau lakukan, ini akan lebih menyakitimu…”jelas Yuri.

“Minho –sama!!”, teriak Yuri ketika Minho sudah pergi keluar, meninggalkannya terduduk dilantai, tidak kembali, bahkan tidak berekspresi sedikitpun. Yuri menghapus air matanya, dan menatap geram ke arah pintu, ia mengepal tangannya di kimononya , hingga terlihat buku tangannya menjadi putih.

“Tidak akan kubiarkan …”, desisnya , “Kau akan menyesal Minho –sama, jika aku tidak bisa memilikimu, maka kau juga tidak akan bisa memilikinya…”, desisnya dan berdiri, mengahancurkan ornamen didekatnya, mengamuk sejadinya, harga dirinya tetasa diinjak hanya karena seorang wanita jalang penghibur semua wanita!

~~ FLOAG ~~

“Taemin –san, mau kemana?”, tanya Yuki melihat Taemin memakai kooto(mantel) dan bersiap untuk pergi, Taemin tersenyum dan membereskan penampilannya.

“Aku akan kembali ke rumah, kalau Kibum –san bertanya tolong katakan aku ada disana yah?”,

“Oh, apa perlu aku panggil kan jinriki sanrisha(red:becak Jepang) ? ini sudah malam Taemin –san …”, Yuki berlari dan bersiap mendahuluinya, namun Taemin menggeleng dan menyuruhnya masuk lagi kedalam Okiya.

“Tidak usah, kau istirahatlah, kau harus bangun pagi dan ikut latihan kan? Aku akan jalan kaki saja, jangan khawatir, ini baru jam 10 malam kan?”, tanya Taemin tersenyum, siapa yang bisa menolak senyum itu, Yuki sebagai perempuan bahkan ikut tersipu melihat betapa cantiknya Taemin dibandingkan dengannya.

“Baiklah Taemin –san, hati-hati dijalan.”, Yuki membukakan pintu untuknya, Taemin mengangguk dan menepuk kepalanya sayang, kemudian pergi. Yuki menarik nafas, betapa ia iri pada Taemin, dalam arti positif –ia ingin menjadi Geisha hebat sepertinya dan juga Kibum –san. Dan yang membuatnya beryukur adalah, entah Taemin –san sadar atau tidak, tapi dimata Yuki ia sudah banyak berubah, Taemin yang sekarang lebih sering tersenyum dan senyum itu lebih tulus.

.

.

Taemin mempercepat langkahnya, entah apa yang membuatnya terasa terburu-buru, ia hanya ingin segera menuju rumahnya , sepertinya perasaannya tidak enak. Hanya tinggal satu tikungan lagi rasanya tiba di rumah nya itu. Taemin menggenggam kanzashi ditangannya, kanzashi(tusuk konde) itu ia dapat pertama kali kado dari seseorang, dan itu dari Minho.

Ia tatap itu lama sekali dan tersenyum menggenggamnya erat didadanya, entah kenapa ia berpikir ia ingin sekali bertemu Minho. Ia terkejut ia bisa berpikir seperti itu, mengerutkan alisnya dan menarik nafasnya .. ada apa sebenarnya dengan nya? Kenapa memikirkan Minho bisa membuatnya merasa gugup dan sesak?

Ketika ia mendongak, ia melihat sosok yang sama berdiri tidak jauh dari hadapannya, berjalan ke arah yang sama sepertinya, Taemin terkejut, dan begitu juga sosok didepannya itu, mata mereka bertemu, hawa dingin menghembus disekitar mereka, namun perasaan hangat mengalir seketika. Tatapan mata mereka seakan menggambarkan sesuatu … langkah Taemin perlahan semakin cepat, ia mengangkat kimononya, dan sosok didepannya itu berjalan cepat menujunya, sampai mereka berhenti tepat didepan masing-masing.

“M-minho –sama…”, lirih Taemin, Minho menarik bahu Taemin mendekat, jantung mereka berdegup cepat, hangat dan nyaman … Minho seperti tercekat nafasnya menatap wajah Taemin, ia belai wajah imut itu. Kemudian memeluknya, menarik pinggulnya ke arahnya, meletakan tangan besarnya melingkar di tubuh mungil Taemin.

“Taemin …”, bisiknya, mencium rambut harum nya, bau daun teh menyeruak ke sanubarinya. Bau yang membuatnya nyaman dan tergila-gila. “Taemin … jangan tinggalkan aku…”, lirih Minho mengeratkan pelukannya , wanita itu mengerutkan alis, apa maksudnya? Taemin mulai sesak karena pelukan Minho, namun ia tidak berusaha melepasnya juga.

“Minho –sama—“

“Kumohon … hiduplah denganku … kumohon … aku tidak tahan … aku mau bersamamu saja…”, jantung Taemin berdegup, bersamanya?

“Kumohon … “, ia meletakan keningnya didahi Taemin, menatap dalam kematanya, “Tetaplah bersamaku …”, ia memejamkan matanya, Taemin lemas rasanya, ia ulurkan tangannya dan menarik baju depan Minho. Tidak ada kata yang terucap, hanya memeluknya saja … mereka tidak butuh jawaban.

.

.

Minho membopong tubuh Taemin dengan bridal style, masuk kedalam bilik kamar mereka yang luas, tempat dimana setiap malam Taemin berada jika Minho tidak ada disisinya, sering rasanya ia merasa tempat ini bagaikan rumah sendiri baginya, meski Okiya adalah tempat terakhirnya jika ia suatu saat harus berpisah dengan Minho. Mengingat hal itu, hati Taemin terasa sakit dan sesak, ia eratkan pelukannya di bahu Minho, membenamkan wajahnya ke dada bidang Minho.

Minho letakan perlahan tubuh Taemin di atas kasur, membuat sang geisha cantik itu berdiri dan terduduk. Sedangkan Minho berlutut dihadapannya, memegang kedua tangannya dengan tatapan sendu, mencium tangan itu lembut dan menaruhnya di kedua pipinya.

“Aku mencintaimu Lee Taemin …”, Taemin mengedipkan matanya, mencerna ‘lagi’ kata cinta itu, ia menelan ludahnya ketika merasa Minho semakin dekat ke wajahnya. Minho memindahkan kedua tangan itu untuk melingkar di lehernya, sedangkan ia naik ke atas kasur dan menahan berat tubuhnya di atas tubuh Taemin diantara pinggulnya. Ia tatap mata Taemin, menelan habis kecantikan didepannya, kedua mata yang bisa membuatnya hilang akal dan kedua pipi chubby dengan warna pink yang terbias dari pipinya.

Taemin merasa pipinya memanas ketika ia rasakan Minho bernafas di bibirnya. Ia menahan kedua wajah Taemin kemudian menempelkan bibirnya dengan lembut. Ia menarik ciumannya sesaat sebelum mencium bagian rahang Taemin dan menenggelamkan wajahnya kedalam leher Taemin, meninggalkan bekas disana … malam itu, untuk kesekian kalinya mereka bercinta … dan Taemin tahu , apa yang ia rasakan, hanya tidak bisa ia ungkapkan …

.

.

Taemin membuka matanya merasakan angin berhembus masuk kedalam celah jendela, ia merinding, musim gugur berhembus di tubuhnya, ia rapatkan tubuhnya kebelakang, dan membuatnya terkejut adalah, ia rasakan hangat menembus tengkuknya.

Ia menunduk, tubuhnya polos, dan ia rasakan tangan kekar memeluknya dari belakang, debaran jantungnya mulai lagi, dengan gemetar ia letakan tangannya di atas tangan kekar itu dan menelusupkan jari jemarinya disana… senyum, ia tersenyum …

“Selamat pagi …”, ia terkejut ketika ciuman mendarat di lehernya, tangan kokoh itu membalikan tubuhnya, dan membenamkan kepala mungilnya ke dada bidang nya.

“P-pagi Minho –sama …” jawab Taemin. Minho tersenyum dan mencium pipi Taemin seraya tangannya mengusap kedua pipi nya.

Jika aku bisa meminta satu permintaan …
aku berharap untuk bangun di pagi hari karena nafas mu di leherku…
kehangatan bibir mu menyentuh pipiku…
sentuhan jarimu di kulitku…
dan merasakan debaran jantungmu …untukku…
mengetahui bahwa aku tidak akan pernah merasakan hal ini bukan dari orang lain, tapi hanya darimu…

~~ FLOAG ~~

“Sayuki?”

Jinki duduk di kelilingi ayah dan ibunya. Raja dan ratu korea dan seorang wanita yang merupakan adiknya. Semua kepala yang berada disana menanti lanjutan perkataanya. Sedangkan dia hanya bingung dan melihat satu persatu – satu dari keluarganya. Dia baru saja di kejutkan dengan berita baru. Dia akan di jodohkan dengan Putri Jepang.

Pihak kerajaan jepang telah bertemu sebelumnya dengan pihak kerajaan korea di belakangnya,  mereka semua telah menetapkan rencana untuk mengatur pernikahan mereka. Pernikahan terhebat sepanjang sejarah. Dua kerjaan dari dua Negara.

“Bagaimana bisa kalian melakukan ini dibelakangku?” tuturnya

Kini mereka mengadakan pertemuan keluarga. Tidak perlu berbicara formal. Menggunakan bahasa yang biasa dan bebas. Pria tua perawakan tampan seperti jinki mengambil cangkir yang berada di meja, menghirup aroma teh tersebut dan kemudian meneguknya. Pelan pria itu menaruh kembali cangkir, dan kini menatap kepada putranya.

“Apa kau tidak setuju Jinki? Bukankah Putri Sayuki sangat cantik dan sempurna?”

“Arrayo… Tapi.. aku tidak mencintainya appa!”

“Jinki – ah. Alasanmu menolak selalu saja karena cinta! Appa sudah bosan mendengarnya. Kali ini ikuti saja! semua sudah di atur oleh dewan. Dan kau hanya bisa menunggu”

“Shieroo… mianhe appa! Tapi aku benar – benar tidak bisa menikahinya.. aku mencintai wanita lain. Dan alasan itu juga mengapa aku memanggil kalian kesini. Ingin mengenalkannya!”

Hening. Wanita kecil yang berada disana berdiri dan duduk disamping jinki. Mengalungkan tangan di leher pemuda itu memelukanya erat.

“Akhirnya Oppa jatuh cinta juga!! Nugu? Siapa wanita beruntung itu?”

Melepaskan pelukannya dan mencari – cari mata sabit sang kakak yang kini malu. Keduanya pipinya memerah dan mata sabitnya menyipit tak bisa menyembunyikan senyum lebarnya.

“Aih… jinja.. siapa dia Oppa?”

“Dia-

“Tidak Boleh Jinki.. sampai mati pun umma tidak memperbolehkannya”

Eh?

“Apa maksud umma?”

“Siwon telah bercerita banyak! GEISHA? Apa kau tidak gila?”

Aura bahagia itu menghilang. Adik jinki menatap ummanya dengan heran. Menatap bergantian dari sang umma dan jinki.

“Aku tidak mengerti umma!”

“Dia geisha jinki!! Apa kau tidak mengerti arti itu? Pela-

“UMMA!!!!”

Berdiri. Menggeram marah, tangan mengepal disamping tubuh. Keluarganya menatap heran sikap anarkis yang baru saja dia lakukan. Meneriaki ummanya sendiri? Ini pertama kali sang pangeran seperti itu.

“K-kau.. berani meneriaki umma?”

“Mianhe…”

Kembali terduduk, wajah piasnya dia sembunyikan..

“Mianhe.. tapi tolong jangan menghinanya. Aku tidak akan membiarkannya bahkan jika itu umma..

“ha? Jinki-ah.. kau.. ommo… kau.. kenapa bisa menjadi seperti ini? apa karena wanita itu?”

“Dia punya nama umma! Kim Kibum.. dia wanita yang kucintai dan akan kunikahi..”

“TIDAK BISA! Kau akan menikahi sayuki.. itu final Jinki – ah”

“Appa.. anda pasti mengerti perasaanku..”

Pria itu hanya diam dan mendengarkan. Tentu saja dia mengerti. Bagaimana rasanya jatuh cinta, bagaimana mencintai.

“Kita tidak ditakdirkan memilih dengan siapa kita akan menikah jinki – ah.. dulu kau bisa menolak. Tapi sekarang dengan usiamu yang sekang kau hanya bisa menurutinya.”

“Aku hanya akan menikahi Kibum..”

“JINKI…”

“Itu keputusanku…”

Berdiri dan berbalik arah, membuka pintu dan keluar dengan berlari kecil. Dia ingin bertemu dengan cintanya. Dia ingin bertemu dengan kibum.

Mengambil jasnya yang tergantung di depan pintu, memakainya. Dan membuka pintu masuk dengan lebar.

“Anda tidak boleh keluar Pangeran Lee”

“Pergi dari jalanku”

“Maaf kami tidak bisa”

Jinki mencoba menerobos beberapa orang yang tengah menghalanginya. Tanganya di piting kebelakang dan dia disudutkan. Mencoba meronta namun tetap saja itu semua percuma. Kekuatanya tidak sebanding dengan beberapa orang yang menahannya.

“Akh… lepas…”

Lagi meronta. Sial. Tenaganya bahkan tidak ada apa – apanya dengan mereka semua. Kibum. Dia ingin bertemu dengan kibumnya. Dia ingin bertemu

“Kibum…

~~FLOAG~~

Taemin tersenyum pada siapa saja yang menyapanya, dan Minho yang memang sangat posesif mengapit tangan Taemin erat, seakan memancarkan dari matanya bahwa sosok cantik disampingnya hanya miliknya seorang.

Langit musim gugur sangat cerah sore itu, udara dingin menerpa rambut Taemin, membuatnya terlihat cantik, daun momiji berguguran.

“Kita mau kemana?”, tanya Minho, Taemin menoleh dan tersenyum.

“Kita akan ke festival aki matsuri … aku akan menghadiri pejamuan minum teh disana ..”, jelsa Taemin, Minho tersenyum.

“Benarkah? Pantas kau terlihat sangat cantik malam ini …”, Minho mencubit pelan pipi Taemin, sang wanita menunduk dan menutup bibirnya saat tersenyum. Kemudian matanya melihat ke arah depan, Minho menangkap apa yang Taemin lihat disana … ia menarik tangan mungil itu dan membuat mereka berjalan ke sana.

“Kau mau?”, tanya Minho,

“Hah?”, Taemin mengedipkan matanya,

“Harum manis, kau mau beli? Akan kubelikan…”, Taemin terkejut, sejak kapan ia tidak makan itu? Lupa rasanya, jadi ingat saat kecil dulu ia sering membelinya, sebelum ia…

“Taemin?”, ia menoleh, melihat Minho menatapnya khawatir, Taemin menunduk dan menggeleng, ia menarik tangan Minho untuk pergi dari sana, Minho merasa ada yang berubah dari tatapan Taemin, namun ia tidak menanyakannya.

.

.

Minho duduk bersila, meneguk tehnya dengan perlahan dan matanya menatap tajam ke arah Taemin yang dengan anggunnya memberikan pertunjukan upacara teh dengan baik. Berbeda memang jika kau berada dari didikan Geisha ternama …

Disisi lain, Taemin tahu ia menjadi pusat perhatian, namun satu yang membuat ia tiba-tiba merasa gugup dari sekian banyak orang yang menatapnya, mata bulat penuh dan tajam itu membuat tengkuknya merinding seketika. Ia mendongak, dan menatap mata Minho, mata mereka bertemu, saling menatap sesaat, sebelum Minho tersenyum dan Taemin memutuskan untuk berkonsentrasi lagi.

“Teh buatan mu enak, sama seperti dulu …”, jelas Minho duduk disampingnya, menatap bukit didepan mereka. “Kau kedinginan?”, tanya Minho, Taemin menggeleng , namun ia membuka jas besarnya dan mendekat ke arah Taemin.

“M-minho –sama..j-jangan…nanti kau kedingin—“, Minho menutup bibir Taemin dengan jarinya, dan yang membuat Taemin terkejut adalah Minho menunjukan harum manis didepan wajah Taemin, membuat sang wanita terbelalak.

“Jika kau mau, kau cukup katakan padaku …”, jelas Minho. Taemin mengangguk dan menerima harum manis itu.

“Arigatou gozaimasu…”, bisik Taemin, dan perlahan memakannya, manis … ia sangat suka rasanya, Minho berdecak melihat pipi Taemin tersipu hanya karena memakan manisan itu.

Saat Minho serius menatap wajah itu, mereka dikejutkan dengan bunyi kembang api di depan mereka, menandakan puncak perayaan festival, kembang api indah sebanyak 30.000 buah bertebaran.

“Cantiknya …”, Taemin bergumam, Minho menoleh, seakan tahu ia ditatap seperti itu oleh Minho , Taemin menatap Minho …

Tatapan Minho turun ke hidung, dan bibir plum Taemin, mengulurkan tangannya disana dan mengambil serpihan manisan dengan jarinya, sebelum memasukannya ke mulutnya sendiri. Hal itu membuat Taemin malu …

“Kau lebih cantik …”, puji Minho, perlahan jarak mereka tertutup , seakan semuanya sepi, Taemin tidak bisa mendengar suara apapun, hanya suara debaran jantungnya yang terdengar, mulut itu tidak bisa berkata apapun meski ingin … perlahan ia memejamkan matanya dan memiringkan sedikit wajahnya, menyambut ciuman lembut Minho.

.

.

Mata mereka saling bertemu, dan membuang wajah mereka karena malu, layaknya baru bertemu mereka terlihat sangat kekanakan. Minho mengusapkan jarinya di permukaan tangan Taemin , merasakan hangat menerpa kulit mereka ditengah cuaca malam itu.

Namun, langkah Taemin membuatnya berhenti seketika, ia melihat perubahan mimik di wajah Taemin.

“Kenapa?”, tanya Minho membelai wajahnya, Taemin tidak menjawab, ia melepas tangan Minho dan mengangkat kimononya ke atas, berlari ke depan rumah mereka. Minho terkejut, dengan cekatan ia berlari setelah Taemin.

“Taemin apa—“, wajahnya mungkin sama terkejutnya dengan wajah Taemin sekarang.

“I-ini …”, Minho menangkap tubuh Taemin yang terhuyung kebelakang karena shock. Matanya melihat kesekitar, pintu depan rumah mereka hancur, halaman rumah mereka berantakan.

Taemin berlari masuk, disusul dengan Minho, semuanya hancur , perabotan pecah belah, pintu kayu, serta segala barang telah rusak berhamburan, dapur, semuanya … Minho mengepalkan tangannya, siapa yang berani melakukan nya? Ia melihat Taemin masuk kedalam kamar mereka, ia menyusulnya, keadaan disana sama parahnya, bahkan seluruh isi shikibuton terurai semua kapasnya.

“Taemin …?”, ia melihat Taemin terduduk dilantai, memungguninya.

“S-siapa … siapa yang tega berbuat seperti ini?”, lirihnya, Minho bergidik, jangan menangis, ia mohon, semoga Taemin jangan menangis, ia tidak tahan melihatnya.

“Taemin, sudahlah … kita akan membereskannya…”

“T-tidak bisa …”, lirih Taemin, menoleh ke arah Minho , “Kenapa ada yang tega … ini semua pemberianmu Minho –sama…”, Taemin menunduk, dan ketika Minho melihat apa yang ia genggam, Minho terkesiap. Kanzashi, itu kanzashi pertama pemberiaan Minho, dan Taemin masih menyimpannya, bahkan, sekarang ia menangisi barang yang bahkan sederhana itu.

“Sssht … Taemin … daijoubu … kita akan perbaiki semuanya, tenanglah…”, Minho menarik Taemin kepangkuannya dan memeluknya, ia menangis sambil terus mencengkram kanzashi itu dengan erat di dadanya , Minho meraih tangannya dan terus memeluknya, mencium pucuk kepalanya,sambil matanya menerawang kesemua sudut rumah, siapa yang berani seperti ini? Mungkinkah …

~~FLOAG~~

BRAK!!!

Minho masuk dengan tergesa-gesa dan penuh emosi, ia masuk begitu saja melewati para pelayan yang mencegahnya masuk.

“Jangan Minho –sama … Yuri –san sedang sakit…”, pinta pelayannya,

“MINGGIR!!!”, teriak Minho dan cukup berpengaruh untuk membuatnya menyingkir. Ia membuka pintu kamar dengan kasar dan masuk kedalam, melihat Yuri yang sedang menyisir rambutnya terkejut.

“Minho –sama?”, ia terbangun senang, namun Minho menatapnya sengit. “Kau pulang? Aku merindu—“

“Apa yang kau lakukan?!”, Minho memundurkan badannya, Yuri menatapnya tidak mengerti.

“A-apa?’, tanya Yuri bingung, ia maju selangkah, “Minho –sama? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti ..?”, ia berjalan lagi , namun Minho memundurkan badannya. “Minho –sama? Kenapa kau menghindariku? Kau tidak mau kusentuh? Kau tidak kasihan padaku? Aku sudah  menunggumu untuk kembali, tapi begini perlakuanmu?” tanya Yuri meremas dadanya.

“Kau jangan pura-pura Yuri –san, aku bertanya padamu, apa kau yang lakukan semua itu?”, tanya Minho. “Kau kah yang menyuruh orang menghabiskan rumahku dan Taemin?”,

Wajah Yuri berubah , jadi begini, jadi itu maksudnya Minho datang, hanya perduli dengan semua itu? “Tidak.”, jelasnya. Minho mendengus. “Tidak! Aku tidak lakukan itu, kenapa kau tega sekali? Seharusnya kau percaya padaku …” jelas yuri mendekat. Minho menatapnya singit menyuruhnya mundur.

“Benarkah? Kalau begitu ikut aku.”, jelas Minho. Yuri masih diam ditempatnya, “IKUT AKU!”bentak Minho. Yuri terkejut, dan berjalan dibelakang Minho.

Dan ketika mereka sampai didepan pintu rumah, Yuri terkejut, menatap horror pada sosok yang terduduk dan biru lebam disekujur wajahnya.

“Katakan, apa kau kenal dengannya?”, jelas Minho bertanya pada pria didepannya dan menunjuk ke arah Yuri. Yuri menatap pria itu singit,seakan ingin menelannya. Minho yang tahu akan eye contact itu menoleh, ia menatap Yuri sejenak.

“Katakan … atau kau tahu apa akibatnya jika kau berbohong padaku..”, jelas Minho, pria itu terbelalak.

“J-jangan Minho –sama! K-kumohon jangan!!”, jelasnya, Minho menatapnya dingin. “S-saya … “, pria itu menunduk dan kemudian membungkuk maaf. “Maaf Minho –sama…saya hanya disuruh, tolong ampuni saya … saya hanya menuruti kemauan Yuri –san, k-kalau tidak keluarga saya akan susah, t-tolong saya Minho –sama, jangan hukum saya, kasihan keluarga saja, anak saya masih kecil …”, jelasnya sang supir Yuri dan Minho itu.

Minho melihat ke arah Yuri, wajah Yuri sekarang pucat, ia menatap ke arah pria itu dengan geram, tangannya mengepal kencang, ketahuan semuanya. Minho menarik nafas.

“Pergilah …”, jelas Minho dingin pada pria itu, “Bangun dan pergilah…”, pria itu menatap Minho bingung. “Jangan khawatir , keluarga mu aman di atas jaminanku.”, ia melihat ke arah Yuri menyindirnya.

Kemudian hening di antara mereka, “Kau …”, Yuri bergidik mendengar suara Minho.

“Gomenasai Minho –sama…gomenasai…”, ia berlutut memeluk kaki Minho, meletakan pipinya di kaki Minho, menangis kencang. “J-jangan marah, a-aku khilaf … ak-aku tidak akan lakukan ini lagi, jadi kumohon, jangan pergi dariku, aku janji, aku tidak akan mengganggu Taemin jika kau tetap berada disisiku…”, isaknya. Minho menatap dingin ke arah Yuri.

“Tidak bisa.”, tegasnya, Yuri menatapnya bingung. ‘Aku akan katakan pada Ayah dan Ibuku, kalau aku ingin mengakhiri pernikahan ini denganmu…”, jelas Minho.

“Mi-Minho –sama!”, pekik Yuri.

“Apa?!”, teriak Minho . “Sudah jelas rasanya, kau berani berbuat kejahatan, kau telah melanggar aturan privacy seseorang, kau tahu? Itu bukan rumahku, itu rumah Taemin! Dan kau beraninya berbuat begitu karena rasa cemburumu?!!” jelas Minho.

“Dengarkan aku Yuri –san. Aku tidak mau kau terus tersakiti oleh ku,karena jelas aku ingin hidup dengan Taemin, dan kau tahu aku mencintainya, bukan mencintaimu. Jadi, aku tidak mau kau terus seperti ini, lebih baik, kita sudahi saja pernikahan kita…”, jelas Minho. Yuri menggeleng dan menangis, namun Minho seakan tidak perduli.

FLOAG~

Taemin menarik nafas, setidaknya rumahnya sudah rapih setelah menerima bantuan dari pelayan yang dimintai tolong oleh Minho. Taemin melirik kepintu masuk rumah mereka, kenapa Minho belum kembali juga? Ia melihat jam didinding, sudah pukul 6 malam, dan seharusnya Minho sudah kembali dari kantornya?

Ia mengangkat bahunya dan memutuskan untuk memasak makan malam, jika Minho kembali, maka ia bisa langsung makan. Ia ingat pagi itu ia terbangun dan berada dipelukan Minho, semalaman Minho menenangkannya, dan semalaman pula ia tertidur di pangkuan Minho dalam keadaan duduk. Oleh karena itu, ia ingin menyiapkan makanan lezat untuk Minho sebagai ucapan terima kasihnya …

Ketika ia sedang asik memasak, ia mendengar pintu depan terbuka, dengan tersenyum ia mematikan kompornya dan berjalan kedepan. Namun ketika sampai didepan ia tidak melihat siapapun, meski ia dengar dengan jelas ada orang yang masuk. Ia melihat ke luar jalanan, tidak ada siapapun … mengerutkan alisnya dan kembali masuk.

BRAK!!

“Kyaaa~~!!”, Taemin terkejut ketika kerah belakang kimononya di tarik kebelakang, membuat ia terjengkang dan membentur tembok.

“Kau…!!”, teriak sebuah suara, ia membuka matanya dan terkejut, gemetar ia rasakan menatap takut ke wajah didepannya.

“Dasar wanita jalang!! Pelacur sialan!! Apa yang bisa membuatmu jauh lebih unggul dariku dimatanya? Apa? Kau melakukan apa sampai dia sama sekali tidak meliriku? Sampai tidak mau memandangku”, wanita berkimono biru indah dengan ukiran elang disepanjangnya. Memojokan taemin dengan tanganya yang mengacungkan sebuah samurai panjang.

“S –s –saya tidak mengerti n –n –nyonya!!” Taemin mendorong  tubuhnya hingga ke dinding dibelakangnya, menatap takut pada ujung samurai itu, dan pada wajah perempuan didepannya!.

“Kau… kau telah merampasnya dariku! Dia.. dia selalu menyebut namamu dalam tidurnya, selalu memimpikanmu. Dan mengacuhkanku!” sengitnya , Taemin masih tidak mengerti, keringatnya menetes karena takut.

Taemin hanya diam. Berusaha menyeret tubuhnya kesamping. Hanya satu tujuannya. Pintu yang bisa membuatnya melarikan diri.

“Semenjak pernikahan kami dia tidak pernah memandangku dan selalu membelakangiku. Dan…” menjambak rambutnya. Membuat beberapa permata yang menghiasi rambut Taemin terjatuh. “Dan kau bisa bayangkan. Dia sama sekali tidak pernah menyentuhku.. SAMA SEKALI TIDAK PERNAH!!!” gelegarnya penuh amarah.

Taemin menciut takut.

“KAU TAHU? DIA BAHKAN MAU MENCERAIKANKU HANYA KARENA WANITA JALANG SEPERTI MU!!!”, bentaknya menarik lebih kuat rambut Taemin, serasa ingin tertarik sampai akarnya, Taemin meringis dan menangis kesakitan …

“JANGAN MENANGIS!!” BRUK

Taemin beringsut ditempatnya, menutup mulutnya menahan tangis, “Kau pikir jika kau menangis, dia akan datang padamu?begitu?”, desis wanita itu menatapnya dari jaraknya dengan geram, melihat mata Taemin yang bening itu ia jijik, melihat tubuh mungil yang gemetaran itu ia muak, jadi … wanita seperti ini yang Minho suka? Wanita ini yang ia rela lakukan apapun? Bahkan ia rela dianggap rendah karena rela menikahi seorang Geisha?. Semua itu membuat Yuri muak dan geram …

“KAU….!!”, Yuri berteriak. “AKU AKAN MEMBUNUHMU… AKU AKAN MEMBUNUHMU KARENA MEMBUATKU MENDERITA SEPERTI INI?!!!” wanita itu mengangkat samurainya tinggi. Mengarahkannya pada tubuh taemin yang bergetar takut …

“K-kyaaaa~~~!!

SRET

Darah menetes dengan deras … Taemin tidak rasakan apapun ketika ia dengar tebasan samurai itu menggema …

BUGH

Sebuah tubuh terjerembab jatuh … tepat didepannya, di depan tubuhnya… Taemin tidak percaya akan penglihatannya, sosok pria itu melindunginya, dengan gemetar ia menahan sosok itu…

“A-aaakkhhh…..” Wanita itu berteriak dan berlari keluar.

“M –m –minho –sama …” Taemin meraih tubuhnya , ia bergetar takut. Mengapai tubuh Minho yang bermandikan darah, keluar dari punggungnya …

“K -kau tidak apa – apa? A –apa dia menyakitimu?” tanyanya berusaha tenang. Masih sempat kawatir dengan Taemin? Sedangkan tubuhnya luka dan kesadaranya hampir hilang. Jantung Taemin berdebar cepat … tidak …jangan begini akhirnya …

“Dia tidak sempat melakukan apa – apa kepadaku Minho – sama! Tapi anda… luka anda harus segera diobati! Saya akan memanggil orang!” Taemin ingin beranjak dari duduknya namun gerakanya terhenti ketika dia merasakan kimono depannya nya di tarik untuk kembali pada duduknya yang semula.

“S -sudahlah tidak perlu! Uhuk….” Darah segar keluar dari bibir minho “T -tetaplah disini… temani aku…” Minho menarik baju depan Taemin, darah sudah merembes basah kepaha kimono Taemin

“Tidak boleh… anda harus bertahan. Izinkan saya pergi sebentar.. saya mohon Minho- sama?”

Khawatirkah? Benarkah? Setelah sekian lama kau memperlihatkan kepedulianmu pada lelaki yang mati – matian mengharapkan cintamu.

Hangat. Dan menyenangkan ketika rasa bahagia itu menelusup masuk dalam rongga hati Minho. Sudah ada cintakah untuknya?

Tanganya mengangkat. Dan membelai wajah wanita yang menatapnya.

“Aku tidak pernah sebahagia ini! Tidak saat aku diangkat menjadi tangan kanan jenderal, tidak saat aku berhasil memenangkan perang! Ini jauh lebih membahagiakan dari apapun yang pernah kurasakan!”, Minho menarik wajah Taemin mendekat.

“Melihatmu yang akhirnya memperdulikanku dan mengkhawatirkanku! Apa aku bodoh jika sekarang aku mengatakan jika aku sangat bahagia dan bersyukur walau kutahu aku menerimanya ketika harus merelakan nyawaku untukmu?”  semakin banyak darah yang keluar dari mulut dan tubuhnya …

“Aku sangat mencintaimu lee taemin.. taeminku yang malang. Taemin yang selalu sedih..  aku sangat mencintaimu!” Minho menarik wajah Taemin, Taemin memejamkan matanya, tangisnya keluar, ketika ia menciu bibir Minho yang semakin dingin itu …

Minho menatap Taemin yang menangis, menghapusnya dengan jarinya. Ia menggeleng lemah sambil tersenyum. “M-minho sama …”, tangan Minho melemas, Taemin menahannya dengan tangannya untuk tetap berada di pipinya. “MINHO –SAMA!!”, teriak Taemin, ia memeluk tubuh Minho. “A-aku …aku …”, kenapa sulit sekali Tuhan? “A-aku …jangan …kumohon …aku …men—cintaimu …” PLUK. Taemin terkejut , tangan itu terjatuh di pangkuannya,

“M –Minho –sama … Minho –sama …”, Taemin menggucang tubuh minho dengan kasar beharap dia ada sedikit pergerakan “MINHO –SAMA … AKH… HUKS… HIKSS… JANGAN PERGI… HIKS… MINHO –SAMA !!”

Ketika cinta itu telah pergi
Ketika cinta itu telah tiada
Dan ketika cinta itu meninggalkanmu
Saat itu barulah hati ini tersadar

Saat itu barulah jiwa ini terbuka
Ternyata kau juga mecintainya….

 

~~FLOAG~~

 

Wanita berkimono biru dengan ukiran ukiran sakura merah muda menatap langit dibelakang taman Okiya. Matanya tertutup tajam. Telinganya mendengar. Suara hembusan angin hilir mudik. Menyapu segala benda yang di lewati di padu dengan suara shimasen dan canda tawa di dalam okiya. Nafasnya menarik udara dengan berat.

Kibum membuka mata, sinar mentari sore sedikit membuatnya silau. Menamengi dengan tangan kiri. Matanya terpejam lagi. Memundurkan langkah demi langkah. Dan membuka mata.

Angin tolong sampaikan rasa rinduku padanya

Bisikkan jika aku ingin bertemu dengannya

Teriakan jika aku ingin melihatnya

 

Aku seperti mayat berjalan

Aku seperti boneka buatan

 

Tubuh ini tak lagi merasa apapun

Raga ini bergerak sesuai naluri

 

Aku tak tak bisa tanpanya

Aku bisa mati tanpanya

“Jinki… jinki… jinki… jinki…..”

Sudah 3 hari semenjak kejadian dengan Kim jonghyun. Dan 5 hari setelah itu dia tidak bertemu dengan jinki lagi. Pemuda itu berjanji akan membawanya bertemu dengan kedua orang tuanya 7 hari yang lalu, namun kini kabar pun dia tak tahu. Kemana jinki, apa yang dia lakukan, kenapa tidak pernah datang ke Okiya seperti biasanya

Memeluk tubuh dengan tanganya sendiri, membayangkan kehangatan jinki yang biasa dia rasakan. Rindu. Rindu dan rindu. Tak tahu kah jika wanita ini menghabiskan malamnya dengan menangis haru. Dia selalu memimpikian sosok jinki. Menyebut namanya dalam tidurnya. Dia lemah tanpa pria itu, dia tidak ada apa – apanya

“Oka-san…”

Menoleh kebelakang menatap seorang maiko kecil membungkuk kepadanya

“Nani (Apa) ??”

“Ada Tamu yang ingin bertemu dengan anda!”

“Siapa?”

“Saya juga tidak mengenal mereka Oka-san. Tapi aku mendengar jika mereka dari Kerajaan Korea”

.

.

.

Terlihat gugup. Kibum memandangi sesosok wanita anggun dengan baju kebangsaan ratu Korea HWANGWONSAM merah dengan warna biru dan kuning yang menyertainya. Disampingnya duduk gadis mungil dengan hanbok putih dan rambutnya yang terhiasi Binyeo (tusuk konde). Keduanya mengamati kibum dengan lekat. Dari kepala hingga bagian ujung kakinya yang tertutup.

Kibum berusaha sebisa mungkin memunculkan jiwa Geisha yang selalu di banggakannya. Aura seorang wanita seni yang terhormat. Dia tidak akan sudi untuk di lecehkan.

Seorang pria berbicara kepada ratu tersebut dan mereka menggunakan bahasa korea yang tidak di mengerti oleh kibum. Jadi fungsi pria itu adalah penerjemah

“Ratu mengatakan apa anda yang bernama Kibum?”

“Hai.. saya Kibum”

Pria tersebut memberitahunya. Dan wanita itu kembali melihat terperangah. Mungkin dia sedikit mengerti kenapa putranya begitu tergila – gila dengan sosok ini. cantik dan mempesona. Wajah mungil dengan mata tajam. Bibir merah tanpa pemerah. Kulit putih dan bersih bahkan bercahaya. Dia bahkan sebagai seorang wanita merasa ciut akan kecantikannya

“Neomo Yeopoh…” celetuk wanita manis di samping ratu. Kibum mengerti, karena kata – kata itu sering di ucapkan jinki kepadanya

“Kamsahamnida…” Ucap kibum

“Anda bisa berbahasa korea?” sahutnya lagi..

Kibum diam dan melirik kepada pria penerjemah. “Dia mengatakan apa anda bisa berbahasa korea?”

“Tidak.. saya hanya mengerti apa yang dia katakan sebelumnya dan tahu harus membalasnya seperti apa!”

Pria itu berbicara lagi. Kini tampak serius dan sedikit fokus.

“Ratu mengatakan jika kedatangannya kesini untuk memperingati anda agar menjauhi putranya. Tidak lagi menggodanya dan menyesatkanya. Dan…

Membeku dalam duduknya. Jadi ini reaksi orang tua jinki terhadapanya? Hah. tentu saja. dia sudah bisa menduganya. Harapan itu ternyata benar sia – sia . Dia terlalu menjadi pemimpi ulung yang tidak tahu diri. Kibum menatap pria itu dan menuntut kelanjutan kata – kata ratu.

“Dan?”

“Dan tolong berkaca siapa anda dan siapa Pangeran Lee. Anda hanya seorang rakyat biasa dan terlebih lagi penghibur. Anda tidak pantas untuk putranya. Jangan bermimpi untuk menjadi bagian keluarga kerajaan. Anda sama sekali tidak di terima… seperti itulah yang ratu katakan. Maafkan saya, saya tidak bermaksud menyinggung anda Kibum – san. Ini murni dari ratu.”

Hah. menahan air mata yang ingin tumpah. Menahan rasa sakit hati yang kini dia rasa. Tangannya mengepal dan mengenggam ujung kimono dengan erat. Sakit.

“Hanya itu?”

“Ratu ingin anda tidak menemui pangeran Lee lagi. Tolong jangan terima Pangeran dalam okiya ini. itu bisa merusak citranya. Ini semua demi kebaikan anda dan pangeran”

“Lalu bagaiman jika aku menolak??”

Pria itu berbicara lagi kepada ratu. Kemudian setelah selesai wanita paruh baya itu melotot. Dia mengebrak meja yang ada dihadapannya, membuat cangkir dan mangkok berbunyi nyaring dan beberapa air tehnya tumpah. Selanjutnya ratu meneriaki kibum dengan kata – kata yang sama sekali tidak di mengertinya.

“apa yang ratu katakan?”

“Dia…”

“Katakan padaku..”

“Kau.. pelacur sialan. Wanita murahan. Wanita penggoda, berani sekali. Kau tidak tahu berbicara dengan siapa.. kau hanya akan merusak hidup pangeran, apa kau tahu apa yang dilakukan rakyat korea jika tahu pangeran mereka menikahi seroang Geisha? Pangeran akan di hina dan di cerca, pangkatnya akan di hilangkan dan dia akan di asingkan. Itu yang kau inginkan?”

Menunduk. Benarkah seperti itu? di hina? Di cerca? Pangkatnya di hilangkan dan di asingkan? Sebegitu besar akibat dari cinta mereka?

Tak ada air mata disana. Tak ada karena dia begitu terdidik untuk menyembunyikan kesedihannya. Dia hanya memandangi ratu dengan tenang. Biarkan saja  dihatinya ada badai. Bergemuruh dengan dasyat.

“Saya mengerti..”

.

.

.

.

“Minggir jika kalian tidak ingin mati?”

Menodongkan sebuah pistol kepada semua pengawal yang menjaganya. Jinki bergerak pelan menuju pintu keluar. Semua merapat dan menyingkir dari ujung pelatuk yang di todongkan oleh jinki. Pemuda itu membawa tas besar di belakang tubuhnya.

BLAK

Pintu terbuka dan jinki segera belari keluar.

Pengawal tersebut langsung bergerak mengikuti jinki. Pemuda itu berlari di jalan lapang yang sunyi, entah ini sudah pukul berapa. Jalan begitu tampak lenggang. Dia bersembunyi di balik sebuah stand takoyaki. Menunggu pengawalnya lewat dan kemudian begitu pengawal tersebut berlari di arah yang salah jinki  berbelok. Berlari kencang lagi dengan nafas yang hampir habis.

Kakinya melangkah besar. Tas yang dia bawa lumayan memberikan beban padanya. Tas yang berisikan beberapa pakaian yang bisa dia kenakan. Mungkin terdengar pengecut. Tapi dia berniat membawa lari kibum. Tidak perduli dengan semua keluarga kerajaan. Persetan dengan itu semua. Dia ingin hidup bersama dengan kibum.

DOK

DOK

DOK

Mengetuk dengan kuat. Menunggu hingga seorang maiko datang dan membuka pintu untuknya. Jinki memaksa masuk dan menerobos, sempat menyenggol pundak maiko mungil itu hingga meringis

“Gomen” lirihnya buru – buru.

Kemudian berjalan cepat di sepanjang jalan menuju kamar kibum. Nafasnya memburu dan tak henti – hentinya dia menarik naik tas yang beberapa kali melorot dari pundaknya.

Kamar yang masih terang benderang. Kibum belum tidur. Jinki membuka pintu dan mendapati wanita cantik dengan rambur tergerai terduduk didepan sebuah meja rias. Kibum menoleh.

“Kemasi barangmu dan kita pergi dari sini”

Jinki mendekati laci tempat di mana kimono – kimono kibum di simpan. Mengambil sebuah kain sutra besar dan menaruhnya di lantai kemudian mengambil satu – persatu kimono milik wanita yang dia cintai.

“Bantu aku Kibum,, kita harus bergerak cepat”

Jinki mendongak dan kegiatannya terhenti. Kibum membungkuk di hadapannya. Bersujud dan menangis.

“Ada apa?”

“Cukup… Cukup sampai disini saja. lebih baik anda segera kembali. Saya tidak ingin ada keributan didalam okiya”

“Apa maksudmu kibum? Apa kau marah karena aku baru datang kepadamu sekarang? Maafkan aku. Aku di kurung dan tidak boleh keluar. Mereka memenjarakanku.. dan akhirnya hari ini aku berhasil melarikan diri, dan aku berniat membawamu lari bersamaku. Kita akan pergi jauh. Pergi disuatu tempat yang tidak bisa mereka raih.. karena itu kumohon.. kumohon bergerak lah cepat. Kita tidak punya banyak waktu”

Menggeleng kuat dengan airmata yang berurai. Wanita itu telah berniat. Yah. Semua akan dia akhiri sekarang. Cukup rasa bahagia yang dia kecap beberapa bulan belakangan ini, itu sudah cukup untuk menjadi kenangan berharga seumur hidupnya. Dia akan melepaskan jinki sekarang. Di hina? Di cerca? Pangkat di hilangkan dan terlebih lagi akan diasingkan. Apa dia akan bersikap egois? Tidak akan! Dia tidak mungkin membiarkan jinki di perlakukan seperti itu. seluruh rakyatnya akan menuliskannya dalam sejarah jika pangeran mereka menikahi  geisha. Kibum tidak ingin seperti itu. dia ingin jinki hidup dengan baik. Hidup dengan sempurna. Tidak ada derita bagi pria itu, tidak boleh ada.

“Saya tidak akan ikut dengan anda! Terserah anda jika ingin pergi, tapi saya akan tetap berada disini.”

Eh?

“Apa maksudmu Kibum? Aku tidak mengerti??”

“Kita akhiri saja jinki. Cukup sampai disini.. saya tidak bisa lagi berada disisi anda!”

“jangan bercanda Kibum..”

“Tidak!!! saya tidak bercanda.. silahkan pergi dari sini.. mulai hari ini anda tidak di terima lagi oleh Okiya ini Pangeran Lee”

Terperangah. Meyakinkan diri jika telinganya baru saja mendengar jika wanita itu telah memanggilnya dengan embel – embel pangeran

“Pangeran Lee? Kau memanggilku seperti itu Kibum?

“Yah.. ada yang salah? Anda seorang pangeran dan saya seorang rakyat biasa. Sudah seharusnya saya memanggil anda seperti itu”

Ada yang salah. Kenapa semua tiba – tiba berubah. Bukankah mereka sudah mensepakatinya.

“Apa ada yang kulewatkan selama aku di kurung. Apa Keluargaku menemuimu? Kibum.. kumohon.. jangan perdulikan mereka.. bukankah kau mencintaiku?”

Menunduk menyembunyikan wajahnya dan linangan airmatanya. “Saya.. saya.. tidak mencintai anda.. itu hanya perasaan sesaat.. tolong lupakan saya…”

Mengigit bibir bawahnya hingga perih. Tetap menundukan wajahnya. Dia tidak ingin jinki melihat pias wajahnya.

“Kumohon jangan bercanda kibum..”

“saya.. sa- saya tidak bercanda Pangeran Lee..”

Aku lebih memilih menderita dari pada melihatmu menderita

Aku lebih memilih menangis dari pada harus melihat tangismu

 

Jalanku

Ini jalanku untuk mencintaimu

 

Caraku

Ini caraku untuk menjagamu..

 

“Katakan sekali lagi kau tidak mencintaiku dan tatap mataku”

Suara tegas yang menyayat hati. Suara pilu terdengar merintih. Jinki menjatuhkan tas yang dia sandang, mendekati kibum dan menarik wajah wanita itu agar menatapnya

“Katakan jika kau tidak mencintaiku?”

Sanggupkah? Apa dia sanggup mengatakan di dalam bola mata sabit yang kini menatapnya?

“Sa- saya… saya tidak men-

“Umpphh….”

Mencium bibir kibum, merasakan rasa asin dari air mata yang mendominasi wajah wanita cantik itu. jinki menangkup wajahnya dan merapatkan tubuh mereka. Ada yang janggal ketika wanita itu hanya diam tak membalas. Seperti mencium sebuah patung yang tak bernyawa.

“Tolong.. tolong jangan seperti ini..” rintih jinki membungkuk di hadapan Kibum. Kepalanya dia rebahkan diatas paha wanita itu. dan membiarkan bulir air matanya jatuh setelah sekian lama semenjak dia mengejar Kibum.

“Segeralah kembali Pangeran Lee, anda di butuhkan oleh keluarga anda!”

Mendongak. Memegang bahu Kibum dan mengguncangnya frustasi.

“Hentikan candamu..”

“Saya Serius Pangeran Lee.. saya mohon kepada anda untuk segera pergi dari sini”

Menunduk hormat sebagaimana seorang Geisha yang menghargai tamu mereka, jinki mundur beberapa jauh dari Kibum. Menatapnya tidak percaya. Memukul dadanya kasar. Bernafas berat. Pasokan udaranya semakin menipis dan dia merasa ngilu di sekujur tubuhnya. apakah hanya seperti ini saja. semua yang dia lakukan dari awal ternyata sia – sia. Hanya seperti ini saja kisah cintanya.

Menjambak rambutnya frustasi. Membiarkan begitu saja ketika airmatanya jatuh membasahi tatami. Sesekali menatap kibum yang menahan isaknya.

Jinki meraih tas yang tak berada jauh dari sisinya. Membukanya dan mengambil sebuah benda yang dia sodorkan kepada kibum

“Tolong Bunuh aku” pintanya mantap.

Kibum melihat pistol yang berada sejengkal dari jemari tangannya. Jinki meraih tangannya dan menaruh pistol tersebut dalam genggamannya. Mengarahkan ujung pelatuk tepat di jantungnya.

“Tolong bunuh aku….”

“Jangan bercanda Pangeran Lee?” berusaha menarik tangannya namun kekuatan pemuda itu terlalu kuat. Ujung pelatuk masih mengarah kearah jantung jinki. Pelatuk siap ditarik dan peluru siap untuk dilepaskan.

“Apa aku pernah bercanda?”

Ingatkan dia tentang belati yang pernah dia toreh didadanya. Ingin merobek jantungnya sendiri dan memberikannya kepada Kibum demi meyakinkan wanita itu jika dia tulus.

“Tolong… kembalilah Pangeran Lee” pias wajah yang berlinang air mata, memohon dengan sangat. “Tempat anda bukan disini.. anda dan saya terlalu berbeda.. tolong… tolong.. kali ini saja… pergilah.. hikss”

Isakan itu akhirnya terdengar ketika dia berusaha meredamnya. Tangis pilunya sudah tidak bisa tersembunyikan. Kibum… dia..

“Hiks.. sudah tidak bisa… hiks.. kembalilah Pangeran Lee.. hikss..”

“Kembali kemana Kibum? Bukankah sudah ku katakan kepadamu. Tempatku hanya berada disisimu.. dan begitu sebaliknya… tempatmu disisiku.. dan kini.. begitu kau mengusirku.. ke mana lagi arah yang harus kutuju?”

Menggeleng.. “Anda masih memiliki keluarga anda.. disana lah tempat anda pangeran Lee”

Masih bersikeras. Jinki memejamkan matanya. “Aku sudah tidak memiliki tempat selain disisimu ketika memutuskan mencintaimu…. Karena itu aku tanyakan kembali Kibum.. apa kau tidak mencintaiku?”

Akh.. dia ingin berteriak. Dia ingin mati. kenapa semua mendesaknya.

“saya… hiks.. saya tidak… sa-.. saya tidak mencintai anda”

DOR

Mendongak melihat tanganya yang sama sekali tidak bergerak, hanya menyentuh permukan pistol. Melihat jinki yang tersenyum dengan air mata yang menetes di sudut mata sabitnya. Pelatuknya telah dia lepas dengan tanganya sendiri. Dia lebih memilih mati

“AKH………….. JINKI…… HIKSS….. JINKI…..”

BUGH

Dan tubuh itu terjatuh bersimbah darah. Dengan wajah sang pemilik yang tersenyum. Bahagia ketika terakhir kali menatap wajah kekasihnya yang menangis dan berteriak memanggilnya. Bahagia ketika dia pergi tangannya menggengam tangan wanita yang dia cintai. Bahagia karena di dalam hidupnya dia pernah merasakan cinta.. cinta kepada seorang wanita hingga membuatnya mengerti akan arti menyayangi dan mengasihi

Tanpamu…

Tanpamu aku hanya sebuah jiwa yang kosong..

Tanpamu aku hanya sebuah raga yang hampa..

 

 

Aku tak akan pernah sanggup membuka mata ketika tak melihatmu

Aku tak akan pernah bisa bernafas jika tak merasakanmu disisiku

 

Merindukanmu

Merindukanmu

 

Menjeritkan namamu

Mencarimu dalam duniaku…

 

Aku akan menjadi mayat dalam tubuhku sendiri….

Semua perlahan akan menyiksaku

 

Aku memilih mati.

Aku memilih pergi

 

Ini jalan terakhirku untuk menghilangkan penderitaan dan menyimpan bahagia karena mencintaimu..

 

 

 TBC

147

[Onkey] WTF part 5 of ?

Foreword:

Annyeong~ masih ada yang tauk FF ini? Aah~ pasti udah pada BT nunggunya, mianhe neh, gue kasih info aja deh, gue cum bisa nulis klo weekand aja , itu juga kalau nggak sibuk  = =” jadi mohon sabar aja yah xD
Thanks yang udah komen sebelumnya, jeongmal gomawo suunders J

So, enjoy, fell free to comment and like .
gomawo~

By; sanniiewkey~

PREV PART >> PART 4

“Pst…yeobo!”,

“Hmmmh…”, Jinki berbalik ke arah sebaliknya dan menutup wajahnya dengan bantal, Kibum mengerucutkan bibirnya, ia menarik nafas dan meniban tubuh Jinki yang masih tertidur,

“Yeobo ah~ banguun~~”, Kibum membisikan Jinki ditelinganya, namun Jinki hanya bergidik , namun tidak ada gerakan sedikit pun yang membuatnya bangun, atau mengintip sedikit saja untuk membuka matanya. “Yeoboooo~~~”, kali ini Kibum sedikit merengek lebih kencang, dan mengigit kuping Jinki.

Jinki mengerang pelan dan bergumam , “Neh~ …”, jawabnya

“Aku mau makan ttokbokki…”, Kibum terkekeh dan mengguncang tubuh Jinki.

“Hah?” ia menjawab masih menutup mata.

“Ish, aku – mau –makan –ttokbokki!”, bisik Kibum kesal, Jinki diam saja, tidak menanggapinya, Kibum menatap Jinki kesal, dan beranjak ke sisi Jinki , menyelinap kebalik selimutnya dan menatap Jinki, memainkan jarinya ke matanya, dan membukanya paksa dengan jarinya. “Yeobo! Aku lapar, mau makan ttokbokki, cepat belikaan~~”

“Ngh… ini kan masih malam, besok saja…”, Jinki memundurkan badannya,

“Kalau begitu biar aku pergi beli sendiri saja…”, ancam Kibum, Jinki langsung membuka perlahan matanya, menatap Kibum yang menatapnya kesal. Jinki menguap dan merentangkan tubuhnya.

“Yeobo… besok saja yah, kau makan apa saja, aku belikan, lagi pula, mau cari dimana? Di pulau ini tidak ada pojangmangcha…” Jinki berbicara sambil mengintip dari mata kantuknya, Kibum diam saja, tidak bicara …

“Kau tahu, kau mulai tidak mencintaiku, dan kau baru saja melakukannya, yasudah, lupakan saja.”, ambek Kibum, berdiri dan berjalan ke kamar mandi.

Jinki menarik nafas, ia menatap perginya Kibum, ia tunggu 5 menit, Kibum juga tidak keluar, ia mulai khawatir, ia loncat dari kasur dan mengetuk pintu.

“Kibummie… kau sedang apa didalam? Gwewncana?”, teriaknya, didalam sana Kibum menatap layar ponselnya sembari duduk di kloset, menatap ttokbokki yang ia search dari internet dan mengelusnya dengan tangannya, betapa ia ingin makan itu ya Tuhan… tapi karena si suami pelit itu dan tidak pengertian, ia harus menahan keinginannya.

“Kibummie .. jawab aku, atau buka pintunya, jangan buat aku khawatir …”, teriak Jinki lagi mengetuk pintu. “Kibummie .. dan jangan bilang aku tidak mencintaimu… ayolah…” Jinki mulai tidak sabaran, ketukan di pintu semakin kuat. Kibum hanya menatapnya kesal dan menutup telinganya.

“Kibumie, serius, kalau kau tidak buka, maka terpaksa kudobrak pintu ini.”, Kibum diam saja, namja nya itu tidak akan segila itu, tega sekali ia… lebih baik tidur saja lagi sana, tidak usah perdulikan dia. Kibum melihat ke arah pintu yang tiba-tiba diam sesaat, tapi sedetik kemudiam membuatnya terlonjak sekitar 3 cm dari duduknya ke atas, terkejut karena Jinki mendobrak pintu itu.

“YAH!”. Teriak Kibum memegang jantungnya, “Haish that stupid dub—“ BRAK! . Kibum membelalakan matanya, serius, namja nya ini benar-benar serius.

“Kibummie!”, teriak Jinki ,

“NEH NEH NEH! BERHENTI MENDOBRAK!!”, teriak Kibum kesal.

Jinki berhenti melakukannya, kemudian pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan Kibum yang berdiri baik-baik saja dengan tampang tidak senang. Jinki yang tidak sadar hanya menghampiri Kibum dan meraihnya kedalam pelukannya.

“Gwencana?”, Jinki menyentuh pipi Kibum, Kibum diam saja malah melirik Jinki kesal.

“Menurutmu? Kau mungkin hampir membuat ku kena serangan jantung, dan aegya kita jiwanya terguncang.”, jelas Kibum sedikit berlebihan sambil menepuk perutnya pelan. Jinki membulatkan bibirnya dan menatap Kibum yang terbaring dikasur menarik selimut sampai kekepalanya dan membelakangi Jinki.

“Yeobo ah~ mainhe…”, Jinki duduk di kasur dan mengelus punggung Kibum, “Maaf neh? Aku khawatir terjadi sesuatu didalam, habis kau tidak jawab sih panggilanku.”,

“Berisik,sudahlah aku mau tidur…”, ambek Kibum, Kibum menatap layar ponselnya dan cemberut melambai pada layar ponselnya dengan pelan mengucapkan ‘annyeong ttokbokki’. Jinki menarik nafas dan menatap Kibum sambil tersenyum.

“Tidak jadi makan ttokbokki?”, tanyanya, Kibum melirik ke pertanyaan itu, “Kau tahu, aku bisa minta koki resort ini buat kan untukmu … aku yakin mereka tidak akan menolak permintaan ku.”, jelas Jinki. Kibum mulai menimbang, tapi ia tidak bergeming.

“Ya sudah kalau tidak mau … aku tidur lagi saja..”, kata Jinki. Kibum terkejut, dan ia tiba-tiba keluar dari dalam selimut.

“Tungg—‘, Kibum langsung disambut sosok Jinki yang tersenyum cokky didepannya,

“Kajja…?’, ajak Jinki, Kibum menarik nafas, sialan, jebakan senyuman maut ini namanya. Kibum beranjak dari atas kasur, Jinki mengambil mantel dan memakaikan pada Kibum kemudian keluar dari losmen mereka dan berjalan sekitar 500 meter menuju dapur utama resort itu.

.

.

“Hmmmm….masstaaaa~~~”, Kibum mengunyahnya dan melonjakan kakinya dibawah meja kegirangan, Jinki menarik nafas dan menatap Kibum didepannya, menopang dagunya menatap sosok yang asik makan sendirian itu.

“Kau senang?”,

“Ng!”, Kibum mengangguk dan tersenyum lebar. “Kau mau?”, tawar Kibum, Jinki menggeleng, ia sudah kenyang, jelas ia sudah kenyang, rasanya sudah kenyang jika kau sendiri yang memasaknya, benar, Kibum benar-benar hebat, ia bisa membuat Jinki untuk pertama kalinya masuk kedapur dan harus masak. Biasanya, yang Jinki tahu adalah delivery order atau fastfood saja.

“Makanlah yang banyak, biar aegya kita juga senang …”, jelas Jinki menguap dan menopang dagunya di meja, sambil matanya menatap Kibum yang asik makan.

“Sepertinya kau tidak senang?”

“Aniooo….”, Jinki menggeleng, Kibum meletakan sumpitnya dan menatap Jinki, Jinki heran, “Kenapa? Ayo habiskan … dan kita kembali kekamar, ini sudah hampir pagi, kau tidak mengantuk?”, tanya Jinki menguap lagi.

“Apa aku berlebihan?”, tanya Kibum, Jinki mengerutkan alis, “Permintaan ku berlebihan neh? Mianheyo.”, Kibum terpaksa mengucapkan itu, ia memang ada rasa tidak enak, tapi ia sedikit kecewa karena Jinki sepertinya tidak ikhlas melakukannya.

Jinki menarik nafas , melihat istrinya itu malah mengaduk makanannya tidak jelas dan terlihat kesal. “Aniooo~ yeobo ah~”, Jinki mengelus pipi Kibum, “Aku senang melakukannya, maaf yah aku seperti ini, aku hanya lelah, kau tahu kan … maksudku, aku baru saja tidur 2 jam setelah tadi kita … kau tahu…hmm…”, Jinki menggaruk kepalanya, Kibum mengangguk dan menarik nafas.

“Neh … gwencana…”, Kibum menurunkan tangan Jinki dan saling menggenggam, sesekali mengelusnya dengan jempolnya, Jinki terkekeh, “Nah ahhh~~”, Kibum mengelurkan sumpit ke mulut Jinki. Jinki mengerutkan alis, “Ayo, aku mau cepet ini habis, dan aku mau tidur…”, rengek Kibum, Jinki terkekeh dan membuka mulutnya, lama kelamaan mereka saling menyuapi satu sama lain, dan kembali ke losmen ketika makanan itu sudah habis.

WTF~

Taemin keluar dari lobi sekolah, hari sudah sore, Minho sudah pulang duluan karena harus bertemu dengan orang tuanya, namun tiba-tiba ia berhenti dari jalannya ketika melihat Jonghyun keluar dari sebuah mobil. Wajahnya sangat lesu dan menatap mobil itu pergi dengan wajah dingin , kesal dan entahlah.

“Kalau kau tidak lakukan, maka kau akan tahu akibatnya!”, ancam seseorang dari dalam mobil itu, Taemin tidak bisa lihat jelas, tapi yang pasti orang itu mengancam Jonghyun.

Taemin mengamati mobil itu pergi dan menelan ludahnya, haruskah ia menghampiri Jonghyun? dengan ragu perlahan ia mendekat dan berjalan menuju Jonghyun dekat pintu keluar gerbang sekolah.

“Annyeong haseyo…”, Taemin menyapa, Jonghyun menoleh dan terkejut melihat sosok yang menurutnya sangat cantik itu.

“Oh, anneyong…”, balasnya membungkuk. “Apa aku mengenalmu?”,

Taemin terkekeh dan mengulurkan tangannya, “Aku Lee Taemin, kita belum kenal, tapi aku tahu tentang mu Hyung…”, dari Minho tentunya, tambah Taemin sendiri. Jonghyun terkejut, ia mengulurkan tangannya.

“Oh neh, jadi kau tahu aku? Lalu siapa namaku kalau begitu?”, tanya Jonghyun tersenyum, Taemin terkekeh, cute~ menurut Jonghyun.

“Kim Jonghyun neh?”, tanya Taemin, Jonghyun menganga, ia heran, apa ia seterkenal itu dalam beberapa waktu disekolah ini?

Jonghyun menatap Taemin dari atas sampai bawah anak yang cantik, bahkan salah satu anak tercantik yang ada, selain Kibum yang goodlooking seperti yeoja tentunya, ternyata banyak juga yang seperti ini.

“Hm…Hyung?”, Taemin melambai didepan wajahnya.

“Oh neh, mianhe…”, Taemin hanya terkekeh, “Oh, kau tau namaku dari mana? Apa kau fansku?”, tanya Jonghyun membuat Taemin tertawa,

“Kau bisa saja, jangan GR hyung…”, Taemin menutup mulutnya dengan telapak tangannya, cute~ sekali lagi Jonghyun menilai seperti itu. “Oh, Hyung gwencana?”, tanya Taemin.

“ Oh?”,

“Ng … mianheyo … tadi, aku tidak sengaja datang,dan orang didalam mobil itu berteriak atau mengancam mu atau sesuatu…”

“Gwecana…”, potong Jonghyun. “Ah,kau tidak menjawab pertanyaan ku barusan, tau dari mana namaku?”, tanyanya lagi.

“Oh, aku mengenal seseorang, dan dia juga dekat denganmu… aku tahu sedikit banyak tentang mu darinya…”,

“Oh jeongmal? Nugu?”

“Minho, Choi Minho , kau kenal kan?”,

“Omo, Minho? Kau kenal dengannya?”, tanya Jonghyun, Taemin terkekeh malu. ‘Omo! Kau … jangan-jangan …kau dengan Minho…kalian…”, Jonghyun memeragakan tangannya menjadi satu seperti orang ciuman.

“A-aniooo…. “, tolaknya dengan wajah memerah. Jonghyun hanya berdecak,

“Gwencana, aku sudah bisa menebak kok, aah~ sial, aku sudah kalah start lagi…”, Taemin terdiam, menatap Jonghyun tidak mengerti, Jonghyun membalas tatapannya , mereka salin menatap …

“A-aah…”,. Taemin memundurkan badannya dan menutup mulutnya malu, ‘A-aku…mianhe.. aku dan Minho tapi sudah pacaran… aku tidak minat menjalin hubungan dengan yang lain…”,

Jonghyun mengedipkan mata, “Loh, emang siapa yang kau maksud?”

“Oh?”, kali ini Taemin bingung, Jonghyun terdiam, kemudain tertawa keras ketika menyadari situasinya. ‘hyungggg~~ berhenti, aku kan cuma salah paham…”, rengek Taemin memerah wajahnya, Jonghyun tetap tertawa.

“Kau ini…hahahaha…lucu sekali, maksudku, aku kalah start sama Minho karena dia sudah bisa punya pacar. Sedangkan aku ? “, katanya, Taemin terdiam.

“Hyung…. boleh kita bicara disuatu tempat, cafe misalnya? Ada yang ingin aku katakan…”,

“Oh? Tentang apa? Kita kan baru kenal? Kau tidak takut padaku? Aku kan masih asing untukmu.”

“Nope, aku tahu kau tidak akan macam-macam…”

“Oh?”

“Kalau kau macam-macam, mungkin aku akan adukan Minho, dan aku jamin ia akan membunuhmu jika kau berani sentuh aku seujung rambut ku saja.”,

Jonghyun hanya tertawa dan menyutujui Taemin menuju sebuah cafe.

WTF~

Mianhe yo~~”, rengek Kibum terduduk lemas di sofa, Jinki tersenyum sambil menngurut telapak tangan Kibum, diantara sela ibu jari dan telunjuknya untuk menghilangkan mual Kibum.

“Nope … aku seharusnya tidak merencanakan ini, kita lain kali bisa kok…” jawab Jinki , well, mereka malam itu ingin pergi dinner , sebenarnya Jinki sudah menyiapkan semuanya , mereka akan makan disebuah kapal yatch pribadi, dan niatnya, disana Jinki akan membuat konser kecil untuk Kibum, pertama kalinya ia akan menyanyi untuk Kibum jika malam itu berhasil. Tapi nyatanya , Kibum yang sudah rapih tiba-tiba mual, dan yes, dia yang sudah mengalami morning sick seharian, muntah berkali-kali menjadi lemas dan tidak bertenaga.

“Eotte … aku mau keluar dan makan … pasti kau sudah pesan makanan enak kan?”, tanya Kibum, Jinki berdecak.

“Hanya makanan resto, pasti kau tidak penasaran kok …”,

“Tapi aku mau kita dinner malam ini…”, Kibum merengek, “Ah, kita lakukan saja disini…eotte?”,

Jinki mengerutkan alis, “Ah, bisa … aku akan pesan semuanya kesini…”,

“Ah, jakkaman!”, Kibum menarik tangan Jinki. “Aku cuma mau makan ramen saja , kita makan dibalkon saja, gelar tikar, dan duduk diluar melihat laut, itu bagus kan? Lumayan biar aku bisa menghirup udara segar  …”

“Kau yakin? Ramen kan pedas, kupesakan bubur saja yah?”

“Shirooo~~”, Kibum bersungut, “Ramen! Kalau tidak mau, tidak usah jadi sajalah, aish…”, Kibum menarik dengkulnya ke atas dan menelungkupkan kepalnya disana, menoleh ke arah laut, Jinki menarik nafas, aish … selalu begini, semenjak hamil, Kibum selalu moody dan bersikap diva, oh tidak, more than a diva now!

Cup~

“Oke princess… semua titah mu adalah tugas ku…”, Jinki mengecup pucuk kepala Kibum dan mengelus pipinya, “Jakkaman neh… aku keluar sebentar…”

“Kenapa tidak menggunakan room service?”tanya Kibum,

“Hanya sebentar … memastikan semua bisa berjalan baik walau Cuma di sini…”, Jinki tersenyum, Kibum mengangguk dan menyuruh Jinki keluar.

Kibum menarik nafas, apa ini mimpi? Rasanya ia terlalu terlena dalam kebahagian ini, Jinki menjadi suaminya, mungkin well … ia masih bingung kenapa pernikahan mereka dizinkan dengan mudah, ada rasa khawatir dalam hati Kibum, mungkinkah ia harus mewaspadai akan segala sesuatu kedepannya?. Awal yang baik, Jinki mengakui anak ini, Ummanya setuju begitu pun Appa Jinki, namun … apa benar ini akan berjalan dengan baik?

“Aaahh~ kenapa tiba-tiba berpikir negatif? Aish … ini tidak baik, huaah…aku tidak boleh stress…tidak boleh, nae aegya tidak boleh merasakan tekanan…ya kan aegya?”, Kibum berbicara sendiri pada perutnya.

Ringgg ringgg~~

Kibum menoleh ke arah ponsel Jinki dan mengambilnya. “Yoboseyo?” … “Oh, neh … kami membatalkannya, mianhe … apa saja yang sudah dibatalkan?” … “Omo! Neh neh, apa saya perlu bayar dendannya?” … “Oh, neh neh … arrasoo… gomawo…”

Kibum menganga, Jinki sudah melakukan semua itu? Demi nya? Dan semua karenanya maka rencan itu batal? Dan karenanya juga maka ia akan membayar dendanya? Omona~~ia harus lakukan sesuatu untuk Jinki, tapi apa?

WTF~

“Gomawo Jonghyun Hyung, seharusnya aku yang mentraktirmu, kan aku yang mengajakmu…”, Taemin cemberut, Jonghyun berdecak dan mengacak rambut Taemin.

“Neh gwencana … lagi pula kau kaya…” ledek Jonghyun, Taemin mendengus,

“Aish,kau sama saja dengan Minho, sama-sama sombong …”, Jonghyun hanya tertawa. “Btw Hyung, aku harap aku bisa pertimbangkan apa yang aku minta, maaf kalau aku menuntut banyak, aku hanya tidak ingin melihat kalian tersakiti, aku tahu kau suka pada Jinki Hyung, tapi kau tahu kan sekarang ia dan Key umma sudah menikah?”, Jonghyun hanya tersenyum.

“Neh, arraso …”, Jonghyun menjawab itu, “Atau aku sebainya menaruh harapan padamu? Kau dan Minho kan belum menikah.”

“Yah Hyung… bukan itu pointnya kita bicara saat ini …”, rengek Taemin, Jonghyun hanya tertawa,

“Neh Taemin, arrasooo…”, Jonghyun menepuk pundak Taemin,

“Good, gomawo atas waktunya dan pengertiannya … fighting Hyung, kalau ada masalah, atau butuh bantuan, kau bisa andalkan Lee Taemin. “ Taemin menepuk dadanya, “Kalau aku tidak bisa, maka aku akan minta Minho membantu ku untuk membantumu…”, kekeh Taemin.

“Kau ini, sudah sana pulang, hati-hati neh? Salam untuk Minho, katakan suruh ia cepat menyapa ku disekolah esok.”

“Neh, arraso! Hyung annyeong… “,

Jonghyun senyumnya menghilang dan menatap Taemin dengan sendu, ia melihat ke arah langit dan membuang nafasnya. Sebelum ponselnya berbunyi dan melihat siapa yang mengubunginya, sejenak ia tidak ingin menjawabnya, namun ia tahu, ia bisa dalam masalah jika tidak menjawabnya.

“Yoboseyo.”

[kau dimana? Cepat kemari, aku butuh kau sekarang … ada yang perlu kubicarakan.]

“Aku sedang ada di luar, aku akan kesana dalam 20 menit.”

[Good, kau memang my puppy dino…]

PIP

“im not your damn fucking puppy dino, fuck you Krystal!”, Jonghyun menatap ke arah ponselnya dan menatap jalan dimana Taemin pergi. Ia menarik nafas, mengingat apa yang dikatakan oleh anak itu barusan.

“ … aku tahu rasanya ketika kau tidak dicintai oleh orang yang kau cintai  Hyung…”

“Maksudmu?”

“kau, mencintai Onew Hyung bukan?”

“…”

“Aku mohon, jangan membuat semua ini menjadi sulit Hyung, aku tahu kau orang baik, dan Minho hyung mengatakan itu padaku, biarkan mereka bahagia Hyung … aku mohon padamu…”

“Kau bukan siapa-siapa, kau bahkan tidak kenal aku, kenapa kau mencampuri urusanku?”

“Karena aku sudah bilang, aku tahu kau orang baik…”

“Kau tidak kenal aku… dan kau tidak tahu apa-apa…”

“Lalu kenapa kau tidak menatap mataku?”

“…”

“Kau juga tidak ingin memaksakan perasaan Onew Hyung padamu kan Hyung?”

“Dasar anak sok tahu! Selera Minho sangat rendah, terkecuali parasnya, diluar itu, anak itu benar-benar sok tahu, dan so innocent.” Jonghyun berjalan ke ujung jalan ,mengendari taxinya dan pergi ke tempat yeoja yang baru saja ia hubungi.

WTF~

Jinki tersenyum puas, Kibum pasti suka dengan apa yang akan ia tunjukan, well … sedikit kecewa memang jika rencana sebelumnya gagal, tapi kali ini, ia berharap walau hanya ramen ditangannya membuat Kibum senang.

“Kibummie… aku kembali…”, Jinki membuka pintu,mendorong tray makanan ke dalam kama rmereka, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Kibum, ruangan remang-remang, dan ia tidak tahu Kibum kemana.

“Kibummie?”, Jinki memanggil lagi , namun Kibun tidak ada. Jinki yang takut terjadi sesuatu mulai mencari kesemua sudut ruangan, tapi nihil, ia mengigit bibirnya panik, kemana dia? Jaketnya dan juga sepatunya masih ada.

“Jinki…”

“HUWAH!!”, Jinki memegang jantungnya, terkejut melihat Kibum berdiri di belakang, namun ia memicingkan matanya, mencoba melihat jelas sosok Kibum dari remangnya kamar. Perlahan siluet Kibum muncul dari balik closet baju, membuat mata Jinki terbelalak.

“K-kibum…kau…apa yang—‘

“Sssht …”, Kibum maju dengan cepat mendekat ke tubuh Jinki, menarik kerah Jinki dan menempelkan jarinya ke bibir tebal Jinki. Jinki menelan ludahnya, terlihat dari jakunnya yang naik turun menahan desiran nafsunya yang tiba-tiba muncul. Melihat istrinya hanya memakai kemeja putih Jinki yang jatuh tepat di bagian bawah bagian terlarangnya, jika ia menunduk sedikit saja, maka pantatnya akna terlihat, karena memang tinggi mereka tidak berbeda, dan ukuran baju itu tidak jauh beda dengan Kibum.

“Kau memang suami paling baik, dan juga pacarku yang paling tampan, kaya dan juga…”, Kibum berbisik, “sexy…”, Jinki nafasnya tertahan ketika tangan mungil Kibum meremas bokong Jinki.

“B-bummie…j-jangan, kau sedang hamil…”, Jinki memundurkan badannya , menahan tangan Kibum,dan menghindar dari mulut Kibum yang sudah mulai menciumi lehernya, kalau tidak dicegah, demi ayam goreng diseluruh dunia, maka Jinki tidak bisa menahan gejolaknya.

Kibum cemberut, ia perlahan mendekat, membuat Jinki mundur dan terduduk di sofa, “Tapi nae aegya menginginkannya…”, katanya manja, Jinki terbelalak.

“Mana mungkin?!”

“Mungkin saja! kenapa kau berteriak padaku?!”, tanya Kibum terkejut mendengar Jinki meninggikan suara, Jinki menatap Kibum gelagapan.

“A-ani… t-tapi…”, Jinki menarik nafas ketika Kibum sudah berdiri didepannya menyilangkan tangan, membuat bajunya terangkat ke atas. “Kalau kau tidak berhenti, aku tidak tahu apa yang terjadi baby… kau sedang hamil, dan kau tahu kita tidak bisa melakukan seks…”

“Aku tidak bilang kita akan lakukan seks?”, jawab Kibum innocent,

“Huh?”

Kibum tersenyum, ia berjongkok didepan kaki Jinki dan menatap Jinki dengan tatapan puppy eyesnya, “Aku akan lakukan blow and hand job untukmu…”,

Jinki menganga, “T-tapi…”

“Yah! Ini mau anak kita!”

“K-aku tidak bisa membuat alasan ini karena aegya bab—-“

“Kau tidak mencintaiku yah?”

“S-sudah kubilang jang—aah!”

Kibum terkekeh, ia melirik ke atas, sambil tangannya mengelus selangkangan Jinki. “Tapi sepertinay tubuhmu mau… wah, nae aegya akan senangg~”,

Jinki menahan tangan Kibum dan menarik nafas, “O-oke…tapi jangan ditelan…arraso?”, Kibum terkekeh dan mengacungkan jempolnya.

WTF~

Taemin berlari ke lorong loker, ia sudah telat, kalau tidak segera, ia akan terlambat masuk kekelas. Namun ketika ia berbelok di sisi lorong ia menabrak tubuh seseorang, dan cukup membuat orang didepannya itu terhuyung kebelakang, namun Taemin yang mempunyai reflek bagus langsung menangkapnya, dan timing itu sangat tepat.

“G-gwencana?”, tanya Taemin juga terkejut, melihat sosok yeoja didepannya, rambut coklat dan ikal panjang se punggung.

“Neh … gomawoo…”, yeoja itu berdiri dan tersenyum manis. Merapihkan seragamnya, Taemin meneliti wajahnya.

“Kau newbie?”, tanya Taemin ramah, yeoja itu menatap Taemin dengan mata berbinar,

“Neh, aku sedang mencoba menemukan nomer loker ku, tapi rasanya aku tersesat.”, Taemin membentuk mulutnya menjadi O.

“Aku Lee Taemin, panggil Taemin saja, atau Minnie kalau kau mau lebih akrab.”, Taemin mengulurkan tangannya ramah. Yeoja itu tersenyum dan mengulurkan tangannya.

“Aku Jung Soojung, atau Kyrstal.”,

“Berapa nomer loker mu? Mungkin akan kubantu menemukannya.”

“Hmm … 778 …”

“Oh, itu 2 nomer dari loker ku, kajja, kita akan telat mata pelajaran berikutnya.”

“Oh, benar. Kajja!”

WTF~

“Oh , whats up Minho!!”, seru Jinki menepuk Minho yang sedang duduk di kantin sendirian dengan makanan tak terjamahnya

Sudah selama 2 minggu mereka di pulau keluarga Jinki, dan Jinki serta Kibum memutuskan kembali kesekolah, Jinki ingin Kibum tetap dirumah, ia harus mulai ambil cuti, tapi rasanya Kibum ingin sebisa mungkin sekolah jika perutnya belum membuncit. Dan seluruh siswa sisekolah, tidak ada yang tahu tentang kehamilannya, tidak Minho juga Taemin. Mereka berdua memutuskan menyembunyikan semua itu, demi tidak terjadi keributan. Mereka menikah saja, sudah cukup skeolah gempar, banyak surat ancaman ditujukan kepada Kibum, karena pengerannya direbut, dan banyak pula ke Jinki karena malaikat mereka direbut.

“Hai Hyung,Hai Key…”, jawab Minho dingin, matanya menatap ke ujung kantin, dimana sosok pacarnya lebih asik bersama yeoja selama 2 pekan itu.

“Nugu?”, tanya Kibum duduk di depan Minho dan mengikuti pandangan Minho. “Oh!”, Kibum terkejut melihat Taemin bercanda dengan mesra dengan yeoja. Jinki melihatnya juga, dan ia tersenyum, melihat ke arah Minho yang sedang BT.

“Siapa dia? Taemin selingkuh darimu?”, ledek Jinki yang menerima lirikan dari Minho dan sikutan diperut dari Kibum.

“My baby tidak play boy seperti kalian!”, seloroh Kibum. “Siapa dia Minho? Aku tidak pernah lihat? Sepertinya kami pergi banyak yang berubah?”

“Namanya Krystal, newbie, dan selama 2 pekan ini bersama dengan Taemin, membuat ku tidak bisa mendekati Taemin, entah apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya Taemin menikmatinya…”

Kedua Onkey mengangguk dan sambil memakan makan siang mereka, “Taemin memperkanalkan kalian satu sama lain?”

“Ya, tapi itu tidak penting, yang penting, apa yang mereka lakukan, sehingga kau ditinggalkan sendiri…”

“Mereka seumuran?”tanya Kibum

“Ya , mereka sekelas.”

“Oh, jelas berarti alasannya kan?” jawab Jinki enteng.

“UMMA APPA!!!”, teriak sebuah suara, Kibum menoleh dan melihat Taemin berlari ke arahnya, sambil diikuti yeoja itu dibelakangnya. Taemin ingin menunbruk Kibum , namun Jinki menghalanginya.

“Yah appa waeee~ aku rindu umma ku…ummma~ bogoshipoo~”, Taemin menginjakan kakinya ke tanah.

Kibum terkekeh, Jinki memberikan isyarat untuk hati-hati dengan perutnya, “Aigoo…sini … appa mu hanya cemburu…” Taemin memeluk Kibum dan bergantian ke arah Jinki.

“Ah, perkenalkan, ini Krystal, ia teman sekelasku … Krys, kenalkan, ini Umma Kibum or Key umma, dan ini Jinki Appa, mereka sudah menikah …”, jelas Taemin, “ …serius! mereka saja baru pulang dari honeymoon.”, ledek Taemin bergosip layaknya yeoja, Krystal hanya terkekeh dan membungkuk hormat.

“Annyeong, Krystal imnida… “

“Ah, teman Taemin sangat ramah …” puji Kibum, diberikan anggukan oleh Jinki. Jinki disisi lain seperti sedang memutar otaknya, mencoba mengingat, sepertinya ia pernah melihat yeoja ini sebelumnya, tapi…dimana?

“Cukup ramah dan membuat orang lupa dengan orang lain…”, jelas Minho berdiri dari kursinya dan berjalan begitu saja. Taemin terkejut.

“Ah, Minho hyung!”, Taemin berbalik. “Krys … sorry, Minholebih penting, ah umma appa, tolong bicara dengannya neh?” dan pergi mengejar Minho yang mengambek.

Ketiga terlihat sangat canggung, tidak tahu harus berbicara apa. “Ah, jadi kalian menikah?”, tanya Kyrstal akhirnya, Kibum tersenyum menatap Jinki. Jinki masih diluar pikirannya sendiri.

Mereka berbicara, dan Kibum menilai yeoja itu sangatlah baik , ramah , dan juga menyenangkan, namun Jinki, entah kenapa, membuat Kibum merasa aneh, karena ia melingkarkan tangannya di pinggang Kibum seakan takut kemana-mana saat berbicara dengan yeoja itu.

“Yah, kau kenapa sih? Dari tadi memelukku terus? Mau pamer? Tidak perlu, dia sudah tahu kita menikah dan suami istri sekarang.”, tanya Kibum ketika Kyrstal pergi duluan.

Jinki menaikan bahunya, “Molla, aku hanya merasa pernah melihatnya, tapi tidak tahu dimana…”

Kibum melirik Jinki, ‘Kau mencoba mencari modus padanya yah?”

“Modus apa?”

Kibum berdiri meninggalkan Jinki, “Yah~”, Jinki merangkul Kibum.

“Berani flirting, maka akan kutendang junior dubumu…”

“Hei, yang sedari tadi bicara padanya itu kau…”

“Aku hanya mencoba ramah, kau yang aneh.”

“Perasaan aegya kita saja kali, jadinya berpengaruh padamu…”, ledek Jinki menerima sikut diperutnya dan mereka tertawa.

“Btw, jangan terlalu dekat padanya, aku tidak suka…” jelas Jinki sebelum mereka berpisah kekelas masing-masing.

“Wae? “

“ng … aku cemburu…”, CHU~ Jinki mencium cepat bibir Kibum dan berlari menjauh, Kibum berdecak dan menyentuh bibirnya, kemudian beralih keperutnya. “Hahhh~ nae aegya, appa mu itu bodoh, tapi dia manis jika cemburu…”,

.

.

“Aegya?”, gumam sosok itu dari balik lorong menatap couple yang baru saja berlalu kejalan masing-masing.

“Jangan kau coba-coba ganggu mereka.”,

Yeoja itu menoleh ke arah suara, sosok namja tampan memasukan tangan ke saku dan menatapnya dingin, “Kau yang lamban, aku hanya ingin kau pisahkan mereka, dan buat ia percaya lagi padamu, sehingga keluarga mereka bisa dekat dengan mu, kemudian kita jalani rencana untuk bisnis keluarga kita.”

“Biar aku saja, kau tidak perlu…”

“Tergantung, kalau kau kerjanya lama, biar aku yang bereskan…”

“Jung soojung!”

“Wae?” yeoja itu melotot . ‘Kau tidak tahu kita akan jatuh miskin dan akan jadi gelandangan, jika kita tidak segera mendapatkan investasi besar dari keluarga Jinki, satu-satunya jalan hanya ini, kalau kau tidak mampu, aku yang akan lakukan, apapun caranya , untuk tidak jatuh miskin!”, ancam yeoja itu dingin.

“Kau gila.”

“Kau lebih gila Jonghyun Oppa, kau gila kalau biarkan keluarga mu jatuh miskin, kau memang tidak mengerti, karena kau anak tiri, jadi kau tidak tahu apa rasanya!”teriak yeoja itu pergi.

“Aku mengerti  … sangat mengerti, itulah kenapa aku lakukan untukmu..”, jelas Jonghyun menatap sosok yeoja itu.

WTF~

“Annyeong Umma appa…”, Taemin menyapa Onkey couple sambil tangannya menggeret Minho, Minho pagi itu terlihat sangat lelah,dan mengantuk. Jinki tidak perlu bertanya , sudah jelas dari seluruh bercak merak dileher Taemin dan juga Minho, tapi kali ini agak beda.

“Kau baik-baik saja Minho?”, tanya Jinki ketika membiarkan Kibum berbicara dengan Taemin.

“Taemin mengerikan, kenapa semua orang tertipu wajahnya, dia tidak se innocent yang kalian duga.”

“Aku tidak menilainya begitu.”

“Oh yah?”

“EmHm. So, apa yang ia lakukan?” tanya Jinki, Minho mengurut pinggulnya,

“Ku bertaruh kau tidak mau tahu, ia mengerikan.”, tunjuk Minho ke Taemin dengan dagunya.

Jinki terdiam sejenak dan kemudian terkejut, “Oh, my god!!”, Pekiknya, membuat Taemin dan Kibum menoleh, Taemin yang tahu situasi itu langsung berlari ke arah Minho memastikan ia tidak cerita pada Jinki, namun percuma, Jinki sudah tertawa terpingkal-pingkal, jika Minho tidak merasa ngilu di pinggulnya, dia akan menendang Hyugnnya itu karena menertawai mereka.

“Oh, aku lupa binder ku, aku kembali ke loker dulu yah?”, ucap Kibum tiba-tiba.

“Oh, aku antar—“Jinki menoleh

“Anio, sebentar saja, kau tunggu sini saja..”

“Yang benar?”

“Iya. Sebentar yah …”, Kibum berlari menuju lokernya, alasan, tepatnya, ia lupa membawa bekal makan siang Jinki tadi yang ia simpan di lokernya, bekal yang ia buat subuh-subuh sebelum Jinki menjemputnya di rumah, ya mereka masih pisah rumah, karena Kibum masih ingin tinggal sebentar dengan ummanya, meski Jinki terkadang datang dan tidur disana.

.

.

BRUK

“Ouch!”, Kibum menahan tubuhnya ditembok.

“Kibum?”

“Jonghyun?”

Jonghyun tidak berkata apa-apa, “Chukae atas pernikahan kalian.”. sebelum Kibum bisa menjawab , Jonghyun sudah pergi darinya.

Kibum memegang tembok, kepalanya terkadang gampang pusing kalau terkejut, “Oppa!”,

Kibum menoleh, Krsytal didepannya menahannya, “Gwencana?”

“Neh … hanya sedikit pening, kenapa kau disini?”

“Oh, ng.. aku tersesat, aku lupa lorong loker ku…”

“Oh, nomer berapa?”

“778 …” jawabnya tersenyum.

Kibum tersenyum dan menunjukan lorong yang mana, kemudian ia pergi ke lokernya sendiri, sebaiknya ia juga meminum vitaminnya, mungkin ini efek mual setiap pagi karena aegya nya.

“Duh aegya…jangan siksa umma dong, umma kan capek…” namun Kibum berhenti bicara sendiri ketika mencium bau tidak enak, ia hampir saja muntah , dan membuat peningnya menambah.

Ia mengendusnya, dan ia temukan dari dalam lokernya. Perlahan ia buka, dan ketika ia lihat apa yang ada disana membuat ia ingin pingsan, darah berlumuran didalam, mengguyur semua bekal makanannya, dan ada bangkai burung didalam sana. Kibum menahan tubuhnya memegang pintu loker, namun ia tidak kuat, yang ia tahu kakinya lemas, kepalanya tamnah pusing mencium bau anyir itu.

BRUK

Dan semua gelap.

.

.

Sepasang mata menatapnya dingin, dan pergi begitu saja.

TBC~

Woke… ini jadi agak creppy yah? Makin aneh aja alurnya, LOL, judulnya aja udah WTF, kalian pasti bakal merasa aneh dengan FF yang satu ini, karena jujur, gue mau bikin macem” didalam FF ini, hahahahaha…

SORRY BANYAK TYPO, GUE MALES CEK N RE-CEK NYA ..NIKMATIN AJA YAH! xD

So, feel free to comment xD

OH, komen gak lebih dari 70 males akh lanjut cepet nya :p

66

EPILOG : OUR PRECIOUS ONE…IT’S OUR MOST PRECIOUS TIME… /2MIN/MPREG/YAOI

Chingu, ini keiminnie bawa FF dari Fitri, and buat Fitri mian gue bar pos sekarang… U.U

 

Foreword :

annyeong…apa kabar semuanya? Sehat kah? Hehehe. Lagi pengen bawa ff random lagi setelah beberapa waktu ndak nulis. Sebenernya tadi malem lagi ubek-ubek laptop, ketemu OPO part terakhir, trus entah kenapa kepikiran untuk nulis epilog nya. Pada minta epilog kan? :p

Entah yaa bakal gimana ceritanya. Bakal jadi smutt atau sebaliknya, otak gue meliar trus nulis tiba-tiba anak 2min mati bunuh diri atau ketabrak mobil atau keracunan, hahaha. Seperti biasa gue nulis tanpa ide dasar jadi asal aja nii tangan mau ngetik apa. Entah juga yaa bakal jadi seheboh part-part sebelumnya atau engga maklum gue udah lama ga nulis lagi jadi pasti bakalan beda dari yang dulu. Terserah sii mau di komen atau engga, aku ndak perduli. Hehe. Gue udah mencoba nothing to loose pas nulis, jadi kalian mau meluangkan waktu untuk baca aja gue makacii sekaliii.

Hope you likey…

Cue…

By : TaeminhoShouldBeReal

 

 

 

EPILOG…

“hyung, bayi ini kita mau beri nama siapa?”

“untuk yang wanita, Choi Minzy”, Minho menjawab sambi tersenyum. Keduanya persis Minho dan Taemin. Sang wanita luar biasa cantik. Wajahnya persis Taemin, hanya matanya, jelas itu mata elang Minho. Sementara sang namja, ia luar biasa tampan. Wajahnya persis Minho, hanya perbedaan di matanya, sama seperti adiknya yang mempunyai mata elang Minho di wajah cantiknya, sang kakak mempunyai mata teduh Taemin di wajah tampannya.

“kenapa Minzy?”

“Minzy adalah anak yang…istimewa dengan caranya sendiri. Anak yang begitu cantik dan luar biasa aku ingin, anak ini mempunyai sifat seperti itu. Bukan hanya baik untuk kehidupannya sendiri, tapi juga baik dan membawa keceriaan untuk sesama nya”

“lalu yang laki-laki?”

Minho terdiam. Ia belum tau namanya.

“Min…ho”, Taemin berkata pelan.

Minho melihatnya, “nama ku?”

Taemin mengangguk, lalu mengelus pipi chubby kemerahan sang kakak, “aku ingin anak ini dinamakan sama dengan nama namja paling tampan, baik, sabar, lembut, dan bertanggung jawab yang pernah kukenal selama aku hidup. Aku juga ingin ia mempunyai sifat yang sama sepertimu, hyung. Bertanggung jawab menjaga adik perempuannya, menjaga ku, menjaga orang-orang sekitarnya dengan kekuatannya sekaligus kelembutannya sebagai seorang laki-laki”

^^

“waaaaaaa, kyeoptaaaa pffftttt”, teriak Key histeris begitu melihat ‘pangeran dan putri’ keluarga Choi dan Lee di box bayi rumah sakit dan langsung dihadiahi ‘dekapan cinta’ oleh Jonghyun dan Jinki.

Ya, keluarga hangat itu sekarang masih ada di rumah sakit Seoul. Kamar VVIP yang mereka sewa hanya untuk Taemin dan kedua bayi mungilnya kini penuh dengan keluarga besar Choi, Lee dan tak ketinggalan bahkan keluarga besar Kim, Appa dan Umma Jonghyun serta Key ikut larut dalam kebahagiaan yang entah bagaimana dihadirkan dari kedua sosok mungil yang saat ini tengah tertidur di box bayi yang masing-masing berselimutkan biru dan pink. Mengerumuni kotak kecil tersebut sambil membekap mulut cerewet Key dan mengagumi sosok cantik seperti bidadari dan sosok tampan bagai malaikat yang kini menambah jumlah keluarga mereka. Umma Minho dan Appa Taemin bahkan tak kuasa menahan air mata nya. Sang kakek, yang biasa selalu tampil berwibawa bahkan cenderung dingin sebagai owner sekaligus presiden direktur salah satu perusahaan terbesar di Seoul, kini menanggalkan itu semua dan terlarut mensyukuri keajaiban Tuhan atas dua sosok mungil nan luar biasa yang Dia hadiahkan saat ia masih di dunia. Ya, hidup nya lengkap kini, meski masih ada satu keinginan di hati kecilnya untuk melihat sang kakak, Lee Jinki, menyusul adiknya, tapi tetap tak henti ucap syukur itu tulus datang dari hatinya. Memegang tangan mungil Minzy, yang ternyata, meski sedang tidur, si kecil kuat menahan telunjuk sang kakek untuk ia genggam, sambil tersenyum, reflek Appa Taemin menengadah ke atas, dalam hati ia berbicara, “kau melihat mereka sayang? Aku sudah menjadi kakek, dan kau pasti menjadi nenek tercantik yang pernah ada. Taemin, anak mungil kita sudah menjadi orang tua saat ini. Orang tua dari malaikat tampan dan putri cantik yang Tuhan percayakan untuk menjadi bagian dari keluarga Lee. Waktu berlalu begitu cepat. Dulu, ia masih anak-anak. Anak cantik dan luar biasa walau kadang terlihat lemah, tapi kau dan aku yang paling tau siapa sebenarnya Taemin. Sekarang, waktu-waktu itu sudah lewat dan kini ia sudah mempunyai anak. Kita berdua percaya, Taemin kita akan seluar biasa dulu, iya kan? Andai kau masih ada di sisiku kini, aku bahkan masih bisa membayangkan senyum wajahmu ketika melihat cucu kita”, dan air mata itu menetes, mengalir di pipi tua nya.

Jinki, yang melihat Appa nya menangis dalam diam nya, hanya bisa tersenyum. Ia tau itu tangis kesedihan dan kebahagiaan dalam waktu yang sama. Ya, status Jinki memang hanya anak angkat keluarga Lee. Tapi kasih sayang tulus dari pria hebat itu yang membuatnya merasa bahwa ia sepenuhnya bagian dari keluarga kecil ini. Hanya mereka bertiga. Appa, Taemin, dan dirinya, dan ia sudah merasa keluarga ini lengkap. Appa dapat menjadi sosok tegas seorang Appa dan sosok lembut seorang Umma. Appa bertahan belasan tahun untuk tetap sendiri semenjak kepergian Umma hanya untuk menjaga kesetiaan cintanya. Bahwa laki-laki sejati harus menjaga kesetiaan terhadap hal-hal berharga dalam hidupnya, itu yang selalu Appa ajarkan pada Jinki. Dan kesetiaan seorang Lee Jinki sudah ia berikan pada seorang bernama….Lee Taemin. Salah kah?

Tentu saja salah jika dilihat dari sudut pandang bahwa mereka kakak adik dan Taemin sudah memilih Minho. Tapi bagi nya, makna kesetiaan tidak dibatasi hal seperti itu. Bahkan kematian tidak memudarkan sedikitpun kesetiaan Appa terhadap Umma. Kesetiaan adalah hal paling tulus yang Tuhan anugerahkan untuk datang dari hatimu dan kau tidak punya kekuatan untuk menentukan bahwa kesetiaanmu akan jatuh pada siapa. Hanya sesederhana itu! Taemin sudah memilih lelaki terhebat seperti Minho. Jinki bahkan sadar ia tidak akan bisa sehebat Minho untuk menjaga Taemin, dan sungguh tulus ia bersyukur adik terkasihnya mendapat orang paling luar biasa yang bisa mengerti dirinya. Kini ia pun sudah mencintai orang lain. Tapi kesetiaannya yang paling dalam, paling tulus, dan paling ia jaga agar tetap indah di dalam hatinya yang terdalam, yang tak seorang pun tau kecuali ia dan Tuhan, tetap hingga detik ini, bahkan hingga ia mati, hanya untuk sang adik.

Flashback…

“hei Taemin, apa kau tidak malu punya kakak seperti dia? Hanya anak pungut. Cih, itu memalukan, kau tau! Tidak ada yang tau ia anak siapa! Asal usulnya tidak jelas, dan Appa mu bahkan memberikan marga kalian untuk orang yang tidak jelas berasal dari mana?”

Saat itu mereka masih di sekolah dasar. Jinki dan Taemin bersekolah di salah satu sekolah internasional paling elite di Seoul. Karena itu, para siswa nya juga merupakan orang-orang borjuis dengan titel orang tua mereka sebagai Presiden Direktur X.Corp atau owner jaringan multinasional hypermart Y atau para petinggi pemerintahan Seoul. Begitu tau, Lee Jinki, si anak baru yang seharusnya bernama Xxxx Jinki, si anak pungut yang tidak tau berasal dari keluarga mana, seketika para anak-anak borju langsung membuat ‘border’ tak terlihat bahwa anak seperti itu tidak pantas untuk masuk ke kalangan mereka atau setidaknya berada di jarak pandang mereka. Latar belakang keluarga yang [harus] terpandang adalah syarat mutlak untuk masuk dalam ‘border’ itu.

Jinki kecil, tidak buta, tidak bodoh, dan ia tau diri. Diangkat anak oleh salah satu orang terkaya di Seoul dan rela memberikan marga Lee di depan namanya, bukan tanpa konsekuensi. Dan mungkin ini salah satunya. Ia menjadi anak yang pendiam. Bahkan hampir tidak pernah bicara. Nilai nya memang selalu sempurna. Ia menjelma menjadi anak paling cemerlang sedari kecil. Tapi dengan menjadi anak cemerlang, itu tidak cukup untuknya menembus ‘border’ yang ada di sekelilingnya. Dan Taemin kecil, ia masih terlalu kecil dan takut untuk bisa membantah segala perkataan itu. Sungguh Jinki tak menyalahkannya. Ia justru akan lakukan apapun selama bukan Taemin yang dijauhi, meskipun dengan cara juga menjauhi Taemin dan menjadi Jinki si penyendiri. Hingga suatu hari, semuanya berubah…

“kau anak pungut tidak tau diri! Ternyata dengan menjadi kesayangan para guru di sekolah ini, kau menjadi besar kepala! Apapun yang kau lakukan, tidak akan mengubah status anak pungut yang menempel pada dirimu, kau tau!”, seorang anak angkuh berdiri di depan Jinki sambil mengacungkan jam tangan mewahnya yang entah bagaimana caranya bisa ada di dalam tas Jinki.

“pencuri!! Hanya anak pungut saja kau berani mencuri, apa keluarga Lee kurang memberikan uang padamu!! Kau tidak pernah diajarkan kata ‘berterima kasih dan tau diri’ hah?”

Kalimat itu menggema di seisi ruangan. Mata-mata sinis bahkan muak kini tertuju pada anak kecil tampan yang hanya bisa memasang wajah bingung walau sebenarnya ia ingin sekali menangis! Tapi perintah sang Appa bahwa “laki-laki harus kuat apapun yang terjadi padanya” terus ia pegang erat membuatnya masih bertahan hingga kini dengan segala ejekan yang ia terima bertahun-tahun, bahkan di usia yang masih begitu muda. Ia tidak pernah bercerita apapun pada sang Appa. Ia cukup mengerti bahwa Appa nya seorang yang sibuk mengurusi perusahaan besar dengan ribuan karyawan dan pasti ia sudah lelah dengan semua itu. Jinki pun tak pernah meminta Taemin untuk membelanya karena ia tau konsekuensi yang akan Taemin terima jika membela Jinki adalah pengejekan yang sama seperti dirinya dan Taemin masih terlihat terlalu fragile di mata Jinki untuk menanggung semua itu. Tapi kali ini, sungguh Jinki sakit hati. Ia memang hanya anak panti asuhan. Ia memang tidak tau siapa Appa dan Umma nya karena menurut penuturan orang-orang di panti asuhan tempat Jinki tinggal sebelum dibawa ke rumah mewah keluarga Lee, ia sudah ditinggalkan di panti asuhan semenjak hari pertama ia lahir ke dunia dan tidak ada orang yang tau siapa yang tega meletakkan anak yang baru sehari dilahirkannya di sebuah malam yang dingin di depan pintu suatu panti asuhan kecil. Tapi sungguh, di panti asuhan kecil itu lah ia mengenal apa itu kasih sayang tulus dari sebuah keluarga meski tak diikat hubungan darah. Ia ditanamkan nilai-nilai agama yang baik dan salah satunya mengenai kejujuran. Kejujuran yang Jinki pegang sejak kecil, membuatnya tabu untuk melakukan tindakan mengambil hak orang lain yang bukan miliknya, sebesar apapun keinginannya untuk memiliki barang itu. Tapi justru, sekarang ia dituduh menjadi pencuri?

“Taemin, lihat kelakuan kakak mu!!”, seorang anak laki-laki menoleh ke arah pintu dan segera berteriak begitu melihat putra kandung keluarga Lee ada disitu. Ya, Taemin mendengar ada keributan saat melewati kelas kakaknya. Ia berhenti dan melihat seseorang dikerumuni. Tidak berani masuk, ia hanya berada di depan pintu dan kini wajahnya pucat begitu seseorang menyadari kehadirannya dan kini semua mata menoleh ke arahnya, termasuk anak yang dikerumuni itu. Lee Jinki, kakaknya.

Mata mereka bertemu. Taemin melihat Jinki masih bisa tersenyum ke arahnya dan matanya seolah berkata, ‘jangan khawatir, aku baik-baik saja’. Lee Jinki, kakak yang sebenarnya sangat ia sayang, dan ia sangat yakin ia tidak melakukan seperti apa yang dituduhkan. Taemin memang tidak melihat kejadiannya, hanya ia sangat yakin kakaknya bukan orang yang seperti itu!

Seketika, banyak kelebatan memori yang hadir di otak nya. Saat Jinki selalu ada di sampingnya. Dengan sikap sangtae nya ia berusaha menghibur Taemin yang hancur akibat kepergian sang Umma. Di malam-malam yang selalu Taemin takuti karena mimpi buruk semenjak Umma tidak ada, Jinki selalu menemaninya, memegang tangannya, bahkan terkadang bersenandung merdu untuk menemani sampai ia tertidur. Jinki yang merelakan kotak bekalnya diberikan pada Taemin kalau ia lupa ketinggalan membawa bekalnya. Jinki yang meneruskan mengerjakan tugas sekolahnya jika Taemin tertidur kelelahan di meja belajar. Mata teduh itu, senyum tulus itu, sikap baik itu, apa yang sudah aku lakukan sampai Tuhan memberikan hadiah seindah ini di kehidupannya? Lalu haruskah ia diam saja melihat kakak yang paling ia sayang difitnah seperti itu hanya karena alasan takut? Akhirnya ia mengerti, selama ini ia menakuti hal yang salah. Taemin tidak seharusnya takut kehilangan teman-teman atau ejekan yang biasa mereka lontarkan pada Jinki juga terlontar untuknya. Bukan! Taemin tidak seharusnya takut pada hal itu! Yang seharusnya ia takuti adalah ketika Jinki tidak lagi ada di sisinya. Karena selama Jinki hyung ada di sisi Lee Taemin, semua akan baik-baik saja!

Taemin mulai melangkahkan kakiknya ke kerumunan itu. Sorot matanya berubah. Bukan lagi dipenuhi ketakutan dan ketidak berdayaan seperti Taemin yang biasanya, dan Jinki heran melihat itu. Itu pertama kali ia melihat Taemin punya sorot mata seperti itu.

Ia memegang tangan Jinki, “kakak ku bukan pencuri!”. Ketegasan yang kuat terpancar keluar dari suaranya membuat seisi ruangan terdiam. Seorang Lee Taemin? Anak lemah ini? Berani membela Jinki? Apa kepalanya terbentur tembok saat bangun tidur tadi pagi?

“Taemin”, Jinki memanggil lirih. Kenapa dengan adiknya ini? Tidak biasa-biasanya ia begini. Dan suara tegas itu? Seperti bukan Taemin yang Jinki kenal selama ini.

“hah, kau mulai berani membela anak pungut itu Taemin?”

“ia punya nama, dan namanya bukan anak pungut. Namanya Lee Jinki. Ia kakak ku dan itu artinya ia juga sepenuhnya bagian dari keluarga Lee!! Kalau kalian mengejeknya berarti kalian juga mengejek ku, Appa ku, dan seluruh keluarga Lee!!”, Taemin mengeratkan genggamannya, dan Jinki sudah sepenuhnya tidak mengenal orang yang sedang menggenggam tangannya saat ini.

“Taemin…kau…”

“kenapa? Kenapa aku bisa membelanya? Are you deaf? Karena ia kakak ku! Dan jelas kakak ku bukan pencuri! Kami, keluarga Lee, selalu diajarkan nilai-nilai yang baik dan karena ia sepenuhnya bagian dari keluarga Lee, berarti ia juga orang yang baik dan tidak mungkin mencuri! Apalagi untuk jam tangan…murahan seperti itu!”, Taemin sebetulnya tau itu jam tangan keluaran terbaru bahkan sepertinya limited edition, tapi apa ia perduli?

“kalau Jinki hyung mau, ia bisa minta Appa untuk membelikan jam yang harganya 10x lipat lebih mahal dari itu! Kau pikir hanya keluarga mu satu-satunya yang kaya dan mampu membeli jam seperti itu? Kalau itu yang ada di pikiran mu, kau salah besar! Bahkan aku yakin perusahaan multinasional Lee Corp jauh lebih besar dibanding perusahaan orang tuamu, jadi jangan besar kepala!”.

Skak mat! Anak itu terdiam. Ia tau perkataan Taemin benar! Sepenuhnya benar! Ayahnya memang presiden direktur sebuah perusahaan pertambangan besar di Seoul, tapi ayah Taemin adalah owner dari perusahaan multinasional yang masuk peringkat 20 besar perusahaan terbesar di dunia versi suatu majalah ekonomi internasional. Tidak perlu jenius untuk tau siapa yang unggul disini. Ia bisa saja mengejek Jinki selama ini, tapi sekarang, yang ada di hadapannya adalah putra kandung keluarga Lee. Selama ini, ia kira Taemin juga malu mempunyai kakak dengan status tidak jelas seperti Jinki. Karena itu selama ini ia hanya diam. Tapi hari ini?

“Taemin sudah cukup!”, Jinki memperingatkan adiknya.

“kau bisa kena masalah karena ini, karena aku! Sudah cukup!”

Taemin menoleh ke samping sambil tersenyum, senyuman paling manis yang pernah Taemin perlihatkan di depan Jinki, “kau benar hyung. Sudah cukup! Memang sudah cukup aku bersikap pengecut selama ini. Kau kakak ku! Dan sudah sepantasnya seorang adik membela kakak nya yang hebat dan luar biasa! Aku memang sudah terlambat jika melakukan ini sekarang, tapi aku tidak mau tidak memulainya sama sekali. Kau tidak sendirian hyung. Lee Jinki punya Lee Taemin yang akan selalu ada disampingnya, seperti selama ini Lee Jinki yang selalu ada untuk Lee Taemin”, jelas Taemin lembut sambil menekankan setiap kata ‘Lee’ di tiap ucapannya.

Ya, untaian kalimat dihiasi senyuman manis dan sorot mata tegas dari Taemin saat itu yang membuat Jinki menyerahkan kesetiaannya. Sejak saat itu, mereka selalu berdua. Memang tidak ada lagi yang mengejek Jinki jika Taemin disisinya, tapi konsekuensinya, tidak ada pula yang mau berteman dan dekat dengan Taemin. Itu berlangsung sampai mereka dewasa. Kami selalu sekolah di tempat-tempat berisi anak-anak serupa, dan kelakuan yang kami terima pun sama. Jinki pernah bahkan sering meminta maaf pada Taemin, tapi lagi-lagi reaksinya selalu tertawa dan memukul bahu Jinki pelan lalu berkata, “hyung pabo. Untuk apa meminta maaf? Aku baik-baik saja, sudahlah. Selama hyung disampingku, aku bisa menjalani semuanya dan semuanya memang baik-baik saja kan selama ini? Jadi tidak ada yang perlu aku khawatirkan!”.

Lee Taemin…ku, terima kasih…

End flashback…

Jinki menatap kedua malaikat mungil itu, Minho, si tampan yang mempunyai mata teduh Taemin, dan Minzy, si cantik yang mempunyai mata tegas Minho. Kini pandangannya beralih ke belakang, sejoli yang mungkin adalah orang-orang paling bahagia di ruangan ini. Lee Taemin…ah, ani.. Choi Taemin, dengan muka pucat dan lelah namun tak bisa dipungkiri ekspresi itu adalah ekspresi paling bahagia yang pernah Jinki lihat hadir di wajah cantiknya, walau sudah belasan tahun Jinki bersama Taemin. Ia sedang menyandarkan kepalanya di dada bidang Minho, dan Minho melingkarkan tangannya memeluk Taemin. Pemandangan paling indah di ruangan ini selain melihat wajah malaikat dan bidadari kecil yang sedang tertidur itu. Jnki tersenyum sambil menunduk. Senyum paling tulus nya, sambil lirih berkata, “terima kasih Tuhan”.

^^

Dalam kehangatan pelukan Minho di tubuhku saat ini, tak hentinya ia berucap seraya berbisik terima kasih dan aku mencintaimu, sungguh Tuhan, sejujurnya aku ingin menangis saat ini. Melihat begitu banyak yang menyayangi Minho dan Minzy, malaikat dan bidadari kecil kami yang baru saja hadir setelah penantian panjang dan penjagaan over protective dari mereka semua. Ya, kini semuanya terbayar. Rasa sakit itu, malam-malam yang aku lewati penuh dengan kecemasan hingga insomnia, doa-doa yang tak hentinya aku panjatkan untukmu Tuhan agar membuat segala penjagaan dari mereka terhadap anak-anakku bukan seperti menaruh harapan kosong, semuanya selesai kini. Saat ini, yang terucap hanyalah ucapan syukur belasan orang yang menatap kagum pada anak-anakku. Anak yang sudah menempati setengah hati ku di detik pertama aku melihat wajah mereka yang sebelumnya hanya milik Minho sepenuhnya.

“hyung, kau bahagia?”, reflek aku bertanya pada orang yang kini meletakkan kepalanya untuk disandarkan pada kepalaku.

Aku memang tidak melihat wajahnya, tapi entah bagaimana aku tau bahwa ia tersenyum, “bahagia? Sekarang?”, ia kembali bertanya.

“emm”.

“sejujurnya, aku tidak tau apa yang kurasakan sekarang. Aku pernah merasakan apa itu bahagia saat kita menikah. Aku merasakan tubuhku seperti ingin meledak begitu tau kau hamil. Tapi saat ini? Maaf Taemin, tapi aku sudah benar-benar tidak bisa mendeskripsikan apa nama dari perasaan ini”.

Aku menunduk dan kuyakin wajahku memerah. Ya, Minho hyung benar. Sama sepertinya, aku juga tidak tau apa nama perasaan ini sekarang. Entahlah, mungkin aku hanya begitu bersyukur, terharu, atau entah apa namanya bahwa banyak sekali orang yang begitu mencintai malaikat dan bidadari kecil kami.

“hyung”.

“ada apa Umma?”, ia menjawab lembut. Aku tersenyum. Ah, panggilan ku berubah. Ya, saat ini, aku sudah menjadi Umma, sebuah panggilan baru yang juga disertai tanggung jawab baru pula.

“bolehkah ku minta bantuanmu?”

Aku merasakan kepala Minho bangun dari kepalaku, sedikit menunduk dan memegang wajah ku erat. Raut wajahnya cemas, “kenapa Umma? Kau sakit? Perlu kupanggilkan dokter sekarang?”.

Aku menggeleng sambil memegang tangannya yang ada di wajahku.

“tolong aku untuk bersama-sama menjadi role model orang tua terbaik yang bisa kita tunjukkan untuk mereka ……”, aku berhenti sejenak.

“ya Appa…”

Minho tersenyum lebar menatapku. Aku yakin ia juga merasakan sensasi aneh yang sama yang aku rasakan ketika Minho memanggil ku Umma. Itu sungguh perasaan yang luar biasa, kau tau!

“ehm, maaf mengganggu”, suara Key menginterupsi sensasi yang barusan kami rasakan hanya dengan panggilan Appa dan Umma tadi. Kami memang sudah memanggil begitu sejak aku hamil, namun saat ini….entahlah…rasanya sungguh berbeda.

Minho menegakkan badannya dan satu tangannya melingkar di pundak ku sambil menatap ‘Umma ku’ tersayang itu.

“yeobo sudahlah jangan ganggu……mereka”, Jonghyun memegang tangan Key sambil menelan ludah begitu mendapat tatapan sinis dari sang istri.

“aku cuma ingin bertanya, dari sekian juta nama korea untuk anak laki-laki kenapa kalian, dan terutama kau Taemin, tega memberikan izin untuk memberikan nama *si kodok* Minho pada anakmu yang tampan dan lucu itu?”, ucap Key nyaring (dan memelankan kata ‘si kodok’ tentu saja).

“kenapa kau tidak pernah berdiskusi dengan ku soal nama ini? Aku tersinggung!  Suka atau tidak suka, kalian harus mengakui aku punya peran besar dan banyak selama Taemin mengandung Minho dan Minzy. Ergh, aku tidak rela menyebut nama itu”, ia memutar bola mata.

“anak yang kau protes tentang namanya barusan menurutku sangat mirip Appa nya. Kecuali di bagian mata, itu memang mata Taemin. Tapi untuk wajah, sangat jelas ia mewarisi garis wajah tegas Appa nya. Jadi kalau kau bilang anak ku tampan dan lucu….eemmm…terima kasih. Tak kusangka kau diam-diam mengagumi ku Key, aku terharu. Tapi maaf, aku jelas lebih memilih Taemin. Lagipula kau kan sudah punya Jonghyun. Tapi untuk sekedar tanda tangan atau foto aku rasa Taemin bisa merelakan aku melakukan itu, iya Umma?”.

BLAM!!!

Ucapan Minho sukses membuat mata kucing itu melotot tak percaya atas rangkaian kalimat yang baru saja keluar dari mulut manusia tinggi di depannya. Aku hanya bisa tertawa kecil karena menahan sakit dibagian perut melihat Minho membanggakan diri nya sendiri tapi dengan wajah datar seperti biasa. Sejak kapan nampyeon ku ini jadi narsis dan cerewet begini?

“YAK! KAU….”

“kau bisa diam Ny.Kim?”, suara bass berwibawa Appa ku mulai keluar dan berhasil meredam ‘tembakan’ kata-kata Key berikutnya.

“ini rumah sakit Key, dan ada dua bayi sedang tidur disini. Jangan buat malu Umma karena kelakuanmu yang seperti itu”, bentakan kini datang dari Umma Key sendiri.

“memang Umma mau aku memberi nama apa untuk si kecil?”, aku buru-buru meredakan suasana sebelum ‘Umma’ di depan ku ini meledak lagi.

“tentu saja Kibum!”

“pfffttttt”, seketika seluruh orang di ruangan termasuk aku, bahkan Jonghyun dan orang tua Key sendiri, reflek menutup mulut untuk meredam tawa.

“YAK! WAE???”, wajahnya menyiratkan tersinggung sekaligus bingung melihat reaksi sekelilingnya.

“maaf saja, tapi kami hanya menghindari anak ini punya sifat sama sepertimu. Menghadapi satu orang sepertimu saja kami pusing, apalagi jika ada dua. Aku pasti cepat tua bahkan cepat mati kalau mengurusi satu saja keponakan dengan sifat ajaib sepertimu, Key”, Jinki berkata jujur di sela tawa nya yang di langsung mendapat respon pukulan kecil di kepala dari Appa nya yang padahal juga menahan tawa. Nyonya Kim satu ini memang ajaib. Anak orang lain tapi harus diberi sesuai namanya? Darimana datangnya aturan itu?

“YAK! HYUNG! KAU TIDAK TAU KALAU SETIAP LAKI-LAKI YANG DIBERI NAMA KIBUM ITU PASTI HEBAT DAN TENTU SAJA….FABULOUS?”

“hahahahahahahahahaha“, kali ini tidak ada satu pun yang sanggup menahan tawa karena kalimat Key barusan.

Aku mengusap ujung mata ku yang berair sambil meringis karena sakit. Hasil dari operasi itu meninggalkan bekas sakit luar biasa tapi aku benar-benar tidak sanggup menahan tawa.

“ma~maksudmu Umma?”, aku masih tertawa kecil.

“kau tidak mau anakmu hebat dan tampan sepertiku Minnie? Dan coba kau lihat Kibum yang lain, member Super Junior misalnya? Tampan tidak? Sang killer smile? Kurang tampan apa? Atau setidaknya Kimbum juga tak apa. Tapi kenapa harus……Minho? Aku tersinggung!”

“Ummaaa~”, aku mulai merajuk sambil mengulurkan tangan mengundangnya untuk ke berdiri di dekat ku. Aku tau sejak dulu Key memang tidak akan pernah bisa tahan jika aku sudah mulai merajuk.

“aaaahhh”, Key tau ia akan kalah tapi dia tidak pernah bisa menolak. Perlahan-lahan ia berjalan ke dekatku. Ia berdiri di sisi tempat tidur yang berseberangan dengan Minho.

“maaf kalau aku tidak berdiskusi dulu. Tapi aku dan Minho hyung memang tidak pernah membicarakan masalah nama sejak awal. Lagipula nama Minho memang aku yang memberikannya. Mungkin dengan pertimbangan….”, aku terdiam sejenak.

“karena saat itu, saat ini, dan selamanya, aku terlalu mencintai orang dengan nama yang sama, baik fisik dan terutama sifatnya”, jelasku sambil menoleh ke sisi suami ku berada.

Dan aku tau seluruh orang di ruangan itu tersenyum mengiyakan.

^^

“hyung, sudah bangun?”

“ah, pagi Minho. Jam berapa ini?”, Jinki mengusap mata nya sambil melirik jam yang melingkar di tangannya.

“belum tepat setengah tujuh”, Minho menjawab sambil bangun mengambil dua gelas kopi hangat yang memang baru saja ia beli di kafe rumah sakit.

“pagi sekali kau bangun. Tidak bisa tidurkah Appa baru ini?”.

Minho tersenyum sambil menyerahkan segelas kopi pada Jinki, “mungkin aku terlalu bersemangat hyung. Besok Taemin sudah boleh pulang, dan aku tidak sabar membawa Minho dan Minzy untuk melihat rumah baru mereka”.

Jinki berhenti sejenak menyeruput kopi nya. Ah, ia bahkan lupa kalau sebentar lagi adalah hari kepulangan Taemin. Dan dengan bodohnya, ia belum menyiapkan apapun untuk dua keponakan barunya. Selama Taemin di rumah sakit, ia sepenuhnya fokus pada pemulihan adik nya dan entah kenapa memang rasanya sangat berat meninggalkan si malaikat dan bidadari kecil itu. Ia jadi jarang pulang ke rumah, karena selepas dari kantor, ia pasti langsung kesini dan menginap semalaman. Ternyata sudah seminggu, dan itu artinya sudah seminggu pula umur kedua keponakannya, Ia harus cepat pergi dan menyiapkan sesuatu sebelum keluarga kecil itu sampai di rumah. Dan memang sudah ada sesuatu yang ingin disiapkan…oleh kami semua.

“hyung…hyung”, Minho menepuk ringan pundak Jinki yang terlihat melamun.

“ah, ne?”

“melamun?”, tanya Minho.

Jinki menggeleng sambil tersenyum, “hanya memikirkan bahwa waktu ternyata berjalan cepat. Tak terasa kedua keponakan ku itu sudah berumur seminggu”.

Kini giliran Minho yang tersenyum lebar. Ya, dan itu artinya pula ia sudah menjadi Appa selama seminggu. Dan yang dirasakannya? Repot! Mengurus satu anak saja ternyata sulit. Dan kini, pasangan yang tergolong masih muda ini dikarunia Tuhan untuk langsung merawat dua makhluk kecil titipanNya. Kerepotan yang dirasakannya juga dua kali lipat. Tapi mungkin karena disini ada para suster yang berjaga 24 jam sehari, ia dan Taemin masih sangat amat terbantu. Belum lagi segala bantuan dari keluarga mereka yang setiap hari datang kesini, juga berpengaruh besar untuk mengurangi kerepotan Minho dan Taemin. Terutama Minho, ia bukan hanya menjaga kedua bayi mungilnya, tapi ia harus juga harus menjaga Taemin yang masih lemah pasca operasi. Dan besok adalah waktunya mereka pulang dan menghadapi kerepotan yang sebenarnya. Sedikit khawatir, tapi sejujurnya ia pribadi sangat bersemangat untuk menjalanakan ‘profesi’ barunya. Mengurusi perusahaan multinasional dengan ribuan karyawan sudah pernah dirasakannya, dan kini, ia ditambahi Tuhan untuk mengurusi dua orang lagi, dan kali ini, dua orang yang…istimewa.

Oeekkkkk…

Suara tangisan datang dari box sebelah kiri. Dan dengan jeda bahkan mungkin kurang dari 30 detik, tangisan yang sama juga datang dari box sebelah nya.

Detik itu pula, reflek Minho dan Jinki meletakkan gelas kopi nya dan segera berjalan ke arah dua box bayi itu. Selalu begini keadaannya. Apapun yang dilakukan oleh satu orang, menangis, bangun, bahkan hingga tertidur, dalam jeda yang sangat dekat pasti bayi satunya melakukan hal yang sama. Sebuah kejadian yang baru sekaligus luar biasa yang bisa keluarga kecil itu saksikan dari si kembar. Suatu perkembangan sedikit demi sedikit yang membuat mereka lebih belajar untuk sebuah hal baru yang menakjubkan. Ya, bayi tampan dan cantik yang mengajari mereka untuk menuju sebuah step baru selanjutnya, menjadi orang tua!

^^

Hari ini Taemin diperbolehkan pulang. Sejak pagi, seluruh keluarga besar itu sibuk menyiapkan semuanya. Kesibukan terutama sangat terasa di rumah cantik mereka. Dua kamar mungil yang sudah dipersiapkan kini penuh dengan orang. Mereka memutuskan memakai dua kamar karena banyaknya barang yang ada untuk kedua tambahan keluarga baru mereka. Terlalu banyak barang yang dibeli membuat rasanya tidak mungkin menempatkan barang-barang itu hanya disatu kamar, dan lebih tidak mungkin lagi jika menempatkan semua barang-barang itu di kamar utama seperti permintaan sang Appa baru. Lantai dua rumah mewah mereka, terutama di bagian kamar utama, yakni kamar Minho dan Taemin direnovasi ulang dengan menambahkan dua pintu di sisi yang berseberangan untuk terhubung langsung dengan kamar si kecil. Kamar si tampan Minho berada di sisi kanan, sementara kamar si cantik Minzy berada di sisi kiri kamar utama. Kedua ruangan itu dibuat memang sengaja menempel dengan kamar orang tuanya sehingga tidak menyulitkan orang tua baru itu jika kedua bayinya menangis tengah malam. Ada beberapa kamar baru pula yang ditambahkan berdekatan dengan kamar Minho dan Minzy karena para orang tua memutuskan ‘pindah rumah’ sementara waktu untuk membantu mengurus si kecil. Taemin dan Umma Minho bahkan Key menolak mentah-mentah untuk memakai baby sitter dan para suami sudah tidak bisa berkata apapun begitu diberikan argumen “aku mau Minho dan Minzy hanya menjadi anak ku, anak keluarga ku, anak kita, anak Taemin dan Minho, bukan anak baby sitter!! Titik!!”, dan hanya bisa dibalas helaan nafas mengalah dari para namja di ruangan itu.

Di rumah keluarga Choi, kerepotan sangat terlihat di lantai dua, terutama 2 kamar yang kini mendapat perhatian khusus. Kamar di sisi kanan dari kamar utama yang nantinya akan di tempati Minho kecil saat ini penuh dengan Jinki, Jonghyun, Appa Minho dan Appa Taemin. Sebaliknya, kamar di sisi kiri yang akan ditempati Minzy kini sibuk mendapat sentuhan Key, Umma Minho, bahkan Umma Key dan Jonghyun juga datang untuk membantu. Dekorasi kamar itu sangat tercermin sesuai orang-orang yang mendekorasinya. Suasana biru teduh dengan segala barang-barang imut namun simpel yang juga berwarna biru mendominasi kamar Minho, sedangkan tentu saja untuk sang adik dominasi kental warna pink dan yang paling khas dari ruangan itu adalah, sebuah tempat tidur ‘tidak biasa’ yang entah bagaimana bisa Key dapatkan. Tempat tidur berbentuk persis seperti kereta labu dalam cerita cinderella, dengan sentuhan kayu untuk sisi luar dan warna pink di dalamnya langsung mencuri hati semua yeoja di ruangan itu. Ditambah wallpaper tembok kamar bergambar cinderella’s castle membuta kamar itu semakin cantik dan feminim.

Kamar Choi Minho

Kamar Choi Minzy

Selesai dengan dekorasi kamar, mereka mulai untuk menyiapkan welcoming party untuk dua penghuni baru rumah ini nantinya. Walau hanya sebuah pesta kecil, dengan rangkaian balon-balon berwarna pink, biru dan putih membentuk tulisan “Welcome To Choi Family, Our Lovely Choi Minho and Choi Minzy”, pita-pita aneka warna yang digantung di semua sudut ruang tamu dan makanan serta tentu saja kue yang dibuat khusus oleh para Umma, tapi mereka hanya ingin menyampaikan kegembiraan luar biasa dan sekaligus memperkenalkan kehangatan baru atas bergabungnya beberapa keluarga yang menjadi satu karena kedatangan para bayi mungil ini. Kehangatan yang tidak hanya ingin dibagi oleh keluarga Choi dan Lee, tetapi juga oleh keluarga Kim, baik Jonghyun maupun Key. Sebuah harapan tak tertulis yang ingin disampaikan pada Tuhan agar kelak menjadikan kedua anak ini sebagai sumber pemberi kehangatan, bukan hanya untuk keluarganya sendiri, tapi juga untuk sesama nya dan skala yang lebih besar lagi yakni alam semesta. Sedini mungkin, anak-anak kecil ini sudah diperlihatkan role model yang baik sehingga dalam memory pertama mereka, yang disimpan disana hanya berisi kata-kata kebaikan, ketulusan, kedamaian, dan kehangatan yang ditampilkan oleh orang-orang baik. Ingatan pertama yang mudah-mudahan menjadikan hal itu tidak akan terhapus selamanya dari memory mereka.

^^

“tumben hari ini tidak ada yang datang yaa Appa?”, aku bertanya sambil berkonsentrasi memberikan susu botol pada si tampan kecil dan sang suami yang juga sedang melakukan hal sama dengan menggendong Minzy. Rutinitas baru mereka setiap pagi.

Minho hanya tersenyum. Sebetulnya ia merasa di rumahnya kini pasti sedang disiapkan sesuatu sampai tidak ada yang datang di hari kepulangan Taemin. Tapi ia memutuskan diam saja. Toh ini hanya perasaannya saja, belum tentu benar.

Melihat Minho hyung hanya tersenyum tanpa menjawab, aku jadi terdiam. Aku sebetulnya berharap mereka tidak datang kesini karena menyiapkan sesuatu untuk menyambut kepulangan kami dan si kecil. Tapi….ah, mungkin semuanya sedang sibuk bekerja hari ini. Aku sudah terbiasa melihat banyak orang mengelilingi kedua byi ini, tapi hari ini ketika hanya kami berdua, aku dan Minho yang ada diruangan ini bersama anak-anak, hanya terasa…tak biasa. Mungkin seperti ini juga lah rasanya ketika kami di rumah kelak. Kehidupan baru yang harus kami jalani berdua atas tanggung jawab dua titipan Tuhan di tangan kami kini.

Drrrtttt..drrrtttt..

Ponsel Taemin bergetar dan nama Jinki hyung tertera di layar. Aku dan Minho hanya berpandangan. Ottohke? Kami berdua sedang sibuk pada si kecil dan tidak mungkin meletakkan mereka sebentar hanya untuk menjawab telepon. Hal baru lagi yang mereka pelajari hari ini. Biasanya selalu ada yang membantu karena memang mereka tidak pernah ditinggal hanya berempat seperti saat ini.

“Appaaa~~”, aku merajuk meminta Minho mengangkat teleponnya.

“aku tidak bisa meletakkan Minzy, Umma”.

Aku menunduk melihat si kecil dalam pelukan ku. Aku juga tidak mungkin meletakkan Minho. Sebentar lagi ia tertidur, dan kalau botol susunya dilepas, pasti jadi menangis. Anak kecil yang mengantuk pasti akan rewel dan tentu saja rewelnya Minho pasti menular pada Minzy. Haaahhh, efeknya pasti panjang hanya karena mengangkat telepon.

“sudah tidak usah diangkat saja”

Drrrttt…drrrtttt..

Ponsel Taemin berhenti bergetar, kali ini giliran ponsel Minho yang bergetar dengan nama yang sama, Jinki hyung.

Minho menatap ku, “kau tidak juga berubah pikiran kalau kita memang membutuhkan baby sitter, Umma?”

Aku menggeleng kuat, “tidak Appa! Minho dan Minzy harus tumbuh dan belajar di tangan ku, tangan mu, dan tangan keluarga kita! Bukan tangan baby sitter! Aku tidak mau itu! Dulu Umma mengurusku juga dengan tangannya sendiri tanpa bantuan baby sitter! Aku juga mau merasakan hal itu, Appa! Mengertilah!”, sifat keras kepala ku mulai muncul.

“aku mengerti! Tapi baby sitter hanya membantu, bukan mengurus sepenuhnya!”

“aku bisa mengurus mereka sepenuhnya. Dan nanti akan ada keluarga ku, keluarga mu, Key Umma dan Jonghyun hyung juga pasti membantu. Kita tidak perlu bantuan baby sitter lagi!”

“mereka tidak selamanya di rumah kita untuk membantu full 7 hari 24 jam mengurus Minho dan Minzy, Umma. Dan kau itu manusia, butuh istirahat. Kau juga pasti punya kegiatan lain. Aku pun harus bekerja nanti nya. Untuk pemikiran jangka panjang, kita tidak bisa memungkiri kalau kita butuh baby sitter!”

“tapi aku tidak mau anak ku mendapat asuhan dari orang lain!”

“mereka juga anakku, jadi aku punya hak disini untuk berpendapat dan menentukan yang terbaik untuk mereka! Dan menurutku yang terbaik adalah kita harus menyewa jasa baby sitter!”

“aku yang mengandung 9 bulan dan kesakitan melahirkan mereka, Appa. Aku punya hak lebih besar untuk menolak anak ku diasuh baby sitter!”

“tapi aku…”

“Choi Minho dan Choi Taemin…cukup!”, suara berwibawa Appa Minho datang dan memotong pertengkaran pelan kami.

Jinki hyung, Appa ku dan Appa Minho masuk ke ruangan sambil menatap tajam pada kami berdua.

“lupa pada apa yang kami ajarkan pertama kali pada kalian ketika menjadi orang tua, Minho, Taemin?”. Appa ku bertanya dengan nada tegas namun tetap rendah menandakan ia sedang sangat serius. Appa tidak pernah berbicara membentak, apalagi pada ku dan Jinki, anak-anaknya. Ia justru akan diam ketika sedang marah. Namun ketika ia ingin menasehati dan HARUS didengar, semakin serius apa yang akan dibicarakannya, semakin rendah nadanya bicara namun entah kenapa justru terdengar semakin tegas dan menakutkan.

“dilarang keras bertengkar sekecil apapun di depan anak-anak”, ucap kami berbarengan.

Tentu saja kami masih ingat, dan sebetulnya tidak perlu diingatkan kembali. Saat Umma ku masih hidup, aku memang tidak pernah melihat orangtua ku bertengkar. Begitu pula di dalam keluarga Minho punya prinsip yang persis sama, sehingga kami pikir, kehidupan pernikahan akan berjalan mulus tanpa hambatan apapun. Namun ternyata salah. Sebelum Minho dan Minzy lahir, hubungan ku dengan Minho hyung memang selalu berjalan baik. Namun ternyata, kehidupan menjadi orang tua memberikan sensasi yang sangat berbeda.

“baru seminggu, dan kalian sudah seperti ini. Bertengkar hanya karena hal sepele, masalah baby sitter. Lalu bagimana kedepannya? Masalah pendidikan mereka, pergaulannya, bahkan hingga pasangan hidup? Kalau hanya persoalan seperti ini sudah bertengkar, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalian menghadapi perbedaan pendapat yang lebih besar dan penting di masa depan nanti!”, kali ini Appa Minho yang meradang.

“bisa kubayangkan jika tak juga belajar, kalian akan menjadi pasangan yang selalu bertengkar hanya karena berbeda pendapat nantinya”

Justru tak terbayangkan oleh kami, bahwa ucapan pelan Jinki hyung di ruangan rumah sakit itu ternyata menjadi kenyataan di masa-masa selanjutnya.

^^

Oeeekkkkkk…

Sudah hampir dua minggu Minho dan Minzy meninggalkan rumah sakit dan menempati kamar baru. Dan sudah hampir dua minggu pula pasangan orang tua baru ini tidak bisa tidur malam dengan tenang seperti biasa. Hal ini sangat terasa luar biasa lelah terutama untuk Minho, karena sudah sejak tiga hari lalu ia masuk kantor seperti biasa. Pekerjaan yang sangat menumpuk sudah tidak memungkinkan untuk ditunda pengerjaannya lebih lama lagi. Taemin sebetulnya mengerti suaminya luar biasa lelah, tapi ia juga tak bisa bohong kalau ia juga sangat lelah. Orang-orang selalu bilang mengurus satu anak saja sudah sangat lelah. Sekarang yang harus dihadapi Taemin adalah dua anak dengan umur sama dan ikatan batin sangat kuat diantara keduanya.

Begitu mendengar ada suara tangisan, sudah menjadi gerak reflek mereka untuk segera bangun. Pintu kamar yang menghubungkan dengan kamar si kecil memang sengaja tidak ditutup agar suara tangisannya langsung terdengar. Tapi justru inilah yang membuat repot…

Dengan sedikit terhuyung bahkan Minho berjalan dengan mata masih terpejam, mereka menuju kamar Minzy.

“sssttttt, ini Umma sayang”, Taemin segera menggendong Minzy keluar dari ‘kereta labu nya’ sementara Minho membuat susu. Mereka dibiasakan untuk selalu meminumkan susu hangat pada anak-anak, karena susu yang sudah dingin takut sudah terkontaminasi kuman-kuman dari udara.

Taemin masih mengganti pampers Minzy agar lebih nyaman, lalu suara tangisan datang dari kamar seberang.

“ssshhhh”, Taemin menoleh melihat Minho mengibaskan tangannya. Ia memutar bola mata, pasti lagi-lagi tangannya terkena tumpahan air hangat…dan selalu begitu.

“Appa cepat kesana, Minho menangis”

“sabar Umma sudah mau selesai”

Tangisan Minho semakin keras dan sekarang malah membuat Minzy yang tadi sudah diam, kembali menangis.

“Apppppppaaaaaaaa cepaaaaattttt sanaaaaaaaaa”, Taemin mulai berteriak tertahan bingung mendiamkan Minzy.

Cklek…

Pintu kamar utama dibuka. Terdengar langkah kaki beberapa orang yang seperti sudah tersistem langsung terbagi dua menuju kamar Minho dan Minzy.

“sedang apa kalian berdua disini? Minho sendirian?”, Jinki dan Umma Minho masuk ke kamar Minzy.

“ergh”, Taemin segera menyerahkan Minzy di gendongannya pada Umma Minho dan berlari ke kamar seberang.

“Taemin! Kenapa Minho bisa sendirian?”, tegur Appa nya keras.

“maaf Appa, aku tadi di kamar Minzy”, ia segera menggendong si kecil yang masih menangis dari pelukan Appa Minho.

“sssstttttt, cup cup…sayang, diam yaa, ini Umma nak”, mengelus-elus punggung si kecil sementara Tn.besar Choi membuat susu.

“kau tidak boleh begitu. Kau tidak boleh terus menerus mengandalkan kami. Kalian harus berbagi peran, jangan pernah meninggalkan salah satu anak sendirian!!”

“baik Appa”, pandangan Taemin mulai berputar. Ia memejamkan mata sejenak. Selalu begini, langsung bangun dari tidur ditambah tangisan anak-anak dan omelan dari para orang tua semakin membuat kepalanya luar biasa pusing.

^^

Hari ini, sebuah masalah baru. Setiap pagi, Minho, Jinki, Appa Minho, dan Appa Taemin memang selalu ke kantor. Tapi selalu ada Umma Minho di rumah untuk membantu mengurus si kembar. Namun tidak untuk hari ini. Umma Minho harus ikut suaminya untuk datang membantu pernikahan adik sepupu Minho dan tidak enak jika tidak datang. Taemin menenangkan bahwa ia dan anak-anak akan baik-baik saja [walau dalam hati cemas juga]. Minho juga ‘dititahkan’ untuk datang ke kantor lebih siang agar membantu Taemin. Key dan Jonghyun juga tidak bisa datang membantu karena mereka ada pekerjaan lain di luar kota sejak seminggu yang lalu. Dan pagi ini, mereka sendirian!

Taemin menoleh ke arah suaminya, “Appa, kau bisa memandikan Minho atau Minzy tidak? Tidak mungkin kan aku memandikan keduanya bersamaan?”

Minho menelan ludah. Akhirnya hari ini datang juga. Selama ini untuk urusan memandikan, selalu oleh Taemin dan Umma nya. Ia menggendong sambil berdiri saja masih gemetar, apalagi untuk memandikan? Entah kenapa kedua anak itu begitu terlihat……’mudah patah’ di mata Minho, LOL.

“harus yaa Umma?”, Minho memelas.

Taemin memutar bola mata sambil mengangkat kedua tangannya.

“tangan ku hanya dua, Appa”

“dimandikan bergantian saja”, Minho masih berargumen.

“YAK! CHOI MINHO! Makanya kalau pagi jangan malah sibuk menyiapkan sarapan atau memanaskan mobil! Anak mu itu kalau dimandikan bergantian, pasti salah satunya menangis. Sudahlah ayo Appaaaaa”, Taemin menyeret Minho menuju kamar mereka.

Di kamar, “Appa, siapkan air hangat dulu, aku mau membangunkan Minho dan Minzy”.

Taemin bergegas ke kamar sang kakak, Minho. Mengangkatnya perlahan dari box bayi biru nya, memandangi wajah malaikat yang kini masih tertidur tenang dan perlahan mendekatkan wajahnya mencium bibir mungil yang sedikit terbuka itu. Masih tidak terbangun, Taemin membawa si kecil ke kamar nya dan ditidurkan di ranjang utama. Selesai dengan sang kakak, ia kini beralih ke kamar dominasi pink milik sang adik, Minzy. Melakukan hal yang sama dan membawanya untuk ditidurkan di sebelah Minho. Ia tak pernah berhenti kagum melihat hasil karya Tuhan memadukan wajah Minho dan Taemin untuk dipahat pada wajah kedua bayi mungil ini. Sebetulnya tak tega mengusik mereka dalam tidur tenangnya, tapi ia diajarkan untuk mengajarkan anak-anaknya sikap disiplin sedini mungkin. Semua kegiatan harus terjadwal. Tidak hanya mandi, tapi juga bangun tidur, makan, bermain, tidur siang, dan bahkan tidur malam, sebisa mungkin dilakukan setiap harinya dalam jadwal yang sama agar mereka terbiasa. Taemin berharap ketika dewasa nanti, mereka terbiasa untuk melakukan segala sesuatunya sesuai aturan dan menerapkan time management sebaik mungkin.

Perlahan Taemin mengelus-elus pipi sang adik. Minzy sangat sensitif. Dibandingkan Minho, ia jauh lebih mudah terbangun. Dan cara paling efektif membangunkan Minho adalah dengan membangunkan adiknya. Entahlah, tapi ini mungkin salah satu perbedaan yang hanya dirasakan oleh anak kembar. Jika satu orang merasakan sesuatu, maka kembarannya pasti juga merasakan hal yang sama, atau setidaknya hal yang membuatnya merasa aneh tapi bukan berasal dari dirinya.

Taemin terus mengelus pipi Minzy dan perlahan mata mungil itu terbuka.

Taemin tersenyum manis, “morning, dear”.

Minzy masih mengerjapkan mata, dan mungkin karena merasa tidurnya terganggu ia langsung menangis. Tentu saja seketika itu juga makhluk mungil di sebelahnya reflek langsung ikut terbangun dan menangis.

“kenapa mereka?”, Minho langsung keluar dari kamar mandi dan menggendong sang kakak.

“cup cup cup, ini Appa sayang. Umma, kenapa mereka? Tadi sedang tidur kan?”

“iya. Tapi sengaja kubangunkan. Mereka mau mandi, tidak mungkin kan mereka mandi sambil tidur?”, ucap Taemin enteng sambil menenangkan sekaligus melepas pakaian Minzy.

“Appaaaa, sudah jangan digendong terus. Baringkan disini lalu buka kan pakaiannya. Nanti airnya keburu dingin!”

Sedikit sulit untuk melepaskan pakaian sang kakak, karena jika menangis, ia jauh lebih agresif dibanding adiknya. Sempat ingin meminta bantuan sang Umma, tapi ia sudah di kamar mandi untuk memandikan Minzy.

“Minho, diam sebentar nak, Appa susah melepas pakaianmu”

“Appaaaaa, cepat kesiniiii”

Minho menoleh ke belakang, “sebentaaaar Ummaaaaa”.

Ia kembali menghadapi ‘sang jagoan’ di hadapannya, “Minhooooo, jangan bergerak teruuusssss”, sang Appa mulai habis kesabaran.

“kau tau kalau kau punya Umma yang sangat keras kepala dan galak, Minho? Sudah Appa bilang sejak dulu harusnya kita mempunyai baby sitter, tapi Umma mu selalu tegas menolak. Sekarang, ia yang kerepotan sendiri” [ini si kodok saking frustasi nya ampe curhat sama anak bayi = =”]

“Appaaaaaaaa”, Taemin lagi-lagi berteriak dari kamar mandi.

“iyaaaaa Ummaaaa sudah selesaaaiii”, Minho menggendong anak lelakinya menuju kamar mandi tetap bergumam, “dulu Umma mu tidak seperti itu. Appa tidak mengerti setelah ada kalian, Umma jadi galak dan cerewet begitu”

Ketika hanpir sampai di kamar mandi, “ini rahasia kita, oke Minho junior! Rahasia antar lelaki!”, sang Appa tersenyum sambil mencium pipi gembul sang kakak :p

^^

Hari ini sedang dilakukan ‘crisis meeting’ di rumah keluarga Choi untuk membahas konsep ulang tahun pertama Minho dan Minzy. Ya, hampir tepat setahun Minho dan Taemin menjadi orang tua dengan segala kerepotan double mereka. Para orang tua berada di rumah ini hanya sampai 6 bulan pertama. Jadi, hampir 6 bulan terakhir Minho dan Taemin mengurus si kembar sendirian tanpa baby sitter. Hanya ada asisten rumah tangga untuk mengurus masalah rumah dan makanan. Tapi untuk anak-anak ini, sepenuhnya berada pada tangan Taemin dan Minho. Akibatnya? Berat badan sang orang tua turun hingga hampir 10 KG yang berbanding terbalik dengan pertumbuhan Minho dan Minzy yang semakin gembul dan sehat saja.

Minzy kini sudah bisa berjalan meski beberapa kali masih terjatuh. Tapi ia sudah bisa berjalan sekitar 20 meter tanpa terjatuh sama sekali. Yang masih kurang adalah ia belum lancar berbicara. Mungkin salah satunya karena faktor ia lebih memilih banyak diam tapi lincah bergerak. Sangat berbeda dengan Minho. Meski ia juga bisa dibilang sudah bisa berjalan, namun hanya 3 sampai 4 langkah lalu langsung terjatuh. Tapi justru kelebihannya, ia mulai bisa berbicara yang dimengerti oleh orang lain [anak ini langsung menjadi kesayangan Key dan mulai sejak saat itulah, Key tak lagi memusingkan soal nama sang kakak]. Sejak bayi memang sudah terlihat Minho jauh lebih ekspresif dan lincah dibanding adiknya yang justru terlihat lebih ‘cool’. Entah bagaimana sifat kedua anak ini bisa tertukar. Kakaknya, Choi Minho menjadi lebih cerewet dibanding sang adik, Choi Minzy yang lebih terlihat kalem dan tenang.

Semua keluarga hadir termasuk Key dan Jonghyun. Anak kembar itu sedang asyik bermain di arena bermain indoor yang khusus disediakan oleh Minho dan Taemin di rumag keluarga [mirip tempat penjagaan anak di mall]. Minzy asyik berjalan-jalan menyentuh apa saja yang bisa disentuh nya, sementara Minho justru asyik mengoceh sendiri membuka lembar demi lembar buku cerita winnie the pooh yang di dalamnya banyak bangunan atau karakter yang dimunculkan secara 3 dimensi.

Perdebatan itu terjadi juga di ruang keluarga sambil mengawasi Minho dan Minzy bermain. Penjagaan intens saat ini terutama untuk Minzy, anak itu pernah ditemukan sedang naik perlahan di tangga rumah mereka menuju lantai dua dan langsung mendapat respon histeris Taemin begitu melihatnya.

Perdebatan seru terjadi karena ini merupakan suatu peristiwa istimewa untuk anak-anak teristimewa mereka. Dua kepribadian dan dua gender melahirkan dua ide yang sepertinya sulit untuk bisa digabungkan.

“princess saja! Minho dijadikan pangeran. Selesai! Buat apa repot? Tambahkan castle, kereta labu, kuda putih, dengan rumput hijau dan taman bunga. Kalau itu yang dijadikan tema ulang tahunnya, aku yang akan mengurus semuanya!”, Key bersikeras atas idenya.

“princess identik dengan pink. Aku pusing melihat warna pink di sekeliling ku”, disambut anggukan para ‘tetua’ dan tentu saja para nampyeon di ruangan itu.

“Bajak laut saja!”

“lalu menurutmu aku merelakan keponakan ku yang lucu itu dipakaikan pakaian aneh dengan tangan palsu dan sebelah penutup mata, yeobo? Never!”

“aku juga tidak setuju! Bajak laut identik dengan kekerasan, aku tidak mau anak ku dikenalkan dengan kekerasan di usia sekecil ini!”

“Taemin, I love you! Nah, kalian dengar apa kata Taemin? Perkataan seorang Umma adalah keputusan akhir! Jadi jelas ide bajak laut ditolak!”

“dalmantians?”, Jinki memberi usul yang disambut lemparan bantal oleh Key, “kau pikir keponakan ku anjing?”

“lalu apa?”

“PRINCESS!!!”

“nanti Key. Pertimbangkan usul yang lain”, Appa Taemin mulai berbicara.

“bagaimana kalau dibuat biasa saja. Seperti ulang tahun anak-anak kebanyakan dengan balon-balon dan pita. Tidak perlu dengan tema tertentu. Yang penting banyak teman yang hadir dan semuanya senang. Kupikir itu sudah lebih dari cukup”, para tetua mengangguk menyetujui usulan Appa Minho sementara para temuda [loh, bener kan? Para golongan tua kan disebutnya tetua, jadi golongan muda disebutnya temuda] terutama Key malah memutar bola mata pura-pura tidak mendengar = =”

“angel and demon”

“kau yang jadi iblisnya!”, usulan aneh Jonghyun disambut pukulan telak di kepala oleh Minho.

Tapi Taemin ternyata punya pikiran lain….

“bagaimana kalau…..”

^^

Set sudah dibuat. Dan semua orang, terutama Taemin dan Minho hanya bisa terdiam memandangi anak mereka saat ini.

Sebuah set luar biasa megah di sebuah ballroom hotel paling elite di Seoul menjadi tempat pilihan Key untuk merayakan ulang tahun pertama si kembar.

Temanya?

Angel in Paradise…

Ya, sebuah ‘miniatur syurga’ dihadirkan oleh ide gila Key di ballroom hotel ini. Dengan wallpaper keseluruhan berwarna biru langit. Ditambah efek cahaya dan kabut di lantai menimbulkan efek awan buatan dan membuat para tamu serasa sedang berjalan di atas awan. Tak lupa miniatur castle barbie berwarna pink dan biru lengkap dengan air mancur dan taman bunga buatan serta kuda-kuda putih ikut dihadirkan secara detail menampilkan sebuah kerajaan di atas awan.

Lalu si kembar yang berulang tahun?

Mereka memakai pakaian?

Minho, sang kakak, memakai pakaian putih lengkap dengan sayap kecil di punggungnya. Sementara sang adik, Minzy, lagi-lagi campur tangan Key yang memakaikan dress panjang berwarna baby pink yang lembut dengan mahkota bunga-bunga berwarna campuran pink dan putih di atas kepalanya menampilkan seorang bidadari kecil yang sangat cantik. Rambut Minzy yang lurus dengan ikal menggantung di ujungnya dibiarkan terurai. Pipi putih gembul dengan semburat kemerahan alami menambah keindahan seorang bidadari yang dihadirkan Tuhan pada keluarga ini.

Dan yang terakhir bisa terucap adalah…

Saengil cukahamnida uri Choi Minho…Choi Taemin…

Semoga doa baik apapun yang dipanjatkan oleh siapapun untuk mu sayang, sampai pada Tuhan dan masuk dalam ‘waiting list’ Nya untuk segera dikabulkan J

^^

“selamat pagi Nyonya Choi. Waahh, lucu nyaaaaaaa”, selalu itu lah yang Taemin dengar begitu masuk di perusahaan ini sejak pintu gerbang hingga ruangan CEO tempat Minho berkantor.

Hari ini memang pertama kali nya Taemin membawa si kembar ke tempat Appa nya bekerja. Ini sudah tahun ketiga sejak Minho dan Minzy lahir. Mereka sudah bisa berjalan dan terutama Minho, semakin cerewet saja mengomentari segala sesuatu yang baru di matanya.

Bukan tanpa alasan Taemin membawa kedua bocah yang sekarang mulai hiperaktif ini kesini. Ia ada keperluan belanja bulanan dan ada beberapa keperluan lain sepulangnya belanja dan akan sangat repot jika membawa anak kecil. Membawa anak yang sedang sangat senang berjalan kesana kemari ke supermarket adalah DISASTER! Jadi ia menitipkan Minho dan Minzy pada Appa nya. Tadinya Appa Taemin bersedia untuk menampung cucu-cucunya di rumah keluarga Lee, tapi Taemin hanya berkata “biar saja sekali-kali Appa nya yang merasakan lelahnya mengurus dua anak”.

Cklek…

“Apppppppaaaaaaaa”, kedua bocah kecil berlari imut menuju namja gagah di belakang meja yang sibuk dengan kertas-kertasnya. Mereka memakai sepatu anak kecil yang setiap kali diinjak menimbulkan bunyi berdecit [wajar yak diperhatiin, menarik perhatian banget nii anak dua!].

“Minho? Minzy? Kalian kesini? Ummaaa, kenapa tak meneleponku jika ingin kesini?”, Minho bangun dari duduknya dan segera menyambut putra-putri nya.

“aigooo, hei jagoan, hei cantiiikk”, Minho menggendong keduanya. Ia bersyukur anak-anaknya tumbuh sehat tanpa gangguan apapun.

“ada apa Umma?”

“aku titip Minho dan Minzy ya Appa”, Taemin mendekati nampyeon nya mencoba merajuk.

“titip? Kau mau kemana memangnya?”

“belanja, hehe”, Taemin tersenyum manis.

“kenapa titip padaku dan kau asyik belanja?”

“kan kau suamiku”, senyum Taemin semakin manis. Minho sangat tau istrinya ini sedang menggodanya. Taemin memang banyak berubah semenjak punya anak. Ia jadi lebih galak, cerewet, over protective terutama segala hal terkait Minho dan Minzy, dan satu lagi, pasti jadi ‘penggoda’ jika butuh sesuatu.

“aku kan sedang bekerja, Umma”

“aku sibuk Appaaa. Kulkas kosong. Aku harus belanja. Kau mau anak-anak mu kelaparan? Sehari ini saja”

Minho memutar bola mata. Umma berlebihan. Sekosong apapun kulkas mereka, Minho dan Minzy tidak mungkin tidak makan!

“baiklah”, Minho mengalah.

“jinjja? Waahh, gomawo Appaaa. Minho, Minzy, hari ini kalian dengan Appa ya. Lpve you, dear”, Taemin mencium bibir kedua anaknya.

“bubyeeee Ummaaaa”

“jangan nakal, arra?”

“neeee”, jawab keduanya kompak.

Bahkan Taemin lupa mencium ku…. Minho menggelengkan kepala.

^^

Kini ia berhadapan dengan kedua bocah kecilnya. Begitu pintu tertutup, sang adik, Minzy mulai mengelilingi ruangan sambil menatap ruangan mewah kantor Appa nya. Ia langsung duduk di kursi besar Appa nya dan mengangkat telepon. Telepon itu langsung tersambung pada Tn.Park, sekretaris pribadi nya.

“selamat pagi Tn.Choi Minho. Ada yang bisa saya bantu?”, terdengar suara dari ujung sambungan.

“ah? Nama ku Minzy, Choi Minzy. Kakaaaakkk, kau dipanggil ahjussi iniiii”.

Orang yang dipanggil langsung menghampiri sang adik di kursi besar Appanya.

“apa ahjusssiiiiii?”

“hei heiiii, tidak boleh bermain telepon”, Minho langsung merebut gagang telepon dari Minho kecil, “tidak Mr.Park, ini anak-anak ku. Maaf mengganggumu”, ia langsung menutup telepon.

“Appa, ahjussi itu ingin belbicala padaku kenapa ditutup!”

“ia asisten Appa, bukan berbicara padamu. Ayo turun anak-anak tampan dan cantik”, ia menurunkan kedua anak-anaknya dari kursi utama.

Minzy mengambil salah satu map yang berisi dokumen dari meja Minho.

“hei Minzy, itu punya Appa sayang”

“Minzy hanya ingin baca Appa”

“kau tidak mengerti sayang. Main dengan kakak mu saja ya”

Begitu Minho melihat ke belakang, sang kakak ternyata sedang memanjat kursi untuk meraih pajangan lumba-lumba mewah berwarna biru di atas rak.

“Minho!”

Sang Appa segera berlari menurunkan anaknya.

“aku mau lihat itu”

“bilang sama Appa nanti Appa ambilkan, jangan ambil sendiri”, Minho mengomel sambil mengambil pajangan itu.

“jangan…..”

BRAK…

“Minzyyyyyyyy”, ia melihat anak perempuannya berusaha mengambil map berwarna pink ditumpukan rak map di meja Minho, dan celakanya, map pink itu berada di tumpukan paling bawah, sehingga jika ditarik, seluruh map di rak itu terjatuh dan berserakan di lantai.

“kau tidak apa-apa?”, ia mengeluarkan anaknya dari tumpukan dokumen dan memindahkan ke tengah ruangan sambil memeriksa sekujur tubuhnya.

“aku cuma mau ambil itu, lalu semuanya jatuh”, ia sudah terlihat hampir menangis.

“sudah sudah, tidak apa-apa. Kau main lah dengan kakak mu yaa”, ia mendudukka Minzy di sebelah Minho yang masih asyik berceloteh dengan lumba-lumbanya.

Ia menoleh ke belakang menghadapi tumpukan dokumen yang sedetik yang lalu masih tersusun rapi. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia mengangkat telepon dan meminta bantuan Mr.Park untuk membantu menyusun dokumen itu lagi.

Sesaat keadaan mulai tenang, lalu tiba-tiba…

“Appa, ini binatang apa?”

“lumba-lumba”

“apa itu lumba-lumba”

“sejenis ikan yang hidup di air”

“kenapa ikan halus hidup di ail?”

“karena ikan hanya bisa bernafas di air. Sama seperti manusia yang hanya bisa bernafas di darat”

“aku pelnah menonton di tv kalau ada manusia bisa belnafas di ail dalam waktu lama”

“ia dibantu alat pernafasan”

“alat apa?”

“tabung oksigen”

“apa itu?”

“yang membantu manusia bisa bernafas di air”

“belalti ikan juga bisa belnafas di dalat jika dibantu alat pelnafasan?”

Minho mulai kehabisan jawaban…

Minho dan Minzy mulai bosan. Minzy hanya diam bermain bantal dan Minho semakin mengajukan pertanyaan aneh.

“Appa, kenapa aku dan Minzy bisa seumul? Kan Minzy adik ku”

“karena kalian kembar”

“apa itu kembal?”

Minho berpikir sejenak, “Umma kalian melahirkan mu dan Minzy di waktu yang sama”

“bagaimana bisa?”

“ya karena kalian kembar”, kesabarannya menipis.

“kenapa kami bisa kembal?”

“Appa tidak tau Minhoooo”, nadanya mulai sedikit meninggi.

“kenapa Appa tidak tau? Kan Appa sudah besal. Kata Umma, olang yang sudah besal lebih pintal dibanding anak-anak. Belalti halusnya Appa tau”

“tanya Umma mu saja kalau begitu”

Lalu Minho bangun dari duduknya dan menghampiri sang Appa. Ia mengulurkan tangan meminta sesuatu.

“apa?”

“katanya aku halus beltanya sama Umma”

“lalu?”

“pinjami aku ponsel untuk menelepon Umma”

Minho sampai tersedak.

“siapa yang mengajari mu hal itu?”

“hal apa?”, ia memiringkan kepalanya, imut.

“meminjam ponsel untuk menghubungi seseorang”

“semua olang sudah tau salah satu alat untuk menelepon olang adalah dengan ponsel. Aku dibelitahu Key Umma”

Ergh, sudah kuduga! Hal apa lagi yang ia cemarkan pada anakku?

^^

“Umma cepaaaaatttt, aku tidak mau telambat di hali peltamaku sekolaaaahhh!!”, Minho dengan suara nyaring [yang semakin hari semakin mirip dengan Key] memanggil Umma nya yang masih sibuk menguncir dua rambut Minzy dengan pita berwarna pink.

“Minhoooo, jangan keluar duluuuu. Appaaaaaa”, Taemin memanggil suaminya.

“iya Ummaaaaaa”

“coba periksa tas Minho apa ada yang ketinggalan? Aku masih sibuk menguncir rambut Minzy”

“sebentaaarrr”, Minho bergegas turun dari atas dengan dasi yang masih menggantung asal di lehernya.

“Minho nya mana?”

“diluar!”

“Minhooooo”

“Appaaaa buka pintu mobil nya cepaaaattt”

“hei nanti dulu jagoan. Sini, Appa mau bicara!”

Minho kecil menghampiri Appa nya dan mereka duduk di tangga teras rumah.

“apa? Aku bulu-bulu” [buru-buru maksudnya]

“Appa mau buat perjanjian dengan mu”

“peljanjian? Apa itu?”

“hal yang harus Minho laksanakan jika ingin menjadi laki-laki seperti Appa. Kau mau?”

“jinjja? Baik!”, ia menjawab tegas dan Minho tersenyum melihat tingkah jagoan kecilnya.

“aku halus belbuat apa?”

“mana jari kelingkingmu?”, Minho menunjukkan jari kelingkingnya, dan ia tautkan pada jari kelingking sang anak.

“ikuti Appa bicara, arra?”

Minho kecil mengangguk.

“Tuhan, Minho berjanji…”

“Tuhan, Minho beljanji…”

“mulai sekarang…”

“mulai sekalang…”

“akan menjaga Minzy…”

“hah?”

“Minhoooo”

“akan menjaga Minzy…”

“sampai kapanpun…”

“sampai kapanpun…”

“dari siapapun…”

“dali siapapun…”

“karena apapun…”

“kalena apapun…”

“dan Minho akan menepati janji ini”

“dan Minho akan menepati janji ini”

Kedua Minho itu melepaskan tautan kelingkingnya.

Sang Appa memegang pundak anak lelakinya, “siapa Minzy?”

“adik ku?”

“kau menyayanginya?”

Minho mengangguk.

“dan kau akan menjaganya? Sebagai seorang laki-laki sekaligus kakak?”

Minho kecil terdiam sejenak…

“sampai kapanpun…dali apapun…kalena siapapun”

“tepati janji mu nak!”, Minho tersenyum.

^^

Saat keluar dari mobil, langkah Minzy sempat terhenti.

Minho menoleh kebelakang dan menghampiri adiknya, “ada apa?”

“Minzy takut”

Wajah cantiknya terlihat sedikit muram.

Tanpa disangka, Minho memegang tangan adiknya erat, dan tersenyum manis. Mata teduh yang diwariskan Taemin mampu menghantarkan kehangatan hanya dengan melihatnya.

“jangan takut. Ada kakak disini yang menjaga Minzy… sampai kapanpun…dali apapun…kalena siapapun”

END…

Yah, that’s all…

Hanya sebuah tulisan random dari seseorang yang sedang meliarkan mimpinya.

Karena manusia tanpa impian hanyalah seonggok daging yang bernama J

 

Semuanya akan baik-baik saja kok..

Tenang saja…

Dan aku harus kuat,

Harus…

(meskipun rasa tenang itu belum sedikitpun ada..sedikit saja..)